June 22, 2012

From Mother To Daughter #2

Mother: Where were you last night?

Daughter: I felt so lonely, so I slept early.

Mother: Why? Don't let your heart be broken, dear.



Daughter: It's too late, mother. It's been broken. I wish I had listened.



Previous Dialogue

June 17, 2012

Keep Calm


Such a wonderful gift from @chellasaradhina. Thank you, dear :')

#3 Maret untuk Mei: Pada Sebuah Juni

"tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni


dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu" 

- Sapardi Joko Damono 

***

Hujan baru saja reda sejak satu jam yang lalu. Udara beku bergesekan seperti ada serangkaian puji-pujian yang disampaikan rerumputan kepada langit.

"Sudah malam. Ayo pulang" ajak Maret sambil berjalan ke parkiran.

"Aku tidak pernah suka saat pulang" jawab Mei.

"Nanti kita bertemu lagi". Maret tersenyum simpul. Ada butiran hujan di dahinya.

Mei tidak mau menatap, "Semoga busnya tidak lama"

"Biar aku saja yang mengantar"

"Tapi kan jauh. Dingin lagi. Tidak usah"

"Biar aku yang mengantar"

"Tidak usah. Aku sendiri saja"

Maret menarik napas berat seperti menahan sesuatu. "Kamu selalu begitu. Kemana-mana sendirian. Sekarang aku sedang bisa mengantarmu malah tidak mau. Apa sih salahnya?"

Mei masih tidak mau menatap. Dia menunduk lama sekali.

***

Dan beberapa menit kemudian, mereka masih saja berada di sana.

"Sepeda motornya rusak!"

"Aku pulang sendiri saja, Maret. Tidak usah dipaksakan"

"Aku bisa memperbaikinya sekarang. Kamu tunggu saja" ujar Maret dengan nada keras sambil berkonsentrasi dengan perkakas yang selalu dibawanya.

"Tapi ini sudah malam"

"Karena sudah malam makanya aku yang mengantar!"

Mei memilih diam, lalu jongkok di belakang. Sayup-sayup terdengar suara Maret.

"Aku jarang sekali bisa mengantarkanmu. Boleh kan sekali-sekali? Aku ingin sekali mengantarmu. Ini pasti bisa kuperbaiki. Sabarlah"

Mei memandangi punggung Maret.

Dia masih tampak berusaha dan komat-kamit mengucap kata 'sabar' dan 'sebentar lagi'.

Mei hanya bisa tersenyum sambil menahan matanya yang basah.

"Terima kasih. Terima kasih, Maret. Terima kasih" ucapnya berulang-ulang dalam hati.

***

#19 Self Note: Supaya Tahu, Supaya Sabar

Saya pernah mendengar hal ini.

Sebagian keinginan kita memang ada yang sudah ditakdirkan untuk tidak bisa didapatkan, tapi karena kita tidak pernah tahu bagian apa yang mungkin dan yang tidak, manusia harus berusaha.

Supaya tahu.

Tapi selebihnya, saya percaya bahwa setiap dari kita akan mendapat sesuai dengan yang pernah dan telah kita usahakan. Jika tidak, harus ditempa supaya sabar. Bahwa memang ada rencana yang jauh lebih baik.

And let Allah do the rest :)

10 Hari

Saya ingat sekali masa 10 hari itu.

Saat itu teman-teman sekantor sudah akan berangkat ke lokasi sosialisasi untuk makan malam dan mempersiapkan segala sesuatu. Tiba-tiba ada pesan yang meminta saya dan atasan untuk stand by di ruangan karena ada hal yang harus segera diselesaikan. Dan, baiklah saya menyusul saja.

Sudah pukul setengah sembilan malam. Belum ada tanda-tanda bisa pulang. Lalu entah kenapa saya menghidupkan PC, membuka twitter, dan memeriksa Direct Message. Dan ada sebuah pesan. Pesan itu baru terkirim beberapa menit yang lalu.

Seperti ada yang tercekat di kerongkongan. Telapak tangan saya dingin. Rasanya saya bisa menangis. Itu kamu - yang saya tak tahu kabarnya untuk sekian lama. Yang saya kirimi pesan setiap hari. Walaupun saya tahu bahwa pesan itu tak mungkin terbaca.

"Bagaimana bisa?"

"Kamu sehat-sehat kan?"

Saya membalas dengan pertanyaan sepotong-sepotong. Kamu tak memberitahu. Tapi berjanji akan menelpon malam itu juga. Entah bagaimana caranya.

"Aku sehat"

"Kangen"

Dan entahlah - rasanya bahagia sekali. Saya mau lekas pulang. Pulang. Sekarang. Menerima suara itu.

Tak lama, saya dan beberapa yang tertinggal di ruangan diizinkan pulang. Sudah terlalu malam - dan saya tak jadi menyusul.

Saya cuma mau lekas pulang. Pulang. Sekarang. Menerima suara itu.

"Sehat-sehat ya kamu"

Dan dalam beberapa menit yang langka itu, entahlah - rasanya bahagia sekali.

Patahan #52

Apa yang kau harapkan dari sebuah hubungan?

Status? Jalan-jalan di akhir pekan? Hadiah dan kata-kata romantis yang membuatmu terkesan? Pelukan yang mendamaikan?

Bukan itu lagi. Dan memang bukan itu.

Tapi saat kau tahu bahwa masih ada orang yang bisa membagi kesedihanmu. Bahwa kebahagiaannya menjadi hal-hal yang membuatmu bahagia sekali. Dan bahwa masih ada yang mendukung saat tak ada lagi yang bisa mendengar atau kau percaya - di saat-saat terburukmu. Dan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas - entah itu bertemu atau hal-hal lain yang sekedar semu.

Hubungan adalah tumbuh dewasa dan hebat bersama-sama. Dan melalui waktu, menjadi bagian dari hidupmu.

Karena hubungan tidak memperpanjang masalah. Dan tidak memperbaiki apa yang tidak rusak.

June 10, 2012

Patahan #51

"Sekarang, tidakkah Anda heran dengan orang-orang yang menguras seluruh energinya untuk mempertahankan sesuatu? Mencoba memiliki apa yang sebenarnya sudah milik mereka?

Mencintai sesuatu atau seseorang dengan keutuhan diri adalah satu-satunya cara mencinta. Sementara perasaan tidak lengkap atau ketergantungan adalah refleksi jarak Anda dengan diri sendiri"

- KPBJ @deelestari halaman 231.

UK Expo

Saya mengisi weekend kali ini dengan mengunjugi UK Expo yang diadakan oleh IBEC tanggal 10 Juni 2012 di Intercontinental Hotel, kawasan Sudirman, Jakarta. Saya tahu agenda ini setelah searching random di google beberapa hari yang lalu dan kekecewaan karena tidak bisa datang di event yang sama seminggu sebelumnya. Jadi intinya saya cuma penasaran dan pingin lihat pernak-pernik UK di ruangannya :p

Dengan berbekal informasi dari @infobusway, saya naik Transjakarta transit di Harmoni dan lanjut ke rute Blok M. Daaan Harmoni shelter memang cukup menyiksa haha apalagi saat itu sedang ada Jakarnaval menyambut HUT Jakarta dan jurusan Harmoni-Pulogadung tidak beroperasi. Alhasil terjadilah perubahan rute. Penumpang Blok M dan Pulogadung numpuk di antrean yang sama - ditambah jalur penumpang-penumpang lain yang masuk dan keluar dari stasiun Kota. Antrean panjang Masya Allah paraaah. Dorong-dorongan sana-sini, ada yang nyerobot antrean, ada anak-anak kecil menangis kepanasan. Man-with-manner memang sudah langka ternyata ya.

Dan mungkin sampai setengah jam saya baru bisa menghirup napas masuk bus huksss.

Turun di halte Setiabudi, saya jalan terus menuju Le Meridian Hotel - ternyata salah arah. Syukurlah ada bapak ojek yang baik mengantarkan saya sampai ke depan pintu pejalan kaki Intercontinental Hotel. Ternyata dekat banget sama halte Setiabudi, beberapa meter dari Grand Sahid Hotel. Ngapain juga saya jalan sejauh itu hahaha. Ah, akhir-akhir ini sering diselamatkan sama tukang ojek :D

Hotelnya cukup mewah, bintang 5 sih ya, banyak orang asing lalu lalang. Setelah sampai di lobi, saya turun ke Jasmine Room. Alhamdulillah, finally here. Banyak aksesoris-aksesoris UK digantung di atas ruangan. Mendaftar di meja registrasi dan di dalam ruangan ada banyak stand-stand universitas di Inggris. Selain menyediakan informasi kampus, mereka juga menawarkan berbagai tips dan trik terkait visa keberangkatan, home stay, beasiswa, dan sebagainya. Sebenarnya saya ingin mengunjungi meja konsultasi satu persatu, tapi keburu down :p lah yang nanya dan hadir hampir semuanya memang niat mau lanjut kuliah di Inggris dalam waktu dekat, kalau saya cuma pingin cari pengalaman :)

Akhirnya saya gabung di forum sebelah yang sedang membahas kiat-kiat menjawab tes IELTS dari British Council. Kalau TOEFL berorientasi pada kemampuan berbahasa Inggris pasif, maka IELTS lebih pada yang aktif - karena ada tes Speaking langsung oleh native dan Writing tentang topik-topik tertentu. Beberapa soal Reading dan Listening juga ada yang soal isian atau bukan multiple choice - jadi kalau Grammarnya salah walaupun konteks jawabannya benar, tetap saja salah. Dan mentalnya Asian yang sering drop kalau diajak ngomong sama native. Haha saya pun masih kayak gitu :|

Alhamdulillah, bisa nambah pengalaman dan banyak pengetahuan. Juga melihat mereka-mereka yang punya semangat dan kesempatan - ah ikut senang :)

Dan ada sesuatu yang selalu saya tangkap dari orang-orang asing - kepercayaan diri. Lihatlah cara mereka berbicara, berjalan, berjabat, seperti selalu ada energi. Tidak menunduk, tidak lunglai, tegas, gesturenya bersemangat. Salah satunya mungkin karena kebiasaan dan budaya mereka yang memberi kebebasan untuk berpendapat dan berbicara sejak kecil, dan itu yang penting. Contoh kecilnya, lihat saja finalis Junior Masterchef itu bukan? Cara bicara mereka cerdas dan pede banget! :)

June 9, 2012

Beberapa Tahun Yang Lalu

Abah selalu mengajak bermain di halaman depan setiap akhir pekan. Beliau mencari cacing-cacing kecil lalu membuat pancingan dari sapu lidi. Lalu kami berpura-pura memancing di kolam depan yang memang ada ikannya. Setelah umpan dilahap, kami melepaskan ikan itu lagi. Tepatnya hanya untuk bersenang-senang. Jika Abah sedang tidak mood, maka saya bermain sendiri dengan ikan-ikanan plastik yang bisa ditarik dengan magnet.

Beberapa lama kemudian, ada bunyi-bunyian khas terdengar dari jauh. Seorang pedagang eskrim Medan keturunan Tionghoa bernama Hasan sudah datang dengan gerobak dan lonceng penandanya. Mama buru-buru mengambil gelas. Pak Hasan meramu eskrim dengan roti, susu, atau tape ketan. Harganya masih seribuan.

Saya tidak suka disuruh tidur siang. Maka saya mengambil majalah Bobo atau Donald Duck yang baru diantar oleh tukang koran. Duduk sendirian di ruang tamu sambil ngemil Chiki Balls. Lalu, Jidah datang ikut menemani dan melihat-lihat isinya. Dia mengenakan kecamata baca tua lalu bergumam, "Bacanya jangan dekat-dekat". Saya angguk-angguk. "Labbaik, Jidah". Dulu terbiasa bilang begitu.

Ah, kenangan :)

Kisah Hijab

Setiap muslimah pasti punya kisah masing-masih tentang komitmennya berhijab.

Saya pun begitu. Pertama kali komitmen berhijab sekitar pertengahan tahun 2007 - tepatnya di hari kelima perkuliahan awal saat saya masih di Teknik Industri USU. Mata kuliah pelajaran Agama Islam dan ada baiknya untuk datang berhijab. Saat itu saya hanya punya 2 kerudung persegi - putih dan hitam. Ya sudah pakai yang hitam saja. Tapi beberapa saat kemudian saya didatangi senior.

"Pakai jilbabnya jangan hari ini aja. Besok-besok juga ya"

Haduh, bisa gawat kalau besoknya saya tidak berhijab lagi. Sementara, pakaian saya kebanyakan masih berlengan pendek. Dan jilbabnya pun cuma dua. Huhuhu. Akhirnya mulai beli-beli kemeja baru, dan dua buah jilbab persegi baru - biru dan cokelat. Totalnya, saya punya 4 potong jilbab dengan warna netral semua biar bisa dipadupadankan dengan banyak warna hohoho.

Keputusan saya dipertanyakan oleh mama. Beliau khawatir kalau saya hanya takut atau ikut-ikutan. Dan saat itu jilbab belum menjadi sesuatu yang umum dan stylish seperti sekarang. Beliau pun khawatir jika keputusan saya menyulitkan untuk nanti melamar pekerjaan. Tapi, insya Allah dicoba dahulu. Pada awalnya memang muncul keinginan untuk bisa berbusana seperti dahulu atau ada saat dimana rasanya menyulitkan. Tapi prasangka tersebut harus disapu bersih-bersih. Pelan-pelan. Mama, tante, dan sepupu-sepupu pun mulai berhijab.Belajar disayang Allah sama-sama. Senang sekali.

Dan Alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang. Hingga pada satu titik: saya bangga dengan jilbab saya :)

Dan ini adalah salah satu idola saya: Hana Tajima.


Seorang fashion blogger, gadis cantik keturunan Inggris-Jepang, yang memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat di bangku kuliah dan langsung berhijab saat itu juga. Sebagai tanda yang membedakan masa lalunya dan dirinya yang sekarang. Juga menunjukkan pada dunia bahwa inilah hijab, dan hijab tidak seharusnya dicap dengan stigma kurang menyenangkan :)

I do love watching her hijab tutorial too. You should try, girls! :D

Tempat Itu #2

Kalau mereka bilang bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah. Yang ini beda, masa paling indah adalah masa-masa kuliah.

Karena STAN :)

Saya ingat benar, mama dan adik ikut mengantarkan ke Jakarta. Naik pesawat lagi setelah belasan tahun yang lalu. Pikiran saya macam-macam, terutama karena maskapai yang saya tumpangi - satu pesawatnya baru saja mengalami kecelakaan dan salah satu korbannya adalah Gubernur Sumut saat itu. Dan saya juga mengalami kelebihan bagasi agak banyak. Tidak tahu apa yang mau dibawa, jadi banyak hal-hal tidak penting ikut saya masukin koper - bingkai foto misalnya, yaelah. Alhamdulillah, tiba lagi di Jakarta. Ketemu lagi dengan tante yang belasan tahun tidak ketemu. Ngerasain macetnya lagi dengan argo taksi yang bikin jantung copot. Mampir sebentar ke Bekasi.

Saya ingat benar, saat mau daftar ulang - saya salah kostum. Nangis, sih. Haha, masih manja. Alhasil, sewa baju, rok, dan kaus kaki sama masyarakat sekitar. Ada-ada saja bisnisnya haha. Saya buru-buru ganti baju di kamar mandi satpam. Kucel banget setelah perjalanan berjam-jam dari Bekasi turun naik kopaja, KRL ekonomi, dan angkot. Setelah itu mampir ke kos-kosan. Pertama kali bakal ngekos, nyuci dan nyetrika sendiri, kemana-mana sendiri, bingung tapi senang! Sudah lama ingin belajar mandiri.

Saya ingat benar, hari pertama orientasi. Masih kucel banget. Belum terbiasa begadang, lingkaran mata pun membesar. Saat itu bulan puasa. Ah tiba-tiba kangen. Saya beli makanan nggak sehat - sereal, soda, dan strawberry. Makan sambil nangis. Mau sholat tarawih, malah nyasar. Tugas belum selesai. Begadang lagi dan telat banguuun. Nggak mandi dan pakai jilbab miring-miring. Dimarahin deh. Tapi masih selamat, kartu pelanggaran nggak dicoret :D

Saya ingat benar, sedihnya sendirian di kos-kosan dan tidak bisa pulang. Lalu mampir ke kosan @dCyAzura. Nginap semalaman, nonton DVD film horor, cerita apa saja sambil ngemil martabak mini, nangis bareng, jalan-jalan ke Bintaro Plaza dan beli Bread Talk sepotong yang dibelah dua buat dimakan dua kali. Ahaha. Life's good.

Dan ingatan lainnya yang tertanam sangat dalam. Sangat banyak.

Ah, STAN. It totally makes me change - muuuuch better and tougher! :D Thaaaankkksss!

Titik Balik

"Sekarang ini aku berada dalam titik pencapaian, dear. Pencapaian dalam titik aku tidak lagi khawatir dengan perasaannya ke aku, juga aku ke dia. Kini aku mengerti. Mengerti sekali. Dan kita sama-sama memperjuangkan sesuatu. Dan sama-sama mendukung. Tidak menyapa, bukan berarti lupa. Tidak bisa sering bersama-sama, bukan berarti menyedihkan. Ini semakin menyenangkan. Dan aku menikmati ini. Tidak ada lagi yang kuragukan sejauh ini.

Seperti yang kamu bilang, semakin kuat pasir digenggam, akan semakin cepat dia jatuh. Ini semacam titik balik. Dimana rasanya seperti kamu telah menemukan orang yang tepat. Dimana kamu bahagia sekali dengan hubunganmu..."

Big thanks to @diasEsantika. It takes time, it takes time. But worth it :)

#18 Self Note: Allah Selalu Tahu

Sudah lewat pukul lima sore. Tiba-tiba ibu kasubdit duduk di samping kubikel dan seperti biasa mengajak bercerita. Beliau adalah salah satu wanita favorit yang menjadi inspirasi saya - cerdas, tegas, cantik, tapi tidak pernah melupakan sisi feminim dan keibuannya. Beliau juga sangat penyayang dan rendah hati :)

"Jangan sering bilang 'tidak mau' terhadap sesuatu. Karena kadang kata-kata itu adalah bumerang. Entah bisa menjadi doa atau sebaliknya. Mungkin kita lupa pernah mengucapkan hal tersebut beberapa tahun yang lalu, tapi baru terjadi saat ini. Bukan semacam karma. Tapi semacam pelajaran, untuk memperbaiki doa atau bahwa apa yang kita ucapkan entah terhadap orang lain atau apapun - bisa memantul ke diri kita. " :)

Lalu beliau berbagi beberapa pengalaman.

Sementara itu saya flash back ke belakang. Beberapa hal yang pernah saya lontarkan 'tidak mau' dan 'tidak akan pernah mau' memang seringnya malah kejadian. Saya masuk SMP, SMA, bimbingan belajar, dan tempat les yang saya jelas-jelas tidak mau. Saya ingin sekali masuk ke tempat lain, dengan alasan 'lebih favorit, gedungnya bagus, banyak teman' sedangkan orang tua saya berpendapat berbeda, bahwa tempat itu cukup bagus, tidak jauh, atau tidak akan membuat saya minder. Begitu juga saat di bangku kuliah, saya lulus SPMB di Teknik Industri USU (jurusan yang saya tidak mau tapi saya ambil karena saran dari keluarga) dan akhirnya beralih ke STAN - yang lagi-lagi sebenarnya saya pun tidak mau. Hahaha. Lalu lulus jadi PNS - sebuah pekerjaan yang dulu saya sungguh tidak mau. Dan di kantor, saya pun masuk ke subdit yang sebenarnya saya tidak mau.Yang lebih aneh, pacar saya akhirnya satu almamater juga walaupun awalnya saya selalu bilang ga mau pacaran sama anak STAN. Ahahaha.

Atau baru-baru ini saat saya maksain diri buat ikutan placement test Business English setelah ngantor daaan... saya telat, nyasar pula dibawa keliling-keliling bajaj, dan hapenya yang satu hilang di metro mini. Huhuhu. Yah mungkin memang ga seharusnya memaksakan diri atau harus fokus dulu sama tujuan yang sekarang. Atau Allah memang menyiapkan rencana lain :)

Dan akhirnya saya mensyukuri semua hal-hal yang sungguh 'saya tidak mau itu' tapi ternyata hal-hal itu yang membawa saya pada sesuatu. Apa yang saya anggap baik, memang belum tentu baik. Benarlah memang, tak kenal maka tak sayang. Makanya disuruh belajar. Dan Allah selalu tahu yang paling baik :)