April 28, 2015

Day 9 - Sayonara, Japan!

Minggu, 19 April 2015

Ruang ibadah di Narita ditutup pukul 11 malam dan dibuka kembali pukul 5 pagi. Saya terbangun sebelum fajar, menyaksikan keriuhan bandara itu yang mungkin akan sangat saya rindukan. Setelah sholat dan membersihkan diri, kami berjalan-jalan ke lantai 4 bandara tempat toko dan restoran berada. Perut rasanya sangat perih, tetapi saat itu masih sepi. Akhirnya kami pun membeli roti. Dalam hati saya berkata akan puasa makan roti beberapa hari, bosan sekali :(

Ada layar yang berulang-ulang memutarkan video dengan pesan "Sayonara", ah jadi sedih. Seperti baru kemarin, lalu kini harus pulang lagi. Loket Air Asia telah dibuka dan kami pun segera check in. Pesawat kami akan berangkat pukul 10 pagi dan tiba di Malaysia pukul 16.30 sore. Perjalanan panjang di siang hari tidak lebih baik dari di malam hari. Kebanyakan tidur bikin kepala pusing, novel sudah habis saya baca, dan belum ada pramugari yang menawarkan makanan. Akhirnya saya memilih untuk membeli makanan di pesawat, yang ada saat itu hanya menu kentang dan ayam. Tapi saya masih lapar, saya memesan mie instan lagi. SAYA MASIH LAPAR JUGA DONG -______________________-

Setelah mendarat di KLCC, kami menukarkan Yen yang tersisa ke Ringgit. Sambil menunggu pesawat yang membawa kami ke Jakarta pukul 10 malam, kami memutuskan untuk mengisi perut. Kangen bangeeeet makan tanpa rasa ragu dan khawatir. Pertama, kami makan nasi lemak. Lalu kami makan mie kuah. Ya ampun, makan langsung dua piring. Masya Allah...................

Kami mendarat di Soekarno Hatta pukul 11 malam, bergegas menuju parkir inap dan naik sepeda motor menuju ke rumah. Nikmat banget rasanya berbaring di kasur setelah beberapa hari punggung bekerja keras. Alhamdulillah, this is home.

:)

April 27, 2015

Day 8 - Malam Terakhir di Jepang

Sabtu, 18 April 2015.

Apa salah satu faktor yang menyebabkan Mikado Hotel ini murah meriah? Karena kamar mandi dan toiletnya sharing alias tidak ada male dan female bathroom yang dipisahkan seperti biasa. Tapi, tidak perlu khawatir, setiap pengunjung di sini saling menjaga privasi masing-masing sehingga saya pun selalu merasa aman. Setelah mandi, kami langsung bergegas menuju Osaka Station. Saat itu belum pukul 8 pagi, sementara bis yang akan mengantar kami ke Tokyo berangkat pukul 10 pagi. Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat deh :) Sakitnya tuh disini *nunjuk dompet* haha.

Kami membeli roti dan susu di Family Mart lalu menunggu di waiting room bis. Di sana kami ketemu sama orang Indonesia yang sudah bekerja di Osaka selama 12 tahun. Wow, katanya betah di sana males pulang hehehe. Kurang dari 10 menit menjelang waktu berangkat, bis telah tiba. JR Bus ini dua tingkat gitu mirip double decker, kami pun langsung duduk sesuai urutan di tiket. Sisi menyenangkan dari naik bis siang hari adalah bisa melihat pemandangan. Beda sama bis malam yang memang dikondisikan hanya untuk tidur jadi jendela ditutup rapat dengan tirai.

Perjalanan menghabiskan waktu 9 jam sampai ke Tokyo Station dengan berhenti sementara di rest area sebanyak tiga kali. Masalahnya adalah saat itu sangat dingin, kalau dingin berarti lapar. Tapi lapar tak ada uang. Ya itu, kami nggak punya cash money karena belum menemukan 7 Eleven hahaha. Akhirnya, kami cuma turun di rest area dan clingak clinguk menelan ludah melihat makanan yang enak-enak dan souvenir yang lucu-lucu. Uang receh kami cuma cukup membeli mochi dengan harga 300 Yen untuk berdua haha. Sementara itu, penumpang di depan kami selalu membeli makanan dengan aroma yang menggoda irama perut. Suami saya cuma bisa kasih puk puk dan kami pun tertawa konyol. Begitulah seninya berpetualang :p

April 26, 2015

Day 7 - Masih di Osaka :)

Jumat, 17 April 2015.

Masih hari yang sepi. Oh, Nagai sepi sekali di sini. Rasanya ingin bergegas check out dari hostel. Setelah mandi dan sarapan, kami pun kembali melanjutkan petualangan tanpa ingin mengingat Nagai Youth Hostel ini lagi haha. Kualitasnya beda jauh sama Utano Youth Hostel ditambah kejadian malamnya yang menghadiahkan kami cerita lucu untuk dikenang :))))))

Selamat tinggal, Nagai :)
Masih ada satu sumber adrenalin lagi. Rencananya, kami akan pulang ke Tokyo malam ini dan naik bis malam (supaya bisa menghemat biaya penginapan gitu). Tapiiiii Willer Bus untuk semua kelas full booked dong. Mau coba transit di Nagoya juga penuh. Saya nggak bisa tenang sebelum dapat kepastian tentang bis. Kami terus mencoba googling alternatif bis yang lain, tapi websitenya tulisan Jepang semua. Sampai akhirnya kami mendarat di website yang menyebutkan nomor telpon bis antar kota dari JR, dan yang paling penting ada keterangan English spoken. So, there is a hope! Jika tidak, alternatif terakhir yang kami punya hanyalah naik shinkansen yang mahal banget itu, huks.

Kami kembali ke Shin-Osaka Station dan transit di Umeda Station. Kami mencari telpon umum dan menghubungi call center JR Bus. Jadi intinya, tidak bisa dilakukan pemesanan melalui telpon, tapi kami diarahkan untuk datang ke Bus Center di Osaka Station. Baiklah, kami pun langsung meluncur ke Osaka Station, mencari loket pemesanan bis JR, dan.... memang bis untuk malam ini sudah penuh. Kami memutuskan untuk ke Tokyo esok paginya dan alhamdulillah masih dapat kursi. Ya Allah, rasanya tenaaaang banget. Dan itu artinya, kami akan berada di Osaka satu malam lagi :p

April 25, 2015

Day 6 - Ninnaji Temple dan Nagai

Kamis, 16 April 2015

Bangun pagi yang sangat segar! Saya pikir saya tidak akan bisa tidur tetapi ternyata saya sudah terlelap pulas pada pukul 10 malam. Udara dingin musim semi menyeruak, mandi, ketemu suami lagi (hore!), membereskan laundry, lalu sarapan dengan menu yang sudah kami pesan dari hostel, yakni Japanese Breakfast: lengkap dengan ikan, tofu, sup, telur, nasi, ubi manis, dan teh hangat. Selanjutnya, kami bersiap-siap untuk check out dan mengumpulkan selimut dan seprai yang sudah kami gunakan ke meja resepsionis. Saya berpamitan dengan Catherine, teman sekamar saya. Dia akan ke Gunung Fuji dan saya akan ke Osaka. Sebelum meninggalkan hostel, kami berencana untuk berkeliling Kyoto dulu dan mencicipi es krim kacang merah yang dijual di hostel, nyam!

Japanese Breakfast
Es kacang merah yang nagih :9
Utano hostel sangaaaat menyenangkan, kurang lama rasanya berada di Kyoto (karena tragedi ketinggalan bis itu hehe). Awalnya, saya pingin dan harus banget berkunjung ke Arashiyama Park, yakni objek wisata hutan bambu yang sangat magis itu. Tapi Arashiyama cukup jauh dari Utano dan kami khawatir terlalu malam tiba di Osaka. Akhirnya, kami memilih untuk berkunjung ke salah satu kuil yang ada di Kyoto. Kalau kita naik bis dari Utano ke Kyoto Station maka di sepanjang jalan akan banyak sekali dijumpai kuil-kuil yang bagus dan dipenuhi turis.

April 24, 2015

Day 5 - Kyoto: Utano dan Gion

Rabu, 15 April 2015

Finally, tiba di Kyoto! Walaupun 1 hari lebih lama dari itinerary yang saya jadwalkan, tapi udah bersyukur banget bisa menginjakkan kaki disini juga. Apalagi kalau ingat perjuangannya haha. Stasiun Kyoto sangat besar dan cantiiiik. Banyak sekali wajah-wajah turis disini. Karena saya sudah memesan hostel via hostelworld maka kami akan langsung menuju ke hostel. Dengan bantuan google maps, kami bisa mengetahui naik bis apa saja dan kereta apa saja untuk menuju kesana, plus ongkosnya! Oh, google maps, dikau keren sekaliiiii.

Hostel kami berlokasi di daerah Utano, naik bis 45 menit dari stasiun dengan biaya 230 Yen saja. Kartu Suica yang dipinjamkan mbak Dina selain bisa digunakan untuk naik kereta, bisa juga dipakai untuk naik bis, beli minuman dan makanan di vending machine, tarik tunai di atm, dan bayar di convenience store. Sangat berguna! Kartu Suica bergambar pinguin ini bisa dibeli dengan harga 2000 Yen.

Hostel yang kami pesan hanya berjarak 50 meter dari Utano Youth Hostel bus stop. Suasana disini sangat berbeda dengan Tokyo. Sepiiiii, terlihat ada pegunungan di belakangnya, sangat tenang. Rumah-rumah berjajar rapi dengan taman-taman yang dihias sangat cantik. Orang Jepang memang suka kerapian yaa :)

Penginapan di Jepang sebagian besar (terutama hostel) membuka check in pada pukul 3 sore, sehingga kami menghabiskan waktu di common room saja. Mulai pukul 10 sampai 3 sore hostel akan dibersihkan, mulai dari toilet sampai seluruh kamar. Tepat pukul 10 para petugas kebersihan berkumpul, mengatur strategi, dan mulai bersih-bersih. Ya ampun total banget bersih-bersihnya, orang Jepang memang sangat total dan perfeksionis :) Yang saya amati, sebagian besar petugas kebersihan disini didominasi oleh orang-orang tua, kakek dan nenek yang masih saja gesit bekerja. Luar biasa. Ohiya, saya tergila-gila dengan smart toilet di Jepang, sangat bersih, kering, bebas bau, dan hi-tech karena dijalankan dengan tombol-tombol dan sensor pintar.

Suasana hostel ini sangaaaat menyenangkan, bersih, dan dengan biaya yang sangat affordable, I totally recommend this hostel! Ada musik klasik mengalun di common room sampai ke toilet hostel, tenang sekali. Kami boleh menitipkan barang dulu di locker, dan karena kami belum boleh masuk kamar, maka kami meminta izin untuk sholat di hostel. Karyawan-karyawan hostel sangat mahir berbahasa Inggris, dan mereka mempersilakan kami sholat dimanapun. Kami memilih sholat di dapur karena saat itu sedang tidak ada orang :b

April 23, 2015

Day 4 - Shin-Obuke, Harajuku, Shibuya, dan Ikebukuro

Selasa, 14 April 2015

Jadi setelah peristiwa kejar-kejaran terminal bis tadi malam, kami berniat untuk mencari terminal bis Willer Express yang akan berangkat pukul 10 pagi. Setelah mandi air hangat, nelpon ke rumah via whatsapp call pakai wi-fi hotel hihi, dan check out, maka kami bergegas untuk kembali ke terminal bis di stasiun Sinjuku yang telah kami datangi tadi malam. Sarapan pagi ini sangat kreatif, yakni kebab Turki yang kami beli malamnya dan dihangatkan suami dengan hair drier :b

Hanya butuh 10 menit untuk kembali ke terminal bis, lalu kami mengkonfirmasi kedatangan bis pada petugas... dan tidak ada petugas yang tahu tentang jadwal bis pukul 10 pagi itu. Kami menanyakan lagi tentang lokasi Sumitomo Building yang notabene merupakan lokasi gedung pemerintahan di Tokyo, semua pegawai menggunakan jas hitam dan kemeja putih - dan ternyata lokasinya masih jauh. Artinya, kami pun harus berlari lagi.

Saya udah lemes dong, takut kejadian tadi malam terulang lagi. Apalagi sambil membawa tas ransel dan dengan celana panjang yang kebesaran - serius baru sekian hari saya udah turun 2 kilo, saya jadi kesusahan untuk mengejar suami saya yang lari lebih dulu. Kami bertanya pada beberapa orang, dan jawaban yang diberikan berbeda-beda. Akhirnya kami harus menyeberang, kembali lagi, belok kanan, kiri, sampai saya nggak kuat....... ketinggalan suami saya dong yang udah duluan huhu. Saya jalan sendirian (membayangkan tersesat di negeri orang), menunggu lampu merah untuk menyeberang, berjalan gontai, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang petugas kebersihan, dan dia memberikan arah yang benar. Bangunan yang saya maksud tepat ada di seberang saya.

Sudah pukul 10. Harapan saya saat itu cuma satu, ketemu sama suami saya. Apalagi kami tidak bisa menghubungi satu sama lain, paket data saya non aktif, dan pocket wifi dibawa sama suami haha. Dan, bener, suami saya udah nunggu berdiri di lampu merah. "Maaf, bisnya nggak terkejar. Aku sampai disana bisnya pergi". Langsung dong saya jalan sambil nangis, haha beneran nangis, antara capek dan kesel kali ya. Dan, kami memutuskan untuk datang ke terminal bis itu (lokasinya masuk ke dalam Sumitomo building dan turun dengan eskalator, ga nyangka ada disini), mengganti jadwal keberangkatan untuk malamnya, tapi di stasiun yang berbeda, bukan di Sinjuku. Kali ini tidak boleh gagal lagi.

Kami duduk lama di terminal itu, dan memilih untuk mengelilingi Tokyo lagi. Setelah perasaan saya membaik, kami pun kembali berjalan-jalan haha, ya ampun saya bocah banget. Kami kembali ke Stasiun Sinjuku (stasiun ini adalah salah satu stasiun tersibuk di dunia), menitipkan tas di locker, dan here we go again. Bismillah!

April 22, 2015

Day 3 - Fujiko F. Fujio Museum dan Asakusa

Senin, 13 April 2015

Pertama kali bermalam di Jepang, kami tidur dengan penghangat, kaus kaki, dan selimut tapi masih kedinginan hihi. Agenda hari ini adalah ke Fujiko F. Fujio Museum yang buka pukul 10 pagi. Mbak Dina sudah memesankan tiket masuk museum sejak jauh-jauh hari karena bisa kehabisan. Harga tiket adalah 1000 Yen per orang dengan waktu masuk sebanyak 4 kali yakni pukul 10, 12, 14 dan 16. Awalnya saya ingin sekali main ke Ghibli Museum, tapi sudah sold out........... dan mbak Dina merekomendasikan museum ini. Main ke kampung Doraemon, nggak lengkap juga rasanya nggak ketemu Doraemon hihi ;)

Dari rumah kami berangkat pukul 08.30, kami berjalan ke stasiun Bubaigawara dengan waktu tempuh 20 menit, cukup jauh. Kami membeli sarapan berupa sandwich tuna dan telur. Orang-orang dengan jas dan kemeja rapi, bersepeda dan berjalan dengan cepat, dan semuanya membawa payung. Kata mbak Dina hari ini akan hujan. Orang Jepang selalu membaca ramalan cuaca untuk keesokan harinya. Saya baru tahu juga, ada semacam peraturan di Jepang yang mengharuskan masyarakat untuk membawa payung saat hujan, karena jika tidak maka orang tersebut dianggap tidak bertanggung jawab pada diri sendiri, dan orang Jepang juga tidak suka berdekatan dengan yang bajunya basah. Maka, kami membeli payung transparan di convenience store stasiun. Benar saja, hujan turun dari pagi sampai malam. Kami turun di stasiun Noburito dan tiba sebelum pukul 10. Disana sudah ada bis doraemon yang menunggu, kami pun bergegas naik.


Setiba di museum, kami menitipkan payung, mengantri, dan masuk perlahan lalu mendapatkan audio guide sebagai panduan selama di museum dalam bahasa Inggris. Ruang pertama yang kami masuki adalah exhibition room. Disana disajikan karya-karya otentik Fujiko F. Fujio, peralatan menggambarnya, dan deskripsi tentang tokoh-tokoh komik karya beliau. Di ruang selanjutnya terdapat riwayat hidup Fujiko F. Fujio dan tiruan ruang kerjanya. Namun, di exhibition room tidak diperkenankan untuk memotret untuk menjaga barang-barang yang dipamerkan agar tidak cepat rusak.

April 21, 2015

Day 2 - Fuchu dan Tokyo Skytree

Minggu, 12 April 2015

Jadi begini rasanya, pingin nangis!

Kami mendarat di Jepang pukul 08.55, waktu di Jepang 2 jam lebih cepat dari Indonesia dan 1 jam lebih cepat dari Malaysia. Ini pertama kalinya saya melakukan penerbangan dengan waktu tempuh yang lama, apalagi kursi saya dan suami terpisah, dan duduk di dekat jendela membuat saya tidak enak untuk sering ke toilet karena harus membangunkan orang asing yang tidur pulas banget di samping :/

Foto sebelum masuk imigrasi :)

Setiba di imigrasi, kami harus mengisi embarkation/disembarkation card, semacam mini itinerary tentang berapa hari akan stay di Jepang, dimana, dan bawa uang tunai berapa. Selanjutnya kami menuju tempat pengambilan bagasi, dan seluruh bagasi sudah diturunkan dari conveyor-nya. Dan terlihatlah bagasi kami yang paling tidak enak dipandang *alias kardus* karena sudah melewati perjalanan panjang mulai dari dipangku di sepeda motor, jatuh menggelinding, dititipkan di locker malaysia, dan dibawa ke Jepang hihi. Di bagian customs, petugasnya menanyakan apa isi kardus tersebut, dan kami jawab "Indonesian food" :b

Kami memutuskan untuk berkeliling-keliling bandara dengan status kelaparan adalah "gawat" alias sangat lapar. Di lantai 4 terminal 2 Narita terdapat toko dan restoran, salah satunya restoran halal dengan nama La Toque. Namun, kami memilih untuk makan nasi gulung yang bentuknya disajikan dengan sangat cantik. Di setiap kemasan nasi gulung ada pictogram yang memudahkan untuk mengetahui apa saja yang ada dalam makanan tersebut. Suami saya langsung mempraktikan apa yang ada di buku dengan bertanya, "No buta?" alias "No pork?", dan ibu-ibu si pemilik toko langsung menjawab dengan "ney ney, fish and egg".


Day 1 - Kuala Lumpur

Sabtu, 11 April 2015

Pesawat kami sebenarnya dijadwalkan berangkat pukul 16.35, namun pihak Air Asia mengubah jadwal menjadi pukul 18.35. Karena adanya perubahan tersebut, para penumpang diberikan privilege untuk mengganti jadwal penerbangan. Penerbangan ke Narita akan dilanjutkan pukul 24.05, karena sepertinya terlalu berisiko maka kami memajukan jadwal CGK-KUL menjadi pukul 08.35, biar tenang dan bonus bisa jalan-jalan dulu ;)

Keluar dari imigrasi dan customs, kami menitipkan barang di Luggage Storage di LCCT lantai 2. Kami menitipkan satu kotak titipan makanan Indonesia dari mbak Dina yang rumahnya nanti akan kami kunjungi di Jepang. Setelah itu, kami memutuskan untuk pergi ke tempat kunjungan wajib, yakni menara kembar Petronas di KLCC, naik bis dengan biaya RM 15 per orang. Setiba di KLCC, kami langsung mencari objek foto *norak* dan cukup kagum dengan kebersihan di sana, tidak ada pedagang asongan, dan tidak ada sampah.




Setelah puas berfoto, kami makan nasi lemak di food court Suria KLCC lalu sholat ashar di mesjid As-Syakirin dekat KLCC. Selanjutnya kami bergegas naik kereta menuju KL Centre dengan biaya RM 1.60 dan menyambung kereta langsung menuju bandara dengan biaya RM 35. Kereta datang dan tiba sangat tepat waktu :)

Kami kembali mengambil barang di tempat penitipan dengan biaya RM 19.50, sholat, makan di KFC, check in, membunuh waktu dengan minum latte hangat, sikat gigi dan cuci muka, lalu masuk ke ruang tunggu menunggu boarding. Here we go!


Footnote: Btw, di KLIA saya selalu bertanya-tanya dengan petugas berseragam yang berjaga di setiap eskalator, atau duduk di depan musholla. Sometimes we ask information to them but they can't understand at all. What are they doing exactly?

April 20, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 3

We both are fans of secrets and surprises.

Jadi pada apapun yang kami rencanakan terjadi, kami punya kesamaan prinsip - do not tell the others and do not show off in social media.  Mungkin sejak handphone saya hilang setahun yang lalu, saya sudah nggak lagi mendokumentasikan hidup di facebook, instagram, atau path. Hidup jadi lebih sederhana ternyata :)

Sejak tiket terbeli, maka persiapan sudah harus dimulai. Apa saja yang kami persiapkan?

1. Doa, doa, dan doa orang tua. Waktu saya bilang saya mau ke Jepang, mama langsung terharu. Mama bilang, "Allah punya cara sendiri ya untuk mewujudkan mimpi Icha yang dulu tertunda"

2. Beli buku panduan backpacking Jepang. Buat kami yang baru pertama kali ke luar negeri, perlu banget membaca banyak hal tentang persiapannya. Salah satu buku yang kami beli adalah buku karya kak Farchan - senior saya yang udah travelling kemana-mana. This book is GOOD dan ada bonus petanya! Beliau memberi banyak informasi yang sangat berguna dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol saya yang buta banget tentang travelling. Bahkan beliau mengenalkan saya dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan kami boleh menginap disana....... :)

3.  Mempersiapkan berkas-berkas untuk mengurus visa Jepang. Karena visa Jepang harus diurus sesuai yurisdiksi maka saya harus mengurus visa di Medan sesuai alamat KTP saya (pas banget saat itu adalah jadwal saya pulang ke Medan), dan suami mengurus di Jakarta. Menyusun initerary adalah yang paling menantang, syukurlah ada orang-orang yang berbaik hati mendokumentasikan initerary mereka di blognya dan saya hanya perlu modifikasi ulang. Sementara itu, rencana penginapan untuk persyaratan visa diperoleh melalui bantuan situs booking.com karena bisa dibatalkan kapan saja dan tidak perlu bayar dulu.

4. Nonton Japan Channel dan Kokoronotomo di Metro TV tiap hari Minggu, dan belajar percakapan Jepang dasar melalui file audio Pimsleur. Very helpful! Pelajaran dasarnya adalah untuk bertanya apakah orang tersebut paham bahasa Inggris atau tidak:

"Sumimasen! Eigo ga wakarimasuka?"

"Iie, watashi wa eigo ga wakarimasen"

Dan, ternyata percakapan itu memang sangat berguna pas disana :p

5. Beli kamera. Pas banget saat itu lazada lagi diskon gila-gilaan (semuanya pas banget, mestakung.......)

6. Beli spring coat, syal, dan sarung tangan di factory outlet dan... pas lagi diskon. LOL.

7. Beli universal charger di Glodok Elektronik BSD Plaza Serpong, karena besar tegangan dan bentuk colokan di Jepang beda ;)

8. Beli printilan backpacking, mulai dari sabun, shampoo, toothbrush set dalam ukuran kecil (karena liquid yang masuk kabin dibatasi per botol dalam ukuran 100 ml dan total maksimal 1 liter yang disusun dalam dompet plastik transparan dengan resleting), disposable pants, dan tas ransel yang sehari sebelum berangkat baru sempat dibeli :/

9. Tukar yen dan ringgit di Pasar 8 Serpong. Saat itu nominal yang kami tukar hanya 80.000 Yen dan 250 RM buat berdua, dengan persiapan bawa kartu kredit buat jaga-jaga *ngirit*

10. Powerbank, kompas kiblat, dan sewa pocket wifi di Jepang seminggu sebelum berangkat melalui situs global advance. Jenis yang kami pesan adalah eco pocket wifi untuk 7 hari dengan unlimited data, harga saat itu adalah 4.950 Yen sudah termasuk ongkos kirim. Pocket wifi akan kami ambil di post office bandara Narita saat tiba nanti.

Btw, kami tidak memesan Japan Railway Pass sebagaimana biasanya disarankan. Dengan harga per orang 29.110 Yen untuk 7 hari, it was just quite expensive for us.

Malam sebelum berangkat, kami baru sempat packing. Packing tak pernah semenyenangkan ini. Total bawaan kami adalah dua ransel saja dan satu tas kecil untuk passport dan uang. Prestasi buat saya yang biasanya selalu repot bawa banyak printilan kalau pergi. Pesawat CGK-KUL terbang pukul 08.35 WIB, kami berangkat ke bandara naik sepeda motor pukul 05.30 WIB. Hemat uang taksi! XD

April 3, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 2

Sebut saja honeymoon. Karena sejak menikah kami memang belum jalan-jalan berdua yang serius sebagaimana newlywed biasanya. Dua hari setelah hari pernikahan saya sudah masuk kuliah, pindahan, cukup lelah mengurus ini itu, dan harus menata ulang tabungan yang tinggal remah-remah *LOL* - alhamdulillah akhirnya masa itu datang juga. Jalan-jalan! :)

Setelah pernyataan spontan itu terlontar, kami langsung browsing tiket - antara musim semi atau musim gugur karena Jepang paling indah untuk dikunjungi.

"Kenapa ga musim gugur aja? Bulan November nih, murah"

"Kelamaan, mau lihat sakura"

"Oke". Saya cuma bisa matung, antara nervous, menggigil, dan senang. Overexcited!

Setelah beberapa jam berburu tiket antara Jet Star dan Air Asia di sela-sela jam kantor dan saya yang lagi kuliah, akhirnya diputuskan berangkat tanggal 11 April 2015 dan pulang tanggal 19 April 2015 dengan Air Asia. Pas banget, saat itu Air Asia lagi promo murah meriah. Masa-masa berburu tiket itu bikin nggak tenang, karena harga bisa naik turun seenaknya kayak harga saham dalam hitungan menit. And, we got it! Total sekali terbang nggak sampai 2 juta rupiah, CGK-KUL dan KUL-NRT.

"Pas nggak berangkat tanggal segitu? Gimana kuliah?"

"Insya Allah belum seminar outline, sebelum tanggal itu aku maksimalin bimbingan. Kamu dapat cuti nggak?"

"Gampang. Jadi nih pesan tiketnya?"

"Bismillah! Mau nangis"

"Bismillah!"

"Jadi kita ke Jepang?"

"Insya Allah, kita ke Jepang!"

Sejak hari itu rasanya hidup jadi lebih hidup. Manusia memang butuh cita-cita ya buat bertumbuh.

April 1, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 1

"The best time to make decision is on the early morning"

Karena di pagi hari semuanya dimulai. Setiap pilihan, hari ini mau melakukan apa saja, mau melanjutkan tidur atau bermalas-malasan lagi, semua diputuskan di pagi hari. Saat itu pikiran masih belum terdistraksi dengan banyak pertimbangan, ketakutan, sehingga terlontar sebuah pernyataan spontan:

"Ke Jepang yuk!"

Awal Februari 2015, moment emas untuk merealisasikan bucketlist yang tertulis di buku catatan mimpi bersama yang disusun di awal tahun 2015. Saya yang penakut ini bilang:

"Malaysia atau Singapura aja"

"Mau yang jauhan dikit" - kata suami.

"Emang bisa?"

"Insya Allah bisa"

"Jepang?"

"Oke"

Dan, Allah menjawab doa itu. Ternyata, dalam hidup, kita hanya butuh lebih banyak percaya dan berusaha. Akhirnya, passport saya yang sudah dibuat hampir setahun yang lalu akan terpakai juga.