November 25, 2014

Reverse

Kali ini kau yang pergi.

Sisa lima puluh menit sebelum waktu keberangkatan, kau terlihat begitu terburu-buru menarik koper-kopermu hingga tak ingat untuk memelukku. Aku memanggilmu sebelum kau berlalu agar kau tersadar dan berbalik mendekapku. Dalam hitungan detik, punggung itu kembali menjauh dariku, bergabung dengan wajah-wajah kaku lainnya mengejar burung besi yang telah menepi.

Kali ini kau yang pergi.

Tujuh tahun merajut jarak, dimana pertemuan menjadi perhiasan, puluhan kali kau yang ditinggalkan, kini kau yang meninggalkan. Repetisi selamat tinggal tak pernah bisa mengajarkan lengkungan ringan di bibir dengan cemerlang. Lambaian tangan memanggil-manggil untuk bersentuhan dicuri waktu. Tak ada air mata yang biasa di pipimu. Demikian siapkah kau melepasku?

Bahwa yang tidak terlihat memaksa tak tahu, beban rindu itu menekan jantungmu yang kau bawa selama kau terbang, pagi dan petang hingga tak bersuara. Kau terlalu sayang padaku, hingga sakitmu itu kau pendam sendiri agar tidak merusak bahagiaku.

Ayah, berjanjilan untuk sehat selalu.

November 18, 2014

The Days After

Sudah hampir tiga minggu menjadi istri *ngik* Awalnya berasa awkward karena tiba-tiba status berubah dari pacar menjadi istri, huhu. Tapi ternyata nggak sesulit itu, karena kami sudah kenal cukup lama, it's like marrying my best friend. Seru dan menyenangkan :)

Kalau ditanya apa yang paling terasa setelah menikah? Tenang, tenang banget rasanya. Mungkin itu maksudnya menggenapkan separuh agama. Pikiran bebas dari galau yang tidak perlu, bisa ketemu setiap hari, dan saya sekarang selalu punya alasan untuk pulang. I've found my home. Because home for me is where you are.

It's not easy but it's not that hard. Dulu saya paling khawatir kehilangan cinta orang tua, ternyata tidak. Tidak ada yang berubah. Saya malah punya orang tua baru dan keluarga baru. Dulu saya khawatir kehilangan waktu belajar, ternyata tidak. Saya punya me-time yang lebih dari cukup, punya ruang belajar, dan pikiran yang lebih fokus karena kegundahan itu telah berlalu. Kalaupun kangen, malemnya juga ketemu lagi :)

I surprise myself these days. Seneeeng banget tiap hari bisa belajar masak sendiri sampai udah ga selera lagi beli di luar karena ternyata makanan sendiri lebih enak dan sehat XD *ngek* Saya percaya bahwa setiap hal itu bisa dilakukan kalau memang mau untuk melakukannya. Ga nyangka banget saya yang dulu ga pernah megang ikan mentah dan ga bisa bedain biji pala dan kemiri, sekarang bisa belanja ke pasar, bersihin ikan, cumi, udang, ayam pakai tangan sendiri dan mengolah bumbu. TERIMA KASIH PADA GOOGLE.

Bersyukur banget karena di D4 ini saya punya waktu yang fleksibel, terutama ngerasain jadi ibu rumah tangga *ngok* Lumayan juga banyak beraktivitas dan bersih-bersih sendiri bisa jadi pengganti olahraga, yay. Di titik ini saya sadar bahwa yang sudah mama saya lakukan selama ini sangat sangat sangat luar biasa. Ini pekerjaan seumur hidup.

Dulu saya juga takut bahwa menikah akan membuat saya kehilangan teman-teman. Ternyata tidak, tidak sama sekali. Tambahannya kini saya punya teman hidup, teman berbagi, imam yang membimbing, yang menguatkan, dan rekan untuk sama-sama menggapai mimpi.

Tidak ada yang lebih baik dari ini. Smoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan. Aamiiin.

November 7, 2014

A Quarter of A Century Old

I'm definitely twenty five, and this is my first birthday as being a wife.


Happy birthday to me. Don't be afraid of change. You may end up losing something good, but you'll probably end up gaining something so much better. Promise? :)

November 4, 2014

01.11.14

Segala puji bagi Allah. Akhirnya hari yang dinanti-nantikan sejak sekian lama itu tiba. Bersyukur banget karena ketakutan-ketakutan yang muncul telah dijawab oleh doa-doa, semua yang dipersiapkan berjalan lancar, dan keluarga serta teman-teman banyak yang ikut hadir untuk turut berbahagia dan bersedia kami repotkan. Terima kasih..... :)


Sehari sebelum hari H saya masih kuliah, LOL. Sorenya packing, malemnya cek gedung dan menginap di hotel, peluk-pelukan sama mama eh ga terasa sudah subuh. Bersiap-siap lalu berangkat ke gedung untuk make-up, sejak pagi jantung saya sudah berdegup hebat dan seluruh tubuh bergetar dahsyat. Ini seperti mimpi, tapi ini nyata.

Sebelum prosesi ijab kabul, saya disembunyikan di ruang rias. Orang tua dan penghulu datang untuk melaksanakan prosesi izin dari calon mempelai wanita. Saya tak bisa menahan tangis, melihat wajah abah dan mama, butir-butir air mata jatuh bulat-bulat, saya memeluk mereka berdua. Dalam hati, saya berjanji hubungan kami tidak akan ada yang berubah sampai kapanpun. Saya tetap anak kecil mereka.

Mendengar sayup-sayup suara ijab kabul membuat saya harap-harap cemas. Alhamdulillah, lancar dan setelah itu rasanya beban yang berat lepas dari pundak. Alhamdulillah, sah. Suasana saat itu hikmat dan sangat sendu. Tak henti-henti mengucap syukur.