October 30, 2010

Shaking The Sky

Postingan ini terinspirasi dari tweet yang saling berbalas yang dilakukan secara tak sengaja dan tak terorganisir oleh saya dengan seorang teman – sang penikmat langit (nama disamarkan, hehe). Dan, kisah langit pun tercipta melalui rangkaian hashtag yang diberi nama #sky. Saat saya melakukan ini, saya teringat dengan prosa 28 Hari untuk Selamanya yang juga tercipta dari prosa-prosa yang saling berbalasan. Saya tak sabar melakukan ini untuk selanjutnya karena balasan yang muncul sangat tak bisa diduga dan pastinya mengejutkan!

Wow, I’m really excited, shocked, and speechless! Thanks Sky Lover :)

Kalian bersedia? :)


Sky Lover: Tak ada cahaya bulan yang memantul ke mataku (lagi). Kasihan sang bintang yang telah menunggu sejak petang.

Me: Sang bulan pun harus mengalami siklusnya. Sang bintang tak akan kecewa, langit selalu indah. Dan bulan pasti datang lagi :')

Sky Lover: Mungkin sang bulan sedang mengumpulkan sinarnya untuk purnama kelak. Layaknya manusia, yang harus meningkatkan kapasitas agar jadi lebih pantas.

Me: Dan dia sesungguhnya tetap menatap dari jauh. Menyembunyikan kilaunya sesaat untuk mengajarkan arti kehilangan dan kerinduan.

Sky Lover: Tapi apakah bulan tahu jika bintang juga punya titik kesabaran.Seperti bintang malam ini, ia tenggelam dalam awan karena bulan yang tak kunjung datang.

Me: Mungkin dia tak pernah tahu karena mereka hanya saling pandang, bermain cahaya : tanpa kata. Tapi cukuplah menjadi bukti untuk bintang bahwa bulan slalu ada.

Sky Lover: Bulan memilih bintang yang plng bersinar dari milyaran bintang. Tapi sebaliknya, milyaran bintang harus bersaing demi satu bulan. Adilkah?

Me: Apa sebenarnya yang dicari bulan? Sepertinya bulan hanya berpihak pada matahari - bintang yang memberiny cahaya. Tp mereka tak pernah benar-benar bersama.

Sky Lover: Bulan memang berpihak pada matahari, tapi sebenarnya bintang yang berjarak puluhan tahun cahayalah yang jadi padanannya sehingga langit indah.

Me: Jika bintang yang datang dari jauh itu tak muncul lagi, mungkin bulan pun tak merasa sepi. Padahal dari cahaya bintang itu bisa terlihat jelas kesedihan.

Sky Lover: Bintang bukan tak muncul lagi, tapi sepertinya sudah ada bintang lain yang lebih dahulu di sisi sang bulan. Tapi itulah resiko jadi bintang.

Me: Walaupun dia sudah menunggu sejak petang. Tapi dia sudah bahagia dengan hanya bisa berada di belakang bulan, bukan tepat di sisinya. Cahayanya masih sama. Sama!



Okay, I almost cried in the ending of this tweet . Fyuuuuh T_T

October 29, 2010

Cookies Story

Hello, I’m Ginger Man.

I’m the inspiration of escape and sacrifice.

I was born one day ago after having some great sacrifice and deathly suffer composed by one big fat woman’s hand and woody spoon which cracking my muscle, vessel, and bone! (Okay, I’m exaggerating, sorry :P). I’m called as Ginger Man, not looked like a ginger (can you imagine me like that?), but smelled and flavored as ginger. Smell good, right? I’m a man of combination of flour, sugar, margarine, egg, and some gingery essence; then baked in high heat which creating this brown skin!

I live in peace in this glass jar. Please, don’t judge me with the story that you’ve heard in your childhood. I don’t escape from this lovely mother (okay, lovely), because she kindly gave me cherry for my eyes and raisins for my buttons. I’m cool, right? And the most fundamental reason is; I don’t wanna die in fox’s chews as what happened with my ancestor in your story book.

Chew me smoothly, okay. Promise? :’)

***

Hi, I am Cupcake.

I’m the symbol of creativity and beauty.

Look at me, and you’ll find some analogies of life, living, rain, happiness, love, and guilt. Touch me and say: “Dear cupcake” then mention what your heart’s said. Maybe it’ll help, in simply word, it’ll heal you.

You know, my dear, I am very simple definitely, but see my cap! They paint me with beautiful decoration: animal, flower, graduation hat, smile, and your name. Creativity comes from simplicity, and see, you’ll have no heart to eat me! :P

Just express what you feel to someone’s out there, and trust that you can count on me: Because I’m Cupcake.

***

*Oh My God, thank you bakers. They are so cute. And they are one of basic happiness elements in the world*

October 28, 2010

New Day: DJPK

Hidup memang penuh kejutan.

Sama halnya dengan kejutan yang muncul di tanggal cantik 20102010, yaitu pengumuman penempatan eselon I para alumni STAN 2010. Setelah bermenit-menit berusaha mendowload pengumuman tersebut di website kementerian keuangan, menunggu dengan wajah unyu dan jantung yang melompat-lompat (okey, lebay), dan masih juga terus gagal karena sedang diakses oleh ratusan orang lainnya dalam waktu bersamaan – akhirnya, mention dari twitter dan sms dari kakak dan adik tingkat memberitahu dimana nasib saya selanjutnya: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.

Pertama kali mendengar kabar itu: tetap dengan wajah unyu, bengong, tapi jantungnya udah nggak ikutan lompat lagi.

It’s so unpredictable. Di luar bayangan – karena seperti track record yang sebelumnya, besar kemungkinan saya ditempatkan di Sekretariat Jenderal. Dan, di luar ekspektasi – saya sangat tertarik dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang notabene tempat PKL saya dulu dan saya sudah sangat kenal dengan medannya.

Karena jantung sudah tidak melompat-lompat, yeaaaah, giliran saya yang melompat-lompat. Alhamdulillah, suasana rumah bersama mama dan abah saat itu pun menjadi haru biru. Pusaaat! :D

Yap, 43 kursi telah disediakan untuk saya dan teman-teman seperjuangan lainnya di eselon I tersebut. Walaupun saya satu-satunya dari spesialisasi Kebendaharaan Negara, it doesn’t matter, karena saya akan punya lingkungan baru dan teman-teman baru yang baik-baik :D

Walaupun banjir, macet, jauh dari orang tua: saya tetap ingin, mau, mauuu banget tinggal di Jakarta. Karena DJPK tidak punya instansi vertikal selain eselon I, jika Allah tidak berkehendak lain, maka seumur hidup saya akan ada di Jakarta . Semoga Pak Gubernur selanjutnya bisa memperbaiki tata ruang kota ini ya Pak, supaya Jakarta nggak tenggelam, lumpuh, dan tetap menjadi tempat hidup yang nyaman :)

Saya mengenal Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan di semester III saat belajar Pengantar Keuangan Daerah, lalu mengenal dengan lebih baik di semester IV di mata Kuliah Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. DJPK memang eselon I yang baru dibentuk sesuai amanat Pasal 18A UUD 1945, Pasal 2d, 2e dan 2f Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004, dan Pasal 2 Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004, yang menyatakan bahwa hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan hal yang penting dan strategis dalam rangka pengelolaan keuangan negara. DJPK merupakan penggabungan dari beberapa unit eselon II dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK) Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (BAPPEKI) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 66 Tahun 2006 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia.

Bicara tentang DJPK pasti bicara tentang Pemerintah Daerah sebagai stakeholder utamanya, dan selalu terkait dengan DAU, DAK, DOK, Dana Bagi Hasil, dan sebagainya. Hal-hal yang lebih lanjut mungkin akan saya ketahui saat hari pertama magang nanti pada tanggal 1 November 2010.

Waaaah :D

Sudah tidak jadi mahasiswi lagi, tidak jadi pengangguran lagi, tapi sudah jadi cewek kantoran yang harus berkualitas, trendy (teteup), amanah, dan punya banyak target serta pencapaian untuk hari-hari ke depan ^^

Bismillah :D

Terima kasih ya Allah ^^
Saat para fresh graduate bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan dan melejitnya angka pengangguran, kita telah diberikan anugerah itu. Anugerah berupa pekerjaan yang baik dan harus selalu dijaga pula dengan bermartabat :’)

Tentang Lupa

Aku tersadar; bahwa kini dan nanti, pertemuan aku dan kamu telah bernilai sangat langka dan mahal. Yang tak luput pula dari kelangkaan, sehingga tak bisa lagi kutemui kata kita, bahkan hanya jejaknya.

Kalaupun ada; kita hanya barisan huruf-huruf, tanpa aura, tanpa warna. Yang berdiri sendiri-sendiri, tak saling kenal, berpura-pura tak ingin menoleh karena gengsi atau lupa.

Lupa? Bagaimana mungkin kamu melupakan kenangan yang tertanam dalam memori begitu dalam? Kurang kuatkah aku mencengkeram saraf dan pembuluh darahmu?

Seperti daun, yang hijau sesaat lalu mengering – mati –terlupakan.

Aku dan kamu juga seperti daun, pernah hijau, pernah mengering, dan akan mati – tapi tidak terlupakan, mungkin hanya dilupakan. Yah, mungkin.

Aku merindukanmu diam-diam. Mengaku tak rindu, walau sebenarnya rindu. Dan membiarkan aku terlupakan, yah, mungkin dilupakan.

Bukan hal yang bijak jika aku atau kamu menyalahkan waktu yang membuat kita berjarak. Ataupun, menyalahkan jarak yang membuat kita tak lagi dekat, tak bisa lagi saling melihat. Padahal, sungguh jelas, hati kita tak berjarak.

Dan seperti yang pernah kutakutkan, waktu dan jarak memang membuat kita tetap ada. Ada, tapi, kita hanya barisan huruf-huruf yang membuatku terbiasa. Karena aku, kini, hanya jatuh cinta pada barisan huruf-hurufmu, gelombang suara, gelombang elektromagnetik, dan gelombang pikiranmu. Aku jatuh cinta pada benda matimu, bukan lagi kamu, yang hidup.

Aku tidak lagi rindu padamu – yang hidup.

Dan jika kita bertemu lagi, di tanah yang sama, detik yang sama, belum tentu getaran hati kita sama. Kita bersama dengan pikiran yang asyik berjalan di dunianya sendiri-sendiri. Lupa bahwa telah melupakan: tidak ada lagi kita.

Tidak ada lagi kita - kita yang terlupakan, eh mungkin, dilupakan.


*metafora untuk persahabatan dan kamu; ya kamu - pangeran tanpa nama*

Kutipan Dwilogi Andrea Hirata

Berikut adalah beberapa kalimat dari Dwilogi Andrea Hirata – Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas yang cukup memikat buat saya :). Mungkin, Anda juga.

Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu, naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan yakni perasaan tak berdaya-ingin mengalahkan, rencana-rencana jahat-penyesalan, kesedihan-gengsi, kemarahan-keputusasaan, dan ketidakadilan-mengasihani diri. Kurasa, cemburu adalah salah satu perasaan yang paling aneh yang pernah diciptakan Tuhan untuk manusia.

***

Bahwa cemburu, juga seperti iri, dan seperti dengki, yaitu seekor omnivor – binatang pemangsa segala- yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui darah, lalu bercokol di dalam perut dan membunuh orang yang memeliharanya dengan memakan hatinya ,sedikit demi sedikit.

***

Love walks on two feet just like a human being
It stands up on tiptoes of insanity and misery

***

“Pak Cik, aku hanya pernah kenal cinta sekali. Sekali saja. Hanya pada Zamzami. Itulah cinta pertamaku, yang akan kubawa sampai mati” – Syalimah.

***

Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

***

“Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar!” – Maryamah Karpov.

***

“Pasrah, hanya itu yang bisa kita lakukan. Pasrah sumerah. Terima saja kekurangan kita. Anggaplah itu sebagai berkah dari yang mahatinggi, dan bersyukurlah atas apa yang ada pada kita” – Detektif M. Nur.

***

“Kalau aku susah, cukuplah kutangisi semalam. Semalam suntuk. Esoknya, aku tak mau lagi menangis. Aku bangun dan tegak kembali” – Maryamah Karpov.

***

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger

Someone stranger
Standing in a mirror
I can’t believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid

I’m so afraid
Of losing someone I never have
Crazy, oh, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obscure little town
The moon over my obscure little town

***

Namun, sekali lagi, A Ling, bersamaku atau tidak, tak mampu membuatku berpaling pada siapa pun. Sebaliknya, Bu Indri memperlihatkan tabiat wanita cantik umumnya, yaitu jika kita mendekati mereka, mereka selalu telah menjadi milik orang lain, dan jika mereka mendekati kita, situasinya pasti selalu tidak mungkin. Sedangkan perempuan yang tidak kita inginkan, selalu berada di sana, bak patung selamat datang, tak seorang pun mau mengambilnya.

October 20, 2010

Abstrakisme: Kita

Kita memang seperti cuaca; merindukan mentari di waktu mendung, dan menantikan rintik hujan di saat terik.

Kita memang serupa bayangan; kadang muncul kadang hilang, yang kadang menjadi pelindung, namun di lain waktu membuat kalut.

Kita memang seabstrak kata suka atau duka; yang molekul dan atomnya tak dapat diuraikan, dan derajat biasnya pun tak dapat dipastikan.

Koordinat kita memang sejajar dengan sumbu X hati dan sumbu Y rasa yang tegak lurus dalam satu fungsi: cinta.

Bagi orang dewasa – cinta itu seperti angin; kadang tak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Ya, cinta memang seperti angin; penuh kelembutan, keteduhan, walaupun selalu ada peluang untuk membuat kerusakan. Tapi karena cinta seperti angin – maka kita bisa memilih sang angin yang menyejukkan dan membawa kebaikan; pengantar serbuk sari untuk membuahi putik, penggetar siulan burung kenari di gendang telinga, atau pembawa embun yang didaratkan hujan di lembar-lembar ilalang.

Bagi orang dewasa – cinta itu bisa dipertemukan oleh gelombang dalam maya, direngkuh oleh waktu dalam nyata, dan dihubungkan oleh tanda seru, huruf, angka, dan suara.

Terima kasih pada fisikawan. Terima kasih pada programmer. Terima kasih pada guru Bahasa Indonesia. Dan terima kasih Tuhan, Engkau memberikan satu kesempatan: kita.

Walaupun, bagiku atau bagimu, menerjemahkan pikiran abstrakis yang kita punya adalah suatu kelelahan. Mendekati gagal. Tak akan pernah kita temukan definisinya di kamus-kamus yang tertumpuk di meja, tak akan pernah mungkin kita dapatkan dasar hukumnya di kumpulan peraturan, kebijakan moneter, dan catatan kaki sang sarjana; bahkan search engine nomor satu pun tak akan pernah memuaskan kenihilan itu: kita.

Karena aku, kamu layaknya bilangan irrasional – tak terdefinisi tapi ada: kita.


Hati itu punya pikirannya sendiri; terdengar egois tapi sebenarnya dia galau. Dia punya kendali untuk bisa menaklukkan otak, mata, kaki, dan tangan tapi sesungguhnya dia pembimbang. Dan dia selalu menyimpan impian diam-diam yang tak dapat dipahami orang-orang, dan hanya dapat disandarkan pada Tuhan: kita.

Karena hati tak dapat disuap oleh harta benda, tak dapat disemaikan oleh bibit yang salah, dan tak dapat dipaksakan untuk bersemi sebelum waktunya. Tapi dia bisa membaca – apa yang terjadi di antara aku dan kamu – kita. Tapi dia bisa belajar – menerimaku dan menerimamu – kita. Walau dia tak bisa mengintip apa yang tertulis dengan tinta permanen di langit: mungkin bukan kita.

Tapi yang terpenting saat ini, tolonglah jangan tambah kesedihanku. Itu saja. Karena tak ada gunanya merisaukan hal-hal yang bukan wewenang ciptaan. Dan karena aku takut: kita. Pada akhirnya, aku, kamu, tak mendapatkan apapun atau siapapun.

Bangsa Kita Memang Pelupa

Baru saja beberapa bulan yang lalu kita merayakan hari jadi negeri ini. Yah, 17 Agustus – momentum saat kita semua bicara tentang nasionalisme, patriotisme, dan kebanggaan menjadi ananda dari ibu pertiwi. Tapi seperti biasa; setelah hari itu, kita sudah lupa tentang harapan untuk bangsa ini, bahkan mungkin lupa bahwa kita sudah pernah merdeka.

Demikian pula dengan kasus Bank Century yang digantung begitu saja terhembus badai politik, kasus mafia hukum, mafia pajak, kasus BLBI, ataupun kasus korupsi yang pernah menghebohkan negeri. Sudah lupa, tuh. Sepertinya hanya menjadi konsumsi media dan hiburan bagi publik, yang nantinya juga terkubur sendiri dengan kasus-kasus baru yang silih berganti tanpa henti.

Atau ingatlah kembali dengan tsunami yang meluluhlantahkan daratan Aceh, atau gempa besar di Yogya. Sudah lupa tuh. Padahal, masih banyak sekali korban-korban bencana yang terlantar dan masih tinggal di barak-barak pengungsian. Tak terurus. (Tidak) sengaja dilupakan.

Yuk, naik ke atas. Semoga saja para wakil rakyat kita tidak lupa merampungkan PR Undang-undangnya setelah plesiran ke luar negeri atau bermimpi tentang gedung baru. Bagaimana tidak pesimis, sila-sila di Pancasila saja sering lupa.

Sudahlah, ngga usah jauh-jauh. Mari bercermin pada diri sendiri. Kita yang sering mengeluhkan banjir di musim hujan, sudah lupakah kalau kita sering buang sampah sembarangan?

Ya sudah. Hehe.

Semoga generasi ke depan punya memori yang cukup besar untuk tidak melupakan banyak hal.

Mirisnya, jangan sampai bangsa ini lupa kalau dia adalah bangsa Indonesia *ngikngok*


*Sebuah renungan tentang tabiat lupa dan kerinduan atas perubahan*

Finally Home

Sudah setahun. Semakin banyak bunga mawar yang tumbuh di halaman depan. Semakin banyak pula kucing-kucing montok yang menumpang hidup di halaman belakang.


Yeah, I’m going home.

Into the place where I belong.


Memang hanya tiga hari waktu saya bisa kembali di rumah. Terlalu singkat untuk bernostalgia dengan hal-hal indah yang bersemi di sana. Saya kangen naik motor tua dengan abah, belanja dengan mama, makan masakan yang sehat, menggelitik adik yang sekarang sudah bisa jadi bodyguard kakaknya, belajar naik sepeda (sigh), ataupun sekedar duduk-duduk sambil membicarakan bulan. Saya kangen. Yah, karena memang hanya dua tujuan saya saat ini pulang: rumah; dan mengurus berkas-berkas penempatan. Yang lainnya hanya nomor kesekian.

Semoga waktu bisa berdamai denganku agar berputar lebih lambat dari biasanya. Seandainya jarak antara Bintaro dan Medan hanya sedekat Kalimongso – Sarmili, tapi sayangnya tidak.

Pulang, bukan hanya untuk memuaskan kerinduan. Tapi untuk melengkapi kembali puzzle jiwa yang hilang yang terkelupas oleh rutinitas, obsesi, dan kesepian.

Otoosan, okaasan. Tadaimaaa :D

Red Graduation

Air mata saya sudah dihemat

Disimpan dalam kantungnya yang pekat

Untuk menyambut Oktober nan memikat

Dan benar saja,

Bulan ini saya memang butuh banyak air mata :)


Alhamdulillah, setelah 3 tahun ibunda STAN mengandung sekitar 1300an mahasiswanya, maka saya termasuk salah seorang yang turut dilahirkan di tahun 2010. Ya, dilahirkan ke dunia kerja. Buat saya, lulus dari kampus ini adalah salah satu kebahagiaan yang tak tergadai. Banyak sekali hal-hal yang telah dilalui: putus asa, takut, kecewa, stress, sepi, tawa, cinta, cita, yang keseluruhannya adalah pelengkap perjuangan dan bahagia ini; dan tanpa diduga mengantarkan saya memperoleh predikat wisudawan terbaik dari spesialisasi Kebendaharaan Negara tahun 2010. Syukur yang tiada habisnya pada Allah :’).


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Yudisium yang digelar di gedung G STAN pada tanggal 4 Oktober 2010 untuk spesialisasi Kebendaharaan Negara dan PPLN sudah cukup membuat saya mengharu biru. Buat kalian yang sudah memeluk saya di hari itu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya tertular dua hal: tawa dalam syukur dan tangis; dan gelisah akan datangnya perpisahan.

Karena persahabatan layaknya morfin yang bikin kecanduan.

Dan tiga tahun bersama membuat hubungan kita sudah cukup pekat meski tanpa kesamaan darah.


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Apa selanjutnya? Wisuda. Hari bersejarah untuk para mahasiswa ini digelar di Sentul International Convention Center pada tanggal 12 Oktober 2010. Dengan kebaya merah maroon dan high heels (akhirnya), saya didampingi oleh orang tua, adik, om, dan tante yang sudah berjuang penuh agar saya bisa mengikuti wisuda dengan baik. Maaf ya buat kalian para pendampingku karena sudah membuat kalian menangis saat saya berdiri di barisan wisudawan terbaik dan nama kalian digaungkan sebagai ayah ibu dari anandamu. Lalu apa yang terindah dari hari itu? Saya bisa bertatapan langsung dengan Ibu Ani Rahmawati – Wakil Menteri Keuangan dan bersalaman dengan beliau. Ibu Ani cukup mirip dengan Ibu Sri Muliani – idolaku – jadi tidak perlu kecewa. Sangat puas, malah. Pesan beliau yang paling membekas buat saya: "Berapapun gaji kalian pada awalnya nanti, syukurilah, karena kalian sudah jauh lebih beruntung dari orang-orang yang tidak punya pekerjaan". Insya Allah. Insya Allah. Terima kasih pula pada 12 kuntum mawar yang menambah kebahagiaan saya di hari yang merah maroon itu ^^



Yeah, it is not ending, it’s only the beginning. Tetap belajar, tetap berjuang, tetap bertawakkal, tetap ikhlas, dan tetap jadi orang baik – apapun yang terjadi – sampai kapanpun.

October 5, 2010

Kutipan Novel: A Cat in My Eyes

Sebuah novel yang mempertanyakan kelaziman dengan bahasa yang indah - ditulis oleh: Fahd Djibran.

Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu.

Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang.

Serupa hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu.

***

Bagiku, cinta adalah berbagi sepotong kue bolu. Ia keluar tiba-tiba dari balik kotak bekal makan siang, serupa soda yang mendesak keluar ketika tutup botol coca-cola dilepaskan.

***

Love is so short, forgetting is so long.

***

Andai saja tak ada ingatan. Mungkin, kita tak perlu risau terhadap jejak yang kita tinggalkan. Biarlah masa lalu jadi milik masa lalu. Maka, kini jadi milik masa kini. Dan, esok menjadi milik esok saja. Kalau saja begitu, barulah aku bisa mendefinisikan cinta.

***

Women: Number Makes Us Desperate :(


“Lihat, langsing banget ga sih…”

“Boring ga sih booo…”

“Embeeeeer”


Langsing – kata yang cukup mistis buat saya. Gimana ngga? Saya bukan gadis yang punya angka-angka yang dikategorikan ‘sangat ideal’, dan karena angka-angka itu saya jadi sering minder, stress duluan kalau mau ketemu orang, atau jarang merasa cantik.

Menyedihkan *huks*

Saya masih harus banyak belajar tentang arti percaya diri, SYUKUR, dan menerima kelebihan dan kekurangan diri tanpa harus membanding-bandingkannya dengan orang lain. Kita semua istimewa.

SYUKUR.

But, indeed, number always makes us desperate.

Sepertinya sudah cukup usaha diet yang pernah saya coba sejak SMA – diet rendah karbo, teh, gel, dan kaplet pelangsing, aerobik, detoks, dan berusaha makan sangat sedikit dan sangat irit – hingga angka itu mencapai sangat ideal. Tapi, tubuh saya sepertinya sedih dengan apa yang saya lakukan, sehingga setiap kali saya pulang atau makan teratur angka itu kembali seperti dulu. Yah, efek diet yoyo.

Number always makes us desperate.

Teringat kata seorang teman – secerdas-cerdasnya wanita pasti menjadi sangat galau saat berurusan dengan ‘angka’ itu. Yah, bagaimana tidak? Kita telah menjadi korban estetika media dan keinginan publik tentang harus bagaimanakah diri kita. Dan, saya pun jadi korbannya.

Number always makes us desperate.

Saya yang selalu terperangkap dalam opini orang lain, sehingga jika meleset sedikit saja, langsung mencuri perhatian. Lalu kenapa mau diperangkap? Apakah kita hidup di dunia orang lain sehingga tidak menyayangi diri kita?

Benarkah kecantikan selalu diukur oleh angka-angka? Dan kecantikan hati dan otak hanya pelengkap?

Bukankah ada ungkapan, “…dari mata turun ke hati…”

Saya jadi tidak lagi percaya dengan kalimat “…menerima kamu apa adanya… mencintai kamu tanpa syarat…”

Pastilah kita memilih seseorang karena alasan tertentu, dan tanpa syarat itu hanya kegombalan tempo dulu.

Sekali lagi, sorry, help us, number makes us desperate!

Cita-cita vs. Kenyataan

“Kalau besar nanti mau jadi apa?”

“Mau jadi presiden!”

“Insinyur!”

“Dokter!”

“Kenapa?”

“Chila mau cembuh-cembuhin teman chila yang cakit, bial bica berlmain cama-cama lagi…”

Hehe. Tadaaa! Yah, itulah sepotong cuplikan pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang dewasa ke anak-anak. Tentang cita-cita, masa depan, dan harapan. Dan kita pun, saat itu, menjawabnya dengan pekerjaan standar – pekerjaan impian – dokter, insinyur, pramugari, atau polisi. Tanpa tahu yang kita cita-citakan itu sebenarnya apa.

Dan pastinya tidak pernah terdengar ada anak kecil yang bercita-cita mau jadi PNS!

Hehe.

Yah, anak-anak dan masa kecil. Masa yang cukup indah karena kita tidak pernah khawatir dengan apa yang terjadi di hari esok, tidak memandang teman kita dari ‘sesuatu’ – ya udah, ketemu langsung bisa main bareng – dan tidak merasa sepi walau hanya ditemani selembar kertas dan sekotak krayon.

Cita-cita di masa kecil saya juga standar: dokter anak. Lalu mama pun membelikan satu paket permainan dokter-dokteran, lengkap dengan bonekanya yang pada akhirnya jadi pemeran antagonis di antara boneka-boneka saya karena wajah dan rambutnya mengerikan. Setelahnya, cita-cita saya pun berubah: jadi chef. Entah apa alasannya, kayaknya keren bisa masan makanan yang enak-enak. Beranjak SMP, cita-cita pun mulai spesifik, pingin jadi ahli farmasi. Walau lagi-lagi nggak tahu farmasi itu apa – sepertinya seru bisa nyampur-nyampur obat. Dan sejak SMA, cita-cita saya mulai jelas, mau jadi ahli astronomi. Karena memang suka astronomi dari kecil dan belum banyak ahli astronomi di Indonesia.

Cita-cita sih bisa setinggi langit, tapi ingat selalu ada batas anak tangga yang kita punya untuk bisa kita daki – kondisi finansial dan kesempatan adalah salah satu batasnya. Banyak orang-orang pintar tapi tidak punya kesempatan, tapi banyak pula yang punya kesempatan tapi menyia-nyiakannya. Walaupun jika kita mau, kita bisa saja merobohkan batas itu.

Tapi, tetap saja ada batas lain: takdir.

Tidak pernah sama sekali terlintas dalam benak saya pada akhirnya akan menjadi PNS. Beralih dari Teknik Industri USU ke STAN – yang kedua-duanya juga bukan keinginan saya, saya anggap itu adalah bagian dari takdir. Yap, 3 tahun masa pendidikan sudah terlewati -LULUS- dan kini saya sangat mencintai ketidakinginan saya dulu itu. Mensyukuri setiap kedewasaan dan anak-anak tangga lain yang disediakanNya untuk saya.

Saya jadi teringat dengan kisah yang dituturkan oleh teman saya tentang seorang mahasiswi baru yang ingin mengundurkan diri setelah baru saja melewati 1 hari dinamika lembaga. Keinginannya itu muncul setelah mendengar pernyataan: “…jika memang tidak dari hati, atau tidak siap mental, lebih baik mengundurkan diri dari sekarang saja…”. Pernyataan itu dia tanggapi dengan serius.

Dia suka filsafat, dan ingin kembali ke kampusnya yang dulu – walau mungkin sudah terlambat. Yah, ambisi. Seperti saya dulu. Ambisi yang membuat kita tidak peduli dengan bagaimana perasaan orang tua, berapa banyak biaya yang sudah dikorbankan, atau ketidakmampuan untuk sedikit saja membuka hati. Toh, tempat ini tidak terlalu buruk. Kedewasaan muncul saat kita belajar mencintai apa yang ada di hadapan kita, dan menemukan bahwa inilah jalannya. Kita masih bisa belajar banyak hal di sini kok. Tidak tertutup kemungkinan. Lihat saja, banyak sekali anak STAN yang ahli di ilmu lain: sastra, komputer, ataupun bisnis misalnya.

Di sini saya juga belajar untuk membuka mata bahwa PNS bukan sesuatu yang buruk: apa yang saya lihat selama ini adalah stigma dari kurangnya integritas dan profesionalitas aparatur negara kita.

Toh, kita juga bisa punya karir, pendidikan, dan pengalaman yang cemerlang dari sini!

Entah kenapa, rasanya saya baru sadar, cita-cita di waktu kecil sebagian besar orang sangat langka tewujud menjadi kenyataan di masa depan.

Takdir.

Tapi percayalah, Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan mimpi-mimpi kita. Dia hanya mengubah kemasannya, menyederhanakannya, atau memodifikasinya agar lebih kompatibel dan realistis.

Semangaaat! Hidup akan tetap berjalan untuk orang-orang yang selalu punya harapan ^^

My First Blogging Award - Visitor Friendly Award

Huoraaay, terima kasih buat Firman Fulcrum yang sudah menghadiahkan award pertama buat blog Icha.

Jujur aja, icha seneng banget karena award ini bikin icha terus semangat menulis dan rasanya luar biasa bahagia kalau blog kita dibaca oleh banyak orang dan postingannya bisa semakin berkualitas, apalagi kalau bisa menembus halaman pertama search engine.

Wuihhh!

Nah, karena aturannya penerima award ini harus memberikan award kepada 10 blogger lain, maka saya akan menghadiahkannya untuk blog-blog teman-teman saya, blog yang produktif dan sering saya kunjungi, ataupun blog yang lagi hibernasi – semoga award ini bisa membangunkan kalian buat nulis lagi, hehe!

Dan, inilah dia penerima award dari saya…

1. Let's Tell Tales oleh Walissa Tanaya Pramanasari
2. Catatan Kandil Perkasa oleh Yoga Prabowo
3. Glitterfy.com - *Glitter Words* oleh Teguh Priyanto
4. Nona DD oleh Desi Diarnitha
5. Sepercik Cerita Saya oleh Dania Lukitasari
6. Luvdejava oleh Wening Puspitasari
7. Urim and Tumim oleh Cosmas Sakti
8. Chitow is Citra oleh Citra Yaniar
9. Hura-hura Sentosa oleh Gayuh Ardhi Rumpoko
10. Lentera Ungu oleh Fitri Rahmawati

Congratulation yaaa!

Aturan selanjutnya, sepuluh penerima award tersebut harus meletakkan link-link berikut di postingan masing-masing. Di postingan kalian nanti, link nomor satu akan dihapus, link berikutnya akan naik ke urutan selanjutnya, dan letakkan link blog kalian di urutan ke sepuluh.

Gitu deh!

1. Blacklight
2. Oku Timur News
3. Akoey’s Blog
4. Coretan-Coretan Di Blog
5. Ladida’s Blog
6. Ocha’s Blog
7. Saidi’s Page
8. Farah Rizkiah
9. Firman Fulcrum
10. Blooming Edelweiss


Semoga dengan visitor friendly award ini bisa memperluas link kita ke teman-teman blogger yang lain, meningkatkan silaturahmi sesama blogger, dan menjadi motivasi buat kita untuk terus produktif menulis, berbagi kepada dunia melalui lantunan kata-kata, dan saling bertukar ide dan kisah-kisah inspiratif.

Tetap menulis! Apapun yang ada di pikiran dan hatimu, ungkapkanlah!

Yeah! Without writing, it feels like losing a piece of puzzle of soul.