November 7, 2016

Terima Kasih

Perjalanan pulang ke rumah di saat harus pulang lebih larut dari biasanya adalah perjalanan yang terasa seperti selamanya. Malam terlalu dingin, rintik hujan terlalu tajam, dan setengah jam di kereta itu terlalu lama untuk menggadai rindu. Tak sabar lengan memeluk, tak sabar mata menatap, dan tak kuasa hati terus menawar rasa bersalah.

Sepasang mata yang lugu itu masih menunggu. Dia bersorak meminta dekap.

Hikmat, dekap yang hikmat. Damai, inilai damai. Ada satu dua tetes yang jatuh di kepalanya yang mungil. Sesekali jemarinya berdansa di wajah sambil menjemput lelap.

Masih ada selembar pesan yang tersimpan di atas meja ruang tamu. Selembar pesan untuk ibu yang sungguh tak sempurna dan sering tersedu.


Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi malaikatku di bumi. Semoga langkah-langkah kecil ini bernilai ibadah, karena tak pernah ada surgaku tanpa ridhomu.

November 6, 2016

IELTS Test

Akhirnyaaa bisa dapat kesempatan untuk ikut diklat persiapan IELTS selama 3 hari, tepatnya tanggal 26-28 Oktober 2016 di IDP Kuningan. Seneeeng karena bisa rileks sejenak dari aktivitas kantor, kumpul dengan teman-teman, sambil belajar bareng. Kalau lagi jauh dari kantor gini pasti yang dipikirin gimana caranya pumping hehehe. Ini jadi pengalaman pertama saya untuk pumping di toilet, bersyukur banget punya kantor yang busui friendly dengan ruang laktasi yang sangat nyaman.

Diklat dilaksanakan mulai pukul 9 pagi sampai 5 sore, alhasil saya sampai rumah pun lebih larut dari biasanya - karena harus berganti-ganti busway dan kereta. Selama diklat, kami diberikan pengenalan dan tips agar bisa sukses mendapatkan band yang optimal saat tes. Tutor yang mengajar juga lucu dan menyenangkan. Sudah lama nggak belajar lagi, ini pengalaman pertama juga belajar di rumah sambil nyusuin anak. Remuk deh modul dan buku karena ditarik-tarik sama Biya. Doain mama ya nak... :)

Foto bareng sama tutor hehe

Tes IELTS dilaksanakan hari Sabtu tanggal 5 November 2016 berbarengan dengan peserta-peserta yang lain. Tes Listening, Reading, dan Writing dilaksanakan di Raffles International School dan tes Speaking dilaksanakan di kantor IDP cabang Pondok Indah. Kami sudah harus sampai di lokasi ujian paling lambat pukul 7.30, sambil menunggu proses registrasi, saya pumping dulu. Setelah itu, kami diminta untuk berbaris sesuai dengan ruangan ujian yang telah ditentukan. Setelah proses foto dan rekam sidik jari, kami diminta untuk ke ruangan dan diberikan arahan lebih lanjut. Ujian dilaksanakan pukul 9 sampai 12 siang. Selama ujian, nggak boleh pakai jam tangan dan nggak boleh ke toilet, sampai gemeteeer..... baru boleh ke toilet saat tes Writing sudah dimulai, hiks.

Tes Speaking dimulai pukul 1 siang. Alhamdulillah, dapat giliran pertama tes jadinya bisa langsung pulang dan nggak perlu nunggu. Kami diantar ke kantor IDP dengan feeder bus yang telah disediakan. Penguji saya bernama Mrs. Jane, seorang bule Australia. Selama tes, percakapan kami direkam. Mungkin saya cukup beruntung, dapat pertanyaan yang relatif mudah dan tidak terlalu asing, karena topiknya tentang.... WEDDING hehehe.

Semoga hasilnya memuaskan yaa. Lumayan, sertifikat berlaku 2 tahun dan bisa digunakan kalau sewaktu-waktu mau apply beasiswa! :)

October 23, 2016

MPASI Kesukaan Biya

Horeee, Biya sudah sebulan masuk ke periode MPASI. Selama sebulan ini, saya mengamati kalau Biya nggak susah makan. Apa aja yang dikasih mau dilahap. Semoga seterusnya ya nak, supaya Biya sehat dan kuat, serta makanan yang masuk ke tubuh Biya menjadi berkah.

Untuk urusan MPASI, saya inginnya Biya mau makan apa aja yang terhidang dan ada di rumah. Supaya Biya nggak menjadi picky eater, dan ibunya nggak repot buat memastikan semuanya selalu serba ada :)

Selama sebulan ini, Biya udah nyobain daging sapi, daging ayam, dan ikan salmon (yang ibunya sendiri belum pernah nyicip hihi). Kalau mengenalkan protein hewani seperti ini, kadang khawatir terjadi reaksi alergi. Alhamdulillah, tidak terjadi reaksi yang berarti, dan Biya tidak sembelit. Mama happy :)))

Biya paling suka makan di teras, duduk di kursi makan sambil main, melihat temen sebayanya makan, atau heboh menonton kakak-kakak berkejaran dan bersepeda. Biya paling suka buah pepaya. Suka bangeeet. Selalu pingin nambah!

October 22, 2016

Menginap Bersama Biya ♡

Jadi ini pengalaman pertama kalinya buat saya bawa bayi nginep di hotel. Buat apa? Buat nemenin saya kerja...... :)))

Pertama-tama, sungkem dulu ke suami yang udah mengizinkan saya menculik Biya selama 2 malam, soalnya ibu dan anak ini sama-sama nggak bisa tidur kalau nggak kelonan. Makasih Ayah! ♡

Pastinya oh pastinya, karena saya masih belum mau dinas ke luar kota, akhirnya saya kebagian menghadiri undangan rekon di dalam kota aja hehe. Dan, karena acaranya dimulai malam, pagi-pagi, lalu lanjut sampai tengah malam, saya malah ditawarin buat bawa bayik aja sama atasan saya. How lucky! *terharuuuuuu

Gimana rasanya? Waaah deg degan, selain nyiapin bahan, juga harus nyiapin perlengkapan Biya, MPASI, ASIP, dan memastikan semua terkendali. Pulang dan pergi ke lokasi acara naik Go-Car. Untuk MPASI, saya siapin frozen food dan bubur instan buat jaga-jaga, bawa 10 botol ASIP (yang cuma keminum 1 botol karena Biya udah kenyang nyusu langsung), bawa mainan, peralatan mandi (Biya mandi di wastafel hehe), peralatan makan, bantal, selimut, perlak, dan beberapa pasang baju ganti.

Gaya beneeer sekarang maunya berdiri gitu :)))

Asyik maiiin

Guling-guling teruuus

Selama saya harus kerja, Biya di kamar sama Mak pengasuh. Di sela-sela break, saya langsung bisa cium-cium Biya, menyusui, atau ajak Biya jalan-jalan. Saya seperti punya tenaga ekstra untuk menjalani hari. 

Biya sahabat Mama :*

Terima kasih sudah menemani Mama ya Biya. Semoga Mama bisa selalu punya banyak waktu berkualitas bersama Biya ♡

September 28, 2016

MPASI Perdana Biya

Huoraaay, saat-saat yang ditunggu tiba.

Beberapa hari sebelum MPASI Biya, saya sudah berdebar-debar lhooo. Bikinin makanan pertama apa ya? Biya suka makan nggak ya? Pakai referensi MPASI yang mana ya? Hehehe.

Sebagai ibu-ibu baru yang masih semangat, maunya masak MPASI sendiri, supaya hemat, sehat, dan memberikan yang terbaik untuk anak :)

Apa saja peralatan MPASI yang saya siapkan? Nggak banyak. Ternyata yang dibutuhkan tidak sebanyak kelihatannya hehe. Kira-kira ini peralatan yang paling saya butuhkan:

1. Home Food Maker
Saya beli merk Puku, karena dengan manfaat yang sama harganya setengah dari merk Pigeon (prinsip ekonomi banget hehe). Yang paling saya butuhkan adalah saringan, penting banget digunakan di awal MPASI untuk membuat puree atau bubur saring.

2. Munchkin Food Grinder
Saya nggak pakai blender atau food processor, karena males beli dan males nyuci hehehe. Food Grinder ini bermanfaat banget untuk menghaluskan makanan dalam porsi mini, mudah dibersihkan , dan nggak perlu listrik, sehingga bisa dibawa-bawa. 

3. Baby Cube
Saya nggak beli baru sih, pakai yang ada aja, produk IKEA murah meriah yang isinya kecil-kecil dan banyak. Pas untuk menyimpan kaldu dan MPASI yang akan didinginkan. 

4. Peralatan makan dan minum
Alhamdulillah, ada yang ngasih hadiah. Walaupun ada banyak variasi, tapi yang saya pakai juga masih itu-itu aja piring dan sendoknya hehehe. 

5. Panci, kukusan, pisau, dan talenan
Semuanya pakai peralatan yang ada dan belum pernah dipakai. Saya masih lebih milih bikin MPASI pakai cara konvensional, alias pakai kompor, hehehe semoga tetap rajin seterusnya.

6. Rak Piring Bayi
Saya pakai sterilizer Panasonic yang dikasih sama teman-teman kantor dan bisa dijadikan rak piring sekaligus. 

7. Kursi Makan Bayi 
Saya pingin Biya disiplin makan sambil duduk, dan ternyata Biya heboh banget kalau duduk di kursinya hehe.

September 24, 2016

ASIP Kejar Setoran

Setelah 6 bulan sejak kelahirannya, si kecil Biya hanya minum cairan kehidupan yang bersumber dari tubuh saya, dan hari ini adalah saat yang monumental, karena Biya berhasil lulus ASI Esklusif. Dulu saya pikir, sertifikat ASI S1/S2/S3 itu berlebihan. Ternyata nggak! Karena memang nggak mudah buat tetap konsisten sampai di fase tersebut :')

Puji syukur kepada Allah yang Maha Memudahkan dan kepada support system yang luar biasa: suami, keluarga besar, atasan, rekan kantor, dan teman-teman seper-pumping-an di ruang laktasi. I feel so emotional. Karena harus sadar diri, dengan ASIP kejar setoran, stok ASIP yang nggak melimpah, dan pengalaman "perah ASI hari ini untuk diminum esok hari" adalah titik dimana saya bisa menaklukkan ketakutan diri sendiri. Semoga bisa menyempurnakan hak ASI untuk Biya, serta setiap tetesnya menjadi berkah, menjadi pengikat rindu, dan menjadi penggugur dosa.

Bagaimana rasanya melihat stok ASIP di freezer kurang dari 10 botol? Wah, lemes.

Hal itu yang mulai terjadi saat Biya berumur hampir 5 bulan, saat konsumsi ASI sedang banyak-banyaknya. Hampir setiap hari defisit ASIP, nggak terasa tuh, ambil 1 atau 2 botol dari freezer, dan yes... nyadar kalau ASIP tinggal belasan dan nggak pernah nabung ASIP lagi. Di kantor 3 x pumping, maksimal hanya dapat 5 botol, di rumah sebelum berangkat bisa dapat 1-2 botol, dan... rata-rata selalu habis. Kalaupun bisa biasanya nabung 1 botol untuk menyiasati Biya yang growth spurt atau saya yang terpaksa pulang telat dari kantor.

Hmmm, gawat, nggak bisa gini-gini aja nih.

Akhirnya, mau nggak mau, frekuensi pumping ditambah, curi-curi waktu jadi pumping 4 x sehari, maksimal bisa dapat 6 botol, tambah frekuensi pumping malam hari, dan maksimalkan pumping di weekend, cuma bisa dapat maksimal 3 botol per hari karena Biya nempel terus kayak bayi koala hehe. Pelan-pelan mulai bisa nabung lagi, tapi kadang masih defisit karena... tanpa diduga Biya pernah minum 8 botol dalam sehari, antara senang dan khawatir hehehe. Wajar sih, karena menjelang MPASI memang Biya cenderung lapaaar dan minumnya tambah banyak, tapi produksi belum digenjot optimal :(

Lalu kenapa bisa sampai mengalami ASIP kejar setoran, yang tadinya freezer atas penuh, jadi tinggal beberapa botol aja?

Jawabannya adalah karena TERLENA dan kalah sama ngantuk. Terutama, waktu Biya masih di daycare, saya cuma sempat pumping 2 x sehari di kantor karena saat istirahat siang selalu jenguk Biya untuk nyusuin langsung, dan saat itu ASIP selalu cukup. Ternyata mengumpulkan ASIP sebanyak-banyaknya dan sedini mungkin itu pentiiing banget (pelajaran berharga buat saya), karena akan ada masanya dimana ASIP defisit dan mau nggak mau ambil stok di freezer, atau saat harus meninggalkan bayi untuk beberapa jam lebih lama, cuma stok ASIP itu yang jadi andalan.

Lalu setelah MPASI, apakah konsumsi ASIP Biya berkurang?

Nggak, hehehe. Saya masih perlu meninggalkan 6 botol kalau pulang tepat waktu, dan artinya... tantangan masih panjang. Tapi, saya percaya bahwa ini adalah bentuk ibadah, dan salah satu bentuk kasih sayang untuk mengubur rasa bersalah yang selalu timbul karena tidak bisa bersama bayi saya sepanjang waktu. Ini yang bisa Mama berikan, nak...

Buat para pejuang ASI, semoga kita selalu bersemangat, tetap sehat, dan tetap bisa menjaga suasana hati agar produksi ASI melimpah. Saling menguatkan ya :)

Jadi, apa pencapaian yang membuat saya senang setiap hari saat ini?

Pulang kantor tepat waktu, bawa ASIP banyak, dan bayi belum tidur saat sampai di rumah. Sudah, itu saja.

:)

August 25, 2016

Galau Level Ibu-ibu

Jadi, apa yang bikin galau setelah menjadi ibu (dan masih tetap bekerja), selain lembur dan meninggalkan anak di rumah dengan penuh drama?

Ditinggal pengasuuuuh.

Iya, setelah Biya tidak di daycare lagi alias sudah dirumahkan, Mak pengasuh yang bersama saya minta pulang. Hahaha. Baru seminggu lho. Saya sampai bertanya-tanya, salah saya apa ya sampai Mak minta pulang? Ternyata Mak sakit asma, dan asmanya kambuh sejak Mak kerja di rumah. Akhirnya, Mak dipulangkan karena beliau juga sudah pingin banget pulang dan satu rumah ikut batuk-batuk.

Artinya... Biya balik ke daycare.

Alhamdulillah Biya masih bisa kembali kesana karena masih terdaftar. Perjuangan dan kerepotan dimulai lagi, hehehe, alias ada adegan bawa bayi pagi-pagi dan berperang dengan macet. Seminggu dua minggu, hmmm nggak oke nih, nggak oke buat kesehatan jiwa karena kita berdua hampir selalu telat, alias telat banget ke kantor.

Mama mertua mencarikan pengasuh lagi, dan tepat di tanggal 17 Agustus, pengasuh yang baru datang. Beliau lebih muda, lebih pandai, dan lebih bisa diandalkan. Alhamdulillah, sejauh ini saya puas banget dengan bantuan Mak di rumah. Semoga Mak betah yaaa.

***

Dan, semoga akan ada waktunya di saat saya nggak perlu bantuan pengasuh lagi, nggak perlu merasakan beban mental harus pisah sama anak setiap bangun tidur di pagi hari. Saya percaya pada skenario Allah. Siapa tahu? :)

Aamiiin yang kenceeeeng.

July 29, 2016

Moodbooster

Di sela-sela jam kantor

Saya: "Mak, Biya sedang apa?"

Mak: "Sedang santai nih, baru bangun tidur"

Saya: "Icha mau ngomong ya Mak sama Biya"

Mak mengarahkan handphone ke dekat Biya, "Nak, ini Mama telpon. Ayo mana suaranya?"

Saya: "Biyaa... Biyaa... lagi apa tuh? Minum susunya banyak ya? Biyaa... Biyaa..."

Mak: "Biya nyariin nih, matanya ke kanan dan ke kiri, Mama mana ya, eh ketawa dia"

Saya: "Biyaa..."

Mak: "Eh ketawa lagi dia, Cha"

Too much happiness at once. My baby, you are my energy.

July 26, 2016

Motherhood #4: Mudik Pertama Biya

1 Juli 2016.

Cihuuuuy waktunya mudik! Kalau diingat lagi, rasanya nggak punya rencana akan mudik di tanggal 1 Juli. Kami memang belum berburu tiket murah sejak jauh-jauh hari, dan benar aja semakin mendekati lebaran harga tiket sudah beranjak hampir mencapai 1x gaji pokok, hiks. Tapiii nggak disangka kami berhasil dapat tiket muraaaah dengan promo BRI (nyebut merk) bersama Garuda yang harganya hanya 500 ribu sajaaaa buat ke Medan di tanggal 1 Juli. Alhamdulillah, rezeki bayik :)))

Sudah 1 tahun lebiiiih ga pulang ke Medan. Super excited! Apalagi kali ini bawa oleh-oleh cucu hehehe. Tanggal 1 Juli saya sudah cuti dan baru sempat packing pagi itu juga haha. Bawa koper, tas travelling bayi, tas ASI, kasur lipat bayi berkelambu, sampai bawa kursi mandi bayi. Supaya nanti nggak kerepotan di rumah Medan hehe.

Suami kerja setengah hari trus izin pulang lebih cepat. Sampai di rumah jam setengah 3 sore, sementara pesawat berangkat jam 5 sore dong. Uber sudah menunggu. 

Alhamdulillah, nggak macet dan jam 4 sore kami tiba di bandara. Langsung check in, dan bawaan tambah banyak karena dapat 3 goody bag dari promo hemat BRI haha. Suami bagian angkat ini itu sementara saya bagian gendong Biya yang lumayan juga bikin lengan berotot hehehe.

July 25, 2016

Motherhood #3: Tentang Daycare

24 Mei 2016.

Cuti bersalin berakhir dan artinya harus kembali ke kantor. Membayangkannya saja sudah bikin saya meringis sejak beberapa hari sebelumnya. Dan, saya belum juga menemukan pengasuh untuk menemani bayi saya di rumah. Ya bagaimana bisa? Berusaha mencari pun saya malas dan rasanya tak rela jika bayi kecil ini harus berpindah tangan seharian.

Lalu, saya dan suami kembali pada pilihan terakhir (yang sebenarnya tidak disetujui suami) yakni jika kami belum menemukan pengasuh: Biya dititipkan ke daycare. Saya sudah berjaga-jaga untuk mendaftar jauh-jauh hari dan alhamdulillah masih dapat tempat untuk Biya di kelas bayi. Daycare Artha Wildan adalah taman penitipan anak yang berlokasi di belakang gedung DJPBN, Kemenkeu. Dan, untuk bisa menitipkan anaknya di sini cukup susah karena waiting list untuk masuk lumayan panjang.

Saya bersyukuuur banget. Artinya, saya masih tidak perlu berjauhan dengan Biya.

Tapi, kendala lainnya adalah bagaimana saya berangkat ke kantor dengan membawa Biya setiap hari dari Tangsel ke Jakarta Pusat? Sementara jemputan yang biasanya saya andalkan sudah tidak beroperasi. Akhirnya, suami saya berbaik hati untuk mengantar dan menjemput kami setiap hari dan melanjutkan perjalanannya ke kantor di Tanjung Priok. Terima kasih, ayah...

April 14, 2016

Motherhood #2: Ternyata Saya Bisa

"I lose and find myself in the same time. I realize that I have to leave some good old things in the past, but new job is waiting. It is the best and hardest job in the world - as a mother. It gives me a bunch of new perspective why I wake up everyday. Life brings me to the new level. And I'm just amazed myself that I can do this. Yes, I'm doing it!"

***

Tepat 3 minggu menjalani peran baru sebagai seorang ibu, dan sudah seminggu pula saya belajar untuk mengurus bayi sendiri setelah Mama dan mertua pulang. Berbekal pengalaman mereka, baca buku, baca artikel, sharing dari teman-teman, I'm so happy because I can nurse my baby on my own way, hehe.

April 9, 2016

Motherhood #1: Belajar Meng-ASI-hi

Tentu saja, saya juga bercita-cita untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI sangat bermanfaat untuk kesehatan, tumbuh kembang bayi, dan menciptakan ikatan emosional yang erat antar ibu dan anak. Dan, ternyata untuk jadi pejuang ASI tidak cukup bersandar pada komitmen saja, tapi juga butuh pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi :)

Hari-hari pertama merupakan fase yang berat untuk saya dan Biya (panggilan bayi saya). Kami baru saja 'kenalan' (dan langsung jatuh cinta berkali-kali). Saya memang tidak sempat mengalami IMD tapi hal itu terhapuskan dengan indahnya debar-debar saat sang bayi diletakkan dan bergerak di dada saya 4 jam pasca operasi. Our skin met and it was priceless.

Di hari kedua, kolostrum baru keluar karena stimulus isapan bayi yang dilakukan di hari sebelumnya. Bayi saya baru belajar menghisap dan saya juga baru belajar menyusui. Sebagai sesama newbie, saya tidak tahu jika cara yang saya lakukan dalam dua hari ini salah. Saya memang belum pernah ikut kelas laktasi saat hamil dan dengan hanya kenyang teori dari artikel-artikel yang selama ini disantap, it was not enough. I made mistake.

April 7, 2016

Finally, We Met You Baby Girl

"Seorang ibu tetaplah akan menjadi seorang ibu, tanpa terikat bagaimana proses persalinannya..."

Debat yang tiada habisnya antar sesama perempuan terkait proses persalinan, pilihan untuk memberi ASI, dan pilihan karier membuat persepsi tersendiri bahwa saya pun harus bisa memenuhi kriteria yang dianggap sebagian besar orang menjadi kategori sebagai ibu sejati. Dari awal kehamilan, saya sangat percaya diri untuk bisa melahirkan normal - tidak ada pilihan lain. Tapi ternyata Allah menakdirkan saya bertemu sang putri melalui operasi caesar sebagai ketentuan yang paling baik untuk saya dan putri kecil yang sangat saya cintai.

***

Memasuki usia kehamilan 40 minggu, saya dilanda kegalauan hebat. Mungkin hampir sama dengan kegalauan saat ditanya, "Kapan menikah?" atau "Kok nggak hamil-hamil?", yaitu saat saya terus dikejar oleh pertanyaan, "Kapan lahiran?" dan "Kok belum melahirkan juga?". Sejak saat itu, saya mulai kabur dari social media dan sedih jika orang-orang terus bertanya-tanya, menelpon, atau mengirim pesan tentang kapan saya bersalin, setiap hari.

Syukurlah saya ditemani Mama yang rela datang di awal untuk mengurusi saya karena suami mendadak harus ikut pelatihan dan menginap di asrama sampai akhir Maret. Mama memberi saya kekuatan yang luar biasa dan dukungan ekstra untuk terus melakukan hal-hal yang dapat merangsang persalinan normal - jalan kaki di pagi dan sore hari, muter-muter mall hanya untuk jalan kaki, makan makanan yang bisa menstimulus kontraksi, ngepel jongkok, senam hamil, induksi alami, pokoknya dibikin capek. Terlebih saya baru saja pindahan baru-baru ini dan membereskan semua sendiri, dorong lemari sana sini, angkat ini itu, dan saya optimis hal tersebut dapat mempercepat bayi saya turun ke jalan lahir.

Kenangan safari mall sama Mama. How I miss the bump ♡

Saya terus berdoa semoga bayi saya segera memberikan tanda cintanya kepada saya melalui beberapa tanda persalinan normal, seperti kontraksi yang teratur, flek, atau pecahnya ketuban. Tapi semakin menjauhi dari HPL saya belum juga merasakan yang namanya mules atau bagaimana rasanya kontraksi. Yang terjadi hanyalah kontraksi palsu ataupun perih karena gerakan bayi saya yang semakin aktif di dalam rahim. Saya terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada saya.

February 24, 2016

Life Lately

Usia kehamilan saya sudah beranjak 36 minggu.

Subhanallah, rasanya waktu berjalan cepat ya. Saya juga sudah mengambil cuti hamil. Kalau kata orang kantor cutinya kecepetan, tapi kata suami saya malah harusnya seminggu sebelumnya aja hahaha. Lagipula sayang juga sih hak cuti sebulan nggak dimanfaatkan, karena kalaupun cutinya mepet dan lahirannya maju atau mundur juga nggak bisa dirapel buat setelah melahirkan, tetep 2 bulan dari tanggal kelahiran :p

Di hari pertama cuti rasanya boseeen banget. Biasanya seharian di kantor dan kemarin itu lagi seneng-senengnya kerja (uhuk), ikut workshop, dan ketemu banyak orang. Dan, sekarang harus sendiri di rumah, cuma nungguin suami yang pastinya lembur hahaha. Aduh, mewek seharian deh. Suasananya beda pas saya banyak di rumah waktu D4 dulu, karena ada yang dikerjain kali ya, atau ada yang dipikirin, skripsi misalnya haha.

Selama cuti saya memanfaatkan waktu buat memaksimalkan waktu istirahat (sebelum masa begadang datang hehe), jalan sore, dan ikutan senam hamil lagi. Ini kedua kalinya saya ikut senam hamil di RS Premier Bintaro. Karena sudah 36 minggu jadi saya bisa ikut berlatih mengejan, smoga bisa persalinan normal dan lancar. Aamiiin :')

February 20, 2016

Mama Kenapa?

"Mama kenapa suaranya serak ma?"

"Iya biasa, mama batuk. Cuaca sedang tidak bagus"

***

Beberapa hari kemudian, di menit-menit yang saya manfaatkan untuk menelpon orang tua di rumah dalam dua jam perjalanan pulang dari kantor yang melelahkan, Mama mengaku, "Kemarin suara Mama serak, bukan karena batuk, tapi karena menangis".

Mama menangis karena merindukan saya, karena tidak bisa merawat saya di sela-sela kehamilan saya. Juga karena beliau kesepian, karena adik pun semakin dewasa dan sudah punya kesibukan.

Diam-diam, air mata saya ikut menetes. Saya buru-buru mengambil tissue agar tidak terlihat oleh penumpang bis yang duduk di sebelah saya. Saya pun merindukan orang tua saya. Saya pun merindukan pelukan mereka, merindukan bubur kacang hijau buatan tangan Mama, atau menyentuh mereka dari dekat.

Saat sedang mengandung, rasa sayang dan kagum saya kepada Mama semakin besar. Jadi beginilah yang Mama rasakan waktu saya ada di rahim beliau, sakit, susah, sedih, bahkan mungkin lebih berat dari itu...

Tak beberapa lama, setelah telpon berakhir, adik mengirimkan saya sebuah foto. Foto mereka sedang makan malam bertiga di meja makan dengan lauk sederhana yang istimewa.

"Banyak sekali lauknya. Kangen. Jadi sedih", komentar saya.

"Kak Icha masih di jalan?"

"Iya"

Mata saya berkaca-kaca lagi.

***

Dalam setiap doa, saya menitipkan permintaan yang sama agar Allah menjaga mereka selalu dengan baik, bisa bertemu lagi dalam waktu yang paling baik.

Mereka adalah semangat saya, malaikat bumi saya.

January 15, 2016

Menjadi Ibu Hamil yang Bahagia

"Jangan sedih ya, Ma. Aku di sini"

Saat saya sedang kelelahan atau merasa sendirian, ada yang langsung menendang dan seakan menghibur dari dalam perut. I will fight for you, my love, my baby.

♡♡♡

***

Kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir, tepatnya 31 minggu. Perut semakin membuncit dan punggung semakin melengkung, hehe. Alhamdulillah, si dedek tumbuh sehat, walaupun dengan total pertambahan berat badan saya yang hanya 5 kg (dan optimis akan terus bertambah), but my baby has normal weight. Tendangannya semakin sering dan kuat, dan sekarang kepalanya sudah muter di bawah perut. Get ready to meet mommy in few weeks, right?

Pekerjaan membuat waktu berjalan cepat. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik, peduli, dan bumil lain yang seperjuangan. Mereka kuat, saya juga pasti kuat. Saya juga bahagia walaupun dalam keadaan hamil rekan kerja dan atasan saya tetap memperlakukan saya secara profesional. Mereka adalah support system yang saya butuhkan. Karena kehamilan bukan penyakit, kehamilan adalah kebahagiaan dan sebuah pilihan. Jadi, hindari berkeluh kesah :)