January 29, 2011

Kutipan Film: My Sassy Girl

Dengan mengesampingkan berbagai scene yang agak garing di dalamnya, My Sassy Girl adalah film yang cukup menarik dan sudah berkali-kali saya tonton. Pesan moral utama – yang saya simpulkan sendiri - adalah kalau jodoh, nggak akan lari kemana. Hehe. Dan adegan saat Charlie menuliskan 10 peraturan dalam hubungan mereka pada pria yang ditemuinya di restoran sedang bersama Jordan adalah scene favorit saya dalam film ini! Yeah, it’s sweet! :D


First, don’t let her drink. When she does, use the fireman’s carry.

Be prepared to go to jail.

Don’t expect a lot of help from her dad.

Whatever you think is going to happen next, you’re wrong.

When her feet hurt, exchange shoes with her.


Learn to say the following phrase over and over again to your self “It’s all part of the charm.”

On your 33rd day together, bring her a single rose. Give it to her in her recital class.

If she says she’s going to kill you, don’t assume it’s a metaphor.

She likes to write, encourage her.

And lastly, your time with her will be the happiest you ever were in your life. Enjoy every second.

Sepercik Kisah dari Jalanan #2

Ya, hidup kita memang bergantung pada banyak orang, langsung ataupun tidak langsung. Jika dipikir-pikir, kita sangat terbantu oleh orang-orang dengan pekerjaan-pekerjaan sederhana dan yang dianggap rendah oleh beberapa orang di luar sana. Pemulung, misalnya, bayangkan banyaknya sampah-sampah plastik yang ada di jalanan ataupun di sungai jika tidak ada orang-orang seperti mereka. Ataupun tukang angkut sampah, tukang parkir, penjaga palang rel kereta api, para office boy di kantor, cleaning service, ataupun sopir angkutan umum. Bayangkan saja bagaimana hidup kita tanpa adanya mereka.


Perjalanan pulang selalu membawa banyak pelajaran – lebih menghargai orang lain, salah satunya, ya menghargai orang-orang dengan profesi seperti mereka yang sungguh sangat berjasa besar. Mereka yang harus terhalang waktu sholatnya, mungkin, untuk bisa membuat kita nyaman, mengantarkan kita ke tempat tujuan, ataupun harus jauh dari keluarga untuk memperjuangkan hidupnya. Tapi, itulah hidup dengan segala konsekuensinya, dan derajat mereka jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang malas ataupun hanya ingin meminta-minta.

Sesekali pintu hati saya terketuk, malu. Mereka –dengan pekerjaan sederhana dan pendapatan yang mungkin belum selayaknya – bisa sangat berdedikasi dengan profesinya. Sementara saya yang sudah dianugerahi nikmat ini? Masih sering mengeluh.

Surat #3: Untuk Mama

Dear Mama,

Jika menuliskan kata yang syahdu itu, aku langsung ingat wajah Mama yang meneduhkan, atau kecupan di pipi saat aku akan berangkat ke sekolah. Sudah lebih dari tiga tahun aku jauh dari Mama, tapi harusnya aku semakin terbiasa atas hal itu. Aku memang terbiasa, tapi terbiasa untuk merindukanmu. Terbiasa untuk menyapamu pagi-pagi setelah aku sampai ke kantor. Dan terbiasa untuk mengingatmu sejenak saat akan terlelap dan bersembunyi di balik selimut.

Aku selalu suka saat Mama bilang kalau Mama kangen aku, dan hei, kita kontak batin karena baru saja Mama akan menelponmu eh kamu sudah menelpon duluan. Lalu aku pun bercerita tentang aktivitasku, aku sedang mengerjakan apa, sedang memperjuangkan apa, dan sedang makan apa. Lalu Mama pun bertukar cerita tentang masakan yang sedang dinikmati di rumah, tentang Abah yang sering mengkhawatirkanku dari jauh, tentang kucing-kucing yang semakin nakal, dan tentang adik yang sudah beranjak remaja. Lalu kita pun saling merengkuh dalam harapan dan doa.


Mama, terima kasih telah menjadi pendengar yang baik saat ini. Menjadi pendengar yang dewasa, yang tak menghakimi, tapi menyembuhkan. Terima kasih telah mau berjuang dalam proses ini, Ma. Ya, proses saling memahami, saling memberi dukungan, dan memberi kepercayaan – dan pada akhirnya, aku harus mengakui kalau aku semakin menyayangi Mama.

Sesekali, aku masih ingin dimanja oleh Mama, disambut saat pulang kantor, dan diajak ngobrol saat aku mulai terlihat diam saja. Mama jangan kesepian ya, aku juga selalu ingat moment-moment saat kita belanja bersama, bergandengan, saling traktir, naik becak motor, atau kadang saling berdebat hal yang tidak penting, karena masalah high heels misalnya. Hehe.

Maaf ya Ma, aku sering keras kepala. Keturunan siapa, coba? :P

Tapi biarpun begitu, aku tetap ingin selalu menjadi anak perempuan Mama yang tersayang – yang bisa membanggakanmu dan menghapus air matamu. Saat ini dan nanti.

Surat #2: Untuk Kamu, ya, Diriku Sendiri

Dear kamu,

Ya kamu. Kamu yang aku maksud itu aku, ya aku, diriku sendiri. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja sepertinya. Agak aneh ya menyapa diri sendiri seperti ini? Tidak aneh, hanya saja kamu memang tak terbiasa. Bahkan sudah lebih dari 20 tahun, aku tak mengenalmu dengan baik dan memang kurang menghargaimu dengan selayaknya. Selalu saja merasa ada yang kurang. Padahal kamu itu istimewa, hanya saja sering tak percaya dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

Hai kamu, aku tahu, terlalu banyak kerumitan yang menghinggapi pikiranmu. Menangis sejenak tak apa, tapi janji, harus diam-diam. Tapi tersenyum itu jauh lebih baik, karena Allah menyayangimu, sangat, dan mereka juga menyayangimu. Hanya saja dengan cara mereka sendiri. Lalu kenapa aku tak berusaha lebih menyayangimu juga?

Saat ini, biarkanlah aku menulis surat ini untukmu dan mengetuk pintu hatimu. Ya, juga, yang kumaksud itu pintu hatiku sendiri. Tak usahlah terus bertanya kenapa dan kenapa. Karena kamu hanya akan membuat dirimu terluka. Tetap berjuang, sayang, dan bersabar. Serta bersyukur, itu yang utama. Agar hatimu tenang, tumbuh, karena hidup sedang mengajarkanmu arti kedewasaan.

Aku tahu jika kamu sangat rentan dengan kesepian, tekanan, atau kerinduan. Tenanglah, terkadang hal-hal itu akan membuat kita kuat. Teruskan prinsipmu untuk tidak mengeluh dan tidak bergantung pada orang lain. Untuk terus membahagiakan orang-orang yang kamu cintai. Dan untuk tetap menjadi diri sendiri. Itu yang utama.

Dan janganlah terus menerus selalu merasa bersalah. Rasa bersalah itu memang perlu, tapi jika itu bukan milikmu, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam itu. Semua tidak harus berjalan sempurna, dan kau tidak selalu bisa memuaskan semua orang.

Aku lupa jika aku jarang mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih buat segala sesuatunya, buat semangatmu yang kadang patah tapi bisa bangkit lagi dan buat daya tahanmu yang semakin baik semakin harinya. Allah tidak pernah meninggalkanmu, Dia sangat menyayangimu. Sangat.

Aku berbahagia padamu, ya, bahagia menjadi diriku sendiri. Pada akhirnya, terima kasih telah mengajarkanku sampai di titik ini. Aku akan terus berusaha untuk menemukanmu dan mencintaimu, dan terus menuntunmu untuk melangkah menuju anak tangga berikutnya setiap hari. Kamu itu aku, ya diriku sendiri.

Surat #1: Untuk Seseorang

Dear someone,

Terima kasih sudah jatuh cinta padaku lebih dahulu. Aku memang percaya bahwa seorang pria harus mencintai wanitanya lebih dahulu, karena sang wanita dianugerahi kemampuan untuk bisa belajar mencintai prianya. Janganlah khawatir, karena cinta seorang wanita itu tumbuh layaknya kuku, terus tumbuh dari ketiadaan bahkan jika ada yang berusaha mematahkannya, dia tetap akan terus tumbuh. Sama seperti yang terjadi padaku saat ini.

Terima kasih pula karena mengizinkan aku untuk menyebutmu dengan berbagai panggilan warna-warni, tapi tetap saja memanggilmu dengan mengulang suku kata pertama namamu menjadi favoritku, jika didengar sepintas artinya sangat indah. Ya, artinya sinar matahari.

Hubungan kita memang tidak seperti pasangan biasa, karena itu, bolehlah aku menyebutnya istimewa. Aku tahu bahwa sulit sekali bagi kita untuk saling bertemu, hingga terkadang aku lupa wajahmu ataupun kamu lupa senyumku. Tetapi aku menyukainya, karena aku semakin merindukanmu, merindukan pertemuan yang nyaman dan singkat itu, hingga akhirnya waktu menculik malam dan kita harus kembali ke kehidupan masing-masing dan dilanda ketidakpastian kapan alam semesta akan berkonspirasi lagi.


Terima kasih karena aku bisa menjadi gadis manis seutuhnya di depanmu, tidak mejadi alien ataupun zombie yang tergila-gila dengan kerja, buku, ataupun obsesi-obsesi yang membuatku sedemikian rumit. Terima kasih untuk telinga dan ketenangannya yang luar biasa, yang membuatku selalu bertahan dan meyakinkan diri bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Bahwa aku bahagia.

Pada akhirnya, aku selalu bersyukur karena bisa memilikimu. Janganlah kemana-mana, tetaplah di sini. Di sini. Memang tak mudah, namun tak sedemikian sulit, dan saat orang bertanya kenapa, aku tak perlu bersusah payah membuat mereka mengerti. Karena memang tak pernah ada alasan yang tepat dan memuaskan untuk jatuh cinta pada seseorang kan? The answer is, yeah, It just happened.

And I’m happy. Today. Dan aku akan mengulang kalimat itu esok dan esoknya lagi.

You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
And I’m on my way to believing
Oh, and I’m on my way to believing
(Paramore – The Only Exception)

Welcome Back Prince William!

Finally, my Prince William has been recovered after losing his vision because of accident which broke the LCD since five months ago. Thanks for the unpredictable sustenance in Friday afternoon and for my aunt and uncle who have made possible to get him well again precisely in Jan 22. Now, here he is, sitting in front of me with his gourgeous appearance and performance that helps me a lot in finishing my duty, writing, watching movie, listening movie, chatting, and many more. I do love him – he is truly my digital soulmate! :D *hugging*


I often cried because of being afraid that I would not have capability to repair him. Huks. My Prince has saved many wonderful memories. My grandfather gifted it when I was in third class in STAN replacing my Prince Harry that had to be retired. Yeah, my William has fulfilled my empty days with lots of entertainment, accompanied me in accomplishing my tasks, writings, and deadlines, and facilitated me in finishing my final report. And now, he is still here, coloring my weekend and erasing the pain and longing to my real prince. Huhu.

It seems like I’m addicted a lot to Harry, William, or another names of Prince. Hehe. It’s not the main case. The point is my William is still here when the real William will be getting married :P hehe. No, no, I’m not idolizing them. But I’m crazy with U.K. Yeaaaah, U.K., especially London which is my deepest dream and my ‘must’ destination after Mecca.


I don’t know, I just like London and am interested a lot with it. I am crazy with Oxford, with their cute accent, with the architecture, Big Ben, Buckingham Palace, and especially, with London Eye! Look at this Ferris wheel! It’s very WOW!!!



Bersih-bersih Taman Edelweiss

"Bagian tersulit adalah membiasakan sesuatu yang tidak biasa, atau sebaliknya".


Yah, kalimat yang pas untuk mulai ngeblog lagi setelah sekian lama taman edelweiss saya tidak terurus. Huks. Alasan utamanya adalah akhir-akhir ini saya sangat rentan dengan kelelahan. Setelah menempuh perjalanan jauh pulang dari kantor, tubuh dan pikiran tak lagi sering sependapat. Saat sang pikiran sudah punya banyak hal untuk dituangkan dalam tulisan, eh sang tubuhnya bilang nggak, dan mereka pun bersepakat untuk langsung membuat saya tertidur setelah mendengar 2 buah lagu di playlist atau sesaat setelah laptop baru dinyalakan. Lalu nenek biasanya langsung menarik-narik saya untuk masuk ke kamar, melepas kacamata saya, dan memaksa saya yang masih setengah sadar untuk mematikan laptop. Huhuhu.

Alasan kedua adalah Prince William belum juga pulih. Ide yang sudah terkumpul rasanya lenyap jika saya mencoba untuk berpaling dengan menulis di media lain, huhu. Alasan yang agak lebay sebenarnya, tapi ini serius!

Dan alasan ketiga adalah saya sedang mengalami yang namanya writing block. Dan ini yang paling menyebalkan. Rasanya seperti tidak ada hal menarik yang bisa saya tulis. Huhu. Oleh karena itu, seorang penulis memang harus bisa melakukan hal-hal yang tidak biasa di sela-sela rutinitasnya yang stagnan ataupun banyak mengamati lingkungan sekitar. Dan biasanya yang saya lakukan adalah jalan sore-sore selepas kerja -sendirian ataupun bersama seorang dan dua orang teman- sekedar untuk jalan sampai halte, cuci mata di Atrium Plaza, ataupun ikutan menikmati ramainya pilah-pilih secondhand dress di pasar Senen seperti yang saya lakukan kemarin sore. Dan, lagi-lagi sendirian! Hehe. Alasan melakukan ini hanya satu, yeah, it’s fun! And I do like it! No matter what people say :P

Back to topic, sudah hampir dua minggu ya saya tidak menambah kuntum edelweiss yang baru di taman ini. Yaaah, itu berarti saya melanggar poin pertama dari tiga peraturan yang saya buat sendiri sebagai seorang blogger, antara lain:

1.Menambah postingan di blog minimal seminggu sekali;
2.Menulis dengan jujur dan tanpa unsur plagiarisme;
3.Membaca dan berkunjung ke blog para follower ataupun visitor yang mampir ke taman edelweiss.

Dan sebagai sanksinya, saya harus menambah beberapa kuntum yang berwarna baru di taman saya ini yakni dengan menulis 3 buah surat cinta seperti pada 30 Hari Menulis Surat Cinta yang banyak dilakukan blogger lainnya. Tapi bulan ini saya hanya akan menulis 3 surat cinta saja untuk orang-orang teristimewa dalam hidup saya.

Sekali lagi, selamat mengunjungi blog saya. Terima kasih atas kesediaannya untuk mampir dan menunggu bunga-bunganya bersemi lagi. Dan semoga saya punya kesempatan untuk mengunjungi taman edelweiss yang asli suatu saat nanti ataupun melihat bunganya dari dekat sekali saja. Semoga saja ya!

January 9, 2011

Kutipan Novel: Galaksi Kinanthi

Galaksi Kinanthi adalah sebuah novel yang sangat indah ditulis oleh Tasaro GK dengan tema cinta dan spiritual yang mengambil potret perjalanan hidup seorang wanita bernama Kinanthi dari kampung kelahirannya di Gunung Kidul hingga menjadi penulis kaliber dunia di New York. Kisah ini membuat kita berpikir bahwa Romeo dan Juliet hidup kembali dalam spirit yang lebih agung dengan dilema orang tua, kemiskinan, nasib buruk, dan jalur takdir yang membentengi bersatunya dua hati antara Ajuj dan Kinanthi. Novel yang luar biasa! :) Dan berikut adalah beberapa prosa yang sangat manis dan membekas untuk saya setelah membaca novel ini:


Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta;
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai menangis tanpa mau disebut gila.

Berhati-hatilah.
Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat. Menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua orang berpikir hidupmu telah sempurna.


Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah... Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.

***

Kelak, akan kuberi tahu engkau jika sudah ada sesuatu yang pasti. Atau, jika pada suatu pagi gerimis, bau tanah basah mengurai penciumanmu dengan romantisme dan engkau bertemu dengan keduanya di suatu tempat, tolong kabari aku segera. Aku sungguh ingin tahu.


"Kinanthi, bagiku Galaksi Cinta tidak akan pernah tiada. Ketika malam tak terlalu purnama, lalu kausaksikan bintang-bintang membentuk rasi menurut keinginanNya, cari aku di Galaksi Cinta. Aku akan tetap ada di sana.

Tersenyumlah, Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu"

January 7, 2011

Kita Hanya Butuh Bicara :)

Sebenarnya, kadang kita hanya butuh bicara.

Golongan tua vs. golongan muda bukan hanya muncul di saat hari-hari menjelang proklamasi, tapi hingga saat ini dan seterusnya. Karena, pola pikir dan sudut pandang terkadang memang membuat paradigma keduanya berbeda - bukan masalah umur atau kematangan jiwa.

Sometimes older people have never grown up, they just grow old.

Itulah mengapa menjadi tua terkadang mengerikan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional. Terkadang arogansi dan gengsi kita juga ikut menua , dan sering lupa pada kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana – bahkan mungkin hanya sekedar tawa.

Konflik itu memang bisa terjadi, pada orang tua dan anak misalnya. Sang anak merasa dirinya sudah cukup dewasa dan sudah punya hak untuk memilih, sedangkan sang orang tua merasa anaknya masih bau kencur dan belum punya pemikiran matang untuk memilih. Belum siap untuk tumbuh.

Sebenarnya kita memang hanya butuh bicara. Melatih diri untuk bisa sama-sama mencapai titik keseimbangan berpikir yang sama. Orang tua dan anak duduk bersama, lalu sang orang tua merendahkan suaranya dan mendengarkan pendapat sang anak. Dan sang anak dapat mendengar dengan bijak apa keinginan dan pertimbangan sang orang tua.

Karena pada dasarnya, kita memang butuh kesempatan dan rasa percaya untuk bisa tumbuh. Maka berikanlah, dengan porsi dan waktu yang tepat.

Tumbuh itu hak asasi manusia. Dan kita dapat mewujudkannya dengan bicara – tepatnya saling mendengar.

Setiap orang tua pernah mengalami masa muda, dan tak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya. Demikian pula sang anak belum pernah mengalami apa yang dirasakan orang tua. Jadi, mari bicara.

Mungkin aku mulai merasakan hal demikian – menjadi orang tua untuk adikku sendiri yang sedang memasuki masa puber. Yah, begitulah. Mulai takut sang adik macam-macam, dan akhirnya terkadang bersikap sangat protektif. Bukan karena arogan atau tak percaya, tapi karena sayang. Dan saat ini aku sadar kalau segala sesuatunya memang bisa berjalan wajar di waktu yang tepat.

Dan, belajar untuk bicara satu sama lain juga butuh proses. Mungkin kita juga baru bisa mewujudkannya di saat sudah cukup dewasa. Seperti aku dan mama sebagai bukti nyatanya yang sedang dan terus belajar untuk sama-sama saling bicara, terbuka, dan mendengar. Hasilnya sungguh luar biasa. Kita semakin saling menyayangi dan percaya satu sama lain.

Jadi yuk mari bicara ^^

Rindu

Rabb, boleh kali ini aku berbincang denganMu lebih lama dari biasanya? Aku ingin bicara banyak denganMu – berdua saja, bahkan tanpa kedua malaikat di sisi kiri dan kananku tahu. Tak mungkin? Tak apalah, aku hanya ingin duduk di hadapMu, lalu bercerita denganMu semalam suntuk, dan memanjatkan dahiku di untaian sujud tanpa terburu-buru. Karena aku rindu.


Rabb, aku rindu padaMu. Aku rindu saat hanya Engkau yang melihat air mataku lalu menghapusnya dengan ketenangan jiwa yang Engkau hadiahkan di sela-sela kekecewaanku.

Aku rindu. Dan, aku ingin terus disayang olehMu. Boleh?

Karena pada hakikatnya hanya Engkau yang memilikiku. Jangan biarkan aku jauh, Rabb. Aku takut dan aku mulai rindu. Sangat.

Escape

Every human being needs an escape to make him as a real human.


Because life, job, and routine sometimes do not run as our passion – and maybe never – we need escape to make our soul free from pressure and exhaustion.

For me, the simplest escape that can make my feelings much better is by writing. When the ideas bounce and try to explode from mind, it’s time to let the fingers work, write, and write. Let the passion heal and curve the smile.

And then, I feel like a human, not a zombie anymore. Healed.


Run, run, and run – through the rain and find the warmest shelter. It’s an escape.

Hari Tante

Jika di dunia ini ada Hari Ibu, maka aku merekomendasikan sebaiknya Hari Tante juga ada…

Karena Tuhan memang menganugerahkan manusia-manusia berhati malaikat untuk menjaga hamba-hambaNya yang mudah kalut. Terima kasih ya Tuhan telah memberikanku salah satunya; hingga aku senantiasa merasa nyaman, aman, berharga, dan tak berkekurangan.

Ya, dia itu tanteku; hatinya kuat diasah oleh puing-puing kesabaran dan ketegaran yang tak pernah surut. Satu sosok penuh cinta yang menjagaku dengan penuh cita, harapan, dan rasa percaya layaknya putri kecilnya sendiri yang selalu haus dukungan, kasih sayang, dan terkadang penuh ambisi dan pemberontakan.

Semoga Tuhan selalu mengangkat kesedihanmu, dan menjadikanku salah satu pengobat kesedihanmu. Karena engkau sudah menjadi ibu untukku – saat ini – yang dipertemukan oleh ruang dan waktu.

Terima kasih. Aku bersyukur dan bahagia telah menemukanmu dan dicintai olehmu – selalu.

Tentang Aku: Wanita

Wanita mencintai prianya dari ketiadaan, terus tumbuh dan tumbuh dengan tenang dan perlahan. Hingga menjadi ranum. Candu. Haru.

Jika kau tanya padaku apakah perasaanku masih sama seperti saat pertama dahulu; pasti jawabannya tidak. Tentu saja tidak. Aku belajar mencintai mulai dari bagaimana caranya membuka pintu hatiku sendiri, belajar percaya, dan pada akhirnya belajar untuk takut kehilangan. Hingga akhirnya hatiku sesak dipenuhi oleh satu sosok – kamu. Dan kadar cintaku meningkat drastis dari negatif membentuk titik ekuillibrium yang ajaib – kita.


Aku tak lagi mau berteori. Karena setelah kujalani segala sesuatunya – semua teori itu runtuh oleh perasaanku sendiri. Aku yang baru sadar mendapati diriku seorang pencemburu dan sangat membutuhkanmu. Bahkan hanya sekedar energi positifmu yang selalu merengkuhku dari jauh telah cukup membuatku bertahan, bangkit, dan mampu menembus segala dinding yang melingkupiku. Bagiku, sungguh, hal itu sudah lebih dari cukup.

Wanita mencintai prianya dengan diam-diam. Seperti aku yang diam-diam mengamati dan mengagumimu, dan membiarkan jemariku ketagihan berdansa riang seirama dengan lompatan impuls di kepala untuk selalu menulis kisah tentangmu, tentang kebahagiaan, dan tentang pedihnya kerinduan.


Because meeting you is a fate, making friend with you is an option, and falling in love with you – sorry, I have no control. It just happened and it’s really okay – even more :)

Saat Pulang

Salah satu hal yang membahagiakan di hari kerja adalah suasana saat pulang.

Aku selalu suka mengamati rona-rona bahagia orang-orang yang berjalan menuju ke arah yang sama, berlarian mengejar angkutan, dan saling menyapa hangat melambaikan tangan. Lalu aku biasanya duduk di bangku mikrolet paling sudut untuk membiarkan mataku tertutup sejenak, membolak-balik buku yang selalu menginap di dalam tas, atau melupakan macet yang meradang dengan mendengar suara mama dari telepon genggam. Lalu aku pun bercerita tentang rutinitasku hari ini, tentang kecewa, dan tentang harapan. Dan beliau selalu menanggapi dengan riang, dengan bijak tanpa pernah merasa bosan.

Suasana pulang memang istimewa karena aku selalu bisa menikmati senja – karya Tuhan yang selalu indah. Aku selalu tergila-gila dengan pemandangan langit jingga dari balik kaca yang samar-samar tertutup kepulan-kepulan asap berbau timbal atau tembakau dari knalpot dan mulut-mulut manusia, lalu aku pun terbius oleh khayalanku sendiri.

Saat pulang, aku belajar kehidupan. Ada pengamen cilik jalanan yang menyanyikan lagu yang sama setiap hari dengan suara sepotong-sepotong dari angkutan ke angkutan, lalu menengadahkan tangannya dan turun sambil mengeluh dengan gumaman yang sama. Ada pria penjual tissue dan masker yang sabar sekali menjajakan dagangannya. Dan juga ada cerita-cerita tentang hidup yang bisa kita lahap gratis setiap hari hanya dengan mendengar obrolan-obrolan dari penumpang yang duduk di samping ataupun dengan melihat wajah-wajah lelah dari para pekerja ibukota.

Ya, salah satu hal yang membahagiakan di hari kerja memang suasana saat pulang, melihat jarum jam tepat di angka dua belas mendorong jarum pendek berhimpitan dengan angka lima, mengantri di depan mesin absensi, dan menyambut kebebasan. Dan teruntuk akhir pekan, kebahagiaannya dua kali lipat! :)

January 2, 2011

Akhir

Karena pada dasarnya kita memang harus terbiasa pada yang berakhir. Percayalah, sebuah perpisahan pun pasti memiliki akhir.

Bukankah segala sesuatu yang berada di akhir itu baru terasa sangat luar biasa? Senikmat gigitan terakhir sepotong donat kentang, selezat tetesan terakhir segelas susu cokelat, dan sehangat suasana, langit, dan kalimat-kalimat terakhir yang terucap bersamamu menjelang petang.

Kita hanya harus terbiasa pada yang berakhir. Sebiasa kita mengakhiri hari Jumat dengan kurva terbuka ke atas di bibir, dan mengakhiri hari Minggu dengan kurva sebaliknya. Sebiasa kita mengakhiri tangis karena lelah, dan mengakhiri tawa karena perih di perut oleh kontraksi diafragma yang tak sewajarnya. Sebiasa kita mengakhiri musim hujan dengan menyapa matahari pagi yang mengintip di balik jendela, dan mengakhiri kemarau dengan berlari-lari di bawah awan mendung tanpa alas kaki. Dan sebiasa kita mengakhiri setiap detik dengan memandang jarum jam yang berdetak statis, dan mengakhiri novel yang selalu engkau peluk dan baca berulang-ulang sebelum terlelap.

Ya, terbiasa.

Tanpa akhir, kita tidak pernah tahu apa arti kehilangan dan dahsyatnya konsekuensi pertemuan. Yah, perpisahan.

Karena pada dasarnya kita memang harus terbiasa pada yang berakhir. Percayalah, sebuah perpisahan pun pasti memiliki akhir.

Kutipan Buku: Gelegar Otak

Saya menemukan buku yang bagus di perpustakaan DJPK, judulnya GELEGAR OTAK, karangan Tauhid Nur Azhar – seorang pendiri Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Buku ini menyajikan fakta-fakta menarik tentang otak dengan penyampaian yang unik dan sederhana, dan bagaimana menjadikan otak sebagai salah satu kunci kendali spiritualitas. Uhuy. Dari buku itu, saya kutip tiga fakta yang menurut saya paling menarik, hehehe, antara lain:





1. Mengapa wanita itu sangat rumit?

Hmmm, secara ilmiah, pria memiliki lebih banyak sinapsis di daerah lobus frontalisnya, sementara wanita memiliki lebih banyak selubung mielin. Apa implikasinya? Jumlah sinapsis menunjukkan adanya kecepatan transfer data biolistrik antarsel neuron di daerah frontalis seorang pria yang tinggi, sedangkan pada wanita distribusi data lebih merata dan proses insulasi atau pencegahan distorsi lebih sempurna. Sirkuit pengambilan keputusan antara pria dan wanita juga dipengaruhi oleh hormon reproduksi mereka masing-masing. Oleh karena itu, ada kecenderungan seorang wanita berpikir lebih lambat dan berdurasi lebih lama karena banyak variabel yang diolahnya,wanita juga menyukai detail, dan sering terbawa perasaan dalam pengambilan keputusan karena pengaruh hormon primer dan sekunder yang dikandungnya. Sementara pengambilan keputusan pria akan lebih kuat, cepat, dan bersemangat karena tingginya kadar androgenik dan minimnya selubung mielin di otak mereka. Gitu lho!


2. Mengapa wanita suka cokelat?

Cokelat mengandung feniletilamin dalam jumlah banyak. Banyaknya reseptor oksitosin dan feniletilamin pada otak wanita membuatnya ‘ membutuhkan’ banyak cokelat untuk menghadirkan sensasi kelembutan dan rasa mengasihi. Zat ini juga terdapat pada kismis, stroberi, kurma, dan penganan kecil lainnya yang disukai wanita. Juga ada tips, hindari mengajak makan ikan mas. Lho, ada apa dengan ikan mas? Pada otak ikan mas terdapat hormon skotofobin, yaitu hormon yang menimbulkan sensasi ketakutan. Jika dikonsumsi oleh manusia, akan membawa efek gelisah dan tidak tenang *ngek*.


3. Kenapa saya fobia kecoa?

T.T *huks* (untung nemu gambar kecoa yang lumayan, eeehm, lucu).

Ada dua hipotesis ajaib yang dapat mendekati kebenaran. Yang pertama, rasa takut pada kecoa adalah fobia massa dan diturunkan. Yang kedua, di dalam tubuh kita sudah terdapat GEN TAKUT KECOA. Terdapat semacam struktur dan system memori yang diwariskan dari satu generasi ke generasi ebrikutnya. Bisa dalam bentuk protein, bisa pula dalam bentuk sekumpulan gen yang aktif yang siap menyandikan atau mengekspresikan protein-protein ingatan khusus takut kecoa. Namun, kemungkinan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah adalah kemungkinan yang mengacu pada teori neurotransmitter dan proses belajar. Begitulah kira-kira *sigh*


Ada satu quote bagus yang saya dapat dari buku ini:

Ada dua kriteria orang bodoh, pertama adalah orang yang tidak pernah mengasah otaknya dan yang kedua, adalah orang yang tidak sadar bahwa potensi otaknya mampu mengubah dunia menjadi lebih baik!

*jleb jleb jleb* -____-

Sampah: Oh, No!

Kyaaaaa.

Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang hal ini, tapi keinginan saya langsung meluap-luap setelah melihat tumpukan sampah yang menggerogoti keindahan Kota Tua kemarin dan dilakukan dengan tanpa rasa bersalah oleh, ya kita-kita ini. Sebenarnya nggak perlu heran sih, pemandangan yang sama pasti selalu dijumpai di terminal-terminal saat pulang kantor, di dalam metro mini, di dalam got, di sepanjang kali, dan dimana-mana kayaknya *sigh*. Apalagi, selepas Tahun Baru, waaaah beberapa tempat langsung kotor dengan sampah-sampah plastik dan sisa-sisa terompet. Zzzzz.

Hmmm, sesekali sering pula kita jumpai botol-botol plastik sisa air mineral melayang dari balik kaca mobil dan *jedot* kena kepala orang. Aduh, mas-mas, mbok ya beli tempat sampah buat di mobilnya. Grrr. Atau anak-anak kecil yang buang sampah sisa makanannya di angkot dan itu dilakukan karena mereka memang disuruh sama sang ibu. Hmmm. Saya jadi langsung berhipotesa sepertinya perilaku buang sampah sembarangan itu memang dimulai dari pola pengasuhan, baru deh bergeser ke kesadaran pribadi!

Apa saya yang terlalu sok idealis ya? Tapi, emang nggak suka kan lihat sampah yang menumpuk di sisi-sisi jalan? Kalau jutaan penduduk Jakarta membuang selembar sampah di tempat yang sama, wah mungkin sudah bermeter-meter tingginya. Padahal sampah yang kita keluarkan setiap harinya tidak hanya selembar.

Penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur setiap 2 Hari dari tumpukan sampah. Dalam setahun, kita dapat membangun 185 buah Candi Borobudur. Wow… (Volume Candi Borobudur adalah 55.000 M³) *pingsan*

Sadar nggak, para pemulung ini juga sangat banyak jasanya, lho :(


Sayang sekali yaa, menurut saya perilaku buang sampah sembarangan itu berhubungan langsung dengan sikap cinta kebersihan, dengan kepedulian, dan dengan mental. Negara-negara terkotor di dunia selalu diduduki oleh negara-negara berkembang, dan kembali lagi ke masalah mental. Mental Negara berkembang? Hummm. Kesadaran moral kita masih sangat tipis, bahkan cuma buat menyayangi diri sendiri untuk hidup bersih :(

Sayang lho, fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun oleh Negara atau beberapa masyarakat tidak dijaga dengan baik, malah dipenuhi sampah atau grafiti yang dicorat-coret dan nggak indah sama sekali (kalau pingin bikin grafiti yang bagus sekalian dong! Hehe.). Mental untuk terus menuntut gini nih yang masih belum bisa berubah, tapi kalau dituntut untuk menjaga, melestarikan, dan nggak merusak kok sepertinya sulit sekali :(

Bagaimana kalau kita beralih melihat sampah ke sungai. Uhuk. Itu sungai ya? Pantas saja banjir lagi, banjir lagi T.T Ambil contoh yuk, Kali Ciliwung misalnya. Dulu, berkat Sungai Ciliwung yang bersih, kota Batavia pernah mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota-kota ternama di Eropa, seperti Venesia di Italia. Sekarang? Uhuk uhuk. Begitu juga dengan Sungai Citarum yang notabene menjadi sumber dari 80% kebutuhan air di Jakarta, kyaaaa, sudah dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia! *pingsan lagi*.


Kalau mau belajar dari Negara-negara maju seperti Singapura atau Negara-negara Eropa sepertinya masih terlalu jauh. Mental kita yang masih harus dibina. Toh, nggak ada gunanya juga sanksi dan peraturan kalau memang dibikin hanya untuk dilanggar. Yah, balik ke diri kita dulu saja, kalau punya sampah sisa permen atau makanan di jalan ya disimpan atau dipegang dulu, ketemu tempat sampah baru dibuang. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada menjadikan semua tempat adalah tempat sampah *huks*. Prinsip saya, nggak ada gunanya juga orang itu kaya, cerdas, cantik, ganteng, hebat, kalau nggak peduli sama lingkungan dan doyan buang sampah sembarangan.

Buat Pemerintah DKI Jakarta tolong dong dibanyakin tempat sampahnya terutama di area-area publik, dibanyakin taman-tamannya Pak, Bu, jangan mall doang (lho, ga nyambung, kalau ini keinginan pribadi :P), dan dibangun pelan-pelan mental kami ini ya Pak, Bu, supaya nggak terus-terusan kebanjiran dan nggak dirusak sama sampah. Semoga kita, anak-anak bangsa, bisa bikin teknologi pengolah sampah yang ramah lingkungan, dan setidaknya mampu membangun generasi yang benci lihat sampah numpuk di jalan. Okeee?

Hidup bersih itu enak lho. Mau kan? :)

*fakta-fakta dari post di atas dikutip dari sini dan sini.

Sabtu

Aku jatuh cinta pada hari Sabtu yang memanusiakanku.

Pada bangku taman yang mengobati lukaku.

Pada gerimis yang datang malu-malu membuyarkan sendu.

Dan pada obrolan ringan yang hangat dan membuatku selalu betah duduk di sampingmu.

Terima kasih karena kalian telah hadir mewarnai awal tahunku kali ini dengan sangat manis. Dan waktu, terima kasih untuk konspirasinya – seandainya saja engkau mau lebih bersabar dan tak terburu-buru.

Tapi cukuplah, aku bahagia. Pulih. Sangat pulih. Lebih dari cukup.

Janji yaa kalian akan hadir lagi pada hari Sabtu yang tak bisa ditentukan selanjutnya? Dan teruntuk sang waktu, dimohon kerjasamanya ^^ *cubit*

Random Mind: Takdir

Pernah nggak sih berpikir kalau apa yang kita inginkan dan kita lakukan saat ini semuanya dibatasi satu hal yang namanya TAKDIR?

Ya, pernah. Dan malah jadi sering akhir-akhir ini.

Kadang, rasanya terlalu banyak menuntut sama Allah, dan tidak bersyukur sama yang sudah diberikan saat ini.

Jika kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain mungkin memang tidak etis, sangat. Jangan selalu melihat ke atas, kadang-kadang saja, supaya nggak jalan di tempat dan memetik motivasi untuk modal pribadi. Lihat juga ke bawah, supaya bisa terus bersyukur dan bersyukur. Melihat ke samping juga perlu, berpegangan, supaya tak jatuh karena kalut atau takut.

Kita sampai di titik ini, entah kita inginkan atau tidak, rencanakan atau tidak, pasti karena sesuatu. Mungkin kita sedang disuruh belajar, atau dibimbing untuk melangkah menuju sesuatu yang pasti – yang tak pernah kita tahu. Hidup memang penuh kejutan, kan?

Karena indikator kebahagiaan untuk setiap orang juga beda-beda. Aku ingin kebahagiaan yang sederhana, hidup dengan sederhana tapi bermanfaat, penuh visi dan kepedulian. Aku ingin kebahagiaan yang sederhana – bisa bahagia dengan hanya sekedar duduk di samping orang yang aku cintai atau sekedar menikmati nasi panas bersama keluarga dengan sayur seadanya.

Karena hidup tidak selalu mau memberi dengan cuma-cuma. Terkadang kita harus ditempa dengan pengabaian, keteguhan, dan konsistensi agar bisa naik derajatnya. Agar hidup bisa tersenyum memberi apa yang kita impikan, bahkan lebih.

Sesekali sering berpikir bahwa dulu sepertinya aku kurang banyak belajarnya, atau seandainya dulu pola pengasuhanku seperti ini, itu… pasti… pasti… Hey, apa sih yang pasti?! Apa yang terjadi kemarin itu boleh dilihat, tapi jangan disesali. Lakukan apa yang ada di depanmu saat ini.

Dan sering bertanya-tanya pula, sepertinya tidak adil jika kita melihat bagaimana perjuangan dan impian kaum-kaum kecil yang hidup terpencil dan terpinggirkan untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi, tak ada kesempatan – tapi, di satu sisi, kaum-kaum borjuis dengan mudahnya menempatkan anak-anaknya di universitas-universitas favorit, kadang hanya untuk urusan gengsi.

Atau, apakah bisa hidup dengan melakukan pekerjaan yang kita cintai seperti Kugy dan Keenan di novel Perahu Kertas yang berani memilih passionnya sebagai profesi? Realistis nggak sih di kehidupan nyata? Kayaknya nggak semudah itu.

Terlalu banyak pertanyaan ya? Terlalu banyak protes ya? Huhu. Baiklah, aku akan mengawali tahun ini dengan senyum, dengan mengetahui apa yang kuinginkan, dan dengan yakin, usaha semampunya, memotivasi diri, dan mengajak semesta berkonspirasi dengan pikiran-pikiran positif. Ibadah, makan yang enak, dan tidur yang nyenyak. Dan, plop!

Tak perlu ada pertanyaan lagi :). Allah sayang banget sama kita, dan tahu apa yang kita butuhkan. Semua tepat pada waktunya.

Kalau masih galau, tepuk-tepuk dada saja. Berbahagia dong hari ini, kalau nggak hari ini, kapan lagi? :D Hehe.

Hmmm, back to basic, pernah nggak sih berpikir kalau apa yang kita inginkan dan kita lakukan saat ini semuanya dibatasi satu hal yang namanya TAKDIR?

Ya, pernah. Dan malah jadi sering akhir-akhir ini. Tapi, sebagai manusia kita hanya disuruh berusaha dan berdoa; kesempatan, rezeki, dan jodoh (oops :P) itu semua hak Allah.

Plop! Bahagia dong :D. Kalau nggak hari ini, kapan lagi? Yay!

*Sorry for my disturbing random mind, hihi*

Bubbly Pict, Cheesy Scene :)

This is the best touching romantic picture that I’ve ever seen!


That’s what we call as everlasting love! :D


Maybe, if it’s illustrated in scene – it refers to one of my favorite scene in Love Actually!



It’s dangerously sweet, ever!

What if?

What and If are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if? (Letters to Juliet).


Ya, seandainya.


Kenyataannya, jatuh cinta memang tak semudah itu. Terkadang, engkau harus menggadaikan perasaanmu sendiri demi kenyamanan, opini, dan kebahagiaan orang lain. Sedih? Ya.


Hum, seandainya.


Kenyataannya, hidup, cinta, dan perjuangan memang tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Tapi, hidup dengan bebas – dalam arti dengan yang kita yakini saat ini, bukan yang orang lain yakini – adalah yang kita impikan, dan harganya memang sangat mahal. Sedih? Tidak.


Kenapa?


Karena aku sudah memilih berhenti menyebut kata ‘seandainya’ dan mulai berbahagia saat ini.


Bahagia? Ya!


Hey, life. Thank you for everything. Wanna proof that I’m happy? Let me give my smile, double! :))

(Not Special) New Year's Eve Story

31 Desember 2010

Aku menjalaninya dengan biasa-biasa saja – selalu – bahkan di akhir tahun ini aku sering mendadak lupa kalau besoknya sudah tahun baru. Yang ada di pikiranku malah, hey, ini hari terakhirku magang di subdit PDRD I – aku rela diberdayakan dan melakukan apapun saat itu. Semua tugas evaluasi raperda selesai, ngirim dokumen-dokumen ke daerah-daerah selesai, dan tugas bikin ketawa plus jadi objek penderita di ruangan juga selesai. Wekeke. Yah, akan sangat merindukan masa-masa itu, keluarga baru itu, dan matriks-matriks yang hampir bikin meleleh setiap hari. Aku sangat mau kok kalau pada akhirnya ditempatkan di situ, mau banget malah. Asalkan – ehhhmm – kalau boleh milih nih, kepala seksi yang jadi atasan langsungku yang ‘itu’ yah (censored). Hehehe *pake nawar* *cubit diri sendiri*

Aku memang menjalaninya dengan biasa-biasa saja. Dengan lompatan kaki yang sama di waktu pulang, dan memilih naik transjakarta karena satu alasan – nggak punya uang kecil buat ongkos *ngek*. Kalau naik angkot dengan uang gede gini, bisa diomelin, huhu, dan warung yang aku hampiri untuk sekedar beli sesuatu demi dapat recehan juga beralasan tidak punya kembalian. Ya udah deh, hehe, setidaknya di dalam bus gandeng ini bisa tidur nyenyak (kalau dapat tempat duduk). Ternyata tidur selama perjalanan itu sangat bermanfaat buat menghadapi macet yang bikin stress karena angkot yang aku tumpangi tertahan hampir 45 menit di depan PGC. Grrrr. Syukurlah, akhirnya mendarat dengan selamat (dan lapar) di rumah hampir pukul 20.00 WIB.

Akhir tahun memang biasa-biasa saja. Agak sedih sih harus mengakhiri tahun 2010 yang penuh memori manis. Tahun saat aku lulus dari STAN, penempatan di DJPK, dan menemukan puzzle jiwa yang selama ini kosong. Aku tidak terlalu antusias dengan pesta kembang api, barbeque party, terompet, konser akhir tahun, atau apapun. Kata Abah, lebih baik akhir tahun itu diisi dengan ibadah dan merencanakan resolusi pribadi. Iya bener, dan diisi dengan tidur yang pulas juga penting menurutku. Hehe.

Happy New Year everyone! :D
Bless and happiness all around. Yay :D