November 14, 2011

Kutipan Novel: The Einstein Girl

Zurich, 18 Oktober

Elizabeth tersayang,

Di sini, di dalam bungkusan ini, terdapat naskah sebuah buku yang kuselesaikan sehari setelah kau datang untuk mengucapkan selamat tinggal.

Aku menyebutnya buku meskipun sebenarnya itu belum berbentuk buku. Hanya setumpuk kertas, tidak dicetak, dan bahkan tidak berjudul. Hal-hal itu tak akan berubah saat aku masih hidup. Aku tidak berani menghubungi penerbit karena alasan yang akan jelas bagimu jika kau suda tamat membacanya. Tapi aku tetap menyebutnya bukuku, bukan tanpa alasan, karena momen saat buku menjadi sebuah buku sulit diramalkan, seperti momen saat serangkaian nada menjadi melodi. Butuh pemikiran untuk menyadari tokohnya, seperti halnya butuh pemikiran untuk mencerna sebuah melodi.

Namun, aku memintamu membawanya saat kau pergi. Berdasarkan pengalamanku, aku tahu betapa panjang perjalanan yang akan kaulalui dan kuharap cerita ini akan berguna, setidaknya untuk mengalihkan perhatianmu dari suara berisik roda-roda, pengapnya udara, dan gangguan kecil yang membosankan selama perjalanan. Aku berharap dapat menyusutkan jarak dan waktu sehingga kita bisa lebih dekat satu sama lain.

Aku juga berharap bukuku akan membantumu mempersiapkan misi yang menantimu di Berlin. Ada sesuatu dalam ceritaku yang mungkin seharusnya kukatakan sendiri kepadamu. Namun, aku mendapati bahwa dengan fiksi, seseorang dapat lebih bebas mengatakan kebenaran. Mungkin karena di dalam fiksi, kebenaran bukanlah hal yang diperlukan atau diharapkan. Kau bisa menyamarkannya dengan mudah, jadi kau hanya akan mengenalinya nanti, saat cerita dan para tokohnya telah lenyap dalam kegelapan.

Aku punya satu harapan lagi yang mungkin sangat egois, setelah kau selesai membacanya, carikanlah judul yang tepat untuk buku ini. Jika soal ini tak terselesaikan maka sebuah judul akan dipilihkan orang setelah aku mati. Dan aku sungguh membenci hal itu walaupun dalam kematian aku tidak bisa membenci apa pun.

Namun, itu nanti saja saat perjalananmu berakhir. Saat ini biarlah buku ini tetap tak bernama karena mungkin itulah jalan yang paling aman.


*salah satu bagian terindah dari buku The Einstein Girl karya Philip Sington. Mengenang setahun yang lalu: buku kedua dari kamu :)

November 10, 2011

Patahan #24

“Learning to trust is not easy until you've finally reached step that you let him be the first and only one getting to know your problems and dreams” - trust. Patahan keduapuluhempat.

Patahan #23

“Jika jalan atau tujuan yang ingin kau tempuh terasa sulit, jangan mengeluh. Undanglah pintu kemudahan itu dengan bersedekah” - sedekah. Patahan keduapuluhtiga.

Patahan #22

“Beberapa orang dewasa hanya ingin didengar, tapi tidak punya kemampuan dan kemauan untuk mendengar” - please, listen to me. Patahan keduapuluhdua.

November 9, 2011

Bebeknya Udah Dua :)

Postingan yang sedikit terlambat, hehe.

Jadi happy birthday to me, happy birthday to me :D

Ulang tahun bukan lagi moment yang spesial layaknya beberapa tahun yang lalu. Yang ada adalah realita bahwa saya sudah punya dua bebek alias sudah berusia dua puluh dua, dan berarti sudah harus memperbaiki kualitas pendewasaan diri. Bertambah usia, bertambah tanggung jawab, bertambah harapan, bertambah ilmu, bertambah amal, bertambah syukur, bertambah karya, tapi juga harus bertambah muda dan bahagia :D haha.


7 November 2011 – rasanya tanggal itu seperti memancarkan aura tersendiri. Saya merasa berseri-seri sepanjang hari, pergi ke kantor dengan mengenakan warna favorit, dan berangkat lebih pagi. Dihujani doa dan harapan itu rasanya luar biasa, juga mendengar suara mama dan abah dari telpon yang lebih renyah dari biasanya, dan sadar bahwa ada banyak orang-orang yang sayang – waaaah terharu dan mewek bombay deh hukssss. Terima kasih buat doa-doanya yang indah, juga doa-doa random seperti semoga cepat nikah, semoga langgeng, semoga segera dapat momongan (yaelah), dan semoga bisa ke London – aaaah harus diaminin banyak-banyak :D

Dan kado yang paling mengejutkan adalah pacar saya yang ada di depan pintu rumah pada tengah malam dan menjadi orang pertama yang mengucapkan selama ulang tahun setelah sukses berkonspirasi nyuekin dan bikin saya sedih selama seminggu. Aaaah, nangis dong sayaaa :D :D :D

Tapi kalau ditanya hadiah apa yang paling kamu idam-idamkan untuk hidupmu? Saya sempat ingin menjawabnya dengan dua hal: pilihan dan kesempatan. Tapi kini saya sadar, bahwa pilihan dan kesempatan itu tidak ditunggu, bukan hadiah, tapi diciptakan juga diperjuangkan.

Jadi selamat datang bebek yang kedua. Baik-baik yaa kamu :)

Sepercik Kisah dari Jalanan #4: WIA

Aku menyebut waktu pulang sebagai WIA atau Waktu Indonesia Bagian Aku. Aku menikmati dunia sendiri – di dalam mikrolet, dengan blackberry di tangan, timeline twitter yang semakin ramai menjelang petang, dan rasa kantuk yang terlalu cepat datang yang membuat aku terbiasa tidur sepanjang perjalanan.

Dan di saat itu pula, pikiranku pun berputar-putar lebih aktif. Mempertanyakan itu dan ini. Mengajukan banding pada rasa bersalah – pada waktu dan perhatian yang menipis untuk orang-orang terdekatku, perasaan takut ditinggalkan, atau takut kehilangan. Berpikir bahwa aku menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam sehari dengan rekan-rekan kerjaku. Bandingkan dengan waktu untuk menyapa Tuhanku atau orang-orang tercinta yang semakin aus karena diperdaya lelah atau marah?

Baiklah, mungkin rasa bersalah ini akan semakin merajalela jika aku masih berteman dengan perfeksionisme dan ketika telah menikah atau menjadi ibu. Ya ya ya.

Juga tentang hidup mengapa begini dan begitu. Saat beberapa orang kesulitan untuk menentukan pilihan, di saat yang lain ada orang-orang yang dengan mudah mencapai hal-hal yang mereka inginkan. Ada yang harus bangkit dari kemiskinan, dan ada pula yang tidak harus bersusah payah. Kata seseorang, kondisiku yang penuh pertanyaan seperti ini adalah karena mentalku baru bertumbuh – sedang banyak maunya, tidak suka dilarang, benci kata ‘jangan’ untuk hal-hal yang sudah dipikirkan matang-matang, lalu ngotot untuk bilang ‘ini faseku, dulu Anda juga begitu’. Mungkin ini pertumbuhan yang terlambat, jatuh cinta di usia yang terlambat, atau menyukai hal-hal secara terlambat lalu hingar bingar ingin punya banyak pencapaian yang terburu-buru.

Entahlah.

Dan, di sela-sela pikiranku yang semakin tak tentu, seorang pria tua jatuh dari sepedanya dengan karung-karung yang robek dan beras bertebaran di jalanan.

Astaghfirullah. Kasihan sekali. Aku seperti ditegur Tuhan dengan sopan.

“Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban”

Bersabarlah – Tuhan akan menjawab doamu pelan-pelan. Karena Dia sayang. Dia menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

November 8, 2011

Patahan #21

Ada saat-saat dimana kau tidak mengerti yang terjadi. Berpikir bahwa ini bukan yang kau mau – bahwa mimpimu beberapa tahun yang lalu tak pernah sampai di titik ini.

Ada saat-saat dimana lebih baik tutup mulut – dan berpura-pura untuk tak tahu menahu lalu lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Dunia pukul tujuh pagi sampai lima sore bukan untuk tertawa atau mencari teman, tuan nyonya. Di sini kita bercocok tanam dengan tenaga sebisanya atau hama yang berseliweran tapi kita harus tetap baik-baik saja.

Ada saat-saat dimana sistem, juga dia, atau mereka yang mengendalikanmu pelan-pelan. Lagipula kau siapa? Manusia dari lingkar luar yang kini bergabung menjadi satu partikel kecil dan ikut berputar-putar di dalam orbitnya bukan?

Ada saat-saat dimana tanda tanya lompat kesana kemari tiada henti – lalu dibalas dengan tanda seru yang lebih kuat lagi menyeringai spasi-spasi.

Lagipula kau siapa?

November 7, 2011

Patahan #20

Me: "Sejauh ini. Masih banyak hal-hal yang belum bisa bersepakat dengan hati".

Friend: "Bukan belum. Tapi memang jangan disepakati".

Me: "Kenapa?"

Friend: "Karena itu salah".

- karena ini adalah titik pada apa yang dulu kujunjung tinggi-tinggi menjadi abu-abu. Patahan keduapuluh.

Patahan #19

“Bahwa pada hal-hal yang mereka sebut sederhana, padaku itu menjadi luar biasa” - simple wow. Patahan kesembilanbelas.

November 4, 2011

#6 Self Note: PR Sekolah Dasar

Pertama-tama terima kasih buat Dania Lukitasari yang sudah ngasih PR Sekolah Dasar ini dan mengingatkan saya agar harus buru-buru dikerjain hehe. Terima kasih yaaa, sangat ampuh memaksa diri untuk menulis lagi setelah hampir 3 minggu vakum posting hedeeeh.

Masa SD adalah masa yang kenangannya cukup banyak – salah satu yang paling indah juga :D Saya sekolah di SD Muhammadiyah 01 Medan yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah. Karena sekolah di SD Islam, sehingga wajib mengenakan jilbab setiap hari, tapi peraturan seragam buat wanitanya masih sama kayak SD lain, alias masih pake seragam yang roknya selutut, jadi tetep aja yaa belum menutup aurat dengan baik, wekeke.


Masa SD adalah masa-masanya belajar, dan dari kecil udah dipasangin target harus jadi juara umum dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Saat itu, kalau jadi juara umum dapat hadiah piagam, uang saku, dan beasiswa selama setahun. Lumayan banget :D Akhirnya, di kelas 2 SD saya udah harus pake kacamata yang minusnya dua, huksss sedih banget soalnya saya takut diejek karena keliatan cupu banget ditambah rambut saya yang keriting-keriting ga jelas – hedeeeh mirip Betty La Fea haha. Saya jadi benci banget sama penjual sate padang yang mangkal depan rumah karena pandangannya seperti mentertawakan saya kalau sedang pakai kacamata. Alhasil, kalau lewat di depan dia, saya buru-buru lepas kacamata dan jalan cepat-cepat. Aaah, padahal hanya perasaan saya saja kali yaa. Dan karena ga disiplin, di kelas 4 SD minus saya melonjak jadi lima. Huaaa, kaget – sejak saat itu saya pun jadi fobia sama dokter mata.

*tahu dong saya yang mana ahaha*

Kalau ingat zaman SD, kayaknya saya anak manis dan teratur banget wekeke. Tiap pergi dan pulang, dianter jemput sama mama, dan sampai di rumah langsung dicheck satu-satu buku catatannya dan dijadwal hari ini mau belajar apa dan ngerjain tugas apa aja. Setelah pulang, saya ikutan mengaji di sekolah sampai sore, malemnya belajar, baca buku, dan hari Sabtu ikutan les berenang trus hari Minggunya les melukis. Setiap hari penuh kegiatan yang menyenangkan :D Waduh terjadwal banget ga kayak sekarang huksss. Dan kayaknya sejak SD udah jadi anak rumahan, ga boleh main di luar (efeknya udah gede ga bisa naik sepeda dan hobi jalan-jalan hoho), temen sepermainan saya satu-satunya adalah Novi Rinanda – teman sejak bayi yang lahirnya pun hanya beda satu hari dari saya wekeke. Biasanya kita gantian main di rumah, belajar bareng, ngaji bareng, makan eskrim bareng, dan kalau ke rumahnya saya paling seneeeeng main Barbie (karena ga punya hehe), main masak-masakan, atau dokter-dokteran. Berduaaa selalu, makanya saya sedih kalau dia punya temen main baru, sayanya ngambek deh hehe.

Dari kecil saya suka banget pelajaran matematika. Abah rajin banget beli buku latihan hitung-hitungan sejak saya bisa kenal buku, dan tiap malem diajarin tambah dan kurang pakai tusuk gigi. Dan karena abah kerjaannya di bidang elektronik, dari kecil saya udah diajarin membaca warna resistor. Seruuuu soalnya kayak main tebak-tebakan. Tapi sekarang kok udah lupa yaa caranya hedeeeh. Salut banget sama abah dan mama yang konsisten banget ngajarin saya waktu itu huksss terharu. Nah, karena saya suka banget matematika, saya sempet bikin target di kelas 6 kalau nilai di rapor saya harus 100. Jiaaah, ngawur. Hmmm, saya inget banget tuh pernah dapet nilai merah sekali waktu latihan soal di kelas dua karena saya ga ngerti cara manual loncat-loncat perkalian di garis bilangan. Waaaah, nangis dong. Alhasil, tuh soal saya kerjain ulang dan saya kasih nilai sendiri biar ga dimarahin mama. Beberapa hari kemudian, waktu saya ikut belanja ke pasar, eh ketemu temen sekelas saya dan dia bilang ke mama – kamu kemarin dapet nilai jelek kan ya??? Aaaah, langsung deh saya ngeloyor pergi – syukur aja kayaknya mama ga ngeh. Huaaa, dari kecil sayanya udah bakat perfeksionis begitu ternyata :’’’(

Ternyata ada benernya juga yaa, mengingat masa kecil itu perlu, masa penuh ambisi, masa penuh mimpi, masa seneng-senengnya ikut lomba dan dapat piala, masa giat-giatnya belajar dan menghapal (dulu saya hapal nama ibukota Negara seluruh dunia plus lokasinya di peta, sekarang butaaaa T___T), masa jaya-jayanya deh yaaa, maluuu kalau dibandingkan sama yang sekarang. Mana-mana semangatnyaaa? :|

Flashbacknya kebanyakan yaa? Kalau udah nulis dan ada hubungannya sama kenangan yang nempel banget, saya susah berhentinya hedeeeh. Hehe. Sekarang langsung deh kerjain peernya yaa :D

Guru Favorit


Guru Favorit saya adalah semua wali kelas saya hehe – soalnya tiap hari ketemu mereka dan udah kayak pengganti ibu dan ayah di sekolah. Tapi, di antara semuanya – kenangan paling kuat adalah kenangan saya bersama Pak Mahdi (dan sampai saat ini beliau masih mengajar). Saat itu, beliau jadi guru waktu saya kelas 5 SD. Yang saya paling inget adalah beliau menemani dan membimbing saya selama liburan panjang saat saya harus ikut lomba siswa teladan. Waaah, kalau nggak ada beliau saya mungkin udah nangis tiap hari – saat yang lain libur, saya harus belajar, nulis essay berulang-ulang, belajar melukis buat uji bakat, belajar rangkaian listrik, belajar teori-teori sains, menghapal sejarah, budaya dunia, sampai bikin eksperimen buat presentasi IPA. Sabaaaar banget, nemenin saya lomba juga sampai akhirnya bisa dapet juara dua. Terima kasih bapak :’’’’)

Guru Killer

Waduh, yang saya inget guru SD saya semuanya baik-baik sekali. Mungkin, saya menganggap guru yang satu ini killer, karena saya bodoooh banget di mata pelajaran beliau. Beliau adalah Bu Boyinah – guru olahraga saya dan mengajar saya olahraga selama 6 tahun dong. Tapi sayanya tetep ga bisa apa-apa, kecuali SKJ dan lari jarak pendek ahaha. Main kasti juga ga ngerti, basket takut kena bola, jadinya saya sering dimarahin beliau hehe. Trus biasanya ada pemeriksaan kebersihan kuku dan isi tas juga yang dipimpin beliau – takut deh semuanya. Tapi, sampai sekarang, beliau adalah guru yang masih paling ingat sama saya dan sering nanyain kabar saya kalau ketemu sama mama dan adek. Jadi kangen :’’’) Makasih ya buuu *hugs*

Teman Bolos

Kyaaa, ga pernah bolos waktu SD hehe. Kalau bolos mungkin nggak – tapi keluyuran di jam istirahat mungkin iya hehe kayak diajak mampir ke rumah teman yang dekat dengan sekolah. Alhasil, dimarahin deh karena telat masuk kelas dan pintu gerbangnya udah dikunci. Nangis-nangis dong saya ahaha.

Teman Berantem

Hmmm, kalau berantem waktu kecil mungkin istilahnya di kota saya itu ‘eskete’ kali yaa ahaha. Tapi biasanya satu hari kemudian udah baikan, karena kami ingat pesan guru kalau orang muslim ga boleh tidak bicara lebih dari tiga hari atau kitanya langsung surat-suratan atau sayanya cerita ke mama, dan kita baikan lagi deh alias saling melingkarkan kelingking satu sama lain. Lucu deh hehe, biasanya karena saya cemburu sama teman sebaya satu-satunya saya itu si Novi Rinanda – masalahnya sepele, karena saya ga diajak main atau dianya cuekin saya. Hehehe.

Jajanan Makanan/Minuman Favorit

Dulu nggak boleh jajan di sekolah :( Kalau dikasih uang jajan biasanya harus ditabung dan dicatat di buku khusus jadi saya dan mama tahu udah punya tabungan berapa (akuntansi banget hehe). Biasanya saya sering dibawakan bekal sama mama entah roti atau biskuit, tapi kadang suka diem-diem beli cemilan kayak anak mas atau jelly-jelly warna warni gitu sih hehe. Saya juga pernah jualan kertas files (waktu itu lagi trend) dan saya maksain temen-temen saya beli (sampai dicubit sama wali kelas karena saya berisik di kelas) hehe – trus duitnya saya buat jajan Coca Cola yang kalengan haha. Ada-ada aja.

Jajanan Mainan Favorit

Saya suka banget main rumah-rumahan, jadi hampir tiap bulan saya beli koleksi barunya – entah edisi dapur, teras, ruang makan, sampai lengkap dan sekarang pun masih ada di rumah! Kata mama, jangan dikasih ke siapa-siapa, ini warisan untuk anak saya nanti haha :D

Tas Favorit

Tas favorit saya adalah tas Mickey Mouse hadiah dari Tante Mima yang awet saya pake sampai SMA hahaha. Waktu kecil saya dididik ga beli peralatan sekolah baru kalau tahun ajaran baru, jadinya saya sayaaaang banget sama tas ini – gede, cantik dan isinya banyak hehe.

Sekian deh PRnya, udah lama banget kayaknya ga ngerjain PR dengan senang hati kayak gini plus dapet bonus senyum dan semangat baru – juga inspirasi saya harus rajin membaca kayak waktu SD dulu. Hehe. Yak, selanjutnya PR ini akan saya tugaskan kepada:

1. Auuu ^^
2. Firman Fulcrum
3. Fiqah Faradhiba
4. Naya Tanaya
5. Mbak Dee

Memang agak random pemilihan orangnya, hehe, dikerjakan yaa PRnya dan mari sebarkan virus semangat ini :D Semoga dengan sedikit melihat ke belakang bisa membuat kita terpacu untuk semakin bersemangat menghadapi hari-hari dan tetap menjadi ‘layaknya bocah’ yang riang dan suka bermimpi :D

Tidak sabar membaca PR kalian :D Salam persahabatan virtual hehe!