December 30, 2011

Patahan #32

"Walking in those shoes - it feels like I'm walking with you. Seriously" - shoes. Patahan ketigapuluhdua.

The Great Pacific Garbage Patch

Jadi postingan ini sebenarnya terinspirasi dari cuplikan detik tv yang judulnya Puluhan Ton Sampah Penuhi Kali Ciliwung. Setelah itu saya lanjut searching artikel-artikel tentang bagaimana pengolahan sampah di Jakarta, kenapa TPA yang dipilih adalah di daerah Bantar Gebang, sampai sungai-sungai terkotor di dunia huksss – eh malah nyasar nemu istilah di atas.

Nah dari hasil googling berbagai sumber, informasi yang saya dapat adalah keberadaan The Great Pacific Garbage Patch ini memang sudah diperkirakan sejak tahun 1988. Belum ada masyarakat yang menyadari sampai akhirnya Charles Moore - seorang pelayar dan oseanografer menemukan zona ini pada tahun 1997, saat ia sedang berlayar pulang setelah mengikuti lomba layar Los Angeles-Hawaii. Zona timbunan sampah yang sebagian besar terdiri dari materi plastik tersebut terapung-apung sedikit di bawah permukaan laut sehingga tidak terdeteksi oleh kamera udara maupun citra satelit.

*The Great Pacifik Garbage Patch dilihat dari luar angkasa*

Kebanyakan plastik adalah polyethylene atau polypropylene yang lebih ringan berat jenisnya dibanding air laut sehingga terapung dekat dengan permukaan air. Namun, jenis plastik lain yang lebih berat mungkin juga telah tenggelam ke dasar laut dan tidak dijumpai.

* Wow!*

* Lokasi The Great Pacifik Garbage Patch*

Zona timbunan sampah ini seperti yang terlihat pada gambar luasnya dua kali dari ukuran Texas – yang notabene Negara bagian terbesar kedua di Amerika Serikat dengan luas kira-kira 696.200 km persegi. Wew! Zona sampah tersebut disebabkan oleh adanya sirkulasi arus Gyre Pasifik Utara yang menjebak sampah di areal besar utara khatulistiwa.

*Arus Gyre Pasifik Utara yang menjebak sampah*

Selain zona sampah di kawasan Samudera Pasifik tersebut, ternyata kondisi yang sama juga terlihat di kawasan Samudera Atlantik dan volumenya lebih besar daripada benua sampah yang ada di Pasifik tadi. Huksss.

* Lokasi Atlantic Garbage Patch*

Kenyataannya, memang hanya 5% dari volume sampah setiap harinya yang dibuang dan dikelola secara tepat. Dan sisanya dibiarkan tersebar begitu saja ke alam. Kasihan sekali makhluk-makhluk penghuni laut yang disana :’(


Plastik-plastik yang terbuang ke laut ini tidak seperti materi organik yang bisa mengurai, tetapi akan pecah menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil dan masih mengandung unsur polymer. Organisme-organisme laut akan memakan serpihan ini dan terjadilah proses rantai makanan – hingga pada akhirnya materi itu kembali ke makanan kita!

What on earth! :’(

*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

Patahan #31

“One of deepest regret is when you realize that there’s a lot of wasted time. And you let it be” – time is killing. Patahan ketigapuluhsatu.

Patahan #30

“Daripada menundukkan wajahku, aku lebih memilih menegakkan kepalaku dan menatap lurus ke depan” – sikap. Patahan ketigapuluh.

#10 Self Note: Kemampuan Motorik

“Kekuatan motorik orang dewasa mencapai puncak kekuatannya antara usia20-an dan 30-an tahun. Kecepatan respon maksimal terdapat antara usia 20 dan 25 tahun kemudian kemampuan ini sedikit demi sedikit akan menurun”

Tiba-tiba tertarik sama statement di atas. Mungkin sebenarnya yang bikin tertarik adalah ada angka 20-an nya ahaha.

Pastinya semakin dewasa, perkembangan motorik kita tidak akan sama seperti pada masa kanak-kanak yang jauh lebih aktif bergerak, belajar, menulis, atau bermain.

Apalagi yang notabene kerjanya di kantor, lebih banyak duduk, depan monitor – kecuali kemampuan untuk menggerakkan scroll mouse (efek positif browsing dan blogwalking ahaha) dan mengetik cepat dengan 10 jari :p – kemampuan motorik lainnya mulai terdepresiasi pelan-pelan. Contohnya saya nih, sebut saja kemampuan menulis. Karena memang sudah jarang menulis, tulisan tangan saya sudah tidak serapi dulu lagi huksss, dan rasanya susaaah gitu. Atau kemampuan main game. Yayaya, entah kapan yaa saya terakhir kali main game yang beneran butuh banyak koordinasi tangan dan otak, SMA kali yaa waktu masih sempet-sempetnya bisa main Play Station. Aihhh, sekarang nyobain main Mario Bros di laptop aja jatuh di lubang melulu huhuhu. Atau kemampuan melukis. Kayaknya gambar saya ga sebagus dulu deh – bikin pola aja susah simetrisnyaaa zzz.

Nah nah karena itu, kembali melatih hal-hal sederhana di sela-sela aktivitas menurut saya sangat penting. Itulah kenapa ada hari libur, agar kita bisa kembali menjadi manusia normal – dan melakukan hal-hal di luar rutinitas. Terlebih, sebelum kita jadi canggung melakukannya dan jadi lupa haduuuh sedihnya. Yang hobi olahraga sempatkan olahraga, yang hobi main musik, melukis, berenang, menari, coba lakukan lagi – iseng-iseng melatih kemampuan motorik dan menyehatkan otak juga lho!



*bisa latihan doodling-doodling begini :D*

Serius lho, saya mulai sering kangen menulis dengan tangan – setidaknya dimulai dengan punya agenda yang rapi, atau iseng-iseng doodling, bikin gambar-gambar lucu di waktu luang, atau latihan merajut, melipat kertas origami, menghias kue-kue kering, lari-lari di alam – aaah menyenangkan sekali bukan? :)

December 29, 2011

Patahan #29 - Closing Entries

“How can I love when I'm afraid to fall” -Christina Perri - A Thousand Years.

“My eyes will do the same, if you walk away. Everyday, it'll rain, rain, rain” -Bruno Mars – It Will Rain.

“You're giving up so easily, I thought you loved me more than this” -Adele – Take It All.

December 27, 2011

#9 Self Note

“Karena kata-kata adalah doa”

Memang perlu untuk membiasakan diri mengucap kalimat yang baik-baik, seperti sugesti positif atas apa yang akan terjadi untuk hari ini, esok, atau masa yang tak dapat ditentukan – karena kalimat yang baik adalah harapan, dan harapan adalah doa. Dan cepat atau lambat bisa saja hal yang pernah kita lontarkan itu terkabul – pada saat yang paling tepat dan bahkan tidak disadari sama sekali.

Seorang sahabat di kantor pernah berkata begini – ibundanya pernah bilang bahwa akan ada satu hari dalam setiap bulan dimana hal-hal yang kita ucapkan itu akan dikabulkan. Kebenarannya hanya ada pada Allah tapi yang saya kutip disini adalah dengan berbicara yang baik-baik akan didekatkan pada yang baik-baik pula. Karena Allah adalah seperti apa yang kita prasangkakan kepada-Nya. Berprasangka baik pada apa yang akan jadi ketentuan dariNya, keberkahan adalah ganjarannya.

Mungkin kita pernah ingat bahwa kita pernah berucap entah sengaja atau tidak, serius atau bercanda, “Saya ingin kesana beberapa tahun lagi” atau “Saya ingin kerja di tempat yang kayak gitu lho” atau “ah ga mungkin” atau “Nanti aja kalau udah punya waktu” atau “Gue nikahnya masih lama” dan atau-atau-atau yang lain. Kalau dipilah-pilah, kadang saya baru sadar bahwa yang terjadi sekarang pernah saya ungkapkan dulu, lama sekali. Mungkin seperti teorinya The Secret – bahwa alam semesta berkonspirasi. Salah satunya dengan itu – dengan berkata-kata baik atas perihal apa yang kita inginkan – dengan izin Allah pastinya. Kalaupun memang ternyata tidak, mungkin Allah mengubahnya dalam kemasan yang berbeda untuk kita mau belajar sabar dan usaha.

Menurutku, bisa dimulai dengan terbiasa membuka pintu positif setiap pagi lalu berucap, "Semoga hari ini penuh kebaikan untukku dan untukmu. Amin"

:)

Jatuh

Bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh. Sudah kubilang untuk berhati-hati. Jangan berani dekat-dekat sebelum kau tak cukup kuat. Seharusnya kau tak memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan – hingga tak melihat ada lubang besar tepat di persimpangan.

Bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh. Pada suatu titik – menjadi lupa dengan yang seharusnya kau capai atau kau gapai.Menjadi lunglai karena candu atau rotasi akal yang secara tidak wajar hanya berputar di satu sumbu. Seperti hilang arah, mempertanyakan salah, jalan terus atau menyerah.

Seharusnya kau tak selemah itu. Seharusnya kau memperbaiki gagang kacamatamu – sebelum melangkah satu-satu. Bisa saja jalan yang di hadapanmu itu jalan buntu. Sayangnya hatimu sudah dicuri, sayang. Kenapa tak kau simpan kuncimu di tempat yang lebih aman? Agar kau aman. Agar kau aman.

Kini apa yang kau dapat selain penyesalan? Bayangan indah itu tidak lagi menakjubkan saat kau merasakan jatuhmu sendirian. Pada suatu spasi – seharusnya kau diajak bangkit lalu berjalan beriringan pada ruas-ruas yang dibatasi antara pertemuan dan perpisahan. Tapi kau hanya dipandangi dari jauh – mungkin puas karena kehancuranmu atau kecewa karena kenyataan bahwa kau tak seindah yang ada dalam angan. Atau kau diajak berdampingan hingga pada suatu lorong berbatu – tertatih – lalu ditinggalkan.

Kau ini bukan hanya seonggok air mata. Kau ini mahkluk Tuhan bukan? Anak dari dua orang manusia yang penuh kehormatan bukan? Maka bangkitlah – berlindunglah dari perasaan-perasaan ketakutan. Sudah jauh sekali. Sudah jauh sekali.

Teriaklah dengan lantang – bahwa awal dari kehancuranmu dimulai saat kau membiarkan dirimu jatuh – itu mereka, bukan kau. Maka buktikan.


*sebuah analogi skeptis tentang jatuh: kau pasti tahu – jatuh apa yang kumaksud*

December 19, 2011

Patahan #28

“Bahwa percaya jika Allah menyayangimu, itulah yang menguatkanmu” -faith. Patahan keduapuluhdelapan.

Pertama

Semoga setelah menyapa Sang Pencipta, kau tetap tak bosan atau kehilangan kata untuk menjadi yang pertama menyapaku di setiap pagi.

“Selamat pagi! Semoga Allah memberkahi langkah dan usahamu hari ini!”

Terima kasih. Lalu bergantian mengamini.

Ditambah segelas minuman hangat, atau beberapa keping biskuit – aku lebih dari siap menghadapi hari.

He’s My Brother – My Only One

Bahwa benar sekali jika setiap perbuatan itu dinilai oleh niatnya.

Adek: “Ma, adek pingin traktir mama. Makan bakso yuk!”

Mama: “Mama ngga usah, adek aja. Nanti uangnya ngga cukup”

Adek: “Pokoknya mama harus ikut makan juga”


***

Bahwa benar sekali kadang hal-hal tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Adek: “Ma, semua totalnya Rp 49.000,-, uang adek cuma Rp 35.000,-”

Mama: “Kan tadi sudah mama bilang, mama ngga usah ikutan makan. Di sini mahal, sekarang uangnya habis kan?”

Adek: “Maaf ya ma, adek pingin traktir mama, ngga tahu kalau bakal semahal ini”

***

Dan kisah bocah yang penyayang ini membuatku kangen sekali. Ga apa-apa kok, adek. Kami bangga padamu :)

#8 Self Note: Alibi

Percayalah bahwa sebagian besar perempuan yang akhirnya berbelanja itu pada awalnya sudah pasang niat kuat untuk tidak berbelanja, cuci mata doang, atau cuma menemani temannya belanja. Pada akhirnya, efek dari sentuh sana-sentuh sini, coba ini itu, ada sale yang ga diduga-duga, atau barang lucu yang hanya ada satu-satunya – lalu takut keburu sakit hati, atau terbawa mimpi, nyesel kenapa tadi ga beli, tapi sebenernya ga butuh juga.

Me: “Ini lucu banget. Trus gimana dong?”

Her: “Kalau emang butuh, ya udah beli aja”

Me: “Aku belum butuh sih sebenernya. Tapi pingin!”

Her: “Kalau emang pingin, ya udah beli!”


Tarik napas, buang napas. Yeah, saya orangnya butuh waktu dong buat belanja sesuatu – apalagi kalau yang dibeli itu di luar list bulan ini. Saya mematung di counter lamaaa banget sambil megangin barang itu karena takut direbut orang dan menetapkan hati. Huwaaaa.

Me: “Bismillah!”

Haha, temen saya sampai bilang bahwa sakit hatinya perempuan ya begini, saat mau beli satu barang eh malah nemu barang yang lain, atau saat temennya yang butuh eh malah yang nemenin yang beli barang itu. Asal masih wajar gapapalah yaa, jarang-jarang juga, kan masa manfaatnya juga jangka panjang dan stress pun terobati. Haha, alibi :p

Sederhana

“Akan ada suatu kala teknologi menjadi antiklimaks. Dan kita mulai merindukan hal-hal sederhana”

Seperti kepuasan saat tiba-tiba terpikir untuk beli N100 buat handphone cadangan. Selain memang untuk menghemat pengeluaran pulsa, tapi saya juga kangen punya radio – beneran radio yang hanya bergantung sama availabilitas frekuensi, bukan kapabilitas jaringan, internet, or whatever which is very lame these days. Sekarang, radio harganya juga ‘lumayan’, mungkin karena sudah mulai tidak lagi terjamah atau menjadi langka. Ya sudah, akhirnya beli N100 yang memang ada feature radionya saja dan harganya cukup toleran.

My smartphone is getting dummier day by day. Yeah, manusia modern pun begitu – semakin tergantung dengan charger atau colokan listrik setiap hari.

Mungkin saya termasuk salah satu orang yang old-fashioned. Menurut saya, feature-feature chat seperti gtalk, YM, atau BBM memang mempermudah koneksi dan efisiensi interpersonal untuk berkomunikasi. Tapi tidak untuk berinteraksi. In my mind, komunikasi yang setengah-setengah, kalimat per kalimat itu menyedihkan, seperti menghilangkan detail atau esensi dari apa yang seharusnya disampaikan. You know, selain broadcast message, salah satu feature bbm yang kurang saya sukai adalah PING! PING! PING! Entahlah, aksi kirim ‘ping’ saat tidak sempat membaca BBM itu seperti teror atau seakan saya melakukan sesuatu yang salah dan membuat takut lho kadang-kadang. Oh, please.

Kembali lagi, bahwa akan ada hal-hal di mana kita akan merindukan hal-hal yang biasa. Merindukan pertemuan, bukan sekedar teks digital, mention, atau display picture BBM yang berganti-ganti yang membuat kita sibuk dengan foto-foto pribadi dibanding menikmati moment itu sendiri. Atau beberapa yang akrab sekali di dunia maya tapi serasa makhluk asing di dunia nyata. Atau dua orang yang duduk berdampingan lalu masing-masing ditulikan oleh benda di tangannya – dan waktu berlalu begitu saja. Menyedihkan.

*no offense: hanya opini pribadi*

December 15, 2011

Once or Twice

“I’m about to break my heart once or twice every day.

Once – I hate to be somebody’s person while – in fact – that person is still searching someone to replace my position. And it happens.

Twice – Because I love him too much. And that what actually happens. I can’t let go.”

But like everything I've ever known
You disappear one day
So I spend my whole life hiding my heart away
(Hiding My Heart - Adele)

December 13, 2011

5 Most Annoying Things Ever and Often Happened :p

1. When you walk in a rush and someone in front of you accidentally stops and blocks your way. Oh no!

2. When you’re in hurry and almost late and realize that you can’t find your room keys.

Or maybe you can find it, the traffic is okay, then you’re already happy because it’s still 07.30 but when you want to put your finger or hand on absence machine, the clock in it turns to 07.31! Ahahaha

3. When you’ve worn your outfit perfectly but you notice that your hijab is wrinkled and must be put off and ironed again. Huff

4. When you’re talking or sitting next to your friend, but he or she only focuses to blackberry on their hand. *crying*

5. When you’re in public transportation, and some disturbing people smoke with poker face!

*Life - needs thousand laughs to keep being normal :p*

Lupa!

“Eh aksioma itu apa?” *lupa mendadak*

“Itu istilah buat sumbu X di diagram kartesius bukan sih?”

“Haaa masa sih?”


“Kok jadi lupa yaa, sumbu X itu namanya apa? Kalau sumbu Y? Aaargggh” *langsung googling*

“Yaelah sumbu X itu namanya absis! Aksioma itu postulat!”

Haha, bisa-bisanya blank! Memori yang dulu terekat sangat kuat sepertinya mulai tertimbun oleh memori-memori baru. Dan, hal-hal yang tiba-tiba ‘lupa’ seperti itu bikin kita jadi sadar buat lebih sering refresh ingatan, belajar, senam otak, atau mengerjakan soal-soal lagi.

Forgetting a lot nowadays? Maybe we should read more and write more. It works!

*Note: Oh iyaa, kalau tiba-tiba lupa, coba untuk tidak memikirkan atau mengingat-ingat hal itu selama beberapa menit. Dan biarkan sistem memori mengurai dirinya sendiri. Itulah mengapa kita sering ingat sesuatu saat sholat (jadi ga khusyuk hehe), saat lebih santai dan tidak stress, atau saat ujian jika sudah stuck di satu soal, lanjutkan saja ke soal yang lain, nanti saat kembali ke soal itu, secara ajaib kita bisa ingat lagi atau bisa lebih baik dalam menganalisa :D*

Menjadi Perempuan

Dulu waktu SMP, saya sangat feminis. Jika cowok bisa jadi juara, maka cewek juga bisa. Jika cowok bisa jadi Presiden OSIS, cewek juga bisa.

Dan prinsip itu berlangsung sampai sekian tahun – mungkin sampai kuliah. Hingga saya sadar bahwa ada hal-hal yang memang menjadi porsi antara pria dan wanita. Berjalanlah pada hal-hal yang sesuai dengan hakikat dan kemampuan.

Dua hal yang selalu saya ingat dari abah tentang menjadi perempuan adalah:

1. Perempuan harus belajar.

Saya bersyukur punya orang tua yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, memberi saya kesempatan untuk mencapai cita-cita, juga kesempatan berpendapat. Karena di sisi lain, saat masih banyak orang tua dengan darah atau asal-usul yang sama tidak mengizinkan anak-anak perempuannya melanjutkan kuliah atau terlalu concern pada materi, pernikahan – atau sebut saja ya errr perjodohan. Hidup memang harus berubah bukan? Dan Islam sangat memuliakan para perempuan :)

2. Perempuan harus serba bisa.

Itulah mengapa saya lebih suka melakukan hal-hal sendirian – it seems disturbing somehow when I’ve been such a pathetic loner huksss. Because you can depend to nobody though you’ll never walk alone actually. Dari kecil saya dilatih untuk memperbaiki barang-barang, pegang obeng, kemana-mana sendiri – hingga kelihatan seperti tidak punya teman atau pacar saja huksss.

Woman is fragile but her heart is stronger than it seems :)

December 8, 2011

Mama

Penghormatan terbesar untuk beliau yang telah menjadi ibu luar biasa dan sahabat sebenar-benarnya bagi gadis dua-puluh-dua tahun yang sedang belajar merasionalisasi impian juga tumbuh dewasa.

Yang telah setia mendengar di saat-saat baik dan sulit lalu menghujani dengan doa dan cinta yang tak ada habisnya.

Yang telah percaya dan berjuang bersama dari jauh – tidak, tidak jauh. Tapi dekat, dekat sekali.

Terima kasih, Mama. Sungguh, terima kasih.

Aku rindu, rindu sekali.

Apples

You said that I’m fresh like an apple. Falling in love for the first time, staring you with blushingly bright eyes, and holding you in wide opened arms – still for the first time. I’ve been trying throughout this like little chicks crashing the eggshell. And be born.

And after more than one year, it’s still fresh like an apple. Thank you for still being here, for up-and-down feelings, and surprising happiness. And for trust against tears – when we have to apart that you’re actually somewhere or nowhere but here – so close in heart.

Please, hold on. Don’t give up. Don’t hurt each other – we still have to face the long road.

Together.

#7 Self Note

Beberapa pernah bilang bahwa blogku mulai berubah. Percayalah,blog ini tidak berubah – tepatnya dia hanya sudah menemukan warna.

Setelah sekian lama menulis, kau akan lihat bahwa tulisanmu menjurus ke satu arah. Mungkin ada yang berfokus pada dakwah, pada kisah-kisah teladan, pada pengalaman, pada kritik politik ekonomi atau budaya, atau pada kehidupan – ya sah sah saja.

Edelweiss sudah ganti kostum lagi dan melepas atribut-atribut widget yang tak perlu. Toh, blog ini bukan untuk tujuan komersial atau sarana iklan. Lebih ingin berbagi, menulis apa yang ada, apa yang dirasa – lalu kau menemukan teman-teman di laman lain dengan jalan pikiran yang sama. Blogger-blogger teladan yang tak keberatan menyapa, teman-teman kampus yang luar biasa hebat dan belum pernah bersapa tetapi bisa dipertemukan di dunia maya – berbagi kisah, mencerna kata, lalu saling tepuk pundak. Life is hard but we have to be harder.

Menulis dengan bijak adalah penghargaan atas opini dan prinsip diri sendiri. Begitu pula dengan membaca atau menghakimi.

Dan aku pun demikian – karena hati boleh berfiksi bukan?

Magnet

Bukankah kita seperti magnet? Kau dan aku adalah kutub-kutub yang berlawanan – dipertemukan dalam satu ruang oleh suatu tarik menarik yang akhirnya membuat kita berikatan.

Akan ada masa dimana medan magnet itu berkurang kekuatan karena berlekatan lama terlalu erat hingga tak ada ruang, menyegajakan jarak hingga saling kelelahan, atau tak mampu menjaga. Lalu mati rasa.

Dan jangan menyalahkan siklus. Akan ada saatnya medan magnet lain mendekat – lalu menarik satu dari yang satu. Kemudian terlambat sadar bahwa inilah yang disebut kehilangan.

“Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah kau punya. Itu saja

Patahan #27

“When you complain a lot about something – just be careful. Sometimes it means you don’t understand at all” -. Patahan keduapuluhtujuh.

Patahan #26

“When you’re getting older – your real friends are less than number of your fingers. The rest are only partners or people you accidentally know because of time and place” - trust. Patahan keduapuluhenam.

Patahan #25

“It’s like flip-flop theory: if you want to leave me, I’ll leave you first” -. Patahan keduapuluhlima.

The Way

I miss the way we talk. Arguing about small stuffs – when I don’t agree with one thing and you attack me with unpredictable arguments.

I miss the way we’re holding hands – across the road through very cold weather, and your fingers are fit to mine. Your comforting warm body temperature lets tears and fears rain – but then it makes me safe and convinced that you’re the one.

I miss the way we’re sitting next to each other, having good talk and sharing smile – with no regret but only one. Please, time, don’t run too fast.

Because I still want to be with you. I miss the way you are. I miss us – everyday.

November 14, 2011

Kutipan Novel: The Einstein Girl

Zurich, 18 Oktober

Elizabeth tersayang,

Di sini, di dalam bungkusan ini, terdapat naskah sebuah buku yang kuselesaikan sehari setelah kau datang untuk mengucapkan selamat tinggal.

Aku menyebutnya buku meskipun sebenarnya itu belum berbentuk buku. Hanya setumpuk kertas, tidak dicetak, dan bahkan tidak berjudul. Hal-hal itu tak akan berubah saat aku masih hidup. Aku tidak berani menghubungi penerbit karena alasan yang akan jelas bagimu jika kau suda tamat membacanya. Tapi aku tetap menyebutnya bukuku, bukan tanpa alasan, karena momen saat buku menjadi sebuah buku sulit diramalkan, seperti momen saat serangkaian nada menjadi melodi. Butuh pemikiran untuk menyadari tokohnya, seperti halnya butuh pemikiran untuk mencerna sebuah melodi.

Namun, aku memintamu membawanya saat kau pergi. Berdasarkan pengalamanku, aku tahu betapa panjang perjalanan yang akan kaulalui dan kuharap cerita ini akan berguna, setidaknya untuk mengalihkan perhatianmu dari suara berisik roda-roda, pengapnya udara, dan gangguan kecil yang membosankan selama perjalanan. Aku berharap dapat menyusutkan jarak dan waktu sehingga kita bisa lebih dekat satu sama lain.

Aku juga berharap bukuku akan membantumu mempersiapkan misi yang menantimu di Berlin. Ada sesuatu dalam ceritaku yang mungkin seharusnya kukatakan sendiri kepadamu. Namun, aku mendapati bahwa dengan fiksi, seseorang dapat lebih bebas mengatakan kebenaran. Mungkin karena di dalam fiksi, kebenaran bukanlah hal yang diperlukan atau diharapkan. Kau bisa menyamarkannya dengan mudah, jadi kau hanya akan mengenalinya nanti, saat cerita dan para tokohnya telah lenyap dalam kegelapan.

Aku punya satu harapan lagi yang mungkin sangat egois, setelah kau selesai membacanya, carikanlah judul yang tepat untuk buku ini. Jika soal ini tak terselesaikan maka sebuah judul akan dipilihkan orang setelah aku mati. Dan aku sungguh membenci hal itu walaupun dalam kematian aku tidak bisa membenci apa pun.

Namun, itu nanti saja saat perjalananmu berakhir. Saat ini biarlah buku ini tetap tak bernama karena mungkin itulah jalan yang paling aman.


*salah satu bagian terindah dari buku The Einstein Girl karya Philip Sington. Mengenang setahun yang lalu: buku kedua dari kamu :)

November 10, 2011

Patahan #24

“Learning to trust is not easy until you've finally reached step that you let him be the first and only one getting to know your problems and dreams” - trust. Patahan keduapuluhempat.

Patahan #23

“Jika jalan atau tujuan yang ingin kau tempuh terasa sulit, jangan mengeluh. Undanglah pintu kemudahan itu dengan bersedekah” - sedekah. Patahan keduapuluhtiga.

Patahan #22

“Beberapa orang dewasa hanya ingin didengar, tapi tidak punya kemampuan dan kemauan untuk mendengar” - please, listen to me. Patahan keduapuluhdua.

November 9, 2011

Bebeknya Udah Dua :)

Postingan yang sedikit terlambat, hehe.

Jadi happy birthday to me, happy birthday to me :D

Ulang tahun bukan lagi moment yang spesial layaknya beberapa tahun yang lalu. Yang ada adalah realita bahwa saya sudah punya dua bebek alias sudah berusia dua puluh dua, dan berarti sudah harus memperbaiki kualitas pendewasaan diri. Bertambah usia, bertambah tanggung jawab, bertambah harapan, bertambah ilmu, bertambah amal, bertambah syukur, bertambah karya, tapi juga harus bertambah muda dan bahagia :D haha.


7 November 2011 – rasanya tanggal itu seperti memancarkan aura tersendiri. Saya merasa berseri-seri sepanjang hari, pergi ke kantor dengan mengenakan warna favorit, dan berangkat lebih pagi. Dihujani doa dan harapan itu rasanya luar biasa, juga mendengar suara mama dan abah dari telpon yang lebih renyah dari biasanya, dan sadar bahwa ada banyak orang-orang yang sayang – waaaah terharu dan mewek bombay deh hukssss. Terima kasih buat doa-doanya yang indah, juga doa-doa random seperti semoga cepat nikah, semoga langgeng, semoga segera dapat momongan (yaelah), dan semoga bisa ke London – aaaah harus diaminin banyak-banyak :D

Dan kado yang paling mengejutkan adalah pacar saya yang ada di depan pintu rumah pada tengah malam dan menjadi orang pertama yang mengucapkan selama ulang tahun setelah sukses berkonspirasi nyuekin dan bikin saya sedih selama seminggu. Aaaah, nangis dong sayaaa :D :D :D

Tapi kalau ditanya hadiah apa yang paling kamu idam-idamkan untuk hidupmu? Saya sempat ingin menjawabnya dengan dua hal: pilihan dan kesempatan. Tapi kini saya sadar, bahwa pilihan dan kesempatan itu tidak ditunggu, bukan hadiah, tapi diciptakan juga diperjuangkan.

Jadi selamat datang bebek yang kedua. Baik-baik yaa kamu :)

Sepercik Kisah dari Jalanan #4: WIA

Aku menyebut waktu pulang sebagai WIA atau Waktu Indonesia Bagian Aku. Aku menikmati dunia sendiri – di dalam mikrolet, dengan blackberry di tangan, timeline twitter yang semakin ramai menjelang petang, dan rasa kantuk yang terlalu cepat datang yang membuat aku terbiasa tidur sepanjang perjalanan.

Dan di saat itu pula, pikiranku pun berputar-putar lebih aktif. Mempertanyakan itu dan ini. Mengajukan banding pada rasa bersalah – pada waktu dan perhatian yang menipis untuk orang-orang terdekatku, perasaan takut ditinggalkan, atau takut kehilangan. Berpikir bahwa aku menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam sehari dengan rekan-rekan kerjaku. Bandingkan dengan waktu untuk menyapa Tuhanku atau orang-orang tercinta yang semakin aus karena diperdaya lelah atau marah?

Baiklah, mungkin rasa bersalah ini akan semakin merajalela jika aku masih berteman dengan perfeksionisme dan ketika telah menikah atau menjadi ibu. Ya ya ya.

Juga tentang hidup mengapa begini dan begitu. Saat beberapa orang kesulitan untuk menentukan pilihan, di saat yang lain ada orang-orang yang dengan mudah mencapai hal-hal yang mereka inginkan. Ada yang harus bangkit dari kemiskinan, dan ada pula yang tidak harus bersusah payah. Kata seseorang, kondisiku yang penuh pertanyaan seperti ini adalah karena mentalku baru bertumbuh – sedang banyak maunya, tidak suka dilarang, benci kata ‘jangan’ untuk hal-hal yang sudah dipikirkan matang-matang, lalu ngotot untuk bilang ‘ini faseku, dulu Anda juga begitu’. Mungkin ini pertumbuhan yang terlambat, jatuh cinta di usia yang terlambat, atau menyukai hal-hal secara terlambat lalu hingar bingar ingin punya banyak pencapaian yang terburu-buru.

Entahlah.

Dan, di sela-sela pikiranku yang semakin tak tentu, seorang pria tua jatuh dari sepedanya dengan karung-karung yang robek dan beras bertebaran di jalanan.

Astaghfirullah. Kasihan sekali. Aku seperti ditegur Tuhan dengan sopan.

“Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban”

Bersabarlah – Tuhan akan menjawab doamu pelan-pelan. Karena Dia sayang. Dia menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

November 8, 2011

Patahan #21

Ada saat-saat dimana kau tidak mengerti yang terjadi. Berpikir bahwa ini bukan yang kau mau – bahwa mimpimu beberapa tahun yang lalu tak pernah sampai di titik ini.

Ada saat-saat dimana lebih baik tutup mulut – dan berpura-pura untuk tak tahu menahu lalu lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Dunia pukul tujuh pagi sampai lima sore bukan untuk tertawa atau mencari teman, tuan nyonya. Di sini kita bercocok tanam dengan tenaga sebisanya atau hama yang berseliweran tapi kita harus tetap baik-baik saja.

Ada saat-saat dimana sistem, juga dia, atau mereka yang mengendalikanmu pelan-pelan. Lagipula kau siapa? Manusia dari lingkar luar yang kini bergabung menjadi satu partikel kecil dan ikut berputar-putar di dalam orbitnya bukan?

Ada saat-saat dimana tanda tanya lompat kesana kemari tiada henti – lalu dibalas dengan tanda seru yang lebih kuat lagi menyeringai spasi-spasi.

Lagipula kau siapa?

November 7, 2011

Patahan #20

Me: "Sejauh ini. Masih banyak hal-hal yang belum bisa bersepakat dengan hati".

Friend: "Bukan belum. Tapi memang jangan disepakati".

Me: "Kenapa?"

Friend: "Karena itu salah".

- karena ini adalah titik pada apa yang dulu kujunjung tinggi-tinggi menjadi abu-abu. Patahan keduapuluh.

Patahan #19

“Bahwa pada hal-hal yang mereka sebut sederhana, padaku itu menjadi luar biasa” - simple wow. Patahan kesembilanbelas.

November 4, 2011

#6 Self Note: PR Sekolah Dasar

Pertama-tama terima kasih buat Dania Lukitasari yang sudah ngasih PR Sekolah Dasar ini dan mengingatkan saya agar harus buru-buru dikerjain hehe. Terima kasih yaaa, sangat ampuh memaksa diri untuk menulis lagi setelah hampir 3 minggu vakum posting hedeeeh.

Masa SD adalah masa yang kenangannya cukup banyak – salah satu yang paling indah juga :D Saya sekolah di SD Muhammadiyah 01 Medan yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah. Karena sekolah di SD Islam, sehingga wajib mengenakan jilbab setiap hari, tapi peraturan seragam buat wanitanya masih sama kayak SD lain, alias masih pake seragam yang roknya selutut, jadi tetep aja yaa belum menutup aurat dengan baik, wekeke.


Masa SD adalah masa-masanya belajar, dan dari kecil udah dipasangin target harus jadi juara umum dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Saat itu, kalau jadi juara umum dapat hadiah piagam, uang saku, dan beasiswa selama setahun. Lumayan banget :D Akhirnya, di kelas 2 SD saya udah harus pake kacamata yang minusnya dua, huksss sedih banget soalnya saya takut diejek karena keliatan cupu banget ditambah rambut saya yang keriting-keriting ga jelas – hedeeeh mirip Betty La Fea haha. Saya jadi benci banget sama penjual sate padang yang mangkal depan rumah karena pandangannya seperti mentertawakan saya kalau sedang pakai kacamata. Alhasil, kalau lewat di depan dia, saya buru-buru lepas kacamata dan jalan cepat-cepat. Aaah, padahal hanya perasaan saya saja kali yaa. Dan karena ga disiplin, di kelas 4 SD minus saya melonjak jadi lima. Huaaa, kaget – sejak saat itu saya pun jadi fobia sama dokter mata.

*tahu dong saya yang mana ahaha*

Kalau ingat zaman SD, kayaknya saya anak manis dan teratur banget wekeke. Tiap pergi dan pulang, dianter jemput sama mama, dan sampai di rumah langsung dicheck satu-satu buku catatannya dan dijadwal hari ini mau belajar apa dan ngerjain tugas apa aja. Setelah pulang, saya ikutan mengaji di sekolah sampai sore, malemnya belajar, baca buku, dan hari Sabtu ikutan les berenang trus hari Minggunya les melukis. Setiap hari penuh kegiatan yang menyenangkan :D Waduh terjadwal banget ga kayak sekarang huksss. Dan kayaknya sejak SD udah jadi anak rumahan, ga boleh main di luar (efeknya udah gede ga bisa naik sepeda dan hobi jalan-jalan hoho), temen sepermainan saya satu-satunya adalah Novi Rinanda – teman sejak bayi yang lahirnya pun hanya beda satu hari dari saya wekeke. Biasanya kita gantian main di rumah, belajar bareng, ngaji bareng, makan eskrim bareng, dan kalau ke rumahnya saya paling seneeeeng main Barbie (karena ga punya hehe), main masak-masakan, atau dokter-dokteran. Berduaaa selalu, makanya saya sedih kalau dia punya temen main baru, sayanya ngambek deh hehe.

Dari kecil saya suka banget pelajaran matematika. Abah rajin banget beli buku latihan hitung-hitungan sejak saya bisa kenal buku, dan tiap malem diajarin tambah dan kurang pakai tusuk gigi. Dan karena abah kerjaannya di bidang elektronik, dari kecil saya udah diajarin membaca warna resistor. Seruuuu soalnya kayak main tebak-tebakan. Tapi sekarang kok udah lupa yaa caranya hedeeeh. Salut banget sama abah dan mama yang konsisten banget ngajarin saya waktu itu huksss terharu. Nah, karena saya suka banget matematika, saya sempet bikin target di kelas 6 kalau nilai di rapor saya harus 100. Jiaaah, ngawur. Hmmm, saya inget banget tuh pernah dapet nilai merah sekali waktu latihan soal di kelas dua karena saya ga ngerti cara manual loncat-loncat perkalian di garis bilangan. Waaaah, nangis dong. Alhasil, tuh soal saya kerjain ulang dan saya kasih nilai sendiri biar ga dimarahin mama. Beberapa hari kemudian, waktu saya ikut belanja ke pasar, eh ketemu temen sekelas saya dan dia bilang ke mama – kamu kemarin dapet nilai jelek kan ya??? Aaaah, langsung deh saya ngeloyor pergi – syukur aja kayaknya mama ga ngeh. Huaaa, dari kecil sayanya udah bakat perfeksionis begitu ternyata :’’’(

Ternyata ada benernya juga yaa, mengingat masa kecil itu perlu, masa penuh ambisi, masa penuh mimpi, masa seneng-senengnya ikut lomba dan dapat piala, masa giat-giatnya belajar dan menghapal (dulu saya hapal nama ibukota Negara seluruh dunia plus lokasinya di peta, sekarang butaaaa T___T), masa jaya-jayanya deh yaaa, maluuu kalau dibandingkan sama yang sekarang. Mana-mana semangatnyaaa? :|

Flashbacknya kebanyakan yaa? Kalau udah nulis dan ada hubungannya sama kenangan yang nempel banget, saya susah berhentinya hedeeeh. Hehe. Sekarang langsung deh kerjain peernya yaa :D

Guru Favorit


Guru Favorit saya adalah semua wali kelas saya hehe – soalnya tiap hari ketemu mereka dan udah kayak pengganti ibu dan ayah di sekolah. Tapi, di antara semuanya – kenangan paling kuat adalah kenangan saya bersama Pak Mahdi (dan sampai saat ini beliau masih mengajar). Saat itu, beliau jadi guru waktu saya kelas 5 SD. Yang saya paling inget adalah beliau menemani dan membimbing saya selama liburan panjang saat saya harus ikut lomba siswa teladan. Waaah, kalau nggak ada beliau saya mungkin udah nangis tiap hari – saat yang lain libur, saya harus belajar, nulis essay berulang-ulang, belajar melukis buat uji bakat, belajar rangkaian listrik, belajar teori-teori sains, menghapal sejarah, budaya dunia, sampai bikin eksperimen buat presentasi IPA. Sabaaaar banget, nemenin saya lomba juga sampai akhirnya bisa dapet juara dua. Terima kasih bapak :’’’’)

Guru Killer

Waduh, yang saya inget guru SD saya semuanya baik-baik sekali. Mungkin, saya menganggap guru yang satu ini killer, karena saya bodoooh banget di mata pelajaran beliau. Beliau adalah Bu Boyinah – guru olahraga saya dan mengajar saya olahraga selama 6 tahun dong. Tapi sayanya tetep ga bisa apa-apa, kecuali SKJ dan lari jarak pendek ahaha. Main kasti juga ga ngerti, basket takut kena bola, jadinya saya sering dimarahin beliau hehe. Trus biasanya ada pemeriksaan kebersihan kuku dan isi tas juga yang dipimpin beliau – takut deh semuanya. Tapi, sampai sekarang, beliau adalah guru yang masih paling ingat sama saya dan sering nanyain kabar saya kalau ketemu sama mama dan adek. Jadi kangen :’’’) Makasih ya buuu *hugs*

Teman Bolos

Kyaaa, ga pernah bolos waktu SD hehe. Kalau bolos mungkin nggak – tapi keluyuran di jam istirahat mungkin iya hehe kayak diajak mampir ke rumah teman yang dekat dengan sekolah. Alhasil, dimarahin deh karena telat masuk kelas dan pintu gerbangnya udah dikunci. Nangis-nangis dong saya ahaha.

Teman Berantem

Hmmm, kalau berantem waktu kecil mungkin istilahnya di kota saya itu ‘eskete’ kali yaa ahaha. Tapi biasanya satu hari kemudian udah baikan, karena kami ingat pesan guru kalau orang muslim ga boleh tidak bicara lebih dari tiga hari atau kitanya langsung surat-suratan atau sayanya cerita ke mama, dan kita baikan lagi deh alias saling melingkarkan kelingking satu sama lain. Lucu deh hehe, biasanya karena saya cemburu sama teman sebaya satu-satunya saya itu si Novi Rinanda – masalahnya sepele, karena saya ga diajak main atau dianya cuekin saya. Hehehe.

Jajanan Makanan/Minuman Favorit

Dulu nggak boleh jajan di sekolah :( Kalau dikasih uang jajan biasanya harus ditabung dan dicatat di buku khusus jadi saya dan mama tahu udah punya tabungan berapa (akuntansi banget hehe). Biasanya saya sering dibawakan bekal sama mama entah roti atau biskuit, tapi kadang suka diem-diem beli cemilan kayak anak mas atau jelly-jelly warna warni gitu sih hehe. Saya juga pernah jualan kertas files (waktu itu lagi trend) dan saya maksain temen-temen saya beli (sampai dicubit sama wali kelas karena saya berisik di kelas) hehe – trus duitnya saya buat jajan Coca Cola yang kalengan haha. Ada-ada aja.

Jajanan Mainan Favorit

Saya suka banget main rumah-rumahan, jadi hampir tiap bulan saya beli koleksi barunya – entah edisi dapur, teras, ruang makan, sampai lengkap dan sekarang pun masih ada di rumah! Kata mama, jangan dikasih ke siapa-siapa, ini warisan untuk anak saya nanti haha :D

Tas Favorit

Tas favorit saya adalah tas Mickey Mouse hadiah dari Tante Mima yang awet saya pake sampai SMA hahaha. Waktu kecil saya dididik ga beli peralatan sekolah baru kalau tahun ajaran baru, jadinya saya sayaaaang banget sama tas ini – gede, cantik dan isinya banyak hehe.

Sekian deh PRnya, udah lama banget kayaknya ga ngerjain PR dengan senang hati kayak gini plus dapet bonus senyum dan semangat baru – juga inspirasi saya harus rajin membaca kayak waktu SD dulu. Hehe. Yak, selanjutnya PR ini akan saya tugaskan kepada:

1. Auuu ^^
2. Firman Fulcrum
3. Fiqah Faradhiba
4. Naya Tanaya
5. Mbak Dee

Memang agak random pemilihan orangnya, hehe, dikerjakan yaa PRnya dan mari sebarkan virus semangat ini :D Semoga dengan sedikit melihat ke belakang bisa membuat kita terpacu untuk semakin bersemangat menghadapi hari-hari dan tetap menjadi ‘layaknya bocah’ yang riang dan suka bermimpi :D

Tidak sabar membaca PR kalian :D Salam persahabatan virtual hehe!

October 17, 2011

Nyanyian Hujan

Maaf saja, aku belum bisa mengikhlaskanmu sendirian terlalu lama. Tak pernah habis pikir bagaimana kau bisa begitu bahagia tanpa aku yang bisa menemanimu secara nyata.

And I wonder if I ever crossed your mind.


Mari kita bertemu selama masih bisa.

Kenapa harus kau tunda-tunda hingga aku tersiksa dengan lari-lari tak tentu arah dengan pikiran yang bercabang menuju kamu – hanya kamu.

For me it happens all the time.

Aku merindukanmu seperti tanah yang retak-retak merindukan hujan. Diam – bisu – sakit – sampai berbau karena kehausan saat satu atau dua tetes menyapa dari langit merekah merah.

Lalu, bagaimana kau merindukanku?

Seperti angin dingin yang membuatku menangiskah? Rindu yang tak terlihat – tapi ada. Terasa.

Mungkin demikian.

Patahan #18

“Okay, your ‘I miss you’ is killing me” - sudden suffer. Patahan kedelapanbelas.

#5 Self Note: Muda dan Bahagia

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan belajar. Belajar membuat system memori semakin kuat dengan stimulus yang bersahut-sahutan saat mengingat dan mencicip pengetahuan – juga melunakkan hati karena menjadikan semakin mawas diri dan memahami. Dan hidup adalah sekolah abadi – belajar setiap hari tentang bagaimana bertahan dan menjadi manusia sejati bukan hanya tentang hidup hari ini.

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan bercita-cita – layaknya bocah. Hidup memang tidak selalu menyediakan hidangan yang kita minta, layaknya cita-cita di masa kecil yang dengan lantang kita utarakan seakan hal itu langit-langit ruangan yang mudah dicapai hanya dengan menarik tangga lalu naik pelan-pelan. Tidak. Semakin dewasa, manusia semakin jarang bercita-cita – entah karena sudah puas dengan pencapaian atau sudah lelah dengan kekecewaan. Ingatlah bahwa keinginanmu untuk hari esok juga sebuah cita-cita. Karena cita-cita orang dewasa adalah memperindah apa yang ada – apa yang sudah dipunya – lalu jadi lebih baik lagi dan lagi. Bercita-citalah: ingin kuliah dimana selanjutnya, bisnis apa yang ingin dikelola, bagaimana membahagiakan yang kau cinta, apa saja, bercita-citalah dan jadilah muda.

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan bersikap spontan – lakukan apa yang diinginkan sesekali dan lawan rutinitas. Jalan-jalan di akhir pekan, tertawa, merajut syal, menggambar dengan krayon, mencipta boneka dari kain flannel, atau tiba-tiba kabur ke Trans Studio Bandung tanpa rencana lalu menyantap permainan yang meregang adrenalin dan berteriaklah – makan yang enak-enak tanpa takut jarum timbangan bergerak ke kanan, berteman, bergerak, dan bersyukurlah –

Lalu berbahagialah.

*Because life is too short to deal with the same things everyday*

Patahan #17

Jika mereka bilang bahwa hal itu sulit, berusahalah.

Jika mereka bilang bahwa hal itu tidak penting, abaikanlah.

Tentu saja mereka bilang demikian. Karena itu mimpimu, bukan mimpi mereka.


- *Sukses adalah hak, maka perjuangkanlah hakmu* - patahan ketujuhbelas.

Tak Terhingga

Kita seraut kisah di garis bilangan yang berjalan dari titik minus. Dua bilangan yang saling mendahului walau aku yang lebih sering berada di depanmu beberapa langkah – menoleh ke belakang dan tertegun menyadari bahwa kau tetap diam di tempat – tak mengejarku yang sudah berjalan perlahan-lahan.

Kita masih berada di titik minus dan itu membuatku frustasi sekali dua kali lalu berlindung di bawah tanda akar yang memulihkanku dalam status tak terdefinisi – hingga kau sadar bahwa aku hilang dan aku berarti.

Ada saatnya aku tak sanggup lagi – ingin melompat tak bilang-bilang atau berlari kencang saja – meninggalkan atau ditemukan pada titik yang memperlakukanku sebagai ada. Lelah, tapi kau tak juga bisa membaca arah. Hingga di setiap bilangan prima aku berhenti dan tersadar bahwa hanya engkau yang bisa jadi pembagi.

Kadang kita memang harus mundur ke belakang lalu merekonsiliasi, berpegangan, saling menggenggam bukan membawa kabur keegoisan lalu lari sendiri-sendiri. Kita ini sepasang – tak ada yang sempurna memang – bahkan angka nol itu sendiri. Dan akhirnya kita berdiri di sini, di titik ini. Mulai membangun dari awal lagi.

Aku memberimu kesempatan – lalu kau menambah kecepatan dengan pangkat yang berlipat – berjalan satu satu di garis bilangan positif. Mesyukurimu yang secara ganjil dan genap memupuk cinta dan perhatian setiap hari hingga aku tak perlu mengemis lagi.

Kita memang melangkah dari awal sekali – dari ketiadaan hingga menjadi sebuah keadaan yang kusyukuri. Aku mencintaimu hari ini, dan esok, akan kukatakan hal yang sama lagi. Tak usah kita lihat hal-hal yang terjadi di belakang – anggap saja sebuah pembelajaran, toh garis bilangan negatif sudah terlalu jauh dari jarak pandang.

Aku masih ingin bersamamu – hingga di titik tak terhingga.

Patahan #16

“Woman doesn’t know what they want. Man doesn’t know what they have” - heard it often. It sucks. Patahan keenambelas.

October 13, 2011

Prajab Dua: Kami Bangga! :D

Prajab itu seperti mengobati kerinduan pada masa-masa kuliah dan persahabatan dengan teman-teman yang luar biasa :)


Hey, aku sudah kangen kalian!


Dua belas hari ditempa di tempat yang sama, belajar bersama, makan bersama, apel bersama, push-up dan jalan jongkok setiap hari, tawa, tangis, dan semangat – semua hal-hal yang cukup lekat untuk membangun kenangan yang merekat erat tentang kita semua.

Prajab dua, kami bangga! Howa heyooo, sukses dan keep in touch selalu teman! :’)

*jika tua nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini*

September 23, 2011

Patahan #15

“Salah satu yang paling kutakutkan dari bertambahnya usia adalah aku belum melakukan sesuatu yang seharusnya sudah dapat kulakukan di usia sebelumku” - being old. Patahan kelimabelas.

(Masih) Tentang Rindu

Percayalah bahwa kita pun tak kurang dari mereka. Percaya pada rinduku saja, yang memang terlalu hingga jadi bisu.

Ini bukan rindu yang sederhana sehingga tak bisa kuungkap setiap waktu, dan membuatmu terlalu biasa mendengar itu.

Janganlah menggerutu, jauh di dalam hatiku – aku selalu mendoakanmu, menitipkanmu pada Tuhan yang membuat kita terjaga agar tetap merindu.

Percayalah bahwa kita pun tak kurang dari mereka. Jika kau kesepian, ingatlah bahwa aku pun di sini berjuang mengatasi kesedihanku dengan kesibukan dan ingatan tentang kamu yang ingin kubahagiakan.

Rinduku memang tak terkata-kata dan tak berair mata. Cukuplah kau yang bicara dan aku membalasnya dengan senyum setiap pagi. Karena mengetahui bahwa kau pun tak pernah bosan merindukanku adalah harapan hidup di setiap hela napasku sepanjang hari.

Aku merindukanmu dalam air mata sujud rindu kepada Tuhanku – semoga kau pun merasakannya dalam sujud rindumu bahwa ada saatnya kita tak perlu menanti dan bersabar menyimpan rindu dalam diam selama ini lagi.

#4 Self Note: Allahu Rahim

Hidup itu laksana kelas – disana kau akan belajar banyak hal tentang bertahan dan tentang pencarian – baik pencarian terhadap diri sendiri, kebahagiaan, impian, kebaikan, dan ridho Tuhan. Setiap hari ada kelas baru, yang levelnya dan mata ajarnya berganti-ganti menyesuaikan dengan taraf iman dan kemampuan – tak sembarang pula yang bisa lulus, harus benar-benar isitiqomah dan paham juga rela. Mungkin suatu hari kau harus belajar sabar, lalu ikhlas, juga syukur, dan demikian seterusnya tanpa henti dan lelah.

Tak jarang kelas-kelas itu membuatmu marah, bersedih, gundah, lalu mempertanyakan kenapa dan bagaimana. Tapi tak apa, perasaan itu manusiawi – kau begitu karena kau manusia. Dan sebagai manusia dewasa, kau pasti bisa memulihkan perasaan-perasaan negatifmu sendiri hingga kau sadar bahwa kau tak sendiri, selalu ada Tuhan yang tak kemana-mana, sangat dekat bahkan dari urat lehermu sendiri namun sering tak disadari.

Percayalah, bahwa Allah akan mengangkat sedihmu perlahan-lahan.

Karena salah satu hal yang bisa membuat kita bertahan adalah percaya – bahwa Allah Maha Adil dan setiap manusia akan mendapat sesuai yang diusahakannya. Mungkin tak sekarang, tapi besok, atau setahun lagi, atau di saat yang tak dapat ditentukan yang menyadarkan bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjuangan, niat tulus, dan usaha. Bahwa Dia ingin menebalkan mental dan melapangkan hatimu terlebih dahulu sebelum diberi hadiah dengan nikmat yang lebih besar adanya.

Percayalah bahwa semua memang terjadi karena suatu alasan.

Untuk memahami hal itu, mungkin aku bisa berbagi sedikit dari kisahku ini. Salah satu moment terburuk yang aku harus syukuri adalah moment tiga tahun yang lalu – saat semester satu dan indeks prestasiku termasuk salah satu dari tiga yang terendah. Terpuruk hingga muncul perasaan tak ada gunanya belajar jika memang hasilnya demikian. Beranjak ke semester dua, saat indeks prestasi kumulatif diumumkan, hasil akhirku malah meroket menjadi yang terbaik di spesialisasi. Konspirasi pun bermunculan – mulai dari tertukarnya nama, kesalahan perhitungan, hingga aku dikejar-kejar oleh redaksi kampus dan dibicarakan oleh teman-teman, karena jika dipikir-pikir ini sangat tak mungkin sebab jika nilai ini benar maka indeks prestasi di semester dua-ku lebih dari empat koma nol.

Kondisi itu membuat aku hampir menangis setiap hari dan berat badan turun drastis - karena malu dan diragukan, juga lagi-lagi berpikir tak adil – tak ada gunanya belajar jika tetap demikian. Hey, aku hanya sebagai korban! Aku menerima sesuai yang aku perjuangkan – batinku waktu itu memperjuangkan nama baikku sendiri. Hingga aku bertekad, buat siapapun yang pernah mentertawakanku atau membuatku terluka saat itu – aku akan membuktikan bahwa aku benar dan bahwa nilai itu adalah hakku. Seterusnya, atas izin Allah, nilaiku stabil tak jauh-jauh dari semester dua hingga lulus. Dan, aku bisa tersenyum lega – bahwa kebenaran itu terungkap setelah tiga tahun – setelah aku melihat transkrip nilaiku sendiri, bahwa terjadi kesalahan pada perhitungan nilaiku di semester satu. Tapi mulai saat itu, aku belajar memaafkan diriku sendiri, mengabaikan mendengar hal-hal yang bisa melemahkan hatiku, dan berterima kasih pada masa lalu karena tanpa moment itu mungkin aku tak sekuat dan segiat setelah fase itu terjadi. Lihatlah, Allah Maha Penyayang, sangat menyayangi hambaNya walau dengan cara yang tak mungkin kita mengerti.

Percayalah, bahwa badai pasti berlalu. Bahwa seburuk-buruknya ketentuan, selalu ada kebaikan yang bisa diambil – itulah hikmah.

Dan salah satu hikmat itu adalah bisa dimudahkan dan disayang oleh Pencipta. Dan perasaan itu luar biasa damainya ^^

September 21, 2011

Patahan #14

Romantis adalah misi rahasia.

Saat mereka bilang tidak, dan aku tetap bisa mencari-cari alasan untuk bilang iya. Dan semesta ikut bermain-main dengan konspirasinya yang sederhana namun gempita – melalui hujan di Minggu senja, roti bakar pinggir jalan, dan doa-doa yang mewujud nyata. Melalui putaran-putaran kecil di jalur tak berbahaya dan pelukan yang menghangatkan kita berdua.

Itu saja.

September 5, 2011

Patahan #13

Janganlah banyak menangis. Apakah jatuh sesakit itu? Sudah kubilang untuk tak berpegangan pada tali yang setipis benang karena selain tak mampu menyangga beban juga jemarimu akan terluka karena menahan.

Kenapa harus menangis? Tak semua jatuh itu salahmu. Masih ada aku yang akan merangkulmu saat kau tak mampu berjalan sendirian bukan? Kau bisa pinjam bahu dan lenganku kapanpun kau mau – asal tidak untuk menghapus air matamu berkali-kali. Bukankah cinta harusnya menguatkanmu? Jangan jadikan aku beban yang terlalu berat untuk kau pikul. Sebenarnya itu tergantung sudut pandangmu, yang terlampau serius ingin membahagiakanku hingga lupa pada kebahagiaanmu.

Hey, masih menangiskah? Sudahlah, jangan sesali pada apa yang membuatmu jatuh, tapi bangkitlah agar bisa kubantu memungut kerikil-kerikil itu. Karena bukan batu besar yang akan melalaikanmu, tetapi batu kecil – yang sering sekali terabaikan hingga berserakan memenuhi jalan. Harusnya jalan ini kita lalui sama-sama bukan? Sini ajak aku untuk bergandengan, jangan berjalan sendirian padahal hakikatnya kita sedang bergerak searah dan tidak perlu berlari-larian. Kita tidak sedang ikut lomba. Jika kau tetap ingin berlari, berkejar-kejaran sajalah. Kalau itu aku senang. Masa kau tidak senang?

Ayolah, masa kalah pada buah kelapa yang jatuh berperang dengan gravitasi lalu dihujam tanah? Jatuhmu tidak sakit kan? Kau jatuh di padang rumput, bahkan kalau kau sadar, kau telah jatuh di pangkuanku yang begitu empuk. Bukan maksudku membandingkanmu dengan kelapa - sungguh tak sepadan! Aku hanya ingin kau tahu bahwa tidak semua harus sesuai dengan harapan. Tapi tidak semua yang tak sesuai itu menyedihkan. Harapan yang jadi nyata – dengan cacat disana sini itu baru namanya sempurna!

Nah, begitu anak manis – air matamu sudah habis bukan? Tersia-sia hanya karena jatuh – juga tersia-sia karena air matamu tak akan membuatku semakin tampan, eh. Bukannya aku tak perhatian, tapi kau tak kunjung bilang apa yang kau inginkan. Aku bukan pembaca pikiran layaknya perempuan.

Kemudian hening.

Dan di sela-sela isak kau berucap, “Bagaimana aku tak sakit? Kau malah hilang saat aku baru jatuh padamu. Jatuh cinta yang berkali-kali. Dan kau tak rindu saat aku merindukanmu!”

Aku tahu bahwa kau memang begitu. Jika tak jatuh cinta padaku mana mungkin kau tahan bersama makhluk sepertiku. Aku tak pernah hilang hanya saja kadang dicuri waktu – kau tinggal bilang saja kalau kau butuh aku. Jangan sendirian kemana-mana, nanti kau malah hilang diculik orang, kau ini kan aset semesta. Satu-satunya di dunia. Dan aku selalu merindukanmu, hanya saja tak perlu kubilang selalu – aku kan pemalu!

:)

Nah begitu dong tersenyum. Itu baru gadisku!

Tentang Pulang

Pulang itu seperti menuai doa ibu yang dihantarkan saat kau keluar pintu.

Pulang di kala lebaran juga senikmat itu – dan bisa mengecap tiga hari terakhir Ramadhan di rumah pun semacam mengunci waktu yang akhir-akhir ini berlari tanpa basa-basi.

Lebaran kali ini lengkap.

Ada abah, mama, adik, aku, dan kucing-kucing nakal yang tak pernah kehabisan energi – dengan cinta yang merekat juga melekat. Lalu kita bisa duduk semeja. Memasak lontong dan kue kering malam-malam buta, sambil tertawa diiringi takbir yang menggelora.

Lebaran kali ini lengkap.

Pelukannya nyata. Sentuhannya nyata. Air matanya nyata. Tak perlu meraba-raba lewat gelombang dan jarak yang tak kau suka – aku sudah di rumah. Aman. Bersama malaikat-malaikat bumi Tuhan.

Rasanya baru kemarin keluar pintu.

Hey, aku sudah rindu.

August 23, 2011

Fondasi

Kita sedang membangun fondasi.

Harus sabar dan tak boleh menyerah.

Bahan bakunya beraneka rupa – ada sekaleng cinta, sekardus peduli, dan sekarung rasa percaya. Agar berpadu, kau tak boleh ragu. Kualitas itu bisa diramu, percaya saja pada waktu. Kadarnya pun jangan berlebihan, jangan pula kekurangan – sesuai komposisi hatimu agar kokoh dan menyatu.

Selapis dan selapis kita membangun fondasi. Tak perlu terburu-buru, yang penting kau nyaman dan kita menjalaninya tanpa beban. Mungkin butuh satu hari atau satu bulan untuk menambah batu bata baru – dan kita rekat dengan rindu yang begitu kuat hingga melekat. Boleh kau hias juga dengan senyum dan kecupan di permukaannya – agar tak melulu abu-abu dan membuatmu menangis karena sendu.

Kita sedang membangun fondasi.

Memang tak mudah – jangan kau tinggalkan sebelum mencoba bertahan.

Terkadang mungkin hujan membuat bangunan kita keropos, tapi jangan biarkan – mari kita cari tahu lalu tambal lagi pelan-pelan. Juga angin yang menggodamu untuk berpaling, tak perlu kau hiraukan – ingat saja berapa banyak kenangan yang sudah kita tanam dan waktu yang kita habiskan untuk jatuh cinta lalu bangun lagi dan sadar untuk berkali-kali bahwa aku, kau, memang selayaknya berdiri bersisian dan menjadi satu-satunya pilihan Tuhan.

Di sini kita akan terjaga – membantu saling menjaga.

Hingga saatnya fondasi kita sudah sedemikian tebal – tanpa rasa sesal – setebal keyakinanmu untuk aku, untuk hidup bersamaku, dan belajar menjadi dewasa, memupuk jiwa, lalu mencipta bahagia.

Belum berakhir, sayang. Fondasi kita sudah cukup kuat bukan? Mari mulai membangun dinding dan atapnya, juga pintu dan jendela. Warnanya terserah kau saja. Jangan lupa dapurnya – agar kita bisa menyantap roti bakar bersama juga secangkir teh di setiap senja – membunuh lelah.

Sambil jatuh cinta lagi.

Setiap hari. Berkali-kali. Pada satu nama. Pada orang yang sama.

August 11, 2011

#3 Self Note

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – setelah belasan jam berada di tempat yang sama lalu bertemu orang-orang yang sama lalu pulang dalam keadaan lunglai, tidur, bangun lagi, berpacu dengan waktu lagi, lalu tidur lagi – rasanya aku sering tidak siap untuk menghadapi siklus yang statis ini.

Seseorang bilang bahwa ini adalah fase dimana hidup sudah tak lagi hangat dan ramah – mencari teman baik semakin sulit juga waktu yang tersedia untuk diri sendiri atau orang-orang yang dicintai juga ikut menipis.

Entahlah – lagi-lagi menurutku ini masalah fase – mungkin juga efek kelelahan yang sangat atau rasa rindu yang coba ku tahan atau mungkin pergolakan batin yang membuat ingin kian memberontak – dan beralih aku baik-baik saja dengan semua ini.

Kenapa sudah pagi lagi? Kalimat ini yang dominan kukatakan sebelum matahari terbit dan menghalauku lari terbirit-birit – satu hal saja ada yang mengganggu seperti pakaian kusut yang harus disetrika ulang atau tas yang belum dibereskan – sudah membuatku frustasi sesaat.

Istilahnya, jika disenggol sedikit saja dalam keadaan ini, lantas berubah jadi air mata – mungkin.

Sekarang aku mengerti mengapa kaum urban cenderung menjadi skeptis, egois, dan eksklusif. Dan aku harus belajar percaya bahwa sikap itu tak mengapa – sesekali, toh orang dewasa harus tahu apa yang membuatnya bahagia.

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – dan aku merasa lebih tua dari usiaku. Lalu mengeluh begini begitu yang tak perlu, sedih sendiri selalu, seperti kehilangan sesuatu.

Aku sungguh harus memperbaiki sujudku, syukurku, sabarku. Aku kangen Tuhanku dengan setangis-tangisnya kerinduan. Mungkin itu.

Memang itu. Itu yang hilang.

August 9, 2011

Cantik Itu Luka

"Saat kosmetik melapisi wajahmu, saat itulah wajahmu terhapuskan. Wajahmu jadi tiada, yang ada hanyalah kosmetik. Bibirmu tiada, yang ada hanyalah lipstick. Dan kalau kau memainkan lenggak-lenggok idolamu, saat itu lenggak-lenggokmu hilang menguap bersama citra idolamu. Saat itu, dirimu dikuasai oleh sesuatu di luar dirimu untuk menjadi seseorang selain dirimu"
(Jean Bauldrillard - filsuf Perancis)


A woman is often measured -

by the things she cannot control.

She is measured by the way her body curve - by where she is flat or straight or round.

She is measured by 36-24-36 and inches and ages and numbers - by all the outside things that don’t ever add up to who she is on the inside.

And so if a woman is to be measured, let her be measured by the things she can control - by who she is and who she is trying to become.

Because as every woman knows, measurements are only statistics.

And statistics lie.
(Source: imgfave.com)


Dan pada hakikatnya - kecantikan sejati itu sungguh tak terletak di wajahmu, sebab kecantikan adalah cahaya dalam hatimu.

Jika tidak, selebihnya luka.

Patahan #12

"Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang menjadikan kesendirian sebagai sebuah pilihan " - status. Patahan keduabelas.

Kutipan Novel: Yang Galau Yang Meracau

Yang Galau Yang Meracau – Curhat (Tuan) Setan adalah buku terbaru Fahd Djibran setelah A Cat in My Eyes yang menjadi salah satu favorit saya. Buku ini menyajikan prosa-prosa yang memainkan peran kegalauan manusia untuk mempertanyakan konsep-konsep berkaitan dengan setan, cinta, dan Tuhan dilengkapi dengan lirik-lirik lagu dan kutipan-kutipan quote yang memberi jiwa pada kisah-kisah di dalamnya. Seperti biasa, berikut adalah beberapa kalimat indah yang saya temui dalam buku tersebut:


1 Pemberitahuan
:Tuhan mencolek Anda di facebook

Colek kembali

Abaikan
(Di Suatu Subuh)


Alivya,
Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Selanjutnya, setiap orang selalu butuh teman untuk berlayar, Alivya. Itulah sebabnya aku butuh kamu, seseorang yang akan menemaniku berlayar, melacak jejak “pulang”… Menuju sorga…
(Perahu Kertas)


Kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan.
(Ziarah ingatan)


Jadi, Alivya, itulah sebabnya kukatakan kepadamu: bagiku, kaulah perempuan paling sempurna yang kumau… Sebab mencintaimu, menggenapkan seluruh hidupku.
(On “Complete and Perfect”)


Kalau saat itu datang padamu, Sayangku, mungkin aku sudah sangat tua dan rapuh dan terbaring lemah di tempat tidurku atau barangkali aku sudah tiada. Berbaik hatilah, jangan biarkan aku merana, segeralah jawab pertanyaanku: Apakah kau masih mencintaiku?
(Lagu Malam (2))


Tuhan yang maha baik,
Kami melewati masa kecil bersama, tumbuh bersama; demi jutaan tanggal dalam kalender, demi ribuan purnama yang akan kami lewati bersama, selebihnya berilah kami satu kekuatan saja: saling mencintai sampai mati. Itu saja.
(Pernikahan)

Patahan #11

"Ayolah bicara – terlalu banyak toleransi dan bilang ‘tidak apa-apa’ itu berbahaya" - It's okay. Patahan kesebelas.

August 8, 2011

Puding Buah

Mengenalnya itu seperti menikmati semangkuk puding buah dengan mata tertutup.

Kau hanya tahu bahwa yang tersaji di hadapanmu itu puding buah. Dan kau suka. Lalu kau dengan senang hati bersedia menyantapnya.


“Hmmm” gumammu di suapan pertama – puding strawberry meleleh di lidahmu.

Ini perasaan yang indah, bukan? Lalu kau mengangguk untuk suapan kedua.

Kau kaget – ada vla vanilla yang menggeliat di sendokmu.

Hei, dia tak bisa ditebak – tenang tapi memberi kehangatan. Damai yang dibawa kebahagiaan dalam diam dan kejutan yang tak terbaca dari mula menyapa dan komitmen dengan jawaban ‘ya’.

Suapan ketiga, keempat, kelima seterusnya.

Ada buah-buah segar mengendap di dasar puding yang berdansa di mulutmu – cherry, nanas, jeruk, mangga – manis, dan asam sebagian tak mengapa.

Asam, berarti kau harus menambah sabar – karena mengenalnya tak sebatas mendapati bagian manis hidup saja bukan? Atau sekedar menelan satu dan dua sendok puding buahmu saja bukan?


Mengenalnya itu seperti menikmati semangkuk puding buah dengan mata tertutup.

Dan aku bersyukur karenanya.

Patahan #10

"Aku menciptakan banyak mimpi, lalu aku pula yang mematahkannya" - mimpi. Patahan kesepuluh.

August 1, 2011

Patahan #9

"Sesekali ada baiknya aku hilang. Hanya untuk mencari tahu bahwa kau masih tetap baik-baik saja tanpa aku" - ego. Patahan kesembilan.

Patahan #8

"Aku ingin belajar menjadi cantik dengan sebenar-benarnya cantik, yakni menghargai diri sendiri dengan sebaik-baiknya penghormatan" - cantik. Patahan kedelapan.

July 22, 2011

Dream. Dream. Dream.

Someday. Someway.

Why do you love England?

Because i just love it. That's it.

Patahan #7

"Persahabatan kita tidak sebatas putaran roda dan lokasi di peta bukan?" - air mata selepas penempatan. Patahan ketujuh.

Patahan #6

"Kesepian dan kesedihan itu mungkin tak nyata, tak sungguh ada - hanya permainan pikiran semata. Apakah perpisahan juga begitu adanya?" - imaji. Patahan keenam.

Patahan #5

"Rindu adalah sejenis karena yang menaklukkan semua walaupun. Juga semacam jawab di letupan tanda tanya yang tak butuh lagi alasan menyerupa. Rindu. Itu saja. Cukup" - rindu. Patahan kelima.

Patahan #4

"Mana yang lebih penting? Sekarang sudah tidak ada lagi bedanya antara hidupku dan hidupmu. Ini hidup kita - kau dan aku sama pentingnya" - kita. Patahan keempat.

Patahan #3

"Tak perlu kau lakukan itu hanya karena takut aku marah dan kecewa. Itu setara pedih yang warnanya merah muda. Lakukanlah karena kau memang ingin melakukannya." - pedih. Patahan ketiga.

Patahan #2

"Jika definisi rumah adalah tempat dimanapun ada kamu dan ada aku, maka aku selalu menantimu untuk kembali. Kesini, kembali pulang. Kapan saja" - rumah. Patahan kedua.

July 21, 2011

#2 Self Note

I’m 21 and rebel-minded.

Counting on the days – and it feels like many things that I’ve never had and experienced to.

Envy to the earth, huh?

That’s what we call as reality – when we had no control to our childhood – no chance, no support, and no right to say what you really wanted.

I’m 21 and rebel-hearted.

In this – too late – age, I really have big desire to do every amazing things that I’ve never got through. I want to join dance class (seriously), foreign language class, or music class. And then i wish I could ride bicycle around the town, swim with no fear, and travel alone – without being terrified and mistrusted.

I’m 21 and normal. So let me do it now – because the biggest regret ever comes when you have no willingness to try, doesn’t it?

And it's dangerous - you've never grown up.

July 18, 2011

Patahan #1



"Aku mencintaimu dengan terlalu boros dan serakah agar tak mungkin tersisa untuk yang lain mencinta" - hati. Patahan pertama.





*patahan adalah proyek menulis baru setelah proyek 7 Hari Menulis Prosa - mengungkapkan kata-kata sederhana yang tak terungkap hati dan tak tergapai telinga*

Happy Birthday, Edelweiss! :)

15 Juli 2009.

Postingan pertama dari blog ini pun diterbitkan. Dan dari sekian hari yang terpatri, sang kata-kata pun menemukan jati diri – bahwa inilah dia. Dia – blog ini semacam refleksi.

Dan biarlah blog ini menjadi jejakku – seorang gadis yang sering mendramatisir keadaan dan mubazir perasaan – tapi belajar menemukan kekuatan. Dan dari setiap kesalahan-kesalahan yang terekam, pengalaman-pengalaman manis sejak kuliah, magang, bekerja, dan fase yang tidak pernah diketahui bagaimana akhirnya – blog ini membantuku belajar dewasa, mencintai hidup, tertawa dan menjadi lega, belajar mencinta dan mencerna bahwa hidup adalah tetap menjadi baik-baik saja melebihi apapun yang kau terima.

Terima kasih buat yang telah menjadi pembaca setia blog ini, bersimpati, dan yang jatuh cinta padaku melalui huruf, titik, dan koma – juga buat orang-orang hebat yang aku temui, gadis-gadis penulis yang baik hatinya dan blogger-blogger hebat yang tak sungkan untuk menyapa – setiap hari aku membaca dan belajar dari kalian semua. Sehingga edelweissku bisa bertahan, tumbuh, dan mekar di tamannya – taman ini yakni taman kata-kata – tempat berteduh sejenak saat hidup tak lagi ramah dan hangat. Tempat memanggang kesedihanmu tanpa perlu menunjukkan air mata. Dan pada akhirnya kau belajar bahwa hidup itu nikmat walau sulit pada awalnya.

Selamat melanjutkan kisahmu, tamanku sayang :)

*dan lezatnya eskrim meramaikan hikmatnya hari itu :)*

#3 Jleb!

Skenarionya sih jalan-jalan weekend ini mau tampil beda. TOTAL!


Him: “Kayaknya ada yang beda nih”

Me: “Apanya?” *pura-pura nggak tahu*


Bermenit-menit kemudian…


Him: *tetap ngeliatin aneh*

Me: *salah tingkah*

Him: “Pake apa itu di mata?”

Me: “Ya ampun ini kan warna cokelat, dan cuma tipis doang. Huhuhu, ini baru kedua kalinya aku pakai begini”

Him: “Lebih cantik natural aja :)”


JLEB!


*Buru-buru ke toilet dan cuci muka*


Karena TOTAL adalah tampil apa adanya. Dan ini yang lebih baik :)



Kesimpulan: Man hates eye-makeup :| - okay specifically, my man!

July 14, 2011

Palembang!

Alhamdulillah, bulan ini dapat kesempatan kedua lagi untuk menyeberang ke Pulau Sumatera. Kali ini dalam rangka monitoring hibah air minum AusAid, dan gilirannya saya ke Palembang! :)

Kesan pertama saya mengunjungi Palembang adalah panas! Hoho, tapi atmosfernya sangat nyaman. Setelah berkunjung ke PDAM Tirta Musi dan Pemkot Palembang, nggak lengkap rasanya kalau belum mengintip Jakabaring – yang akan jadi lokasi Sea Games tanggal 11-11-2011 nantinya. Semoga bisa selesai tepat waktu karena masih sangat banyak konstruksi yang harus dibenahi. Mulai dari galian di sepanjang jalan dan pipa-pipa yang dibongkar dan harus direlokasi, juga venue dan stadion yang masih harus dibangun. Dan, saya sempat jepret Wisma Atlet yang akhir-akhir ini jadi kasus anyar itu lho! :P

*Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring - mukanya udah capek :P*

*proyek Wisma Atlet*

Berhubung di Palembang hanya 1 hari, saya sempatkan jalan-jalan di malam harinya dan mencicipi tekwan Sudi Mampir yang letaknya beberapa metel dari Hotel Graha Sriwijaya – tempat saya menginap dan dari kantor Pemkot yang gemerlap di malam hari. Hmm, nyammy dan hangat! Setelah itu, dilanjutkan dengan jalan kaki ke Benteng Kulo Besak – tempat nongkrongnya masyarakat sambil ngelihat keindahan Ampera dari jauh. Ampera di malam hari cukup indah, yah, seandainya saja sungai Musi yang menjadi icon Palembang ini juga bisa lebih terjaga. Katanya sih Palembang ini kota air, nggak akan pernah kehilangan air – tapi kebersihannya yang kurang menyebabkan sering kesulitan akses air bersih. Noted!

*kantor Pemkot di malam hari*


*Amperaaa*

But, after all, Palembang is quite nice. I love it! Now, back to Jakarta! :) *dadah dadah*