November 30, 2010

#3 Benang Merah

Diam di tempat. Setelah kisah petang...

Bolehkah aku menyalahkan gelombang?
Materi yang tak terlihat tapi dengan sebegitu beraninya mempertemukan aku dan kamu dalam waktu dan ruang.
Sepertinya tidak.

Lalu, bolehkah aku menyalahkan gravitasi?
Dia yang telah menarik aku dan kamu dalam satu titik – dalam satu fase. Lalu mendorong kita jatuh ke titik ini. Ke sebuah relung.
Tidak, tidak boleh.

Karena tidak ada gunanya menyalahkan, aku memilih untuk membenarkan. Membenarkan pertemuan, tawa, kegundahan, air mata, dan kepercayaan yang engkau pilih untuk dibagi bersamaku. Membenarkan benang merah yang kupilin perlahan dan semakin kusut, kusut, dan terburai di pertengahan. Dan membenarkan bahwa semua serpihan asa yang engkau sebarkan di sepanjang jejakku bukanlah sampah.

Tapi petunjuk agar aku dapat berjalan pulang. Menyediakan ruang yang nyaman untuk kuhuni di hatimu.

Aku bergidik. Tertawa tertahan. Dipaksa oleh kebimbangan.

Mungkin aku boleh menyalahkan pagar hatiku yang terlalu rendah. Lalu kubangun pelan-pelan dinding beton di sekelilingnya dengan lubang kecil di depan pintunya agar aku bisa mengintipmu dari dalam.


Rasanya sesak sekali. Sakit. Sakit.


Dinding beton itu menggergaji hatiku perlahan. Menekan rongga dada hingga hampir lepas dari fondasinya.


Sakit.


Sakit. Tapi aku puas.


Selesai. Kutambah dua buah lubang di sisi dindingnya. Tak bisa pura-pura. Aku tetap ingin memandangmu.

November 29, 2010

Kutipan Novel: The Alchemist

Berikut adalah beberapa nasihat indah dari buku The Alchemist karya Paulo Coelho yang saya kutip karena sarat dengan pembelajaran tentang takdir, kebahagiaan, cinta, dan pemahaman atas suara hati. Sebuah kisah sederhana yang indah dan menjadi inspirasi bagi banyak orang ^^





TENTANG TAKDIR

Apakah gerangan dusta terbesar itu?
Beginilah dusta terbesar itu: bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu.

Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.

Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.

Memang begitulah selalu. Itu namanya hukum keberuntungan. Orang yang baru pertama kali main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula.
Kenapa begitu?
Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.

***

TENTANG KEBAHAGIAAN

Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu.

Hari ini aku belajar memahami sesuatu yang dulu tidak kusadari: setiap berkah yang tidak kita hiraukan, berubah menjadi kutukan.

Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah ini ditulis oleh tangan yang sama.

Dan kalau kau tak bisa mundur lagi, kau hanya perlu memikirkan cara terbaik untuk maju terus. Selebihnya terserah pada Allah, termasuk bahaya yang mungkin mengintai.

Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkosentrasi hanya untuk saat ini.

***

TENTANG CINTA

Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati… bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia.

Jangan katakan apa pun. Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.

“Apakah cinta?” tanya padang pasir.
“Cinta adalah burung elang yang terbang melintasi pasirmu. Sebab bagi burung itu, engkau padang rumput tempat dia mencari makan. Dia mengenal batu-batu karangmu, bukit-bukit pasirmu, dan gunung-gunungmu. Dan engkau selalu murah hati kepadanya”.

Inilah yang namanya cinta. Kalau kau dicintai, kau jadi bisa menciptakan apa pun. Kalau kau dicintai, kau tidak perlu memahami apa yang terjadi, sebab segala sesuatu terjadi di dalam dirimu, dan bahkan manusia pun bisa mengubah dirinya menjadi angin. Asalkan angin membantunya tentu.

Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan, seperti yang kau lakukan.

***

TENTANG SUARA HATI

Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya.

Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.

Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?
Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.

***

#2 Kisah Petang

Dan aku pun mundur beberapa langkah menuju fase itu. Petang. Sebuah etape sebelum hampa...

Aku tergila-gila dengan Matematika. Karena dia begitu pasti. Konsisten. Rumit dalam kesederhanaannya. Persis aku. Dan sederhana dalam kerumitannya. Persis kamu.

“Dalam hidup, jangan terlalu banyak berteori. Jalani saja sesuai skenario yang dipilihkanNya untukmu. Karena dalam hidup tak ada yang pasti – bahkan hukum Newton III sekalipun”. Kamu pernah berkata kepadaku demikian.

“Ada yang pasti. Logika itu pasti. Dia jadi labil ketika bermain-main dengan perasaan”, jawabku.

“Yang pasti itu hanya perubahan. Hidup itu bukan bilangan yang bisa kau prediksi sesukamu. Bukan seperti Matematika yang menjadi ambisimu karena satu alasan: pasti. Jika memang demikian, jelaskan padaku apa artinya tak terhingga”

Aku diam saja. Malas berdebat.

“Jika satu bagi nol sama dengan tak terhingga. Dan dua bagi nol juga sama dengan tak terhingga. Maka tak terhingga kali nol adalah satu, dan bisa juga dua. Apanya yang pasti?”

Langit sudah mulai merah. Tapi kita masih duduk di balik bukit dengan bunga-bunga liar yang berayun-ayun mengantuk. Mungkin bosan mendengar pembicaraan yang itu-itu melulu. Tapi tidak denganku. Aku menikmatinya. Seperti angin yang mengayun-ayun bunga liar itu. Mereka pun menikmatinya.

“Nol itu angka manusia. Hampa. Aku menganalogikan pembagian itu seperti cinta. Seberapapun besar cinta yang engkau bagi pada kehampaan hasilnya sama. Rasa sakit yang tak terhingga”

“Teori baru lagi?”. Lalu kamu pun menertawai pipiku yang merah. “Berarti rasa sakit yang tak terhingga jika didampingi dengan kehampaan bisa menghasilkan cinta kan? Inversnya begitu?”

Aku terperangah. Seperti angin yang terperangah ketika bergesekan dengan rerumputan. Logikaku sungguh tak pernah sampai ke sana. Gigiku ngilu. Malu.

“Tapi aku benci ketidakpastian!”

Aku mencabut bunga-bunga liar yang tadi terkantuk-kantuk dininabobokan angin. Lalu kami pun diam. Lagi. Diam yang entah keberapa kalinya karena hal yang sama.

November 28, 2010

#1 Hampa

Hampa itu aku.
Menunduklah sedikit dan lihat ke dalam dadaku. Hatiku seperti selongsong kosong tak berupa. Ditelanjangi oleh sebuah nama yang bernama kehilangan. Yang kau curi lagi. Remuk. Tepat setelah selesai kau perbaiki. Lengkap dengan jarum jahit yang kau jelujurkan dengan rapi tapi lupa kau cabut kembali. Meninggalkan lubang yang teronggok bersama penghuni baru yang tak ingin kukenal: sebongkah kenangan.

Sebongkah kenangan. Yang tega menggerogoti lukaku seperti belatung. Layaknya padang ilalang yang disetubuhi oleh belalang. Layaknya debu – halus – tapi membuatku buta. Adakah pisau yang lebih tajam untuk membunuhku selain kenanganmu, sayang?

Hampa itu aku.
Berjinjitlah sedikit dan tatap jauh ke dalam mataku. Apa yang kau lihat? Kamu. Bukan, bukan kamu. Aku hanya sedang melihat pelangi yang warnanya keunguan. Tapi ini malam hari, tak ada matahari, tak ada hujan. Hanya ada rembulan dan sang bintang fajar yang menyapa langit malu-malu. Persis kamu. Ya, kamu.

Lalu apa itu hampa? Hampa itu aku. Bukan, bukan aku. Tapi sesalku.

Aku yang membiarkan sang hati remuk. Bukan kamu.

Aku yang mengizinkan sang jarum bertengger di situ. Bukan kamu.

Dan aku yang semena-mena mengganti namamu dengan kehilangan. Bukan kamu.

Lalu apa itu hampa? Hampa itu memang sesalku. Yang menarik kenangan jauh lebih awal dari tempatnya bersemayam. Yang harusnya tak pernah ada. Belum. Jangan. Aku tak mau. Sungguh.

7 Hari Menulis Prosa

Terinspirasi dari proyek 30 Hari Menulis Puisi dari Theoresia Rumthe, ajakan dari Fiqah Faradhiba, dan beberapa pihak yang mendesak (sok ngartis :P), saya pun berkeinginan untuk melakukan hal yang sama. Lumayan, sekalian menghidupkan passion selepas kendali rutinitas. Tapi karena 30 hari untuk saya masih terlalu ‘wah’, hehe, dan saya tidak ahli dalam menulis puisi, maka saya mempersingkat proyek ini menjadi 7 hari (pake nawar, hehe). Tepatnya, 7 Hari Menulis Prosa.

Tema prosa ini tidak jauh-jauh dari kompleksitas, patah, dan cinta yang saya bangun dengan alur maju mundur. Setiap harinya akan ada 1 prosa baru yang saya terbitkan di blog ini. Jadi, insya Allah cerita akan berakhir dalam seminggu. Semoga saya tetap konsisten yah!

Mohon dimaklumi ya kalau prosa-prosa ini masih berada dalam level jauuuuh dari layak. Hehe. Insya Allah akan terus belajar untuk memperbaiki harmonisasi rasa dan kata. Tetap mampir ke taman edelweiss yah dan nantikan 7 prosanya! Hayuuu yang mau ikutan bikin proyek yang sama, mari kita saling menginspirasi! :)

Selamat membaca ^^

November 27, 2010

Burung-burung Kertas

"Jika seseorang membuat 1000 burung kertas, maka keinginannya akan terkabul"


Mitos klasik Jepang itu memang selalu hidup. Boleh percaya juga boleh tidak, namanya juga mitos. Burung kertas ini atau yang biasa disebut crane, baik di cerita ataupun di pandangan orang-orang, memang selalu identik dengan ketulusan dan impian. Dulu, waktu saya masih di kos-kosan, saya sering melipat burung-burung kertas ini untuk mengusir kesepian. Lalu burung-burung itu dikumpulkan di dalam toples, atau disebarkan di atas meja belajar, ditempel di styrofoam, dan digantung di langit-langit kamar. Indah sekali, apalagi saat bergerak-gerak tersentuh angin lembut dari jendela ^^

Terinspirasi dari proyek 1000 burung kertas di www.1000cranemission.com dan kegejean di malam Minggu, maka saya pun ingin membuat burung-burung itu lagi. Tidak perlu banyak-banyak, cukup 3 buah saja dengan 3 kata persembahan di sayapnya: Happiness, Bless, and Love.


Tiga buah burung-burung kertas ini saya hadiahkan buat orang-orang yang saya cintai di manapun mereka berada: semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan, keberkahan, dan cinta.

Burung-burung kertas ini memang tidak bisa terbang. Sayapnya pun sangat kaku dan tak bisa mengepak. Tapi, tidak dengan harapan yang dibawanya: dia akan melesat masuk ke dalam hidupmu, beralih tepat dari hatiku ke hatimu :)


Happy making cranes, guys! :)

Kutipan Novel: Malaikat Jatuh

Dikutip dari sebuah Novel karya Clara Ng - Malaikat Jatuh, dan salah satu bagian yang saya suka dari novel ini adalah beberapa baris puisi dari Pablo Neruda, Soneta XVII yang tersebar di cerita berjudul Istri yang Sempurna. Memang sempurna melengkapi tulisan Clara Ng yang selalu indah ^^



***




Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar, atau topas, atau panah anyelir yang membakar. Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam di sela-sela bayangan dan sukma.

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar, dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya, dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam di dalam diriku.


Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai seperti ini karena tak ada cara lain untuk mencintai.


Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.

***

November 24, 2010

Sepercik Kisah dari Jalanan #1

Kemarin, saat saya pulang kantor, seperti biasa lanjut naik Metro Mini 53 dari Kampung Melayu. Alhamdulillah, kali ini ada tempat duduk yang tersisa karena biasanya Metro Mini ini selalu langsung diserbu saat muncul. Nah, tidak beberapa lama, seorang bocah pengamen masuk dan duduk di kursi yang kosong lainnya - tepat di seberang kursiku. Bocah itu kelihatan belum tamat SD, tampak kumal sekali, tapi wajahnya menyeramkan (-___-“). Dari balik kursiku, dua orang gadis berbisik-bisik, “Nah ini nih pengamen yang waktu itu. Lebih baik kita beri saja kalau dia minta, entar dapat masalah”.

Aku mengamati bocah itu. Dia menyanyikan lagu-lagu ST 12 yang nggak tuntas dan nadanya ngawur, lalu memulai aksinya. Dia meminta dengan paksa ke setiap penumpang – walaupun demikian ada yang mau memberi , ada pula yang tidak. Tadinya aku takut juga, tapi karena tiba-tiba ada pukulan keras di bahuku (sakit banget ternyataaa), dan yang melakukan adalah bocah itu – oh noooo! Syukurlah dia nggak macam-macam lagi, karena dua orang ibu-ibu yang duduk di barisan paling belakang malah jadi korban kata-kata tidak sopan dari bocah yang seharusnya belum bermoral jalanan seperti itu. Masih kecil saja sudah membuat orang-orang mati kutu, apalagi saat dewasa nanti :(

Satu potret generasi yang menyedihkan. Dia hanya satu dari sekumpulan yang lainnya. Kadang aku merasa itu bukan hidup yang dia pilih, lingkungan yang membentuknya. Kemana orang-orang yang seharusnya mendidiknya? Akankah dia seperti ini terus sampai dewasa nanti?

Metro Mini melaju. Satu hal yang langsung aku lakukan saat itu: bersyukur dengan hidupku.

I Miss You, Mom :)

Mama, kemarin tiba-tiba aku kangen. Sangat. Aku melihat gadis-gadis sebayaku jalan berdampingan dengan ibu mereka, bercanda dan tertawa. Saat itu aku sendirian, dan kapalaku langsung dipenuhi oleh wajahmu yang sendu.

Mama, aku ingin dipeluk oleh pemilik tangan yang paling hangat dan menyembuhkan. Tangan itu milikmu. Peluk aku dari jauh ya Ma. Peluk aku selalu dalam doa dan harapan. Agar aku bisa menghidupkan mimpiku, mimpimu, mimpi kita.

Mama, terima kasih buat telingamu yang budiman. Buat kebesaran hatimu yang selalu menghadiahkanku pemahaman. Jika ada benda yang kuinginkan saat ini, aku ingin pintu ajaib Doraemon: agar aku bisa sebebasnya mengunjungimu, menagih pelukmu, lalu kita bicara dalam manisnya dua cangkir teh yang melebur rindu.

Aku kangen Mama. Dan aku tahu, Mama kangen aku juga. Selalu :)

November 23, 2010

Harta Karun dalam Kardus

Aku baru saja membongkar kardus-kardusku yang berisi memori dan aset selama menghuni kos-kosan di Rumah Kuning Jurang Mangu. Membuka kardus adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup, karena kita bisa menemukan banyak benda yang bahkan mungkin kita lupa kalau kita pernah punya, dan mengumpulkan kembali banyak kenangan yang membuat kita terjun bebas lagi ke masa lalu – dan membawa kembali benda-benda lucu itu saat ini – walaupun hanya sekedar pin lucu, boneka kayu, pensil warna, ataupun guntingan foto hasil photobox. Dan yang saya temukan adalah satu bundel print out kertas A4 dengan tebal sekitar 250 halaman – yang notabene jauh lebih tebal dari laporan PKL saya. Wew. Covernya biasa saja – hanya ada satu kata dengan font Arial Black warna hijau.: DILEMA. Masterpieceku di masa SMA :D


Masa SMA itu benar-benar penuh mimpi dan passion ya. Suatu masa di mana saya sangat mempercayai mimpi dan menganalogikan hidup sebagai eskrim – perpaduan dingin dan manis. Klise sekali. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menjadi gadis yang pemimpi – tapi gadis yang lebih realistis – yang menikmati dan menerima coretan-coretan dari langit dan hadiah dariNya apa adanya. Karena inilah hidup yang sebenarnya.

Masa SMA memang masa mengumpulkan puzzle diri karena sesungguhnya hidup belum dimulai saat itu - kita hanya memasang label startnya, menyiapkan energy untuk berlari, dan mencari sepatu yang pas untuk benar-benar bisa berlari.

Ya, Dilema. Novelku yang pertama yang kuselesaikan dalam waktu 2 bulan – salah satu ambisiku sebelum berusia 17 tahun. Setiap malam setelah mengerjakan PR aku secara konsisten menyelesaikan halaman demi halaman hingga mama memadamkan semua lampu (dan muncul penampakan yang membuatku trauma, ini serius -___-“) dan seharian penuh di depan computer jika hari libur. Walaupun tema novel itu hanya berupa kisah percintaan remaja standar (yang tidak sama sekali pernah dirasakan penulisnya), persahabatan, kompetisi, keluarga, lengkap dengan cowok misterius yang cool (sinetron banget), dengan gaya bahasa gue elo (yaelah -__-“), cewek cerdas penuh pesona, cewek jutek, cewek centil, cewek cupu, haha, but for real, saya banggaaa banget, setidaknya bisa menghasilkan sesuatu.

Ambisi itu muncul ketika saat itu lagi rame-ramenya novel Teenlit yang digandrungi oleh ABG (dan saya pun ikut-ikutan suka) seperti Fairish, Backstreet Aja dan Dealova eh akhirnya pingin nimbrung tenar juga. Pingin jadi penulis! Inspirasi buat berani nulis muncul setelah baca teenlit Cinta Adisty yang ditulis oleh Gisantia Bestari saat usianya baru 12 tahun. Wew, masa saya ga bisaaa? Berkat nekat coba-coba nulis novel itu –saya mulai belajar menulis pertama kali, belajar memahami bagaimana mengharmonisasi kata dan rasa dalam sebuah tulisan. Karena menulis adalah kebutuhan yang dimulai dari kebiasaan. Walaupun hasilnya, novel saya ditolak oleh dua penerbit, tapi ya udahlah, saya sadar tulisannya masih standard banget dan saya simpan sendiri aja buat aset pribadi anak cucu nanti. Hehehe. Sebenarnya pingin bisa benar-benar punya novel sendiri yang memenuhi kualitas buat dipublish, saya pun bikin lagi tema baru (yang ngga sinetron banget), judulnya Kisah Sepiring Gado-gado. Tapi di tengah-tengah cerita, kok saya jadi ilfeel sama ceritanya. Akhirnya nggak dilanjutin deh T___T

Heran yaa, dulu itu kalau ada kemauan, kekeuuuh banget. Pingin jadi penulis, usahanya total. Mulai dari ngumpulin info-info tentang sayembara penulis remaja, rajin beli buku tips-tips nulis dan nerbitin buku, ikutan seminar-seminar, sampai konsisten bisa nulis 5 halaman per hari. Tapi kok sekarang nggaaak T___T (syukurlah masih bisa nulis blog). Trus, pingin bisa beli novel mahal-mahal, Harry Potter contohnya, sampai nabung habis-habisan dan langsung habis dibaca sampai nggak ingat mandi, makan, nonton, tapi sekarang kok nggaaaak T___T (buktinya masih banyak buku dalam kardus yang belum sempat tuntas dibaca).

Walaupun kuantitas menulis dan membaca saya sekarang tidak seperfeksionis dan seekstrem dulu, tapi sekarang saya lebih milih-milih kalau mau baca – lebih suka sastra Indonesia yang bahasanya baguuuus banget, bisa bikin nangis (padahal dulu nggak suka) dan buku-buku pembangun jiwa lainnya. Seru rasanya ya mendengar gesekan kertas di jari, merasakan aroma buku baru dan lama yang khas banget, dan menyisipkan bookmark di halaman terakhir yang kita baca.

Oh iya, kendala lain yang saya rasakan sekarang kalau saya baca buku yaitu kalimat yang saya baca berbeda dengan yang seharusnya tertulis di situ, dipelototin gitu doang, atau yang saya bayangkan lari banget dari cerita di situ, jadi harus dibaca ulang. Pikiran sering campur aduk sih. Haaaaah T_____T

Saya simpan lagi Novel Dilema ini dalam kardus, karena membaca tulisan sendiri rasanya ga siap mental – malu malu gimanaaa gitu *red face* hihi

November 21, 2010

The Key

Kita adalah jumlah total pengalaman kita, yang berarti kita dibebani masa lalu kita. Ketika kita mengalami stres atau ketakutan dalam kehidupan kita, jika kita mau mencermatinya, kita akan menemukan bahwa penyebabnya sebenarnya adalah sebuah kenangan – Mornah Simeona.




Because the past is a good place to visit, but not to live.

Bingkai

Kaku, sempit, tergantung di sudut ruangan. Jika kau beruntung, kau bisa ditempatkan sedikit lebih mencolok, di ruang tamu atau ruang keluarga. Dengan kayu mengkilat, sedikit ukiran emas, ataupun perak. Lalu terselubung kaca tipis yang mendesakmu tegak berdiri di dalamnya.

Jika pemilikmu berhati besar, mungkin dia menempatkanmu sedikit lebih rendah. Di sofa, tempat tidur, atau meja belajarnya. Lalu dia mengecupmu sesaat, memandangmu beberapa kali, atau melemparmu tanpa kendali. Tapi kau tetap saja berdiri di situ. Meregang. Diam.

Kau ini cantik. Penuh pesona di antara warna-warni dinding yang tua dan muda. Tapi tetap saja kau tak bahagia. Karena kau hanya bisa berdiri di sana, memuaskan banyak orang dengan kekakuanmu, menyakiti batinmu sendiri di ruangan sempit itu. Diam. Tak punya hak untuk mengambil keputusan.

Bagiku kau adalah analogi untuk ketidakberdayaan. Kau adalah keindahan yang terpenjara oleh gagah dan sempitnya pola pikir lingkunganmu. Jika kau beruntung, kau akan dipandang sesekali, dikagumi, lalu diabaikan lagi. Tak lelah ya kau tersenyum di sana?

Jangan undang aku lagi ke tempatmu ya. Karena aku sudah memilih hidup di sini. Di alam semestaku dengan bahagia. Dan aku telah mengganti bingkai kacamataku menjadi lebih lebar, jernih, dan tak melulu berwarna jingga.

Karena hidup itu pilihan, kawan. Biarkan kau yang memilihnya dan membentuknya. Bukan sebaliknya.

November 20, 2010

Lovable

Saya kembali teringat pada sebuah kata. Kata yang membuatku terperangah (dulu) – Lovable. Literally, lovable means having characteristics that attract love or affection.

Dan beberapa bulan lalu aku menuliskan status di facebook terkait dengan itu berupa sebuah quote dari Benjamin Franklin:

"If you would be loved, love and be lovable."

Salah seorang teman, pacarnya teman tepatnya lalu berkomentar: “Lovable itu bermakna peyoratif lho sis…”

“Haaa kenapa?” komentarku balik.

“Nggak etis dan nggak bakal tuntas kalau diomongin di sini”

Dan komentar-komentar yang sama juga berdatangan.

Lalu aku bertanya-tanya apa yang salah. Dan aku pun segera menghapus status itu.

***

Saya kembali teringat pada sebuah kata. Kata yang membuatku terperangah (dulu) – Lovable. Literally, lovable means having characteristics that attract love or affection.

Dan sekarang aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Aku sudah tahu jawabnya mengapa.

Ya, lebih sakit dari rasa sakit.

November 18, 2010

In A Rush

It came over me in a rush
When I realized that I love you so much
That sometimes I cry, but I cant tell you why
why I feel what I feel inside
(In A Rush – Blackstreet)

***

Thank God, thanks for the universe, thanks for the waves, times, and abstraction that create you and me in a chance, in a harmony, in a trust, and in a concreteness: us.

I’m just a loner who doesn’t like the loneliness, but you just come and erase my emptiness.

Everytime I open my eyes, I’m not afraid anymore, because I have you and it’s more than enough.

Because the falling leaves never hate the wind, so do i. I’ll never hate you because I’ve been falling by you.

***

And after 20 years, I open my heart again. Again. Once in a life time.

November 13, 2010

Curhat Anak Magang

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda untuk bisa ‘nrimo’, yah begitu kalimat sederhananya. Oleh karena itu, aku belajar untuk tidak berekspektasi yang terlalu ketinggian, agar bisa ‘nrimo’.

Dan, dari prolog yang agak tidak nyambung itulah kisahku dimulai.

Magang di DJPK dimulai sejak 1 November 2010, alhamdulillah, tidak perlu lama-lama jadi pengangguran. Selama 2 bulan pertama saya dan delapan orang magangers lainnya akan berada di Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah – tepatnya Subdirektorat I PDRD yang menangani wilayah Sumatera.

Di minggu pertama magang adalah fase adaptasi, dimana saya harus berdamai dengan passion dan jiwa bahwa ya sudahlah – tempatmu memang di sini. Dan minggu kedua magang adalah fase menikmati – menikmati pekerjaan-pekerjaan sederhana mulai dari fotokopi, scanning, faxing, terima telpon, nganter surat, ngetik, ngeprint, disposisi, sampai ke pekerjaan-pekerjaan yang agak nyerempet ke tupoksi seperti baca UU No.28 Tahun 2009, bikin database Perda, bantuin dorong-dorong kursi kalau ada puluhan tamu yang datang, belajar bikin matriks dan evaluasi, sampai jadi asisten kasi. Pokoknya pekerjaan apapun mangga atuh – yang penting diberdayakan :D hahaha

Menikmati. Lari-lari mengejar busway di pagi hari sampai menyapa bulan dan macetnya malam. Menikmati. Bersenda gurau dengan teman-teman seperjuangan, makan siang bareng, curhat, saling memotivasi, saling merasakan merah, merah jambu, dan biru bersama. Menikmati. Pegawai-pegawai, kasi-kasi, dan kasubdit yang baik-baik dan memposisikanku seperti keluarga.

Seperti kata seorang teman, “Menikmati hal-hal sederhana adalah tangga menuju menikmati hal-hal besar dan Allah selalu memberi yang kita butuhkan. Tunggu saja kejutan dari Nya”

Yah, setiap orang memang punya kemampuan yang berbeda-beda untuk bisa ‘nrimo’, yah begitu kalimat sederhananya. Oleh karena itu, aku belajar untuk tidak membandingkan hidupku dengan orang lain, agar bisa ‘nrimo’. Bisa bersyukur. Dan bisa terus bilang, “aku cinta DJPK – cintaaaa sekali” :D

Welcome 21!

Seharusnya, tulisan ini telah diposting beberapa hari yang lalu. Tapi menurutku, tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah memori. Layaknya, sang angka tujuh yang sangat tepat waktu mengunjungi bulan November, walaupun menurutku dia masih terlalu terburu-buru.

Selamat datang angka 1, baik-baiklah berdampingan dengan kakak senior angka duamu :)

Semakin dewasa, ulang tahun tidak lagi bermakna euforia, bahkan rasanya biasa-biasa saja. Bertambahnya usia berarti bertambahnya tanggung jawab, amanah, dan kontribusi yang harus dipersembahkan untuk hidup kita. Terima kasih ya Rabb, telah memberikan aku kesempatan kembali untuk mengumpulkan kepingan-kepingan amal di dunia, menikmati udara segar, merasakan cinta dari keluarga, dan memperjuangkan segala sesuatu yang ada dalam angan dan impian ^^

Buatku, tak ada yang lebih indah dari ratusan ucapan dan doa dari orang-orang yang menghujani berkurangnya umur kita dengan harapan. Layaknya,meniup dua buah lilin di atas blackforest yang menyala tepat pukul 12 malam. Terima kasih untuk om, tante, dan sepupu tercinta untuk kejutannya. Jujur, ini pertama kalinya bagiku, karena itu aku diizinkan mengharu biru ^^

Wahai 21 – berdamailah denganku. Jangan buru-buru ya, masih banyak resolusi yang ingin aku capai selama periode ke’usiaan’mu :D

*nodding*

*shaking hand*

Aku dan Sayapku

Selama ini, aku tidak pernah tahu jika punya sayap. Atau mungkin aku yang telah lupa jika aku pernah punya sayap.

Aku melihat ke punggungku, masih ada sisa-sisa guratan patah di sana. Tak tahu karena apa.

Aku berusaha menegakkan kedua sayapku, mengepakkannya, tapi aku selalu gagal karena tidak paham caranya.

Aku ingin terbang, teman. Seperti kamu, terbang dari masa lalu.

Aku ingin menuju ke sana, teman. Melihat kehidupan dan bertegur sapa dengan angin yang malu-malu.

Tapi lihatlah sayap-sayap patahku – yang aku yakini tak ada luka di permukaannya – ternyata begitu berdarah.

Dan, butuh waktu yang tak dapat ditentukan untuk menyembuhkannya.

Jika suatu hari nanti, sayapku pulih lagi, tolonglah ajari aku menegakkannya kembali.

Janji?

Sang Biru

Merah membutuhkan sang biru agar berlembayung. Karena biru adalah realita.

Kuning membutuhkan sang biru agar menghijau. Karena biru adalah kedamaian.

Putih membutuhkan biru agar terpercik warna. Karena biru adalah kepekaan.

Langit membutuhkan biru untuk menyambut siang. Karena biru adalah harapan.

Layaknya laut yang membutuhkan biru dalam ombak keindahan. Karena biru adalah kehidupan.

Aku juga membutuhkan sang biru. Karena biru adalah kepedihan. Agar bisa mensyukuri kebahagiaan.

November 11, 2010

Random Mind

“No, you’re not”

“Why?”

“Because, it is too risky, dear. And finally, you’ll be drawn by a monster: broken heart”

“I think without either having relationship or falling in love, we always have chance to be brokenhearted”

“No, you’re not”

“But…”

But I just too envy to them who have bravery to take a risk.

Fear of risk of being broken-hearted?

I think it’s similar as not to follow a test because we know that we always have a risk to get failed, not to smile because we kow that we’re gonna cry again someday, or not to live because finally we’re all die.


But I just too envy to them who’re trusted to decide by theirs.


Because without risk or without listening to our own heart, life is like this, I guess. *Pointing to a frame, very sharp frame, and I’m trapped there*


Me and my selfish idea – sorry.