November 29, 2010

#2 Kisah Petang

Dan aku pun mundur beberapa langkah menuju fase itu. Petang. Sebuah etape sebelum hampa...

Aku tergila-gila dengan Matematika. Karena dia begitu pasti. Konsisten. Rumit dalam kesederhanaannya. Persis aku. Dan sederhana dalam kerumitannya. Persis kamu.

“Dalam hidup, jangan terlalu banyak berteori. Jalani saja sesuai skenario yang dipilihkanNya untukmu. Karena dalam hidup tak ada yang pasti – bahkan hukum Newton III sekalipun”. Kamu pernah berkata kepadaku demikian.

“Ada yang pasti. Logika itu pasti. Dia jadi labil ketika bermain-main dengan perasaan”, jawabku.

“Yang pasti itu hanya perubahan. Hidup itu bukan bilangan yang bisa kau prediksi sesukamu. Bukan seperti Matematika yang menjadi ambisimu karena satu alasan: pasti. Jika memang demikian, jelaskan padaku apa artinya tak terhingga”

Aku diam saja. Malas berdebat.

“Jika satu bagi nol sama dengan tak terhingga. Dan dua bagi nol juga sama dengan tak terhingga. Maka tak terhingga kali nol adalah satu, dan bisa juga dua. Apanya yang pasti?”

Langit sudah mulai merah. Tapi kita masih duduk di balik bukit dengan bunga-bunga liar yang berayun-ayun mengantuk. Mungkin bosan mendengar pembicaraan yang itu-itu melulu. Tapi tidak denganku. Aku menikmatinya. Seperti angin yang mengayun-ayun bunga liar itu. Mereka pun menikmatinya.

“Nol itu angka manusia. Hampa. Aku menganalogikan pembagian itu seperti cinta. Seberapapun besar cinta yang engkau bagi pada kehampaan hasilnya sama. Rasa sakit yang tak terhingga”

“Teori baru lagi?”. Lalu kamu pun menertawai pipiku yang merah. “Berarti rasa sakit yang tak terhingga jika didampingi dengan kehampaan bisa menghasilkan cinta kan? Inversnya begitu?”

Aku terperangah. Seperti angin yang terperangah ketika bergesekan dengan rerumputan. Logikaku sungguh tak pernah sampai ke sana. Gigiku ngilu. Malu.

“Tapi aku benci ketidakpastian!”

Aku mencabut bunga-bunga liar yang tadi terkantuk-kantuk dininabobokan angin. Lalu kami pun diam. Lagi. Diam yang entah keberapa kalinya karena hal yang sama.

4 comments:

wijiraharjo said...

Waw gaya bertuturnya mirip Dee khas metafora ilmiahnya mirip Andrea Hirata trus permainan alur nya khas 500 days of summer.. Tapi dibalik itu, perasaan yang mendasari tulisan itu, icha banget.. Keep posting cha..

creamy_cha said...

icha terharu sekali jika dianggap demikian ^^

tapi masih jauuuuh banget dari mereka, ji. Hehe. Masih beginner yang pngn jadi spt mereka juga ^^

Ttp simak terus yaa 7 hari menulis prosanya ^^

hanny said...

“Nol itu angka manusia. Hampa. Aku menganalogikan pembagian itu seperti cinta. Seberapapun besar cinta yang engkau bagi pada kehampaan hasilnya sama. Rasa sakit yang tak terhingga” ---> sounds like the old me ;) I like this metaphor! :D

creamy_cha said...

makasih mb hanny ^^

i always love the metaphor coming out from your brilliant mind ^^