March 27, 2012

Memori Suatu Masa

Dulu saya hobi sekali mengumpulkan sahabat pena. Berawal dari puisi atau artikel yang dimuat di majalah Bobo - dan surat-surat mulai berdatangan ke rumah. Mama menyortirnya satu-satu. Mana yang diabaikan atau boleh dijadikan teman. "Kalau pengirimnya cowok atau suratnya macam-macam tidak usah dibalas. Kayak ini nih, masa masih kecil tanya-tanya pacar?" - saya angguk-angguk. "Mama dulu juga begitu". Saya tahu lalu senyum-senyum simpul. "Pasti surat-suratan sama Abah ya?". Mama tersipu. Aaaah tidak terbayang kali ya kalau harus melebur rindu seperti masa lalu itu.

Setiap akhir pekan, saya ikut ke pasar. Lalu mampir ke sebuah toko alat tulis. Ada berbagai kertas surat dan amplop koleksi terbaru. Saya pilih yang lucu-lucu atau berwarna merah jambu.

Jam menulis dimulai setelah makan siang. Surat diawali ucapan standar "Apa kabar? Aku baik" lalu bercerita tentang sekolah yang sedang liburan atau ujian. Juga pertanyaan-pertanyaan wajib seperti "Bagaimana tempat tinggalmu? Apa hobimu? Suka Harry Potter?". Siapa tahu ada yang berbaik hati mengirimkan pembatas buku atau poster.

Esoknya Abah mengantarkan surat-surat itu ke kantor pos. "Perangkonya yang mahal ya Abah biar cepat lhooo". Aku harap-harap cemas menunggu. Di hari-hari berikutnya mulai bertukar foto atau mengirim hadiah di hari ulang tahun. Saling terima kartu ucapan natal atau lebaran hasil karya sendiri dengan kertas warna-warni.

Surat-surat itu saya kumpulkan dalam kotak sepatu. Dari sekian banyak, hanya ada tiga yang bertahan untuk bertukar pesan. Yang pertama berasal dari Aceh dan sudah tidak terdengar lagi kabarnya setelah bencana tsunami. Yang kedua berasal dari Jakarta dan sudah pindah ke Riau setelah menikah. Dan yang terakhir berasal dari Pinrang - masih kuliah dan paling bertahan lama. Masih sering bertanya kabar lewat sms atau social media. Kaus kaki gambar beruang darinya pun masih saya simpan hingga sekarang, juga boneka sapi saya masih ada di kamar tidurnya. Yay, that moment. But we've never met yet. I wish i could meet her someday :)

Pada Suatu Pagi yang Biasa

"Selamat ulang tahun untuk Abah yang kelima puluh tiga"

Dan dari ucapan itulah hari bermula.
***

Pada suatu pagi yang biasa dan dua jam yang istimewa. Kau dan aku kembali bertegur sapa bertatap muka. Sangat berbahagia bahwa kau baik-baik saja.

hari berkunjung Samapta :')

Terima kasih. Bekal semangatku sudah pulih sedia kala. Tapi rinduku masih tetap sama.

Tanggal dua puluh lima di bulan ketiga. Hari kedua puluh satu. Selamat berjuang di sisa hari berikutnya :)

March 22, 2012

Patahan #43

"Kita sama-sama punya tahi lalat di bahu kanan, Icha. Mitosnya, kita punya tanggungan dan beban yang berat. Tapi percayalah, kita punya bahu yang kuat"


:)


*doaku untukmu selalu Osel. Sehat-sehat yaa. Smoga lancar operasinya beberapa hari ke depan. Pingin peluk kamu, sungguh*

March 12, 2012

Do’s and Don’ts

Dikutip dari majalah Intisari dengan perubahan. I think it is good to share :)

Di saat tertimbun masalah, kita tidak akan mampu mengatasinya kalau tidak dapat mengontrol emosi. Titik awalnya adalah mengatur kadar glukosa dalam tubuh. Sejumlah strategi yang dapat dilakukan adalah memenuhi kebutuhan asupan makanan sehat, terutama sarapan, dan istirahat cukup apalagi saat sedang mengalami kelelahan fisik dan mental. Oleh karena itu:

1. Jangan beradu argumen dengan bos empat jam sesudah makan siang.

Haaa, jam-jam kritis. Makanya kalau ada rapat selalu ada snack kali yaa, biar relaks :p!

2. Jangan membicarakan masalah serius dengan pasangan menjelang waktu makan malam.

Haha, it works. Ini namanya jam tegangan tinggi saat lelah seharian sudah berakumulasi. Terlihat jelas lhooo perbedaan mood ngobrol dengan orang yang sudah makan atau belum makan. Jadi kalau mau telpon atau ngomong yang enjoy mending persilakan makan dulu dah :p

3. Jangan krisis energi kalau sedang PMS.

Hahaha,itu pula sebabnya kebanyakan wanita yang mengalami PMS suka ngemil atau pingin makan yang enak-enak. Cadangan energi dan glukosa banyak tersedot untuk kerja sistem reproduksi, di antaranya untuk memproduksi hormon dalam jumlah lebih banyak. Lantaran takut gemuk, kebanyakan wanita tidak cukup memperoleh asupan kalori ekstra, sehingga hanya memiliki sedikit cadangan glukosa untuk mengendalikan kontrol diri. Iya sih :p

*manggut-manggut*

Kue Ape

“Bahagia adalah menikmati bagian tengah Kue Ape setelah menghabiskan bagian pinggirnya”.

Kapan ya saya pertama kali tergila-gila dengan kue zaman dulu ini? Mungkin waktu pertama kali saya mencicipinya – beberapa bulan pertama saat saya masuk kerja dan diajak makan di sebuah warung Mie Ayam Pasar Baru. Awalnya saya tidak tahu nama teman baiknya si kue Cubit itu – saya hanya tahu bentuknya; mirip Ufo dan bagian tengahnya empuk sekali.

Dan kedua kalinya saat sedang perjalanan ke Bandung. Teman seruangan saya selalu bergantian membeli. Tak bisa dipungkiri; semua orang – anak-anak dan dewasa – menyukai jajanan bukan?

Kini saya hapal benar beberapa tempat yang menyediakan kue itu dengan rasa yang lumayan. Di depan Kedai Eskrim Italia Ragusa, di sekitar Gereja Cathedral setiap akhir pekan, di bawah jembatan halte Bendungan Hilir, atau di pasar-pasar kaget jika beruntung menemukan.


Juga – kue itu menyimpan banyak kenangan. Dan pula kebahagiaan kecil di sela-sela keangkuhan zaman.

Ibu Pertiwi Masih Bersusah Hati

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan miring ya? Sakit ya?

Pada dasarnya semua manusia itu sama bukan? Tidak mau dihakimi hanya dari kulitnya. Masuklah – lalu lihat bagaimana sebuah proses bekerja.

Begitulah. Masyarakat itu hanya disendoki berita. Untuk makan dan sekolah anak saja susah – tak bisa paham kenapa BBM naik lagi. Seperti efek domino; sembako pun ikut-ikutan naik. Tak bisa paham juga kenapa dan dimana harus bayar pajak. Sudah lelah mungkin dengan ketidaknyamanan – atau ketidakadilan. Hidup beralaskan koran dan keganasan zaman. Mau mengubah hidup pun sudah lelah. Paradigma miskin yang mendarah daging sepertinya. Dan obrolan di warung-warung kopi sehari-hari yang mendebat kebijakan. Begitulah.

Mungkin ini sebuah alarm agar kita harus berbenah diri. Lalu jalan lagi. Lari.


Indonesia ini indah sekali. Alamnya rupawan. Buminya dermawan. Tapi masih banyak yang harus dibenahi. Juga rakyat yang tidak mengerti. Masih harus diajari. Banyak sekali. Banyak sekali. Mulai dari mental ini. Petinggi. Juga urusan-urusan yang kecil sekali. Entah urusan buang sampah atau antre. Hingga memperdayai negeri.

Ibu pertiwi masih bersusah hati? Air matanya berlinang? Lagu ini mengenaskan.

Image taken from here.

Patahan #42

Hai sayang, apa kabarmu?

Sudah seminggu berlalu, dan aku masih meraba-raba saja.

Tidak hanya aku yang begini kok, ada banyak kami yang lain dengan perasaan harap-harap cemas serupa.

Kamu sedang melakukan apa? Latihan fisik setiap hari kah? Yang aku yakini kamu pasti baik-baik dan menjadi orang yang bisa kubanggakan selalu. Aku menitipkanmu pada Rabb Yang Maha Tahu yang menjagamu di setiap waktu. Sehat-sehat ya kamu dan semangat terus. Hanya itu pintaku.

Akhir-akhir ini aku banyak menulis. Laptopku tidak berulah lagi, syukurlah, aku belum mau menukarnya dengan yang baru. Aku juga membeli beberapa buku. Ada yang kuhabiskan dalam sehari namun ada juga yang masih terbungkus di lemari. Mungkin untuk cadangan di sisa akhir pekan saat aku tak ingin berjalan-jalan. Aku juga bermimpi sekali dua kali. Tak begitu indah, tapi juga tak begitu buruk.

Tentang berjalan-jalan? Aku masih suka kemana-mana sendirian. Rasanya menyenangkan – memesan makanan atau masuk toko ini dan itu hanya untuk melihat-lihat lalu mengamati sekitar dan belajar – bahwa banyak sekali hal yang harus disyukuri juga dinikmati dengan sepenuh hati. Sendirian juga mencegahmu dari sakit hati, karena akhir-akhir ini orang dengan mudah membuat janji. Hanya untuk berbasa-basi. Jadi aku selalu siap jika pada akhirnya itu tak mungkin terealisasi. Siap. Karena mungkin kita pun begitu dan harus mengerti – bahwa kita tak lepas dari siklus itu semua bukan?


Hai sayang, kamu tahu?

Banyak sekali hal yang ingin kubagi juga kusampaikan.

Setiap hari aku menghitung waktu. Atau mengirim pesan yang tak mungkin terbaca. Aneh bukan? Aku memang aneh. Tapi aku tak menyesal. Karena saat aku harus menunggu, Tuhan memberikanku banyak hal lain yang bisa mengganti itu. Mungkin kesibukan, atau satu dua orang teman, atau Mama yang semakin membuatku cemburu. Bayangkan, aku mencemburui Mama saat beliau harus mengabaikan telponku karena ada tamu. Begitu anehnya aku. Dan aku pun bercerita tentang apa saja. Tentang kesedihanku – dan beliau berucap bijak, “Doakanlah. Dia sedang berjuang”

Ini sudah patahan kesekian. Dan aku pun berjuang untuk menjadi orang yang bisa dibanggakan. Juga menjadi orang baik yang punya banyak teman dan hati yang lapang. Dicintai Rabb yang Maha Rahman.

Pak Habibie :)

“Mantan Presiden BJ Habibie dikenal sebagai orang yang selalu merutinkan puasa sunnah Senin Kamis . Baginya puasa Senin Kamis merupakan salah satu kunci sukses dalam kehidupannya”.

:)

Kutipan Novel: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

I’ve just bought this book yesterday. Awesome writing by Tere Liye. And I think – this is the catchiest part :)

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat”

***

Tania, aku dulu selalu berdoa agar Tuhan menakdirkanku menikah dengan lelaki yang kucintai. Ah, aku dulu sama sekali tidak percaya dengan kata-kata: lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu.

Bagaimana mungkin kau akan bahagia, jika kau terpaksa menikah dengan seseorang yang tidak pernah kaucintai, tak peduli seberapa besar dia mencintaimu. Itu akan menyakitkan. Bagaimana kau akan menjalani hari-harimu?

Tetapi ternyata kata-kata itu benar. Sayang, kau tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kehidupan kita ketika kau menikah dengan seseorang yang ternyata tidak mencintaimu, meskipun kau amat mencintainya.

Waktu aku memutuskan untuk mencintai dia, kemudian memutuskan untuk menikah dengannya, aku pikir doaku terkabul. Aku amat mencintainya, apa lagi yang kurang? Dan dia juga terlihat mencintaiku. Tetapi semua itu hanya bohong. Kebohongan besar yang terbungkus begitu rapi.

Ya Tuhan, dia sedikit pun tak pernah mencintaiku.
.
.
.

*** 

#14 Self Note: Heart Talk

Selamat pagi Rabb Yang Maha Baik.

Aku ini anak nakal lho, banyak maunya, banyak menangis pula. Kadang suka minta apa saja di dalam hati, kadang suka kangen, tapi kadang juga suka lalai. Tepatnya sangat sering lalai. Kadang rinduku pada dunia melebihi rinduku padaMu. Kadang sering sedih berkeluh kesah dan berburuk sangka. Lalu aku pulih lagi dan mengerti. Begitu terus tapi Kau selalu memahami.

Kadang permintaanku keterlaluan. Ingin diberi kemudahan – tapi Kau tidak memberi itu. Kau memberiku jalan. Ingin diberi kebahagiaan – tapi Kau tidak memberi itu. Kau memberi kesempatan. Atau bahu yang kuat. Atau pertolongan yang tak disangka-sangka. Dan pada apa yang kusangka baik, belum tentu baik bagiMu. Kadang aku masih sulit menerima itu. Tapi Kau memberi waktu. Lalu mengajari – bahwa lihat bukan? Ini yang terbaik bagimu.

Karena bahagia yang satu tidak sama dengan bahagia yang lain bukan? Jika kau tidak punya satu, Kau akan menambahkan satu. Begitu sebaliknya, agar bisa saling melengkapi – kataMu.

Aku tidak peduli dengan apa kata orang yang tidak percaya keberadaanMu. Karena beginilah caraku mencintaiMu. Sederhana. Menjadi tempat berteduh saat susah atau bersyukur saat mudah. Bercerita dan mohon perlindungan. Agar aku tidak jadi penakut, tidak jadi pengecut juga penyedih. Agar aku mau terus berusaha. Menggapai hadiahMu di ujung jalan sana dan cintaMu sepanjang hari.


Ah Rabb, Engkau baik sekali. Dan akan selalu begitu.

March 8, 2012

Patahan #41

Ini perasaan yang harus dipertahankan.

Percayalah.

Rindu memupukmu menjadi penyemangat. Saat waktu terasa sedemikian cepat saling kejar dengan tugas-tugas yang berlipat. Banyak hal harus dicapai hari ini. Agar pada saatnya nanti bisa berbangga dan beriang hati. Bahwa bisa melalui ini.

Percayalah.

Rindu juga tak segan-segan membuatmu sakit kepala. Tak banyak bicara. Menjauhi alat komunikasi berlama-lama. Jalan-jalan sendirian seperti biasa. Makan yang enak dan menulis banyak. Menyantap buku-buku yang belum terbaca dan mensuplai bahagia. Memeluk Tuhan lebih lama. Atau tidur lebih dini untuk menjemput mimpi, melukis bunga-bunga, atau apa saja yang membuat tersenyum dan syukur di pagi hari.


Ini perasaan yang harus dipertahankan.

Bahwa rindu mencipta rasa syukur. Aku bersyukur karena aku menyayangimu.


*nyoret kalender*

March 7, 2012

Semua Sayang Abah

Aku memanggilnya Abah. Tidak matching memang dengan panggilan Mama yang tidak ingin dipanggil Ummi. Secara psikologis, Mama terasa lebih dekat, kata beliau.

Abah seorang teknisi reparasi elektronik. Jadi boss di rumah sendiri yang bisa bekerja di hari apapun dan jam berapapun. Bisa setiap hari sampai larut malam, atau libur sehari dua hari tak ada yang melarang. Ada banyak tabung televisi di rumah, obeng, solder, dan harddisk yang tertata di rak belakang. Juga memenuhi panggilan ke rumah pelanggan untuk memperbaiki satu atau dua benda yang rusak dengan tangan ajaibnya dan sepeda motor tua yang tak lekang oleh zaman. Serta tas sandang berisi dioda, transistor, voltmeter, atau resistor beraneka warna; kacamata gagang besar di kepala, dan jaket tebal menutup kulit dari serangan udara dingin atau teriknya siang.

Bukan Metafora

So, here is my pretty-ugly-story and never-ending-happy-learning process so far– Insha Allah in His will :)

Just wanna share! :D


***

“You’ll find someone after college”

Mom’s right.

Mungkin itu salah satu alasan saya tidak punya riwayat ‘relationship’ sejak masa sekolah sampai kuliah. She loves me and worries too much. And that made me successfully never be in love and trust someone – I thought :O

“Kamu masih kecil, jauh dari orangtua, dari dulu Mama dan Abah ga pernah kasih izin jalan sama cowok kan?”

Well, salah satu statement di awal masa-masa kuliah yang saya tempel di dahi dan bikin terbahak-bahak sampai sekarang. Nyahaha. Rebel!

But Mom’s right.

Hikmahnya, saya tidak perlu merasakan patah hati sebelum waktunya. And I’ve got a lot of time to focus on myself and my friends that far :D

Again, Mom’s right.

Nasihat Selembar Kain

Aku tidak akan membuatmu kalah. Juga tidak akan membuatmu terlihat tak rupawan. Atau menjadikanmu lemah. Juga tidak akan merentang jarak antara harapan dan masa depan yang kau panjatkan. Tidak pula menjauhkan pergaulan. Atau mencipta beban dan hinaan.

Aku adalah yang kau pilih untuk menjadi komitmen dengan Tuhan. Karena kau adalah perhiasan. Dan sungguh aku akan membuatmu menawan. Baik dari hati, raga, jiwa, dan perbuatan. Tidak sepenuhnya tanggung jawabku teman – tapi tanggung jawabmu – semua insan tanpa batasanku untuk menanam kebaikan.

Aku tahu bahwa itu tak mudah. Bagaimana aku harus membalut dirimu butuh waktu dan kesiapan yang tak goyah. Butuh keteguhan untuk dapat bertahan. Dan keikhlasan untuk dapat menemukan. Bukan paksaan atau ketakutan. Tapi jika saat itu tiba – percayalah Tuhan akan memberimu kemudahan. Dan kau akan menyayangiku lalu mempercayakanku untuk menjalani hari-harimu bersamaku. Aku pun akan melindungimu. Dan titik itu adalah nikmat puncak yang keindahannya tak perlu kau ragu.

Aku adalah komitmenmu terhadap Tuhanmu – bukan terhadap siapapun atau karena apapun.

*semoga aku teguh dan kau pun teguh :’)*

Brother!

Tutor: Kemarin Miss lihat kamu pakai baju tulisan Yogya, hari ini tulisan Borobudur. Banyak ya koleksi t-shirtnya.

Adek: Iya dong Miss, oleh-oleh :D


Besoknya.

Tutor: Hari ini tulisannya Singapore!

Adek: *senyam-senyum*


Besoknya lagi.

Tutor: Wah hari ini tulisannya I Love KL! Besok apa?

Adek: *nyengir bangga* Makassar!


Begitulah setiap harinya dengan sengaja adek saya pakai t-shirt tulisan nama-nama daerah hasil buah tangan dari sanak keluarga, tetangga, atau aku yang dinas atau main ke luar kota. Dan sengajaaaa dipakai berulang-ulang, ke rumah teman, ke tempat les, ke Mall, ke acara keluarga, yaelaaah.


Adek: Wah tinggal tunggu kiriman t-shirt Lombok dari kak Icha nih. Koleksi adek tambah banyak. Pasti Miss dan teman-teman adek heran lagi :D Haha siapa lagi yang mau kasih oleh-oleh ya?

Aku: -______________-


*oooh, love him so much*

March 6, 2012

Patahan #40

Tuhan selalu punya cara untuk membuat hambaNya bersujud lebih khusyuk dan lebih lama.

Salah satunya adalah dengan mencipta rasa takut dan harapan.

Juga rindu.

Patahan #39

"Jabat dulu. Jalani dulu. Barulah nanti kita tahu, apa yang terbaik untuk kita"


Ayah untuk Alif - Negeri 5 Menara

March 5, 2012

Patahan #38

Saya siap disebut mubazir perasaan atau norak. Tapi baru satu setengah hari saja rasanya sudah kosong luar biasa.

Ada bulir-bulir bening yang disembunyikan dan siap meledak.

Please March, run. Fast. Faster. Strong. Stronger.


*menanti 10 April 2012*