March 12, 2012

Kutipan Novel: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

I’ve just bought this book yesterday. Awesome writing by Tere Liye. And I think – this is the catchiest part :)

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat”

***

Tania, aku dulu selalu berdoa agar Tuhan menakdirkanku menikah dengan lelaki yang kucintai. Ah, aku dulu sama sekali tidak percaya dengan kata-kata: lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu.

Bagaimana mungkin kau akan bahagia, jika kau terpaksa menikah dengan seseorang yang tidak pernah kaucintai, tak peduli seberapa besar dia mencintaimu. Itu akan menyakitkan. Bagaimana kau akan menjalani hari-harimu?

Tetapi ternyata kata-kata itu benar. Sayang, kau tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kehidupan kita ketika kau menikah dengan seseorang yang ternyata tidak mencintaimu, meskipun kau amat mencintainya.

Waktu aku memutuskan untuk mencintai dia, kemudian memutuskan untuk menikah dengannya, aku pikir doaku terkabul. Aku amat mencintainya, apa lagi yang kurang? Dan dia juga terlihat mencintaiku. Tetapi semua itu hanya bohong. Kebohongan besar yang terbungkus begitu rapi.

Ya Tuhan, dia sedikit pun tak pernah mencintaiku.
.
.
.

*** 

3 comments:

amel said...

aku sih dah baca lamaaa banget novel ini,.. bagus sih emang,, tapi "ga suka" ceritanya terlalu sedih..

Daisy said...

ya ampun sedih banget chaaaa. :'(

Farisa Badres said...

@amel: iyaaa, dan aku jadi sangat membenci Danar tokoh di novel itu :|

@daisy: syukurlah cuma fiksi yaa :') *pukpuk*