July 15, 2014

Kelima

Usia yang matang untuk sebuah laman.

Seharusnya di tahun ini aku semakin banyak menebar tulisan. Bukan hanya melukis lamunan yang senantiasa bermunculan pada pagi dan petang. Tapi, beberapa begitu saja tersia-sia lalu menguap di angan-angan.

Selamat hari jadi yang kelima taman edelweiss. Terima kasih sudah menjadi teman dan miniatur dari keabadian.

:)

July 12, 2014

Benalu

Pagi itu, sehabis hujan.

Langit masih kelabu tetapi aku sudah menggendong tas ranselku dan berlari keluar rumah sambil menunggu Ibu. Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah dasar. Para burung gereja bersahut-sahutan seakan mengucap selamat jalan. Barisan embun berserakan di dedaunan dan terseok-seok di batang pohon mangga yang bergelombang lalu hinggap di jari manisku yang mungil dan kemerahan. Saat itu, pekarangan menjadi tempat yang sangat menyenangkan di kala tak punya teman.

“Ibu, apa itu?”

Aku berjinjit memperhatikan sebuah mahkluk yang menempel di pohon mangga kami yang perkasa.

“Itu namanya benalu”, jawab Ibu sambil merapikan seragamku.

“Apa yang dia lakukan disana?”

“Dia hidup dengan menggerogoti sari pati sang pohon, jika dibiarkan maka sang pohon bisa mati perlahan-lahan”

Mataku berkaca-kaca marah menatap makhluk itu, tak terbayang pada apa yang bisa dia lakukan terhadap pohon kesayanganku. “Sore ini kita basmi ya Ibu”

Ibu mengangguk. “Saat kau besar dan menjadi pemimpin janganlah kau seperti benalu itu yang merebut hak orang lain untuk kenikmatan dirimu sendiri. Lihat, tidak ada yang menyukai benalu itu bukan? Lihat, bagaimana nasib pohon mangga itu yang menjadi korban? Bisa kau rasakan kesedihannya?”

Sepanjang perjalanan ke sekolah aku terus memandang ke belakang. Nasihat Ibu membekas dalam ingatan jangka panjangku yang terdalam. Ini pertama kalinya aku belajar tentang kebencian. Bedanya, ini kebencian yang diperbolehkan.

***

July 8, 2014

Fear

Every tear which falls on Ramadhan is wonderful. It reflects story about heart, hopes, family, and beautiful relationship between Rabb and soul. So is it - as what happens to me this year. It is the most sentimental Ramadhan ever. Because I realize next year life is not same anymore. Months to go, the big thing's gonna happen. Yes, it is a big deal.

The biggest fear of mine is I can't see my mom and dad as much as today. The good news is when I call them, they still treat me as a little girl. Nothing really changes. I hope I will always be their little girl forever. When I come home this Eid, I want to sleep with my mom as long as I can. I want to spend quality time with them and make them feel loved and happy.

Some good friends begin to leave because they are afraid being too close make them miss me when change is something that I can't deny. It makes me sad. Rabb, please give me strength and deep hugs from useless anxiety and doubt.

I just wish time would not run that fast. But it does.

July 2, 2014

Mimpi Besar SMI

Ibu Sri Muliani adalah salah satu tokoh yang selalu membuat saya percaya bahwa masih ada orang baik yang bisa memimpin negeri ini. Beliau adalah pemimpin yang sangat cerdas dan berintegritas, berani melakukan reformasi birokrasi besar-besaran di Kementerian Keuangan, sayang banget sama STAN, dan punya banyak jasa dan pemikiran untuk menjaga dan menyelamatkan kesinambungan fiskal. Di antaranya, kebijakan melunasi utang kepada IMF sampai pada titik IMF tidak lagi mempunyai bargaining position di Indonesia dan kebijakan menutup defisit APBN dan kebutuhan kas jangka pendek dengan instrumen pembiayaan dalam negeri seperti SUN yang menggunakan mata uang Rupiah.

Dua mimpi besar SMI yang belum terwujud sampai saat ini adalah:

Pertama, kinerja keuangan pemerintah tidak diukur berdasarkan penyerapan. Bayangkan di akhir tahun kita berlomba-lomba menghabiskan pundi-pundi anggaran untuk melakukan pengadaan dan memperkaya pihak ketiga tanpa mempertimbangkan efisiensi dan apa output/outcome dari anggaran yang telah digunakan. Setiap satker khawatir dengan sanksi pemotongan anggaran jika anggaran tidak terserap hampir seluruhnya. Performance based budgeting masih jauh dari harapan.

Kedua, pelunasan utang sekian generasi yang jumlahnya luar biasa hampir sepertiga dari PDB Indonesia dengan konsep "gotong royong sumbangan warga Indonesia" seperti yang berhasil diterapkan di Iran. Bayangkan jika setiap orang secara serentak menyumbang sebesar 10.000 rupiah saja setiap bulan, bayangkan dampaknya... terutama terhadap sense of belonging pada negeri ini. Jika dihitung mungkin tidak bisa terlunasi dalam sekian tahun, tapi dampak psikologisnya sangat luar biasa. Still, maybe it is just a dream.

Satu kalimat indah yang saya selalu ingat tentang beliau, "Jangan berhenti mencintai negeri ini"

Just, don't...... :')