February 28, 2012

From Mother to Daughter

Mother: “You have to be smart, lady”

Me: “Why Mother?”

Mother: “Because you don’t have to be like me. And men won’t treat you bad”



And tear happens from the eyes. I will.

Tears are Good

Tears are good. Tears are normal. Tears are nice.

Tears don’t hurt and blame anyone. It’s just a kind to figure out something inside undefined.

Between raindrops and wet spring. Between separation and breaking. Between distance and loving. Between temptation and trying. Between family and hugging. Between deep prayer and wishing. Between patience and forgiving. Between any breath of missing.

That I miss you.


“Please don’t cry”

“Why not? I’m doing it in silence. In elegance that nobody will see and everything seems alright. It’s not because of you that I’m crying. It’s not because of I’m weak that I’m tearing. It’s just because of me”

Because I miss you.

Lombok!

Dengan segala trouble yang membuat perjalanan irreplaceable, Lombok is soooo damn lovable!

Sayang sekali, bebe saya sering nggak bisa diajak kompromi saat ada event-event penting alias lowbaat karena kebanyakan nge-tweet kyaaa, alhasil nggak ada satu pun foto yang bisa dibawa pulang. Fuuu! Ditambah kondisi tubuh dan mood yang sedang tidak fit. Syukurlah saya masih bisa nekat muter-muter Mataram sendirian (tapi minus main ke pantai huksss) dan bangkit dari kesedihan di balik selimut. Survive!

Trouble pertama dimulai di Bandara Ngurah Rai karena dianggap telat check in 5 menit ke penerbangan menuju Lombok selanjutnya (yang menurut saya tidak masuk akal) dan membuat saya harus adu argumen dengan petugas W*ngs Air disana (dan sungguh bikin saya ilfeel mau naik penerbangan itu lagi hukkss). Aaaaaa, dikarenakan pertemuan dengan orang-orang daerah penerima hibah diagendakan pada siang itu, akhirnyaaa harus mondar-mandir stress cari tiket baru. Tersisa hanya satu seat untuk atasan saya dan saya sendiri masih jadi waiting list yang pesimis bisa berangkat siang itu juga. Daaan 20 menit sebelum jadwal keberangkatan saya baru dapat kabar kalau dapat seat! Aaaaah terima kasih buat mbak-mbak petugas M*rpati Air yang sudah menolong dan juga buat seorang penumpang yang tidak jadi berangkaaat. Langsung deh saya lariiii ngebut untuk mengejar boarding. Fyuuuh. Dan inilah pengalaman pertama saya naik pesawat baling-baling yang bikin sport jantung dan terbang cukup dekat dari permukaan laut.

Tapi, sungguh, saya belajar bahwa rencana Allah memang jauh lebih baik daripada rencana manusia :)

Lombok adalah destinasi yang luaaar biasa. Indonesia is fantastic! Masyarakat Lombok sangat ramah dan pemandangannya baguuuuus (apalagi kalau tidak dinikmati sendirian lalala). Ada Mataram Mall tepat di depan penginapan saya di Zaitun Selaparang, cuci mata di gerai oleh-oleh tenun dan mutiara, nyobain pelecing kangkung dan ayam taliwang, lalu memilih naik bemo dan keliling-keliling kota Mataram di sore hari. Dan kepuasan yang paling menyenangkan adalah saat bisa menemukan produsen madu asliiii satu-satunya di Mataram dengan percobaan 4 kali naik turun bemo huksss tapi terobati setelah bisa nyicip enaknya madu super. Masya Allah!

Bandara baru Praya Lombok sudah mulai beroperasi. Desainnya futuristik dan lumayan jauh dari pusat kota, tepatnya di daerah Lombok Tengah. Tapi yang membuat saya cukup kaget karena bandara itu jadi objek wisata masyarakat, dengan tenda-tenda yang menyediakan makanan dan minuman ringan, dan banyaknya pengemis yang menunggu belas kasihan penumpang. Wew.

Belum puaaaasss! Harus kesini lagi suatu hari nanti, lalu main-main di Pantai Senggigi, Pantai Kute Lombok, atau Gili Teriwangan, entah dalam rangka liburan atau honeymoon! :p Yay!

February 21, 2012

Tentang Dua Orang yang Sama-sama Menanti sebelum Pagi

Sudah pukul sembilan malam.

Kita sudah berkomitmen untuk tidak membawa pulang pekerjaan. Tinggalkan di sebelah kanan meja ruangan. Lalu pulang dengan langkah ringan. Cukupi kadar glukosa dalam darah yang telah habis seharian. Jangan takut dengan pertambahan berat badan – agar kita bisa tetap berbincang dengan riang. Tentang apa saja yang menyenangkan. Atau yang menyedihkan untuk ditertawakan atau diselesaikan. Juga tentang harapan untuk digapai pelan-pelan.

Sudah pukul sepuluh malam.

Kita sama-sama menanti di pojokan. Menggenggam gadget dengan merk berbeda yang terperangkap persaingan oleh Yang Mulia bernama globalisasi dan era teknologi informasi sambil menunggu dentingan pesan yang sering macet di perjalanan karena jaringan yang kehabisan napas atau kelebihan beban. Sekali dua kali menghibur diri membaca timeline di twitter atau membalas chat yang tak diharapkan. Hanya selingan. Basa basi dan membiarkan jari-jari shuffling tanpa kelelahan.

Sudah pukul sebelas malam.

Kita masih sama-sama menanti – kau membiarkan televisi menemani dan aku menghidupkan laptop atau membuka novel mini untuk meninabobokan mata yang tak mau mengistirahatkan diri. Entah aku yang terlalu gengsi atau kau yang tak peduli. Padahal kita sama-sama telah berjanji. Tapi selalu kalah pada pilihan yang jatuh pada menanti siapa yang lebih dahulu merendahkan hati untuk menekan tombol call yang membebaskan hubungan dari banyak elegi dan konspirasi – yang entah kenapa terlihat sulit sekali.


Beberapa menit sebelum pergantian hari.

Mengalahkan rindu yang seharusnya tak begini. Terus menerus disimpan hingga nyeri. Pelan-pelan kau dan aku ditidurkan oleh haru dan dilebur dengan kalimat mati rasa tentang kau yang sungguh tak mau tahu kabarku dan sebagainya yang dicipta delusi sepi. Sungguh kita sama-sama menanti. Lagi. Dalam kebimbangan yang pulang pergi sendiri. Bahwa kau kalah – tak merindu dan tak peduli. Dan terjadi hampir setiap hari.

Padahal hakikatnya; kita sama-sama menanti. Sungguh saling menyayangi. Sungguh saling terjaga dan peduli. Sungguh tak ada yang bisa mengganti. Hanya terlalu berat untuk menyapa yang pertama kali. Yang kita sama-sama tahu bahwa itu bukan sebuah dosa atau harakiri. Bukan pula menghakimi harga diri. Yang sama-sama disadari bahwa itu akan menyelamatkan kita – pada apa yang akhirnya disesali dan seharusnya tak perlu terjadi menjelang pagi.

February 15, 2012

Heaven's Earth

Mom’s voice is heaven existed on earth.

Seandainya pintu kemana saja bisa dibeli dengan rindu yang selangit.

Aku ingat saat itu adalah pekan yang melelahkan. Aku menghubungi Mama dan beliau berucap kalimat yang sangat lekat diingat “Seandainya Mama bisa memijatmu”.

“Kenapa tidak beli vitamin? Masih minum susu?”

“Nggak apa-apa Ma, sekarang sudah malas minum susu”

Lalu beliau bercerita jika beberapa hari yang lalu menonton sebuah tayangan bertema kehidupan di stasiun televisi swasta. Tayangan itu mengisahkan tentang seorang ibu yang selalu membuatkan anaknya segelas susu untuk sarapan dari kanak-kanak hingga bekerja. Namun, si anak sudah enggan untuk minum susu lagi setelah bekerja dengan alasan repot, tidak sempat, tidak perlu – tapi sang ibu tetap setia menyediakan susu. Hingga pada suatu saat, si anak tidur larut untuk menyiapkan bahan rapat. Dan sang ibu masih juga meletakkan segelas susu di kamar tidurnya.

Tak sengaja susu itu tumpah dan merusak bahan-bahan rapatnya. Lantas si anak marah besar dan mengulang kembali semua pekerjaannya tanpa mau bicara dengan ibunya. Esoknya, dia bersiap-siap untuk melakukan presentasi penting dan kembali menyia-nyiakan susu yang sudah terhidang di meja. Sorenya, dia pulang dan bermaksud memberitahu keberhasilannya hari ini. Sang ibu sedang menunduk di meja makan dengan segelas susu di tangan menunggunya. Tapi – sudah tak bernyawa.

“Tayangan itu membuat Mama ingat kamu. Sejak kamu kecil, Mama selalu rutin untuk menyuruh minum susu. Sampai akhirnya kamu berangkat ke Jakarta. Sampai kamu kuliah pun Mama selalu menyarankan untuk minum susu. Walau susu anak saat itu harganya mahal, tapi yang penting anak Mama sehat, pintar, nggak gampang sakit”

“Mama…”

Ah hanya bisa berurai air mata. Really love you, Mom :’)

Rindu yang Hikmat

Rindu yang diam adalah rindu yang hikmat.

Saya pernah mendengar ini. Jika rindu menyerangmu, angkat tangan dan panjatkanlah, “Ya Allah, sampaikan salam rinduku sehingga aku menjadi kerinduannya” (Doa Nabi Yusuf Kepada Zulaikha)

Atau saya membiarkan diri terlelap. Lalu mengundang objek yang saya rindu untuk berkunjung. Terkadang bunga tidur yang hadir mengisahkan hal yang sama dengan kenyataan yang pernah dialami. Atau bahkan berbeda. Diramu berbagai skenario tak masuk akal yang luar biasa dicipta oleh alam bawah sadar manusia – dengan izinNya.

Patahan #37

Kenapa tak belajar dari bumi dan matahari?

Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan.
(Ustadz Salim A. Fillah)

Patahan #36

Some of us are meant to suffer! Some of us are led to believe that we have this certain destiny, and then it just gets snatched away. But we have to stay alive.

Because we have to see... how the story ends.


(Jordan Roark – My Sassy Girl)

Sekian

Bukankah memiliki kualitas hidup yang lebih baik itu hak asasi?

Lalu kenapa tuan nyonya hanya bisa berkomentar negatif lalu skeptis dengan pekerjaan kami? Masih terngiang-ngiang kepedihan lagu Iwan Fals – Guru Oemar Bakeri? Lalu berteriak-teriak kenapa harus ada remunerasi? Tentu saja, disiplin, reformasi dan beban kerja juga paralel dengan yang layak diapresiasi.

Lalu kenapa tuan nyonya masih menganggap bahwa ini sekedar pelayan?

Ini pekerjaan. Bukan hanya angguk-angguk tanpa pertimbangan dan pikiran – sudah abad dua puluh satu. Harus profesional tuan nyonya. Jangan menyama-nyamakan apa yang salah dengan yang sedang bergerak menjauhi yang salah. Lalu memberi label warna hitam suka-suka.

Bukankah memiliki kualitas hidup yang lebih baik itu hak asasi?

Lalu kenapa jika sudah bisa beli ini itu sendiri? Ini masalah manajemen rezeki tuan nyonya. Saya dan anda pernah merasakan kemiskinan. Bahwa semua pun bisa – jika punya kemauan untuk berjuang dan memilah-milah hasil yang diusahakan. Memupuk masa depan dalam keridhoan.

Hidup itu perubahan.

Sekian.

Patahan #35

Nash: You once said that God must be a painter because he gave us so many colors.

Alicia: I didn’t think you were listening...

Nash: I was listening
(A Beautiful Mind – 2001)

***

The same feeling – when you remembered every little things that I’ve ever told and been happening to me – which I didn’t think you were listening.

Thanks :’)

February 7, 2012

Kusut

Antara kusut-robek-patah.

Kita terlalu banyak bermain-main dengan hati. Sayang sekali bahwa yang tumbuh di dada ini bukan sejenis kertas origami. Dilipat kesana dipipih kesini dalam berbagai segi. Kita sedang tidak mencipta angsa atau perahu kertas bukan? Angsa yang jatuh saat kau terbangkan atau perahu yang remuk saat kau layarkan. Sudahlah, tak akan pernah sampai tujuan.

Harusnya kita sama-sama paham bahwa yang kita tuju adalah masa depan. Kau pernah bilang bahwa mari kita mulai saja dari awal. Tapi di setiap langkah mundur yang kita usahakan masih tersisa garis-garis kecewa yang tak mungkin hilang. Sudah lihat? Cukuplah. Jangan lagi kau paksa – ini seonggok daging yang tak cukup dipulihkan hanya dengan waktu dan kesempatan yang malah menjadi beban. Lalu robek pelan-pelan.

Cinta itu menggelikan. Seperti satu rotasi bumi: kau menemui pagi, siang, malam, lalu pagi lagi. Hubungan ini bukan hanya terang benderang layaknya siang – yang membuat kita bebas bersenang-senang di bawah mentari hingga tak menyiapkan diri untuk gelap pada malam hari. Bisa saja kau kedinginan, sendirian atau kehilangan. Seharusnya kita sama-sama merengkuh dalam susah – tapi sepertinya kau sudah terengah atau malah pergi ke belahan bumi lain yang menyediakan pesona dan cahaya melimpah.

Kenapa tak belajar dari bumi dan matahari? Harusnya kita bisa saling mengitari untuk lebih dari satu atau dua revolusi bukan dari cuaca musim pancaroba yang terlalu wajar untuk gonta-ganti suasana hati kadang mendung kadang gerimis kadang terik – janganlah begitu. Karena payung yang sudah kusediakan pun akhirnya tak mampu mencegah dari sakit atau ketakutan pada gemuruh yang menderu.

Jangan salahkan aku yang lemah lalu patah. Tak ada yang salah – kita hanya kurang berusaha. Atau memang tak ditakdirkan bersama, klisenya. Aku pernah bertanya kenapa ranting bisa patah? Karena rapuh jawabmu. Karena tak mampu menahan tekanan jawabku. Aku bertanya lagi kenapa hati bisa patah? Karena kehilangan jawabmu. Karena terlalu jawabku. Lalu kita tertawa saja seperti tidak menyadari akan kedatangan hari ini.

Bahwa jawabmu dan jawabku sama-sama tak tepat. Tak apa. Hari esok masih ada. Jika jamur bisa tumbuh dengan mudah di musim hujan kuharap yang patah pun demikian.

Cukuplah sedih sekali asal jangan sekali sekali. Karena sedih mengingatkan kita tentang kebahagiaan. Bahwa inilah hidup: hulu dan hilir antara kusut-robek-patah. Kau harus kuat. Ya, lebih kuat.

"Nothing's forever. Forever is a lie. All we have is what's between hello and goodbye" - Marilyn Bergman.