October 24, 2012

#11 Maret untuk Mei: Tidak Semua Seperti Kelihatannya

Semacam awan mendung. Kau tahu bahwa matahari tak kemana-mana dan sinarnya yang menyengat tak berubah sedikitpun. Tapi hari itu kelihatannya gelap. Langit pun sendu. Semacam itu.

Seandainya kau mau menunggu atau mengusir awan hatimu. Atau setidaknya, kau mau percaya. Bahwa aku pun tak kemana-mana, aku pun seperti matahari itu, tak berubah sedikitpun. Semacam itu.

Boleh kupeluk erat walau sedang tak dekat? Sini. Tunjukkan semangatmu yang hangat itu setiap hari kepadaku. I can feel you. I can feel you.

***

Mei, kenapa bilang begitu?

Kelihatannya, aku tidak merindukanmu? Kelihatannya, aku tidak pernah ingin tahu kabarmu? Kelihatannya, aku tidak peduli dengan bahagia dan sedihmu?


Tidak semua seperti kelihatannya, Mei. Tidak semua.

Image taken from here

Happy Wedding Sahabat :)

 Alhamdulillah, tanggal 21 Oktober 2012 kemarin, saya berkesempatan menyaksikan pernikahan sahabat saya - Deasy Mayasari dengan Arifin Indarto. Masya Allah, rasanya haruuu dan berbunga-bunga melihat wajah mereka yang memancarkan perasaan saling cinta. Wajah pengantin baru ituuu yaaaa blushing-blushing begitu hehe :D

Arifin & Deasy

Pernikahan dilangsungkan di Kota Palembang, di rumah mempelai wanita. Jadi setelah selesai kuliah, Sabtu malamnya saya langsung terbang menuju Palembang dan bersiap-siap untuk menjadi pengiring pengantin pada esok harinya. Ini pengalaman pertama menjadi pengiring pengantin Palembang, jadi maklum kalau saya, Febrian, dan Ayin - dua teman lainnya yang turut hadir terlihat overexcited hehe.

pagar ayu dan pagar betis :)

Pakai baju Palembang :D

Para pengiring mengantar pengantin dan keluarga sampai ke pelaminan. Yang menarik adalah pengantin wanita menari Pagar Pengantin di depan pengantin pria dan tamu undangan dengan penari lainnya. Budaya yang unik. And yeah, she's soooo beautiful!

Barakallah Deasy dan Arifin, smoga langgeng dan selalu dalam rahmat dan limpahan berkah dari Allah. Smoga juga bisa cepat-cepat ikut suami. Aamiiin :)

***

Epilog:
Begitulah perkara jodoh. Asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga. Dan seperti rezeki, tulang rusuk dan pemiliknya pun tak akan tertukar. Semua sudah ditetapkan oleh Allah.

Daaan kayaknya ini lagi musim menikah, mulai ditinggal sahabat satu-satu huksss I'm gonna miss youuuu all. Be blessed in Allah's love :')

October 5, 2012

Abah ❤

"Icha katanya jatuh ya?" tanya Abah saat menjawab telponku sambil mencuri-curi waktu selepas sholat Ashar. Sinyal di ruanganku tidak terlalu jelas sehingga aku selalu berpindah ke toilet untuk menemukan ruangan yang tenang dan pemandangan lalu lalang kendaraan dari jendela yang kacanya selalu dikenai kehangatan cahaya pantulan.

Tidak biasanya Abah bicara banyak. Tapi saat itu Mama dan adik sedang tidak ada di rumah, dan sore itu hujan deras. Beliau sendirian. Maka kami pun mengobrol ringan selama beberapa menit untuk mencerahkan suasana hatinya dari sepi dan  bosan.

"Icha tidak apa-apa, Abah. Hanya sedikit terhuyung-huyung"

"Abah kepikiran..."

Padahal aku tidak apa-apa tapi beliau terdengar sangat khawatir.

"Sungguh, tidak apa-apa, Abah" jawabku berulang kali untuk menegaskan bahwa hal itu adalah biasa dan aku baik-baik saja.

"Keseleo ya? Ada yang luka? Jangan dibiarkan, nanti berbahaya. Icha darah rendah ya? Suka males makan sih. Coba makan yang bisa tambah darah. Madunya diminum?" Abah menghujaniku dengan pertanyaan. Pertanyaan yang dibanjiri kasih sayang.

"Iya Abah, sudah tidak males makan lagi". Aku mencari bahan pembicaraan yang lain agar Abah tidak terus-terusan mengkhawatirkanku. "Sepertinya kita sama-sama sedang bermasalah dengan kaki ya, Abah bagaimana? Sudah semakin sehat?"

"Iyaa cuma sering nyut-nyutan, mungkin besok mau diobati lagi"

"Abah juga sehat-sehat ya"

"Icha juga semoga lancar ya nak kerjaannya, kuliahnya. Jangan sedih-sedih"

Dan air mataku menetes tanpa sadar saat itu juga. Abah, aku mau memelukmu dari sini...

*** 

Tak henti-hentinya aku menulis tentang beliau. Abah adalah figure favoritku. Dan menjadi gadis kecilnya adalah anugerah terindah yang pernah dihadiahkan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.

Woman - when she is a daughter, she opens jannah for his father. Hope I can be that way, Abah

Sejak Saat Itu

Minggu ketiga saat semuanya bermula. Aku masih mengingat jelas bagaimana darah mengalir dengan deras ke kepala. Aku masih tidak percaya bahwa ini nyata - bahwa aku akan pergi dengan kamu yang saat itu belum aku kenal dengan benar. Tapi entah mengapa aku menjadi berani, aku mematahkan semua ketakutanku dan peringatan-peringatan yang datang dari berbagai penjuru. Mungkin ini semacam untuk pertama kalinya aku yakin dengan pilihanku.

Aku tak punya banyak baju. Tapi aku tetap harus memenuhi janji. Aku berpikir bahwa tiket emas ini terlalu sulit untuk kuperoleh lagi. Aku bergonta-ganti pakaian selama beberapa kali agar tak terlihat aneh dan rendah diri. Tetap saja aku merasa aneh dan kembali pada baju yang itu-itu lagi, rok kembang bunga-bunga, atasan hitam, dan jilbab berwarna ungu. Saat itu aku belum gajian, aku tak punya sepatu layak untuk hari itu.

Memakai rok membuatku harus duduk menyamping beberapa lama, ini menyiksa, tapi aku takut untuk berpegangan - lebih dari ketakutanku untuk jatuh karena hilang keseimbangan. Lalu kita sampai di mall itu, cukup mewah menurutku. Maklum aku tak tahu banyak tempat dan jarang kemana-mana. Kita makan siang dan duduk berjauh-jauhan membicarakan hal-hal yang biasa. Aku tak merasa lapar. Aku masih tidak berani menghadap ke arahmu dan menatap langsung ke matamu. Aku masih tidak percaya bahwa pada akhirnya aku memilih kamu, bersama kamu.

Aku masih tetap bertanya dengan keyakinanku, dan jawaban yang terlontar dari kamu itulah yang sebenarnya aku tunggu-tunggu. Seolah semacam tepukan yang membuatku percaya diri dan belajar menyayangi diriku sendiri. Aku banyak berubah seterusnya hingga saat ini. Kamu memperlakukanku dengan sangat baik. Dan ini semacam sebuah anugerah. Anugerah terindah yang tak henti-hentinya aku syukuri.

Petang itu hujan gerimis dan aku meminta pulang sebelum gelap. Aku tersenyum penuh kelegaan dan rasa takut itu hilang. Tanda tanya yang memenuhi otak kiri mulai lenyap dan otak kanan bekerja mencipta kebahagiaan. Sayangnya, aku menjadi terbiasa mengutuki waktu dan menangisi rindu.


Aku masih ingin bertemu kamu lagi, setiap hari, sejak saat itu.

Image taken from here.

Sepercik Kisah Dari Jalanan #5: Manusia

Akhir-akhir ini saya jarang bercerita tentang kisah pulang. Mungkin karena sudah lama tidak naik angkutan umum lagi dan kos-kosan bisa dicapai dengan berjalan kaki, dekat sekali. Hal-hal yang saya lihat pun semakin sedikit seperti para pejalan kaki yang berpacu dengan pengendara motor yang curi-curi menerobos lampu merah, Pak Polisi yang betah berdiri diserbu sahut-sahutan klakson dan asap knalpot dengan tangan yang terus membentuk gerakan konstan, atau para supir angkot, bajaj, dan ojek yang rebutan mencari makan memenuhi bahu jalan saling mendahului menyerbu calon penumpang. Semua ingin bergegas memenuhi urusan, menghindari kemacetan, bertemu anak, isteri, atau pasangan, dan istirahat dengan nyaman.

Metro mini 47 yang sehari-hari membawa saya dari kantor ke kampus selalu membawa cerita. Metro mini ini dibenci sekaligus dipuja. Dibenci karena asap yang mengepul luar biasa pekatnya dan kondisinya yang sudah menua. Tapi juga dipuja karena memang dibutuhkan banyak orang, karena ketangguhan supirnya dalam ambil haluan belok kiri dan kanan, lihai cari kesempatan tapi selalu nyaris menyerempet kendaraan yang lain, dan punya cara untuk kabur dari kemacetan dengan seolah melompat ke jalur busway sehingga penumpang di dalam harus tahan dengan guncangan-guncangan semacam berada di dalam roller coaster. Penumpangnya juga harus punya nyali terutama jika ada perokok yang tidak tahu tempat dan tidak keren sama sekali mengotori oksigen yang pas-pasan dengan hembusan sisa tembakaunya yang mencemari kulit wajahnya sendiri, atau saat berhenti - entah diturunkan di tengah-tengah jalan raya atau kaki baru turun satu eh pak supirnya sudah tega melaju pergi. LOL.

Pemandangan di seputaran stasiun Senen selalu menarik perhatian saya. Dari jendela metro mini bisa kau lihat berbagai macam manusia. Orang-orang dengan wajah lelah selepas kerja, pengemis dan pengamen yang siap tampil dengan bermacam aksinya, toilet umum berbau dan sampah yang menyeruak, gadis-gadis belasan dengan puntung rokok di mulutnya, remaja-remaja baru tumbuh dengan poni lempar nongkrong di trotoar, bocah kecil yang tersenyum puas menghitung lembaran-lembaran dari hasil copetan, penjaja gorengan dengan minyak bercampur plastik panas, dan orang-orang dengan berbagai jenis dagangan mulai dari handphone, aksesori, baju, minuman, sepatu - membuka kios dan mengambil posisi - memenuhi sampai badan jalan.

Semua motifnya sama, pada dasarnya kita semua sama, sama-sama cari makan. Sama-sama cari kesempatan bertahan di metropolitan.

Percikan lainnya: 1 2 3 4