May 27, 2012

#2 Maret untuk Mei: Bukankah Langit Tetap Sama?

Dear Mei,

Aku mengerti bahwa aku tidak selalu bisa bersamamu sepanjang waktu. Menggenggam tanganmu saat kau susah. Mengantarmu kemana-mana saat kau lelah.

Tak usah kau mengintip ke negeri seberang. Rumput mereka lebih hijau? Pohon mangga kita lebih rindang. Tunggu saja di musim penghujan. Gedebak-gedebuk jatuhnya. Lalu kita berlari ke halaman, tertawa sampai gaduh - makan sampai kekenyangan. Aku senang. Sangat senang.

Aku mengerti bahwa aku hanya bisa melihatmu sekali-sekali. Memang begitu. Kau harus membiasakan pada apa yang tidak menjadikan biasa. Pada aku yang sering membuatmu kecewa tak tepat waktu. Pada rintik hujan yang sendu. Atau pada matahari yang nakal dan memaksamu luluran melulu.

Tetaplah bersabar. Tetaplah tinggal. Aku sedang mempersiapkan sesuatu. Karena hanya kaulah satu-satunya yang ingin aku bahagiakan. Wajahku memang datar - jangan kau sangka aku tak ingin di sisimu lebih lama. Karena melihatmu bahagia - sungguh aku senang. Sangat senang. Hanya saja tak selalu bisa kuungkapkan. Dan memang tak semua hal harus diungkapkan, bukan?

Kumohon, terbiasalah. Pada jarak yang memaksamu merindu. Yang mengajarkan bahwa yang indah - akan tetap terlihat indah - tak peduli dimana aku dan kau sedang berdiri. Aku bisa merasakanmu. Aku mensyukuri keberadaanmu. Dan kau indah. Sangat indah.

Dan pada yang kau keluhkan - entah musim semi ataupun musim panas yang datang lebih cepat - bukankah langit tetap sama?

Here we are - under the same sky and looking to one direction.


So, please stay. I love you more than I can say.

Dan Memang Harus Begitu

Semacam pagi yang biasa. Tak perlu cemas. Juga waktu yang mengajarkan untuk memasang pagar baja. Agar tak terlalu cepat berair mata, katanya. Jika masih berair, ngomong saja sama Tuhan. Kan Dia yang paling penyayang. Dia yang paling berhak.

Aku angguk-angguk.

Semacam siang yang biasa. Ada letupan-letupan imajinasi yang muncul lagi. Atau semangat yang menjadi-jadi. Aku mau ini, aku mau itu. Harus begini harus begitu. Kata waktu, cara termudah untuk berdamai dengan yang tidak kau sukai adalah menghadapinya. Selesaikan dengan baik. Kau kan jagoan. Kalau bukan kau sendiri, siapa yang mau berjuang untuk hidupmu?

Aku angguk-angguk.

Semacam malam yang biasa. Kasur empuk dan kitab suci yang terabai sampai berdebu. Kata waktu, istirahat. Jangan lupa beri makan jiwamu.

Aku angguk-angguk. Seperti merayakan hari-hari dan senyuman untuk diri sendiri. Ini sebuah pencapaian. Sudah bisa mengendalikan kesedihan dan kebahagiaan itu pencapaian.

Lalu terlelap.

Hati dan pikiran sibuk bersih-bersih. Agar lebih lapang, katanya. Terima kasih, kataku.

Patahan #50

"Percayalah, Allah akan memberi yang terbaik. Walaupun yang terbaik tidak selalu yang terindah" - @dianpelangi

:)

Saya Takut

Saya takut kehilangan mama dan abah.

Saya takut hanya bisa melihat mereka jarang-jarang. Atau tak puas membahagiakan. Atau tak lagi ada yang mendoakan.

Doa yang diulang-ulang. Tak pernah lelah. Tak pernah lelah.

Dear John

Savannah: "I'll see you soon, then"

John: "I'll see you soon, then"

:)

*and i watch this over and over and over again*



May 19, 2012

Aku Sudah Hapal Benar

Aku tahu bahwa ini sudah waktumu untuk terlelap.

Jangan lupa untuk bersujud dan mengganti seragammu. Tidur di depan televisi itu tidak baik untuk kesehatan. Tidak baik, sungguh tidak baik.

Banyak nyamuk. Juga dingin. Nanti kau langsung pilek di pagi hari.

Aku sudah hapal benar.


Aku tahu bahwa ini sudah waktumu untuk terlelap.

Jangan paksakan untuk bicara - aku tahu kau tak akan lagi mendengar. Tidurlah, karena ini hari yang lelah. Aku pun tertidur sebelum waktunya tanpa melepas lensa. Tidak baik, sungguh tidak baik.

Juga suaramu yang sedang bahagia, kesal, atau menyesal.

Aku sudah hapal benar.

Kisah Listrik

Dimulai dari weekend yang damai.

Masih ada Iron Lady yang belum ditonton. Lalu saya menghidupkan laptop daaan... weekend tidak lagi damai. Tiba-tiba lampunya mati. Listrik satu kosan mati. Tapi rumah ibu kos yang di sebelah baik-baik saja. Hmmm, mungkin beda jaringan. Saya harap-harap cemas - semoga ini benar mati listrik seperti biasa.

Sudah hampir 4 jam. Tidak ada tanda-tanda. Petang menjelang. Semakin berkeringat dan mati gaya. Lalu ibu kos berinisiatif untuk memanggil petugas PLN.

"Kabelnya robek, faktor alam" kata pak petugas.

Dan selamat! Malam harinya saya bisa menonton Iron Lady yang tertunda.

***

Dilanjutkan dengan long weekend yang overrated.

Saya sampai di kosan menjelang magrib. Ternyata listrik sedang padam dan baru hidup beberapa menit setelah azan. Teman-teman yang lain sedang asyik berkemas untuk pulang. Lagi-lagi saya menghidupkan laptop, memasukkan colokan daaan... gelap! It happens again! Karena laptop saya, dua rumah listriknya mati!

Saya sangat shock - berharap ini mimpi, ini mimpi! Please, ini hanya mimpi! Pemilik kos berteriak-teriak. Sungguh saya sangat tidak suka teriakan. Saya sholat saja berharap keajaiban dan ketenangan. Petugas PLN datang lagi - katanya masih faktor alam, kabel tua, dan sebagainya. Saya diam saja di kamar. Mau menangis. Mau menelpon ayah. Seandainya dia di sini. Seandainya.

"Kalau abah punya sayap, pasti abah sudah kesana"

Oh daddy, it's too sweet!

Lalu saya diajarkan banyak hal - tentang regulator, tentang korsleting, tentang tegangan naik turun, tentang penggunaan daya listrik... Oh dad, I wish you were here. Oh seandainya dulu belajar fisikanya ga cuma teori.

Sampai saat ini saya tidak tahu apa yang salah. Saya tidak berani menghidupkan laptop sama sekali. Entah sampai kapan. Dan jadilah long weekend ini semakin biasa saja. Akhirnya saya membawa semua - mulai dari laptop, adaptor, sampai rol kabel ke rumah tante untuk diperiksa. Dan semua baik-baik saja.

Solusinya cuma satu: pindah!


*Postingan curi-curi - sebelum kembali menuju sepi*

Dialog Akal dan Kalbu

"Aku tidak suka usia dua puluhan"

"Kenapa?"

"Karena waktumu sangat terbatas"

"Jelaskan"

"Di satu sisi, kau sudah mulai bisa mandiri secara finansial lalu sadar bahwa banyak hal yang masih harus kau lakukan untuk meningkatkan potensimu. Tapi di sisi lain, kau seperti berjalan menuju batas... batas itu yang tak pernah kau tahu kapan datangnya. Batas itu adalah bangunan: rumah dan tangga"

"Itu bukan batas. Batas itu kamu dan pikiranmu - yang membatasi dirimu sendiri"

*lalu hening dan berpikir lagi*

It Sucks Being a Dude

Grayson: How can I still not understand what women want?

Jules: Women just want a guy who respects our independence, but also wants to take care of us. We want a guy who’s secure but also gets jealous. We want a guy who truly listens to us but also wants us to kinda shut up.

Like yesterday, when you were being a little mean to me, but you weren’t being too mean. That was so hot...

It sucks being a dude, women want an everything man.



*YEAH! Got this dialogue from Cougar Town: season 1 episode 19 in Star World Channel. That's why i love fullboard meeting somehow- because i can watch TV series in my room :p

May 10, 2012

#1 Mei untuk Maret: Sudah Waktunya Musim Panas

Musim semi baru dimulai dua bulan yang lalu. Tapi cuaca semakin terik seperti sudah waktunya musim panas.


Mei pun marah kepada Maret.

"Kau membuatku terbiasa memakai jaket"

Maret berujar tenang, "Tak apa. Jaket itu membuatmu terlihat cantik"

"Tapi ini sudah semakin panas. Aku merindukan angin sepoi-sepoi dan hujan malu-malu"

Maret diam saja.

"Dan kau juga membuatku terbiasa berjalan-jalan di sore hari"

"Kalau begitu terbiasalah untuk tidak lagi membiasakan yang demikian", lalu Maret pergi.


Bukan jaket, angin, hujan, jalan setapak, atau petang oranye yang kurindukan. Tapi kamu. Aku sudah lupa bagaimana bicara denganmu. Sayang sekali.

Padahal musim semi baru dimulai dua bulan yang lalu. Tapi sudah ada tanda-tanda kehilangan.


Edelweiss

Taman ini sudah berusia 3 tahun, tapi sang pemilik belum pernah melihat secara langsung wajah sang penghuni.


Dan akhirnya, bunga abadi itu sudah ada di meja kerjanya. Kecil dan bergerombol. Jika dilihat dari jauh mirip seperti kembang gula. Ada serbuk putih yang berjatuhan ketika disentuh. Dan ada bau yang khas - semacam bau gunung.

#17 Self Note

Ditempa itu memang sakit. Tapi membuatmu kuat. Hingga sampai pada titik dimana kau tidak butuh mengeluh lagi. Berhati-hatilah, karena tidak semua orang simpati dengan keluhan - tapi berbahagia.

Ditempa itu memang sakit. Tapi membuatmu kuat. Hingga sampai pada titik dimana kau kehilangan kemampuan untuk menangis dan jadi anak manis. Percayalah, memang butuh usaha lebih untuk melangkah naik. Juga sabar; semacam sabar yang banyak - ketika habis - masih ada sejumlah alasan untuk tetap bertahan.

Ditempa itu memang sakit. Tapi jangan sampai menjadi lupa.

Atau membuat hati menjadi keras, sayang.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram"(QS. Ar Ra'd:28).


Patahan #49

Sorry to say.

That I miss you everyday.


But I hate you - because you never feel that way.