December 18, 2010

Daddy

For me, the most special feeling in Saturday night is I miss my daddy, yeah, badly.

I miss when he asked me around the town with his old fascinating motorcycle, but the most comfort one – to watch the flash light, buy some cookies, and feel the fragrance of the air after raining. And we would date with my young brother too with full of laugh and gratitude.

I miss when he listened stories carefully about my weekdays, and then nodded happily and fatherly. He would repeat his same questions for many times, and then nodded proudly without any boredom.

I miss when we sat in the backyard gazing to the stars above and talked about the blooming roses around while we chew some cakes and hot tea enjoying the night with mom and some cats crowding the chair. Still, when I gaze to the sky, I still remember him, badly.

I miss his tough face – looking at me straight waving goodbye without any words but one tear.

I miss him, the most favorite man I’ve ever had, always.

***

everything you taught me will stay with me forever
no I wont forget a thing
oh because of my dad I now know myself better
oh I hope i can do for him what he did for me

I wouldnt be where I am
if my father didnt tell me
to never say I cant
(Bruno Mars-never say you can’t)

Masa Kini

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Karena hanya hari ini yang menjadi hakku, bukan esok hari yang menjadi hakNya.

Karena memang hakikatnya apapun yang terjadi di masa depan: satu menit dari saat ini, satu jam dan satu hari berikutnya, dan satu tahun ke depan adalah ‘semua efek’ dari yang kulakukan dan tidak kulakukan saat ini.

Hidup itu memang pilihan: selalu ada banyak jalan yang terhampar di depan, selalu ada kesempatan untuk melakukan dan tidak melakukan, melanjutkan atau mengabaikan, dan menunggu atau mundur. Dan segala sesuatunya berujung pada arah dan akhir yang berbeda: bahkan akhir itu pun pilihan – walau ada beberapa yang telah menjadi ketetapan langit dan tak dapat dielakkan.

Aku ingin hidup dengan sederhana – dengan tidak selalu berekspektasi berlebihan. Hidup dengan penuh pengharapan untuk selalu bisa naik ke anak tangga berikutnya setelah menemui anak tangganya, bukan memikirkan bagaimana beratnya untuk mencapaidua anak tangga bahkan sebelum menemui anak tangga yang kutuju. Dan belajar membedakan antara optimis dengan obsesif – karena keduanya beda tipis.

Karena orang yang paling berbahagia adalah orang yang bisa mensyukuri apa yang dia miliki saat ini, bukan yang dimiliki orang lain, dan bukan yang diciptakan dalam mimpi-mimpi yang membuat risau dan kalut. Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa berjuang sepenuhnya pada hari ini, tidak menyesalii hari kemarin dan menghkawatirkan kenyataan di hari esok – karena kebahagiaan hari ini adalah benih abadi untuk kebahagiaan di masa depan.

Bahagia untuk memilih, bukan hanya menunggu dan berpangku tangan.

Bahagia untuk menerima, bukan hanya mengeluh dan menangisi keadaan.

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan.

Jika aku takut aku tidak akan mungkin bisa bersama seseorang yang hadir di hidupku saat ini – pada akhirnya, aku mungkin tak akan pernah belajar: belajar mencintai. Belajar menghargai anugerahNya yang datang saat ini. Dan akhirnya kesempatan untuk bersamanya (yang ketentuannya telah tertulis di langit) tak akan pernah ada – bahkan sejak awal.

Jika aku takut tidak akan mungkin mencapai yang kucita-citakan, aku mungkin tak akan pernah belajar untuk menimba ilmu-ilmu itu – hingga akhirnya otakku kosong hanya diliputi keraguan. Dan akhirnya cita-cita itupun tak pernah tercapai.

Jika aku takut pendapatku tak akan pernah diterima, aku mungkin tak akan pernah belajar: belajar untuk bicara, mengungkapkan pendapatku, dan membuktikan segala sesuatu yang kuyakini saat ini. Dan akhirnya, aku pun tak pernah didengar.

Yang terjadi saat ini adalah berkah dari keberanian, ketakutan, harapan, dan rahmatNya – yang tak akan pernah bisa diulang atau ditarik lebih awal.

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Sehingga aku bisa tersenyum pada kehidupanku, pada harapanku – bukan hanya pada keluh dan tangis yang menyiksa. Karena penyesalan terbesar datang saat kita tak pernah mencoba sama sekali – dan membiarkan diri kita selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan

Dan jika pada akhirnya masa depan yang kuinginkan itu tak pernah terealisasi – aku bisa belajar untuk tak perlu menyesal. Karena aku telah fokus, berjuang, dan mencoba. Sisanya adalah keputusanNya – Dzat Yang Maha Cinta dan Maha Mengetahui.



Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Dan bisa terus berucap: Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk saat ini.



But I used to dream about,
the life I'm living now and,
I didn't think I'd miss those things from the past,
and I'm not afraid of leaving,
or letting go of what I had,
cause I realize that now there's no turning back.

Cause I'm caught living in a world filled with love,
so when tear drops fall from me like rain from above,
I can brush my troubles away,
know that deep down inside,
I got sun shining in my life.
(World Filled With Love - Craig David)

December 7, 2010

Klimaks: Kita

Kita berdua masih menyukai analogi yang sama – tentang kisah cinta abadi sang bintang siang dan satelit bumi penghias malam. Analogi yang membuatmu menyindirku. Bagaimana mungkin kau bisa memaksakan datangnya perpisahan? Sementara aku dan kamu tertarik ke kutub yang sama – layaknya matahari dan bulan yang tetap bertahan karena gaya tarik yang menjembatani keduanya walau hanya mampu bersua beberapa jam dalam gerhana dan beberapa menit yang istimewa dalam fajar dan senja.

Kita berdua masih meyakini hal yang sama – tentang kebahagiaan yang datang diam-diam. Layaknya butiran gula yang ditaburi di atas kue cokelat. Begitu riang, manis, dan tanpa suara. Persis aku – yang sering bicara dalam hening saat di dekatmu dengan aura yang meletup-letup bahagia. Terlalu bahagia dengan kehadiranmu yang datang lagi duduk manis menyantap sisa roti bakarmu di dapurku.

Kita berdua masih mengagumi siklus alam yang sama – tentang daun-daun yang berguguran tepat pada waktunya. Bagiku, daun-daun kering ini adalah sebuah simbol tentang masa lalu dan sekaligus masa depan. Lihatlah daun yang setia itu, saat dia telah berpisah dengan rantingnya pun dia tetap mencintai dengan bijak. Tubuhnya yang hancur berkeriput digerogoti tanah beraroma petrichor menjadi humus untuk kelahiran daun-daun baru – menggantikan tempatnya di ranting yang ikut menua.

Yang berbeda adalah kita saling duduk bersisian di bukit ini dengan jarak sepuluh centimeter dikelilingi oleh daun-daun kering berjatuhan yang berbau hujan. Yang berbeda adalah kita sama-sama melahap kue cokelat bergula pelan-pelan dengan hati yang saling merangkul. Yang berbeda adalah kita bergantian menatap awan merah yang mengiringi petang sambil sesekali mencuri pandang ke arahmu dan kita tersenyum malu-malu dipayungi oleh horizon langit yang bermesraan dengan panorama jingga.

Aku selalu suka petang.

Petang yang menjadi saksi kebahagiaan matahari yang berjinjit menuju ufuk barat mengiringi bulan yang merangkak menghiasi kegelapan. Petang yang menjadi perlambang pertemuan hikmat dua makhluk Tuhan dan seakan alam semesta menghadiahkan keduanya dengan kemeriahan mahkota langit yang berwarna merah, emas dan keunguan. Petang yang membuat daun-daun berhenti memasak untuk alam dan tidur nyenyak digelitik oleh semilir angin yang bergelayutan.

Lalu kita berbicara tentang apa saja yang terlihat secara nyata. Tidak lagi berkisah tentang kerisauan dan ketidakpastian dalam fatamorgana yang kuciptakan sendiri. Dan salah satu yang nyata saat ini adalah kamu.

Kamu. Ketidaksempurnaan yang begitu tampak sempurna untukku.

“Pernahkah engkau bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan pohon pada burung yang hanya hinggap sesaat di batangnya lalu terbang?” tanyaku kemudian.

“Menurutku, dia tak pernah bertanya, tak pernah berkata. Dia hanya tersenyum karena bisa bermanfaat bagi alam apakah itu untuk sesaat atau bukan. Mengapa bertanya demikian?”

“Karena terkadang itulah yang kurasakan”

“Tentang aku? Aku analogi burung itu?”

“Tidak semua hal layak dianalogikan, sayang”

Aku pun mengangguk dengan pipi merah jambu.

“Tapi lihatlah, burung yang tadi terbang kembali lagi. Membangun sarang di situ dan mengerami telurnya hingga terkantuk-kantuk” jawabmu. “Demikian pula aku, aku kembali pulang. Tak ada tempat yang lebih baik selain hatimu”

Petang semakin menggeliat. Dingin. Tapi hatiku begitu hangat.

“Kamu tahu siapa orang yang paling bahagia?”

Aku menggeleng.

“Yakni orang yang bisa berkosentrasi pada saat ini. Tidak hidup pada masa lalu dan merisaukan masa depan. Orang yang bisa mendengar kata hatinya, membedakannya dari suara egonya, dan berjalan ke depan menuju kebahagiaannya”

Dan karena kamu adalah cinta yang nyata saat ini, aku pun bahagia karenanya. Bahagia karena bisa mendengarkan suara hatiku kembali dalam ego yang memekakkan batin.

Lalu kita pun berjalan bergenggaman – menuruni bukit, trotoar, dan jalan yang ramai dengan deru kendaraan. Melangkah bersama dari masa lalu.

Terima kasih pada kehampaan – yang pernah menghakimiku – dan telah mengajarkanku makna cinta dan kehilangan.

Dan, makna kamu, seutuhnya.

****FIN***

December 4, 2010

#6 Pulang

Pulanglah
Pulanglah ke gubukku sayang
Jika memang tak lagi layak disebut istana, tak mengapa
Pulanglah
Masih ada beberapa kuntum edelweiss kering di kebun belakang
Dan kursi malas tempat kita biasa menyeduh teh
Melamun, memandang hujan
Dari siang hingga petang

Pulanglah
Pulanglah pada hatiku yang sudah tak berpintu
Menunggumu
Masih ada setengah roti bakar yang tersisa di mejamu
Tak usah kau biarkan air matamu menetes sendirian di sana
Aku siap menangkapnya satu-satu
Lalu menjadikannya bahan bakar kebahagiaan dari relung kesedihanmu

Pulanglah
Tak perlu kau penjarakan semua pedihmu
Aku hanya berpura-pura lupa dan menghindar
Bahwa ruangan yang tersedia di gubukku ini
Adalah milikmu

***

Dan di teras ini
Dalam dentingan gerimis
Dalam sayup
Aku kembali mendengar langkah-langkah kaki…

***

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side
(If you’re not the one – Daniel Beddingfield)

December 3, 2010

#5 Hilang

Dalam hampa, kau berdansa dengan kehilangan...


Hilang itu seperti kau menyeruput kopi tanpa rasa pahit.

Mungkin, bisa kau tanya pada sang batang yang merelakan perginya daun-daun muda di musim penghujan.

Atau bisa kau tanya padaku.

Bagiku, hilang itu mati rasa. Saat kau merasa asing dengan sekeliling, dengan duniamu, bahkan dengan dirimu sendiri.

Bagiku, hilang itu adalah saat ini. Saat tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu yang membangunkanku. Saat tak ada lagi kisah-kisah petang, juga jejak-jejak kita yang menari-nari di atas bukit menyambut rembulan.

Bagiku hilang itu adalah saat menyadari tak ada lagi kamu.

Kamu memang ada, masih berada di sana, dengan senyum yang selalu kusuka. Tapi, kita tak lagi sama.

Jika aku merobohkan dinding beton yang melingkari hatiku - yang sedingin ego namun serapuh sayap kupu-kupu, maukah kamu datang lagi?

Istana hatiku sepi. Menjerit. Kehilangan pelanginya: kamu.

Layaknya matahari dan bulan yang merindukan gerhana agar bisa bersua, aku pun merindukanmu. Aku mencintaimu diam-diam dalam keterlambatan. Dalam kehilangan.

Kini aku tak bisa lagi berdusta pada hati dan kutata kembali dia dengan rapi. Aku siap menyambutmu untuk datang lagi. Layaknya malam yang bersemangat menyambut pagi ataupun sesederhana menikmati rasa ngilu dari gigitan pertama es krim yang menyerang geraham.

Kehilangan dan kamu. Pasangan sempurna yang mengobrak-abrik kompleksitasku dan menyadarkanku bahwa kamulah yang selalu ada. Dan aku telah mencintaimu.

Apakah kamu juga demikian?

Semoga yang tersisa bukan hanya kata ‘telah’ di dalam kamusmu. Tapi yang kuharapkan adalah kata ‘masih’, ‘selalu’, atau mungkin ‘selamanya’.

December 1, 2010

#4 Kompleksitas

Klimaks dari benang merah kita: Aku mengetuk pintu hampa...

Aku ingin menjadi pribadi yang sederhana. Yang bisa berpikir dengan sederhana. Mencintaimu dengan sederhana. Dan menjalani hidup dengan sederhana.

Sederhana.
Karena kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana senyum di pagi hari dan menyapamu. Itu saja.

Aku benci kompleksitas ini. Saat aku selalu terpaku pada kegagalan, bukan proses. Saat aku lebih mengelu-elukan risiko, bukan kesempatan. Saat aku lebih berfokus pada Z, bukan B, C, atau D yang datang lebih dahulu setelah A.

Kompleksitas itu aku. Yang membiarkan hatiku dipagari dinding beton berlapiskan kawat berduri, tapi bagian dalamnya reot, rusak parah. Berdarah.

Kompleksitas itu aku. Yang tergila-gila membohongi suara hati, membingkainya dalam ketakutan, hingga aku tak mendengar apa-apa lagi selain suara nina bobo dari sekeliling yang hangat di telinga. Tapi membakar mawarku. Ilalangku yang tak lagi segar. Dan bunga-bunga yang tak lagi mekar.

Kompleksitas itu aku. Yang terlalu banyak tidur dalam negeri dongeng, hingga tak tahu lagi apa yang nyata dan yang khayal. Yang nyata bahwa istanaku sudah tak lagi mengenal hujan karena dilanda kemarau panjang. Yang khayal adalah aku tetap mengenakan payung, tersenyum. Entah untuk apa. Mungkin, berpura-pura bahagia. Berorasi dengan ketidakpercayaan pada kepastian yang datang – darimu – yang selama ini kucari dan selalu kuagungkan.

“Tapi kenapa?”

“Karena aku takut”

Seperti sim salabim. Lalu engkau tak lagi berdiri di sana.

Kompleksitasku meradang. Bertransformasi menjadi air mata. Tumpah ruah. Dari dalam dada bergema sesuatu yang selama ini kupaksa untuk bisu, “Aku telah merelakan yang berharga: kamu”.

November 30, 2010

#3 Benang Merah

Diam di tempat. Setelah kisah petang...

Bolehkah aku menyalahkan gelombang?
Materi yang tak terlihat tapi dengan sebegitu beraninya mempertemukan aku dan kamu dalam waktu dan ruang.
Sepertinya tidak.

Lalu, bolehkah aku menyalahkan gravitasi?
Dia yang telah menarik aku dan kamu dalam satu titik – dalam satu fase. Lalu mendorong kita jatuh ke titik ini. Ke sebuah relung.
Tidak, tidak boleh.

Karena tidak ada gunanya menyalahkan, aku memilih untuk membenarkan. Membenarkan pertemuan, tawa, kegundahan, air mata, dan kepercayaan yang engkau pilih untuk dibagi bersamaku. Membenarkan benang merah yang kupilin perlahan dan semakin kusut, kusut, dan terburai di pertengahan. Dan membenarkan bahwa semua serpihan asa yang engkau sebarkan di sepanjang jejakku bukanlah sampah.

Tapi petunjuk agar aku dapat berjalan pulang. Menyediakan ruang yang nyaman untuk kuhuni di hatimu.

Aku bergidik. Tertawa tertahan. Dipaksa oleh kebimbangan.

Mungkin aku boleh menyalahkan pagar hatiku yang terlalu rendah. Lalu kubangun pelan-pelan dinding beton di sekelilingnya dengan lubang kecil di depan pintunya agar aku bisa mengintipmu dari dalam.


Rasanya sesak sekali. Sakit. Sakit.


Dinding beton itu menggergaji hatiku perlahan. Menekan rongga dada hingga hampir lepas dari fondasinya.


Sakit.


Sakit. Tapi aku puas.


Selesai. Kutambah dua buah lubang di sisi dindingnya. Tak bisa pura-pura. Aku tetap ingin memandangmu.

November 29, 2010

Kutipan Novel: The Alchemist

Berikut adalah beberapa nasihat indah dari buku The Alchemist karya Paulo Coelho yang saya kutip karena sarat dengan pembelajaran tentang takdir, kebahagiaan, cinta, dan pemahaman atas suara hati. Sebuah kisah sederhana yang indah dan menjadi inspirasi bagi banyak orang ^^





TENTANG TAKDIR

Apakah gerangan dusta terbesar itu?
Beginilah dusta terbesar itu: bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu.

Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.

Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.

Memang begitulah selalu. Itu namanya hukum keberuntungan. Orang yang baru pertama kali main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula.
Kenapa begitu?
Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.

***

TENTANG KEBAHAGIAAN

Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu.

Hari ini aku belajar memahami sesuatu yang dulu tidak kusadari: setiap berkah yang tidak kita hiraukan, berubah menjadi kutukan.

Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah ini ditulis oleh tangan yang sama.

Dan kalau kau tak bisa mundur lagi, kau hanya perlu memikirkan cara terbaik untuk maju terus. Selebihnya terserah pada Allah, termasuk bahaya yang mungkin mengintai.

Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkosentrasi hanya untuk saat ini.

***

TENTANG CINTA

Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati… bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia.

Jangan katakan apa pun. Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.

“Apakah cinta?” tanya padang pasir.
“Cinta adalah burung elang yang terbang melintasi pasirmu. Sebab bagi burung itu, engkau padang rumput tempat dia mencari makan. Dia mengenal batu-batu karangmu, bukit-bukit pasirmu, dan gunung-gunungmu. Dan engkau selalu murah hati kepadanya”.

Inilah yang namanya cinta. Kalau kau dicintai, kau jadi bisa menciptakan apa pun. Kalau kau dicintai, kau tidak perlu memahami apa yang terjadi, sebab segala sesuatu terjadi di dalam dirimu, dan bahkan manusia pun bisa mengubah dirinya menjadi angin. Asalkan angin membantunya tentu.

Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan, seperti yang kau lakukan.

***

TENTANG SUARA HATI

Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya.

Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.

Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?
Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.

***

#2 Kisah Petang

Dan aku pun mundur beberapa langkah menuju fase itu. Petang. Sebuah etape sebelum hampa...

Aku tergila-gila dengan Matematika. Karena dia begitu pasti. Konsisten. Rumit dalam kesederhanaannya. Persis aku. Dan sederhana dalam kerumitannya. Persis kamu.

“Dalam hidup, jangan terlalu banyak berteori. Jalani saja sesuai skenario yang dipilihkanNya untukmu. Karena dalam hidup tak ada yang pasti – bahkan hukum Newton III sekalipun”. Kamu pernah berkata kepadaku demikian.

“Ada yang pasti. Logika itu pasti. Dia jadi labil ketika bermain-main dengan perasaan”, jawabku.

“Yang pasti itu hanya perubahan. Hidup itu bukan bilangan yang bisa kau prediksi sesukamu. Bukan seperti Matematika yang menjadi ambisimu karena satu alasan: pasti. Jika memang demikian, jelaskan padaku apa artinya tak terhingga”

Aku diam saja. Malas berdebat.

“Jika satu bagi nol sama dengan tak terhingga. Dan dua bagi nol juga sama dengan tak terhingga. Maka tak terhingga kali nol adalah satu, dan bisa juga dua. Apanya yang pasti?”

Langit sudah mulai merah. Tapi kita masih duduk di balik bukit dengan bunga-bunga liar yang berayun-ayun mengantuk. Mungkin bosan mendengar pembicaraan yang itu-itu melulu. Tapi tidak denganku. Aku menikmatinya. Seperti angin yang mengayun-ayun bunga liar itu. Mereka pun menikmatinya.

“Nol itu angka manusia. Hampa. Aku menganalogikan pembagian itu seperti cinta. Seberapapun besar cinta yang engkau bagi pada kehampaan hasilnya sama. Rasa sakit yang tak terhingga”

“Teori baru lagi?”. Lalu kamu pun menertawai pipiku yang merah. “Berarti rasa sakit yang tak terhingga jika didampingi dengan kehampaan bisa menghasilkan cinta kan? Inversnya begitu?”

Aku terperangah. Seperti angin yang terperangah ketika bergesekan dengan rerumputan. Logikaku sungguh tak pernah sampai ke sana. Gigiku ngilu. Malu.

“Tapi aku benci ketidakpastian!”

Aku mencabut bunga-bunga liar yang tadi terkantuk-kantuk dininabobokan angin. Lalu kami pun diam. Lagi. Diam yang entah keberapa kalinya karena hal yang sama.

November 28, 2010

#1 Hampa

Hampa itu aku.
Menunduklah sedikit dan lihat ke dalam dadaku. Hatiku seperti selongsong kosong tak berupa. Ditelanjangi oleh sebuah nama yang bernama kehilangan. Yang kau curi lagi. Remuk. Tepat setelah selesai kau perbaiki. Lengkap dengan jarum jahit yang kau jelujurkan dengan rapi tapi lupa kau cabut kembali. Meninggalkan lubang yang teronggok bersama penghuni baru yang tak ingin kukenal: sebongkah kenangan.

Sebongkah kenangan. Yang tega menggerogoti lukaku seperti belatung. Layaknya padang ilalang yang disetubuhi oleh belalang. Layaknya debu – halus – tapi membuatku buta. Adakah pisau yang lebih tajam untuk membunuhku selain kenanganmu, sayang?

Hampa itu aku.
Berjinjitlah sedikit dan tatap jauh ke dalam mataku. Apa yang kau lihat? Kamu. Bukan, bukan kamu. Aku hanya sedang melihat pelangi yang warnanya keunguan. Tapi ini malam hari, tak ada matahari, tak ada hujan. Hanya ada rembulan dan sang bintang fajar yang menyapa langit malu-malu. Persis kamu. Ya, kamu.

Lalu apa itu hampa? Hampa itu aku. Bukan, bukan aku. Tapi sesalku.

Aku yang membiarkan sang hati remuk. Bukan kamu.

Aku yang mengizinkan sang jarum bertengger di situ. Bukan kamu.

Dan aku yang semena-mena mengganti namamu dengan kehilangan. Bukan kamu.

Lalu apa itu hampa? Hampa itu memang sesalku. Yang menarik kenangan jauh lebih awal dari tempatnya bersemayam. Yang harusnya tak pernah ada. Belum. Jangan. Aku tak mau. Sungguh.

7 Hari Menulis Prosa

Terinspirasi dari proyek 30 Hari Menulis Puisi dari Theoresia Rumthe, ajakan dari Fiqah Faradhiba, dan beberapa pihak yang mendesak (sok ngartis :P), saya pun berkeinginan untuk melakukan hal yang sama. Lumayan, sekalian menghidupkan passion selepas kendali rutinitas. Tapi karena 30 hari untuk saya masih terlalu ‘wah’, hehe, dan saya tidak ahli dalam menulis puisi, maka saya mempersingkat proyek ini menjadi 7 hari (pake nawar, hehe). Tepatnya, 7 Hari Menulis Prosa.

Tema prosa ini tidak jauh-jauh dari kompleksitas, patah, dan cinta yang saya bangun dengan alur maju mundur. Setiap harinya akan ada 1 prosa baru yang saya terbitkan di blog ini. Jadi, insya Allah cerita akan berakhir dalam seminggu. Semoga saya tetap konsisten yah!

Mohon dimaklumi ya kalau prosa-prosa ini masih berada dalam level jauuuuh dari layak. Hehe. Insya Allah akan terus belajar untuk memperbaiki harmonisasi rasa dan kata. Tetap mampir ke taman edelweiss yah dan nantikan 7 prosanya! Hayuuu yang mau ikutan bikin proyek yang sama, mari kita saling menginspirasi! :)

Selamat membaca ^^

November 27, 2010

Burung-burung Kertas

"Jika seseorang membuat 1000 burung kertas, maka keinginannya akan terkabul"


Mitos klasik Jepang itu memang selalu hidup. Boleh percaya juga boleh tidak, namanya juga mitos. Burung kertas ini atau yang biasa disebut crane, baik di cerita ataupun di pandangan orang-orang, memang selalu identik dengan ketulusan dan impian. Dulu, waktu saya masih di kos-kosan, saya sering melipat burung-burung kertas ini untuk mengusir kesepian. Lalu burung-burung itu dikumpulkan di dalam toples, atau disebarkan di atas meja belajar, ditempel di styrofoam, dan digantung di langit-langit kamar. Indah sekali, apalagi saat bergerak-gerak tersentuh angin lembut dari jendela ^^

Terinspirasi dari proyek 1000 burung kertas di www.1000cranemission.com dan kegejean di malam Minggu, maka saya pun ingin membuat burung-burung itu lagi. Tidak perlu banyak-banyak, cukup 3 buah saja dengan 3 kata persembahan di sayapnya: Happiness, Bless, and Love.


Tiga buah burung-burung kertas ini saya hadiahkan buat orang-orang yang saya cintai di manapun mereka berada: semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan, keberkahan, dan cinta.

Burung-burung kertas ini memang tidak bisa terbang. Sayapnya pun sangat kaku dan tak bisa mengepak. Tapi, tidak dengan harapan yang dibawanya: dia akan melesat masuk ke dalam hidupmu, beralih tepat dari hatiku ke hatimu :)


Happy making cranes, guys! :)

Kutipan Novel: Malaikat Jatuh

Dikutip dari sebuah Novel karya Clara Ng - Malaikat Jatuh, dan salah satu bagian yang saya suka dari novel ini adalah beberapa baris puisi dari Pablo Neruda, Soneta XVII yang tersebar di cerita berjudul Istri yang Sempurna. Memang sempurna melengkapi tulisan Clara Ng yang selalu indah ^^



***




Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar, atau topas, atau panah anyelir yang membakar. Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam di sela-sela bayangan dan sukma.

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar, dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya, dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam di dalam diriku.


Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai seperti ini karena tak ada cara lain untuk mencintai.


Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.

***

November 24, 2010

Sepercik Kisah dari Jalanan #1

Kemarin, saat saya pulang kantor, seperti biasa lanjut naik Metro Mini 53 dari Kampung Melayu. Alhamdulillah, kali ini ada tempat duduk yang tersisa karena biasanya Metro Mini ini selalu langsung diserbu saat muncul. Nah, tidak beberapa lama, seorang bocah pengamen masuk dan duduk di kursi yang kosong lainnya - tepat di seberang kursiku. Bocah itu kelihatan belum tamat SD, tampak kumal sekali, tapi wajahnya menyeramkan (-___-“). Dari balik kursiku, dua orang gadis berbisik-bisik, “Nah ini nih pengamen yang waktu itu. Lebih baik kita beri saja kalau dia minta, entar dapat masalah”.

Aku mengamati bocah itu. Dia menyanyikan lagu-lagu ST 12 yang nggak tuntas dan nadanya ngawur, lalu memulai aksinya. Dia meminta dengan paksa ke setiap penumpang – walaupun demikian ada yang mau memberi , ada pula yang tidak. Tadinya aku takut juga, tapi karena tiba-tiba ada pukulan keras di bahuku (sakit banget ternyataaa), dan yang melakukan adalah bocah itu – oh noooo! Syukurlah dia nggak macam-macam lagi, karena dua orang ibu-ibu yang duduk di barisan paling belakang malah jadi korban kata-kata tidak sopan dari bocah yang seharusnya belum bermoral jalanan seperti itu. Masih kecil saja sudah membuat orang-orang mati kutu, apalagi saat dewasa nanti :(

Satu potret generasi yang menyedihkan. Dia hanya satu dari sekumpulan yang lainnya. Kadang aku merasa itu bukan hidup yang dia pilih, lingkungan yang membentuknya. Kemana orang-orang yang seharusnya mendidiknya? Akankah dia seperti ini terus sampai dewasa nanti?

Metro Mini melaju. Satu hal yang langsung aku lakukan saat itu: bersyukur dengan hidupku.

I Miss You, Mom :)

Mama, kemarin tiba-tiba aku kangen. Sangat. Aku melihat gadis-gadis sebayaku jalan berdampingan dengan ibu mereka, bercanda dan tertawa. Saat itu aku sendirian, dan kapalaku langsung dipenuhi oleh wajahmu yang sendu.

Mama, aku ingin dipeluk oleh pemilik tangan yang paling hangat dan menyembuhkan. Tangan itu milikmu. Peluk aku dari jauh ya Ma. Peluk aku selalu dalam doa dan harapan. Agar aku bisa menghidupkan mimpiku, mimpimu, mimpi kita.

Mama, terima kasih buat telingamu yang budiman. Buat kebesaran hatimu yang selalu menghadiahkanku pemahaman. Jika ada benda yang kuinginkan saat ini, aku ingin pintu ajaib Doraemon: agar aku bisa sebebasnya mengunjungimu, menagih pelukmu, lalu kita bicara dalam manisnya dua cangkir teh yang melebur rindu.

Aku kangen Mama. Dan aku tahu, Mama kangen aku juga. Selalu :)

November 23, 2010

Harta Karun dalam Kardus

Aku baru saja membongkar kardus-kardusku yang berisi memori dan aset selama menghuni kos-kosan di Rumah Kuning Jurang Mangu. Membuka kardus adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup, karena kita bisa menemukan banyak benda yang bahkan mungkin kita lupa kalau kita pernah punya, dan mengumpulkan kembali banyak kenangan yang membuat kita terjun bebas lagi ke masa lalu – dan membawa kembali benda-benda lucu itu saat ini – walaupun hanya sekedar pin lucu, boneka kayu, pensil warna, ataupun guntingan foto hasil photobox. Dan yang saya temukan adalah satu bundel print out kertas A4 dengan tebal sekitar 250 halaman – yang notabene jauh lebih tebal dari laporan PKL saya. Wew. Covernya biasa saja – hanya ada satu kata dengan font Arial Black warna hijau.: DILEMA. Masterpieceku di masa SMA :D


Masa SMA itu benar-benar penuh mimpi dan passion ya. Suatu masa di mana saya sangat mempercayai mimpi dan menganalogikan hidup sebagai eskrim – perpaduan dingin dan manis. Klise sekali. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menjadi gadis yang pemimpi – tapi gadis yang lebih realistis – yang menikmati dan menerima coretan-coretan dari langit dan hadiah dariNya apa adanya. Karena inilah hidup yang sebenarnya.

Masa SMA memang masa mengumpulkan puzzle diri karena sesungguhnya hidup belum dimulai saat itu - kita hanya memasang label startnya, menyiapkan energy untuk berlari, dan mencari sepatu yang pas untuk benar-benar bisa berlari.

Ya, Dilema. Novelku yang pertama yang kuselesaikan dalam waktu 2 bulan – salah satu ambisiku sebelum berusia 17 tahun. Setiap malam setelah mengerjakan PR aku secara konsisten menyelesaikan halaman demi halaman hingga mama memadamkan semua lampu (dan muncul penampakan yang membuatku trauma, ini serius -___-“) dan seharian penuh di depan computer jika hari libur. Walaupun tema novel itu hanya berupa kisah percintaan remaja standar (yang tidak sama sekali pernah dirasakan penulisnya), persahabatan, kompetisi, keluarga, lengkap dengan cowok misterius yang cool (sinetron banget), dengan gaya bahasa gue elo (yaelah -__-“), cewek cerdas penuh pesona, cewek jutek, cewek centil, cewek cupu, haha, but for real, saya banggaaa banget, setidaknya bisa menghasilkan sesuatu.

Ambisi itu muncul ketika saat itu lagi rame-ramenya novel Teenlit yang digandrungi oleh ABG (dan saya pun ikut-ikutan suka) seperti Fairish, Backstreet Aja dan Dealova eh akhirnya pingin nimbrung tenar juga. Pingin jadi penulis! Inspirasi buat berani nulis muncul setelah baca teenlit Cinta Adisty yang ditulis oleh Gisantia Bestari saat usianya baru 12 tahun. Wew, masa saya ga bisaaa? Berkat nekat coba-coba nulis novel itu –saya mulai belajar menulis pertama kali, belajar memahami bagaimana mengharmonisasi kata dan rasa dalam sebuah tulisan. Karena menulis adalah kebutuhan yang dimulai dari kebiasaan. Walaupun hasilnya, novel saya ditolak oleh dua penerbit, tapi ya udahlah, saya sadar tulisannya masih standard banget dan saya simpan sendiri aja buat aset pribadi anak cucu nanti. Hehehe. Sebenarnya pingin bisa benar-benar punya novel sendiri yang memenuhi kualitas buat dipublish, saya pun bikin lagi tema baru (yang ngga sinetron banget), judulnya Kisah Sepiring Gado-gado. Tapi di tengah-tengah cerita, kok saya jadi ilfeel sama ceritanya. Akhirnya nggak dilanjutin deh T___T

Heran yaa, dulu itu kalau ada kemauan, kekeuuuh banget. Pingin jadi penulis, usahanya total. Mulai dari ngumpulin info-info tentang sayembara penulis remaja, rajin beli buku tips-tips nulis dan nerbitin buku, ikutan seminar-seminar, sampai konsisten bisa nulis 5 halaman per hari. Tapi kok sekarang nggaaak T___T (syukurlah masih bisa nulis blog). Trus, pingin bisa beli novel mahal-mahal, Harry Potter contohnya, sampai nabung habis-habisan dan langsung habis dibaca sampai nggak ingat mandi, makan, nonton, tapi sekarang kok nggaaaak T___T (buktinya masih banyak buku dalam kardus yang belum sempat tuntas dibaca).

Walaupun kuantitas menulis dan membaca saya sekarang tidak seperfeksionis dan seekstrem dulu, tapi sekarang saya lebih milih-milih kalau mau baca – lebih suka sastra Indonesia yang bahasanya baguuuus banget, bisa bikin nangis (padahal dulu nggak suka) dan buku-buku pembangun jiwa lainnya. Seru rasanya ya mendengar gesekan kertas di jari, merasakan aroma buku baru dan lama yang khas banget, dan menyisipkan bookmark di halaman terakhir yang kita baca.

Oh iya, kendala lain yang saya rasakan sekarang kalau saya baca buku yaitu kalimat yang saya baca berbeda dengan yang seharusnya tertulis di situ, dipelototin gitu doang, atau yang saya bayangkan lari banget dari cerita di situ, jadi harus dibaca ulang. Pikiran sering campur aduk sih. Haaaaah T_____T

Saya simpan lagi Novel Dilema ini dalam kardus, karena membaca tulisan sendiri rasanya ga siap mental – malu malu gimanaaa gitu *red face* hihi

November 21, 2010

The Key

Kita adalah jumlah total pengalaman kita, yang berarti kita dibebani masa lalu kita. Ketika kita mengalami stres atau ketakutan dalam kehidupan kita, jika kita mau mencermatinya, kita akan menemukan bahwa penyebabnya sebenarnya adalah sebuah kenangan – Mornah Simeona.




Because the past is a good place to visit, but not to live.

Bingkai

Kaku, sempit, tergantung di sudut ruangan. Jika kau beruntung, kau bisa ditempatkan sedikit lebih mencolok, di ruang tamu atau ruang keluarga. Dengan kayu mengkilat, sedikit ukiran emas, ataupun perak. Lalu terselubung kaca tipis yang mendesakmu tegak berdiri di dalamnya.

Jika pemilikmu berhati besar, mungkin dia menempatkanmu sedikit lebih rendah. Di sofa, tempat tidur, atau meja belajarnya. Lalu dia mengecupmu sesaat, memandangmu beberapa kali, atau melemparmu tanpa kendali. Tapi kau tetap saja berdiri di situ. Meregang. Diam.

Kau ini cantik. Penuh pesona di antara warna-warni dinding yang tua dan muda. Tapi tetap saja kau tak bahagia. Karena kau hanya bisa berdiri di sana, memuaskan banyak orang dengan kekakuanmu, menyakiti batinmu sendiri di ruangan sempit itu. Diam. Tak punya hak untuk mengambil keputusan.

Bagiku kau adalah analogi untuk ketidakberdayaan. Kau adalah keindahan yang terpenjara oleh gagah dan sempitnya pola pikir lingkunganmu. Jika kau beruntung, kau akan dipandang sesekali, dikagumi, lalu diabaikan lagi. Tak lelah ya kau tersenyum di sana?

Jangan undang aku lagi ke tempatmu ya. Karena aku sudah memilih hidup di sini. Di alam semestaku dengan bahagia. Dan aku telah mengganti bingkai kacamataku menjadi lebih lebar, jernih, dan tak melulu berwarna jingga.

Karena hidup itu pilihan, kawan. Biarkan kau yang memilihnya dan membentuknya. Bukan sebaliknya.

November 20, 2010

Lovable

Saya kembali teringat pada sebuah kata. Kata yang membuatku terperangah (dulu) – Lovable. Literally, lovable means having characteristics that attract love or affection.

Dan beberapa bulan lalu aku menuliskan status di facebook terkait dengan itu berupa sebuah quote dari Benjamin Franklin:

"If you would be loved, love and be lovable."

Salah seorang teman, pacarnya teman tepatnya lalu berkomentar: “Lovable itu bermakna peyoratif lho sis…”

“Haaa kenapa?” komentarku balik.

“Nggak etis dan nggak bakal tuntas kalau diomongin di sini”

Dan komentar-komentar yang sama juga berdatangan.

Lalu aku bertanya-tanya apa yang salah. Dan aku pun segera menghapus status itu.

***

Saya kembali teringat pada sebuah kata. Kata yang membuatku terperangah (dulu) – Lovable. Literally, lovable means having characteristics that attract love or affection.

Dan sekarang aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Aku sudah tahu jawabnya mengapa.

Ya, lebih sakit dari rasa sakit.

November 18, 2010

In A Rush

It came over me in a rush
When I realized that I love you so much
That sometimes I cry, but I cant tell you why
why I feel what I feel inside
(In A Rush – Blackstreet)

***

Thank God, thanks for the universe, thanks for the waves, times, and abstraction that create you and me in a chance, in a harmony, in a trust, and in a concreteness: us.

I’m just a loner who doesn’t like the loneliness, but you just come and erase my emptiness.

Everytime I open my eyes, I’m not afraid anymore, because I have you and it’s more than enough.

Because the falling leaves never hate the wind, so do i. I’ll never hate you because I’ve been falling by you.

***

And after 20 years, I open my heart again. Again. Once in a life time.

November 13, 2010

Curhat Anak Magang

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda untuk bisa ‘nrimo’, yah begitu kalimat sederhananya. Oleh karena itu, aku belajar untuk tidak berekspektasi yang terlalu ketinggian, agar bisa ‘nrimo’.

Dan, dari prolog yang agak tidak nyambung itulah kisahku dimulai.

Magang di DJPK dimulai sejak 1 November 2010, alhamdulillah, tidak perlu lama-lama jadi pengangguran. Selama 2 bulan pertama saya dan delapan orang magangers lainnya akan berada di Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah – tepatnya Subdirektorat I PDRD yang menangani wilayah Sumatera.

Di minggu pertama magang adalah fase adaptasi, dimana saya harus berdamai dengan passion dan jiwa bahwa ya sudahlah – tempatmu memang di sini. Dan minggu kedua magang adalah fase menikmati – menikmati pekerjaan-pekerjaan sederhana mulai dari fotokopi, scanning, faxing, terima telpon, nganter surat, ngetik, ngeprint, disposisi, sampai ke pekerjaan-pekerjaan yang agak nyerempet ke tupoksi seperti baca UU No.28 Tahun 2009, bikin database Perda, bantuin dorong-dorong kursi kalau ada puluhan tamu yang datang, belajar bikin matriks dan evaluasi, sampai jadi asisten kasi. Pokoknya pekerjaan apapun mangga atuh – yang penting diberdayakan :D hahaha

Menikmati. Lari-lari mengejar busway di pagi hari sampai menyapa bulan dan macetnya malam. Menikmati. Bersenda gurau dengan teman-teman seperjuangan, makan siang bareng, curhat, saling memotivasi, saling merasakan merah, merah jambu, dan biru bersama. Menikmati. Pegawai-pegawai, kasi-kasi, dan kasubdit yang baik-baik dan memposisikanku seperti keluarga.

Seperti kata seorang teman, “Menikmati hal-hal sederhana adalah tangga menuju menikmati hal-hal besar dan Allah selalu memberi yang kita butuhkan. Tunggu saja kejutan dari Nya”

Yah, setiap orang memang punya kemampuan yang berbeda-beda untuk bisa ‘nrimo’, yah begitu kalimat sederhananya. Oleh karena itu, aku belajar untuk tidak membandingkan hidupku dengan orang lain, agar bisa ‘nrimo’. Bisa bersyukur. Dan bisa terus bilang, “aku cinta DJPK – cintaaaa sekali” :D

Welcome 21!

Seharusnya, tulisan ini telah diposting beberapa hari yang lalu. Tapi menurutku, tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah memori. Layaknya, sang angka tujuh yang sangat tepat waktu mengunjungi bulan November, walaupun menurutku dia masih terlalu terburu-buru.

Selamat datang angka 1, baik-baiklah berdampingan dengan kakak senior angka duamu :)

Semakin dewasa, ulang tahun tidak lagi bermakna euforia, bahkan rasanya biasa-biasa saja. Bertambahnya usia berarti bertambahnya tanggung jawab, amanah, dan kontribusi yang harus dipersembahkan untuk hidup kita. Terima kasih ya Rabb, telah memberikan aku kesempatan kembali untuk mengumpulkan kepingan-kepingan amal di dunia, menikmati udara segar, merasakan cinta dari keluarga, dan memperjuangkan segala sesuatu yang ada dalam angan dan impian ^^

Buatku, tak ada yang lebih indah dari ratusan ucapan dan doa dari orang-orang yang menghujani berkurangnya umur kita dengan harapan. Layaknya,meniup dua buah lilin di atas blackforest yang menyala tepat pukul 12 malam. Terima kasih untuk om, tante, dan sepupu tercinta untuk kejutannya. Jujur, ini pertama kalinya bagiku, karena itu aku diizinkan mengharu biru ^^

Wahai 21 – berdamailah denganku. Jangan buru-buru ya, masih banyak resolusi yang ingin aku capai selama periode ke’usiaan’mu :D

*nodding*

*shaking hand*

Aku dan Sayapku

Selama ini, aku tidak pernah tahu jika punya sayap. Atau mungkin aku yang telah lupa jika aku pernah punya sayap.

Aku melihat ke punggungku, masih ada sisa-sisa guratan patah di sana. Tak tahu karena apa.

Aku berusaha menegakkan kedua sayapku, mengepakkannya, tapi aku selalu gagal karena tidak paham caranya.

Aku ingin terbang, teman. Seperti kamu, terbang dari masa lalu.

Aku ingin menuju ke sana, teman. Melihat kehidupan dan bertegur sapa dengan angin yang malu-malu.

Tapi lihatlah sayap-sayap patahku – yang aku yakini tak ada luka di permukaannya – ternyata begitu berdarah.

Dan, butuh waktu yang tak dapat ditentukan untuk menyembuhkannya.

Jika suatu hari nanti, sayapku pulih lagi, tolonglah ajari aku menegakkannya kembali.

Janji?

Sang Biru

Merah membutuhkan sang biru agar berlembayung. Karena biru adalah realita.

Kuning membutuhkan sang biru agar menghijau. Karena biru adalah kedamaian.

Putih membutuhkan biru agar terpercik warna. Karena biru adalah kepekaan.

Langit membutuhkan biru untuk menyambut siang. Karena biru adalah harapan.

Layaknya laut yang membutuhkan biru dalam ombak keindahan. Karena biru adalah kehidupan.

Aku juga membutuhkan sang biru. Karena biru adalah kepedihan. Agar bisa mensyukuri kebahagiaan.

November 11, 2010

Random Mind

“No, you’re not”

“Why?”

“Because, it is too risky, dear. And finally, you’ll be drawn by a monster: broken heart”

“I think without either having relationship or falling in love, we always have chance to be brokenhearted”

“No, you’re not”

“But…”

But I just too envy to them who have bravery to take a risk.

Fear of risk of being broken-hearted?

I think it’s similar as not to follow a test because we know that we always have a risk to get failed, not to smile because we kow that we’re gonna cry again someday, or not to live because finally we’re all die.


But I just too envy to them who’re trusted to decide by theirs.


Because without risk or without listening to our own heart, life is like this, I guess. *Pointing to a frame, very sharp frame, and I’m trapped there*


Me and my selfish idea – sorry.

October 30, 2010

Shaking The Sky

Postingan ini terinspirasi dari tweet yang saling berbalas yang dilakukan secara tak sengaja dan tak terorganisir oleh saya dengan seorang teman – sang penikmat langit (nama disamarkan, hehe). Dan, kisah langit pun tercipta melalui rangkaian hashtag yang diberi nama #sky. Saat saya melakukan ini, saya teringat dengan prosa 28 Hari untuk Selamanya yang juga tercipta dari prosa-prosa yang saling berbalasan. Saya tak sabar melakukan ini untuk selanjutnya karena balasan yang muncul sangat tak bisa diduga dan pastinya mengejutkan!

Wow, I’m really excited, shocked, and speechless! Thanks Sky Lover :)

Kalian bersedia? :)


Sky Lover: Tak ada cahaya bulan yang memantul ke mataku (lagi). Kasihan sang bintang yang telah menunggu sejak petang.

Me: Sang bulan pun harus mengalami siklusnya. Sang bintang tak akan kecewa, langit selalu indah. Dan bulan pasti datang lagi :')

Sky Lover: Mungkin sang bulan sedang mengumpulkan sinarnya untuk purnama kelak. Layaknya manusia, yang harus meningkatkan kapasitas agar jadi lebih pantas.

Me: Dan dia sesungguhnya tetap menatap dari jauh. Menyembunyikan kilaunya sesaat untuk mengajarkan arti kehilangan dan kerinduan.

Sky Lover: Tapi apakah bulan tahu jika bintang juga punya titik kesabaran.Seperti bintang malam ini, ia tenggelam dalam awan karena bulan yang tak kunjung datang.

Me: Mungkin dia tak pernah tahu karena mereka hanya saling pandang, bermain cahaya : tanpa kata. Tapi cukuplah menjadi bukti untuk bintang bahwa bulan slalu ada.

Sky Lover: Bulan memilih bintang yang plng bersinar dari milyaran bintang. Tapi sebaliknya, milyaran bintang harus bersaing demi satu bulan. Adilkah?

Me: Apa sebenarnya yang dicari bulan? Sepertinya bulan hanya berpihak pada matahari - bintang yang memberiny cahaya. Tp mereka tak pernah benar-benar bersama.

Sky Lover: Bulan memang berpihak pada matahari, tapi sebenarnya bintang yang berjarak puluhan tahun cahayalah yang jadi padanannya sehingga langit indah.

Me: Jika bintang yang datang dari jauh itu tak muncul lagi, mungkin bulan pun tak merasa sepi. Padahal dari cahaya bintang itu bisa terlihat jelas kesedihan.

Sky Lover: Bintang bukan tak muncul lagi, tapi sepertinya sudah ada bintang lain yang lebih dahulu di sisi sang bulan. Tapi itulah resiko jadi bintang.

Me: Walaupun dia sudah menunggu sejak petang. Tapi dia sudah bahagia dengan hanya bisa berada di belakang bulan, bukan tepat di sisinya. Cahayanya masih sama. Sama!



Okay, I almost cried in the ending of this tweet . Fyuuuuh T_T

October 29, 2010

Cookies Story

Hello, I’m Ginger Man.

I’m the inspiration of escape and sacrifice.

I was born one day ago after having some great sacrifice and deathly suffer composed by one big fat woman’s hand and woody spoon which cracking my muscle, vessel, and bone! (Okay, I’m exaggerating, sorry :P). I’m called as Ginger Man, not looked like a ginger (can you imagine me like that?), but smelled and flavored as ginger. Smell good, right? I’m a man of combination of flour, sugar, margarine, egg, and some gingery essence; then baked in high heat which creating this brown skin!

I live in peace in this glass jar. Please, don’t judge me with the story that you’ve heard in your childhood. I don’t escape from this lovely mother (okay, lovely), because she kindly gave me cherry for my eyes and raisins for my buttons. I’m cool, right? And the most fundamental reason is; I don’t wanna die in fox’s chews as what happened with my ancestor in your story book.

Chew me smoothly, okay. Promise? :’)

***

Hi, I am Cupcake.

I’m the symbol of creativity and beauty.

Look at me, and you’ll find some analogies of life, living, rain, happiness, love, and guilt. Touch me and say: “Dear cupcake” then mention what your heart’s said. Maybe it’ll help, in simply word, it’ll heal you.

You know, my dear, I am very simple definitely, but see my cap! They paint me with beautiful decoration: animal, flower, graduation hat, smile, and your name. Creativity comes from simplicity, and see, you’ll have no heart to eat me! :P

Just express what you feel to someone’s out there, and trust that you can count on me: Because I’m Cupcake.

***

*Oh My God, thank you bakers. They are so cute. And they are one of basic happiness elements in the world*

October 28, 2010

New Day: DJPK

Hidup memang penuh kejutan.

Sama halnya dengan kejutan yang muncul di tanggal cantik 20102010, yaitu pengumuman penempatan eselon I para alumni STAN 2010. Setelah bermenit-menit berusaha mendowload pengumuman tersebut di website kementerian keuangan, menunggu dengan wajah unyu dan jantung yang melompat-lompat (okey, lebay), dan masih juga terus gagal karena sedang diakses oleh ratusan orang lainnya dalam waktu bersamaan – akhirnya, mention dari twitter dan sms dari kakak dan adik tingkat memberitahu dimana nasib saya selanjutnya: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.

Pertama kali mendengar kabar itu: tetap dengan wajah unyu, bengong, tapi jantungnya udah nggak ikutan lompat lagi.

It’s so unpredictable. Di luar bayangan – karena seperti track record yang sebelumnya, besar kemungkinan saya ditempatkan di Sekretariat Jenderal. Dan, di luar ekspektasi – saya sangat tertarik dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang notabene tempat PKL saya dulu dan saya sudah sangat kenal dengan medannya.

Karena jantung sudah tidak melompat-lompat, yeaaaah, giliran saya yang melompat-lompat. Alhamdulillah, suasana rumah bersama mama dan abah saat itu pun menjadi haru biru. Pusaaat! :D

Yap, 43 kursi telah disediakan untuk saya dan teman-teman seperjuangan lainnya di eselon I tersebut. Walaupun saya satu-satunya dari spesialisasi Kebendaharaan Negara, it doesn’t matter, karena saya akan punya lingkungan baru dan teman-teman baru yang baik-baik :D

Walaupun banjir, macet, jauh dari orang tua: saya tetap ingin, mau, mauuu banget tinggal di Jakarta. Karena DJPK tidak punya instansi vertikal selain eselon I, jika Allah tidak berkehendak lain, maka seumur hidup saya akan ada di Jakarta . Semoga Pak Gubernur selanjutnya bisa memperbaiki tata ruang kota ini ya Pak, supaya Jakarta nggak tenggelam, lumpuh, dan tetap menjadi tempat hidup yang nyaman :)

Saya mengenal Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan di semester III saat belajar Pengantar Keuangan Daerah, lalu mengenal dengan lebih baik di semester IV di mata Kuliah Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. DJPK memang eselon I yang baru dibentuk sesuai amanat Pasal 18A UUD 1945, Pasal 2d, 2e dan 2f Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004, dan Pasal 2 Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004, yang menyatakan bahwa hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan hal yang penting dan strategis dalam rangka pengelolaan keuangan negara. DJPK merupakan penggabungan dari beberapa unit eselon II dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK) Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (BAPPEKI) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 66 Tahun 2006 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia.

Bicara tentang DJPK pasti bicara tentang Pemerintah Daerah sebagai stakeholder utamanya, dan selalu terkait dengan DAU, DAK, DOK, Dana Bagi Hasil, dan sebagainya. Hal-hal yang lebih lanjut mungkin akan saya ketahui saat hari pertama magang nanti pada tanggal 1 November 2010.

Waaaah :D

Sudah tidak jadi mahasiswi lagi, tidak jadi pengangguran lagi, tapi sudah jadi cewek kantoran yang harus berkualitas, trendy (teteup), amanah, dan punya banyak target serta pencapaian untuk hari-hari ke depan ^^

Bismillah :D

Terima kasih ya Allah ^^
Saat para fresh graduate bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan dan melejitnya angka pengangguran, kita telah diberikan anugerah itu. Anugerah berupa pekerjaan yang baik dan harus selalu dijaga pula dengan bermartabat :’)

Tentang Lupa

Aku tersadar; bahwa kini dan nanti, pertemuan aku dan kamu telah bernilai sangat langka dan mahal. Yang tak luput pula dari kelangkaan, sehingga tak bisa lagi kutemui kata kita, bahkan hanya jejaknya.

Kalaupun ada; kita hanya barisan huruf-huruf, tanpa aura, tanpa warna. Yang berdiri sendiri-sendiri, tak saling kenal, berpura-pura tak ingin menoleh karena gengsi atau lupa.

Lupa? Bagaimana mungkin kamu melupakan kenangan yang tertanam dalam memori begitu dalam? Kurang kuatkah aku mencengkeram saraf dan pembuluh darahmu?

Seperti daun, yang hijau sesaat lalu mengering – mati –terlupakan.

Aku dan kamu juga seperti daun, pernah hijau, pernah mengering, dan akan mati – tapi tidak terlupakan, mungkin hanya dilupakan. Yah, mungkin.

Aku merindukanmu diam-diam. Mengaku tak rindu, walau sebenarnya rindu. Dan membiarkan aku terlupakan, yah, mungkin dilupakan.

Bukan hal yang bijak jika aku atau kamu menyalahkan waktu yang membuat kita berjarak. Ataupun, menyalahkan jarak yang membuat kita tak lagi dekat, tak bisa lagi saling melihat. Padahal, sungguh jelas, hati kita tak berjarak.

Dan seperti yang pernah kutakutkan, waktu dan jarak memang membuat kita tetap ada. Ada, tapi, kita hanya barisan huruf-huruf yang membuatku terbiasa. Karena aku, kini, hanya jatuh cinta pada barisan huruf-hurufmu, gelombang suara, gelombang elektromagnetik, dan gelombang pikiranmu. Aku jatuh cinta pada benda matimu, bukan lagi kamu, yang hidup.

Aku tidak lagi rindu padamu – yang hidup.

Dan jika kita bertemu lagi, di tanah yang sama, detik yang sama, belum tentu getaran hati kita sama. Kita bersama dengan pikiran yang asyik berjalan di dunianya sendiri-sendiri. Lupa bahwa telah melupakan: tidak ada lagi kita.

Tidak ada lagi kita - kita yang terlupakan, eh mungkin, dilupakan.


*metafora untuk persahabatan dan kamu; ya kamu - pangeran tanpa nama*

Kutipan Dwilogi Andrea Hirata

Berikut adalah beberapa kalimat dari Dwilogi Andrea Hirata – Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas yang cukup memikat buat saya :). Mungkin, Anda juga.

Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu, naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan yakni perasaan tak berdaya-ingin mengalahkan, rencana-rencana jahat-penyesalan, kesedihan-gengsi, kemarahan-keputusasaan, dan ketidakadilan-mengasihani diri. Kurasa, cemburu adalah salah satu perasaan yang paling aneh yang pernah diciptakan Tuhan untuk manusia.

***

Bahwa cemburu, juga seperti iri, dan seperti dengki, yaitu seekor omnivor – binatang pemangsa segala- yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui darah, lalu bercokol di dalam perut dan membunuh orang yang memeliharanya dengan memakan hatinya ,sedikit demi sedikit.

***

Love walks on two feet just like a human being
It stands up on tiptoes of insanity and misery

***

“Pak Cik, aku hanya pernah kenal cinta sekali. Sekali saja. Hanya pada Zamzami. Itulah cinta pertamaku, yang akan kubawa sampai mati” – Syalimah.

***

Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

***

“Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar!” – Maryamah Karpov.

***

“Pasrah, hanya itu yang bisa kita lakukan. Pasrah sumerah. Terima saja kekurangan kita. Anggaplah itu sebagai berkah dari yang mahatinggi, dan bersyukurlah atas apa yang ada pada kita” – Detektif M. Nur.

***

“Kalau aku susah, cukuplah kutangisi semalam. Semalam suntuk. Esoknya, aku tak mau lagi menangis. Aku bangun dan tegak kembali” – Maryamah Karpov.

***

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger

Someone stranger
Standing in a mirror
I can’t believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid

I’m so afraid
Of losing someone I never have
Crazy, oh, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obscure little town
The moon over my obscure little town

***

Namun, sekali lagi, A Ling, bersamaku atau tidak, tak mampu membuatku berpaling pada siapa pun. Sebaliknya, Bu Indri memperlihatkan tabiat wanita cantik umumnya, yaitu jika kita mendekati mereka, mereka selalu telah menjadi milik orang lain, dan jika mereka mendekati kita, situasinya pasti selalu tidak mungkin. Sedangkan perempuan yang tidak kita inginkan, selalu berada di sana, bak patung selamat datang, tak seorang pun mau mengambilnya.

October 20, 2010

Abstrakisme: Kita

Kita memang seperti cuaca; merindukan mentari di waktu mendung, dan menantikan rintik hujan di saat terik.

Kita memang serupa bayangan; kadang muncul kadang hilang, yang kadang menjadi pelindung, namun di lain waktu membuat kalut.

Kita memang seabstrak kata suka atau duka; yang molekul dan atomnya tak dapat diuraikan, dan derajat biasnya pun tak dapat dipastikan.

Koordinat kita memang sejajar dengan sumbu X hati dan sumbu Y rasa yang tegak lurus dalam satu fungsi: cinta.

Bagi orang dewasa – cinta itu seperti angin; kadang tak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Ya, cinta memang seperti angin; penuh kelembutan, keteduhan, walaupun selalu ada peluang untuk membuat kerusakan. Tapi karena cinta seperti angin – maka kita bisa memilih sang angin yang menyejukkan dan membawa kebaikan; pengantar serbuk sari untuk membuahi putik, penggetar siulan burung kenari di gendang telinga, atau pembawa embun yang didaratkan hujan di lembar-lembar ilalang.

Bagi orang dewasa – cinta itu bisa dipertemukan oleh gelombang dalam maya, direngkuh oleh waktu dalam nyata, dan dihubungkan oleh tanda seru, huruf, angka, dan suara.

Terima kasih pada fisikawan. Terima kasih pada programmer. Terima kasih pada guru Bahasa Indonesia. Dan terima kasih Tuhan, Engkau memberikan satu kesempatan: kita.

Walaupun, bagiku atau bagimu, menerjemahkan pikiran abstrakis yang kita punya adalah suatu kelelahan. Mendekati gagal. Tak akan pernah kita temukan definisinya di kamus-kamus yang tertumpuk di meja, tak akan pernah mungkin kita dapatkan dasar hukumnya di kumpulan peraturan, kebijakan moneter, dan catatan kaki sang sarjana; bahkan search engine nomor satu pun tak akan pernah memuaskan kenihilan itu: kita.

Karena aku, kamu layaknya bilangan irrasional – tak terdefinisi tapi ada: kita.


Hati itu punya pikirannya sendiri; terdengar egois tapi sebenarnya dia galau. Dia punya kendali untuk bisa menaklukkan otak, mata, kaki, dan tangan tapi sesungguhnya dia pembimbang. Dan dia selalu menyimpan impian diam-diam yang tak dapat dipahami orang-orang, dan hanya dapat disandarkan pada Tuhan: kita.

Karena hati tak dapat disuap oleh harta benda, tak dapat disemaikan oleh bibit yang salah, dan tak dapat dipaksakan untuk bersemi sebelum waktunya. Tapi dia bisa membaca – apa yang terjadi di antara aku dan kamu – kita. Tapi dia bisa belajar – menerimaku dan menerimamu – kita. Walau dia tak bisa mengintip apa yang tertulis dengan tinta permanen di langit: mungkin bukan kita.

Tapi yang terpenting saat ini, tolonglah jangan tambah kesedihanku. Itu saja. Karena tak ada gunanya merisaukan hal-hal yang bukan wewenang ciptaan. Dan karena aku takut: kita. Pada akhirnya, aku, kamu, tak mendapatkan apapun atau siapapun.

Bangsa Kita Memang Pelupa

Baru saja beberapa bulan yang lalu kita merayakan hari jadi negeri ini. Yah, 17 Agustus – momentum saat kita semua bicara tentang nasionalisme, patriotisme, dan kebanggaan menjadi ananda dari ibu pertiwi. Tapi seperti biasa; setelah hari itu, kita sudah lupa tentang harapan untuk bangsa ini, bahkan mungkin lupa bahwa kita sudah pernah merdeka.

Demikian pula dengan kasus Bank Century yang digantung begitu saja terhembus badai politik, kasus mafia hukum, mafia pajak, kasus BLBI, ataupun kasus korupsi yang pernah menghebohkan negeri. Sudah lupa, tuh. Sepertinya hanya menjadi konsumsi media dan hiburan bagi publik, yang nantinya juga terkubur sendiri dengan kasus-kasus baru yang silih berganti tanpa henti.

Atau ingatlah kembali dengan tsunami yang meluluhlantahkan daratan Aceh, atau gempa besar di Yogya. Sudah lupa tuh. Padahal, masih banyak sekali korban-korban bencana yang terlantar dan masih tinggal di barak-barak pengungsian. Tak terurus. (Tidak) sengaja dilupakan.

Yuk, naik ke atas. Semoga saja para wakil rakyat kita tidak lupa merampungkan PR Undang-undangnya setelah plesiran ke luar negeri atau bermimpi tentang gedung baru. Bagaimana tidak pesimis, sila-sila di Pancasila saja sering lupa.

Sudahlah, ngga usah jauh-jauh. Mari bercermin pada diri sendiri. Kita yang sering mengeluhkan banjir di musim hujan, sudah lupakah kalau kita sering buang sampah sembarangan?

Ya sudah. Hehe.

Semoga generasi ke depan punya memori yang cukup besar untuk tidak melupakan banyak hal.

Mirisnya, jangan sampai bangsa ini lupa kalau dia adalah bangsa Indonesia *ngikngok*


*Sebuah renungan tentang tabiat lupa dan kerinduan atas perubahan*

Finally Home

Sudah setahun. Semakin banyak bunga mawar yang tumbuh di halaman depan. Semakin banyak pula kucing-kucing montok yang menumpang hidup di halaman belakang.


Yeah, I’m going home.

Into the place where I belong.


Memang hanya tiga hari waktu saya bisa kembali di rumah. Terlalu singkat untuk bernostalgia dengan hal-hal indah yang bersemi di sana. Saya kangen naik motor tua dengan abah, belanja dengan mama, makan masakan yang sehat, menggelitik adik yang sekarang sudah bisa jadi bodyguard kakaknya, belajar naik sepeda (sigh), ataupun sekedar duduk-duduk sambil membicarakan bulan. Saya kangen. Yah, karena memang hanya dua tujuan saya saat ini pulang: rumah; dan mengurus berkas-berkas penempatan. Yang lainnya hanya nomor kesekian.

Semoga waktu bisa berdamai denganku agar berputar lebih lambat dari biasanya. Seandainya jarak antara Bintaro dan Medan hanya sedekat Kalimongso – Sarmili, tapi sayangnya tidak.

Pulang, bukan hanya untuk memuaskan kerinduan. Tapi untuk melengkapi kembali puzzle jiwa yang hilang yang terkelupas oleh rutinitas, obsesi, dan kesepian.

Otoosan, okaasan. Tadaimaaa :D

Red Graduation

Air mata saya sudah dihemat

Disimpan dalam kantungnya yang pekat

Untuk menyambut Oktober nan memikat

Dan benar saja,

Bulan ini saya memang butuh banyak air mata :)


Alhamdulillah, setelah 3 tahun ibunda STAN mengandung sekitar 1300an mahasiswanya, maka saya termasuk salah seorang yang turut dilahirkan di tahun 2010. Ya, dilahirkan ke dunia kerja. Buat saya, lulus dari kampus ini adalah salah satu kebahagiaan yang tak tergadai. Banyak sekali hal-hal yang telah dilalui: putus asa, takut, kecewa, stress, sepi, tawa, cinta, cita, yang keseluruhannya adalah pelengkap perjuangan dan bahagia ini; dan tanpa diduga mengantarkan saya memperoleh predikat wisudawan terbaik dari spesialisasi Kebendaharaan Negara tahun 2010. Syukur yang tiada habisnya pada Allah :’).


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Yudisium yang digelar di gedung G STAN pada tanggal 4 Oktober 2010 untuk spesialisasi Kebendaharaan Negara dan PPLN sudah cukup membuat saya mengharu biru. Buat kalian yang sudah memeluk saya di hari itu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya tertular dua hal: tawa dalam syukur dan tangis; dan gelisah akan datangnya perpisahan.

Karena persahabatan layaknya morfin yang bikin kecanduan.

Dan tiga tahun bersama membuat hubungan kita sudah cukup pekat meski tanpa kesamaan darah.


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Apa selanjutnya? Wisuda. Hari bersejarah untuk para mahasiswa ini digelar di Sentul International Convention Center pada tanggal 12 Oktober 2010. Dengan kebaya merah maroon dan high heels (akhirnya), saya didampingi oleh orang tua, adik, om, dan tante yang sudah berjuang penuh agar saya bisa mengikuti wisuda dengan baik. Maaf ya buat kalian para pendampingku karena sudah membuat kalian menangis saat saya berdiri di barisan wisudawan terbaik dan nama kalian digaungkan sebagai ayah ibu dari anandamu. Lalu apa yang terindah dari hari itu? Saya bisa bertatapan langsung dengan Ibu Ani Rahmawati – Wakil Menteri Keuangan dan bersalaman dengan beliau. Ibu Ani cukup mirip dengan Ibu Sri Muliani – idolaku – jadi tidak perlu kecewa. Sangat puas, malah. Pesan beliau yang paling membekas buat saya: "Berapapun gaji kalian pada awalnya nanti, syukurilah, karena kalian sudah jauh lebih beruntung dari orang-orang yang tidak punya pekerjaan". Insya Allah. Insya Allah. Terima kasih pula pada 12 kuntum mawar yang menambah kebahagiaan saya di hari yang merah maroon itu ^^



Yeah, it is not ending, it’s only the beginning. Tetap belajar, tetap berjuang, tetap bertawakkal, tetap ikhlas, dan tetap jadi orang baik – apapun yang terjadi – sampai kapanpun.

October 5, 2010

Kutipan Novel: A Cat in My Eyes

Sebuah novel yang mempertanyakan kelaziman dengan bahasa yang indah - ditulis oleh: Fahd Djibran.

Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu.

Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang.

Serupa hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu.

***

Bagiku, cinta adalah berbagi sepotong kue bolu. Ia keluar tiba-tiba dari balik kotak bekal makan siang, serupa soda yang mendesak keluar ketika tutup botol coca-cola dilepaskan.

***

Love is so short, forgetting is so long.

***

Andai saja tak ada ingatan. Mungkin, kita tak perlu risau terhadap jejak yang kita tinggalkan. Biarlah masa lalu jadi milik masa lalu. Maka, kini jadi milik masa kini. Dan, esok menjadi milik esok saja. Kalau saja begitu, barulah aku bisa mendefinisikan cinta.

***

Women: Number Makes Us Desperate :(


“Lihat, langsing banget ga sih…”

“Boring ga sih booo…”

“Embeeeeer”


Langsing – kata yang cukup mistis buat saya. Gimana ngga? Saya bukan gadis yang punya angka-angka yang dikategorikan ‘sangat ideal’, dan karena angka-angka itu saya jadi sering minder, stress duluan kalau mau ketemu orang, atau jarang merasa cantik.

Menyedihkan *huks*

Saya masih harus banyak belajar tentang arti percaya diri, SYUKUR, dan menerima kelebihan dan kekurangan diri tanpa harus membanding-bandingkannya dengan orang lain. Kita semua istimewa.

SYUKUR.

But, indeed, number always makes us desperate.

Sepertinya sudah cukup usaha diet yang pernah saya coba sejak SMA – diet rendah karbo, teh, gel, dan kaplet pelangsing, aerobik, detoks, dan berusaha makan sangat sedikit dan sangat irit – hingga angka itu mencapai sangat ideal. Tapi, tubuh saya sepertinya sedih dengan apa yang saya lakukan, sehingga setiap kali saya pulang atau makan teratur angka itu kembali seperti dulu. Yah, efek diet yoyo.

Number always makes us desperate.

Teringat kata seorang teman – secerdas-cerdasnya wanita pasti menjadi sangat galau saat berurusan dengan ‘angka’ itu. Yah, bagaimana tidak? Kita telah menjadi korban estetika media dan keinginan publik tentang harus bagaimanakah diri kita. Dan, saya pun jadi korbannya.

Number always makes us desperate.

Saya yang selalu terperangkap dalam opini orang lain, sehingga jika meleset sedikit saja, langsung mencuri perhatian. Lalu kenapa mau diperangkap? Apakah kita hidup di dunia orang lain sehingga tidak menyayangi diri kita?

Benarkah kecantikan selalu diukur oleh angka-angka? Dan kecantikan hati dan otak hanya pelengkap?

Bukankah ada ungkapan, “…dari mata turun ke hati…”

Saya jadi tidak lagi percaya dengan kalimat “…menerima kamu apa adanya… mencintai kamu tanpa syarat…”

Pastilah kita memilih seseorang karena alasan tertentu, dan tanpa syarat itu hanya kegombalan tempo dulu.

Sekali lagi, sorry, help us, number makes us desperate!

Cita-cita vs. Kenyataan

“Kalau besar nanti mau jadi apa?”

“Mau jadi presiden!”

“Insinyur!”

“Dokter!”

“Kenapa?”

“Chila mau cembuh-cembuhin teman chila yang cakit, bial bica berlmain cama-cama lagi…”

Hehe. Tadaaa! Yah, itulah sepotong cuplikan pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang dewasa ke anak-anak. Tentang cita-cita, masa depan, dan harapan. Dan kita pun, saat itu, menjawabnya dengan pekerjaan standar – pekerjaan impian – dokter, insinyur, pramugari, atau polisi. Tanpa tahu yang kita cita-citakan itu sebenarnya apa.

Dan pastinya tidak pernah terdengar ada anak kecil yang bercita-cita mau jadi PNS!

Hehe.

Yah, anak-anak dan masa kecil. Masa yang cukup indah karena kita tidak pernah khawatir dengan apa yang terjadi di hari esok, tidak memandang teman kita dari ‘sesuatu’ – ya udah, ketemu langsung bisa main bareng – dan tidak merasa sepi walau hanya ditemani selembar kertas dan sekotak krayon.

Cita-cita di masa kecil saya juga standar: dokter anak. Lalu mama pun membelikan satu paket permainan dokter-dokteran, lengkap dengan bonekanya yang pada akhirnya jadi pemeran antagonis di antara boneka-boneka saya karena wajah dan rambutnya mengerikan. Setelahnya, cita-cita saya pun berubah: jadi chef. Entah apa alasannya, kayaknya keren bisa masan makanan yang enak-enak. Beranjak SMP, cita-cita pun mulai spesifik, pingin jadi ahli farmasi. Walau lagi-lagi nggak tahu farmasi itu apa – sepertinya seru bisa nyampur-nyampur obat. Dan sejak SMA, cita-cita saya mulai jelas, mau jadi ahli astronomi. Karena memang suka astronomi dari kecil dan belum banyak ahli astronomi di Indonesia.

Cita-cita sih bisa setinggi langit, tapi ingat selalu ada batas anak tangga yang kita punya untuk bisa kita daki – kondisi finansial dan kesempatan adalah salah satu batasnya. Banyak orang-orang pintar tapi tidak punya kesempatan, tapi banyak pula yang punya kesempatan tapi menyia-nyiakannya. Walaupun jika kita mau, kita bisa saja merobohkan batas itu.

Tapi, tetap saja ada batas lain: takdir.

Tidak pernah sama sekali terlintas dalam benak saya pada akhirnya akan menjadi PNS. Beralih dari Teknik Industri USU ke STAN – yang kedua-duanya juga bukan keinginan saya, saya anggap itu adalah bagian dari takdir. Yap, 3 tahun masa pendidikan sudah terlewati -LULUS- dan kini saya sangat mencintai ketidakinginan saya dulu itu. Mensyukuri setiap kedewasaan dan anak-anak tangga lain yang disediakanNya untuk saya.

Saya jadi teringat dengan kisah yang dituturkan oleh teman saya tentang seorang mahasiswi baru yang ingin mengundurkan diri setelah baru saja melewati 1 hari dinamika lembaga. Keinginannya itu muncul setelah mendengar pernyataan: “…jika memang tidak dari hati, atau tidak siap mental, lebih baik mengundurkan diri dari sekarang saja…”. Pernyataan itu dia tanggapi dengan serius.

Dia suka filsafat, dan ingin kembali ke kampusnya yang dulu – walau mungkin sudah terlambat. Yah, ambisi. Seperti saya dulu. Ambisi yang membuat kita tidak peduli dengan bagaimana perasaan orang tua, berapa banyak biaya yang sudah dikorbankan, atau ketidakmampuan untuk sedikit saja membuka hati. Toh, tempat ini tidak terlalu buruk. Kedewasaan muncul saat kita belajar mencintai apa yang ada di hadapan kita, dan menemukan bahwa inilah jalannya. Kita masih bisa belajar banyak hal di sini kok. Tidak tertutup kemungkinan. Lihat saja, banyak sekali anak STAN yang ahli di ilmu lain: sastra, komputer, ataupun bisnis misalnya.

Di sini saya juga belajar untuk membuka mata bahwa PNS bukan sesuatu yang buruk: apa yang saya lihat selama ini adalah stigma dari kurangnya integritas dan profesionalitas aparatur negara kita.

Toh, kita juga bisa punya karir, pendidikan, dan pengalaman yang cemerlang dari sini!

Entah kenapa, rasanya saya baru sadar, cita-cita di waktu kecil sebagian besar orang sangat langka tewujud menjadi kenyataan di masa depan.

Takdir.

Tapi percayalah, Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan mimpi-mimpi kita. Dia hanya mengubah kemasannya, menyederhanakannya, atau memodifikasinya agar lebih kompatibel dan realistis.

Semangaaat! Hidup akan tetap berjalan untuk orang-orang yang selalu punya harapan ^^