November 30, 2010

#3 Benang Merah

Diam di tempat. Setelah kisah petang...

Bolehkah aku menyalahkan gelombang?
Materi yang tak terlihat tapi dengan sebegitu beraninya mempertemukan aku dan kamu dalam waktu dan ruang.
Sepertinya tidak.

Lalu, bolehkah aku menyalahkan gravitasi?
Dia yang telah menarik aku dan kamu dalam satu titik – dalam satu fase. Lalu mendorong kita jatuh ke titik ini. Ke sebuah relung.
Tidak, tidak boleh.

Karena tidak ada gunanya menyalahkan, aku memilih untuk membenarkan. Membenarkan pertemuan, tawa, kegundahan, air mata, dan kepercayaan yang engkau pilih untuk dibagi bersamaku. Membenarkan benang merah yang kupilin perlahan dan semakin kusut, kusut, dan terburai di pertengahan. Dan membenarkan bahwa semua serpihan asa yang engkau sebarkan di sepanjang jejakku bukanlah sampah.

Tapi petunjuk agar aku dapat berjalan pulang. Menyediakan ruang yang nyaman untuk kuhuni di hatimu.

Aku bergidik. Tertawa tertahan. Dipaksa oleh kebimbangan.

Mungkin aku boleh menyalahkan pagar hatiku yang terlalu rendah. Lalu kubangun pelan-pelan dinding beton di sekelilingnya dengan lubang kecil di depan pintunya agar aku bisa mengintipmu dari dalam.


Rasanya sesak sekali. Sakit. Sakit.


Dinding beton itu menggergaji hatiku perlahan. Menekan rongga dada hingga hampir lepas dari fondasinya.


Sakit.


Sakit. Tapi aku puas.


Selesai. Kutambah dua buah lubang di sisi dindingnya. Tak bisa pura-pura. Aku tetap ingin memandangmu.

2 comments:

hanny said...

'Gravity is not responsible for people falling in love'-- Albert Einstein ;)

creamy_cha said...

yup, for falling in love, we have no control :D hehe