March 25, 2011

Surat Cinta Teristimewa: Untuk Abah

Dear Abah,

Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertatap muka, ya kira-kira sudah 5 bulan – tepatnya beberapa hari setelah Abah mendampingiku saat wisuda. Juga, mendengar suaramu tidak setiap hari, saat kita bicara, kau tak tahan berlama-lama – karena terlalu rindu – dan berulang-ulang kau mempertanyakan hal-hal yang sama: “Icha sehat?”, “Gimana kerjaannya?” atau merespon keluhku dengan kata-kata mujarab saat aku mulai gelisah: “Sabar-sabar aja ya” atau “Abaikan. Tutup aja telinganya”.

Abah, engkau memang tidak banyak berubah – masih sangat sederhana dan bersahaja. Masih setia dengan sepeda motor tua yang sangat bersejarah mengantarkankanku dari mulai Sekolah Dasar hingga hari-hari pertama kuliah sebelum aku berangkat ke Jakarta, serta yang menemani kita menikmati malam Minggu sekedar untuk membeli jagung bakar dan duduk-duduk di depan air mancur kota. T-shirt putih yang itu-itu lagi, celana panjang sebetis, dan sandal jepit selalu menjadi ciri khasmu – dengan tas sandang hitam yang penuh transistor, resistor, solder dan obeng berbagai rupa; kau pun pergi bekerja. Tak tentu. Kadang pagi, kadang siang, atau hingga larut malam – tergantung berapa rumah yang televisinya rusak hari ini dan bisa kau kunjungi; atau kau di rumah saja memperbaiki peralatan-peralatan elektronik yang dititipkan di mejamu dan mengembalikannya sesuai janji dengan ongkos perbaikan yang wajar atau bahkan tidak dibayar.

Aku sedang sangat merindukanmu, Abah. Merindukan percakapan kita di halaman rumah sambil memandang bintang-bintang, merindukan cemilan sore hari berupa roti cokelat yang selalu sempat kau belikan, dan merindukan helaan napasmu, kerut di dahimu, kebiasaan lupa meletakkan kacamata, dompet, dan kunci sepeda motor, juga menertawakan Mama yang sering ngambek atau ngomel karena kita yang sulit diatur.

Hari ini – 25 Maret 2011 – usiamu telah mencapai 52 tahun. Seperti biasa, kau tak pernah ingat ulang tahunmu sendiri. Tapi kau tak pernah melupakan kami – yang hidup dari aliran keringat dan ketegangan sarafmu, hingga aku bisa menjadi seperti ini, saat ini, dalam langkah yang masih panjang untuk membahagiakanmu. Aku sungguh ingin bertemu – semoga Lebaran kali ini, kita bisa kumpul bersama-sama lagi, makan kue nastar kesukaanmu, atau meramu lontong di malam takbiran sambil bersih-bersih rumah sampai larut malam.

Semoga Allah selalu merahmati setiap hela napas dan denyut nadimu, setiap harapan yang kau hanturkan untukku, dan setiap kebahagiaan yang kau torehkan untuk aku, Mama, dan adikku. Terima kasih telah mengajarkanku kenikmatan bekerja keras, untuk tidak menghiraukan tajamnya lidah orang lain, dan menjadi apa adanya – juga menopangku di saat aku kehilangan semangat dan akal sehat. Untuk hati-hati yang pernah membuat kita terluka, semoga tak perlu membuat kita sedih, karena kita bersama, bersama dalam jalan yang benar. Dan bersama untuk membuktikan bahwa kita bisa bangkit – bahwa aku bisa membawa kalian bangkit.

Aku menyayangimu Abah, dan untuk setiap detik hidupku, aku berterima kasih padamu. Aku bersyukur karena Mama telah jatuh cinta padamu, karena cintamu terhadap anak-anakmu sangat luar biasa – sederhana, tak terkata, tapi begitu nyata.


Tunggu aku pulang ya Abah – tak lama lagi, kita bisa duduk menyantap makan malam di meja yang sama. Mohon doanya selalu untuk anakmu.


Salam hormat penuh cinta dan takjub,



Anandamu

March 24, 2011

#Remember

Hanya butuh suatu hari. Mungkin bukan sekarang.

Saat kau akan mengingatku lagi, bukan hanya sebagai kenangan.


Dan bahwa aku yang selalu ada bahkan saat kau menganggapku tiada.

Pada suatu hari itu, kau akan kembali ke sini. Dan sadar bahwa kau telah kehilangan yang biasa kau hiraukan: aku.

Mungkin memang hanya butuh suatu hari – yang tak tahu kapan – aku mendengar bisikanmu lagi bahwa kau merindukanku.


Ya, bahwa kau akan merindukanku – bukan pada suatu hari ini (saja) – tapi bahkan di setiap hari yang kau dan aku tak lewatkan bersama.



"Will you remember me the way i remember you. Will you be the same the last time I saw you. You are the sweetest, every moment with you is the sweetest one..."



*Inspired by OST of Tropicana Slim - Remember*

Healed

Ini adalah sebuah pencapaian yang besar yakni saat saya telah bisa jujur, berdamai dengan pikiran sendiri dan mengobati rasa bersalah yang tak sewajarnya. Dan, saya pulih.




Dear Mr. Destiny,

Dengan ini saya sampaikan penghormatan dan penghargaan kepada Anda atas kontribusi Anda yang sangat luar biasa dalam hidup saya.

Terima kasih karena berkat Anda saya bisa tumbuh dengan kuat dan tegar, dan ketahuilah, saya sedang dalam proses belajar untuk menerima dan untuk siap dalam menghadapi kejutan-kejutan dari Anda di menit-menit ke depan hidup saya.

Apapun yang terjadi nantinya, jangan khawatir, saya akan terus berjuang – untuk kebahagiaan saya.

Tuhan menciptakan Anda, dan saya juga punya hak untuk mengubah Anda – dengan izin Tuhan.


Salam hormat,



Saya

Sebuah Hanya

Kau: “Apa yang sedang kau lihat?”

Aku: “Aku melihat huruf V”

Kau menggeleng sambil tertawa pelan. Lalu, kau menuntunku untuk menegakkan posisi dudukku – fokus ke jendela yang berpendar dengan pola-pola yang dibentuk oleh tetes hujan.


Kau: “Sesekali kau harus berani keluar dari pikiranmu dan berani melihat apa yang nyata”

Aku: “Aku masih melihat huruf V”

Kau: “Itu bukan huruf V. Itu huruf A.

Aku: “Bagaimana mungkin?”

Kau: “Kau dan aku hanya melihat dengan cara yang berbeda. Sekarang tegakkan wajahmu, sederhanakan pandanganmu dan lihat dengan jelas, bukankah ada pola-pola transparan yang terbentuk di tengahnya? Itulah pembedanya, dan itu huruf A”

Aku: “Aku lebih suka melihat huruf V daripada A, karena V semakin dekat pada Z. Semakin dekat pada akhir”

Kau: “Hingga kau lupa bahwa sebenarnya kau bahkan belum memulai sedikitpun, kau masih berada di A”

Aku diam saja.

Kau: “Lalu kau mengabaikan garis di tengahnya, mematahkannya, memutar huruf A dengan paksa – dan kau mendapatkan V”

Kau memelukku.


Kau: “Ini hanya permainan pikiranmu. Kau harus belajar bersabar – karena inilah hidup – menikmati apa yang nyata. Dan juga - yang hanya...”

Aku menangis. Lebih deras dari hujan di luar jendela.

March 21, 2011

Invers

Ini adalah fase dimana hal-hal yang kuanggap ‘tak penting’ jungkir balik menjadi ‘penting’ ataupun ‘sangat penting’. Dan kita mendefinisikan ini sebagai sebuah bilangan kompleks dengan logaritma pangkat ganda dan integral berlapis yang selalu kujawab dengan tak terhingga.

Aku melompat-lompat dengan riang tapi sesekali ingin hilang – hanya untuk meyakinkan bahwa tanpa aku pun kau tak merasa kehilangan.

Lalu sesekali aku ingin diam – hanya untuk mencari tahu bahwa tanpa mengingatku pun kau tetap baik-baik saja.

Karena inilah sebenarnya yang kuperjuangkan: aku takut kau akan terbiasa – tanpa aku. Atau aku yang telah terbiasa – tanpa kamu. Sebelum waktunya, tanpa ada kita.

Mungkin, tepat sebelum waktunya saat rindu menjadi barang langka dan nilaiku tak lebih dari sekedar hari Sabtu yang tak datang setiap minggu.

Dan aku pun menjadi bagian dari invers, yakni hal-hal yang pernah kuanggap ‘penting’ ataupun ‘sangat penting’ kukembalikan lagi ke tempatnya semula dengan label ‘tak penting’ di permukaannya.


Mungkin, kita masih mengistilahkan ini sebagai bilangan kompleks dengan logaritma pangkat ganda dan integral berlapis tapi bedanya kini tak lagi kujawab sama. Karena ini bilangan rasional; aku harus terus berjalan – sendirian.

Pulih

Menurutku, hal yang paling tidak mengenakkan dalam hidup ini adalah saat kamu dipaksa berada dalam kondisi yang tanpa pilihan.


Pilihan – itulah yang membuatmu ada. Masa depanmu akan seperti apa, atau apa yang akan kau santap hari ini semua itu bergantung pada pilihanmu.

Kau tahu kenapa manusia yang bersalah itu dipenjara? Yang dipenjarakan adalah haknya untuk memilih akan kemana hidupnya, dan itulah yang menyakitkan.

Pilihanmu yang membuatmu berharga – secara bebas dan bertanggung jawab menjadi manusia mandiri dan dewasa seutuhnya – tanpa dihantui rasa takut. Pilihan adalah hak pribadi, dan konsekuensinya juga tanggung jawab pribadimu. Dan menurutku, tak ada yang perlu disesali selama itu pilihanmu, karena penyesalan terberat adalah saat kau tak bisa melakukan sesuatu yang menjadi pilihanmu.

Lalu bagaimana caranya agar kau tetap baik- baik saja?

Mulailah berdamai dengan ego, ingat yang baik-baik yang kau telah jalani saat ini. Dan tepuk-tepuk sang hati setiap pagi, “Aku bisa. Aku bisa menghadapi ini”

Sesekali tak apa memberontak, dan lakukan diam-diam – selama menurutmu itu benar – karena kau itu manusia muda, masih ingin mencoba dan meraih kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Kesedihan hati adalah pertanda dia mulai dewasa dan sedang dalam perjuangan keluar dari cangkang yang memenjarakannya, perlahan-lahan.

Life is easier when you stop complaining. It does true, but not always be.

Karena hati yang mulai tumbuh adalah saat dia mulai berani mempertanyakan apa yang sedang dia jalani. Bukanlah hal yang bijak jika kau membandingkan kestabilan emosi ataupun pengalaman hidup seseorang dengan usia 20an tahun dengan yang berusia 40an tahun. Karena semua itu ada waktunya, tak terburu-buru, semua belajar pada fasenya. Jadi tak usah dipaksakan.

Hati yang dewasa tak perlu buru-buru pulih karena dia mencintai proses. Dia hanya perlu disembuhkan setiap hari hingga saat kebebasannya tiba.


Jadi kuncinya: Sabar. Syukur. Berkomitmen diam-diam. Perjuangkan terus dengan sesedikit mungkin menyakiti orang lain dan terutama dirimu sendiri. Percaya saja: Allah tak mungkin tidak mendengar sedihmu, harapanmu. Dia mencintaimu lebih dari yang kau tahu.

Jadi hati – mari berkonspirasi, “Kamu bisa kok, kamu bisa!”

March 17, 2011

Someday

"Apa yang kulakukan ini akan membuatmu marah?”


“Ini sama sekali bukan tentang kemarahanku. Aku begitu menyayangimu, hingga aku tak pernah tega untuk marah. Ini adalah tentang usahamu untuk menghargai perasaanku. Aku percaya penuh kepadamu, sehingga jangan sia-siakan rasa percaya ini dengan hal-hal yang akan melukaiku”



Karena itulah yang disebut – komitmen.


Kau belajar untuk menjaga – saat ada aku ataupun tanpa aku.

March 16, 2011

Hakikat Pintu

Mari kuceritakan sejenak tentang hakikat pintu.

Tak ada yang bisa menjamin bahwa kau bisa tenang berada di rumahmu setelah kau berikan kunci emas itu kepada sebongkah percaya, lalu kau tutup pintunya. Kau tidur dalam selimut harapan bahwa kunci itu aman dalam penjagaannya dan hanya dia yang bisa bebas masuk ke dalam rumahmu tanpa perlu ketuk pintu dulu.

Dan kau pun bahagia – berlari-lari saat dia datang dengan sebungkus oleh-oleh di saat pulang. Mungkin sebatang lolipop, selembar roti kering, ataupun jika hari itu istimewa – dia akan membawakanmu air mata atau tawa yang lebih mahal dari hadiah-hadiah yang pernah ada.

Ini perihal waktu: kau tak bisa menduga siapa yang telah lewat di depan pintumu, mengintip ataupun berjinjit seraya mencari tahu.

Dan kau tak sadar bahwa beberapa telah meniru lubang kunci di pintumu, dan membuat yang sama – duplikatnya. Hingga kunci emasmu tak lagi hanya satu.

Atau mungkin saat kau lalai, pintumu terbuka tak sampai separuhnya, dan kau tak curiga bahwa ada yang masuk diam-diam – membawakanmu secangkir cokelat hangat di kala hujan. Tiba-tiba kau merasa bahagia. Lebih.

Dan pada akhirnya kau akan menyesal telah meragukan yang seharusnya - tapi tak mampu kau syukuri.

Yang menyayangimu dengan tak sempurna, tapi NYATA.


Ragu itu semacam rayap.

Maka jaga baik-baik pintumu, jika tidak, kau akan menyakiti banyak orang – termasuk dirimu sendiri, juga rasa bersalahmu.

Dan ini yang terburuk: sebuah kehilangan.

***

*tulisan ini didedikasikan untuk sebuah pintu yang sangat rapuh - bernama HATI*

March 15, 2011

Chubby!

“Emangnyaaaa gampang!”

*boleh dong ya sekali-sekali saya ngomel begini*

Postingan blog kali ini sebenarnya agak mendekati curhat, iya deh ngaku: memang curhat. Baiklah, ini adalah curhat seorang perempuan berdarah Arab dengan karakter yang membingungkan dan kelebihan yang sangat jelas di bagian pipi, alias CHUBBY! Bahkan nama saya pun juga sering diplesetkan jadi iiiii-chaBBY! *maksa bener*

Saya punya banyak cerita tentang diet yang tak pernah berujung dan tak pernah berhasil. Maklum, benang merah pertumbuhan pipi ini sudah saya miliki sejak lahir, olalaaa. Saya mulai kenal diet sejak SMP! Dan gesit-gesitnya waktu sudah menduduki bangku kuliah. Di tingkat I, diet saya berhasil dengan sukses, karena saya benar-benar menyiksa diri, alias makan sehari sekali dengan nutrisi yang sangat minim, ditambah harus berhadapan dengan manajemen keuangan yang buruk dan stress yang sangat tidak sehat di fase-fase awal menjadi anak kosan. Uhuuuy, itu adalah moment-moment paling ‘ringan’ saya, dan konsekuensinya saat pulang ke rumah saya disuruh makan yang beneeer karena saat itu saya dalam keadaan sangat kurus dan pucat plus muncul bibit-bibit gejala maag.

Karena turunnya cepat, naikknya pun cepat: dan agaiiiin, saya punya ‘bantal’ lagi, alias chubby lagi – sampai sekarang!

Dasar wanita, saya masih belum menyerah. Aaaah, saya juga pernah mencoba diet 13 hari tanpa nasi, tapi kalau di hari kesekian kita melanggar menu yang sudah ditentukan, harus balik lagi ke hari pertama. Ooooh, saya gagal di hari ke-7 karena saat itu sedang makmur-makmurnya alias banyak traktiran. Aduuuh, mana enak kalau ditolak, dan mana tahan?!

Gagal deh! Sekarang mah diet saya angin-anginan, alias tergantung mood. Kadang makan, kadang nggak. Kadang aerobik, kadang jogging, tapi kalau sudah capeee luar biasa ya mending tidur di akhir pekan. Dan, karena saya sudah punya gejala maag, jadi nggak bisa lagi diet-diet ekstrim seperti dulu. Mungkin bener kali yaa, sayanya aja yang kurang bersyukur, seperti kalimat begini: “Aduuuh, dititipin tubuh yang bagus kok malah disiksa?”

*JLEB*

Nah, mulai sekarang kalau banyaaak sekali yang heboh dengan berat badan saya yang kembali seperti semula, pipi yang nggak bisa tirus, atau berteriak-teriak ngelihat saya yang nggak sekurus dulu bukannya menanyakan kabar setelah sekian lama nggak ketemu, please deh, emangnya gampang?! Gue aja nggak ribet, kenapa elo yang ribet?! Emang gua nggak usaha? *hedeeeh*

Syukurlah yaaa, saya nggak jatuh cinta sama pria yang pingin saya sekurus manekin atau siapapun itu. Kasian banget ya kadar cintanya cuma sebatas ukuran lingkar pinggang doang! :p

Jadi inget percakapan ini:

Me: “Kapan ya pipiku hilang?”
Him: “Lho, kalau hilang cacat dong!”
Me: “Maksudnya jadi tiruuus”
Him: “Kalau tirus bukan Icha lagi dong!”
Me: “Tapi tirus kan cantik :’( dan ga akan diejek orang-orang”
Him: “Emang standar cantik itu harus selalu sama?”

*JLEB*

Sekarang yang penting adalah menjaga kualitas makan dan dengan orientasi bukan untuk kurus tapi untuk sehat. Karena saya chubby, saya sehat, dan saya bahagia!


Dan pelan-pelan saya pasti kurus lagi! Lho? *dasar wanita* :p

March 14, 2011

Perca

Tentu saja, aku risau.

Jika kau anggap bahwa aku sedemikian kuat hingga tak pernah terlihat gelisah dengan yang sedang kugenggam erat – kau salah.

Ini bukan pasir putih yang bisa kutahan dengan buku-buku jari atau kumasukkan ke dalam mangkuk berwarna pelangi dengan perahu kertas di atasnya. Bukan. Yang sedang kupegang ini adalah sebuah kain perca bernama percaya.

Tentu saja, aku iri.

Jika kau pikir bahwa aku sudah terlalu biasa dengan yang namanya sendiri – kau pernah benar. Ya, pernah, sebelum aku menjadi gadis kecil manja seperti sekarang, penyuka bintang, pembenci malam dan gemar melompat-lompat untuk membuat hati diam sejenak, tak berteriak.

Layaknya gerimis di musim penghujan yang bisa setiap waktu menghantarkan rindunya pada tanah, aku iri.

Dan aku tumbuh menjadi seorang penyembunyi. Hingga kain perca yang sedang kuremas ini pun akan kusembunyikan dalam saku yang terdalam. Mungkin akan kubutuhkan untuk menghapus air mata jika saatnya tiba.


Atau kujahit menjadi boneka penangkal hujan…


Karena hujan membuatku rindu. Kamu.

Kultwit: @chabadres vs. @dCyAzura

Kemarin adalah akhir pekan kedua saya dan Deasy Mayasari – sahabat merangkap konsultan pribadi, hehe – mengisi kegalauan Sabtu malam (bukan malam Minggu :p) dan Minggu pagi yang sendu dengan berbalas kultwit . Yah, lumayan menyenangkan dan bermanfaat, karena selain bisa meningkatkan kemampuan menulis di negeri 140 karakter yang bikin cenat-cenut (dan serasa jomblo :p), juga bisa bikin saya jadi mengharu-biru-pilu-curcol-gila-gilaan-sampai-pingin-makan-bantal karena temanya sangat dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari, yah apalagi kalau bukan si rinai hujan merah jambu di bawah pelangi jingga (halah) alias amor atau tresna. Iya deh, sederhananya: cinta!

Dan, dudidudidam…

Berikut adalah kumpulan kultwit selama 2 episode yang saya kutip dari tumblr sahabat saya:

Episode 1: Tentang Kehilangan

kehilangan itu tak semudah melepaskan gelembung sabun dari selongsong tembaga.Terbang dengan ringan, perlahan, tapi tetap saja - rapuh.
Melepaskan itu tidak sama halnya seperti roket yang diluncurkan ke angkasa. Melesat dengan cepat lalu hilang dari pandangan mata.
aku tahu bahwa sedih pun ada kadaluarsanya. Jadi percayalah, aku akan baik-baik saja. Sebaik aku terbiasa dengan kata searah & sesaat dari laci hatinya.
Saat aku berkata semua baik-baik saja, sebenarnya hatiku tidak. Aku hanya tidak ingin meraut lebih tajam luka yang mematahkan kata ‘kita’.
kata ‘kita’ itu seperti rindu yang menikam semesta. Seperti tanda seru yang memaksa diam. Asal tahu saja, aku tak bahagia dihadiahkan kenangan.
Sepotong kenangan yang kau tinggalkan selalu berhasil membuat mata ku basah, tapi aku tetap bahagia karena jejakmu masih tertinggal disana.

mungkin ini sesederhana lipatan takdir. Merayap mengingat jejaknya itu seperti mengecap rasa pahit. Pahit yang membuat candu. Sakit
mungkin juga cinta sudah lelah singgah di lubuk hatinya. Ah, haruskah ada kata lelah setelah semua duri berhasil kita lalui.
ah, cinta. Seperti kupu-kupu yang bergerombol singgah di perutku. Mungkin alasannya sederhana. Aku hanya ada d laci hatinya. Bukan relung atau palung.
Dan mungkin karena itu juga aku harus rela melepaskan, seperti anak kecil yang menerbangkan layang-layangnya lalu putus tertiup angin-sedih namun lepas.
***

Episode 2: Tentang Rindu

Ketika dongeng malam tak mampu lagi merapatkan diri ke dunia mimpi saat itu lah rindu telah hadir mengetuk-ngetuk jendela hati.
Dan rindu itu menyerupa rinai hujan. Setetes, setetes. Pelan. Mengetuk jendelamu. Menjelma kalut dan air mata.
Ah, mata ku mulai berkabut seiring derasnya hujan yang menumbuk bumi. Tapi jelas ku lihat sosok mu menari dalam keheningan ini.
Rindu itu bagai menghisap tembakau. Kau menikmati sensasi yang membwtmu sakit. Lantas dlm heningmu itu, apakah kau jg mengingatku?
Pikiranku menerawang jauh menyusuri setiap liku memori yg terukir di dasar ingatan. Aku menikmatinya, ada rindu di sana.Tapi apakah kau juga masih mengenangnya?

Kenangan itu setajam pisau. Mengingatmu seperti menatap kepedihan. Kau itu serupa kesedihan, tak tergapai.
Ya, tak tergapai oleh pelukku lagi. Kau seperti fatamorgana, terbentuk jelas tapi kosong. Membuat riang tapi sesaat.
Hai kamu, boleh aku letakkan rinduku dalam titik nol itu? Aku bahagia walau hanya mencintaimu hari ini, sesaat. Walau tak selamanya.
Dan relakanlah aku membungkus rindu ku dengan pita biru lalu menguncinya dalam peti bertuliskan namamu.
"Seberapa besar kamu merindukanku?"| "Sebesar aku merindukanmu". Karena tak ada yang dapat menyetarakan rinduku, selain rindu pada semua hal tentang kamu.
Ah kamu, merindukanmu membuat seluruh darah ku berdesir. Muka ku memerah. Malu, tapi aku menyukainya, sungguh!
Sungguh. Jika di dunia ini ada dusta yang diizinkan, boleh aku mengaku bahwa aku tak pernah merindukanmu? Dan ini klimaks.
Ya klimaks. Dan kau tau akhirnya kita tak lagi bermain dalam nyata, hanya fana. Rindu ini pun tercekat dalam asa. Sirna.
Fana ini sebuah kegagalan, bukan karena kita tak saling merindu. Tapi, karena rinduku yang terlalu raksasa dan rindumu yang terlalu biasa. Biasa tanpa aku.
***

Semoga episode-episode berikutnya bisa bikin tema yang lebih ceria dan berbahagia deh! :D

Cheers, UK!

Sodara-sodaraaa,
akhirnya, saya punya buku ini jugaaa:


Oooh, it’s so damn cool!

Salut banget buat Mbak Citra Dyah Prastuti untuk kisah-kisah perjalanannya di Inggris yang sangat renyah dan bikin ngiler, dan buat saya (nggak penting, ahahaa) yang akhirnya mau juga pergi ke Gramedia Matraman pada Jumat sore kemarin untuk sekedar jalan-jalan menghilangkan rasa sesak di dada (halah) dan nemu buku iniiii. Dan ternyata di Gramedia Matraman sedang ada program Kumat alias buku hemat yang duileeeh diskonnya sampai 70%, aiiiih sayang banget kemarin itu bawa duit pas-pasan, padahal buku-buku dongeng klasik yang hardcover itu tiba-tiba harganya jadi Rp 10.000,- an. Luaaar biasa :D (nggak inget umur masih suka buku begituan).

Yayaya, dan konsekuensi setelah baca buku ini adalah: aaah, saya semakin ngais-ngais tanah pingin ke Inggris!

*mau ngerasain winter di Hyde Park :p*


Saya juga pingin punya puzzle iniiii:


atau iniiii:

Aaaah, they're dangerously cute!

Yayaya, next time lah yaaa, jangan ngikutin nafsu neng! :p

Hihi, mimpi boleh lah, tapi dibenerin dulu tuh bahasa Inggrisnya yang masih belepotan, wekeke :p. Dan mari menabuuung, lalu terus-terusan ngerayu Allah yang Maha Baik supaya dikasih jalan yang bisa mengubah semua ketidakmungkinan ini menjadi mungkin. Amiiin ^^

March 9, 2011

I'm Learning to Love Me More

Mungkin, ini terdengar klise.
Tapi, salah satu kebahagiaan sederhana yang sangat langka dalam hidupku adalah saat aku bisa berjalan dengan kepala tegak, percaya diri, dan modal utama – aku mencintai diriku sepenuhnya.

Jika mereka bilang bahwa fase menemukan jati diri adalah di usia belasan – menurutku, tidak demikian – aku menjadi diriku di usia dua puluhan. Tepatnya, setelah lulus dari perkuliahan dan aku bisa lepas dari penjara yang meniadakan pilihan.

Setiap orang punya fase terbaik dalam hidupnya, dan aku akan menyebut fase itu adalah masa kini. Karena aku bisa mengganti sudut pandang berpikirku, aku bisa mematangkan rencana dan strategi masa depan, dan berkonklusi bahwa hidup tak boleh datar. Itulah mengapa ada kata ‘mencoba’ dan ‘belajar’. Hingga akhirnya aku sadar bahwa perfection is boring, we need it, but when it’s too much, it kills you.

Dan kebahagiaan sederhana itu terjadi kemarin, saat aku merasakan hal-hal pertama, yah serba pertama dalam hidupku. Saat kita berlari-lari, menikmati tanggal 6 Maret 2011 tanpa rasa takut dan kalut.


And finally, I just can say: thanks for everything that so real. I'm gonna love me more - and you, of course.

* Hanya Allah yang bisa membalas :) *

Relung

Masih ada semangkuk penuh kenangan yang kau peluk erat-erat. Cobalah lepaskan, walaupun aku tahu bahwa belajar mencintai (lagi) itu sulit. Sangat.

Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau harus tahu bahwa gelombang dan alam semesta tak pernah kehabisan alasan untuk berkonspirasi. Kau bertemu orang lain, jatuh cinta lagi, atau putus lagi. Lalu bertemu orang lain lagi. Belajar dicintai lagi.


Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau mempertanyakan semua hal yang telah kau jalani. Lalu memilih berhenti. Dan kekhawatiranmu layaknya benalu. Ini kesalahan, tapi sang pohon tak pernah menyuruhnya pergi.

Atau walaupun mangkuk kenanganmu hanya terisi beberapa tetes, kau tak kunjung melepaskan. Malah kau bersembunyi di balik bayangan.

Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau telah bersama yang lain, tapi jari yang kau genggam, mata yang kau lihat, dan kata-kata yang kau dengar – adalah miliknya – seonggok serpihan yang masih tersimpan di sudut lacimu.

Itu hanya sebuah laci. Kau sedang belajar mendaki lagi, jika kau dipersilakan tinggal, kusarankan kau memilih relung bukan palung, apalagi laci. Palung itu gelap, tapi relung – dekat dengan tulang rusuk, hangat. Kau akan aman di sana.

I know that everyone has the man or maybe woman who can’t be moved…
But the real one is much better.

*dedicated to everyone who’s still shadowed by the one who can’t be moved*

I've Just Found My Passion!

Yah, setiap hari rasanya jadi semakin senang menulis. Kalau nggak menyentuh keyboard 1 hari ajaaa, wah, udah gatel jari-jarinya, pingin nangis (lebay), dan ditambah drama kepulan kata-kata yang memaksa keluar dari otak dan harus segera dikarantina dalam draft-draft sementara sebelum idenya kabur, menguap, dan saya menderita writing block yang parah.

Terima kasih buat dukungan orang-orang terdekat dan yang setia mampir dan membaca blog ini, hehe. Luar biasa senangnya, yah, inilah namanya passion! Passion adalah sesuatu yang bisa membuatmu senang melakukannya dan mendorongmu untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri di situ dengan sepenuh hati, tanpa beban.

Bahkan di sela-sela pekerjaan pun saya masih sempat-sempatnya blogwalking, hehe. Dan salah satu efeknya adalah saya semakin melodramaaa, hehe, terutama setelah baca prosa-prosa yang kata-katanya sungguh luaaar biasa indah. Selain blog-blog yang ada di blogroll saya, berikut adalah 3 blog yang kisah-kisahnya selalu saya tunggu:
1. listeNinda
2. Cerita Dibah
3. Hujan di Atas Meja

Dan, yang bikin saya tambah bersemangat menulis adalaaaah ini:

TADAAAA


*seneeeeng banget pokoknya* *maaf yaa kalau noraaak, ahaha*

Terima kasih untuk nulis buku buat kesempatannya, lain kali ikutan lagi! :D

In this crazy life and through this crazy time, just find your passion to make you keep being normal! :P

5 Centimeters Per Second

a chain of short stories about their distance...


"They say it’s five centimeters per second."

"What do you mean?"


"The speed at which the Sakura blossom petals fall... It’s five centimeters per second."


***

Well, it’s the most breathtaking tearful anime that I’ve ever watched!

check this!

Dandelion: Untuk Bidadari Bumi

Semoga engkau tidak sadar jika akhir-akhir ini aku sering menatapmu lekat-lekat. Ya, ada banyak gurat-gurat lelah dan gelisah. Aku tahu, pilihan-pilihan itu membuat kita hampir sesak napas, bukan?

“Ini tanda seru, titik, atau tanya?”

“Bukan. Ini hanya sebuah koma”, jawabmu.

Lalu engkau memberiku sebatang krayon merah dan penghapus – menuntunku untuk membubuhkan tanda kurung di dua atau tiga kata yang saat ini sudah tidak lagi signifikan, dan menghapus tanda tanya yang menggantung di setiap akhir.

“Agar kau tidak sakit terlalu lama”, pesanmu “Dan tak usahlah kau bertanya lagi. Bukankah ini semua retorika?”

Ini masih tanda koma, tidak untuk berhenti berlama-lama. Hanya untuk ganti sepatu dan melangkah lagi. Lihatlah, ujungnya sudah dekat. Anggap saja ini jalan menuju surga yang dipilih Tuhan. Memang tak mudah. Jangan berbelok. Jika di sepanjang langkah kita temui banyak duri, ingatlah, kita selalu punya obatnya. Bukankah kita memiliki kebahagiaan? Juga prinsip, bahwa inilah yang benar.

Seandainya engkau tahu bahwa hanya engkau satu-satunya alasanku masih dapat bertahan. Aku bisa saja lari, melompati spasi-spasi lalu menghunuskan tanda titik bahkan sebelum akhir.

Jika ini semua membuat kita sedih, tak apa. Simpan saja semua rona biru dalam toples kaca lalu letakkan di lemari yang paling tinggi yang kita punya agar tak terjangkau. Atau buang saja, pecahkan.


Biarkan hati kita ringan, seriang dandelion ini…