August 23, 2011

Fondasi

Kita sedang membangun fondasi.

Harus sabar dan tak boleh menyerah.

Bahan bakunya beraneka rupa – ada sekaleng cinta, sekardus peduli, dan sekarung rasa percaya. Agar berpadu, kau tak boleh ragu. Kualitas itu bisa diramu, percaya saja pada waktu. Kadarnya pun jangan berlebihan, jangan pula kekurangan – sesuai komposisi hatimu agar kokoh dan menyatu.

Selapis dan selapis kita membangun fondasi. Tak perlu terburu-buru, yang penting kau nyaman dan kita menjalaninya tanpa beban. Mungkin butuh satu hari atau satu bulan untuk menambah batu bata baru – dan kita rekat dengan rindu yang begitu kuat hingga melekat. Boleh kau hias juga dengan senyum dan kecupan di permukaannya – agar tak melulu abu-abu dan membuatmu menangis karena sendu.

Kita sedang membangun fondasi.

Memang tak mudah – jangan kau tinggalkan sebelum mencoba bertahan.

Terkadang mungkin hujan membuat bangunan kita keropos, tapi jangan biarkan – mari kita cari tahu lalu tambal lagi pelan-pelan. Juga angin yang menggodamu untuk berpaling, tak perlu kau hiraukan – ingat saja berapa banyak kenangan yang sudah kita tanam dan waktu yang kita habiskan untuk jatuh cinta lalu bangun lagi dan sadar untuk berkali-kali bahwa aku, kau, memang selayaknya berdiri bersisian dan menjadi satu-satunya pilihan Tuhan.

Di sini kita akan terjaga – membantu saling menjaga.

Hingga saatnya fondasi kita sudah sedemikian tebal – tanpa rasa sesal – setebal keyakinanmu untuk aku, untuk hidup bersamaku, dan belajar menjadi dewasa, memupuk jiwa, lalu mencipta bahagia.

Belum berakhir, sayang. Fondasi kita sudah cukup kuat bukan? Mari mulai membangun dinding dan atapnya, juga pintu dan jendela. Warnanya terserah kau saja. Jangan lupa dapurnya – agar kita bisa menyantap roti bakar bersama juga secangkir teh di setiap senja – membunuh lelah.

Sambil jatuh cinta lagi.

Setiap hari. Berkali-kali. Pada satu nama. Pada orang yang sama.

August 11, 2011

#3 Self Note

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – setelah belasan jam berada di tempat yang sama lalu bertemu orang-orang yang sama lalu pulang dalam keadaan lunglai, tidur, bangun lagi, berpacu dengan waktu lagi, lalu tidur lagi – rasanya aku sering tidak siap untuk menghadapi siklus yang statis ini.

Seseorang bilang bahwa ini adalah fase dimana hidup sudah tak lagi hangat dan ramah – mencari teman baik semakin sulit juga waktu yang tersedia untuk diri sendiri atau orang-orang yang dicintai juga ikut menipis.

Entahlah – lagi-lagi menurutku ini masalah fase – mungkin juga efek kelelahan yang sangat atau rasa rindu yang coba ku tahan atau mungkin pergolakan batin yang membuat ingin kian memberontak – dan beralih aku baik-baik saja dengan semua ini.

Kenapa sudah pagi lagi? Kalimat ini yang dominan kukatakan sebelum matahari terbit dan menghalauku lari terbirit-birit – satu hal saja ada yang mengganggu seperti pakaian kusut yang harus disetrika ulang atau tas yang belum dibereskan – sudah membuatku frustasi sesaat.

Istilahnya, jika disenggol sedikit saja dalam keadaan ini, lantas berubah jadi air mata – mungkin.

Sekarang aku mengerti mengapa kaum urban cenderung menjadi skeptis, egois, dan eksklusif. Dan aku harus belajar percaya bahwa sikap itu tak mengapa – sesekali, toh orang dewasa harus tahu apa yang membuatnya bahagia.

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – dan aku merasa lebih tua dari usiaku. Lalu mengeluh begini begitu yang tak perlu, sedih sendiri selalu, seperti kehilangan sesuatu.

Aku sungguh harus memperbaiki sujudku, syukurku, sabarku. Aku kangen Tuhanku dengan setangis-tangisnya kerinduan. Mungkin itu.

Memang itu. Itu yang hilang.

August 9, 2011

Cantik Itu Luka

"Saat kosmetik melapisi wajahmu, saat itulah wajahmu terhapuskan. Wajahmu jadi tiada, yang ada hanyalah kosmetik. Bibirmu tiada, yang ada hanyalah lipstick. Dan kalau kau memainkan lenggak-lenggok idolamu, saat itu lenggak-lenggokmu hilang menguap bersama citra idolamu. Saat itu, dirimu dikuasai oleh sesuatu di luar dirimu untuk menjadi seseorang selain dirimu"
(Jean Bauldrillard - filsuf Perancis)


A woman is often measured -

by the things she cannot control.

She is measured by the way her body curve - by where she is flat or straight or round.

She is measured by 36-24-36 and inches and ages and numbers - by all the outside things that don’t ever add up to who she is on the inside.

And so if a woman is to be measured, let her be measured by the things she can control - by who she is and who she is trying to become.

Because as every woman knows, measurements are only statistics.

And statistics lie.
(Source: imgfave.com)


Dan pada hakikatnya - kecantikan sejati itu sungguh tak terletak di wajahmu, sebab kecantikan adalah cahaya dalam hatimu.

Jika tidak, selebihnya luka.

Patahan #12

"Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang menjadikan kesendirian sebagai sebuah pilihan " - status. Patahan keduabelas.

Kutipan Novel: Yang Galau Yang Meracau

Yang Galau Yang Meracau – Curhat (Tuan) Setan adalah buku terbaru Fahd Djibran setelah A Cat in My Eyes yang menjadi salah satu favorit saya. Buku ini menyajikan prosa-prosa yang memainkan peran kegalauan manusia untuk mempertanyakan konsep-konsep berkaitan dengan setan, cinta, dan Tuhan dilengkapi dengan lirik-lirik lagu dan kutipan-kutipan quote yang memberi jiwa pada kisah-kisah di dalamnya. Seperti biasa, berikut adalah beberapa kalimat indah yang saya temui dalam buku tersebut:


1 Pemberitahuan
:Tuhan mencolek Anda di facebook

Colek kembali

Abaikan
(Di Suatu Subuh)


Alivya,
Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Selanjutnya, setiap orang selalu butuh teman untuk berlayar, Alivya. Itulah sebabnya aku butuh kamu, seseorang yang akan menemaniku berlayar, melacak jejak “pulang”… Menuju sorga…
(Perahu Kertas)


Kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan.
(Ziarah ingatan)


Jadi, Alivya, itulah sebabnya kukatakan kepadamu: bagiku, kaulah perempuan paling sempurna yang kumau… Sebab mencintaimu, menggenapkan seluruh hidupku.
(On “Complete and Perfect”)


Kalau saat itu datang padamu, Sayangku, mungkin aku sudah sangat tua dan rapuh dan terbaring lemah di tempat tidurku atau barangkali aku sudah tiada. Berbaik hatilah, jangan biarkan aku merana, segeralah jawab pertanyaanku: Apakah kau masih mencintaiku?
(Lagu Malam (2))


Tuhan yang maha baik,
Kami melewati masa kecil bersama, tumbuh bersama; demi jutaan tanggal dalam kalender, demi ribuan purnama yang akan kami lewati bersama, selebihnya berilah kami satu kekuatan saja: saling mencintai sampai mati. Itu saja.
(Pernikahan)

Patahan #11

"Ayolah bicara – terlalu banyak toleransi dan bilang ‘tidak apa-apa’ itu berbahaya" - It's okay. Patahan kesebelas.

August 8, 2011

Puding Buah

Mengenalnya itu seperti menikmati semangkuk puding buah dengan mata tertutup.

Kau hanya tahu bahwa yang tersaji di hadapanmu itu puding buah. Dan kau suka. Lalu kau dengan senang hati bersedia menyantapnya.


“Hmmm” gumammu di suapan pertama – puding strawberry meleleh di lidahmu.

Ini perasaan yang indah, bukan? Lalu kau mengangguk untuk suapan kedua.

Kau kaget – ada vla vanilla yang menggeliat di sendokmu.

Hei, dia tak bisa ditebak – tenang tapi memberi kehangatan. Damai yang dibawa kebahagiaan dalam diam dan kejutan yang tak terbaca dari mula menyapa dan komitmen dengan jawaban ‘ya’.

Suapan ketiga, keempat, kelima seterusnya.

Ada buah-buah segar mengendap di dasar puding yang berdansa di mulutmu – cherry, nanas, jeruk, mangga – manis, dan asam sebagian tak mengapa.

Asam, berarti kau harus menambah sabar – karena mengenalnya tak sebatas mendapati bagian manis hidup saja bukan? Atau sekedar menelan satu dan dua sendok puding buahmu saja bukan?


Mengenalnya itu seperti menikmati semangkuk puding buah dengan mata tertutup.

Dan aku bersyukur karenanya.

Patahan #10

"Aku menciptakan banyak mimpi, lalu aku pula yang mematahkannya" - mimpi. Patahan kesepuluh.

August 1, 2011

Patahan #9

"Sesekali ada baiknya aku hilang. Hanya untuk mencari tahu bahwa kau masih tetap baik-baik saja tanpa aku" - ego. Patahan kesembilan.

Patahan #8

"Aku ingin belajar menjadi cantik dengan sebenar-benarnya cantik, yakni menghargai diri sendiri dengan sebaik-baiknya penghormatan" - cantik. Patahan kedelapan.