December 18, 2010

Daddy

For me, the most special feeling in Saturday night is I miss my daddy, yeah, badly.

I miss when he asked me around the town with his old fascinating motorcycle, but the most comfort one – to watch the flash light, buy some cookies, and feel the fragrance of the air after raining. And we would date with my young brother too with full of laugh and gratitude.

I miss when he listened stories carefully about my weekdays, and then nodded happily and fatherly. He would repeat his same questions for many times, and then nodded proudly without any boredom.

I miss when we sat in the backyard gazing to the stars above and talked about the blooming roses around while we chew some cakes and hot tea enjoying the night with mom and some cats crowding the chair. Still, when I gaze to the sky, I still remember him, badly.

I miss his tough face – looking at me straight waving goodbye without any words but one tear.

I miss him, the most favorite man I’ve ever had, always.

***

everything you taught me will stay with me forever
no I wont forget a thing
oh because of my dad I now know myself better
oh I hope i can do for him what he did for me

I wouldnt be where I am
if my father didnt tell me
to never say I cant
(Bruno Mars-never say you can’t)

Masa Kini

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Karena hanya hari ini yang menjadi hakku, bukan esok hari yang menjadi hakNya.

Karena memang hakikatnya apapun yang terjadi di masa depan: satu menit dari saat ini, satu jam dan satu hari berikutnya, dan satu tahun ke depan adalah ‘semua efek’ dari yang kulakukan dan tidak kulakukan saat ini.

Hidup itu memang pilihan: selalu ada banyak jalan yang terhampar di depan, selalu ada kesempatan untuk melakukan dan tidak melakukan, melanjutkan atau mengabaikan, dan menunggu atau mundur. Dan segala sesuatunya berujung pada arah dan akhir yang berbeda: bahkan akhir itu pun pilihan – walau ada beberapa yang telah menjadi ketetapan langit dan tak dapat dielakkan.

Aku ingin hidup dengan sederhana – dengan tidak selalu berekspektasi berlebihan. Hidup dengan penuh pengharapan untuk selalu bisa naik ke anak tangga berikutnya setelah menemui anak tangganya, bukan memikirkan bagaimana beratnya untuk mencapaidua anak tangga bahkan sebelum menemui anak tangga yang kutuju. Dan belajar membedakan antara optimis dengan obsesif – karena keduanya beda tipis.

Karena orang yang paling berbahagia adalah orang yang bisa mensyukuri apa yang dia miliki saat ini, bukan yang dimiliki orang lain, dan bukan yang diciptakan dalam mimpi-mimpi yang membuat risau dan kalut. Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa berjuang sepenuhnya pada hari ini, tidak menyesalii hari kemarin dan menghkawatirkan kenyataan di hari esok – karena kebahagiaan hari ini adalah benih abadi untuk kebahagiaan di masa depan.

Bahagia untuk memilih, bukan hanya menunggu dan berpangku tangan.

Bahagia untuk menerima, bukan hanya mengeluh dan menangisi keadaan.

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan.

Jika aku takut aku tidak akan mungkin bisa bersama seseorang yang hadir di hidupku saat ini – pada akhirnya, aku mungkin tak akan pernah belajar: belajar mencintai. Belajar menghargai anugerahNya yang datang saat ini. Dan akhirnya kesempatan untuk bersamanya (yang ketentuannya telah tertulis di langit) tak akan pernah ada – bahkan sejak awal.

Jika aku takut tidak akan mungkin mencapai yang kucita-citakan, aku mungkin tak akan pernah belajar untuk menimba ilmu-ilmu itu – hingga akhirnya otakku kosong hanya diliputi keraguan. Dan akhirnya cita-cita itupun tak pernah tercapai.

Jika aku takut pendapatku tak akan pernah diterima, aku mungkin tak akan pernah belajar: belajar untuk bicara, mengungkapkan pendapatku, dan membuktikan segala sesuatu yang kuyakini saat ini. Dan akhirnya, aku pun tak pernah didengar.

Yang terjadi saat ini adalah berkah dari keberanian, ketakutan, harapan, dan rahmatNya – yang tak akan pernah bisa diulang atau ditarik lebih awal.

Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Sehingga aku bisa tersenyum pada kehidupanku, pada harapanku – bukan hanya pada keluh dan tangis yang menyiksa. Karena penyesalan terbesar datang saat kita tak pernah mencoba sama sekali – dan membiarkan diri kita selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan

Dan jika pada akhirnya masa depan yang kuinginkan itu tak pernah terealisasi – aku bisa belajar untuk tak perlu menyesal. Karena aku telah fokus, berjuang, dan mencoba. Sisanya adalah keputusanNya – Dzat Yang Maha Cinta dan Maha Mengetahui.



Aku sungguh harus belajar untuk tetap berfokus pada hari ini, dan tidak merisaukan ketentuan yang terjadi di masa depan. Dan bisa terus berucap: Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk saat ini.



But I used to dream about,
the life I'm living now and,
I didn't think I'd miss those things from the past,
and I'm not afraid of leaving,
or letting go of what I had,
cause I realize that now there's no turning back.

Cause I'm caught living in a world filled with love,
so when tear drops fall from me like rain from above,
I can brush my troubles away,
know that deep down inside,
I got sun shining in my life.
(World Filled With Love - Craig David)

December 7, 2010

Klimaks: Kita

Kita berdua masih menyukai analogi yang sama – tentang kisah cinta abadi sang bintang siang dan satelit bumi penghias malam. Analogi yang membuatmu menyindirku. Bagaimana mungkin kau bisa memaksakan datangnya perpisahan? Sementara aku dan kamu tertarik ke kutub yang sama – layaknya matahari dan bulan yang tetap bertahan karena gaya tarik yang menjembatani keduanya walau hanya mampu bersua beberapa jam dalam gerhana dan beberapa menit yang istimewa dalam fajar dan senja.

Kita berdua masih meyakini hal yang sama – tentang kebahagiaan yang datang diam-diam. Layaknya butiran gula yang ditaburi di atas kue cokelat. Begitu riang, manis, dan tanpa suara. Persis aku – yang sering bicara dalam hening saat di dekatmu dengan aura yang meletup-letup bahagia. Terlalu bahagia dengan kehadiranmu yang datang lagi duduk manis menyantap sisa roti bakarmu di dapurku.

Kita berdua masih mengagumi siklus alam yang sama – tentang daun-daun yang berguguran tepat pada waktunya. Bagiku, daun-daun kering ini adalah sebuah simbol tentang masa lalu dan sekaligus masa depan. Lihatlah daun yang setia itu, saat dia telah berpisah dengan rantingnya pun dia tetap mencintai dengan bijak. Tubuhnya yang hancur berkeriput digerogoti tanah beraroma petrichor menjadi humus untuk kelahiran daun-daun baru – menggantikan tempatnya di ranting yang ikut menua.

Yang berbeda adalah kita saling duduk bersisian di bukit ini dengan jarak sepuluh centimeter dikelilingi oleh daun-daun kering berjatuhan yang berbau hujan. Yang berbeda adalah kita sama-sama melahap kue cokelat bergula pelan-pelan dengan hati yang saling merangkul. Yang berbeda adalah kita bergantian menatap awan merah yang mengiringi petang sambil sesekali mencuri pandang ke arahmu dan kita tersenyum malu-malu dipayungi oleh horizon langit yang bermesraan dengan panorama jingga.

Aku selalu suka petang.

Petang yang menjadi saksi kebahagiaan matahari yang berjinjit menuju ufuk barat mengiringi bulan yang merangkak menghiasi kegelapan. Petang yang menjadi perlambang pertemuan hikmat dua makhluk Tuhan dan seakan alam semesta menghadiahkan keduanya dengan kemeriahan mahkota langit yang berwarna merah, emas dan keunguan. Petang yang membuat daun-daun berhenti memasak untuk alam dan tidur nyenyak digelitik oleh semilir angin yang bergelayutan.

Lalu kita berbicara tentang apa saja yang terlihat secara nyata. Tidak lagi berkisah tentang kerisauan dan ketidakpastian dalam fatamorgana yang kuciptakan sendiri. Dan salah satu yang nyata saat ini adalah kamu.

Kamu. Ketidaksempurnaan yang begitu tampak sempurna untukku.

“Pernahkah engkau bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan pohon pada burung yang hanya hinggap sesaat di batangnya lalu terbang?” tanyaku kemudian.

“Menurutku, dia tak pernah bertanya, tak pernah berkata. Dia hanya tersenyum karena bisa bermanfaat bagi alam apakah itu untuk sesaat atau bukan. Mengapa bertanya demikian?”

“Karena terkadang itulah yang kurasakan”

“Tentang aku? Aku analogi burung itu?”

“Tidak semua hal layak dianalogikan, sayang”

Aku pun mengangguk dengan pipi merah jambu.

“Tapi lihatlah, burung yang tadi terbang kembali lagi. Membangun sarang di situ dan mengerami telurnya hingga terkantuk-kantuk” jawabmu. “Demikian pula aku, aku kembali pulang. Tak ada tempat yang lebih baik selain hatimu”

Petang semakin menggeliat. Dingin. Tapi hatiku begitu hangat.

“Kamu tahu siapa orang yang paling bahagia?”

Aku menggeleng.

“Yakni orang yang bisa berkosentrasi pada saat ini. Tidak hidup pada masa lalu dan merisaukan masa depan. Orang yang bisa mendengar kata hatinya, membedakannya dari suara egonya, dan berjalan ke depan menuju kebahagiaannya”

Dan karena kamu adalah cinta yang nyata saat ini, aku pun bahagia karenanya. Bahagia karena bisa mendengarkan suara hatiku kembali dalam ego yang memekakkan batin.

Lalu kita pun berjalan bergenggaman – menuruni bukit, trotoar, dan jalan yang ramai dengan deru kendaraan. Melangkah bersama dari masa lalu.

Terima kasih pada kehampaan – yang pernah menghakimiku – dan telah mengajarkanku makna cinta dan kehilangan.

Dan, makna kamu, seutuhnya.

****FIN***

December 4, 2010

#6 Pulang

Pulanglah
Pulanglah ke gubukku sayang
Jika memang tak lagi layak disebut istana, tak mengapa
Pulanglah
Masih ada beberapa kuntum edelweiss kering di kebun belakang
Dan kursi malas tempat kita biasa menyeduh teh
Melamun, memandang hujan
Dari siang hingga petang

Pulanglah
Pulanglah pada hatiku yang sudah tak berpintu
Menunggumu
Masih ada setengah roti bakar yang tersisa di mejamu
Tak usah kau biarkan air matamu menetes sendirian di sana
Aku siap menangkapnya satu-satu
Lalu menjadikannya bahan bakar kebahagiaan dari relung kesedihanmu

Pulanglah
Tak perlu kau penjarakan semua pedihmu
Aku hanya berpura-pura lupa dan menghindar
Bahwa ruangan yang tersedia di gubukku ini
Adalah milikmu

***

Dan di teras ini
Dalam dentingan gerimis
Dalam sayup
Aku kembali mendengar langkah-langkah kaki…

***

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side
(If you’re not the one – Daniel Beddingfield)

December 3, 2010

#5 Hilang

Dalam hampa, kau berdansa dengan kehilangan...


Hilang itu seperti kau menyeruput kopi tanpa rasa pahit.

Mungkin, bisa kau tanya pada sang batang yang merelakan perginya daun-daun muda di musim penghujan.

Atau bisa kau tanya padaku.

Bagiku, hilang itu mati rasa. Saat kau merasa asing dengan sekeliling, dengan duniamu, bahkan dengan dirimu sendiri.

Bagiku, hilang itu adalah saat ini. Saat tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu yang membangunkanku. Saat tak ada lagi kisah-kisah petang, juga jejak-jejak kita yang menari-nari di atas bukit menyambut rembulan.

Bagiku hilang itu adalah saat menyadari tak ada lagi kamu.

Kamu memang ada, masih berada di sana, dengan senyum yang selalu kusuka. Tapi, kita tak lagi sama.

Jika aku merobohkan dinding beton yang melingkari hatiku - yang sedingin ego namun serapuh sayap kupu-kupu, maukah kamu datang lagi?

Istana hatiku sepi. Menjerit. Kehilangan pelanginya: kamu.

Layaknya matahari dan bulan yang merindukan gerhana agar bisa bersua, aku pun merindukanmu. Aku mencintaimu diam-diam dalam keterlambatan. Dalam kehilangan.

Kini aku tak bisa lagi berdusta pada hati dan kutata kembali dia dengan rapi. Aku siap menyambutmu untuk datang lagi. Layaknya malam yang bersemangat menyambut pagi ataupun sesederhana menikmati rasa ngilu dari gigitan pertama es krim yang menyerang geraham.

Kehilangan dan kamu. Pasangan sempurna yang mengobrak-abrik kompleksitasku dan menyadarkanku bahwa kamulah yang selalu ada. Dan aku telah mencintaimu.

Apakah kamu juga demikian?

Semoga yang tersisa bukan hanya kata ‘telah’ di dalam kamusmu. Tapi yang kuharapkan adalah kata ‘masih’, ‘selalu’, atau mungkin ‘selamanya’.

December 1, 2010

#4 Kompleksitas

Klimaks dari benang merah kita: Aku mengetuk pintu hampa...

Aku ingin menjadi pribadi yang sederhana. Yang bisa berpikir dengan sederhana. Mencintaimu dengan sederhana. Dan menjalani hidup dengan sederhana.

Sederhana.
Karena kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana senyum di pagi hari dan menyapamu. Itu saja.

Aku benci kompleksitas ini. Saat aku selalu terpaku pada kegagalan, bukan proses. Saat aku lebih mengelu-elukan risiko, bukan kesempatan. Saat aku lebih berfokus pada Z, bukan B, C, atau D yang datang lebih dahulu setelah A.

Kompleksitas itu aku. Yang membiarkan hatiku dipagari dinding beton berlapiskan kawat berduri, tapi bagian dalamnya reot, rusak parah. Berdarah.

Kompleksitas itu aku. Yang tergila-gila membohongi suara hati, membingkainya dalam ketakutan, hingga aku tak mendengar apa-apa lagi selain suara nina bobo dari sekeliling yang hangat di telinga. Tapi membakar mawarku. Ilalangku yang tak lagi segar. Dan bunga-bunga yang tak lagi mekar.

Kompleksitas itu aku. Yang terlalu banyak tidur dalam negeri dongeng, hingga tak tahu lagi apa yang nyata dan yang khayal. Yang nyata bahwa istanaku sudah tak lagi mengenal hujan karena dilanda kemarau panjang. Yang khayal adalah aku tetap mengenakan payung, tersenyum. Entah untuk apa. Mungkin, berpura-pura bahagia. Berorasi dengan ketidakpercayaan pada kepastian yang datang – darimu – yang selama ini kucari dan selalu kuagungkan.

“Tapi kenapa?”

“Karena aku takut”

Seperti sim salabim. Lalu engkau tak lagi berdiri di sana.

Kompleksitasku meradang. Bertransformasi menjadi air mata. Tumpah ruah. Dari dalam dada bergema sesuatu yang selama ini kupaksa untuk bisu, “Aku telah merelakan yang berharga: kamu”.