December 3, 2010

#5 Hilang

Dalam hampa, kau berdansa dengan kehilangan...


Hilang itu seperti kau menyeruput kopi tanpa rasa pahit.

Mungkin, bisa kau tanya pada sang batang yang merelakan perginya daun-daun muda di musim penghujan.

Atau bisa kau tanya padaku.

Bagiku, hilang itu mati rasa. Saat kau merasa asing dengan sekeliling, dengan duniamu, bahkan dengan dirimu sendiri.

Bagiku, hilang itu adalah saat ini. Saat tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu yang membangunkanku. Saat tak ada lagi kisah-kisah petang, juga jejak-jejak kita yang menari-nari di atas bukit menyambut rembulan.

Bagiku hilang itu adalah saat menyadari tak ada lagi kamu.

Kamu memang ada, masih berada di sana, dengan senyum yang selalu kusuka. Tapi, kita tak lagi sama.

Jika aku merobohkan dinding beton yang melingkari hatiku - yang sedingin ego namun serapuh sayap kupu-kupu, maukah kamu datang lagi?

Istana hatiku sepi. Menjerit. Kehilangan pelanginya: kamu.

Layaknya matahari dan bulan yang merindukan gerhana agar bisa bersua, aku pun merindukanmu. Aku mencintaimu diam-diam dalam keterlambatan. Dalam kehilangan.

Kini aku tak bisa lagi berdusta pada hati dan kutata kembali dia dengan rapi. Aku siap menyambutmu untuk datang lagi. Layaknya malam yang bersemangat menyambut pagi ataupun sesederhana menikmati rasa ngilu dari gigitan pertama es krim yang menyerang geraham.

Kehilangan dan kamu. Pasangan sempurna yang mengobrak-abrik kompleksitasku dan menyadarkanku bahwa kamulah yang selalu ada. Dan aku telah mencintaimu.

Apakah kamu juga demikian?

Semoga yang tersisa bukan hanya kata ‘telah’ di dalam kamusmu. Tapi yang kuharapkan adalah kata ‘masih’, ‘selalu’, atau mungkin ‘selamanya’.

2 comments:

choirul rizal said...

bagus cha, dalem, boleh dicopy atau dishare sekalian?

Laxmita Dini Arianti said...

terharu banget baca tulisan-tulisan kaka khususnya yang ini...
keep writing ya :)