January 24, 2012

Bayang-bayang

Dua orang sedang berjalan menuju altar. Sang wanita tersenyum bahagia sambil membawa seikat bunga bangkai yang dicat merah muda. Sang pria pun merona – tapi pura-pura.

Dia masih saja menoleh ke belakang. Barangkali beruntung menemukan sebuah bayang-bayang.

Mencari-cari celah lalu permisi sejenak.

“Masih ada beberapa waktu sebelum kita benar-benar tak mungkin lagi bertemu”

“Aku tak mau”

“Kau masih saja seperti dulu – aku tak pernah bisa menaklukkanmu”

“Maka, jangan pernah begitu”

“Kau tahu. Sebentar lagi aku akan menikah. Mohon doamu”

Bayang-bayang itu mengubah raut wajahnya lalu tersenyum kelabu.

“Aku turut berbahagia untukmu”

“Kau pasti senang karena tak akan ada lagi yang mengganggu”

Lalu yang terdengar hanya desah.

“Lalu kau tak berbahagia? Akan menikah tapi kau masih saja melakukan ini? Tolonglah, hormati wanitamu yang sungguh mencintaimu”

“Tapi aku mencintaimu”

“Berhati-hatilah pada yang tak pernah kau punya. Itu hanya sejenis fantasi. Sudah kubilang agar tak terjebak pada perasaan yang tak perlu. Kembalilah, kau telah menyakiti wanitamu”

Dan sang bayang-bayang berlalu.

Sang pria kembali menggandeng wanitanya – seakan-akan tak terjadi apa-apa. Tibalah saatnya, mereka pun diikat oleh janji suci setia. Dengan cinta yang masih menggantung…

If only that woman knew the truth...

*dari sebuah true story dengan sedikit delusi. I hope they’re blessed and everlastingly happy*

January 18, 2012

Tempat Itu

*tulisan ini dibuat dalam rangka merayakan syukur dan kenangan*

Tempat itu dipenuhi orang-orang hebat dan bibit berbakat. Tempat itu idaman orang tua dan calon mertua. Tempat itu yang biasanya jadi kambing hitam karena tidak tercapainya cita-cita. Tempat itu banyak pemuda ‘nyasar’ dan ‘harusnya tidak disitu’ katanya. Tempat itu diperoleh dari ujian dengan pilek yang merajalela dan kehabisan tissue dengan pilihan jurusan yang awalnya tidak terpikir telah terdefinisi di UU Nomor 1 Tahun 2004. Tempat itu menjadi jawaban saat saya bertanya ke beberapa, “Lalu kenapa berubah tidak menghebat lagi?”. Tempat itu membuat paham cara mencuci baju sendiri. Tempat itu menjadikan terbiasa memakai rok dan jilbab dengan hakiki walau minus kaus kaki. Tempat itu membuat percaya diri datang rapat pagi-pagi tanpa mandi dengan rok batik, jaket, t-shirt, dan jilbab yang warnanya tidak nyambung sama sekali. Tempat itu penuh hal-hal yang tak pasti. Tempat itu adalah lahirnya insomnia karena deadline LPJ lalu bergumam kok sudah subuh lagi. Tempat itu idolanya kisi-kisi. Tempat itu bikin berat badan turun, naik, naik lagi.

Tempat itu mempertemukan dengan teman sejati. Tempat itu mengajarkan untuk tidak berekspektasi tinggi-tinggi. Tempat itu membuat hampir lupa rumus trigonometri. Tempat itu penuh obsesi menafkahi diri dengan menjual ilmu sana sini sore atau malam hari. Tempat itu membuat jatuh cinta yang kedua kali dengan rumah dan penghuninya - para malaikat bumi. Tempat itu menjadikan tahu pentingnya subsidi dan birokrasi. Tempat itu mengajarkan aneka bahasa dan budaya negeri. Tempat itu berputar pro kontra dan baiknya berdiri di tengah-tengah saja. Tempat itu adalah kebahagiaan saat dapat makan gratisan dan traktiran. Atau berduka karena uang saku anak kosan sudah menipis tapi belum gajian dan harus beli kaos untuk kegiatan. Tempat itu pertama kalinya ikut pemilihan duta-dutaan. Tempat itu merubah cara pikir tentang feminisme dan pernikahan atau pola hubungan. Tempat itu gudangnya ilmu optimis dan sahaja. Lagi, tempat itu penuh orang hebat.

Tempat itu menjadikan suka ekonomi dan ngerti konspirasi. Tempat itu diramaikan ragam manusia unik, cerdas, dengan rutinitas bervariasi antara kuliah-kosan-laptop atau kuliah-ngajar-kosan atau rapat-rapat-kosan atau ngajar-bepe-kosan-bepe. Tempat itu harum senyuman dan air mata. Tempat itu membuat bisa merasakan wisuda di SICC sebelum konsernya Justin Bieber dan Katy Perry. Tempat itu bicara perjuangan. Tempat itu dikelilingi warung makan murah meriah atau makan enak sesekali di akhir pekan entah ayam bakar atau mie ayam atau segala sesuatu tentang ayam. Tempat itu mendidik mencintai negeri atau skeptis sesekali. Tempat itu ladang kenangan. Tempat itu membuat suka jalan-jalan sendiri. Tempat itu zona jomblo dan krisis percaya entah apa yang dicari. Tempat itu mengubah hidup. Tempat itu membuatku banyak tahu. Tempat itu mempertemukan kamu. Tempat itu membuatku rindu.

Kini tempat itu tak lagi begitu. Kesederhanaan yang terdistorsi. See?

Terima kasih pada tempat itu. Tempat itu mengubah hidup. Tempat itu mengubah cara pandang hidup. Sungguh.

:)

January 17, 2012

#13 Self Note: Fiksi

Yang saya tak suka dari menulis fiksi adalah saya bisa menangis sebelum dan sesudahnya. Dan saat saya membaca ulang, seakan-akan memang itu yang terjadi, seluruh plot dan cast bermain-main di kepala. Mood saya berantakan. Weird.

Lalu saya bertanya pada @perempuansore – apakah itu wajar? Ya. Oleh karenanya, jangan sering-sering dibaca ulang – jawabnya.

But it still happens, haha. Weird!

Tentang Dua Orang yang Saling Mencinta dalam Diam

Tentang dua orang yang saling mencinta dalam diam.

Sang gadis tersenyum pura-pura berucap ikut berbahagia. Bisa terlihat jelas ada sesuatu yang bening mengalir di kepingan bola mata. Sedikit kaget. Aku tak akan berubah – akan selalu menyapamu dalam doa, pesannya. Lalu dia tertawa. Mana mungkin demikian, akan ada yang berubah.

Sang pria salah tingkah – tak biasanya sang gadis tak banyak bicara. Sayangnya, dia tak mau mengaku bahwa perasaannya terhadap gadis itu tidak mampu tersaingi oleh perasaan terhadap kekasihnya dengan usia hubungan yang baru sekian hari. Lalu dia mengangguk – saling tepuk pundak, tak lagi berpelukan hanya bersalaman. Lalu sama-sama berlalu.

Tentang dua orang yang saling mencinta dalam diam.

Dan terlalu dalam.

*cinta itu menggelikan – kau tak akan pernah tahu akan bersama siapa pada akhirnya*

Pulang

“Selama masih bisa pulang, maka pulanglah”

Jadi akhir-akhir ini saya sangat impulsif – pulang ke rumah karena kangen berat. Dan saya pun tak mengambil cuti. Intinya cuma mau ketemu Mama, Abah, adek, dan pingin banget tidur di rumah. Juga mimpi-mimpi yang datang sekali dua kali seperti mengharuskan saya untuk pulang. Berawal dari iseng-iseng cek harga tiket tiga minggu sebelumnya dan eh masih ada yang murah. Wrapped! Maka, Jumat pagi, setelah perjalanan dari Bandung – kantor dan sorenya langsung ngebut meluncur ke airport, saya bisa kembali menginjakkan kaki di rumah pada pukul 2 dini hari, 14 Januari 2012. Alhamdulillah.

Abah sudah menjemput di luar dengan jaket tebal dan sepeda motor tua yang usianya lebih tua dari usiaku. Aaaah rasanya sudah lama sekali tidak dibonceng oleh beliau.

Mama dan adek juga sudah menunggu – menahan kantuk agar bisa bertemu. Masih tersisa makanan di atas meja. Juga beberapa potong kue pandan. Dan manisan mangga muda kesukaanku yang diiris dan dibuat sendiri oleh Abah beberapa hari sebelumnya agar bisa kulahap dan kubawa pulang.

Selama dua malam aku menikmati terlelap tidur bersama Mama. Juga sensasi menunggu jam makan siang sambil bermain bersama kucing-kucing yang kelaparan – rasanya menyenangkan.

Adek sudah tinggi sekali – sudah puber. Mulai ikutan ngegym dan punya style sendiri yang tidak bisa lagi dipilihkan harus pake ini atau itu. Pagi-pagi main badminton, tertawa, belajar software-software pemrograman, dan jalan-jalan makan eskrim beberapa jam sebelum pulang. Berdua saja.


Pukul 7 malam, 15 Januari 2012. Waktu cepat sekali berlalu dan harus sudah menuju airport lagi. Setelah sampai dan di tengah-tengah obrolan, saya baru ingat kalau flashdisk saya ketinggalan. Sebenarnya tak apa, walau ada beberapa data penting toh sudah dibackup. Tapi Abah tetap khawatir. Sudah pukul 8 malam, dan jadwal boarding jika tidak delay adalah 30 menit lagi. Abah bersikeras dan akhirnya beliau sendirian pulang ke rumah – naik becak motor dan kembali ke sini dengan sepeda motornya. Terengah-engah dan kembali dalam waktu tidak sampai 30 menit :’(

I hate any kind of saying goodbye. Jadi saya tidak mau menangis. Dan kita sama-sama berjanji untuk tidak berair mata.

Ternyata penerbangan delay sampai jam 10 malam dan saya tiba di Jakarta hampir pukul 1 dini hari. Jujur saja, airport sangat menyeramkan di malam hari. Banyak taksi-taksi ‘tanpa argo’ yang memaksa berangkat, juga orang-orang di luar yang menyapa usil. Saya kabur saja ke bagian keberangkatan. Dan Alhamdulillah, di tempat itu dipertemukan dengan orang baik – seorang pegawai airport yang berbaik hati mencarikan saya taksi yang aman walaupun saya pada awalnya takut sekali dengan beliau.

Mama dan Abah belum bisa tidur hingga saya mengirim kabar bahwa saya sudah baik-baik tiba di kos-kosan. Don’t worry, I’m okay :)

Pulang itu seperti menuai doa ibu yang dihantarkan di depan pintu. Walau hanya dua hari, tapi saya sangat bahagia bisa mengobati rindu. Walaupun, sungguh tak akan ada obat untuk sebuah rindu.


Don’t worry, I’m okay. And I’ll always be :)

Ruang

Sudah sejauh ini – tapi masih saja ingin mundur beberapa langkah. Ini jalur satu arah. Pada titik tanpa rambu dengan perintah dilarang berhenti – aku bertanya, “Apakah ruang yang kuberi terlalu luas hingga kau tak lagi bisa melihat batas?”

Kau menggeleng. Tak pernah ada ruang. Tak perlu.

Bukankah cinta bisa tumbuh jika ada ruang? Aku sempat percaya itu – hingga menghadiahkanmu dua atau tiga kali lebih banyak. Padahal kita seharusnya ingat bahwa yang terlalu itu malah menjadi belenggu. Tak baik – sungguh tak baik.

I don’t wanna mess the things up. I don’t wanna push too far.

Hei, masih kenal aku?

Kita terbiasa berjalan sembunyi-sembunyi atau sendiri-sendiri. Mungkin bersamaku terlalu dingin hingga kau mencari sisi hangat yang lain. Mungkin bersamaku terlalu lelah hingga kau menyerah. Pada titik dimana kau tak lagi tahu bahwa aku merindukanmu – dan demikian pula denganku – ini salah. Seperti kehilangan kemampuan untuk merasa. Selain sangkaan-sangkaan yang menari liar di kepala dan seharusnya tak pernah ada.

Aku bertanya lagi, “Apakah ruang yang kuberi terlalu luas hingga kau tak lagi bisa melihat batas?”

Kau masih menggeleng. Tak pernah ada ruang. Tak perlu.

Maaf, harusnya aku tak mengangguk. Seakan-akan kita sudah berada dalam zona nyaman. Padahal ini labirin fatamorgana.

Kenyataannya, kita sama-sama tak sadar sedang saling melepaskan.

#12 Self Note: TGIW

Mengamati itu menyenangkan. Kau bisa belajar banyak dari yang kau lihat - seperti saat kau mengamati pekerjaan orang-orang.

Kita semua adalah bagian dari sistem yang sama-sama menggerakkan roda perekonomian. Lihat, bagaimana menariknya uang berpindah tangan dari satu orang ke orang yang lain - saling memberi penghidupan satu sama lain.

Setiap pekerjaan punya konsekuensi masing-masing, ada pasang surutnya, ada senang sedihnya, bahagia yang satu tak sama dengan bahagia yang lain. Tanpa berniat memandang sebelah mata, aku sering bertanya-tanya, bagaimana menjadi dia, bagaimana hidup menjadi mereka – yang hasil pekerjaannya hanya cukup untuk makan sehari, tak bisa menabung, tak sempat istirahat, tak bisa selalu makan menu lengkap, yang harus tahan dengan pengabaian, lantai yang baru dipel tapi sudah kembali diinjak, atau sampah sisa hasil makanan yang harus dipunguti entah berapa kali dalam sehari. Tapi tak sedih – karena masih bisa punya hidup yang disyukuri – dan tak punya waktu untuk bersedih.

Bahagia yang satu tak sama dengan bahagia yang lain.

Beberapa berkata bahwa apa yang kau dapat saat ini adalah panen dari ragam pilihan atas buah dari apa yang kau tuai di masa lalu. Ada juga yang berkata bahwa tipe manusia memang beda-beda – ada yang merasa cukup dengan demikian tapi ada pula yang ingin maju ke depan namun tertahan karena keadaan atau kesempatan. Namun, semua ini tak lepas dari rahmat Tuhan - tak ada yang tahu hidup akan bergerak ke mana. Tak ada.

Dari sekian banyak yang kulihat – aku harus banyak-banyak bersyukur. Untuk apa yang sudah kudapat saat ini, untuk pekerjaan yang sudah kurengkuh erat-erat, untuk kehidupan yang berubah arah, untuk orang tua yang tersenyum dan berdoa tanpa lelah, untuk hal-hal yang masih saja dijadikan ladang mengeluh, padahal tak pantas – thanks God I’m working.

Tak ada yang tahu hidup akan bergerak ke mana. Tak ada. Tapi salah satu yang aku yakini selalu adalah, “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu merubah keadaannya sendiri” dan “Allah Maha Mendengar. Sampaikanlah apa yang kau inginkan dengan spesifik – maka Dia akan memberimu jalan dari yang tidak pernah kita duga-duga”. Juga apa yang selalu disampaikan ibuku saat sang anak sudah ingin menyerah, “Sabarnya ditambah!”

Mulai saat ini aku belajar berucap – TGIW instead of TGIF :p Yup, thanks God I’m working! Alhamdulillah, mari kita kejar berkah :)

*terinspirasi dari pemandangan kakek dan nenek tua yang tertidur pulas di sebuah jembatan penyeberangan dan percakapan random dengan gentleman yang terinspirasi dari buku 8th to be Great*

But Please, Don’t Change

Young Girl: I don’t want to meet them. They are not important to me.

Mother: Just meet for a minute, dear. Please.

Young Girl: They’re going to bully me with their comments.

Mother: No they are not. Just ignore.

Young Girl: *silent*

Mother: I know it hurts. But you can’t forget some people in your past because they don’t involve in your present. Many things change. But please, don’t change. Keep being you. God knows who’s good and who’s not.

Young Girl: *hugging Mother*


Keep being you. God knows who’s good and who’s not.

Patahan #34

"Smiling emote is a great liar. We put it in texts – neither in our face nor our feeling" - :). Patahan ketigapuluhempat.

January 12, 2012

Apa Kabarmu?

"Kamu baik-baik disana?"


"Aku baik-baik selalu seperti janjiku :)"

Lalu ada rona merah jambu. Dan melekat sepanjang hari itu.

Hari itu adalah setiap hari.

January 5, 2012

#11 Self Note: Ceracau Waktu

Akhir-akhir ini waktu berlalu dengan sangat cepat. Dan sebagian besar pun merasakan demikian.

Hadapi saja dengan hati senang. Senang karena tak perlu lama-lama untuk mengakhiri hal-hal yang tak disuka, atau senang karena menghitung hari pun tak perlu selama itu. Bisa juga datang sesal, karena sadar terlalu banyak waktu yang terabai, atau waktu benar-benar tak bisa diajak berkonspirasi, saat hari yang dinanti itu telah tiba – secepat tibanya waktu perpisahan dan kembali menjalani hari yang biasa.

Memang benar adanya – bahwa hakikat waktu mengajarkan syukur dan sungguh-sungguh. Bukankah waktu setajam pedang? Dan Allah juga sudah memperingatkan, “Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian

Akhir-akhir ini saya masih sama – masih sejenis anti sosial, tapi entahlah akhir-akhir ini sangat malas untuk sekedar mengecheck timeline, meracau di twiiter, atau mengaktifkan paket BBM. Jujur saja, ini semacam terapi. Saya merasa lebih tenang dan lebih fokus pada kenyataan dan tujuan yang ada di hadapan.

Ya, masih sama – masih takut menjadi tua. Tua yang menyesal karena belum berbuat hal-hal yang seharusnya telah dilakukan. Masih meragu, masih bertanya-tanya tentang hubungan, takut terhadap pengkhianatan, dan masih punya banyak tujuan yang beberapanya dipatahkan sendiri pelan-pelan.

Entahlah.

But trust me – time makes you grow up more than the way you can grow up.

:)

Patahan #33

"It’s always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘It’s okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’" - Athar Ali Khan. Patahan ketigapuluhtiga.

January 3, 2012

Dream Catcher

I dreamed a lot these days - yesterday, the day before, and couple days ago.

I dreamed that I missed. And they were not nightmare - not at all.

Sometimes I wish I had dream catcher to make them real.

Go home.

Reach the unreachable things.

And let you stay.