November 12, 2015

Tentang Menghidupkan Mimpi atau Memimpikan Hidup

Pukul 06.58 WIB

Aku memaksa mengangkat tubuhku yang lemah dari kasur, membersihkan kotoran yang menumpuk di sudut mata – aku tak ingat apakah aku menangis lagi sepanjang tidur, dan beranjak mandi untuk menghilangkan cairan serebrospinal yang bergerak ke otak dan menyebabkan pandanganku kabur. Kepala terasa berat seperti mau pecah, andai saja aku bisa melepaskan dan menghancurkannya sejenak – pasti hidupku terasa lebih mudah. Dokter pernah bilang bahwa aku menderita anemia akut karena kadar sel darah putihku memiliki jumlah yang melebihi batas normal, dan dipicu oleh pola tidurku yang terlalu buruk. Tapi hal itu tidak membuatku bersedia mengubah kebiasaanku untuk tidur di pagi hari, apa yang dimengerti oleh dokter itu tentang aku? Tidur pagi ini adalah kebutuhan primerku, dan aku tetap akan bertanggung jawab untuk bekerja dan bangun sebelum pukul 7 lebih atau kurang beberapa menit sebagaimana hari ini. Dokter tidak perlu khawatir begitu.

===

Cerita pendek tersebut seutuhnya dapat dibaca di Birokreasi yang dimuat tanggal 6 November 2015. Terima kasih dan mari ikut berkontribusi menulis di sela kerja :)

November 11, 2015

Patahan #86

1
"... And I watched this man. Every time they hit him, he stood back up again. Soldier hit him harder, still he got back to his feet. I think because of this they stopped the beating and let him live: stoikiy muzhik. Which sort of means like a standing man, standing man" - Rudolf Abel.

 2
"It doesn't matter what people think. You know what you did"- James Donovan.

Those two beautiful quotes from Bridge of Spies movie are really touching and powerful for me - to trust the heart and stay on the right side - no matter what people say. Be brave.

November 10, 2015

Yang Baru di Bulan November

Pastinya, usia baru!

Alhamdulillah, di tanggal 7 November kemarin saya masih dikasih jatah umur sama Allah yakni yang ke........ 26. Wow banget rasanya udah melewati usia 25! Tapi, pencapaian masih segitu-segitu aja, hiks. Smoga di usia yang baru bisa jadi perempuan yang lebih dewasa, lebih muda, lebih bahagia dengan status menyusul sebagai ibuuuu. Aamiiin.

Di ulang tahun kemarin, seperti biasa Abah menjadi orang pertama yang mengirim ucapan tepat di jam 12 walau saya sudah tertidur. I love you, abah :* Di ulang tahun kali ini, saya benar-benar merasakan kehangatan dari orang-orang terdekat yang mendoakan, keluarga, sahabat, dan yang pasti suamiiii - fewer than 10 people remember me sooo deep without social media notification. Saat sebelum subuh saya terbangun, ada kado mungil di atas meja ruang tamu, sesuatu yang sangat saya butuhkan....... Thank you husband!

Dan akhirnya, saya bisa menikmati promo ulang tahun Holycow di Alam Sutera, senangnya makan gratis! Saya memesan Hokubee Sirloin. Yang di dalam perut ikut bahagia ngemil steak sambil pamer aksi menendang-nendang hehe. Seharusnya buat yang berulang tahun ada persyaratan harus mengenakan semacam mahkota selama menyantap steak, tapi saya nggak tuh hihi karena di saat yang bersamaan banyak yang sedang ulang tahun juga :P Bisa makan dengan tenang hehe tapi sebenarnya di dalam hati pingin juga dong foto pakai mahkota gitu :(

Selanjutnya, mulai tanggal 9 November saya juga harus membiasakan diri dengan ritme hidup yang baru. Bangun sebelum pukul 4 dan berangkat pukul 5 lewat untuk mengejar jemputan. Awalnya sih ngantuk dan badan pegel semuaaa karena beberapa jam harus duduk mengarungi Jakarta dengan perut yang tambah buncit. Walaupun belum definitif sih ditempatin dimana, masih menanti....... dan menanti ketidakpastian itu nggak enak hiks. Pulang kantor sampai di Bintaro bisa hampir jam setengah 8. Karena suami kuliah malam jadi saya dianterin sama Gojek ke rumah. Kalau masih punya tenaga masak bentar deh sekalian buat bekal besok. Tidur rasanya singkat banget...................... Apalagi kalau udah punya anak nanti ya? Duh, ga tega T_T

Dalam hati cuma bisa bergumam sambil mengelus perut, "I'm sorry for making you tired, dear. Thank you for being so wonderful and strong for mommy"

Adaptasi itu sulit. Tapi semua akan baik-baik saja. Every good things take time. Harus banyak-banyak berserah dan selalu siap berubah. Keputusan hidup memang harus fleksibel kan? :)

November 3, 2015

Would You Like to Comb My Hair?

"They say pregnancy will bring you to the state of vulnerability. You will be mad, sad, over excited, grateful, and exhausted alternately up and down, then feel extremely fragile without any reason to explain why. Blame the hormones, yes, it's true. They also tell that the wonderful 9-month journey will change you into maturity. Sometimes it's true, yet, sometimes it's not"
***

The red sun of twilight alarms me that husband will come home soon. I do my routines, check the grocery in refrigerator, and decide what to cook tonight. No, I've lied. I have pushed my brain to arrange weekly menu the days before and make sure all I need is available. Sometimes it's tiring to be perfectionist - or try to be a perfect wife - while we know it's impossible. But, it's satisfying. It's just... satisfying - at least for myself of knowing that I've achieved something good today or yesterday.

I prepare corn and cut the long beans, yes, it's tamarind vegetable soup for dinner. Then, something disturbs my focus. I touch my hair, my dull curly hair. I remember something, something very nice. Suddenly, I cry. I know it's not because of the onions. The tears just come, and I let them flow.

Do you know what I remember? It's just too funny that I picture my mother combing my hair like she used to do when I was a girl, twice a day, with her gentle hands. I miss the moment how she touched my hair, how she tied my ponytail, and ended it by kissing my head. My tears keep falling. I do miss those moments. I miss her hands. I miss being loved like that. But time just changes too fast. The little girl has her turn to be mother soon. So, I blame the hormones again to make me too weak when I am alone. Though I always promise that I have to be cheerful, happy, and active - however I am - because it stimulates my baby to feel so.

Forgive me, my dear.

I'm in rush erasing my tears, taking my mobile phone, and typing this, "Mom, I miss you. I miss the moment when you comb my hair"

Then, I realize. It's not always good to follow what I feel. If she reads this message, will she just be sadder than me, right?

***

Those images which mother combs my hair still occupy my brain until my sleeping time. Husband is lying, and I ask him something to heal my feelings.

"Would you like to be combed before you sleep?"

I know he loves it. He puts his head above my laps, and I start to cry again - in silence, with smile - a very big smile.

"Hello baby inside, when you have grown up, I can't wait to comb your hair like my mother used to do"

***


For me, what I do tonight, it's just a simple sign of maturity.


Picture taken from here.

November 1, 2015

Together Forever

Four years of knowing you, one year of marrying you, and our dreams to be together forever = no regret. You are the best thing I've ever had.

You are not perfect, but you are the one that can suit me well. Thanks for all the patience, love, support, and hard work. Thanks for being my leader, best friend, and partner. I am a super happy and proud wife.


Happy first anniversary, my dear. May Allah protect us with bless and guidance. Soon we are gonna be mother and father.

October 31, 2015

Takkan Terganti

Tentu saja, tak perlu dijelaskan bagaimana aku merindukan kalian. Sangat. Di sela-sela sujud atau di sudut bantal sebelum tidur, ada air mata hangat yang terselip pelan-pelan. Berharap, air mata itu mewujud mimpi yang baik hingga bertemu pagi. Aku ingin selalu mendengar suaramu, Mama dan mendengar kabarmu yang sering merintih karena asam lambung, Abah. Aku mengerti bahwa doa Mama adalah investasi yang mengantarkan keajaiban terjadi hingga kehidupanku saat ini. Juga, perjuangan Abah membesarkan anak-anak adalah surga yang tak bisa digantikan oleh apapun.


Ketika melihat foto ini, aku bisa merasakan kebahagiaan yang sangat jelas. Saat itu di pertengahan Mei, foto pertama dan langka kita yang lengkap berempat di tahun 2015. Abah meminta berfoto di tempat favoritnya, di depan pemandangan Danau Toba yang saat itu mendung.

I can feel it, yes, I do. You always see me as your little girl, no matter what.

October 30, 2015

Keajaiban Bulan Oktober

I believe miracle does exist, and it does.
Saya selalu yakin bahwa Allah adalah Maha Tepat Waktu. Segala sesuatu yang terjadi adalah karena kuasa-Nya, dan Dia melimpahkan pertolongan yang tidak diduga-duga lewat orang-orang baik yang ada di sekitar saya. Saya menyebut itu sebagai keajaiban. Begitu pula dengan yang terjadi dalam hidup saya selama 1 bulan terakhir, ada suka dan ada duka, juga ada pengalaman baru yang terjadi.
Things may change, keep calm, because everything's gonna be alright.
Dan, ini menjadi alasan saya untuk tetap menulis. Bukan untuk show off atau sekedar berbagi, tetapi sebagai pengingat dan penjembatan syukur bagi diri sendiri, bahwa saya pernah menghadapi hal-hal sampai sejauh ini. Jadi, apa saja kejadian yang ingin saya ingat di bulan Oktober?

1. I've reached my halfway point, second trimester of pregnancy

Alhamdulillah, di akhir bulan Oktober saya mencapai separuh perjalanan kehamilan yang memasuki usia 20 minggu. Seperti banyak orang bilang, trimester kedua ini adalah masa yang paling menyenangkan. Energi saya berlimpah, mood yang happy, nafsu makan yang kembali normal,  pregnancy glow (kulit dan rambut jadi cemerlang), dan merasakan bukti kehadirannya yang lain di rahim saya melalui tendangan-tendangan cintanya. I can feel my baby moving, and it's just amazing.


Foto USG di atas diambil saat usia kehamilan saya 18 minggu, alhamdulillah dia tumbuh dengan sehat dan saat itu beratnya sudah mencapai 267 gram. Plus, berat badan saya sudah kembali ke berat sebelum hamil. The bump starts to appear, walaupun di trimester ini belum banyak yang sadar kalau sayanya sedang hamil hehe. Hasil tes darah juga menunjukkan saya bebas dari tokso dan hepatitis, hanya masalah anemia makanya sering berkunang-kunang. Penasaran dengan jenis kelaminnya eh si dedek malah tengkurap waktu diintip hehe. Doakan, semoga sehat-sehat terus ya :)

2. Grandma is coming!

Saya menyebut ini sebagai suatu prestasi karena saya belajar menjamu tamu yang menginap di rumah, yaitu nenek yang datang dari Semarang. Saya khawatir sekali sehingga mulai beberapa hari sebelumnya saya mulai membongkar kamar (yang biasanya lebih mirip gudang dan banyak barang) menjadi kamar yang layak untuk ditempati.


Selama nenek menginap, saya mengajak beliau pergi ke Pantai Tanjung Pasir, ke Bintaro Plaza, dan salon untuk pijat haha but she was super happy! Dan, akhirnya ada yang masakin dan bawelin saat saya hamil. Terharuuuu. See you again, grandma :*

3. Rezeki bayi di Hari Oeang

Pagi itu tanggal 25 Oktober 2015, saya ikut suami mengikuti Family Gathering Hari Oeang untuk Wilayah Banten di Lapangan Sun Burst, BSD. Dan, yang paling mengejutkan saat itu adalah kami mendapatkan doorprize berupa sepeda motor. Subhanallah, ini pertama kalinya buat saya bisa memenangkan hadiah utama di acara seperti ini. Spontan saya teriak waktu nomor undian dibacakan (dan suami masih belum nyadar), lalu dia lari ke depan lapangan sambil gemetar :')


Ternyata Allah punya rencana lain melalui hadiah itu. Kira-kira seminggu setelahnya, sepeda motor suami yang lama dicuri orang saat sholat subuh di mesjid dekat rumah dinas. Shock banget! Itu adalah sepeda motor pertama suami setelah dia bekerja. Sayanya masih susah ikhlas saat itu huhuhu saya benci penjahat! Padahal nggak boleh ya, karena pada akhirnya segala sesuatu yang dimiliki adalah titipan atau mungkin menjadi teguran, dan harus siap diambil kembali. Terima kasih ya Allah, Dia menggantikannya lebih dulu untuk kami.

4. Jadi ibu-ibu Dharma Wanita :p

Ini prestasi juga sih buat saya karena biasanya saya males banget ikut acara Dharma Wanita di kantor suami hehe karena... maluuuuuu. Tapi setelah diajak tetangga, akhirnya saya ikut deh. Saya jadi anggota paling junior yang datang saat itu dan kebanyakan cuma senyum-senyum sambil ngemil snack hihi. Syukurlah, ada beberapa orang juga yang saya kenal. Acara saat itu adalah demo masakan Jepang dengan mengundang seorang chef dari restoran Jepang di Jakarta.


Dan, benar saja, ini akan menjadi yang terakhir buat saya ikut acara Dharma Wanita kantor suami di Tangerang karena semua akan (p)indah pada waktunya. Suami mutasi ke Tanjung Priok.

5. Yudisium

Tanggal 30 Oktober 2015 adalah hari yang sangaaaat bersejarah karena akhirnya kami ditetapkan lulus secara resmi dan menjadi alumni pertama PKN STAN! Alhamdulillah, syukur yang teramat besar pada Allah dan orang-orang yang sudah membantu.... I did it, we did it!  Seneng banget ada yang ngasih kembang di hari itu, yakni adek-adek di Radio Blast yang masih inget aja sama founding fathers and mothers-nya. Makasih yaaa :')

   

Saya ingat banget saat berkas yudisium saya tertinggal entah dimana. Lalu saya mencari alibi dengan menyalahkan gejala "mamnesia" alias ibu hamil yang jadi pelupa karena otaknya menyusut hehe :p Saya menyusuri setiap tempat yang saya singgahi sebelum map berisi berkas itu hilang... dan, memang tidak bisa ditemukan lagi. Syukurlah, routing slip masih berada di tangan saya, dan saya mulai mengumpulkan berkas yudisium itu lagi satu persatu. Terima kasih buat para dosen yang sangat pengertian dan terutama Pak Amanudin - dosen pembimbing saya - yang luar biasa baiknya. Jika bertemu, beliau selalu menepuk bahu saya sambil berkata, "Kamu semangat ya!" :')

Yudisium juga menandakan bahwa saya sudah harus kembali ke kantor. Tanggal 9 November nanti adalah hari pertama saya akan masuk kantor lagi. Alhamdulillah, sudah dapat jemputan dari Bintaro. Semoga semua lancar-lancar ya :)

6. Siap-siap pindahan!

Suami mutasi artinya kami harus bersiap-siap untuk pindah dari rumah dinas. Pekerjaan rumah saat ini adalah mencari tempat tinggal yang dekat dengan lokasi jemputan kami berdua dan harganya juga affordable. Semoga bisa segera berjodoh dengan hunian yang dimaksud ya. Dan, sepertinya kami belum bisa move on dari Tangerang Selatan, this place is just too lovely to stay. Hehe.

October 23, 2015

Saudara yang Kupilih

I don't have a lot of close friends. But when I do, they can be thicker than blood. They are my family.
Terima kasih saudara dan saudariku, Kak Memed dan Ai. Kebersamaan kita membuat 2,5 tahun tugas belajar terasa lebih mudah, hidup kembali lucu, dan jiwa selalu muda. Dua orang ini adalah orang-orang yang luar biasa mau menerima kekurangan diri, keegoisan, keacuhan, kompleksitas - yang tidak bisa dimengerti setiap orang - dan tempat terpercaya untuk berbagi tanpa menghakimi. With them, everything seems alright.


Kak Memed selalu berhasil membangkitkan motivasi saya bahwa saya bisa, menjadi teman diskusi yang paling menyenangkan tentang apapun, contoh ayah dan suami yang menginspirasi, selalu menyodorkan saya buku-buku berkualitas untuk dibaca, dan menagih saya untuk menulis - walaupun saya tahu bahwa saya hanya ahli di tulisan beraroma depresi. Lalu, Ai pernah menjadi orang pertama yang saya peluk saat saya gundah, mendengar cerita-cerita saya, dan siap membantu saya banyak hal saat kesulitan. I can feel her big warm heart. Setelah saya menikah, mereka tak pernah berubah. Tetap khawatir jika saya sedang tak bergembira dan tetap memandang saya sebagai saudara. Status yang sangat indah untuk saya.


Selama dua bulan terakhir ini, kita tetap saling mendukung, hadir di setiap sidang masing-masing. Kalian adalah vitamin dan energi yang nyata saat diri merasa tak berdaya. Terima kasih untuk tetap ada. Saya bersyukur masih menemukan sahabat baik di usia yang tak lagi remaja. Akhirnya, kita bisa menamatkan mimpi untuk yudisium bersama. Di hari itu, saya merasa bahagia dan sedih seketika. Setelah ini, kita tak akan lagi sering bertatap muka. Dan, semoga hal itu tidak mengantarkan memori menjadi lupa. Tetap saling mendoakan seperti yang selalu kita lakukan dulu ya.

 
I'm gonna miss you, my brother and sister. Thank you, thank you so much.

September 30, 2015

Resep Nasi Kebuli

Selama ini rasanya belum pernah posting tentang resep masakan hihi. Nah, berhubung seminggu yang lalu Idul Adha dan pas banget masih ada paha domba yang belum diapa-apain di dalam freezer, kepikiran untuk mengolahnya menjadi nasi kebuli. Pingin belajar mengolah kambing atau domba soalnya wajib banget bisa buat keturunan Arab (walaupun sayanya kualitas KW 10 hahaha). Nasi kebuli ini otentik dari resepnya mama yang ngajarin via telpon, makasih ma :*

Tantangan pertama adalah memotong-motong daging paha domba yang masih beku. Paha domba dikeluarkan dari freezer dimasukkan dalam plastik lalu diletakkan dalam wadah berisi air supaya suhunya naik dan tidak terkontaminasi bakteri. Setelah daging melunak dan dalam keadaan setengah beku, iris daging berlawanan dengan seratnya. Ribet banget rasanya buat saya karena biasanya di tukang daging langsung dipotongin gitu kan dan tangan jadi berbau domba, syukurlah saya udah nggak mual lagi bersinggungan dengan bau-bauan. Nah, tulang paha yang tersisa saya simpan untuk diolah menjadi kaldu dan sup.

Tantangan kedua adalah menghilangkan aroma domba. Bukan rahasia lagi kalau domba atau kambing jika salah mengolahnya bisa mengeluarkan semacam bau prengus gitu. Nah, untuk membuat kaldu yang bening, daging dan tulang domba saya rebus dua kali. Karena nggak punya panci presto, jadi merebusnya harus agak lama supaya empuk. Rebus daging dan tulang dengan serai, daun salam, daun jeruk, bumbu pemasak kambing (ada di toko bumbu), dan lengkuas selama 1/2 jam. Rebusan pertama dilakukan untuk menghilangkan darah, lendir, dan buih dari dalam daging. Sisihkan daging dan tulang, buang air rebusan, dan rebus lagi daging dan tulang dengan air yang baru sampai daging empuk. Saring kaldu agar menghasilkan kaldu yang jernih dan harum. Kaldu ini selanjutnya akan digunakan untuk menanak nasi kebulinya. Sementara itu, marinate daging yang telah direbus dengan air asam dan garam.

Langkah selanjutnya adalah menyiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Resep ini digunakan untuk 1/2 kg beras atau sekitar 5-6 porsi, yaitu:
1 buah bawang bombay, iris halus
6 butir bawang merah
3 butir bawang putih
4 butir kapulaga, digeprek
1 batang kayu manis
2 batang serai, ambil bagian putihnya, digeprek
2 cm jahe, digeprek
Susu murni (saya pakai Bear Brand ukuran sedang)
1 sdm bumbu pemasak kambing atau bumbu kari
Mentega untuk menumis dan mengoleskan nasi, secukupnya
Garam dan lada, secukupnya

Bahan pelengkap:
Acar timun
Bawang goreng dan kismis untuk topping
Emping goreng
Sambal bawang

Cara membuatnya:
1. Haluskan bawang merah dan bawang putih

2. Tumis mentega dengan bawang bombay, kapulaga, serai, kayu manis, dan jahe sampai keluar aromanya. Masukkan bawang yang tadi telah dihaluskan dan bumbu kari agar nanti nasi berwarna kecoklatan.

3. Masukkan beras yang sudah dicuci bersih ke dalam bumbu tumis. Campurkan susu sedikit-sedikit dan air kaldu. Total air yang dibutuhkan untuk memasak 1/2 kg beras adalah 500 cc. Jadi jika susu yang digunakan adalah 200 cc maka kaldu yang perlu ditambahkan adalah 300 cc. Aduk rata, biarkan sampai airnya habis. Tambahkan garam dan lada, koreksi rasa.

4. Masak nasi yang telah bercampur bumbu dalam dandang hingga matang. Masaknya memang harus pakai dandang sih agar menghasilkan nasi yang bisa terurai dan tidak lembek, kalau pakai rice cooker kurang pas gitu. Setelah nasi matang, jika nasi agak kering, oleskan mentega (atau boleh diganti minyak samin, cuma sayanya nggak suka). Oh iya, lebih enak lagi kalau beras yang digunakan adalah beras India yang bentuknya sedikit panjang itu (lupa beras apa namanya).

5. Sajikan dengan bahan pelengkap dan daging yang telah digoreng.

Dan, tadaaaa.... ini hasilnya. Alhamdulillah, puas banget berhasil di percobaan pertama. Suami doyan banget, aroma rempah-rempah dari nasinya keluar, dan dagingnya empuk, renyah, serta bebas bau!


 Selamat mencoba!

September 23, 2015

Doa Wanita yang Sedang Mengandung

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku, jagalah apa yang terkandung dalam perutku, sembuhkanlah ia karena Engkaulah Dzat Penyembuh, sejahterakanlah ia karena Engkau adalah yang menyejahterakan, dan bentuklah ia dengan bentuk yang bagus dan baik, jadikanlah ia dalam keadaan yang sesehat-sehatnya, menjadi orang yang berilmu dan beramal, menjadi orang yang berakal dan cerdas, menjadi orang yang bahagia kaya lagi mengunjungi tanah haram (Makkah).

Wahai Tuhanku, jadikanlah ia anak yang saleh yang mau mendoakan kedua orang tuanya, berbakti kepada keduanya, dan taat kepada-Mu, serta utusan-Mu. Wahai Tuhanku, panjangkanlah umurnya dalam menjalankan ketaatan, sehatkanlah tubuhnya, baguskanlah kejadiannya dan budi pekertinya, fasihkanlah lisannya, merdukanlah suaranya dan iramanya (dalam membaca al-Quran dan Hadis), dan berilah ia rezeki kesejahteraan di dunia dan akhirat, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling Belas Kasih di antara semua yang belas kasih"

Doa yang sangat indah dikutip dari buku Panduan Kehamilan Muslimah halaman 59-60. Bacaan ini merupakan amalan yang sangat berguna. Jika wanita yang sedang mengandung membiasakan diri membaca doa ini setiap selesai mengerjakan sholat fardhu, ia akan dilindungi dari bahaya, baik selama mengandung maupun pada waktu melahirkan nanti.

Aamiiin :')

September 17, 2015

I Knew I Loved You Before I Met You

Sudah lama sekali saya tidak menulis blog, masih menulis sih, tapi dialihkan jadi menulis skripsi hehe. Masa perkuliahan D4 selama 2,5 tahun itu akan segera berakhir. Sangat banyak suka duka yang pantas dikenang, dan beberapa perubahan hidup saya juga terjadi di fase ini :)

Setelah 6 bulan menikah dan masih konsisten untuk berdua dulu... alhamdulillah selama fase berdua itu, saya puas sekali menjalani pacaran setelah menikah, menjalani fase adaptasi, jalan-jalan, menjadi istri, walaupun pastinya setelah punya anak fase pacaran itu akan bertambah harum. Tapi alasan lainnya semata-mata adalah saya ingin dapat cuti hamil dan melahirkan, kalau masih tugas belajar tidak akan bisa cuti. Oleh karena itu saya merencanakan kelahiran buah hati terjadi di tahun 2016, selanjutnya Allah yang memutuskan. Tidak ingin mendahului ketetapanNya :)

Alhamdulillah Allah memberikan kepercayaanNya di waktu yang paling tepat. Saya masih ingat, di beberapa hari terakhir sebelum Ramadhan berakhir, saya merasakan tanda-tanda yang tidak biasa. Setelah saya tahu saya positif, saya langsung gemetar dan nangis. Masya Allah rasanya bahagia sekali, seperti mendapatkan berkah Ramadhan.

July 23, 2015

Pantai Kura-Kura Singkawang

Assalamualaikum, alhamdulillah selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin ya :)

Lebaran kali ini penuh haru dan rasa kangen, kangen memeluk dan mencium tangan orang tua huhuhu. Ini lebaran pertama di kampung suami di Singkawang. Konsekuensi punya kampung beda pulau memang harus pulang bergantian ya hehe, jadi tahun depan Insya Allah gilirannya pulang lebaran ke kampung saya. Asyik!

Karena cuti suami sudah habis, kami baru bisa pulang H-1 dan sampai di rumah pas saat takbiran. Mertua udah masak banyak banget dengan menu ketupat, opor ayam, udang goreng, sup daging, dan sate yang udah siap dibakar besok paginya. 

Bersama adik-adik setelah sholat Id :)



Pak ustadz serius banget, LOL :p

Selama di Singkawang, selain menerima tamu, jalan-jalan ke tempat nenek di Sambas, wisata kuliner, dan belajar bikin kue Lapis Melayu, saya diajak suami ke pantai! Ada pantai yang baguuuus dan masih perawan tak jauh dari perbatasan Kota Singkawang dengan Kabupaten Bengkayang atau sekitar 30 menit dari Tanjung Batu Sedau dengan sepeda motor, yakni Pantai Kura-Kura.

Sekilas suasana pantai ini mirip dengan suasana di Pulau Belitung, banyak batu-batu besar, pasir putih, angin sepoi-sepoi, air laut yang masih jernih, ombak yang tenang, dan hewan-hewan laut kecil yang terlihat bersembunyi di balik batu. Indah banget sampai nggak mau pulang......


menanti sunset :')

Pantai ini juga belum ada yang mengelola, konon penjaga pantai ini yang merupakan seorang WNA sudah tidak tinggal di sana lagi. Semoga keindahan pantai ini bisa terus terjaga dengan baik. Saya harus kesini lagi kalau pulang kampung! :)

Cheers!

June 30, 2015

Weekend Getaway!

Perjalanan yang impulsif memang selalu membawa kejutan. Jalan-jalan mendadak kali ini diprakarsai oleh suami yang tiba-tiba ingin melepas penat dari rutinitas di tengah-tengah bulan Ramadhan. Dan pilihannya adalah Bandung! Bandung tanpa wisata kuliner memang bagaikan sayur tanpa garam, tapi perjalanan di bulan Ramadhan ini ternyata membawa keseruan yang lain :)

Minggu, 28 Juni 2015. Kami menuju shuttle Cititrans Bintaro sebelum subuh dan menunaikan sholat di masjid An-Nashr. Sekitar jam 5.45 kami sudah bersiap-siap berangkat. Perjalanan menuju Bandung terasa sangat cepat karena rasa kantuk membuat kami langsung tertidur dan bangun dalam keadaan masuk angin :p

Kami berhenti di shuttle Dipati Ukur, Bandung dengan masih tanpa tujuan. Akhirnya kami berjalan kaki melewati jalan-jalan Bandung yang sepi dan asri, masuk dan keluar sejumlah FO (terpaksa belanja karena udah numpang ke toilet :p), sambil membayangkan nanti buka puasa mau makan apa ya hihi (salah banget) padahal saat itu masih pukul 10 pagi.

Susah banget diajak selfie :p

Tak disangka kami terus berjalan sampai tiba di Dago. Panas terik membuat letih dan merasa nggak kuat jalan lagi akhirnya kami naik taksi sampai Gedung Sate. Walaupun udah sering ke Bandung tapi belum pernah sekalipun foto di depan Gedung Sate hehe. Jadi foto dulu deh. Kami melepaskan penat sejenak di taman Lansia sambil melihat pasar dan beberapa dagangan di sekeliling taman. Setelah itu, kami mampir meluruskan kaki sambil menanti sholat zuhur di mesjid Museum Geologi. Dan, kami ketiduran lagi di mesjid... :p

Akhirnya pernah foto di depan Gedung Sate :D

Nyenyaaak banget Masya Allah haha. Setelah ketiduran, kami baru sadar kalau Museum Geologi di sebelah mesjid tetap buka di hari Minggu sampai pukul 13.30 WIB. Pantas saja disana ramai. Menyadari bahwa waktu buka museum tinggal 1 jam lagi, kami pun langsung membeli karcis dengan harga Rp 3.000,- per orang saja.

Seneeeng banget bisa masuk museum lagi. Museum ini bagus, lengkap, dengan berbagai fasilitas multimedia yang sangat menarik minat anak-anak mulai dari tata surya, mengenal jenis-jenis batu, sejarah manusia, dan fosil. Tapi sayang, kami hanya sempat mengeksplorasi lantai satu dari museum itu, karena museum sudah harus ditutup. Suatu saat, harus kesini lagi!



Di dekat Museum Geologi juga ada Museum Pos, tapi tidak buka di hari Minggu. Akhirnya kami berjalan-jalan lagi sampai menanti sholat ashar dan janjian untuk menemui seorang teman di kampus Unpad. Setelah sholat, kami naik taksi lagi, belanja oleh-oleh cemilan, dan menanti berbuka puasa di sekitar Monumen Bandung Lautan Api. Kaki udah kram banget seharian jalan hehe. Kami memutuskan ngabuburit di monumen itu sambil menonton latihan atraksi motor. Serem sih liatnya, tapi lumayan buat menanti buka puasa. Berasa anak gaul banget saat itu haha.

Alhamdulillah, tak lama adzan berkumandang. Saya pingin bangeeet makan batagor Bandung, tapi hampir semua warung tenda di sekitar Unpad penuh. Karena suami udah laper banget (saya juga sih hehe), kami pun memilih tempat yang masih ada kursi kosongnya saja, yaitu... sate padang. Hiks ke Bandung makannya sate padang :(

Subhanallah, nikmat bangeeet rasanya berbuka setelah seharian berpetualang di kota surga kuliner haha. Setelah ketemuan dengan teman lama suami di kampusnya, kami pun menyempatkan sholat tarawih dulu di mesjid Unpad. Godaan banget mata kriyip-kriyip waktu sholat huhu. Dan, setelah makan malam lagi, kami segera bergegas pulang. Yang tersedia untuk malam itu hanya travel Baraya.

Kami pulang jam 9 malam dan sampai di Bintaro pukul 12 malam. Tiba di rumah, kami langsung sahur saja dengan lauk yang ada dan tidur dengan kesadaran penuh bahwa keseruan telah berlalu dan ini sudah hari Senin... lagi :"|

June 19, 2015

The Laws of Productivity

Our rational minds know that we have to finish our assignments, house chores, or any activity that needs commitment, but the monkey minds ask the rational minds to play in the comfort zones, such as - checking Facebook, watching TV series, having depressing naps, or any guilty pleasure that seems so good to do except those assignments. Welcome, procrastination! And that's what I learn during this semester - that moment when looking back to your thesis is just too difficult. AND EVERYTHING OH MY GOD IS MUCH EXTRAORDINARY FUN!

Procrastination is human nature. Sometimes you just have intuition not to do it today, and follow the mood, do it tomorrow. Tomorrow becomes the day after, and so on. And, later becomes never - until the deadline hunts!

That behavior can be linked to popular physics principle: Newton's laws.

First Law of Motion: An object either remains at rest or continues to move at a constant velocity, unless acted upon by an external force. 

It means objects in motion tend to stay in motion, and objects at rest tend to stay at rest. So, it relates to procrastination. If we keep moving and get started to keep going, congratulation! We're gonna have productive day. But, if we start the day with laziness, we will just be trapped in lazy day, body seems going to sleep all day. And it's true!

So, besides get started, what do I do to help myself from procrastinating?

June 18, 2015

Ramadhan yang Berbeda

Alhamdulillah. Marhaban ya Ramadhan.

Ramadhan kali ini berbeda karena ini Ramadhan pertama saya sebagai seorang istri. Setelah tahun lalu saya selalu diliputi oleh rasa galau, rasa itu kini telah berganti menjadi haru dan syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Mungkin tidak terlalu berbeda dengan hari biasanya, saya punya tanggung jawab untuk merencanakan dan menyiapkan menu makanan yang selalu saya tulis di kertas kecil sebelum saya berbelanja. Karena ini Ramadhan, maka tantangannya adalah saya harus merencanakan menu sahur dan berbuka selama sebulan, bangun lebih awal dan membangunkan suami sahur (yang dulu hanya bisa saya lakukan lewat telpon), dan tidak boleh malas-malasan sepanjang hari hihi. Insya Allah bernilai ibadah. Waktu jadi anak kos, saya sering nggak peduli mau makan apa sahur dan buka. Dan seperti anak kecil yang baru belajar jalan atau naik sepeda, saya juga seperti itu. Lagi senang-senangnya buat kolak untuk pertama kali, bikin es dawet sendiri, atau masak apapun. Pujian dari suami, badan sehat, rasa lezat - adalah priceless :)

Ramadhan juga menjadi menyenangkan saat saya punya tetangga-tetangga yang umurnya sebaya untuk teman bertukar cerita dan makanan berbuka. Tapi, sayangnya, mereka pun sebentar lagi akan pindah karena mutasi dan keadaan. Selain itu, semester ini hanya saya habiskan untuk mengerjakan skripsi sehingga saya punya waktu banyak untuk di rumah. Karena saya dan suami masih berdua saja maka kami masih komitmen untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Aktivitas dan tugas rumah tangga kami lakukan berdua, misalnya dia jadi Menteri Luar Negeri dan saya Menteri Dalam Negeri, bersih-bersih bagian halaman adalah tugas suami dan saya bersih-bersih bagian dalam. Rasanya puas aja bisa mengerjakan semuanya sendiri, saya merasa tangguh dan bermanfaat. Perasaan ini yang selalu harus saya jaga :)

Pernikahan juga membuat saya belajar untuk punya target Ramadhan, sesuatu yang dulu sering saya abaikan. Saya punya imam yang bisa memimpin saya beribadah. Mungkin hal itu jauh lebih berharga daripada khayalan saya yang selalu merasa kehilangan banyak moment dan meninggalkan kegiatan-kegiatan yang tidak lagi saya ikuti secara nyata. Karena pada dasarnya, pernikahan tidak mencuri kebebasan saya sedikit pun, pada batas-batas yang diatur karena ridho Allah terletak pada suami saya. Suami saya memberikan kebebasan yang banyak untuk saya terus belajar dan mencapai apa yang saya mau, menjadi pengajar, ikut komunitas, dan menikmati waktu dengan diri sendiri. Suami saya selalu menanyakan apakah saya bosan, apa yang saya mau. Dan, itu membuat saya mengharu biru karena saya merasa sangat sangat sangat disayang :)

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi pribadi yang sangat tertutup (selain di blog, hehe). Saya lebih banyak menjadi silent reader dan lebih sering mengabaikan media sosial. Tentu saja saya sering iri dengan teman-teman yang punya banyak kegiatan, tapi entahlah saya pun tidak punya langkah yang kuat untuk merealisasikannya. Pragmatis. Semoga fase ini tidak berlangsung lama. Dan, saya lagi senang-senangnya jalan-jalan. Oh ya, saya juga banyak menelpon mama dan abah. Lebaran kali ini saya tidak akan bertemu mereka, karena harus ke kampung suami dan berlebaran dengan orang tua kedua saya :)

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Syukur yang lebih baik. Doa-doa diijabah. Air mata tidak sia-sia. Dan, tidak selalu merasa sedih atau sendiri. Karena Allah ada. Selamat datang saya yang baru :)

June 14, 2015

Patahan #85

Keep moving. Don't complain others because you can't. Just complain to yourself because you stop. Nobody really cares about you except yourself.

I have free will. Nothing really changes until I make changes. Allah loves you because you have tried. Allah cares to you because you care to your own life.

Do the best, and Allah do the rests.

June 7, 2015

Terampil Mendengar

"Don't judge" 
Sepertinya kita semua sedang sama-sama berjuang untuk keluar dari tekanan sosial dan meneriakkan tindakan untuk  tidak menghakimi dan tidak dihakimi. Tapi, menurut saya, perspektif setiap orang adalah satu hal yang paling berbeda di dunia ini, demikian pula dengan perspektif terhadap orang lain. Mengubah orang lain adalah hal mustahil, maka saya akan mengubah diri sendiri dengan memilih apa yang perlu saya dengarkan.
***

Mendengar versus mendengarkan.

Setiap hari, kita dibebani dengan peran baru dalam hidup secara sosial, entah menjadi murid, menjadi pengajar, menjadi karyawan, menjadi pengusaha, menjadi pelayan, menjadi pedagang, menjadi pemimpin, menjadi istri, menjadi ibu, dan seterusnya. Sudah cukup banyak energi yang kita keluarkan untuk tampil dengan baik pada peran-peran tersebut. Jadi, jangan sampai kebahagiaan dan syukur kita terkuras karena komentar orang lain selama hal itu juga tidak merugikan orang lain.

June 3, 2015

Menjadi Pendiam

"Kalian kalau pacaran gimana ngobrolnya, soalnya sama-sama pendiam"

Jadi itu pernyataan pertama yang muncul dari keluarga waktu kami memperkenalkan diri dan berniat untuk menikah. Dalam hati saya, belum tahu aja kali ya, kalau ketemu kami berdua sama-sama error. Artinya, sisi dari diri saya yang tidak pernah saya perlihatkan ke orang lain, begitu juga dengan dia, cuma kami berdua yang tahu.

"Mereka kalau ngomong pasti bisik-bisik"

LOL. Pernyataan yang keluar beda lagi setelah menikah, masa iya ngomong mau teriak-teriak, dalam hati saya.

"Biasa, ngomongin bisnis"

Saya cuma bisa nge-les misterius begitu. Mau tau aja atau mau tau banget, hihi. Itu cuma satu sisi kisah seseorang yang secara historis dikenal pendiam lho. Nggak bisa disalahkan juga sih, karena masa kecil saya memang seperti itu.

***

May 26, 2015

#15 Mei untuk Maret: Sempurna

Maret, ini adalah luka di jari telunjukku yang kesembilan dari tiga bulan pernikahan kita. Pisau ini tidak salah. Dia membantuku, hanya aku yang tak bisa mengendalikannya dengan terarah. Mungkin aku mengantuk atau terlalu lelah. Aku harap kau tak marah. Dari aliran darah yang mengalir di sela-sela potongan kentang untukmu, aku teteskan satu pada kaldu sup itu. Maaf, ternyata belum cukup, ada air mata yang tak sengaja bercampur tanpa kutahu. 

Dan, ini sempurna.

"Apa kau suka?"

"Ini sangat lezat, Mei. Terima kasih. Ini sup terbaik yang pernah kunikmati"

Aku bisa melihat sinar kejujuran dari matamu. Kau benar-benar menyukai sup itu, Maret. Menyaksikan hal itu membuatku bisa meledak. Meledak karena bahagia. Aku ingin terus membahagiakanmu, Maret, dengan apapun yang aku punya. 

"Aku menyelipkan bagian diriku di sup itu"

"Pantas saja lezat, pasti ada cinta di setiap hidanganmu"

Maret tidak mengerti. Dia masih makan dengan lahap sambil sesekali mengelus kepalaku.

"Lain kali, akan aku selipkan hatiku di situ"


Maret masih tidak mengerti. Dia terlalu lugu untuk kebaikan istrinya yang tak sederhana.


Gambar diambil dari sini.

May 25, 2015

Mei dan Hal-hal Ajaib

Sampai saat ini, saya masih percaya keajaiban. Pada tangan gaib yang membuka pikiran dan mengantarkan saya pada sesuatu yang belum pernah saya rencanakan. Pada hal-hal baik yang akan berbuah kebaikan. Pada doa ibu yang mendekatkan kemungkinan. Dan, pada kerja keras yang tidak akan melakukan pengkhianatan.

Sepanjang bulan ini, doa ini menjadi teman:

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah"

April 28, 2015

Day 9 - Sayonara, Japan!

Minggu, 19 April 2015

Ruang ibadah di Narita ditutup pukul 11 malam dan dibuka kembali pukul 5 pagi. Saya terbangun sebelum fajar, menyaksikan keriuhan bandara itu yang mungkin akan sangat saya rindukan. Setelah sholat dan membersihkan diri, kami berjalan-jalan ke lantai 4 bandara tempat toko dan restoran berada. Perut rasanya sangat perih, tetapi saat itu masih sepi. Akhirnya kami pun membeli roti. Dalam hati saya berkata akan puasa makan roti beberapa hari, bosan sekali :(

Ada layar yang berulang-ulang memutarkan video dengan pesan "Sayonara", ah jadi sedih. Seperti baru kemarin, lalu kini harus pulang lagi. Loket Air Asia telah dibuka dan kami pun segera check in. Pesawat kami akan berangkat pukul 10 pagi dan tiba di Malaysia pukul 16.30 sore. Perjalanan panjang di siang hari tidak lebih baik dari di malam hari. Kebanyakan tidur bikin kepala pusing, novel sudah habis saya baca, dan belum ada pramugari yang menawarkan makanan. Akhirnya saya memilih untuk membeli makanan di pesawat, yang ada saat itu hanya menu kentang dan ayam. Tapi saya masih lapar, saya memesan mie instan lagi. SAYA MASIH LAPAR JUGA DONG -______________________-

Setelah mendarat di KLCC, kami menukarkan Yen yang tersisa ke Ringgit. Sambil menunggu pesawat yang membawa kami ke Jakarta pukul 10 malam, kami memutuskan untuk mengisi perut. Kangen bangeeeet makan tanpa rasa ragu dan khawatir. Pertama, kami makan nasi lemak. Lalu kami makan mie kuah. Ya ampun, makan langsung dua piring. Masya Allah...................

Kami mendarat di Soekarno Hatta pukul 11 malam, bergegas menuju parkir inap dan naik sepeda motor menuju ke rumah. Nikmat banget rasanya berbaring di kasur setelah beberapa hari punggung bekerja keras. Alhamdulillah, this is home.

:)

April 27, 2015

Day 8 - Malam Terakhir di Jepang

Sabtu, 18 April 2015.

Apa salah satu faktor yang menyebabkan Mikado Hotel ini murah meriah? Karena kamar mandi dan toiletnya sharing alias tidak ada male dan female bathroom yang dipisahkan seperti biasa. Tapi, tidak perlu khawatir, setiap pengunjung di sini saling menjaga privasi masing-masing sehingga saya pun selalu merasa aman. Setelah mandi, kami langsung bergegas menuju Osaka Station. Saat itu belum pukul 8 pagi, sementara bis yang akan mengantar kami ke Tokyo berangkat pukul 10 pagi. Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat deh :) Sakitnya tuh disini *nunjuk dompet* haha.

Kami membeli roti dan susu di Family Mart lalu menunggu di waiting room bis. Di sana kami ketemu sama orang Indonesia yang sudah bekerja di Osaka selama 12 tahun. Wow, katanya betah di sana males pulang hehehe. Kurang dari 10 menit menjelang waktu berangkat, bis telah tiba. JR Bus ini dua tingkat gitu mirip double decker, kami pun langsung duduk sesuai urutan di tiket. Sisi menyenangkan dari naik bis siang hari adalah bisa melihat pemandangan. Beda sama bis malam yang memang dikondisikan hanya untuk tidur jadi jendela ditutup rapat dengan tirai.

Perjalanan menghabiskan waktu 9 jam sampai ke Tokyo Station dengan berhenti sementara di rest area sebanyak tiga kali. Masalahnya adalah saat itu sangat dingin, kalau dingin berarti lapar. Tapi lapar tak ada uang. Ya itu, kami nggak punya cash money karena belum menemukan 7 Eleven hahaha. Akhirnya, kami cuma turun di rest area dan clingak clinguk menelan ludah melihat makanan yang enak-enak dan souvenir yang lucu-lucu. Uang receh kami cuma cukup membeli mochi dengan harga 300 Yen untuk berdua haha. Sementara itu, penumpang di depan kami selalu membeli makanan dengan aroma yang menggoda irama perut. Suami saya cuma bisa kasih puk puk dan kami pun tertawa konyol. Begitulah seninya berpetualang :p

April 26, 2015

Day 7 - Masih di Osaka :)

Jumat, 17 April 2015.

Masih hari yang sepi. Oh, Nagai sepi sekali di sini. Rasanya ingin bergegas check out dari hostel. Setelah mandi dan sarapan, kami pun kembali melanjutkan petualangan tanpa ingin mengingat Nagai Youth Hostel ini lagi haha. Kualitasnya beda jauh sama Utano Youth Hostel ditambah kejadian malamnya yang menghadiahkan kami cerita lucu untuk dikenang :))))))

Selamat tinggal, Nagai :)
Masih ada satu sumber adrenalin lagi. Rencananya, kami akan pulang ke Tokyo malam ini dan naik bis malam (supaya bisa menghemat biaya penginapan gitu). Tapiiiii Willer Bus untuk semua kelas full booked dong. Mau coba transit di Nagoya juga penuh. Saya nggak bisa tenang sebelum dapat kepastian tentang bis. Kami terus mencoba googling alternatif bis yang lain, tapi websitenya tulisan Jepang semua. Sampai akhirnya kami mendarat di website yang menyebutkan nomor telpon bis antar kota dari JR, dan yang paling penting ada keterangan English spoken. So, there is a hope! Jika tidak, alternatif terakhir yang kami punya hanyalah naik shinkansen yang mahal banget itu, huks.

Kami kembali ke Shin-Osaka Station dan transit di Umeda Station. Kami mencari telpon umum dan menghubungi call center JR Bus. Jadi intinya, tidak bisa dilakukan pemesanan melalui telpon, tapi kami diarahkan untuk datang ke Bus Center di Osaka Station. Baiklah, kami pun langsung meluncur ke Osaka Station, mencari loket pemesanan bis JR, dan.... memang bis untuk malam ini sudah penuh. Kami memutuskan untuk ke Tokyo esok paginya dan alhamdulillah masih dapat kursi. Ya Allah, rasanya tenaaaang banget. Dan itu artinya, kami akan berada di Osaka satu malam lagi :p

April 25, 2015

Day 6 - Ninnaji Temple dan Nagai

Kamis, 16 April 2015

Bangun pagi yang sangat segar! Saya pikir saya tidak akan bisa tidur tetapi ternyata saya sudah terlelap pulas pada pukul 10 malam. Udara dingin musim semi menyeruak, mandi, ketemu suami lagi (hore!), membereskan laundry, lalu sarapan dengan menu yang sudah kami pesan dari hostel, yakni Japanese Breakfast: lengkap dengan ikan, tofu, sup, telur, nasi, ubi manis, dan teh hangat. Selanjutnya, kami bersiap-siap untuk check out dan mengumpulkan selimut dan seprai yang sudah kami gunakan ke meja resepsionis. Saya berpamitan dengan Catherine, teman sekamar saya. Dia akan ke Gunung Fuji dan saya akan ke Osaka. Sebelum meninggalkan hostel, kami berencana untuk berkeliling Kyoto dulu dan mencicipi es krim kacang merah yang dijual di hostel, nyam!

Japanese Breakfast
Es kacang merah yang nagih :9
Utano hostel sangaaaat menyenangkan, kurang lama rasanya berada di Kyoto (karena tragedi ketinggalan bis itu hehe). Awalnya, saya pingin dan harus banget berkunjung ke Arashiyama Park, yakni objek wisata hutan bambu yang sangat magis itu. Tapi Arashiyama cukup jauh dari Utano dan kami khawatir terlalu malam tiba di Osaka. Akhirnya, kami memilih untuk berkunjung ke salah satu kuil yang ada di Kyoto. Kalau kita naik bis dari Utano ke Kyoto Station maka di sepanjang jalan akan banyak sekali dijumpai kuil-kuil yang bagus dan dipenuhi turis.

April 24, 2015

Day 5 - Kyoto: Utano dan Gion

Rabu, 15 April 2015

Finally, tiba di Kyoto! Walaupun 1 hari lebih lama dari itinerary yang saya jadwalkan, tapi udah bersyukur banget bisa menginjakkan kaki disini juga. Apalagi kalau ingat perjuangannya haha. Stasiun Kyoto sangat besar dan cantiiiik. Banyak sekali wajah-wajah turis disini. Karena saya sudah memesan hostel via hostelworld maka kami akan langsung menuju ke hostel. Dengan bantuan google maps, kami bisa mengetahui naik bis apa saja dan kereta apa saja untuk menuju kesana, plus ongkosnya! Oh, google maps, dikau keren sekaliiiii.

Hostel kami berlokasi di daerah Utano, naik bis 45 menit dari stasiun dengan biaya 230 Yen saja. Kartu Suica yang dipinjamkan mbak Dina selain bisa digunakan untuk naik kereta, bisa juga dipakai untuk naik bis, beli minuman dan makanan di vending machine, tarik tunai di atm, dan bayar di convenience store. Sangat berguna! Kartu Suica bergambar pinguin ini bisa dibeli dengan harga 2000 Yen.

Hostel yang kami pesan hanya berjarak 50 meter dari Utano Youth Hostel bus stop. Suasana disini sangat berbeda dengan Tokyo. Sepiiiii, terlihat ada pegunungan di belakangnya, sangat tenang. Rumah-rumah berjajar rapi dengan taman-taman yang dihias sangat cantik. Orang Jepang memang suka kerapian yaa :)

Penginapan di Jepang sebagian besar (terutama hostel) membuka check in pada pukul 3 sore, sehingga kami menghabiskan waktu di common room saja. Mulai pukul 10 sampai 3 sore hostel akan dibersihkan, mulai dari toilet sampai seluruh kamar. Tepat pukul 10 para petugas kebersihan berkumpul, mengatur strategi, dan mulai bersih-bersih. Ya ampun total banget bersih-bersihnya, orang Jepang memang sangat total dan perfeksionis :) Yang saya amati, sebagian besar petugas kebersihan disini didominasi oleh orang-orang tua, kakek dan nenek yang masih saja gesit bekerja. Luar biasa. Ohiya, saya tergila-gila dengan smart toilet di Jepang, sangat bersih, kering, bebas bau, dan hi-tech karena dijalankan dengan tombol-tombol dan sensor pintar.

Suasana hostel ini sangaaaat menyenangkan, bersih, dan dengan biaya yang sangat affordable, I totally recommend this hostel! Ada musik klasik mengalun di common room sampai ke toilet hostel, tenang sekali. Kami boleh menitipkan barang dulu di locker, dan karena kami belum boleh masuk kamar, maka kami meminta izin untuk sholat di hostel. Karyawan-karyawan hostel sangat mahir berbahasa Inggris, dan mereka mempersilakan kami sholat dimanapun. Kami memilih sholat di dapur karena saat itu sedang tidak ada orang :b

April 23, 2015

Day 4 - Shin-Obuke, Harajuku, Shibuya, dan Ikebukuro

Selasa, 14 April 2015

Jadi setelah peristiwa kejar-kejaran terminal bis tadi malam, kami berniat untuk mencari terminal bis Willer Express yang akan berangkat pukul 10 pagi. Setelah mandi air hangat, nelpon ke rumah via whatsapp call pakai wi-fi hotel hihi, dan check out, maka kami bergegas untuk kembali ke terminal bis di stasiun Sinjuku yang telah kami datangi tadi malam. Sarapan pagi ini sangat kreatif, yakni kebab Turki yang kami beli malamnya dan dihangatkan suami dengan hair drier :b

Hanya butuh 10 menit untuk kembali ke terminal bis, lalu kami mengkonfirmasi kedatangan bis pada petugas... dan tidak ada petugas yang tahu tentang jadwal bis pukul 10 pagi itu. Kami menanyakan lagi tentang lokasi Sumitomo Building yang notabene merupakan lokasi gedung pemerintahan di Tokyo, semua pegawai menggunakan jas hitam dan kemeja putih - dan ternyata lokasinya masih jauh. Artinya, kami pun harus berlari lagi.

Saya udah lemes dong, takut kejadian tadi malam terulang lagi. Apalagi sambil membawa tas ransel dan dengan celana panjang yang kebesaran - serius baru sekian hari saya udah turun 2 kilo, saya jadi kesusahan untuk mengejar suami saya yang lari lebih dulu. Kami bertanya pada beberapa orang, dan jawaban yang diberikan berbeda-beda. Akhirnya kami harus menyeberang, kembali lagi, belok kanan, kiri, sampai saya nggak kuat....... ketinggalan suami saya dong yang udah duluan huhu. Saya jalan sendirian (membayangkan tersesat di negeri orang), menunggu lampu merah untuk menyeberang, berjalan gontai, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang petugas kebersihan, dan dia memberikan arah yang benar. Bangunan yang saya maksud tepat ada di seberang saya.

Sudah pukul 10. Harapan saya saat itu cuma satu, ketemu sama suami saya. Apalagi kami tidak bisa menghubungi satu sama lain, paket data saya non aktif, dan pocket wifi dibawa sama suami haha. Dan, bener, suami saya udah nunggu berdiri di lampu merah. "Maaf, bisnya nggak terkejar. Aku sampai disana bisnya pergi". Langsung dong saya jalan sambil nangis, haha beneran nangis, antara capek dan kesel kali ya. Dan, kami memutuskan untuk datang ke terminal bis itu (lokasinya masuk ke dalam Sumitomo building dan turun dengan eskalator, ga nyangka ada disini), mengganti jadwal keberangkatan untuk malamnya, tapi di stasiun yang berbeda, bukan di Sinjuku. Kali ini tidak boleh gagal lagi.

Kami duduk lama di terminal itu, dan memilih untuk mengelilingi Tokyo lagi. Setelah perasaan saya membaik, kami pun kembali berjalan-jalan haha, ya ampun saya bocah banget. Kami kembali ke Stasiun Sinjuku (stasiun ini adalah salah satu stasiun tersibuk di dunia), menitipkan tas di locker, dan here we go again. Bismillah!

April 22, 2015

Day 3 - Fujiko F. Fujio Museum dan Asakusa

Senin, 13 April 2015

Pertama kali bermalam di Jepang, kami tidur dengan penghangat, kaus kaki, dan selimut tapi masih kedinginan hihi. Agenda hari ini adalah ke Fujiko F. Fujio Museum yang buka pukul 10 pagi. Mbak Dina sudah memesankan tiket masuk museum sejak jauh-jauh hari karena bisa kehabisan. Harga tiket adalah 1000 Yen per orang dengan waktu masuk sebanyak 4 kali yakni pukul 10, 12, 14 dan 16. Awalnya saya ingin sekali main ke Ghibli Museum, tapi sudah sold out........... dan mbak Dina merekomendasikan museum ini. Main ke kampung Doraemon, nggak lengkap juga rasanya nggak ketemu Doraemon hihi ;)

Dari rumah kami berangkat pukul 08.30, kami berjalan ke stasiun Bubaigawara dengan waktu tempuh 20 menit, cukup jauh. Kami membeli sarapan berupa sandwich tuna dan telur. Orang-orang dengan jas dan kemeja rapi, bersepeda dan berjalan dengan cepat, dan semuanya membawa payung. Kata mbak Dina hari ini akan hujan. Orang Jepang selalu membaca ramalan cuaca untuk keesokan harinya. Saya baru tahu juga, ada semacam peraturan di Jepang yang mengharuskan masyarakat untuk membawa payung saat hujan, karena jika tidak maka orang tersebut dianggap tidak bertanggung jawab pada diri sendiri, dan orang Jepang juga tidak suka berdekatan dengan yang bajunya basah. Maka, kami membeli payung transparan di convenience store stasiun. Benar saja, hujan turun dari pagi sampai malam. Kami turun di stasiun Noburito dan tiba sebelum pukul 10. Disana sudah ada bis doraemon yang menunggu, kami pun bergegas naik.


Setiba di museum, kami menitipkan payung, mengantri, dan masuk perlahan lalu mendapatkan audio guide sebagai panduan selama di museum dalam bahasa Inggris. Ruang pertama yang kami masuki adalah exhibition room. Disana disajikan karya-karya otentik Fujiko F. Fujio, peralatan menggambarnya, dan deskripsi tentang tokoh-tokoh komik karya beliau. Di ruang selanjutnya terdapat riwayat hidup Fujiko F. Fujio dan tiruan ruang kerjanya. Namun, di exhibition room tidak diperkenankan untuk memotret untuk menjaga barang-barang yang dipamerkan agar tidak cepat rusak.

April 21, 2015

Day 2 - Fuchu dan Tokyo Skytree

Minggu, 12 April 2015

Jadi begini rasanya, pingin nangis!

Kami mendarat di Jepang pukul 08.55, waktu di Jepang 2 jam lebih cepat dari Indonesia dan 1 jam lebih cepat dari Malaysia. Ini pertama kalinya saya melakukan penerbangan dengan waktu tempuh yang lama, apalagi kursi saya dan suami terpisah, dan duduk di dekat jendela membuat saya tidak enak untuk sering ke toilet karena harus membangunkan orang asing yang tidur pulas banget di samping :/

Foto sebelum masuk imigrasi :)

Setiba di imigrasi, kami harus mengisi embarkation/disembarkation card, semacam mini itinerary tentang berapa hari akan stay di Jepang, dimana, dan bawa uang tunai berapa. Selanjutnya kami menuju tempat pengambilan bagasi, dan seluruh bagasi sudah diturunkan dari conveyor-nya. Dan terlihatlah bagasi kami yang paling tidak enak dipandang *alias kardus* karena sudah melewati perjalanan panjang mulai dari dipangku di sepeda motor, jatuh menggelinding, dititipkan di locker malaysia, dan dibawa ke Jepang hihi. Di bagian customs, petugasnya menanyakan apa isi kardus tersebut, dan kami jawab "Indonesian food" :b

Kami memutuskan untuk berkeliling-keliling bandara dengan status kelaparan adalah "gawat" alias sangat lapar. Di lantai 4 terminal 2 Narita terdapat toko dan restoran, salah satunya restoran halal dengan nama La Toque. Namun, kami memilih untuk makan nasi gulung yang bentuknya disajikan dengan sangat cantik. Di setiap kemasan nasi gulung ada pictogram yang memudahkan untuk mengetahui apa saja yang ada dalam makanan tersebut. Suami saya langsung mempraktikan apa yang ada di buku dengan bertanya, "No buta?" alias "No pork?", dan ibu-ibu si pemilik toko langsung menjawab dengan "ney ney, fish and egg".


Day 1 - Kuala Lumpur

Sabtu, 11 April 2015

Pesawat kami sebenarnya dijadwalkan berangkat pukul 16.35, namun pihak Air Asia mengubah jadwal menjadi pukul 18.35. Karena adanya perubahan tersebut, para penumpang diberikan privilege untuk mengganti jadwal penerbangan. Penerbangan ke Narita akan dilanjutkan pukul 24.05, karena sepertinya terlalu berisiko maka kami memajukan jadwal CGK-KUL menjadi pukul 08.35, biar tenang dan bonus bisa jalan-jalan dulu ;)

Keluar dari imigrasi dan customs, kami menitipkan barang di Luggage Storage di LCCT lantai 2. Kami menitipkan satu kotak titipan makanan Indonesia dari mbak Dina yang rumahnya nanti akan kami kunjungi di Jepang. Setelah itu, kami memutuskan untuk pergi ke tempat kunjungan wajib, yakni menara kembar Petronas di KLCC, naik bis dengan biaya RM 15 per orang. Setiba di KLCC, kami langsung mencari objek foto *norak* dan cukup kagum dengan kebersihan di sana, tidak ada pedagang asongan, dan tidak ada sampah.




Setelah puas berfoto, kami makan nasi lemak di food court Suria KLCC lalu sholat ashar di mesjid As-Syakirin dekat KLCC. Selanjutnya kami bergegas naik kereta menuju KL Centre dengan biaya RM 1.60 dan menyambung kereta langsung menuju bandara dengan biaya RM 35. Kereta datang dan tiba sangat tepat waktu :)

Kami kembali mengambil barang di tempat penitipan dengan biaya RM 19.50, sholat, makan di KFC, check in, membunuh waktu dengan minum latte hangat, sikat gigi dan cuci muka, lalu masuk ke ruang tunggu menunggu boarding. Here we go!


Footnote: Btw, di KLIA saya selalu bertanya-tanya dengan petugas berseragam yang berjaga di setiap eskalator, atau duduk di depan musholla. Sometimes we ask information to them but they can't understand at all. What are they doing exactly?

April 20, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 3

We both are fans of secrets and surprises.

Jadi pada apapun yang kami rencanakan terjadi, kami punya kesamaan prinsip - do not tell the others and do not show off in social media.  Mungkin sejak handphone saya hilang setahun yang lalu, saya sudah nggak lagi mendokumentasikan hidup di facebook, instagram, atau path. Hidup jadi lebih sederhana ternyata :)

Sejak tiket terbeli, maka persiapan sudah harus dimulai. Apa saja yang kami persiapkan?

1. Doa, doa, dan doa orang tua. Waktu saya bilang saya mau ke Jepang, mama langsung terharu. Mama bilang, "Allah punya cara sendiri ya untuk mewujudkan mimpi Icha yang dulu tertunda"

2. Beli buku panduan backpacking Jepang. Buat kami yang baru pertama kali ke luar negeri, perlu banget membaca banyak hal tentang persiapannya. Salah satu buku yang kami beli adalah buku karya kak Farchan - senior saya yang udah travelling kemana-mana. This book is GOOD dan ada bonus petanya! Beliau memberi banyak informasi yang sangat berguna dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol saya yang buta banget tentang travelling. Bahkan beliau mengenalkan saya dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan kami boleh menginap disana....... :)

3.  Mempersiapkan berkas-berkas untuk mengurus visa Jepang. Karena visa Jepang harus diurus sesuai yurisdiksi maka saya harus mengurus visa di Medan sesuai alamat KTP saya (pas banget saat itu adalah jadwal saya pulang ke Medan), dan suami mengurus di Jakarta. Menyusun initerary adalah yang paling menantang, syukurlah ada orang-orang yang berbaik hati mendokumentasikan initerary mereka di blognya dan saya hanya perlu modifikasi ulang. Sementara itu, rencana penginapan untuk persyaratan visa diperoleh melalui bantuan situs booking.com karena bisa dibatalkan kapan saja dan tidak perlu bayar dulu.

4. Nonton Japan Channel dan Kokoronotomo di Metro TV tiap hari Minggu, dan belajar percakapan Jepang dasar melalui file audio Pimsleur. Very helpful! Pelajaran dasarnya adalah untuk bertanya apakah orang tersebut paham bahasa Inggris atau tidak:

"Sumimasen! Eigo ga wakarimasuka?"

"Iie, watashi wa eigo ga wakarimasen"

Dan, ternyata percakapan itu memang sangat berguna pas disana :p

5. Beli kamera. Pas banget saat itu lazada lagi diskon gila-gilaan (semuanya pas banget, mestakung.......)

6. Beli spring coat, syal, dan sarung tangan di factory outlet dan... pas lagi diskon. LOL.

7. Beli universal charger di Glodok Elektronik BSD Plaza Serpong, karena besar tegangan dan bentuk colokan di Jepang beda ;)

8. Beli printilan backpacking, mulai dari sabun, shampoo, toothbrush set dalam ukuran kecil (karena liquid yang masuk kabin dibatasi per botol dalam ukuran 100 ml dan total maksimal 1 liter yang disusun dalam dompet plastik transparan dengan resleting), disposable pants, dan tas ransel yang sehari sebelum berangkat baru sempat dibeli :/

9. Tukar yen dan ringgit di Pasar 8 Serpong. Saat itu nominal yang kami tukar hanya 80.000 Yen dan 250 RM buat berdua, dengan persiapan bawa kartu kredit buat jaga-jaga *ngirit*

10. Powerbank, kompas kiblat, dan sewa pocket wifi di Jepang seminggu sebelum berangkat melalui situs global advance. Jenis yang kami pesan adalah eco pocket wifi untuk 7 hari dengan unlimited data, harga saat itu adalah 4.950 Yen sudah termasuk ongkos kirim. Pocket wifi akan kami ambil di post office bandara Narita saat tiba nanti.

Btw, kami tidak memesan Japan Railway Pass sebagaimana biasanya disarankan. Dengan harga per orang 29.110 Yen untuk 7 hari, it was just quite expensive for us.

Malam sebelum berangkat, kami baru sempat packing. Packing tak pernah semenyenangkan ini. Total bawaan kami adalah dua ransel saja dan satu tas kecil untuk passport dan uang. Prestasi buat saya yang biasanya selalu repot bawa banyak printilan kalau pergi. Pesawat CGK-KUL terbang pukul 08.35 WIB, kami berangkat ke bandara naik sepeda motor pukul 05.30 WIB. Hemat uang taksi! XD

April 3, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 2

Sebut saja honeymoon. Karena sejak menikah kami memang belum jalan-jalan berdua yang serius sebagaimana newlywed biasanya. Dua hari setelah hari pernikahan saya sudah masuk kuliah, pindahan, cukup lelah mengurus ini itu, dan harus menata ulang tabungan yang tinggal remah-remah *LOL* - alhamdulillah akhirnya masa itu datang juga. Jalan-jalan! :)

Setelah pernyataan spontan itu terlontar, kami langsung browsing tiket - antara musim semi atau musim gugur karena Jepang paling indah untuk dikunjungi.

"Kenapa ga musim gugur aja? Bulan November nih, murah"

"Kelamaan, mau lihat sakura"

"Oke". Saya cuma bisa matung, antara nervous, menggigil, dan senang. Overexcited!

Setelah beberapa jam berburu tiket antara Jet Star dan Air Asia di sela-sela jam kantor dan saya yang lagi kuliah, akhirnya diputuskan berangkat tanggal 11 April 2015 dan pulang tanggal 19 April 2015 dengan Air Asia. Pas banget, saat itu Air Asia lagi promo murah meriah. Masa-masa berburu tiket itu bikin nggak tenang, karena harga bisa naik turun seenaknya kayak harga saham dalam hitungan menit. And, we got it! Total sekali terbang nggak sampai 2 juta rupiah, CGK-KUL dan KUL-NRT.

"Pas nggak berangkat tanggal segitu? Gimana kuliah?"

"Insya Allah belum seminar outline, sebelum tanggal itu aku maksimalin bimbingan. Kamu dapat cuti nggak?"

"Gampang. Jadi nih pesan tiketnya?"

"Bismillah! Mau nangis"

"Bismillah!"

"Jadi kita ke Jepang?"

"Insya Allah, kita ke Jepang!"

Sejak hari itu rasanya hidup jadi lebih hidup. Manusia memang butuh cita-cita ya buat bertumbuh.

April 1, 2015

Honeymoon Backpacker: Preparation 1

"The best time to make decision is on the early morning"

Karena di pagi hari semuanya dimulai. Setiap pilihan, hari ini mau melakukan apa saja, mau melanjutkan tidur atau bermalas-malasan lagi, semua diputuskan di pagi hari. Saat itu pikiran masih belum terdistraksi dengan banyak pertimbangan, ketakutan, sehingga terlontar sebuah pernyataan spontan:

"Ke Jepang yuk!"

Awal Februari 2015, moment emas untuk merealisasikan bucketlist yang tertulis di buku catatan mimpi bersama yang disusun di awal tahun 2015. Saya yang penakut ini bilang:

"Malaysia atau Singapura aja"

"Mau yang jauhan dikit" - kata suami.

"Emang bisa?"

"Insya Allah bisa"

"Jepang?"

"Oke"

Dan, Allah menjawab doa itu. Ternyata, dalam hidup, kita hanya butuh lebih banyak percaya dan berusaha. Akhirnya, passport saya yang sudah dibuat hampir setahun yang lalu akan terpakai juga.

March 23, 2015

Merayakan Perubahan

Tahun 2015 saya tidak banyak menulis, tepatnya terasa sulit untuk mulai menulis kembali. Mungkin, akhir-akhir ini saya tidak cukup "merasa". Apakah saya yang mati rasa, atau hidup sudah menampar diri untuk berlabuh merenungkan realita, bahwa waktu untuk mengagungkan segala jenis kerisauan dan air mata yang pernah sedikit saja bisa mengombang-ambingkan hati sudah tak perlu. Masa itu sudah berlalu. Romantisme telah berganti wujud, dari setangkai bunga menjadi waktu tidur ekstra, atau dari secarik puisi menjadi berbagi tugas rumah tangga.

Tahun 2015 saya tidak banyak menulis, dan seakan jari-jari ini menghukum dirinya sendiri. Saat dibutuhkan, mereka diam lalu mencari alibi bahwa waktumu masih terbentang. Satu kata pun tak kunjung datang, hingga harus memaksa agar tak didahului oleh mata yang menutup perlahan. Tiga kalimat untuk menggambarkan semester ini, saat hari terasa panjang, namun ujungnya bagai fatamorgana. Semester ini banyak saya habiskan dengan diri sendiri, selain dengan suami, pekerjaan rumah, mimpi di siang bolong, bacaan sepintas lalu, dan linimasa. Semester ini saya tidak bertemu dan bicara dengan banyak orang, tanpa merasa kesepian. Mungkin, karena itu juga saya tidak cukup "merasa".

Tahun 2015 adalah tentang merayakan perubahan. Sebagai tipe orang yang sering terjebak nostalgia, saya selalu ingin pergi ke masa lalu. Awal bulan ini saya telah pulang, pulang yang pertama kalinya dengan keadaan yang baru. Di balik kebahagiaan yang berlebihan, ada kerinduan yang tak bisa digambarkan. Saya masih rindu dipeluk ibu dan jalan-jalan bersama ayah, berdua saja. Tapi, keinginan itu tak tersampaikan. Tak tersampaikan, sama sekali. Saya mengutuki waktu, sebagaimana waktu tidak selayaknya dipersalahkan, maka terdengar penyesalan di setiap pilihan yang tertunda dan tersia-sia.

Dan, teruntuk suamiku. Terima kasih telah berjuang. Mungkin, kamu satu-satunya orang yang bisa menghadapi kompleksitas saya dengan tenang dan kasih sayang.

February 25, 2015

About February

February is actually not one of my favorite months. This month is short, but many important events happen. February is about having the last days of being student at class, and the first days of being alone at home for duty. Those three days seem a practice for me but it feels like forever. 

New semester is coming, yes, it is the last. I've finally found my best friends back. I've cried for watching movie because Theory of Everything is too awesome and heartbreaking. I've bought four books on February, and it feels so good to have the new ones. 

February is a learning path to be more mature. I am learning to make friends with other wives and mothers in neighborhood, baking cakes, thought sometimes my taste of everything still does not change. 

The uncertainty is waiting on months ahead. But I am happy because uncertainty sometimes gives me surprise and more faith that Allah always helps. Good thing will come on the last day of February, by the way. I will go home and reload my energy. 

I miss them so badly. 

:)

February 4, 2015

Secrets of Adulthood

People don't notice your mistakes as much as you do.
It's okay to ask for help.
Most decisions don't require extensive research.
Do good, feel good.
It's important to be nice to everyone.
Bring a sweater.
By doing a little bit each day, you can get a lot accomplished.
Soap and water removed most stains.
Turning the computer on and off a few times often fixes a glitch.
If you can't find something, clean up.
You can choose what you do; you can't choose what you like to do.
Happiness doesn't always make you feel happy.
What you do every day matters more than what you do once in a while.
You don't have to be good at everything.
If you're not failing, you're not trying hard enough.
Over-the-counter medicines are very effective.
Don't let the perfect be enemy of the good.
What's fun for other people may not be fun for you - and vice versa.
People actually prefer that you buy wedding gifts off their registry.
You can't profoundly change your children's nature by nagging them or signing them up for classes.
No deposit, no return.

-taken from a book, The Happiness Project by Gretchen Rubin, page 12-13.

Those secrets suit me well :)

January 27, 2015

Surat Untuk Una

Dear Una,

Dari ratusan kilometer yang merintangi, dipandu rintik hujan dan denting angin yang terlalu damai untuk hitungan pagi hari musim semi, seketika aku teringat padamu, yang kini bukan menjadi gadis kecilku lagi. Ada perasaan getir  yang kulihat pada bayangan dirimu, Una, yang ku tak tahu itu apa tapi aku yakin bahwa kau pasti bisa mengatasinya. Karena pada akhirnya, kita berdua tahu, cara terbaik untuk menyelesaikan hal yang tidak kita sukai adalah dengan menghadapinya. Semoga surat ini dapat meredam kegundahanmu yang selalu haus pengertian dari orang-orang yang tak pernah semudah itu bisa kau ajak bicara karena kompleksitas berpikir yang kau punya. Itu anugerahmu, Una. Ingatlah, kau masih punya aku.

Una, berterimakasihlah pada waktu. Karena aku tahu, menjadi dewasa adalah impianmu. Setiap orang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang penuh lugu, tapi tidak denganmu. Kau selalu bilang, bahwa manusia dewasa punya keistimewaan, yakni mereka hidup dengan pilihan, sesuatu yang jarang kau dapat di masa kecilmu. Mengertilah bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kau pilih dalam kehidupanmu, seperti siapa orang tuamu dan bagaimana mereka mendidikmu. Kau selalu bertanya mengapa ada yang lebih penakut daripada yang lain dan mengapa kau dididik seperti itu. Apa kau masih benci dengan beberapa kepribadianmu, yang tidak lebih berani daripada yang lain, yang lebih suka menyendiri daripada merangkai temu? Berbahagialah Una, karena saat ini kau bisa memilih apa yang harus kau perbaiki dari dirimu. Percayalah, bahwa orang tuamu pun telah berusaha membesarkanmu sebaik mungkin. Kini, sisanya tergantung usahamu.

Una, dalam perjalananmu, kau pun telah menjadi saksi bahwa orang yang pernah mencintaimu atau pernah kau cintai, entah dalam diam atau dalam air mata di tidurmu, mereka semua pada akhirnya mengakhiri labuhannya dengan orang yang tak pernah kau duga di masa lalumu. Pada akhirnya, mereka semua telah menemukan jodohnya Una, sama seperti kau yang telah menemukan rumahmu. Akuilah bahwa kau sedikit cemburu karena mulai kehilangan pengagummu. Masa itu sudah lewat Una, kau harus membangun hidupmu dan belajar mencintai orang yang kini tulus menjagamu. Aku mohon padamu.

Dan terakhir Una, di balik luka hatimu dan teriakan feminismu tentang dunia yang fanatik terhadap nilai-nilai patriarki, ada hal-hal yang tidak bisa kau ubah tentang takdir alamiahmu. Belajarlah menerima itu Una, karena keadilan yang hakiki hanya kau dapat dengan berlaku adil pada hak dan kewajibanmu. Di balik tanggung jawab yang tak pernah kau duga sebelumnya, percayalah kau tetap akan menjadi wanita hebat. Ada banyak hal yang kau keluhkan, aku bisa menebaknya dari sini, sekarang pilihanmu lah untuk mengubah itu: mengubah keadaan atau mengubah egomu yang sekeras ombak menghantam batu.

Di balik semua itu, aku tidak khawatir. Karena pada akhirnya, kita berdua tahu, cara terbaik untuk menyelesaikan hal yang tidak kita sukai adalah dengan menghadapinya. Dan kau sangat ahli dalam hal itu.

January 25, 2015

Caffeine Talk

It has never been on my list that caffeine talk can be more comforting than pillow talk. As a non-caffeine person, drinking coffee at the wrong time and wrong portion can hurt, literally - and keep me awake all night.

It was Saturday night. I always love the idea of having a date especially dating after getting married. I don't need to worry about what time I should go home and how fast time runs to let us separate again.

It was 10 p.m. We stopped by in coffee shop, he ordered ice coffee and I chose latte. I had to prepare that I couldn't sleep after this cup. But the rain dropped so heavily. We could not go home and needed to stay longer.

The caffeine started working. He asked me about something that we had never considered to talk about in our relationship - it was public finance and macroeconomy. I was shocked because it was the date and he kept asking me a lot of things that troubled his mind and he wanted to know. I loved the discussion. It was warm.

Both of us have similarity, we like observing people. We kept talking and talking..... until 2 a.m. and the rain stopped to fall.

It was one of the deepest talks that we've ever had. And I don't mind to repeat that caffeine talk again and again! :)

January 16, 2015

Nocturnal

There is an addiction of staying awake at night doing your assignments late and playing around with your mind. Because you know, night has beauty of its silence, whereas afternoon is confusing and morning is always in hurry. Sometimes, in a minute, you are sad - being punched by headache because you push yourself too hard to make sure everything well-organized and neat.

You are sad.

Tired.

But you know that you are not alone. You have someone to hug at night. That hug, you always need that hug. 

It is peace. Energy. Another addiction. 

You are fine. 

:)

January 15, 2015

Menyapa 2015!

Hello! Tulisan yang sangat terlambat untuk menyapa 2015 ya >.<

Saya berjanji untuk menulis lagi setelah proposal penelitian saya selesai. Tapi ternyata ada yang lebih penting dari "selesai", yakni tentang "saya tertarik dan saya ingin benar-benar melanjutkannya". Ini yang tidak mudah. Semoga seiring berjalannya waktu dan hobi melamun saya yang tak habis-habisnya, ada ide baru yang bisa muncul. Saya sadar saya juga kehilangan banyak waktu membaca. Bukan kehilangan mungkin, tapi di sela-sela kewajiban, saya yang tidak meluangkan. Buku baru apa yang sudah saya baca di tahun 2015? :(

seorang sahabat memberi tantangan ini :)