May 31, 2010

I love my auntie ,)

Dia tanteku.
Bagiku, dia ibu keduaku.

***

Jika kita kembali mengulang kenangan masa lalu, aku pertama kali mengenalmu sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu, aku masih seorang gadis kecil kutu buku yang cengeng, dan engkau adalah gadis belia yang sangat cantik dan energik dengan wajah khas Timur Tengah dan kelebihan lainnya.

Sejak saat itu, kita tak pernah bertemu lagi. Kecuali lewat urutan huruf-huruf yang melayang-layang di udara dan tiba di handphone kita masing-masing. Atau lewat berbagai paket cinta darimu yang masih kusimpan dan kukenang sampai sekarang.

15 tahun kemudian, takdirku mengatakan bahwa STAN adalah tempatku. Dan, kini aku sadar, aku berada di sini untuk menjemput banyak hal.

Aku bertemu denganmu lagi, bonusnya, aku sudah punya sepupu kecil.

Dan lagi, bisa dibayangkan bagaimana bingungnya aku yang pertama kali jauh dari orang tua. Tapi ada engkau, tanteku, yang mengajariku bertahan dan memenuhi semua kebutuhanku.

Engkau telah menjadi inspirasiku.

Dan aku pun bisa setegar ini.
Tak ada lagi tangis sia-sia.
Karena hidup adalah perjuangan, dan bahagia tidak gratis.

Setiap ada warna merah di kalender, aku kini punya rumah untuk pulang. Dimana aku bisa diterima dengan tangan terbuka, diberi makanan yang baik, dan dihadiahi kehangatan keluarga. Tempat dimana aku bisa tertawa, lari dari rutinitas dan kejenuhan, dan bertemu wajah-wajah riang kalian. Itu anugerah.

Dan, sudah hampir tiga tahun aku menempuh perjalanan di STAN. Sebentar lagi titik akhirnya, insya Allah. Dan kebahagiaanku adalah kita bisa sedekat ini, hala. Aku yakin hala tahu bahwa aku sering merasa sepi dan kalut. Tapi nikmatilah sepi itu, kelak akan kurasakan keberkahannya. Dan resapilah kalut itu, jadikanlah kekuatan untuk mencapai mimpi dan asa.

Maaf jika aku sering membuatmu kecewa dan menangis. Karena luka yang pedih adalah saat melihat orang yang kita cintai menangis karena kita. Tahukah hala bahwa kemarin aku menangis saat hala bilang, "Nanti, tinggalah disini, saja..."

Aku tak bisa berkata-kata.

Terima kasih untuk halaku tercinta, ibu keduaku. Semoga Allah membalas semua kebaikan dan kesabaranmu. Terima kasih atas cinta ini dari Dzat yang Maha Mencinta. I love you ,)

***

Kata-kata Favorit dari 28 Hari untuk Selamanya

Kata-kata ini saya kutip dari kumpulan frase 28 hari untuk selamanya yang ditulis secara bersambung oleh dua blogger Indonesia, ndoro kangkung dan Hanny Kusumawati . Awalnya, frase-frase tersebut diupdate secara berkala di twitter dengan hashtag #28 hari, sesuai tanggal pembuatannya, yakni bulan Februari yang berjumlah 28 hari.

Dan sukses, frase-frase tersebut bikin saya penasaran, karena kisah yang dihasilkan memang sangat sederhana, indah, dengan kata-kata yang renyah, dan membuat banyak orang jatuh cinta, termasuk saya... :)

Check it out!

1.PADA SENJA INI

Kubangun rumah ini… untukmu: telaga hidupku
Dindingnya dari anyaman pelangi
Dan atapnya dari rinai hujan
Ruang dalamnya terang oleh pendar cahaya bintang
Dan dapurnya hangat oleh sinar matahari
Kelak, aku mau rumah ini jadi sebuah album
Tempat setiap lembaran kenangan tentang dirimu kusimpan
Sampai nanti. Sampai mati!

2.Mungkin kamu akan melupakan mereka yang pernah tertawa bersamamu, tetapi kamu tidak akan pernah bisa melupakan mereka yang pernah menangis bersamamu.

3.Bintang mungkin sebuah perlambang: bahwa yang sudah mati pun bisa terus bersinar dan terlihat indah dari kejauhan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian.

4. Berdua, bersamamu, sepanjang waktu, tentu saja anugerah terindah hidupku. Seperti matahari bagi bumi. Hujan bagi musim panas yang lengas. Kau akan jadi gula bagi kopi pahitku. Topping strawberry bagi secawan Sour Sally-ku.

5.Aku seperti ombak yang hanya surut sebentar, kemudian berdebur kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk memecah tebing yang memagari kita.

5. Dari manakah datangnya luka dan air mata? Aku tak tahu. Tapi dari hidup aku belajar merasakannya. Dan lama-lama aku pun terbiasa menikmatinya. Dari sanalah aku tahu bahwa luka yang paling pedih adalah ketika kita tahu apa yang kita mau tapi tak dapat meraihnya.

6. Padahal tak banyak yang aku mau. Aku cuma ingin kamu menjadi puisiku setiap malam. Baris-baris sajak yang bisa kutulis hingga dinihari berganti pagi. Itu saja. Tidak lebih.

7. Sometimes, in our lives, we all have pain, we all have sorrow. But, if we are wise, we know that there is always tomorrow.

8. Untuk menjatuhkan cinta kepada lebih dari satu orang, kau harus memiliki jiwa yang cukup besar untuk menampung dua hati. Perpisahan kita terjadi karena ketiadaan keduanya. Jiwamu tak cukup besar untuk menampung hatiku dan hatinya; sementara cintaku dan cintanya tak cukup kecil untuk bisa menempati satu ruang bersama-sama.

10. Pada masa-masa kita yang paling kelam sekalipun, bukankah selalu kukatakan kepadamu: bahwa aku hanya butuh menangis sehari, untuk kemudian siap menjaga hatimu lagi?

11. Bagiku hidup adalah sesuatu yang tenang tapi pada dasarnya riang di dalam hati. Aku ingin seperti kembang mawar yang tidak mentereng, tapi segar.Rumput hijau yang tidak mahal, tapi bersih.

12. Di masa ketika kita—karena iklan atau pun keserakahan—dipanasi hasrat untuk punya lebih banyak barang, atau punya yang lebih baru, aku lebih suka menatap wajahmu yang tenang, adem. Sejuk. Sederhana.

13. Mengapa kamu mencemaskan burung-burung yang cuma singgah sebentar di taman? Burung-burung itu toh tak menghisap nektar atau menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan. Mereka hanya sejenak menumpang teduh untuk kemudian terbang lagi entah ke mana. Usahlah kamu cemas pada yang sementara. Pada mereka yang hanya mampir dan tak benar-benar tinggal.

14. Bukan. Itu bukan karena kamu adalah nomor dua, tiga, empat atau yang kesekian. Ini bukan tentang siapa nomor berapa. Hidup toh bukan matematika dan statistik. Apalagi sekadar ranking.

15. Usahlah kamu semak hati. Sebab siapakah yang dalam hidup ini tak ingin bahagia. Aku? Kamu? Rasanya kita semua mendamba bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia. Proses atau tujuan?

16. Bahagiaku mungkin tak sama dengan bahagiamu. Tapi aku tak hendak memaksa. Kalau bahagiamu adalah melepasku, tak akan kusesali takdirku. Sebab aku pun tahu. Bagaimana kau akan melepaskanku kalau kamu tak pernah benar-benar memilikiku?

17. Mendung dan matahari datang silih berganti. Begitu juga pasang dan surut. Siang dan malam. Selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Maka nikmatilah rasa bosanmu sama riangnya dengan rasa senangmu.

18. Sadari saja bahwa cinta kita bukan dari sejenis yang biasa. Sesuatu yang dipahami orang-orang sebagai kebersamaan. Matahari dan bulan toh tak pernah bersama dalam satu langit—di waktu yang sama. Tapi hidup ini membutuhkan mereka. Sebagaimana hidup kita memerlukan hujan dan panas. Musim gugur dan musim semi.

File 28 hari untuk selamanya bisa diunduh secara gratis di sini :)

May 30, 2010

Toyoko dan Nasibmu Kini

Kota Medan memang penuh dengan keunikan. Tidak hanya dari ragam budaya dan pluralitasnya, Medan juga memiliki beraneka alat transportasi umum yang unik. Sebut saja di antaranya becak motor, becak dayung, berbagai jenis motor (angkot/sudako), dan toyoko yang populasinya bisa dihitung dengan jari. Oh ya, sebelumnya jangan terkecoh, jika di Medan kita menyebut kata 'motor' maka akan mengacu pada 'angkot/mobil' dan jika kita menyebut kata 'kereta' berarti maksudnya adalah 'sepeda motor'. hehehe :P

Back to topic, Toyoko, entah kenapa saya ingin membahas kendaraan tua ini. Hehe, mungkin karena sedang kangen rumah dan teringat dengan kenangan jalan-jalan yang pernah saya lakukan di Medan. Waktu saya kecil, belasan tahun yang lalu, jumlah toyoko masih cukup banyak. Kita bisa melihat kotak-kotak kuning lalu lalang di sepanjang jalan-jalan besar. Tapi kini, toyoko sudah punah, digantikan oleh zaman, oleh berbagai angkutan umum lain yang lebih nyaman dan ramah lingkungan. Namun, bagiku, tetap saja keberadaannya dirindukan...

Toyoko - Penampilannya hampir mirip dengan Bajaj, bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari polusi dan kebisingan yang dihasilkannya. Hehe. Bedanya, jika Bajaj berasal dari India, maka Toyoko berasal dari Jepang. Mesin Toyoko dibuat di Jepang, dengan ukuran 100 – 165 cc, tetapi perakitan selanjutnya dilakukan di tanah air.

Toyoko meramaikan jalan-jalan di kota Medan dimulai pada tahun 1990-an. Saat itu, Toyoko digunakan sebagai angkutan yang dapat menggantikan peran becak dayung untuk menempuh jalan-jalan besar yang memang hanya dapat dilalui kendaraan bermotor. Toyoko tidak hanya ada di Medan, bahkan juga ada di beberapa kota, seperti Jakarta. Dan tujuan penyediaannya juga sama.

Bagaimana kesan naik Toyoko? Hehe, mungkin hampir mirip seperti saat naik Bajaj pada umumnya. Kita tetap akan merasakan nikmatnya goyang-goyang sepanjang perjalanan, suara mesin yang berisik sehingga tidak memungkinkan untuk mengobrol, body yang lumayan sempit seperti berada di dalam kotak, dan terkadang saya juga merasa harap-harap cemas karena mulai dari pintu, mesin, dan body Toyokonya sudah sangat tipis, ringkih, dan berkarat.

Toyoko memang kurang layak untuk dijadikan angkutan umum karena asap dan kebisingan yang ditimbulkannya sangat mendukung peningkatan polusi. Oleh karena itu, keberadaannya mulai tergeser oleh kehadiran becak motor yang jauh lebih nyaman dan ramah lingkungan.

Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk mengapresiasi keberadaan Toyoko sebagai angkutan yang pernah mengisi dinamika kota Medan. Banyak pengemudi Toyoko yang tetap mencintai pekerjaannya, Toyoko tuanya, dan masih mangkal di beberapa kawasan. Beberapa masyarakat juga masih setia dan memilih naik Toyoko yang sudah sangat langka ini.

Memang, faktanya, sensasi histeria, seru, dan berisiknya naik Toyoko tak akan tergantikan dengan keberadaan angkutan yang lain. So much fun (and smoke)!!!

Kisah Sepasang Boot Tua

Sepasang boot tua tergeletak rapi di sudut lemari. Tidurnya pulas, mungkin dia sedang bermimpi indah. Mimpi-mimpi yang telah menjadi kenyataan. Dia sudah begitu tua, namun semangatnya masih sangat muda. Dia masih ingin berkelana ke seluruh dunia, menggapai indahnya langit malam dan menaklukkan kekuatan ombak samudera. Namun kekuatannya sudah amat rentan dan tubuhnya mulai rapuh. Sehingga kini dia tidak mampu lagi menaklukkan semua angan-angannya.

Sepatu boot itu terbangun dan memandangi sang petualang yang sedang duduk membaca koran pagi. Petualang itu bersandar pada kursi rotan yang empuk. Dia sudah banyak berubah. Sudah mulai tumbuh rambut putih di kepalanya. Pandangannya mulai layu, tertutupi oleh kacamata tebal yang bertengger di hidungnya. Keriput telah menutupi kulit dan otot-ototnya yang kuat. Masa kejayaannya telah berlalu. Masa muda yang menyenangkan dan penuh warna.

Dia melepaskan kacamatanya dan menoleh ke boot tua itu. Dia tersenyum dan memejamkan kedua matanya. Dia membayangkan beribu kenangan di masa muda. Saat itu dia masih kuat dan ambisinya masih menyala. Pandangannya begitu tajam menatap ke arah masa depan yang penuh tantangan. Kulitnya keras dan otot-otot menggelembung indah di setiap bagian tubuhnya. Para wanita bersorak dan memuja kegagahannya. Tapi itu semua masa lalu...

Sepatu boot dan petualang yang sama tuanya itu telah merasakan pahit manisnya kehidupan. Mereka belajar bertahan hidup dengan berbagai petualangan nyata yang tak ternilai harganya. Berjuang melawan ketakutan dan keganasan alam. Semua jerih payah dan buah pikiran dikorbankan untuk satu cita-cita. Saat berhasil menginjakkan kaki di daratan tujuan, mereka akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan itu melebihi kemewahan fana yang ditawarkan dunia...

Mereka belajar mengerti satu sama lain. Berpedoman bahwa kesetiaan, persahabatan dan kerja keras adalah puncak dari segala-galanya. Keringat yang mengalir akan terbayarkan oleh segarnya tetesan dari air mata bahagia. Kulit yang kian terbakar akan terbalut oleh damainya ketangguhan hati sang petualang.

Sang petualang mengangkat boot tua itu ke hadapannya. Boot tua seakan tersenyum. Senyum yang tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Senyum keikhlasan dari sepasang sepatu yang telah begitu tulus mengabdi pada sang petualang. Baginya, petualangannya tak dapat terbayarkan. Beribu pemandangan indah yang dia saksikan telah mengobati luka-luka di sol dan kulit tebalnya.

Boot tua itu masih berwarna kecoklatan. Namun kulit yang menutupinya telah kian menipis. Kulit itu telah melindungi kaki sang petualang dari tajamnya terik sang surya dan dinginnya salju serta aliran air yang menghalangi perjalanan mereka. Sol hitamnya yang berkualitas istimewa mulai timbul luka-luka dan goresan-goresan kecil. Di sekelilingnya terlihat bekas jahitan untuk menguatkan solnya yang kian terlepas. Sol itu begitu berjasa. Sol itu melindungi sang petualang dari tajamnya batu-batu dan panasnya pasir gurun. Sang boot tua melupakan rasa sakit yang dialaminya demi keselamatan sang petualang. Sesekali dia meringis kesakitan saat duri-duri kecil hinggap dan melukai dirinya. Namun, itu semua tidak akan pernah menjadi penghalang baginya untuk mencapai impian besar bersama sang petualang.

Dia masih terlihat tangguh. Ikatan dari kulit yang menguatkannya dan tali-tali yang mengikat dirinya menggambarkan kekuatan dari hatinya. Dia masih nyaman untuk dipakai, tapi sang petualang tidak tega untuk menggunakannya. Kondisi kesehatannya sudah sangat rentan. Dia sudah terlalu lelah. Sudah saatnya dia beristirahat dan menikmati masa tuanya.

Boot tua itu masih ingat berbagai petualangan menarik yang diperolehnya. Dia pernah memandang keajaiban dunia dan indahnya hutan cemara pada musim gugur. Dia membayangkan panasnya padang pasir dan tajamnya kaktus serta manisnya buah kurma saat mereka mengunjungi kemegahan piramida Mesir. Dinginnya es Alaska dan putihnya salju abadi yang membuatnya menggigil telah menjadi kenangan favoritnya. Semak belukar tajam dan beracun merintangi perjalanan mereka menuju keindahan hutan hujan dan pemandangan danau yang mempesona.

Dia ingat akan kengeriannya saat mendaki bukit-bukit terjal. Sesekali dia tergelincir dan batu-batu kecil di sekitarnya ikut gugur. Fenomena ombak dan badai yang mengolengkan kapal mereka telah mengiringi petualangan mereka mengunjungi satu pulau ke pulau yang lain. Insiden mencekam yang pernah dilaluinya yakni saat dia berusaha melindungi sang petualang dari cakaran macan tutul dan bisa ular yang mematikan. Dia telah berteman dengan puluhan jenis satwa liar dan merasakan sakitnya patukan burung flamingo. Dia sangat bahagia saat bertengger bebas dengan sang petualang dalam menyusuri rimba dengan bantuan gajah Afrika, unta dan kuda yang berlari dengan sangat kencang. Sungguh pesona yang luar biasa...

***

Lamunannya terhenti saat sang petualang membelainya lembut dan membersihkan noda yang mengotori tubuhnya. Sang petualang sangat menyayanginya dan merawatnya dengan baik. Dia tidak akan membiarkan kaki-kaki usil dari orang yang tidak berperasaan menyakitinya. Ini adalah janji sang petualang kepada sahabatnya sang sepatu di hari tua.

“Aku masih ingat berbagai petualangan yang telah kita lalui. Aku ingin merasakannya lagi. Aku rindu masa mudaku...” sahut sang petualang sambil mengikat tali-tali sepatu boot tua itu dengan rapi.

Boot tua menatapnya dalam-dalam. Bukan tatapan dengan mata, tapi tatapan dari hati nurani yang hanya dapat dirasakan oleh sang petualang seorang.

“Tapi aku sudah sangat tua...” jawabnya lirih.

Seakan dapat mendengarkan jawaban dari boot tua itu, sang petualang pun menyahut, “Aku tahu. Tapi keinginan itu tiba-tiba timbul. Aku kembali ingin berkelana. Masih banyak tempat yang belum kukunjungi.”

“Aku tidak bisa menemanimu lagi...” gumamnya lemah.

Sang petualang tersenyum dan mendekati wajahnya.

“Aku tidak akan merepotkanmu. Engkau telah cukup lama membantuku. Engkau telah begitu lelah. Sudah saatnya ada yang menggantikan dirimu.”

Boot tua itu menatapnya sendu hingga ikatan kulitnya terlepas. Dia begitu sedih karena tidak mampu melindungi sang petualang lagi. Dia tidak ingin kasih sayang sang petualang harus terbagi kepada sepatu lain. Tapi tidak selamanya dia mampu bertahan. Dia harus memberikan kesempatan kepada sepatu lain untuk menikmati petualangan yang sama. Dan ini demi kebaikan sang petualang...

Sang petualang kembali meletakkan boot tua ke sudut lemari. Dia mengenakan kemeja kumuh di balik jaket kulitnya. Tiba-tiba sesuatu yang berkilau dan basah keluar dari sela-sela tubuh boot tua itu. Dia ternyata begitu bersedih.

Sang petualang menyadarinya dan menatapnya lekat-lekat.

“Tenang. Engkau tetap yang terbaik bagiku...”

***

Tekad sang petualang untuk kembali melanjutkan berbagai impiannya terlihat semakin kuat. Dia mulai berusaha mencari informasi mengenai daerah-daerah baru yang menantang dan berbahaya untuk dikunjungi. Mulai dari mengamati berbagai jenis peta, membaca ensiklopedi dunia dan mempersiapkan peralatannya. Sepertinya dia ingin menghabiskan kehidupan di masa tuanya dengan beragam petualangannya lagi. Usia bukan menjadi penghalang baginya. Dia tidak takut akan berbagai resiko yang mengancam kesehatan bahkan nyawanya. Kecintaannya akan petualangan membuatnya rela mati untuk itu.

Namun, sang boot tua yang selalu menemani dan melindungi kaki sang petualang harus pensiun dari tugasnya. Sebentar lagi dia akan digantikan oleh sepasang sepatu baru. Dia melihat dirinya yang sudah kian lemah dan renta. Masa-masa indah itu telah berlalu, batinnya.

Lamunannya buyar saat sang petualang mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam kotak. Lalu sang petualang memasukkan kotak itu ke dalam tas ranselnya dan beranjak pergi. Sang boot tua seketika menangis dan menggigil ketakutan. Dia membayangkan dirinya akan dibuang ke tempat sampah karena dianggap tidak berguna lagi. Kemudian dia akan hancur menjadi puing-puing dan kepingan yang berserakan. Hatinya gundah...

“Mau dibawa kemana aku ini? Apakah aku akan dilupakan begitu saja setelah semua pengabdian yang kuberikan padanya? Ternyata dia sungguh manusia kejam!” gumamnya sambil meronta-ronta marah. Dia terus mengumpat sang petualang dan menyesali diri. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun dia terus gelisah di kotak yang sempit itu.

Ternyata semua dugaannya salah. Sang petualang masuk ke sebuah bangunan kecil dan antik. Kotak boot tua itu dibuka, dan... matanya membelalak lebar saat dia berada di sebuah tempat yang nyaman, sejuk dan dia melihat beragam benda sejenisnya terpajang rapi di lemari-lemari kayu. Beberapa dari mereka ada yang memalingkan pandangannya, ada yang tersenyum dan ada juga yang tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Boot tua pun melambaikan tali sepatunya untuk menunjukkan sikap bersahabat. Selama hidupnya, dia cukup jarang melihat dan berbincang dengan sepatu-sepatu lain. Wajar, dia begitu terpesona.

“Aku ingin mencari sepatu boot jenis ini. Apakah masih ada?” tanya sang petualang kepada penjaga toko sepatu. Dia memperhatikan dengan seksama dan mengerutkan dahinya.

“Sepatu ini memang sudah sangat usang. Sudah tidak layak pakai. Kalau kau ingin mencari yang persis seperti ini, kau tidak akan menemukannya lagi. Pabrik sudah berhenti memproduksinya sejak 5 tahun yang lalu.”

Sang petualang mengeluh lalu dia kembali menerangkan, “Dulu aku membelinya di sini. Bagaimana kalau kau khusus membuatkannya untukku?”

Dia menggeleng. “Maaf, kami tidak bisa. Kami berhenti membuatnya karena para konsumen tidak meminatinya lagi. Jenis ini sudah ketinggalan zaman. Untuk membuatnya sungguh membutuhkan biaya yang besar. Kami harus mengimport kulit dan karet dengan kualitas tinggi dari luar negeri...”

Sang petualang kecewa dan memandangi boot tuanya. Selintas dia mendapatkan ide. “Bagaimana kalau kau memperbaikinya? Aku harus segera menemukan sepatu yang cocok untukku. Aku ingin pergi berpetualang.”

“Memperbaikinya sama saja dengan merusaknya. Hasilnya akan lebih buruk karena keadaannya sudah sangat tua. Bagaimana kalau kau melihat-lihat dulu sepatu yang ada di sini? Mungkin kau tertarik” jawab penjaga toko sambil mempersilakan sang petualang berkeliling memilih sepatu yang sesuai.

Boot tua berbalik dan memperhatikan aneka sepatu di sekelilingnya. Ada sepatu keds dengan beragam corak dan warna menarik yang terlihat sporty. Ada beberapa sepatu hak tinggi yang tersusun dengan anggun berhiaskan pita dan bunga di sisi-sisinya. Ada juga sepatu kerja pria yang sangat mengkilat dan maskulin. Terakhir, dia melihat beberapa sandal dengan beragam motif lucu di lemari bagian bawah. Tapi dia tidak melihat sepatu yang mirip dengannya. Sepatu boot yang cocok untuk menemani sang petualang. Mereka masih sangat muda dan menawan, batinnya.

“Adakah yang ingin menjadi pengganti diriku?” tanyanya lantang memberanikan diri. Beberapa sepatu terbangun karena mendengar suara berat sang boot tua.

“Wahai boot tua.. Kau ini milik siapa?” lanjut beberapa sepatu keds simpati. Sepatu-sepatu hak tinggi tertawa mengejek melihat penampilan kumuh sang boot tua. Sedangkan sepatu pria masih bersikap dingin tanpa ekspresi.

“Aku milik sang petualang sejati yang sedang berdiri di balik lemari itu. Aku telah cukup lama menemani dia. Kami setiap hari melakukan berbagai petualangan baru. Mengunjungi pulau-pulau tak berpenghuni, melewati derasnya ombak, menahan panasnya padang pasir, dinginnya es abadi dan berpetualang menjelajah berbagai bangunan unik hingga rimba yang ganas” jawabnya bangga.

“Menarik sekali! Kau pasti sudah punya banyak pengalaman. Aku juga ingin berkeliling dunia sepertimu” sahut sepatu sneakers berwarna hijau dengan penuh antusias.

“Ya, tapi kau harus juga sanggup untuk melindungi sang petualang. Kau harus rela menahan sakit dari serangan hewan-hewan buas, menantang rasa takut saat kau mendaki bukit tinggi dan menghadapi keganasan alam. Itu setara dengan pengalaman luar biasa yang akan kau peroleh...”

Terlihat semua sepatu bergidik mendengar cerita sang boot tua. Seketika sneakers hijau tadi menunduk dan menggelengkan kepalanya. Sahabatnya, sneakers dengan warna hitam putih menghibur kekecewaannya. “Lebih baik kau jangan pergi. Itu sungguh berbahaya. Kau akan mati dan rusak seketika dengan petualangan yang penuh resiko itu. Itu bukan tugas kita. Kita ditugaskan melindungi kaki-kaki para anak sekolah dan para remaja dengan berbagai aktivitasnya, berolahraga dan bermain. Itulah tugas kami, boot tua. Maaf, kami tidak sanggup...”

Tiba-tiba tawa nyaring beberapa sepatu hak tinggi mengalihkan perhatian sang boot tua. “Wahai boot tua, lihatlah kami. Kami begitu anggun dan indah. Kami sungguh tidak pantas untuk menggantikanmu. Kami ditugaskan untuk melindungi kaki para wanita muda yang modis dan modern. Ceritamu tidak menggugah perasaan kami sama sekali. Kami akan dibawa oleh gadis dan wanita kaya ke mall dan pesta-pesta mahal. Harga diri kami bisa turun jika harus tinggal dengan petualang seperti dia. Kami tidak ingin tubuh indah kami terluka dan tergores oleh petualanganmu yang menyedihkan itu...” gumamnya mengejek. Beberapa sepatu hak tinggi di sampingnya ikut tertawa-tawa dengan sikap centil dan menjijikkan.

“Jangan pernah menghina sang petualang. Dia sungguh berhati mulia. Tubuh kalian memang indah, tapi kalian yang selalu hidup dengan kemewahan membuat hati kalian angkuh dan tertutup. Sang petualang juga tidak akan berminat menyentuhmu atau melirikmu! Petualangan kami tidak dapat dinilai dengan apapun. Lampu-lampu sorot yang ada di pesta mahal kalian, tidak ada istimewanya sama sekali jika kalian pernah melihat keindahan jutaan bintang di langit malam. Kalian sebaiknya tahu itu!”. Boot tua mengeluarkan emosi dan kemarahannya hingga kerumunan sepatu hak tinggi kaget. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang merendahkan kebaikan sang petualang. Dia sangat membenci sepatu hak tinggi itu.

“Oops. Terserah deh, tapi itu bukan gaya hidup kami...” kata sepatu hak tinggi dengan pita pink indah menghentikan kemarahan sang boot tua.

Sambil mengendalikan napasnya yang tersengal-sengal, dia terus berusaha mencari pengganti yang cocok untuk dirinya. Lalu sepatu pria yang dari tadi bungkam mulai berani mengutarakan pendapatnya. “Engkau tidak perlu mengharapkan kami. Kami ditugaskan untuk menemani pria aktif yang selalu melakukan bisnis dan pekerjaannya di kantor. Kami tahu segala hal tentang bisnis. Kami tidak mengerti sama sekali tentang dunia petualanganmu. Itu sungguh menakutkan bagi kami...”

Boot tua tersenyum mendengar penuturan polos sang sepatu tadi. Beberapa rekannya hanya berpaling menunjukkan kesombongannya. “Ya benar. Hanya orang yang bernyali besar yang mampu melawan ketakutan itu. Kau tidak pantas untuk ikut petualangan ini. Dalam dunia bisnis, kau akan melakukan segala cara untuk mengeruk keuntungan pribadimu. Tapi tidak dalam petualangan ini. Kau harus mengusir keegoisanmu dan kau harus bersikap tulus untuk belajar berkorban terhadap orang lain. Kau akan menjunjung tinggi nilai kesetiaan dan persahabatan yang mungkin tidak akan kau kenal dalam duniamu. Tapi, aku bangga karena kau mau menghargai sepatu tua sepertiku.”

Sepatu tadi terpukau hingga kilatan di sepatunya semakin cemerlang. “Kau sungguh bijak, boot tua!”

Dari lemari yang paling bawah terdengar suara kecil yang berusaha memanggil-manggil boot tua. “Kelihatannya menyenangkan. Aku suka kegiatan-kegiatan yang menantang! Aku mau menggantikanmu...” ujar sepasang sandal biru tua dengan motif garis-garis.

Boot tua menyeringai tapi tetap menunjukkan senyuman uniknya. “Terima kasih. Aku menghargai niat tulusmu. Tapi, bentukmu sangat aneh. Kau tidak akan bisa menutupi kaki sang petualang dengan sempurna. Dia akan kesakitan, Nak..”

Sandal biru itu mengangguk lesu lalu dia kembali berpikir. “Bagaimana dengan boot kulit hitam itu?” tunjuknya ke arah boot hitam yang sedang tergeletak murung di dalam rak kaca yang berdebu. Di sisinya tergantung label harga dengan jumlah nilai yang sangat tinggi. Boot tua itu berbalik dan memandang boot hitam di bawah sambil menunjukkan sikap wajah penuh tanda tanya.

“Hey, boot tua. Sungguh bahagia nasibmu. Kau bisa menikmati petualangan yang menyenangkan dan tinggal bersama orang yang menyayangimu. Aku di sini duduk sejak lama. Tidak ada yang pernah memperhatikanku atau berniat membeliku. Aku hanya duduk di sini memandangi lalu lalang orang yang datang sambil terus berharap” jawabnya sendu.

“Bagaimana kalau kau menggantikanku?”

“Ehm...penjaga toko juga telah menunjukkanku kepada sang petualang. Tapi hargaku yang luar biasa mahal mungkin membuatnya tidak berminat membeliku. Lagipula dia malah kasihan terhadapku. Dia mengatakan bahwa aku sebaiknya tidak ikut dengannya. Petualangannya sungguh berbahaya dan hanya akan membuatku menderita. Mungkin dia benar, karena aku dikhususkan untuk dipakai oleh para model-model terkenal. Sedangkan sahabatku yang di sebelah ini biasa digunakan oleh para penggembala kuda dan koboi-koboi yang tinggal di pedalaman.” jawabnya sambil memperkenalkan boot di sebelahnya yang ukurannya lebih kecil.

Tanpa sadar sang petualang kembali meletakkan boot tua ke dalam kotak. Sang petualang melangkah dengan kecewa karena tidak menemukan sepatu yang layak untuk meneruskan petualangannya. Dia sungguh murung dan wajah tuanya suram. Seketika dia merasa semua impiannya sirna.

“Wahai boot tua, maafkan kami karena tidak sanggup menolongmu...” ucap beberapa sepatu yang terpajang untuk menghibur kekecewaan boot tua yang terbaring miring dalam ransel.

***

Pagi hari ini udara sungguh dingin. Matahari bersembunyi di balik awan hitam. Rintik-rintik hujan membangunkan tidur boot tua dari mimpi indahnya. Dia memandangi wajah sang petualang yang sedang duduk memandang gerimis yang turun dari balik jendela. Boot tua mengerti akan kegundahan sang petualang. Namun, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghibur hatinya. Sesekali dia menyesal karena dia sudah begitu tua dan lemah sehingga tidak mampu lagi membahagiakan sang petualang. Tapi dia lebih menyesal melihat sikap para sepatu muda yang telah ditemuinya yang tidak memiliki keberanian dan nyali untuk menghadapi suka duka kehidupan.

“Masa telah berubah...” gumam sang petualang sambil tidak melepaskan pandangannya pada tetes-tetes air yang menyangkut di jendela.

“Kau tahu, tidak ada yang abadi. Begitu juga petualangan ini...” Sang petualang seakan mengajak boot tua berbicara. Tetapi dari wajahnya tidak terlihat keresahan. Wajah sang petualang terlihat kembali cerah. Senyuman kecil hadir di bibirnya.

“Aku rasa petualanganku sudah cukup. Kau sudah tua, begitu juga denganku. Kau sungguh boot tua yang luar biasa. Tidak ada yang seberani dirimu. Tidak akan pernah lagi kutemukan sepatu setangguh engkau, boot tua...”

Boot tua tersipu malu hingga tali yang tersimpul di tubuhnya terlepas. Sang petualang mengangkat boot tua dengan sayang ke atas meja di hadapannya.

“Aku sudah membulatkan tekadku. Aku tidak akan meneruskan petualanganmu tanpa engkau...”

Boot tua bingung dan kembali murung. Dia tidak tahu jelas apa alasan sang petualang sejati itu mengurungkan niatnya. Dia hanya menyebutkan bahwa dia tidak akan pergi tanpa boot tua yang menemaninya.

“Kita akan menikmati masa tua bersama. Menikmati setiap detik sisa waktu hidup. Aku punya impian baru, boot tua. Aku ingin ada generasi yang mencintai petualangan dan berani menaklukkan rasa takut. Aku ingin dunia tahu tentang pengalaman dan persahabatan kita ini. Aku akan mengabadikan ini semua dalam sebuah buku...”

Boot tua mengangguk dan melepaskan air mata bahagianya begitu saja. Dia sungguh merasa berharga. Sang petualang telah menganggapnya sebagai manusia sejati yang tercipta dalam wujud sepasang boot yang kini telah usang...

Sang petualang mulai menuliskan kata demi kata dalam sebuah lembaran kertas kosong. Dengan boot tua di hadapannya sebagai inspirasinya. Sesungguhnya petualangan baru telah dimulai kembali...

***

*cerpen ini pernah dimuat di Horizon-majalah sastra tahun 2006*

Filosofi Kue Cokelat Ummi

*sebuah kisah untuk mama yang kutulis di Hari Ibu*

Jika hidup layaknya gelembung sabun. Dia terlalu rapuh untuk bertahan. Melayang sekejap ke angkasa. Lalu musnah oleh cubitan udara dan gelombang. Hanya sesaat dia menikmati sensasi transformasi dari cairan sabun bening menjadi gelembung ringan yang mengawang-awang. Namun, sekali lagi. Dia terlalu rapuh. Layaknya hidup yang tak mampu beradaptasi dengan perubahan. Itukah aku?

Jika hidup layaknya sebatang lilin. Dia terlalu penyayang. Mengorbankan dirinya untuk mampu menerangi sekitarnya. Agar seorang anak dapat membaca buku di balik keremangan. Agar penduduk tak perlu gelisah karena listrik padam. Agar sepasang insan dapat makan malam dengan nuansa kemewahan. Lantas, dia hanya bisa menyaksikan dengan kepasrahan. Perih? Mungkin. Senyum? Entahlah. Menunggu mati? Pasti. Namun, sekali lagi. Dia terlalu penyayang. Layaknya hidup yang dipenuhi kekuatan kasih dan pengorbanan sejati. Masihkah ada?

Jika hidup layaknya sepotong kue coklat. Inilah hidup yang kupilih. Nikmat. Hangat. Sederhana tapi istimewa. Selalu ditunggu dan dinanti pengagumnya. Entahlah. Siapa yang akan jadi pengagumku? Tak perlu khawatir. Ummi dan aku adalah pengagum sejatiku. Aku ingin menjadi sepotong kue coklat untuknya. Yang mencegahnya dari lapar. Yang manisnya mengobatinya dari pahit dan getirnya hidup. Yang aromanya membuat dia terlelap dalam senyum. Yang kehadirannya menghangatkan hatinya yang kalut...

***

Pagi yang sama.

Bedanya, hujan turun dengan deras di bulan Mei yang biasanya terik.

Aku masih ingat. Saat itu, aku masih berusia tujuh tahun. Pipi gembul dan rambut keriting yang tak pernah rapi menjadi pesonaku saat itu. Entah mengapa, pagi itu aku bisa bangun lebih awal dari biasanya. Sayup-sayup senandung firman Allah menjelang Subuh dan gelitik angin menusuk tubuhku yang tak suka berselimut. Aku bergegas melangkah ke dapur, meneguk air hangat.

Ummi sudah ada di sana. Jongkok di depan kompor dan ovennya yang berkarat. Tersenyum kepadaku, mengambil mangkuk besar yang sudah dicuci dan bersiap-siap meramu adonan kue lagi.

“Alhamdulillah, sudah bangun Nak?”

Aku mengangguk sambil garuk-garuk dan duduk di meja makan. Memperhatikan Ummi dengan tatapan khas anak-anak.

“Ummi, pagi-pagi kok udah bikin kue?”

“Hari ini banyak pesanan ya habibi...”

Ya, ini hari Minggu. Mungkin banyak yang mengadakan pesta atau ulang tahun.

“Kue coklat lagi ya, Mi?”

Ummi tersenyum simpul sambil mengiris-iris cooking chocolate untuk dilelehkan.

“Kenapa Ummi nggak bikin kue yang lain? Pasti bisa dapat lebih banyak uang dan pesanan, Mi...”

Syndrom bawel dan kritisku mulai keluar. Syukurlah, Ummi selalu mampu menghadapi pertanyaan-pertanyaan anaknya dengan kesabaran.

“Karena kue cokelat adalah ciri khasnya Ummi. Selain itu... dengan menatap kue-kue cokelat ini, seakan-akan membuat Ummi merasa dekat dengan Abi...”

Abi, aku tidak pernah mengingat wajah terakhirnya dengan jelas. Tapi saudara-saudaraku bilang bahwa Abi sangat tampan dengan perawakan khas Timur Tengah. Setidaknya, bola mata coklat dan rambut keritingnya menurun padaku. Namun, Allah terlalu sayang padanya. Abi meninggal sangat muda. Kira-kira lima tahun yang lalu karena serangan jantung. Abi sangat percaya khasiat cokelat yang dapat menyehatkan jantung. Dan, Ummi berhasil menaklukkan Abi dengan resep-resep kue cokelatnya yang luar biasa memikat! How sweet...

Syukurlah, Ummi tidak menghadapi semua itu layaknya gelembung sabun. Dia tetap tegar dan percaya pada skenarioNya. Membesarkanku dengan kasih sebagai single parent sejati dan kue cokelat – satu-satunya sumber penghasilan kami...

“Faza, tahukah Engkau, Nak? Ummi ingin mengajarkanmu sebuah filosofi. Bahwa kue cokelat itu bukan hanya lezat... tetapi juga penuh inspirasi... Setidaknya ada tiga pelajaran di baliknya, Nak...”

“Oh ya?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

“Bantu Ummi menakar adonan-adonan ini ya. Faza sudah belajar pengukuran kan di sekolah?”

Aku langsung berdiri di atas kursi. Merebut timbangan, membuka kemasan tepung dan menakarnya dengan seksama. Oh, meja dan lantai ikut dipenuhi tumpahan tepung. Lagi-lagi Ummi tidak marah...

“Harus tepat 300 gram ya, Mi?”

“Iya, my dear. Semua harus tepat pada takarannya. Layaknya hidup, kamu harus bisa bersikap dan bertindak sesuai porsinya. Jangan berlebihan, jangan pula kurang. Insya Allah, kamu akan berhasil, orang-orang akan menghargaimu dan kamu bisa membagi waktu dan hidupmu sesuai kebutuhan dan kewajibanmu. Bukankah, Allah juga tidak suka dengan orang-orang yang melampaui batas?”

Aku manggut-manggut saja. Saat itu, bermain-main dengan tepung jauh lebih menyita perhatian. Ibu berterima kasih dan memujiku karena sudah berhasil menakar adonan-adonan dengan baik. Aku sangat senang lalu garuk-garuk lagi.

“Ada yang bisa Faza bantu lagi?”

“Pertama, masukkan telurnya satu persatu. Kamu bisa membantu Ummi memecahkan telur-telur ini, Nak?”

Aku mengambil salah satu telur dari dalam plastik.

“Wah, telurnya ada yang retak. Gimana, Mi?”

“Kalau ada yang retak seperti itu, jangan dipakai. Pilih yang lain saja”

“Kenapa, Mi? Kan sayang... Mubazir lho...”

“Iya, my dear. Tapi Ummi punya tanggung jawab untuk menyajikan kue cokelat yang halalan thoyyiban. Kalau telurnya rusak, nanti kuenya tidak akan sebaik biasanya. Layaknya hidup, Faza. Jika kamu ingin memperoleh akhir yang baik,maka harus diawali dengan yang baik-baik...”

Aku menyisihkan telur itu dan melaksanakan perintahnya untuk mencampur adonan telur dan gula sementara Ummi melelehkan cooking chocolate. Melelahkan juga, batinku. Ummi tidak ingin menggunakan mixer. Ummi percaya bahwa proses manual seperti ini hasilnya jauh lebih memuaskan.

“Pelajaran yang ketiga apa, Mi?”

“Kamu tahu bagaimana cara melelehkan cooking chocolate ini?”

Aku berpikir sejenak dan mengintip ke arah Ummi. “Hmmm... cokelatnya dilelehkan di atas air yang sedang dipanaskan....”

“Dan, kamu harus menjaga agar lelehan cokelat ini tidak terkena cipratan air di bawahnya”

“Artinya?”

“Kamu harus berhati-hati. Jangan terpengaruh lingkunganmu, Nak. Jika lingkunganmu buruk dan sedikit saja lingkungan itu meracunimu... Kamu juga akan menjadi buruk...”

Lantunan azan di sela-sela hujan mengakhiri percakapan kami...

***

Pagi yang sama.

Kurang lebih sepuluh tahun sejak Ummi mengajarkan filosofi kue cokelatnya.

Pemandangan yang sama. Ummi sedang jongkok di depan kompor dan oven berkaratnya. Potongan- potongan cooking chocolate dan proses manual. Tak banyak yang berubah.

Bedanya pagi ini tidak hujan. Hanya berawan dan matahari mengintip malu-malu.

Aku meneguk teh hangat dan menatap Ummi dengan pilu. Rutinitas yang sama setiap hari. Hari ini libur nasional. Tapi, Ummi tidak pernah libur.

Ummi mengangkat kue cokelat yang telah matang ke hadapanku. Aromanya menggigiti perutku yang kosong. Walaupun Ummi membuat kue cokelat setiap hari, bukan berarti aku bisa sering menikmatinya.

Ummi mengoleskan lelehan cokelat ke atas kue dengan sangat rapi.

“Mi, sepertinya akan lebih bagus kalau dihias dengan beraneka topping. Strawberry, cherry, white cream, almond, raisin... Kan kita harus mengikuti selera pasar...” saranku sambil mencicipi lelehan cokelat yang tumpah. Kebiasaanku yang satu ini memang tidak pernah berubah. Wajar saja, pipiku tidak pernah lepas dari julukan gembul sejak dulu.

“Untuk apa, Faza? Yang seperti itu sudah banyak yang jual. Biarlah Ummi tetap dengan ciri khas Ummi. Toh, rezeki Allah tetap ada...”

Aku meneguk ludah. “Ciri khas?”

“Kesederhanaan adalah yang menjadi ciri khas Ummi. Kue-kue ini tetap original. Itulah yang menyebabkan pelanggan-pelanggan Ummi mencintai kue Ummi...”

Dahiku mengernyit. Kini perhatianku mengarah pada tubuhnya yang semakin kurus. Sepertinya selama ini aku terlalu terpaku pada rutinitasku dan kurang memperhatikannya.

“Ummi, apakah Ummi tidak lelah?”

“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu, Faza?”

“Mi... Faza sayang sama Ummi... Kenapa Ummi nggak memperkerjakan orang saja Mi untuk meringankan tugas Ummi... Sehingga kita bisa membuka stan di rumah... Jadi tidak hanya terpaku pada permintaan pelanggan...”

Ummi terhenti sejenak. Garis-garis wajahnya yang keras sangat terlihat. Sepertinya Ummi marah. Baru kali ini Ummi sangat marah!

“Itu sama saja kamu mau menghancurkan Ummi!”

“Ummi???”

“Ummi bekerja sangat keras untuk menemukan resep ini. Suatu kemustahilan jika Ummi harus memperkerjakan orang... dan memberitahukan rahasia-rahasia kue Ummi kepada orang lain!!!”

“Ummi, Faza tidak bermaksud demikian...”

Aku kaget. Histeris. Seperti ada bola golf yang masuk ke dalam kerongkongan.

“Biarlah Ummi yang menanggung ini sendirian, Nak. Supaya Ummi bisa menghemat... Bisa menabung... Supaya kamu bisa kuliah, Nak...”

Aku menangis dan langsung bersimpuh di kakinya.

Ternyata masih ada yang rela hidup layaknya sebatang lilin. Dipenuhi kekuatan kasih dan pengorbanan sejati.

Ya, Ummi...

***

Pagi yang sama.

Bedanya, pagi ini adalah pagi terakhirku bersama Ummi sebelum keberangkatanku ke Jakarta. Berkat doa Ummi, aku berhasil lulus seleksi masuk PTN. Awalnya aku menolak untuk meneruskan kuliahku dengan berbagai pertimbangan finansial dan biaya. Tapi Ummi tetap bersikeras untuk memaksaku pergi.

“Allah tidak pernah tidur. Allah Maha Pemberi Rezeki, Nak. Jangan khawatir. Pergilah... Demi masa depanmu yang lebih baik. Demi janji Ummi kepada Abi...”

Masih di pagi yang sama.

Ummi sedang jongkok di depan kompor dan oven berkaratnya.

Bedanya, pagi ini Ummi tidak melelehkan cooking chocolate. Ummi malah menangis. Menyembunyikan wajahnya dariku. Ya Allah ada apa?

“Semua kue Ummi pagi ini tidak mengembang, Nak...”

Dia menunjukkan kue-kuenya dan menghapus jejak-jejak air matanya.

“Tapi masih layak jual, kan?” Aku mencicipi sepotong. “Hmmm, masih enak... Bilang saja kalau ini jenis terbaru...”

“Dasar anak Ummi...” Ummi tertawa terbahak-bahak. “Mungkin Ummi terlalu sedih...”

“Ummi jangan sedih...”

“Ummi tidak sedih. Ummi sangat bangga padamu, Nak. Ummi hanya akan sangat merindukanmu”

Ummi memilin-milin rambut keritingku. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia lakukan.

“Entahlah. Ummi sangat merasa bodoh karena terlihat seperti gelembung sabun di hadapanmu, Nak..”

Aku memeluk tubuhnya yang dibalut daster kumal. Tapi dia tetap cantik. Sangat cantik. Kecantikan sejati yang terpancar dari hati.

“Setiap orang pernah rapuh, Mi...” jawabku. “Tidak apa-apakah Faza meninggalkan Ummi sendirian di Medan? Faza mengkhawatirkan Ummi...”

“Ummi malah sangat mengkhawatirkanmu jika kamu tetap di sini. Jemputlah masa depanmu, Nak... Jangan pikirkan Ummi. Sekarang hidup Ummi hanya untuk kamu. Allah yang akan selalu melindungi Ummi...”

“Ummi... ya Allah... Faza sayang Ummi...”

Akhirnya, aku menangis juga. Maaf Ummi, tak tertahan...

“Kamu tetap selalu ingat tiga filosofi kue cokelat dari Ummi kan?”

Aku mengangguk mantap.

“Kelak, kamu akan menjadi sepotong kue cokelat yang sangat lezat buat Ummi...”

***

Pagi yang sama.

Bedanya, kali ini Ummi tidak jongkok di depan kompor dan oven berkaratnya.

Dia kini ada di hadapanku. Mengenakan kebaya cokelat yang sangat anggun. Menatapku di podium. Dengan toga wisuda dan status sebagai salah satu mahasiswa terbaik.

Allah memang Maha Pemberi Rezeki. Syukurlah, aku sudah diberikan kesempatan bekerja jauh lebih awal sebelum aku lulus. Ummi pasti bangga. Ummi pasti sangat bangga!

Aku mencium tangan Ummi yang kali ini tidak beraroma cokelat.

“Ummi, ini semua berkat filosofi Ummi...”

“Ini semua berkat Allah dan usahamu, my dear...”

“Ummi, tinggalah bersama Faza. Di sini, Mi. Ummi sudah terlalu lelah menjadi lilin buat Faza...”

“Ummi tidak akan pernah lelah menjadi lilinmu, Nak. Sampai akhir hayat Ummi...”

Ummi memelukku. Begitu hangat. Begitu dekat.

“Kini, kamu bukan hanya telah menjadi sepotong kue cokelat yang sangat lezat untuk Ummi...”

“Lalu?”

“Tetapi sekotak kue cokelat paling istimewa yang pernah ada...”

***

Alhamdulillah...

Jika hidup layaknya sepotong kue coklat. Inilah hidup yang kupilih. Nikmat. Hangat. Sederhana tapi istimewa. Selalu ditunggu dan dinanti pengagumnya. Entahlah. Siapa yang akan jadi pengagumku? Tak perlu khawatir. Ibu dan aku adalah pengagum sejatiku. Aku ingin menjadi sepotong kue coklat untuknya. Yang mencegahnya dari lapar. Yang manisnya mengobatinya dari pahit dan getirnya hidup. Yang aromanya membuat dia terlelap dalam senyum. Yang kehadirannya menghangatkan hatinya yang kalut...

***

Kisah Sebutir Biji Kopi

Sebutir biji kopi tergantung malas di ujung sebuah ranting yang dihinggapi daun-daun segar menghijau. Sinar matahari desa yang teduh dan nyanyian segerombol biji kopi dari ratusan pohon lainnya yang tak sabar menyambut datangnya pagi telah mengganggu mimpi indahnya. Setetes embun jatuh menggelitik tubuhnya yang gempal. Dia mendesah kesal sambil berayun di tangkai lunak yang hampir terpisah dari ranting.

Baginya, pagi ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Kulitnya telah berubah dari kuning terang menjadi merah tua. Dia tidak tahu harus menanggapi perubahan ini dengan kebahagiaan ataukah kesedihan. Yang dia tahu, pagi ini adalah hari terakhirnya bertengger di tangkainya yang mulai merapuh, menikmati percikan hujan dan riangnya mentari dan bercanda bersama segerombol biji kopi lain yang menunggu saatnya panen. Hari-hari menyenangkan itu seakan berlalu sedemikian cepat. Saat itu, dia masih sebuah benih yang kini telah menjadi sebutir biji kopi yang paling sehat. Saat itu, kulitnya masih hijau. Dan saat itu, dia masih tak berharga. Kini, dia telah menjelma menjadi sesuatu yang diagungkan dan dikagumi banyak orang. Meleleh dalam hangatnya susu, dinginnya eskrim dan berenang dalam kenikmatan secangkir ramuan kopi paling lezat sedunia... Hmmm, luar biasa!

Suara langkah kaki yang khas menandakan tibanya saat yang dinanti. Seorang bocah cilik bertelanjang dada dan tanpa alas kaki muncul dengan keranjang rotan besar di bahunya. Gerombolan biji kopi saling berteriak seirama memanggil sang bocah meminta untuk dipetik paling awal. Namun, biji kopi yang bergantung lesu di tangkainya itu hanya menunggu dengan sabar. Lagipula, siapa yang mau cepat-cepat dihancurkan menjadi bubuk, dikemas dan didaratkan di perut-perut para penggila kopi? Walaupun terlibat dalam ramuan kopi yang istimewa adalah kehormatan dan prestasi tertinggi bagi setiap biji kopi di dunia, bukan hal tersebut yang membuat biji kopi yang satu ini tidak bersemangat dan ingin berdedikasi. Tapi, karena bocah lelaki itu...

Bocah lelaki yang tubuh hitamnya itu telah bermandikan keringat mengunjungi pohon kediaman sang biji kopi. Sang bocah memetik bertangkai-tangkai biji kopi dan memisahkannya. Pohon tempat bertenggernya sang biji kopi itu memang selalu menghasilkan biji-biji kopi yang paling gemuk dan sehat. Dari sorot mata bocah kelelahan itu, sang biji kopi sadar bahwa bocah ini berharap dia bisa menjual produknya sedikit lebih mahal. Walaupun kenyataannya, tetap saja sang pengusaha menghargai setiap biji dengan sedikit lebih murah.

Gerombolan biji kopi lainnya tertidur lelap dalam ayunan keranjang rotan. Sang biji kopi masih berdiam diri dan memperhatikan sang bocah yang berlari-lari keluar dari kebun kopi. Entah mengapa, hanya biji kopi itu yang seakan memiliki rasa dan hasrat untuk memberontak. Mungkin, karena dia lahir dan dibesarkan dalam tangisan. Atau mungkin, benih pohon ini dibeli dengan manisnya keringat dan pengorbanan. Sehingga dia tumbuh menjadi biji kopi yang istimewa. Biji kopi yang punya keterikatan batin luar biasa dengan sang bocah. Biji kopi yang selalu mendengar rintihan sang bocah atas keinginannya untuk bisa bersekolah, penderitaannya karena hutang yang berbelit-belit dan ketidakadilan harga yang ditetapkan pengusaha. Biji kopi yang tahu warna celana yang sama yang dipakai sang bocah setiap hari. Dan biji kopi yang telah bosan mendengar kata-kata ‘miskin’ dan ‘derita’ yang selalu keluar dari mulut sang bocah...

Sayangnya, dia hanya sebutir biji kopi. Pahit. Yang hanya bisa menunggu untuk dihidangkan dalam secangkir air panas.

***


Sang biji kopi lulus tahap seleksi. Hanya biji kopi yang berkualitas saja yang laku di pasaran. Sang petani yang wajahnya persegi menyortir setiap biji sesuai bobotnya ke dalam karung dengan tangannya yang berotot dan penuh urat menyumbul di setiap inci lengannya. Kepalanya sudah dipenuhi uban putih dan giginya mulai tanggal. Seharusnya, dia sudah layak pensiun. Sudah berpuluh-puluh tahun dia bergaul dengan biji kopi tetapi taraf hidupnya belum pernah mengalami peningkatan. Bahkan gejolak ekspor yang tinggi tidak memberikan jaminan hidup mereka semakin membaik. Hanya ketidakadilan yang semakin merajai hidup petani miskin ini. Namun, dia tetap berusaha bertahan dan enggan untuk menjual kebunnya. Baginya, menghirup aroma kopi sama dengan menambah satu detik kebahagiaannya.

Sang petani bersenandung untuk meredakan kehampaan di hatinya. Beberapa pemuda mengangkat puluhan ember biji kopi untuk dikeringkan. Sang bocah ikut membantu menyusun barisan-barisan biji kopi hingga rapi. Terkadang, dia belajar membentuk huruf-huruf dari susunan biji kopi yang sedang dijemur. Dan, sang bocah selalu menjadikan sang biji kopi sebagai favoritnya. Bentuknya yang paling besar dan mengkilat selalu menjadikannya pusat perhatian.

Selama berminggu-minggu, sang biji kopi terbaring di bawah terik matahari. Tubuhnya benar-benar kering dan mati rasa. Namun, saat biji-biji kopi yang lain terhipnotis oleh panggangan alam dan mengigau menjadi capuccino beraroma coklat, sang biji kopi menyaksikan fenomena-fenomena yang lain. Isu ketidakadilan ini ternyata telah merebak ke khalayak ramai, bukan hanya ke telinga biji kopi gemuk ini. Sudah berkali-kali aktivis HAM dan mahasiswa datang berbondong-bondong sambil membawa spanduk dan mensosialisasikan kepada petani mengenai fair trade yang sedang berusaha digalakkan ini. Sang biji kopi hanya manggut-manggut setuju. Walaupun dia bukan biji kopi bergelar sarjana yang tahu apa itu arti fair trade, dia yakin bahwa aksi ini dapat menyelamatkan sang petani dari krisis yang panjang.

“Ayah, mengapa mereka datang kemari?” tanya sang bocah ragu-ragu sambil menghitung biji-biji kopi yang telah kering.

Sang petani menoleh dengan malas, “Ayah tidak mengerti. Sepertinya, mereka sedang ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupan para petani”

Sang bocah membelalakkan matanya bersemangat, “Apakah hal itu benar-benar bisa menyelamatkan hidup kita?”

“Jangan bermimpi, Nak. Dasar bodoh, kasihan mereka... Jika hanya segelintir orang seperti mereka yang peduli, tidak akan ada hasilnya. Mencapai sesuatu yang baik itu memang sulit, Nak...” jawab sang petani bijaksana lalu tertatih-tatih mengunjungi kerumunan aktivis yang kelelahan.

“Untuk apa kalian kesini, Nak? Pulanglah...” ujar sang petani. Mahasiswa paling jangkung dan berkacamata langsung menyambut sang petani dengan menggebu-gebu.

“Kami ingin berperan langsung untuk mewujudkan keadilan, Pak. Kami mengharapkan perdagangan yang bersih. Oleh karena itu, kami berusaha menghimpun tanda tangan dan dukungan moral dari para petani sebagai sasaran utama aksi ini. Kumpulan tanda tangan ini akan kami bawa untuk dijadikan modal melancarkan tuntutan-tuntutan selanjutnya kepada yang berwenang...” ucap sang mahasiswa ambisius.

Sang petani hanya geleng-geleng kepala dan menorehkan tinta ke atas spanduk putih dengan jari-jarinya yang kuat.

“Tanda tanganku sama sekali tidak penting, Nak. Mental dan kepribadian kalian sebagai generasi terpelajar, itu yang lebih penting! Jika suatu saat kalian menjadi pengusaha hebat, orang-orang sukses, ingatlah untuk berlaku adil. Hanya itu yang dapat menyelamatkan aku, semua petani dan kebangkitan bangsa ini! Bukan spanduk putih ini, Nak!!!”

Kemarahan sang petani seakan membangunkan semua desa. Para mahasiswa saling berpandangan penuh arti. Mereka sadar bahwa untuk melakukan perubahan tidak cukup hanya menuntut, tapi juga dituntut...

***


Truk-truk pengangkut biji kopi berhenti di depan gubuk sang petani. Seorang pria setengah baya dengan kemeja mewah yang kekecilan karena menahan perutnya yang buncit memerintahkan semua biji kopi yang telah layak jual untuk diangkut. Bola matanya semakin hijau karena dibutakan oleh uang.

Sang distributor menekan digit-digit kalkulator, menetapkan harga jual yang rendah dan mengurangi setiap rupiah dengan hutang dan bunga yang berlipat-lipat ganda. Alhasil, pendapatan sang petani kian menipis setiap panennya dan lembaran uang yang diterima bahkan tidak cukup untuk sekedar menyeka keringat dan kesabaran yang dikorbankannya.

distributor memperhatikan tumpukan biji-biji kopi yang diangkut paling akhir.

“Apakah Bapak tahu bahwa ini biji kopi terbaik yang kami punya?”

Sang distributor membuka plastik yang melindunginya, mengangkat biji-biji kopi berukuran raksasa dengan bola mata hampir melayang ke udara, dan menikmati aroma menyengat kopi yang menenangkan.

Dia berpura-pura bersikap seolah biasa-biasa saja. “Ah, sama saja!”

“Dan apakah saya boleh tahu mengapa harga jual yang Bapak tetapkan sama?” tanya sang bocah kritis. Sang distributor meneguk ludah karena kehilangan kata-kata. Raut wajahnya membentuk ekspresi kemarahan seakan ingin menerkam...

“Tidak. Tidak boleh! Kamu tidak berhak tahu!” jawabnya gusar. “Kamu harus terima keputusan saya... karena kamu... kamu... hanya petani.... P-E-T-A-N-I!!!”

Sang bocah merosot hingga wajahnya menyentuh tanah. Kata-kata itu adalah kata-kata terkejam yang pernah dia terima sepanjang hidupnya. Hatinya hancur. Dianggap tak berharga sebagai orang kecil...

Sang biji kopi memandangi peristiwa itu dari truk yang melaju di jalan berbatu. Perpisahan yang menyedihkan. Tanpa lambaian tangan... tanpa selamat tinggal... tanpa senyuman...

Sang biji kopi akan pergi menemui nasibnya. Sebuah pilihan terukir dalam dirinya. Dia harus menjadi biji kopi sejati.

***


Beberapa biji kopi telah berakhir dalam sebuah cangkir air panas. Biji kopi kualitas terbaik telah diekspor hingga ke negara-negara antar benua. Sebagian biji kopi telah berhasil mencapai ambisi terbesarnya untuk berenang dalam cappucino dengan sentuhan coklat panas, krim dan susu.

Namun, sang biji kopi dan gerombolan biji berkualitas paling istimewa lainnya masih berkumpul dalam suatu wadah kaca. Sang distributor menyisihkan biji-biji kopi itu untuk dinikmati setelah meraup sebuah kemenangan penjualan. Keuntungannya berkali-kali lipat dari harga jual rendah yang ditetapkannya.

Sang distributor seakan berbicara dengan para biji kopi, “Kalian adalah biji kopi paling beruntung. Juru masakku akan meramu kalian dalam sentuhan kopi klasik terlezat. Kalian akan menari-nari dalam setiap tegukanku...”

Beberapa biji kopi menanggapi pernyataan sang distributor dengan mata berbinar-binar.
“Nasibku akan berakhir dengan indah!”

“Akhirnya aku bisa merasakan menjadi biji kopi yang sesungguhnya”

“Aku sudah tidak sabar ingin berenang dalam balutan krim dan susu...”

Sang biji kopi mendengar pernyataan-pernyataan polos dari sahabat-sahabatnya dengan gusar. “Apa yang kalian lakukan? Dia bukan orang yang pantas untuk menikmati kalian. Dia telah menyakiti petani kita. Seseorang yang telah merawat kita dengan sedemikian baik. Dia tidak akan suka jika biji-biji kopi hasil terbaiknya dinikmati oleh pria tak berperasaan seperti dia!”

“Maafkan kami, sahabat. Tapi, kita memang hanya biji kopi. Kami ingin merasakan kehormatan tertinggi untuk menjadi secangkir kopi yang lezat di akhir perjalanan hidup kami”

Sang biji kopi kecewa dengan jawaban klise itu. “Kalian tidak akan memperoleh kehormatan tertinggi, sahabatku. Aku tidak akan membiarkan hidupku menjadi pecundang dan mengkhianati sang petani!!! Bagiku itu adalah setinggi-tingginya kehormatan!!!”

Sang biji kopi menggelindingkan tubuhnya setelah sang juru masak membuka tutup wadahnya. Sang distributor tersentak kaget melihat pemandangan itu. Biji kopi teristimewa yang pernah dia saksikan melarikan diri ke luar pintu kamarnya.

“Tangkap biji kopi itu! Apapun yang terjadi, tangkap dia! Aku harus menikmatinya!!!” perintah sang distributor dengan suara bagai gemuruh kilat di langit mendung.

Sang biji kopi mengumpulkan sisa-sisa energi terakhirnya. Dia menuruni tangga dengan cepat untuk menjauhi jari-jari sang juru masak yang ingin menangkapnya. Dia menghimpun semua keberaniannya, memantul ke luar rumah, mendarat dengan menyakitkan di sebuah jalan beraspal, ban mobil besar melindasnya dan...

KRAAAKKK....

Sang biji kopi pecah menjadi serpihan. Akhir hidup yang tragis bagi sebuah biji kopi istimewa. Namun, ini lebih damai baginya. Dia telah berhasil menjadi biji kopi sejati dengan kehormatan tertinggi di pundaknya.

Kisah-kisah yang terekam di memori masa lalunya telah menjadi bukti. Dia adalah duta biji kopi dan pahlawan fair trade sejati...

***


*cerpen ini pernah dimuat dalam 10 cerpen terbaik sayembara cerpen kaWanku 2007 dengan tema "kopi dan fair trade" - silakan dibaca yah, smoga bermanfaat dan menghibur :)

May 28, 2010

I'm Proud to be a Treasurier!

Sungguh, tak terasa, hanya tinggal seminggu lagi insya Allah saya akan menjalani perkuliahan aktif di prodip tiga Kebendaharaan Negara STAN sebelum melangkah pada PKL dan kelulusan. Melihat ramainya pendaftar USM STAN setiap harinya, mengingatkanku pada perjalanan hampir tiga tahun yang lalu. Saat yang sama, saat ramai-ramai mengantre, mengisi form pendaftaran, dan memilih diploma tiga spesialisasi Kebendaharaan Negara sebagai prioritas pertama. Pada saat itu pertimbangannya hanya satu: namanya keren, hehe.

Butuh waktu untuk belajar adaptasi, untuk menyukai bergaul dengan dunia ekonomi, dan bertoleransi dengan gedung F yang kondisinya kurang layak sebagai rumah bagi spesialisasi ini. Tapi ada satu hal yang membuat kita sangat kokoh, kita adalah keluarga, yang berjuang bersama, sedih-senang bersama, menjadi teman, sahabat, dan saudara.

Kebendaharaan Negara angkatan 2007 - kini pasukan yang tersisa hanya 54 orang. Dan, di saat-saat terakhir menikmati lezatnya duduk di bangku perkuliahan, saya menyadari banyak hal. Bahwa kita adalah 54 orang yang istimewa, yang terpilih, dan spesialisasi kita adalah satu-satunya di tanah air, bahkan di dunia!

Kebendaharaan Negara -atau sering disebut anggaran- adalah jantung bagi perekonomian dan kestabilan Negara RI. Kini, saya sangat memahami bahwa spesialisasi ini sangatlah signifikan. Spesialisasi ini dikenal dengan gudangnya undang-undang dan peraturan, dan para mahasiswanya -sahabat-sahabat saya- yang sangat kritis dan cerdas berargumen. Kita mempelajari berbagai ruang lingkup keuangan Negara, bukan hanya dari sisi APBN, hukum keuangan negara, atau tidak pula hanya mencakup pengelolaan pendapatan dan belanja, tetapi meliputi pengelolaan pinjaman dan hibah luar negeri, Keuangan Daerah, pengadaan barang dan jasa pemerintah, ekonomi makro, perencanaan dan pengendalian anggaran, aplikasi komputer anggaran, dan sebagainya yang dibimbing oleh dosen-dosen yang sangat berdedikasi dan menginspirasi. Hal ini menyebabkan lulusan diploma tiga Kebendaharaan Negara dibutuhkan oleh banyak pihak.

Lulusan diploma tiga KN bisa ditempatkan di berbagai instansi, mulai dari BPK, BPKP, DJPBN yang KPPNnya tersebar di berbagai daerah, DJA, BKF, BAPEPAM, BPPK, Sekretariat Jenderal, DJPK, DJPU, bahkan ada kesempatan untuk ditempatkan di DJKN, DJBC, atau Pemda jika keadaan memungkinkan.

Saya dan 53 orang serdadu MERAH lainnya telah bersama selama hampir tiga tahun. Mereka adalah manusia-manusia yang unik, lulusan-lulusan SMA terbaik, dengan berbagai karakter dan potensi yang berbeda-beda. Tapi kita semua punya visi yang sama, dan kita dipersatukan oleh cinta, impian, dan persahabatan.



Jika pernah ada konflik yang terjadi, jangan salahkan waktu, jangan salahkan ego diri, karena dalam hidup tidak selamanya sepaham dan berjalan di sisi yang sama. Tapi ketahuilah, hal-hal yang pernah terjadi akan membimbing kita untuk semakin memahami sahabat kita sendiri, membuka hati dan pikiran, sehingga kita bisa kembali menata silaturahmi kita, menghapus bayang-bayang masa lalu, karena kita memang terlalu indah untuk dilupakan dan terlalu berarti untuk ditanggalkan.

Kebendaharaan Negara - Treasury, yah kita semua memang treasury, harta karun yang sangat berharga. Insya Allah bisa berharga untuk diri sendiri, orang lain, keluarga, dan bangsa kita nantinya. Karena kita telah dibiayai oleh rakyat, oleh APBN sebagai darah keuangan negara, dan diamanahi oleh Allah, maka mari kita jaga dengan baik kesempatan ini, integritas ini, dan almamater ini dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Saat mulai lelah, ingatlah, berapa banyak orang yang menginginkan berada di posisi kita saat ini.

Untuk Kebendaharaan Negara, aku bangga menjadi bagian dari spesialisasi ini, menjadi bagian dari perubahan bangsa ini, dan menjadi bagian dari reformasi keuangan Negara yang sedang diperjuangkan dan menunggu kita untuk memperjuangkannya. Untuk Kebendaharaan Negara, aku bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar ini, menjadi sahabat, menjadi orang-orang terkasih yang membuat hidup menjadi berwarna, tiga tahun berjalan sangat cepat tanpa kendala, dan membawa perubahan diri menjadi lebih bermakna.

Aku menyayangi kalian semua...
Mari raih mimpi kita...
Karena kita adalah istimewa...
Dan memang benar adanya bahwa hidup dimulai dari sebuah nama...
Kebendaharaan Negara, kamu, kita, semua :)

Paket Cinta dari Rumah

Sebuah paket cinta
teronggok di atas meja
untukku ananda tercinta...

Kebahagiaan yang luar biasa untukku, yang jarang punya kesempatan pulang ke rumah -hanya setahun sekali- menerima paket cinta ini. Aku selalu yakin, jarak bukanlah apa-apa, karena aku tahu bahwa aku selalu pulang ke hati orang tuaku. Aku ada di paru-paru mereka, di aliran darah mereka, dan di memori terkuat mereka. Apapun yang terjadi, doa dan kasih sayang selalu menjadi penghubung utama. Dan tak akan ada yang bisa menghalanginya.

Biasanya aku menerima paket dari mama saat menjelang ujian. Mama selalu memasak rendang istimewa, sambal teri kacang tanah, keripik singkong, dan kue cokelat yang dikemas dalam jasa pengiriman express. Lauk-pauk yang bisa dikonsumsi untuk beberapa hari tersebut sangat signifikan untukku berhemat, memperbaiki gizi, dan sekaligus bisa membawaku kembali ke atmosfer di rumah walaupun hanya melalui makanan yang khusus disiapkan dengan keikhlasan dari mama untuk anandanya tercinta. Jangan heran kalau aku bisa menitikkan air mata di saat menyantapnya ;)

27 Mei 2010, paket cinta itu datang lagi. Kali ini dengan content yang berbeda. Paket lengkap PKL berupa baju batik, dan sepatu. Serta beberapa barang unik lainnya, tas dan dress lucu, parfum Arab yang aromanya nyelekit, hingga berbungkus-bungkus wafer Beng-beng. Oh, i cried. She knew that i didn't have those stuffs... dan aku memang penggila Beng-beng, wow, memang sangat tepat untuk dijadikan kudapan berbuka dan cemilan di saat lapar.



Paket cinta tersebut membawaku kepada semangat baru bahwa aku harus berusaha dengan sebaik-baiknya, karena ada begitu besar harapan dan amanah orang tua yang tidak boleh disia-siakan. Semoga aku bisa membalas mereka dengan paket cinta juga walau sederhana: paket perjuangan dan kerja keras. Insya Allah :)

May 27, 2010

Dear Chocolate, how can i love you so crazy?

“Gravitation is not responsible for people falling in love.” -Albert Einstein

Of course, i don't have to blame anyone even gravitation that make me love-adore-admire chocolate! Hehe.

Saya harus berterima kasih kepada Casparus dan Coenraad Johannes van Houten (foto) - penemu pertama makanan cokelat. Kisah ayah anak Van Houten ini dimulai pada tahun 1828 di Amsterdam. Casparus menemukan cara untuk memisahkan lemak dari biji coklat, lalu Coenraad berhasil mengolahnya menjadi coklat bubuk dengan kadar asam rendah. Inovasi ini mempermudah coklat bubuk larut dalam air dan melembutkan cita rasa coklatnya. Hasilnya, coklat bubuk bisa dikonsumsi dalam bentuk minuman dan kreasi panganan yang nikmat serta ramah pencernaan.

Inovasi yang dipatenkan oleh Raja William IV ini kemudian dikenal dunia dengan nama the dutching process. Inovasi ini juga mendorong produksi coklat secara masal di Eropa pada abad ke 19, baik dalam bentuk bubuk maupun batangan. Pabrik mereka dikenal dengan nama "The Eagle" (seperti logonya) berpindah-pindah dari Amsterdam, Leiden, dan Weesp. Saat ini terdapat museum Van Houten di Weesp yang menyimpan koleksi-koleksi material dan advertising pada saat itu.


Thanks master! :)

AWAL DITEMUKANNYA RESEP COKELAT

Suku Indian Maya adalah yang pertama menciptakan minuman dari biji kakao yang dihancurkan yang hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan atau pada upacara ritual suci.



Peran penting cokelat dalam kerajaan Aztec juga tercatat dengan jelas. Mereka menamakan minuman berharga dari biji kakao tersebut sebagai "xocolatl" yang berarti "air yang pahit". Rasa cokelat asli memang pahit sedangkan cokelat yang sering kita makan selama ini umumnya telah banyak dicampur dengan gula dan susu sehingga terasa manis.

Seperti para pendahulunya, orang-orang Aztec meminum cokelat hangat tanpa pemanis hanya pada upacara-upacara spesial. Montezuma II, salah satu raja Aztec, menyimpan sejumlah besar biji cokelat dalam sebuah gudang besar dan mengkonsumsi minimum 50 cawan cokelat hangat setiap hari dari sebuah cawan emas.

Oang-orang Eropa pertama kali mengenal coklat dari suku Maya di Amerika Tengah. Saat itu mereka diundang ke Istana dan disuguhi minuman dari buah yg dikocok-kocok terus sampai berbusa. Rasanya memang enak tetapi sangat pahit. Oleh karena itu, orang Eropa membawa ke daerahnya dan ditambahin gula, jadilah minuman coklat.


PERBEDAAN CHOCOLATE DAN WHITE CHOCOLATE

Yang dimaksud “coklat” adalah makanan yang berasal dari biji cacao, kebetulan dalam bahasa Indonesia, makanan cokelat itu berwarna “coklat”. “Coklat putih” itu berasal dari lemak biji cacao tadi. Jadi sama sekali tidak mengandung “coklat” namun memiliki bentuk dan karakter yang serupa dengan coklat.

Dalam proses pembuatannya lemak itu di campur dengan susu dan gula dan akhirnya menjadi “coklat putih” tadi. Beberapa permen “coklat putih” juga dibuat dari lemak hewan. Dari sisi kesehatan, coklat mengandung kafein, sementara “mentega cocoa”/coklat putih banyak mengandung lemak sangat jenuh.


BEBERAPA MANFAAT COKELAT UNTUK KESEHATAN

Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin.

Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.

Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi.

Coklat mengandung antioksidan flavonoids yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu penganan manis ini mengandung phenylethylamine. Senyawa kimia alamiah tersebut memiliki efek seperti amphetamine yang bisa menimbulkan perasaan bahagia dan mood yang menyenangkan.

Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan jerawat, caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatif coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

Of course, i must say and agree with this statement:
"Chemically speaking, chocolate really is the world's perfect food! Nothing is more romantic than chocolate."

Sekilas tentang Gunting Syafrudin dan Sanering di Indonesia

Dari wacana tentang adanya redenominasi, saya jadi tertarik untuk melihat sejarah dan perkembangan Rupiah di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan sanering. Yuk, kita ikuti ulasan singkatnya.

Gunting Sjafruddin adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafruddin Prawiranegara (foto), Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10 Maret 1950.

Menurut kebijakan itu, "uang merah" (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00. Mulai 22 Maret sampai 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri itu tidak berlaku lagi. Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar empat puluh tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. "Gunting Sjafruddin" itu juga berlaku bagi simpanan di bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia).

Kebijakan ini dibuat untuk mengatasi situasi ekonomi Indonesia yang saat itu sedang terpuruk--utang menumpuk, inflasi tinggi, dan harga melambung. Dengan kebijaksanaan yang kontroversial itu, Sjafruddin bermaksud sekali pukul menembak beberapa sasaran: penggantian mata uang yang bermacam-macam dengan mata uang baru, mengurangi jumlah uang yang beredar untuk menekan inflasi dan dengan demikian menurunkan harga barang, dan mengisi kas pemerintah dengan pinjaman wajib yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 milyar.

19 Maret 1950 : Sanering pertama dikenal sebagai "Gunting Syafrudin" dimana uang kertas betul-betul digunting menjadi dua, yang sebelah kiri dipakai sebagai alat pembayar sah dengan nilai semula. Sebelah kanan dan juga deposito di Bank ditukar dengan obligasi negara yang akan dibayar 40 tahun kemudian dengan bunga 3 % setahun.


25 Agustus 1959 : Sanering kedua uang pecahan Rp 1000 (dijuluki Gajah) menjadi Rp 100, dan Rp 500 (dijuluki Macan) menjadi Rp 50. Deposito lebih dari Rp 25.000 dibekukan. 1 US $ = Rp 45.Setelah itu terus menerus terjadi penurunan nilai mata uang Rupiah sehingga akhirnya pada Bulan Desember 1965 1 US $ = Rp 35.000.

Wow!!!

13 Desember 1965 : Sanering ketiga terjadi penurunan drastis dari nilai Rp 1.000 (uang lama) menjadi Rp 1 (uang baru).


Sesudah itu tanpa henti terjadi depresiasi nilai mata uang Rupiah sehingga ketika terjadi Krisis Moneter di Asia ditahun 1997 nilai 1 US $ menjadi Rp. 5.500 dan puncaknya adalah mulai April 1998 sampai menjelang pernyataan lengsernya Presiden Suharto maka nilai 1 US $ menjadi berkisar Rp 17.200.

Lalu apakah kebijakan menggunting uang ini bakal terulang di Indonesia? Memang tak terjadi lagi sanering di Indonesia. Namun ada kekhawatiran akan terus terjadinya pengurangan nilai tukar rupiah secara perlahan tapi pasti. Lihat saja, harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Apalagi harga-harga dilepas mendekati harga pasar internasional sementara pendapatan masyarakat masih standar lokal.

Banyak pula yang menduga bahwa kebijakan BI yang mencetak uang pecahan Rp2.000 dan secara perlahan mengurangi lembaran Rp1.000 pada hakekatnya menyerupai kebijakan sanering. Tentu saja kasus ini bukan termasuk kategori pengguntingan uang. Apalagi inflasi saat ini masih terjaga.

Tetapi setidaknya hal ini memperlihatkan bahwa harga-harga sekarang sudah sedemikian tinggi. Dulu barang yang dijual di harga Rp1.000 tapi saat ini sudah naik dua kali lipat sehingga akan lebih mudah menggunakan pecahan Rp2.000. Artinya rakyat harus merogoh saku lebih dalam untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tapi itu bukan berarti semua hanya diam. Perlu dilakukan peningkatan daya beli dan kesempatan berusaha agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

Wacana Redenominasi Rupiah di Tahun 2013

Ternyata, Indonesia termasuk negara pemilik pecahan mata uang terbesar kedua di dunia setelah Vietnam. Uang pecahan sebesar Rp 1OO.OOO merupakan terbesar kedua setelah 500.000 dong yang dikeluarkan pemerintah Vietnam. Tadinya, Indonesia menempati posisi ketiga dan Vietnam yang kedua, setelah Zimbabwe yang pernah mengeluarkan pecahan Z$10 juta telah melakukan redenominasi terhadap mata uangnya.

Redenominasi adalah praktek pemotongan nilai mata uang suatu negara menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Uang dengan nominal besar dianggap kurang efisien serta merepotkan pembayaran. Menurut kajian, mata uang Indonesia idealnya diredenominasi dengan menghilangkan tiga angka nol. Sehingga apabila uang Rp 1.000 dipotong akan menjadi Rp 1, sementara uang Rp 10.000 menjadi Rp 10. Kalau ini terwujud maka pecahan sen akan berjalan kembali. Nilai uang ini harus dipastikan dapat digunakan untuk membeli barang yang sama. Praktek ini berbeda dengan sanering, yakni pemotongan nilai tukar. Dalam sanering, nilai tukar dikurangi sehingga nilai uang masyarakat berkurang. Kalau redenominasi hanya menghilangkan nol saja tetapi nilainya sama, kalau sanering memotong nilai uang.

Indonesia bisa saja melakukan redenominasi asal berhati-hati. BI sudah lama mempelajari dan melakukan riset mendalam mengenai hal ini. Selain itu, sangat dibutuhkan sosialisasi kepada masyarakat sehingga kebijakan ini tidak dianggap sebagai tujuan pemiskinan masyarakat. Saat ini orang kaya disebut sebagai miliarder akan berubah menjadi jutawan, Jutawan akan menjadi ribuwan.

BI juga mempelajari pengalaman negara yang pernah melakukan praktek ini seperti Rumania dan Turki. Kedua negara tersebut berhasil melakukan redenominasi mata uangnya meski dalam waktu yang lama. Di Rumania, pecahan terbesar di dalam mata uang itu angka nol-nya dipotong 4 digit, sementara itu Turki melakukan pemotongan enam digit nilai mata uang lira (TL). Dalam melakukan redenominasi Turki sangat disiplin sehingga berhasil dan dapat menyesuaikan mata uangnya dengan Euro. Turki telah melakukan kebijakan pemotongan pecahan mata uangnya cukup lama, sekitar tahun 90-an dan baru berhasil sekarang.


*pecahan baru Rumania (kanan) dan Turki (kiri) setelah redenominasi*

Jika gagal, Indonesia bisa bernasib sama seperti Zimbabwe. Pemotongan nilai mata uang justru menyebabkan inflasi melonjak hingga ribuan persen. Ini akan terjadi jika waktu penyesuaian harga barang, para pengusaha tidak disiplin. Misalnya harga barang Rp 1.000 per unit pada pecahan lama harusnya dengan pecahan baru menjadi Rp l per unit, tapi pengusaha ini tidak disiplin dengan menetapkan harga Rp 100 per unit pada pecahan baru.


*dampak hyperinflasi: 10 Triliun Zimbabwe*

Namun, sebelum menerapkan kebijakan redenominasi tersebut dibutuhkan beberapa persyaratan. Pertama, ekspektasi inflasi harus berada di kisaran rendah dan pergerakannya stabil. Kedua, stabilitas perekonomian terjaga dan jaminan stabilitas harga. Ketiga, kesiapan masyarakat. Kondisi Indonesia sekarang dirasa tepat karena sudah dirasa memenuhi persyaratan tersebut. Akan tetapi kewenangan penerapannya tetap ada di tangan pemerintah. Dana yang harus dikeluarkan juga sangat besar, karena jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 200 juta. Ini harus dilakukan agar tidak muncul kesan bahwa pemerintah melakukan sanering.

Dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

Suka Duka Menjadi Guru Privat ;)

Jadi mahasiswa kos-kosan yang jauh dari orang tua harus punya berbagai trik untuk bisa memperoleh penghasilan tambahan. Selain bisa menyelamatkan diri dari krisis dan defisit yang berdampak sistemik di akhir bulan (hiks), membantu mengurangi beban orang tua, kita juga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan uang sendiri. Banyak mahasiswa yang melakukan part-time job, wirausaha, dan yang paling sederhana adalah jualan ilmu – alias jadi guru privat! ;)

Masuk STAN bukan berarti harus berkhianat ataupun ‘say goodbye’ dengan Fisika, Biologi, dan rumus-rumus Matematika. Walaupun otak kita diasah dengan berbagai disiplin ilmu mengenai keuangan negara, tetapi tetap aja hapalan yang dilatih dari kecil tidak akan terlupakan begitu saja. Ilmu ini bisa dijual dan diwariskan kepada yang membutuhkan – dan sebagai profitnya bisa memperoleh penghasilan tambahan yang lumayan! Hoho *green eyes*. Jadi jangan malas untuk belajar dan menghapal di waktu kecil karena akan terus tertanam dalam ingatan dan rasakan manfaatnya di masa depan.

Keputusan saya untuk menjadi guru privat terlintas kira-kira satu bulan sejak pertama kalinya menduduki bangku kuliah di prodip tiga Kebendaharaan Negara STAN. Tak pernah terbayangkan kalau saya bisa mengajar. Dan yang bikin saya bangga adalah saya – seorang kelahiran Medan – harus mengajar anak-anak Jakarta. Hehe. Saat itu saya masih bergabung dalam sebuah lembaga pengajar dan mereka yang mencarikan murid untuk saya. Murid saya yang pertama bernama Amanda Gabriella - seorang siswi cantik kelas tiga SMP Negeri 19 Jakarta- dan sampai saat ini dia dan adiknya masih menjadi murid saya. Kini dia sudah duduk di kelas dua SMA Negeri 70 Jakarta.

Pengalaman pertama mengajar sungguh bikin gugup dan deg-degan. Modal saya hanya beberapa buku pelajaran yang saya bawa dari rumah (tak disangka ternyata berguna, hehe). Hal yang pertama sekali harus saya lakukan adalah mengambil hati murid saya, mulai dari mengajaknya berkenalan, banyak senyum, dan sabar – itu yang paling penting! Setelah itu, insya Allah semuanya jadi lancar.


*beberapa modal saya kalau ngajar :)*

Selama hampir tiga tahun, saya sudah mengajar banyak murid. Mulai dari yang masih kelas 2 SD dan terus-terusan minta digendong, SMP yang lagi puber-pubernya, dan SMA yang super-duper kritis. Hampir satu tahun saya bergabung dalam lembaga pengajar dan sempat mengajar sebagai tentor bahasa Inggris USM STAN – tetapi karena berbagai pertimbangan – saya memilih berdikari dan memutuskan untuk melanjutkan karier saya secara mandiri. Hehe.

Jadi guru privat, ada banyak sukanya, ada pula banyak dukanya. Saat-saat yang paling membahagiakan adalah saat gajiaaaan! Rasanya semua kerja keras terbayarkan dan sangat manis. Bahkan saya sempat menangis saat menerima gaji pertama. Setelah gajian, hal yang pertama kali saya lakukan adalah beli makanan yang enak, beli berbagai kebutuhan, beli buku, dan beli berbagai aset – modem, handphone, karpet – alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa terbeli. Tak ada salahnya pula jika sedikit berbagi dengan sahabat, dengan sepupu kecil, dengan anak-anak kosan, dan dengan orang tua di rumah. Walau sedikit, yang penting berkah :)

Hal menyenangkan yang lain adalah saat orang tua murid sudah menyayangi kita, terkadang dikasih cemilan, ditraktir, dibeliin hadiah, dan diajak curhat. Suatu penghargaan yang sangat besar untuk saya. Hal itulah yang terus membuat saya betah dan menjadi bonus kebahagiaan untuk seorang guru privat. Hehe.

Kalau kita bicara duka – mungkin – yang paling bikin frustrasi adalah saya suka nyasar, apalagi kalau pertama kali datang ke rumah si murid. Saya paling sedih kalau kehujanan, banjir, jalanan yang saya lalui berlumpur, sehingga saya terlihat sangat kumal. Syukurlah, murid-murid saya yang terlihat sangat ‘wah’ untuk saya – dan kadang bikin minder – sangat memaklumi saya.

Menjadi guru privat berarti belajar untuk berdedikasi. Berdedikasi pada ilmu. Berdedikasi pada waktu. Sebelum mengajar, biasanya saya belajar dulu, mempersiapkan soal, agar saya tidak blank – walaupun kadang suka nekat – dan bisa menjawab pertanyaan murid-murid saya. Juga harus punya komitmen terhadap amanah. Di saat ujian sekalipun, di saat kita lelah karena kuliah full sampai sore, di saat mereka membutuhkan kita, kita harus bersedia meluangkan sedikit waktu belajar atau istirahat kita untuk membimbing mereka. Dan saat mengetahui mereka lulus dengan baik, dapat nilai yang memuaskan, dan mengerti, adalah suatu kebanggaan yang luar biasa untuk saya.

Sampai saat ini saya bersyukur memiliki murid-murid yang telah memberikan kepercayaannya kepada saya, dan menjadikan saya sebagai bagian dari keluarga, sebagai kakak, sebagai teman. Sungguh anugerah yang luar biasa - sebuah pengalaman yang mengajarkan saya asam garam kehidupan, menjadi tangguh, menikmati manisnya kerja keras, dan indahnya perjuangan.

Kini - di semester terakhir prodip 3 -menuju saat-saat terakhir kuliah, saya masih punya satu murid yang saya bimbing. Dia adalah seorang siswi kelas 5 SD yang chubby dan cerdas, pencinta Doraemon, dan mie goreng. Setelah ini, saya akan memutuskan untuk fokus pada PKL, pada laporan, dan persiapan kelulusan. Dan pastinya, ini akan menjadi gaji terakhir saya yang sangat berharga ;)

May 26, 2010

Belajar Kesetiaan dari Hewan


Belajar bisa dilakukan di mana saja salah satunya adalah belajar dari alam – belajar dari ciptaanNya. Pelajaran penting tentang hidup yang dapat kita petik dari alam adalah pelajaran tentang kesetiaan; dalam kasus ini adalah cinta dan setia pada pasangan yang bahkan sangat sulit diterapkan oleh manusia sebagai ciptaan paling sempurna dan makhluk super kompleks.

Hmmmm, wajib belajar nih!

Sesungguhnya kebiasaan memiliki hanya satu pasangan adalah sesuatu yang jarang dalam dunia binatang. Di antara sekitar 4.000 spesies mamalia, kurang dari 3 persen saja yang hidup setia dengan satu pasangan. Mereka adalah beberapa jenis duiker, monyet colobus, dan sejenis tikus prairi.

Binatang jantan dan betina yang menganut monogami pada umumnya mempunyai ukuran fisik sama. Begitu pula tanggung jawab dalam membesarkan anak. Berbeda dengan spesies poligami, jantan biasanya lebih besar, agresif, dan sedikit terlibat menjalankan peran sebagai orang tua. Secara seksual, jantan akan lebih lambat dewasa jika dibandingkan dengan betina.

Berikut adalah tiga jenis hewan yang paling romantis dan paling setia pada pasangannya, wah, benar-benar bikin saya kaguuum ^^. Check it out!


1. MERPATI

“…bahagia meski mungkin tak sebebas merpati…”

Banyak syair-syair dan lirik lagu yang menyimbolkan merpati sebagai pasangan sejati, demikian pula pada lirik lagu Kahitna yang saya kutip tersebut. Memang harus diakui kalau merpati adalah hewan yang sangat romantis. Merpati sangat setia terhadap pasangannya ketika sudah mengikat janji. Seekor merpati akan merasa sangat nyaman apabila ditempatkan dalam sebuah kandang bersama pasangannya. Sebaliknya, apabila ditempatkan di kandang yang bukan bersama pasangannya, yang terjadi adalah pertengkaran.



Kebersamaan merpati jantan dan betina memang erat. Ketika keduanya dipisahkan, si jantan bisa terbang lebih cepat untuk menghampiri si betina di suatu tempat. Si jantan bisa melacaknya, meski dengan jarak yang sangat jauh. Biasanya, merpati jantan berusaha mengenali postur, warna bulu, dan gerakan khas si betina. Merpati jantan juga bisa menggunakan indra penciumannya untuk menemukan bau khas si betina. Merpati akan mengeluarkan suara bekur ketika sudah menemukan pasangan yang dicari.

2. BUAYA


Seekor buaya jantan sepanjang sejarah hidupnya hanya sekali melakukan perkawinan dengan lawan jenisnya. Seberapa banyak betina yang datang pasca perkawinan tersebut tak akan menggoyahkan tahta kesetiannya. Mungkin terinspirasi akan hal ini, sehingga pada adat betawi dikenal ada roti buaya sebagai simbol dari kesetiaan pasangan yang akan menikah. Menurut ajaran masyarakat Betawi, roti merupakan simbol kemampanan ekonomi. Sehingga roti buaya bermakana kesetiaan untuk mencapai kemakmuran bersama.


3. DUIKER

Duiker adalah sejenis antelop kecil yang sangat setia pada pasangannya hingga nyaris punah. Antelop ini tidak akan mencari pasangan baru ataupun berkembang biak sampai akhir hayatnya jika pasangannya telah mati.



Petugas suaka margasatwa di Ghana juga pernah melakukan penelitian sejenis sejak lebih dari 30 tahun. Dari situ, risiko kepunahan Duiker ditemukan karena jumlah populasi antara pejantan dan betina yang tidak seimbang. Mulanya, 78 spesies hilang dari wilayah tersebut karena sering diburu hingga habitatnya rusak. Akibatnya, jumlah betina menjadi sedikit dan kehidupan mereka terisolasi, lantas punah.Dari fakta tersebut, akhirnya tercetuslah langkah untuk mengurangi kepunahan duiker dengan upaya konservasi.


4. HEWAN-HEWAN LAINNYA

Trumpeter Swan
Jantan: Di antara seluruh angsa, ada yang unik dengan perilaku spesies angsa berbunyi atau Trumpeter Swan. Ketika pasangannya meninggal, angsa jantan akan terus mengeluarkan suara seperti menangis, tanda berkabung.

Betina: Bahkan, Trumpeter Swan betina bisa ikut mati kalau terlalu lama bersedih! Trumpeter Swan adalah yang paling berat di antara semua burung asli di Amerika Utara. Habitat mereka umumnya di air dangkal dengan vegetasi yang melimpah. Termasuk, danau dangkal, kolam, dan sungai-sungai besar.


Penguin
Jantan: Kesetiaan juga ditunjukkan kelompok penguin. Demi pasangannya, penguin jantan bahkan rela kehilangan setengah berat badannya untuk mengerami anaknya yang baru lahir.

Betina: Ketika sudah melahirkan anak, penguin betina akan beristirahat sekitar 4 bulan di laut. Namun walau selama itu, penguin betina tetap akan kembali untuk penguin jantan yang sudah menunggu bersama anak-anak mereka.


Anjing Hutan
Jantan: Anjing hutan terkenal hidup berkelompok. Kebanyakan pejantan akan mencari pasangan dari kelompoknya. Ketika menemukan pasangan yang cocok, pejantan akan segera membawa pasangannya keluar dari kelompok. Ini dilakukan agar tidak berebut makanan atau mangsa.

Betina: Anjing hutan betina akan setia ketika sudah berpasangan dengan pejantan. Ia akan setia menemani pejantan dalam mencari makanan. Itu terus dilakukan sampai mereka berdua membentuk populasi baru.


Berang-Berang
Jantan: Si jantan akan mencari pasangannya ke air. Bahkan berang-berang jantan akan segera mencari pasangan ketika berumur 3 tahun. Ketika sudah merasa klop dengan pasangan, berang-berang tidak akan mudah meninggalkannya. Mereka akan terus berduaan kemanapun pergi.

Betina: Mungkin sedikit berbeda dengan merpati, ketika pasangannya sudah mati, berang-berang bisa mencari pasangan baru, untuk meneruskan keturunannya. Berang-berang betina biasanya mencari pasangan baru, karena ingin memperbaiki keturunan.


Beruang Eurasia
Jantan: Kesetiaan juga tampak dari binatang buas ini. Beruang jantan bahkan menunjukkan kesetiannya hingga berkeluarga. Beruang Eurasia jantan ini akan setia membagi waktu untuk menggantikan beruang betina dalam menjaga anak. Bahkan beruang jantan akan mengajari berburu saat dewasa.

Betina: Beruntunglah para beruang betina, karena akan dimanjakan beruang jantan. Saat telah memiliki anak, beruang betina akan dibiarkan beristirahat. Sementara beruang jantan yang menjaga anak dan mencari makan.

Semua cinta adalah milik Allah SWT, dan Allah mengajarkan mencintai dan dicintai melalui ciptaanNya. Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hambaNya yang senantiasa berpikir… Amiiin ^^

*Dikutip dari berbagai sumber dengan sedikit gubahan :)