May 26, 2015

#15 Mei untuk Maret: Sempurna

Maret, ini adalah luka di jari telunjukku yang kesembilan dari tiga bulan pernikahan kita. Pisau ini tidak salah. Dia membantuku, hanya aku yang tak bisa mengendalikannya dengan terarah. Mungkin aku mengantuk atau terlalu lelah. Aku harap kau tak marah. Dari aliran darah yang mengalir di sela-sela potongan kentang untukmu, aku teteskan satu pada kaldu sup itu. Maaf, ternyata belum cukup, ada air mata yang tak sengaja bercampur tanpa kutahu. 

Dan, ini sempurna.

"Apa kau suka?"

"Ini sangat lezat, Mei. Terima kasih. Ini sup terbaik yang pernah kunikmati"

Aku bisa melihat sinar kejujuran dari matamu. Kau benar-benar menyukai sup itu, Maret. Menyaksikan hal itu membuatku bisa meledak. Meledak karena bahagia. Aku ingin terus membahagiakanmu, Maret, dengan apapun yang aku punya. 

"Aku menyelipkan bagian diriku di sup itu"

"Pantas saja lezat, pasti ada cinta di setiap hidanganmu"

Maret tidak mengerti. Dia masih makan dengan lahap sambil sesekali mengelus kepalaku.

"Lain kali, akan aku selipkan hatiku di situ"


Maret masih tidak mengerti. Dia terlalu lugu untuk kebaikan istrinya yang tak sederhana.


Gambar diambil dari sini.

No comments: