February 7, 2013

Ibu, Boleh Aku Tambah Lagi?

"Ayo Nak, ditambah lagi dagingnya" seru Ibu sambil menambahkan potongan semur daging andalannya ke piringku. Potongan sebelumnya bahkan masih sebagian tersisa.

"Sudah Bu, aku sudah kenyang"

"Ah, jangan bilang begitu. Kamu kan jarang pulang, jarang makan masakan Ibu"

Bibirku mengerucut. Entah mengapa di meja makan ini aku tak pernah merasa sangat lapar. Belum lagi dengan kebiasaanku yang memegang-megang perut seakan setiap suapan membuat lingkar pinggangku bertambah.

"Aku tidak mau gemuk, Bu"

Ibu diam saja. Mungkin dia bosan mendengar pernyataan yang sama di setiap aku pulang. Padahal aku tahu bahwa Ibu memasak semua makanan kesukaanku ini agar aku senang. Kasihan anak perantau, katanya.

"Nanti Ibu bawakan beberapa potong semur daging ya untuk kamu makan di sana"

"Tidak usah, Bu. Aku khawatir tidak sempat dimakan"

"Ah, kamu. Semua tidak mau". Lalu Ibu mengemas beberapa potong daging ke dalam kotak bekal berwarna merah, mengikatnya dalam plastik, dan meletakkannya di sebelah koperku yang sudah tersusun rapi. Matanya menatap sendu. Perpisahan lagi.

***

Setelah penerbangan selama dua jam, aku tiba di kontrakan sebelum pukul sembilan malam. Perut lapar sangat menyiksa. Aku sengaja melewatkan waktu makan lagi. Aku ingat kotak bekal yang dibawakan Ibu, ada tiga potong besar daging semur di dalamnya. Ah, aromanya nikmat. Aku segera menghangatkannya dan memasak nasi dengan gegabah.

Aku langsung mengunyah potongan daging itu pelan, pelan, pelan, lalu termenung mengutuki jarak yang gemar sekali membuat lupa dan luka. Daging itu lumat di dalam mulut bercampur dengan tangisanku yang tanpa permisi. Aku merasakan itu. Aku merasakan Ibu. Ada tangan Ibu, ada cinta Ibu, ada keringat Ibu, ada air mata Ibu, ada pengorbanan Ibu, ada harapan Ibu.

Ibu, aku sudah rindu lagi.

Ibu, aku lapar sekali.

Ibu, masakanmu enak sekali.

Kenapa baru terasa senikmat ini?

Ibu, boleh aku tambah lagi?

Ibu, tapi kau jauh, aku ingin disuapi.

Boleh Ibu?

Ibu...

Aku menjilati piring di tanganku sampai licin, dan tak ada lagi yang tersisa hingga satu butir nasi pun - digantikan beberapa tetes air mata yang mendarat dengan cepat. Aku spontan menelpon Ibu. Hanya isak yang keluar. Aku tak bisa berkata apa-apa. Ibu pun tak mungkin memelukku dari sana.

Bukankah jarak itu menjadi pengujimu? Di saat dekat dia berbau, di saat jauh dia merindu.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

No comments: