July 11, 2010

6 Best Words of My Week

“Bahaya yang paling besar saat kita terlalu banyak menyerap kata-kata dari orang lain yang berusaha melibatkan diri dalam urusan hidup kita adalah kita kehilangan kemampuan untuk mendengar kata hati” – Des Dhoni Wiastanto di sela-sela sharing saat PKL.

“Jika jodoh bukan lagi rahasia Tuhan, akankah masih ada hati yang terluka?”
– dikutip dari sebuah blog seseorang yang tak dikenal.

“Jika kita memandang seseorang hanya dari fisiknya, orang tersebut juga akan melihat kita dengan cara yang sama” – Deasy Mayasari memecah kebimbangan.

“Terkadang kita mencari terlalu jauh, sampai akhirnya kita lelah, dan kembali mendapati, bahwa dia yang slalu ada” – selembar kertas yang ditulis oleh Oselva Anestesia Sidhauruk dalam novel Recto Verso.

“Jika di novel MMJ, Raditya Dika bertanya apakah ini saatnya mengakhiri, maka pertanyaanku adalah apakah ini saatnya aku memulai?” me in complicated mind.

“Tahukah engkau, Nak? Abah terharu mendengarnya…” – kalimat indah dari bibir seseorang yang indah dari telpon di malam hari. Semoga saja, Ma. Pasti. Aku akan berjuang :')

I Wanna Say Hi to Heels!

Mungkin aku pernah bilang bahwa aku benci high heels, tapi sepertinya, ehhhm… it’s okay to say hi! Because they are cute!

Terinspirasi dari obrolan biasa beberapa hari yang lalu – aku dan sahabat – selepas sholat Dzuhur.

“Icha pingin sepatu bunyi-bunyi…” ujarku.

“Haaa? Maksudnya?” tanya sahabatku heran sambil mengenakan sepatunya. Pantofel dengan heels rendah. Cantik.

“Yang ada heelsnya…” jawabku.

“Kadang ngga nyaman juga kok jalan dengan bunyi heels seperti ini…” ujarnya.

Kami meninggalkan musholla.

“Kalau jalan di lantai yang licin, sepatu icha berbunyi mirip sepatu bayi yang baru belajar jalan”. Aku senyum-senyum memandangi sepatu lucu yang bentuknya mirip sepatu di film-film Barat klasik. Mama yang memilih.

Nyiiit, nyiiit, nyiiiit.

Kami tertawa lepas mendengar bunyinya.

***
Baiklah, mungkin tak ada salahnya mencoba stiletto. Atau, heels dengan tinggi 5 – 7 cm saat wisuda.

Yap, saat wisuda :D

Tapi, tetap saja, saat ini aku sedang kangen mengenakan sepatu kedsku – pemberian abah yang biasa dipakai waktu kuliah.

Dan bisa dipadu-padankan dengan tali sepatu warna-warni…

***

"Kita memang butuh sepatu yang pas untuk bisa melompat meraih mimpi-mimpi kita" - me

Terima Kasih Telah Mendengar

Jumat, di sebuah ruangan kecil yang sangat dingin. Aku menggigil dan mencoba menggerak-gerakkan kaki untuk memperoleh rasa hangat.

“Ceritakan apa saja pengalaman kalian selama 10 hari PKL” ujar beliau.

Teman-temanku bergantian memaparkan apa yang mereka rasa dan hal-hal baru yang mereka peroleh. Sepertinya rasa kesal karena beliau menyepelekan ide-ide kami dan memberikan kuliah mendadak di ruangan yang sangat beku ini beberapa hari yang lalu telah sirna. Yah, saya tahu, kami kini tahu. Beliau sebenarnya sangat baik.

Hmmm, mulai hangat. Pikiran positif memang memberi rasa hangat.

Kini giliranku – giliran terakhir.

“Suasananya sangat friendly dan…”

Beliau memotong kalimatku dan tertawa. Bicara tentang atasan yang pensiun dan kontradiksi atmosfer yang kini terjadi di ruangan.

“Semua orang pada dasarnya baik…” gumam teman di sebelah saya.

Yah, semua orang pada dasarnya baik. Hanya saja kadar baik buruk tersebut tergantung pada standar yang dipasang setiap orang.

“Syukurlah…” katanya.

Aku pun melanjutkan, “Saya menemukan hal-hal baru di sini. Terutama dari pinjaman proyek yang saya bahas”

“Pertama, saya baru tahu kalau soft loan ternyata punya konsep STEP alias Special Term for Expenditure Partnership. Jadi lender hanya membiayai proyek 85 % dan pemerintah harus menggunakan teknologi Jepang sebesar 30% dalam hal procurement”

“Kedua, ternyata ada perbedaan biaya pinjaman setelah Oktober 2008 – setelah JBIC dimerge menjadi JICA. Dulu, diterapkan service charge yang dihitung sebesar pinjaman yang ditarik, tapi sekarang diterapkan commitment fee yang dihitung sebesar pinjaman yang belum ditarik”

“Ketiga, realisasi pinjaman yang rendah juga disebabkan karena lender tidak selalu menyetujui 100% nilai kontrak atau penarikan. Mereka juga mempertimbangkan faktor eskalasi kurs saat dikonversi ke mata uang Rupiah atau Yen. Jika melebihi pagu yang diizinkan, kelebihan ini akan langsung dibebankan ke Bank Indonesia. Padahal, ada peraturan yang memayungi bahwa BI tidak lagi boleh menalangi rekening pemerintah”

“Hal-hal seperti itu tahu dari siapa?” tanya beliau.

“Dari arsip-arsip dan para pegawai di sana” jawabku.

Lalu beliau pun mengangguk dan menjelaskan point saya yang ketiga di white board, menjelaskan UU independensi, dan sebagainya.

Terima kasih telah mendengar. Saya merasa sangat dihargai, Pak. Tubuh saya tidak menggigil lagi.

Hangat.

“Karena didengar memang hak asasi setiap manusia…” – me.


*Sebuah kisah di sela-sela PKL dan pencarian data menuju Direktorat Evaluasi, Akuntansi, dan Setelmen*

Maaf, Saya Minderan

“Everybody has ever trapped in a condition when he/she is just an ugly duckling” – me

Aku memang minderan.

Tapi, syukurlah, tidak separah dulu. Waktu telah membimbingku. Dan, Mama adalah pahlawan terbesarku yang selalu bisa membuatku percaya bahwa itu tak perlu. Aku tidak minder dengan orang-orang yang memamerkan blackberry, laptop, atau mobil baru mereka. Aku juga tidak minder dengan orang-orang hebat yang bisa kuliah di universitas populer atau bisa jalan-jalan keliling Eropa.

Jika muncul rasa – itu bukan minder – itu motivasi. Aku yakin suatu saat aku juga bisa meraihnya.

Aku bisa sangat minder pada hal sederhana – sebenarnya.

Aku benci terperangkap pada keadaan duduk di pojok ruangan memandang mereka dengan segenap keanggunan dan kemewahan. Tertawa. Bicara – sementara aku hanya dianggap seonggok bayang-bayang. Di sebuah keadaan yang seharusnya membuatku aman dan nyaman.

Muncul rasa – itu minder. Karena aku tak dapat meraihnya.

Dan aku pun beralih ke dunia maya, karena yang nyata tak selalu ramah.

Dan aku berlari pada Mama.

“Jika engkau minder mama ikut sedih. Bersyukurlah. Engkau sudah cukup istimewa, nak…”

Maaf…

“Tak apa. Lihat saja apa yang terjadi beberapa tahun ke depan, sayang. Berjuang yah…”

Tentu saja, aku akan berusaha. Karena tak dianggap itu menyedihkan.

Dalam hati, aku bersyukur berada di sini. Di kampus ini, duniaku, rumahku. Tempat dimana aku bertemu orang-orang yang tidak memandangku dari status dan materi…

July 8, 2010

9/20

9 hari PKL telah terlewati dari total 20 hari yang harus dilalui…


Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis blog. PKL yang membuat waktu tidur saya maju beberapa jam (akhirnya normal juga) karena kelelahan setelah satu harian beraktivitas dan diserang macetnya Jakarta membuat passion saya untuk menulis uneg-uneg terkalahkan oleh rasa kantuk. Tapi tak apa, karena saya suka angka 9, maka saya akan bercerita lagi di hari yang ke 9 ^^

Alhamdulillah, PKL di Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang adalah berkah dan kebahagiaan buat saya. Selain saya suka dengan mata kuliahnya, boleh dong punya cita-cita pingin penempatan di sini (Amiiiin ^^). Karena laporan PKL yang saya susun membahas tentang proyek yang dibiayai dari pinjaman Jepang, maka saya ditempatkan di subdit Pinjaman dan Hibah IV. Awalnya, hanya bersama dua orang teman, Doni dan Fery. Tapi karena suasana di PH IV ini begitu friendly, sahabat saya Deasy dari PH II dan Oselva dari DJPBN juga ikutan mampir. Setelah itu menyusul Cosmas yang ikutan gabung setelah beralih ke proyek pinjaman Jepang juga.

Banyak pengalaman menyenangkan yang bisa dikenang. Mulai dari hari pertama saat kita deg-degan masuk kantor (sungguh, saya nggak bisa tidur malam harinya), kenalan dengan para pegawai, dipenjara di ruang rapat, sampai akhirnya bisa memiliki keluarga baru seperti ini. Dan seperti biasa, saya juga mengalami hal-hal bodoh dan aneh. Di hari pertama, sepatu pantofel yang dibelikan mama sejak tingkat I dan belum pernah saya pakai, kulitnya lepas-lepas dan rontok. Huhuhu, malu dan pingin nangis. Di hari kedua, saya salah masuk ruangan. Maksudnya pingin turun ke lantai tiga, bisa-bisanya malah naik tangga ke lantai lima. Dan teman-teman saya hanya diam menyaksikan kebodohan ini dan tertawa-tawa saat saya turun dengan malu. Di hari berikutnya, saya menderita pilek hebat, dan akhirnya harus melepas soft lens karena matanya jadi pedih. Alhasil, seharian mata minus lima ini harus berjuang tanpa alat bantu melihat apapun. Suram… T.T

Memang, saya harus bersyukur dengan hari-hari yang penuh warna ini. Saya semakin betah berada di sini setiap harinya dengan arsip-arsip yang mendukung untuk penyusunan laporan, Pak Yana – kasi PH IV- yang sangat humble, cerdas, dan selalu welcome untuk dimintai informasi dan pencerahan, para pegawai di PH IV yang karismatik, baik hati, dan sering bagi-bagi makanan, dan juga ruangannya yang sangat nyaman. Kini kita mulai terbiasa untuk bangun pagi-pagi, terjebak macet saat pulang, makan bareng di ruangan dengan bekal masing-masing, dan obrolan, curhat, nyanyi-nyanyi, diskusi, tawa, teka-teki, sampai iseng-iseng baca ramalan dengan kartu Tarot yang mengisi perjalanan pergi, pulang, dan selama PKL. Yap, semua itu membuat kita ngga merasa lelah, dan alhamdulillah, jam 8 pagi hingga pukul 5 sore terasa sedemikian cepat. Good job, I Like it!

Dan, apa yang paling istimewa di DJPU?

Yup, lantai 4!

Kenapa?

1. Saya sangat penasaran dengan kejadian yang sama setiap paginya saat saya dan teman-teman menunggu di tangga dekat lift untuk mengisi absen. Pertama, lift bagian kanan akan terbuka sendiri, tapi nggak ada orang yang keluar. Trus, tiba-tiba finger print nya bunyi sendiri sampai tiga kali, setelah itu lift bagian kiri terbuka dan turun deh. Wewww, spooky. Aneh bukan? Padahal saat itu masih sepi… Apa bisa ya lift naik turun dan terbuka sendiri? Dan ini rutin terjadi… *ngikngok*

2. Saya dan sahabat saya, Deasy Mayasari bisa memahami bagaimana perasaan Bella Swan. Bagaimana perasaannya saat harus dihadapkan dengan Jacob, bagaimana saat tiba-tiba jadi musim batuk, ahaha… Just for fun! (tapi akhirnya harus kecewa karena beberapa hal, huhuhu)

Sudah setengah jalan yang dilalui. Pengalaman ini benar-benar membuat hari-hari saya bahagia dan proses menyusun laporan menjadi menyenangkan. Selain mendapatkan ilmu, pengalaman, wawasan, saya juga mendapatkan keluarga baru. I definitely love these moments!!!