August 31, 2010

Broken Keys

One heartbreak.

Two eyes crying.

Three words never said again.

Four hands that won't be held again.

Five morning you'll pass him/her in the hall.

Six love notes, ripped and torn.

Seven days a week you'll think of him/her.

Eight sad songs at night before bed.

Nine wishes that never came true.

Ten
years before he/she has realized it has...

always been you.


Dikutip dari salah satu sajak yang tertulis pada gambar dalam link http://akodawsi-superwoman.tumblr.com. I :heart: this!

August 30, 2010

Tentang Sepi

“Rintik hujan saja bersemangat untuk turun ke bumi, mengapa engkau tidak?”

Aku yang duduk di kursi kosong ini, terpana pada daun jendela yang basah, menoleh ke arahmu.

“Karena aku bukan rintik hujan yang tidak pernah merasa sendirian”, jawabku.

Sebelum aku sempat membubuhkan tanda titik pada kalimatku, sebatang lolipop merah berbentuk strawberry dengan taburan bulir-bulir coklat telah hinggap di tanganku. Terlalu manis untuk melesat masuk ke dalam kerongkongan.

“Ada apa denganmu? Kenapa engkau tak seoptimis dan seriang dahulu?”

“Karena melelahkan menjadi seperti itu – ngenes. Dulu aku terlalu sibuk mengurus banyak hal hingga lupa bagaimana mengurus diriku sendiri. Hingga di satu titik, aku sadar, aku telah kehilangan lebih banyak hal…”

Aku memainkan lolipop itu di jari-jariku untuk meredam benda bening yang tertahan keluar dari rongganya.

“Sometimes I wake up, I realize that i'm not that strong, i'm not that tough. Indeed, i just pretend to be strong and tough. But, it's much better then…”

Kau menghela napas, “If it’s much better, keep faking. But please stop doing it to your self, if you wanna cry, just cry for and with your self, if you’re bored, just hang out, laugh, and do whatever you can to feed your soul, dear”

#I’m tired of being alone so hurry up and get here#


Ringtone handphone-ku berbunyi dan aku menonaktifkannya dengan pasti.

“Hey, never say that you’re alone. I’ve been here. What can I do for you now, dear?”

Kau segera duduk di kursi kosong itu mendahului perintahku, tepat di sebelahku, ikut menatap hujan yang tampak mulai bosan. Lalu kita mulai bicara: tentang hujan, tentang lolipop, tentang cinta, dan tentang masa depan.

Kita bicara begitu lama, mengalahkan semangat rintik hujan yang mulai mereda.

Tahukah engkau? Pertemuan dan obrolan hangat ini yang aku butuhkan. Lebih hangat dari cokelat lezat di musim penghujan. Tanpa beban, tanpa penghakiman, yang memposisikanku sebagai manusia seutuhnya, bukan dewi, bukan ibu peri.

Hey, sang sepi itu hilang bersamaan dengan hilangnya awan kelabu di langit...

Tentang Pulang

Maaf, aku kangen kalian. Aku kangen pada tiga hal yang membuatku rindu pulang: mama, abah, adik. Setelah itu, yang lainnya hanya menjadi bumbu penyedap.

Karena rumah adalah tempat di mana hatimu berada: maka –saat ini– hatiku berada di sana, dan impianku berada di sini.

Wahai yang sedang kurindukan, bantu aku kembali untuk menjaga hatiku agar tetap berada di sini. Sehingga aku tak perlu selalu merasa sepi.

Apa yang sedang kalian lakukan di sana? Memanggang kue-kue kering untuk lebaran kah? Bercengkrama sambil memandang bulankah? Atau menantikan saat-saat itu, saat kita akan bertemu pada moment yang teramat istimewa?

Baiklah. Aku memang kangen kalian. Kangen hal-hal sederhana yang terasa hangat. Kangen menjadi seorang anak seutuhnya yang aman berada di sisi sang ayah dan bunda.

Jangan bersedih wahai yang kurindukan, bukankah kalian berjanji untuk menjaga hatiku agar tetap berada di sini?

Dan karena aku ingin menjadi mutiaramu – aku akan sabar menunggu. Menunggu saat kita akan berpelukan secara nyata. Menanti saat air mata kita dipertemukan dalam keharuan. Dan aku bisa membawa pulang sesuatu – bukan sekedar kerinduan.



#Kalimongso, menunggu subuh dalam gemuruh hati dan pikiran#

KOMPRE – bukan sekedar LULUS

Ujian Komprehensif Tertulis: harga mati yang harus dilalui untuk dapat meraih predikat lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Rata-rata 10 – 15 mata kuliah keahlian yang diujikan oleh tiap spesialisasi dan secara komprehensif harus memperoleh nilai minimal C+.

Buat saya, kompre seperti mengenang masa-masa 3 tahun yang lalu saat sedang mengikuti Ujian Nasional dimana setiap jawaban begitu berharga dan menentukan lulus atau tidak lulus.

Tapi, lagi-lagi, kompre bukan sekedar lulus.

Melalui moment ini, saya bisa bercumbu dengan kesepian kamar dan membuka kembali memori demi memori tentang apa yang sudah saya pelajari sejak tingkat 1 dahulu. Belajar. Karena belajar bukan hanya untuk nilai, untuk point yang bisa dimodifikasi dan digubah tanpa rasa bersalah. Tapi belajar untuk kembali merekatkan memori kita, untuk meyakinkan bahwa kita tahu, untuk meningkatkan derajat kita karena memang suatu kebanggaan tersendiri saat kita tahu, kita bisa menjawab, dan kita bisa membagi yang kita tahu.

Melalui 3 hari yang menentukan ini, saya bisa menemukan hal-hal baru. Karena memang sistem dan prosedur selalu berlari terburu-buru didesak oleh efektivitas dan efisiensi, kompre bisa membuat kita mengenal hal-hal yang belum kita pelajari. Perubahan-perubahan signifikan di penyusunan anggaran tahun 2008 pasti berbeda dengan tahun 2010, atau perubahan dalam pelaksanaan barang dan jasa pemerintah, dan munculnya treasury notional polling pada sistem pengelolaan kas negara tentu saja membuka paradigma kita yang telah kadaluwarsa menjadi lebih baik.

Dan, karena kompre bukan sekedar lulus, fase ini juga mengajarkan saya tentang hidup.

Tentang teman yang hanya datang di saat butuh, atau yang senantiasa peduli tanpa terikat pada kondisi tertentu.

Tentang keluarga yang harap-harap cemas menunggu kabarmu dan dengan setia mengirimkan sms-sms cinta yang membuat saya menangis setiap membacanya.

Dan tentang hal-hal yang tidak lagi sanggup diungkapkan dengan kata, sehingga ngambek dan mengatupkan mulut jadi alternatif reaksi yang harus dipilih.

Dan tentang kenangan – tentang setiap hari yang pernah kita jalani yang membuat kita terisak dan kagum saat itu.

Dan tentang kesabaran.

Tentang perjuangan, man jadda wa jadda, percayalah itu harga mutlak. Dan pasti benar.

Sehingga saat nama itu tertera di surat keputusan kelulusan kompre, itu bukan sekedar nama. Tapi sebuah proses baru yang mengisi akalmu, menambah ilmumu, mengisi kalbumu, dan mendidikmu untuk sesekali belajar mengenakan kaca mata orang lain – agar dapat memandang hidup lebih baik.

Selamat menikmati kelulusan teman…

Apapun yang terjadi, ingatlah, bahwa kita selalu menjadi bagian dari keluarga yang dipertemukan oleh waktu dan impian…

Selamat datang pada langkah-langkah yang baru. Tidak menyangka ya bahwa kita sudah melangkah bersama dan sampai pada titik sejauh ini? :’)

August 3, 2010

It Just Happened


Thomas: And you, um you’re married?

Summer: Yeah, it’s crazy huh?

Thomas: You should have told me when we were at the...

Summer: I know.

Thomas: You know, at the wedding when we were dancing.

Summer: Well, he hadn’t asked me yet.

Thomas: But he was in your life.

Summer: Yeah.

Thomas: So why’d you dance with me?

Summer: ‘Cause I wanted to.

Thomas: You just do what you want, don’t you?

You never wanted to be anybody’s girlfriend. And now you’re somebody’s wife.

Summer: Surprised me too.

Thomas: I don’t think I’ll ever understand that. I mean, it doesn’t make sense.

Summer: It just happened.

Thomas: Right, but that’s what I don’t understand. What just happened?

Summer: I just – I just woke up one day, and I knew.

Thomas: Knew what?

Summer: What I was never sure of with you.



*Salah satu scene klimaks di film 500 Days of Summer yang dinyatakan oleh teman saya sebagai kejahatan emosional terburuk yang dilakukan wanita terhadap pria*

STAN, Me, and Memory

Masih terekam jelas dalam ingatan saya, 30 Agustus 2007 sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, saya sedang belajar kalkulus dan analisa geometri di gedung Teknik Industri USU Medan. Tiba-tiba guru Biologi SMP saya –Pak Terry – menelpon dan memberi kabar, “Farisa, kamu lulus STAN, Kebendaharaan Negara…”. Lalu, ada beberapa teman lain yang memberi kabar serupa, tapi saya tetap tidak merasakan passion ataupun sensasi apa-apa bahkan setelah saya membaca nama saya sendiri di selebaran pengumuman yang sudah tersebar ke seantero kampus.

Berpaling ke IPS? Berat sekali rasanya. Saya pikir awalnya demikian.

Bahkan saya masih sempat ikut kuliah rutin untuk mengisi waktu menjelang keberangkatan dan ikut ospek jurusan walau sebenarnya tak perlu. Tapi saya hanya ingin menggenapkan perkuliahan di Teknik Industri USU ini tepat menjadi 2 (dua) minggu, dan menorehkan sebanyak mungkin kenangan.

Namun kini, saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada kampus ini, pada almamater ini, dan pada masa depan saya nantinya. Saya harus bersyukur pada Allah atas anugerahNya yang mengizinkan saya kuliah di Jakarta dengan biaya pendidikan gratis, harus berterima kasih pada mama yang sudah memaksa saya untuk ikut USM dan pindah ke STAN, dan buat abah yang sudah memberikan kepercayaannya.

Hari ini, 3 Agustus 2010, 3.770 generasi penjaga gerbang keuangan negara telah menjadi calon keluarga baru STAN. Jumlah kelulusan yang cukup signifikan dibandingkan angkatan saya yang hanya 2.014 dari total pendaftar 125.742 orang hingga memecahkan rekor MURI ^___^

STAN sudah banyak berubah. Tata ruangnya sudah lebih rapi, ada gedung-gedung baru berdiri dengan desain yang minimalis dan futuristik, dan bundaran J-I kebanggaan.


~STAN dulu dan sekarang~

Tapi semoga perubahan ini tidak berdampak pada idealisme dan kesederhanaan yang harus dijunjung tinggi mahasiswanya. Perubahan positif terhadap moral, mental, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap bangsa ini harus terus bertahan, tumbuh, tak boleh tergerus lingkungan dan zaman.

Tiga tahun memang telah berlalu. Angkatan saya sudah ada penggantinya. Hanya butuh beberapa langkah lagi untuk meninggalkan kampus ini dengan kelulusan dan kemenangan. Insya Allah… :)

*Pengumuman kelulusan USM STAN 2010 dapat didownload di sini dan lampirannya di sini*.

August 2, 2010

Boleh sih Nangis, tapi Sebentar Aja...


Allah memang menganugerahkan air mata sebagai bahasa dari hal-hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Jika hidup mulai terasa tak ramah, dan langkah mulai terasa berat, maka tak apa menangis.

Lepaskan sejenak beban jiwa, dan tanyakan pada diri, apa yang salah.

Memang tak apa menangis, tapi sebentar saja.

Karena menangis tidak akan menyelesaikan masalah, hanya meredakan emosimu.

Dan menangis tidak akan membuat perubahan, hanya membuat orang mengasihanimu.

Aku ingin menjadi orang yang berhati kuat, yang bisa menangis di saat yang tepat, dan cukup, sebentar saja…

Lalu bangkit lagi, menghapus air mataku, karena Allah selalu mempersiapkan hadiah yang indah, walaupun jalannya tak selalu lurus.

***
Be thankful that you don’t already have everything you desire,
If you did, what would there be to look forward to?

Be thankful when you don’t know something
For it gives you the opportunity to learn.

Be thankful for the difficult times.
During those times you grow.

Be thankful for your limitations
Because they give you opportunities for improvement.

Be thankful for each new challenge
Because it will build your strength and character.

Be thankful for your mistakes
They will teach you valuable lessons.

Be thankful when you’re tired and weary
Because it means you’ve made a difference.

It is easy to be thankful for the good things.
A life of rich fulfillment comes to those who are also thankful for the setbacks.

GRATITUDE can turn a negative into a positive.
Find a way to be thankful for your troubles and they can become your blessings.

~Author Unknown~

August 1, 2010

"It’s the same with love, I guess..."


John: Alicia, does our relationship warrant long-term commitment?

Cause I need some kind of proof, some kind of verifiable, empirical data.

Alicia: I’m sorry just give me a moment to redefine my girlish notion of romance. A proof? Verifiable data? Okay.

Well, how big is the universe?

John: Infinite.

Alicia: How do you know?

John: I know because all the data indicate it.

Alicia: But it hasn’t been proven yet.

John: No.

Alicia: You haven’t seen it. How do you know for sure?

John: I don’t. I just believe it.

Alicia: It’s the same with love, I guess.

Now, the part that you don’t know is if I want to marry you…



(Salah satu scene favorit saya di A Beautiful Mind – saat John melamar Alicia)

Welcome August! Gonna miss those moments!

There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends
I still can recall

(In My Life – The Beatles)

PKL memang sudah berlalu lebih dari seminggu yang lalu. Akhirnya, laporan PKL yang dikerjakan dengan proses editing kecepatan penuh, senam jantung, dan kekosongan dompet telah teronggok manis di sekretariat. Saatnya menikmati independence day tahap 1 sejenak sebelum menunggu vonis dari dosen penilai selanjutnya. Dan bisa menonton INCEPTION dengan sahabat sudah membuat hati sangat terpuaskan ^___^. Really love this movie!

Masih teringat saat harus bangun dini hari, mandi dan menyiapkan bekal, lalu menunggu angkot dengan bulan yang masih setia berada di langit. Masih teringat pula saat pulang dari kantor diserang kemacetan, berpanas-panas ria di angkot, dan menangkis stress dengan canda tawa dan bernyanyi bersama. Dan akhir pekan menjadi sangat luar biasa indahnya dengan hadiah tidur yang lebih nyenyak dan panjang.

Satu hal yang paling indah adalah bisa memiliki keluarga baru, keluarga subdirektorat PH IV DJPU dengan Pak Yana, seorang Kasi yang sangat humble; dan Kingdom of Labilism, sahabat-sahabat yang membantu saya menemukan arti lain dari hidup. Mereka adalah Dhoni (The Muchos Machos), Deasy (Princess Alay n The Inspiration of Being Wise for me), Cosmas (The Cuekz), Fery (The Garingz), Nona (Miss Absurd), dan tak lupa jeung Oselva yang penuh inspirasi dari negeri DJPBN seberang, terima kasih telah menghadiahkan saya gelar The Queen of Labile dengan kalimat-kalimat yang tiba-tiba jadi trendmark, “We just talk!”, atau “Hey, define what the meaning of labile please…


Saya akan sangat merindukan semua sharing-sharing yang bersifat akademis ataupun non teknis itu, dan berbagai hal yang mengingatkan saya bahwa masih banyak hal yang harus dilatih untuk mendewasakan hati dan pikiran. Terima kasih telah membuat saya berani untuk mengirimkan ‘message’ itu, membiarkan saya bebas tertawa, karaoke ria bersama menyanyikan lagu-lagu di my wedding playlist, dan mengajarkan saya arti peduli; “You have to love your self first before you can love others properly”. Thanks dear.

Dan saya juga tidak akan melupakan kesempatan luar biasa untuk ikut rapat di Bappenas saat sedang ada pembahasan pinjaman proyek yang saya bahas. Sungguh, sangat membuka wawasan ^__^

It’s August.
Time passes so fast.
Steps ahead, step forward.
But memories remain :)