September 30, 2010

Tanpa Kata


Ya, hubungan ini berawal dengan tanpa kata.

Dan, aku pun tetap menunggu di sini dengan tanpa kata.

Walau sebenarnya aku lelah, kecewa, dan terluka.

***

Di halte ini aku menunggu. Setiap pagi dan malam - sebelum dan setelah aktivitasku meradang. Ataupun setiap akhir pekan, aku duduk diam dengan buku di tangan dan harapan yang dibawa pelangi di angan.

Di halte ini aku menunggu. Menunggu pertemuan langka itu datang lagi. Saat pertama kali kita berpapasan, kau turun di halteku. Tanpa kata. Tapi aku melihatmu, dengan sangat jelas, membawa kunci itu. Yang membuat hatiku rela untuk terbuka kapan saja.

Hubungan ini memang dijalani dengan tanpa kata. Tapi aku percaya. Sepercaya bumi terhadap matahari yang setia dengan cahayanya, atau sepercaya air yang selalu kembali ke muara.

Aku merindukanmu. Bagaimana tidak? Aku hanya beberapa kali berpapasan denganmu, tanpa sengaja, di haltemu atau di halteku. Tapi aku tak sanggup berkata-kata. Gengsi. Sama gengsinya dengan mawar yang menjentikkan durinya karena takut disentuh, padahal hakikat bunga, ingin sekali disentuh.

Hubungan ini tetap dijalani tanpa kata. Walau aku hanya bisa mendengar kabarmu dari lagu yang dibawa angin, dari hujan yang turun di hari Rabu, atau bintang-bintang yang berkedip menggodaku. Tapi aku puas. Walau aku hanya bisa melihat wajahmu dengan mengendap-endap tertatih ke haltemu, membawakanmu sepintal senyum atau wajah hangat yang tersembunyi dalam pekat untuk menunjukkan padamu bahwa aku baik-baik saja.

Tahukah kamu?

Aku masih setia menunggu di sini. Menunggu kepastian darimu memberikan kunci itu kepadaku. Sebelum pintu hatiku berkarat, karena dibiarkan terkapar terlalu lama.

Tidakkah engkau merindukan aku?

Lihatlah bunga-bunga yang selalu kutanam di tepian halte ini, yang kujaga setiap hari. Memperindah halteku, mempersiapkan diriku. Agar suatu saat nanti, kau kembali menjejakkan kaki di sini, kau bisa melihat kupu-kupu yang saling bercumbu. Melihat warna merah jambu, jingga, dan ungu melengkapi halteku yang kelabu. Agar kau tetap di sini, betah, dan enggan untuk pergi.

Tidakkah engkau ingin tahu kabarku?

Aku yang selalu berdegup kencang saat bus-bus yang biasa kau tumpangi itu datang. Dan aku yang tak kuasa menanggalkan senyum memandang wajahmu dari kejauhan walau hanya ilusi semata. Hanya fatamorgana kegalauan.

Sudah terlalu lama.

Hubungan ini masih seperti dulu, tanpa kata. Dan aku pun bertanya, layakkah kita menyebut ini hubungan? Tidak. Ini hanya sebuah kebodohan. Tipuan hati sepasang insan yang hanya bisa saling pandang, tanpa ada keberanian.

Dan aku pun menghapus air mata penantianku yang tak terhitung lagi. Lihatlah, bunga-bunga yang kutanam telah layu. Tidak sempat mekar. Kering. Aku lupa mengurus tamanku karena dilanda patah hati yang hebat.

Patah hati. Lelah. Aku butuh pelarian.

Kulihat seseorang yang mengagumi tamanku setiap hari, dan bertanya-tanya mengapa bunga-bungaku jadi seperti ini. Dan dia memberikanku sebuah kunci. Aku menerimanya. Walau tidak pas di pintu hatiku. Walau aku harus merobek gagangnya agar aku bisa merelakannya merebut hatiku yang berharga.

***

Di suatu siang di bulan Desember.

Aku dan dia pergi bersama mengikuti langkah kaki.

Dan aku turun di halte itu. Tempat aku berpapasan denganmu yang niscaya tanpa kata.


Aku melihatmu. Masih duduk di situ, di halte itu. Menunggu dengan wajah kelabu. Menungguku. Menungguku. Tapi, aku tak pernah tahu. Aku terlalu gengsi untuk datang ke haltemu, menghampirimu.

Padahal, kau juga menunggu di sana. Untuk aku.

Seandainya aku tahu dari dulu.

Tidak hujan tapi langit menangis. Mengikuti rintihan hati yang penuh penyesalan.

Dan, hubungan kita pun berakhir. Tanpa kata.

***

September 29, 2010

Surat Cinta dari Seorang Anak untuk Om Gayus Tambunan

Saya menemukan tulisan ini di sebuah artikel yang dimuat di media online kompas berikut. Sebuah tulisan yang menginspirasi bahwa generalisasi bukanlah tindakan yang bersahabat, dan Gayus bukanlah representasi dari alumni STAN.

Selamat membaca!

Dear : Om Gayus..

Halo om.. apa kabar ? Semoga baik ya om.. kasusnya apa kabar om ? Yang tabah ya om..

keluarga gimana om ? Sehat juga kan.. didoain sehat semua ya :)

Om Gayus.. makasih yah..

kasus om Gayus keren loh.. saking kerennya sampe aku yang gak kenal sama sekali sama Om Gayus pun kena efeknya. Luar biasa om ! Salut !

Om om.. tau gak .. Papa aku kerjanya juga di departemen keuangan lho om.. alumni STAN juga.. dan sesekali jadi pengajar di STAN Cimahi. Tapi papahku Bea Cukai bukan pajak. Beda dikit ya sama Om..

kakak laki-laki ku juga di departemen keuangan om, tapi dia di bagian perbendaharaan negara.. kakak laki-lakiku juga alumnus STAN, kayak Papah dan Kayak Om Gayus..

Dan om tau gak.. kasusnya Om Gayus bikin aku terkenal lho di kampus..

kalo aku lewat, banyak temen-temen yang suka nanya “Pung, bapak lo kapan ditangkep ? Gayus aja udah kena.”

hmmm. Banyak juga yang sering nyeletuk “bapak lo dosen STAN ya pung ? Ahahahahaha. Berarti Gayus itu gimana gurunya..”

dan yang paling keren, waktu aku di kelas om. Dosen lagi seru ngebahas kasus Om.. terus temen aku ada yang nyeletuk kenceng “berarti dosen STAN nya tuh yang gak bener. Mahasiswa-mahasiswa nya diajarinnya korupsi ! Bukan keuangan ! Hhahahahahaah”

keren ya Om.. kasus Om bener-bener bikin aku mendadak terkenal di kampus. Berhasil bikin aku di teriaki “anak guru koruptor !”.Om tau gak gimana rasanya jadi aku ? Papahku sebut-sebut gurunya para koruptor. Hmmmm. Kayaknya emang Om gak pernah mikirin efeknya sampe begini ya Om. Emang gak mau tau atau emang gak pernah denger peribahasa “nila setitik rusak susu sebelangga” ?. Ooh. Jangan-jangan dua-duanya.

Om om.. aku boleh nanya gak om ?

Aku yang gak kenal sama om aja kena imbasnya begini. Sedih banget Om waktu Papahku disebut-sebut koruptor, dan yang paling bikin aku jadi males kuliah adalah karena aku di labeli “anak guru koruptor” sama temen-temen. Hmmm. Yang aku mau tanyain Om, emang anak Om gak digituin juga sama temen-temennya ? Rasanya sedih banget lho Om digituin. Aku aja sedih banget. Apalagi anak Om yah.. Emang Om gak pernah mikirin sampe kesini ? Darah daging Om sendiri lhoo out lhoo..

makasih ya Om kalo pernah baca ini. Dan makasih juga telah menyakiti perasaan anak dengan harta !

salam cinta.

Pungky

Kamar Kosan 12 April 2010

dan untuk KALIAN !!! tolong jangan pukul rata para pekerja departemen keuangan ! Teriakan koruptor kalian harusnya sedikit saja mempertimbangkan perasaan anak dari orang-orang kalian teriaki !

***

Renungan: Bung Hatta, Sepatu Bally, dan Mesin Jahit

“In character, in manner, in style, in all things, the supreme excellence is simplicity.” Henry Wadsworth Longfellow quotes.

Apa yang langka dari pemimpin-pemimpin bangsa kita saat ini?’

Kesederhanaan.

Saat masyarakat terjerat oleh kemiskinan dan kemelaratan, para wakil rakyat yang kita hormati berbondong-bondong menghabiskan uang dalam dompet negara untuk plesir mewah dengan topeng studi banding, atau untuk tidur dalam gedung nyaman dan ber-AC.

Kesederhanaan.

Saat para pemimpin yang kita percaya terbelenggu dalam konflik kepentingan – saat masih sempatnya memikirkan keselamatan prioritas kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat dan kehilangan wibawanya, kehilangan amanahnya.

Kesederhanaan.

Saat pemimpin kita mengalami degradasi mentalnya karena kekuasaan dan harta. Membuat masyarakat dibutakan oleh teladannya.

Bertolak dari ‘kesederhanaan yang dirindukan itu’, saya teringat dengan suatu kisah di sebuah buku pelajaran yang pernah saya baca di Sekolah Dasar. Dan hingga saat ini masih sangat membekas di ingatan saya: Kisah kesederhanaan Bung Hatta dan kesetiaanya pada kepentingan bangsa.

Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally


Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.
Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.

***

Kisah Bung Hatta dan Mesin Jahit

Sewaktu Bung Hatta masih menjadi orang nomor dua di Republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Istri beliau - Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit.

Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Rahmi kemudian bertanya pada suaminya kenapa tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Bung Hatta menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri.

***

Kita semua merindukan sosok-sosok pemimpin yang demikian, seperti Bung Hatta yang meniadakan kepentingan pribadinya demi bangsa -bahkan hal-hal yang sangat biasa atau sederhana sekalipun seperti sepatu Bally dan mesin jahit - ataupun sosok Ahmadinejad yang sangat terkenal dengan kebersahajaannya.

Semoga masih ada sosok pembaharu unruk pertiwi yang sedang menangis ini di generasi kita dan generasi selanjutnya. Semoga…

*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

September 28, 2010

Verona - Sang Kota Cinta

Verona – sebuah kota yang menarik perhatian saya setelah menonton Letters to Juliet (2010). Keberadaan “Secretary of Juliet” di kota cinta tersebut yang diangkat dalam film ini adalah sebuah fakta yang sangat menarik. Mereka adalah relawan yang setia membalasi surat-surat yang berisi permasalahan cinta yang ditujukan pada tokoh fiktif Juliet Capulet (dari kisah Romeo-Juliet karya pengarang Inggris William Shakespeare). Atas bantuan Mbah Google, akhirnya saya pun tahu kalau relawan-relawan seperti di film ini ternyata memang benar adanya dengan beberapa nama seperti "Club di Giulietta" atau "Juliet Club".

Kelompok-kelompok tersebut berdiri sejak 1980-an dan dibiayai oleh Kota Verona. The Juliet Club yang telah aktif selama bertahun-tahun berperan penting untuk mempromosikan Legenda Romeo dan Juliet sebagai image kota Verona yang menangani korespondensi dan menyelenggarakan berbagai event budaya di sana. Mereka secara sukarela membalas ribuan surat yang datang dari segala penjuru. Mereka menawarkan saran dan dukungan atau hanya sekedar mendengarkan perasaan para pengirim yang menceritakan tentang kisah cinta mereka.

Hmmm, sepertinya kota ini harus saya masukkan dalam Waiting List kota impian saya setelah London ;)

Sekilas tentang Verona

Verona adalah sebuah kota di Veneto, Italia Utara, Italia; salah satu dari 7 ibukota provinsi di kawasan tersebut. Kota ini berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Milan. Verona menjadi kota keempat yang paling sering dikunjungi di Italia dan merupakan salah satu tujuan wisata utama di Italia Timur Laut, berkat warisan artistik, beberapa pameran tahunan, pertunjukan, dan operanya.

Verona penting secara historis dan ekonomis berkat lokasi geografisnya, di lengkungan Sungai Adige dekat Danau Garda. Karena kedudukannya, daerah ini berulang kali menjadi langganan banjir hingga tahun 1956, ketika Saluran Mori-Torbole dibangun, memungkinkan 500 m³ air dari sungai tersebut dialirkan ke Danau Garda bila ada bahaya banjir. Saluran tersebut mengurangi risiko banjir dari 70 tahun sekali menjadi 2 abad sekali.

Dalam drama Shakespeare, rumah balkon ini merupakan tempat pertemuan Romeo dan Juliet, sepasang kekasih yang tidak direstui kedua orang tua mereka karena kedua keluarga ini bermusuhan. Kini, Casa Di Guiletta dijadikan obyek wisata dan mampu menjadi daya tarik para turis. Apalagi di situ dibuatkan juga patung Romeo and Juliet dari tembaga yang mampu menambah kekuatan fantasi cerita percintaan tragis dua anak muda ini.

Rumah balkon tersebut menjadi salah satu situs pariwisatanya yang unik yang menurut legenda merupakan kediaman Juliet Capulet. Situs itu ramai pengunjung, terutama kaum perempuan. Sesuai tradisi, mereka menulis surat berisi pertanyaan atau curahan hati, dan “Juliet” akan membalas surat yang tertempel di tembok itu yang perannya dilakukan oleh Secretary of Juliet tersebut.

Keunikan Lain Kota Verona













Meskipun kisah Romeo dan Juliet merupakan fiksi romantis, namun kota ini dikemas dengan sejarah asli. Karena orang-orang Romawi kuno menganggap Verona sebagai tempat istirahat yang ideal sebelum melintasi Alpen, kota ini memiliki kekayaan reruntuhan Romawi. Di kota ini, bisa ditemukan Amphitheater Romawi ketiga terbesar di dunia yang berasal dari abad pertama Masehi dengan ukuran 138×109 meter dapat menampung sekitar 22 ribu penonton. Pada musim panas di tempat ini kerap diadakan pementasan opera, Dell’Opera Lirica.

Terdapat pula Tower Lamberti yang merupakan tower tertinggi di Verona yang dibangun pada tahun 1172, juga menjadi salah satu tempat yang tidak boleh terlewatkan jika kita berkunjung ke Verona. Bagi yang gemar berbelanja, langsung saja menuju Via Mazzini. Sebuah pedestrian street yang penuh dengan butik-butik bermerk terkenal papan atas.

Tempat lainnya yang juga menarik adalah Corso Porta Borsari yang merupakan salah satu area perbelanjaan elegan di Verona. Di sini, kita bisa berjalan-jalan sambil melihat sisa-sisa kota Romawi, relief abad pertengahan, dan facade tua indah yang tersebar diantara jendela-jendela toko mewah.
Dari Corso Porta Borsari, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Piazza Erbe, alun-alun pasar Verona. Tempat ini telah menjadi lokasi perkumpulan orang-orang sejak zaman Romawi.

Kini, Piazza Erbe adalah tempat bersantai bagi penduduk setempat yang memulai malam mereka dengan sebuah aperitivo (sejenis minuman beralkohol yang biasa dihidangkan sebelum memulai santapan). Piazza Erbe juga menjadi tempat berkumpulnya para generasi muda Verona yang biasa mengisi bar-bar. Selain bar, Verona juga memiliki restoran-restoran yang sangat baik.

Balai kota yang dikenal dengan sebutan Palazzo Barbieri terletak diseberang piazza, merupakan balai kota yang megah yang didirikan pada tahun 1883. Selain gedung balai kota, beberapa gedung tua yang berumur ratusan tahun pun dapat kita lihat di kota ini seperti Grand Guardia Palace, Palazzo Guastaversa yang merupakan hasil karya dari Sanmicheli, architect pakar yang beraliran Renaissance dan the Roman Amphitheatre, yang menjadi pusat piazza tersebut.

Sorot menarik lainnya dari Verona adalah evening passeggiata (jalan-jalan malam). Trotoar jalan yang lebar di Verona memungkinkan kita melihat pemandangan kota yang indah serta gaya hidup generasi muda di sana. Saat berjalan-jalan, kita juga akan menemukan kisah-kisah cinta kecil yang romantis.

Ya ampun, jadi sangat ingin punya kesempatan berkunjung ke kota ini!

*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

September 27, 2010

Family - A Moment in September


Wake me up when September ends…

Indeed, many precious moments happen in September: the days’ counting down of having graduation, having reunion and gather with my mom and dad again after a year, and saying goodbye with my boarding house – going back to my second parents, ones of lovely people in the world, my aunt and my uncle. Thanks for letting me celebrating fasting month and Eid ul-Fitr with full of laugh, gratitude, wonderful joy and caring. Yeah, it is: family – though I was away from home :’)

I don’t write any post for long time because of one reason: my electronic soulmate – Prince William – is having some injuries and hibernating until I can collect some money to fix it. I’m painfully sad, of course. Sad. But, I’m sure, everything happens because of reasons. For me, writing is like energy, nutritious foods. Without doing it, it feels like I’m losing a piece of puzzle of soul. So, I just write every simple thing in my mind, memorize it, and keep it until I can transfer it to my nerves in fingers, text them and dance in my black keyboards, then post it in my blog! Yeah, now I’m doing it, thanks for my uncle for providing the monitor. It really helps.

The happiest moments of my life have been the few which I have passed at home in the blossom of my family (Thomas Jefferson).

I’m totally happy right here - grown up with hardworking, hopes, virtues, and simplicity. This family gives me many special lessons of life. Lessons that I didn’t get by doing everything alone in my boarding house, by being solitude, or by reading books from the campus.

The love of a family is life's greatest blessing. I’m blessed and bloomed by their loves which replacing my parents’ right there. And it’s completely more than enough ^^.

Politik Waktu Dunia

Rasa penasaran saya selalu muncul saat menyaksikan program Liputan 6 Sore di SCTV. Coba perhatikan background di belakang penyaji beritanya; ada beberapa jam digital yang menunjukkan real time di beberapa negara. Tapi, yang paling menarik perhatian adalah, waktu yang ditunjukan oleh negara Singapura. Mengapa? Pada saat Jakarta masih menunjukkan pukul 17 lewat beberapa menit, di Singapura sudah pukul 18 atau lebih awal 1 jam. Padahal secara astronomis bisa diamati bahwa posisi Singapura sejajar dengan zona WIB Indonesia, atau hampir berhimpit dengan Provinsi Riau Kepulauan namun waktu di negara tersebut sama dengan waktu pada daerah-daerah zona WITA Indonesia.

Greenwich Mean Time

Perbedaan zona waktu dunia pada hakikatnya ditentukan oleh posisinya pada garis bujur. Garis Bujur adalah garis imaginer yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi. Pemberian angka pada garis bujur berdasarkan satuan derajat, satu lingkaran penuh 360o, setengah lingkaran 180o, dimulai dari 0o. Dan posisi 0o itu telah disepakati adalah garis yang melalui Greenwich di London (GMT). Karena satu putaran bumi itu memakan waktu 24 jam, maka perbedaan waktu 1 jam adalah pada 360o/24 = 15o garis bujur. Artinya setiap tempat yang memiliki perbedaan posisi bujur sebesar 15o akan memiliki perbedaan waktu 1 jam. Inilah pembagian zona yang dirintis oleh orang Kanada, Sir Stanford Fleming (1827-1915).

Sebagai contoh Indonesia terletak antara 95oBT-141oBT, jika dihitung dari garis 0o maka posisi di 95o BT ini memiliki perbedaan waktu sebanyak 95o/15o = 7 jam lebih awal dari waktu di Greenwich. Akibatnya, Indonesia terbagi menjadi 3 zona waktu (WIB, WITA, dan WIT) yang masing-masing berbeda 1 jam. Namun kadang ada negara yang tetap menggunakan patokan waktu berdasarkan "kepentingan" nya, nah inilah yang terjadi pada Singapura dan negara-negara lainnya.

Singapura dan Malaysia

Singapura menyesuaikan zona waktu dengan Hongkong, demi keseragaman "waktu" perekonomiannya. Selain Singapura, Malaysia juga menerapkan hal tersebut. Semenanjung Malaysia bisa disamakan waktunya dengan Sabah dan Serawak di Pulau Kalimantan (setara dengan WITA). Penyamaan waktu ini dilakukan pada era pemerintahan Mahathir Mohamad.

Lalu, apa keuntungan yang diperoleh Malaysia dengan kebijakan ini? Selain penghematan energi listrik di Semenanjung , aktivitas di seluruh negeri bisa berlangsung efektif karena dilakukan secara serentak. Selain itu, mereka yang berada di Semenanjung Malaysia akan lebih cepat memperoleh informasi dan lebih awal beraktivitas. Kondisi ini diyakini oleh sebagian warga Malaysia membawa pengaruh positif dalam peningkatan perekonomian mereka.

Belanda

Amati pula bagaimana masyarakat Eropa menyesuaikan jam pada waktu-waktu tertentu. Di Belanda, kebijakan menerapkan waktu musim panas dan musim dingin telah dimulai pada 1977. Setiap tahun waktu musim panas ini dimulai pada Minggu dini hari terakhir di bulan Maret dan berakhir pada Minggu dini hari terakhir di bulan Oktober. Sebenarnya waktu musim dingin ituadalah waktu riil, sedangkan waktu musim panas adalah waktu rekayasa. Pada saat masuk waktu musim dingin (akhir Oktober), Waktu mundur satu jam. Malam akan jadi lebih awal gelap, dan pagi menjadi lebih awal terang. Tepat jam 03.00 dinihari waktu resmi mundur satu jam ke posisi jam 02.00. Tidur malam juga menjadi lebih panjang satu jam. Selisih dengan waktu Indonesia bagian barat (WIB) menjadi 6 jam dari semula 5 jam di musim panas.

Motif penerapan waktu musim panas itu adalah untuk menghemat energi dan uang. Berkat kebijakan tersebut pada tahun 2006 misalnya,Belanda dapat menghemat energi listrik sebesar 350 juta KWh atau setara dengan 0,3% dari total penggunaan listrik di Belanda. Jika dikonversi ke nilai uang, penghematan itu sama nilainya dengan Euro 10/tahun per satuan rumah tangga atau Euro 60 juta (sekitar Rp 690 miliar) secara nasional.Sebuah nilai penghematan yang cukup signifikan.

China

Jika menganut pembagian zona waktu ala Indonesia, seharusnya Cina membagi wilayahnya menjadi empat zona waktu. Namun negeri yang luasnya 1/15 luas daratan bumi itu hanya menerapkan satu zona waktu saja. Artinya kita bisa saja menyepakati waktu/jam jika seandainya menguntungkan untuk semua.

Time Synchronization - Indonesia Single Time

Indonesia sesungguhnya juga dapat menghemat jutaan KWh dan uang miliaran rupiah per tahun, dengan menerapkan kebijakan yang serupa tapi tak sama. Misalnya dengan menghapus WIB, WITA dan WIT menjadi hanya satu zona waktu saja. Salah satu opsi yang mengemuka adalah waktu disamakan dgn WITA : WIB maju 1 jam dan WIT mundur 1 jam. Penerapan kebijakan satu zona waktu untuk seluruh Indonesia itu salah satu keuntungannya adalah akan membuat seolah-olah kedatangan malam menjadi tertunda di sebagian besar wilayah Indonesia, yang efeknya akan mendorong orang menunda menyalakan lampu. Berarti ada potensi penghematan energi di sini.

Selanjutnya, kota-kota bagian Barat Indonesia (WIB) yang relatif lebih dominan di hampir semua bidang dibandingkan Timur Indonesia utamanya ekonomi dapat memulai aktivitas dan memperoleh informasi lebih awal dari sebelumnya. Perdagangan internasional termasuk pasar modal & valas akan lebih awal dimulai & menjadi serentak dgn Hongkong dan hanya telat sejam dari Tokyo. Selain itu, aktivitas ekonomi diseluruh Indonesia dilaksanakan secara bersamaan. Contohnya: Bali dan Surabaya yang secara faktual hanya berbeda beberapa menit saja, namun akibat dari pembatasan wilayah waktu menjadi berbeda 1 jam.

Kerugian yang harus diperhatikan dari usulan kebijakan ini adalah selain biaya yang timbul, masalah utamanya adalah perubahan kebiasaan. Misalnya penduduk di Barat harus memulai aktivitas lebih awal, ketika hari masih agak gelap, perubahan waktu shalat yang mengikuti kaidah posisi matahari, sholat Dzuhur di Jakarta akan menjadi pukul 13.15, kemudian shalat Maghrib menjadi pukul 19.30 , menunggu matahari terbenam, dsb. Hal ini yang berlaku di Semenanjung Malaysia saat ini.

Mecca Mean Time

Karena adanya politik waktu ini, Pemerintah Mekkah akhirnya mengumumkan keinginannya untuk mengubah basis waktu dunia dari Greenwich ke Mekkah dengan pengumuman pendirian jam terbesar di dunia yang dikenal dengan Abraj Al-Bait Tower pada tahun 2004. Jam ini mulai berdenting hari Kamis 12 Agustus 2010. Sejak bulan puasa tahun ini jam ini diuji coba dan diharapkan menjadi alternatif panduan waktu bagi 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.

Rencana pemerintah Arab Saudi menggeser basis waktu dunia ini tentu bukanlah masalah sepele. Dari segi material saja pembangunan jam ini menghabiskan dana sebesar 800 juta dolar AS. Desainnya dibuat oleh desainer dari Swiss dan Jerman. Terlebih pada usaha menggeser waktu dunia ke Mekkah tentu bukan perkara mudah mengingat GMT yang telah digunakan selama 125 tahun ini dalam penetapannya juga melalui serangkaian proses yang alot.

Alasan yang digunakan dalam upaya penggeseran basis waktu dunia ini yang telah diungkapkan sebelumnya, Mekkah adalah zona magnet nol yaitu zona tanpa kekuatan magnet yang dibuktikan dengan tidak bergeraknya jarum kompas di Mekkah. Namun hal ini ditentang oleh ilmuan barat yang menyatakan bahwa kutub utara pada kenyataannya berada di garis yang melewati Kanada, AS, Meksiko dan Antartika.

Oleh karena itu dalam mewujudkan MMT ini pemerintah Arab Saudi harus menyiapkan konsep yang matang dan dapat meyakinkan berbagai pihak internasional. Karena ini sangat menghentak dunia yang diniali menentang konvensi dunia 1884. Jika MMT disepakati, maka pemerintah Mekkah harus mempunyai aturan waktu baru bagi dunia yang telah menggunakan GMT sejak dulu kala dan pada akhirnya diyakini akan menjadi titik balik Islam.


*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*