February 20, 2011

Kisah Sepatu Berusia 13 Tahun

“Andai saja sepatu itu bisa bicara, pasti dia sudah banyak bercerita…”

“Lho, kenapa Ma?”

“Sekarang malah adikmu yang mengenakannya”

***

Aku masih ingat dengan jelas saat kita berbondong-bondong pada Sabtu malam pergi ke Mall yang baru itu – Yuki Simpang Raya yang berlokasi dekat area Mesjid Raya Medan – dengan sepeda motor tua bersama mama, abah, dan seperti biasa aku duduk di jok depan. Saat itu aku masih kelas III Sekolah Dasar, dan masih jadi anak tunggal. Karena baru buka, sale besar-besaran pun diadakan setiap hari.

Saya sedang butuh sepatu hitam bertali untuk ke sekolah. Saya dan abah membeli sepatu dengan model yang sama tetapi dengan nomor yang berbeda. Harga sepasang sepatu itu pun masih saya ingat dengan jelas, yakni Rp 18.000,-

Saya mengenakan sepatu itu hingga hampir dua tahun – sampai saatnya nomor sepatu itu tidak pas lagi dengan ukuran kaki saya. Dan sepatu itu pun beralih kepemilikannya kepada yang lain.

Dari dulu sampai sekarang, saya memang selalu bermasalah dengan sepatu. Baru dipakai sebentar, eh, sudah rusak. Karena kawasan rumah saya adalah kawasan banjir, maka sang sepatu pun selalu jadi korban. Alhasil, karena tak ada alas kaki yang memungkinkan, saya pun terpaksa sering memakai sepatu hitam Abah itu. Memang cukup baik untuk melindungi kaki saya, tapi ukurannya tidak pas – alias kegedean. Saat itu saya masih SMP dan sering jadi bahan tertawaan.

Waktu pun berlalu, kawasan rumah saya semakin rawan banjir. Hujan deras beberapa menit saja air sudah menggenangi jalan dan saat itu kami harus membuat benteng dari papan-papan di depan pintu untuk mencegah air masuk, mengangkat barang-barang ke atas kursi, dan bersiap-siap dengan ember karena bocor bisa datang dari bagian langit-langit yang mana saja. Lagi-lagi, sepatu saya jadi korban. Dan, sepatu Abah itu yang jadi penolong. Masih sangat baik untuk melindungi kaki saya, dan ukurannya sudah pas. Hanya saja saya tidak menggunakannya setiap hari – saat hari hujan saja karena harus bergantian kalau sewaktu-waktu Abah membutuhkan dan saya masih sangat menyukai sepatu saya yang lama.

Sejak saya kuliah, saya sudah tak pernah lagi mendengar kabar sepatu itu. Hanya saja, mungkin, Abah masih suka memakainya kalau pergi ke tempat-tempat yang jauh atau bahkan ke acara keluarga – karena pada kenyataannya usia sepatu pantofelnya jauh lebih tua dariku dan keadaannya masih baik-baik saja.

Dan, yang membuatku terharu adalah pada tanggal 10 Oktober 2010; yakni pada saat Abah, Mama, dan adik tiba di Jakarta untuk menghadiri wisudaku, Abah masih mengenakan sepatu itu. Dan untuk hari istimewaku, Abah mengganti pantofelnya dengan yang baru. Ya, untuk pertama kalinya.

Saat ini, sepatu itu masih berada di posisinya – mungkin di baris teratas rak sepatu di dekat dapur. Tapi sudah ada kaki lain yang mengenakannya. Kaki itu milik adikku yang sekarang berusia sekitar 12 tahun. Sepatu itu masih menjalankan tugasnya dengan baik, dan ukurannya sudah pas, sehingga adik bisa pergi mengikuti wisata sekolahnya tanpa disibukkan dengan urusan sepatu yang tiba-tiba rusak kemarin. Alasannya sama, aku dan adik sama-sama bermasalah dengan sepatu dari dulu sampai sekarang. Dan, sepatu milik Abah itu kembali jadi penolong.


Benar kata Mama, jika sepatu itu bisa bicara, mungkin dia sudah bercerita banyak. Ya, dia yang mengikuti perjalananku dari SD, SMP, SMA, hingga menjelang masa-masa wisuda; dan juga mengiringi perjuangan Abah hingga sejauh ini.

***

Sudah 13 tahun, entahlah, aku memang terharu mendengar ini: “Sekarang malah adikmu yang mengenakannya”

February 19, 2011

#1 Voila!

Akhirnyaaa, Diklat Teknis Substansi Dasar Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah (DTSD HKPD) Angkatan II yang diselenggarakan di Pusdiklat KNPK Jurangmangu pada tanggal 7-17 Februari 2011 berakhir.


Setelah 10 hari bersama di asrama, belajar bareng-bareng setiap hari dan ditambah program peningkatan berat badan (lalalaaa -___-“), saya benar-benar menikmati kebersamaan bersama angkatan 2010 DJPKers ini. Terutama untuk teman sekamar saya – Ummi Zulianti – yang dengan sabar memaklumi semua tabiat buruk saya (nyahahaa), I’m gonna miss the crazy memories with her. Yap, mulai dari menghapal bareng dan beberapa menit kemudian udah ketiduran di balik selimut, curhat dan tukeran pengalaman hidup, lompat-lompat dan nyanyi bareng, dinobatkan sebagai pasangan sekamar paling unyu dan lugu (tidak membanggakan -___-), dan tentunya kenangan paling memorable adalah adegan saat teman sekamar saya ketakutan histeris karena saya dianggap mirip hantuuuu. Ya ampuuun, huhu, efek kebanyakan denger cerita horror itu mah…

DTSD berakhir, saatnya ngantor lagi (walaupun cuma sehari dan rasanya waktu berjalan sangat lamaaa) – sekarang waktunya untuk Diklat Teknis Substansi Spesialisasi I!

Another special ten days! Bismillah, Semoga luluuus dan dimudahkan sampai akhir :)

Move On!

I’m on the crossroad of being perfectionist and being realistic, but still at the same street namely complex.


It’s difficult – somehow. And I’m in learning process to be not on that way. The result is – I am much better now.

Maybe it’s true that the most expensive forgiveness is apologizing to yourself, and the biggest enemy of yours is future. But it doesn’t mean that you should pressure yourself too hard and being weakened by such a deep guilt.

I remember that someone’s ever said, “It’s really okay to be you. But, you have to sign that life is not perfect and you have to accept it and make it. That’s what we call as adjustment”

And maybe it’s true that sometimes you need to have two characters, two faces – not fake masks – but it’s a kind of adjusment. In some condition, you can be a cute silly lovable girl, and in the other hand, you can be a serious pushful dreaming girl. And it’s extremely contrasting. But it’s really okay. I’m on my way – and I’m much better now.

Adjustment prevents us not to lose ourselves. It’s really okay for you to be the ‘real’ you – but not to push your self too hard. Hey idealistic-harmonic girl, look! How many persons loving you just the way you are? :)

Shake hand to yourself – love her, and move on!

Paradoks

Sepi dan sendirian itu berbeda.


Mungkin, ada yang menyukai kedua-duanya, ada pula yang sengaja menciptakannya, dan ada yang memang tak menginginkan keberadaannya, lalu membenci kedua-duanya.

Demikian pula denganku.

Aku tak suka sepi, tapi aku suka sendirian – dengan pengecualian. Karena kedua komponen itu bukanlah konstanta, tergantung variabel yang mempengaruhinya, maka pernyataan itu tak berlaku setiap waktu. Ya, hanya, kadang-kadang.

Sepi adalah keadaan di mana aku tak bisa berdamai dengan pikiranku. Paradoks. Saat kau berada dalam keramaian, walau tak sendirian, mungkin kau merasa sepi karena pikiranmu mungkin terus bergumam, “ini bukan tempatku…” atau “ini bukan aku” atau “aku ingin cepat-cepat keluar dari sini” dan masih banyak atau-atau yang lainnya.

Sedangkan sendirian adalah keadaan di mana aku sebagai jiwa yang bebas yang seirama dengan pikiranku – tak bergantung ataupun bersama yang lain yang bisa kauandalkan saat itu, tapi kau bisa mengandalkan dirimu, dan kau menyukainya. Aku suka berada di rumah sendirian, nonton sendirian, makan sendirian, jalan-jalan sendirian, dan melakukan segala sesuatunya sendirian lalu bersibuk-sibuk ria dengan pikiranku. Produktif, mengisi waktu, bukan menghabiskan waktu. Ya, yang paling penting, aku menyukai keadaan itu. Sibuk, bahagia, hingga lupa dengan rasa sepi.

Namun, lagi-lagi, kedua komponen itu juga hanya berlaku kadang-kadang.

Sendirian tidak selamanya menyenangkan. Akan muncul satu titik dimana kau malah merasa sepi – butuh orang lain, teman sebaya, ataupun orang yang kau cinta, dan orang yang bisa kau andalkan – untuk bersamamu, berbagi makanan bersama, menggandeng tangannya, dan meminjamkan telinganya lalu menepuk bahumu seraya berucap “Kamu hebat!” atau “Kamu akan baik-baik saja!”

Dan, sebaliknya, sepi juga tidak selalu menyedihkan. Kau butuh sepi untuk bisa mengenal dirimu ataupun berperang dengan zona nyaman lalu bangkit dengan kemenangan, “Aku bisa mengatasinya. Aku baik-baik saja”

Lalu, bagaimana perasaanku saat ini?


Ya, aku sedang sendirian, namun aku tak merasa sepi. Masih ada film-film yang bisa ditonton, ide-ide yang bisa ditulis, isu-isu sosial dan politik yang bisa dikritik, buku-buku yang bisa dibaca, lagu yang bisa didengar, akhir pekan yang masih panjang, dan masih banyak daftar dan-dan-dan yang lain.

Tapi, tetap saja, tetap saja. Aku manusia yang dianugerahi rasa bosan – dan ujung-ujungnya, sepi.


It’s true.
Without you, I’m still me.
But with you, I’m better me.

February 1, 2011

Rumus Bahagia

Kebahagiaan itu sederhana.

Hari ini aku kembali membuktikan hal tersebut. Rumus utamanya, kita bertanggung jawab pada kebahagiaan dan suasana hati kita sendiri. Maka, aku pun belajar hari ini.

Kebahagiaan itu dimulai dengan menyingkirkan sedikit saja keegoisan, mau beranjak dari tempat duduk, menutup jendela mozilla firefox, dan menonaktifkan handphone beberapa menit. Lalu kau mencari pembolong kertas, mengumpulkan tumpukan dokumen yang tak terurus selama bertahun-tahun, menyortir dan membundelnya dengan perlahan, lalu menyusunnya kembali ke dalam lemari.


Dan kau lihat bagaimana senyum-senyum itu mengembang; baik yang tampak maupun yang tidak. Dan aku pun ikut tersenyum melihat sang lemari sudah bisa bernapas dengan lega.

Karena hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang sederhana, dari beberapa lembar kertas yang tak kau anggap berharga tapi berdampak pada proyek milyaran rupiah, atau lemari yang enak dipandang di sudut ruangan, dan segala sesuatunya akan membuatmu percaya bahwa ini adalah proses menjadi layak.

Aku akan membuktikannya lagi besok. Dan besok. Dengan cara berbeda, tapi masih, rumus yang selalu sama :)


*terima kasih buat sang pemberi rumus yang bersedia mendengar keluhanku di saat-saat tak wajar, dan buat mbak Theresia Ratri Widyastuti atas motivasinya – pembelajar yang luar biasa*

Refleksi: Penjara Batin

“Aku hanya ingin minta maaf. Aku hanya ingin. Jika kau tanyakan untuk apa, aku sungguh tak tahu”

Dan aku bisa menyimpulkan bahwa rasa bersalah adalah pembunuh berdarah dingin untuk batin perempuan. Kenapa demikian? Karena tak terdefinisi dan tak bisa diprediksi bagaimana dia akan datang.


Hai, rasa bersalah, tolonglah jangan bunuh aku. Jika satu, dua, tiga menembakkan senjata menerobos pintu rasa bersalahku, aku menjadi sangat lemah. Ya, lemah.

Perempuan – terpenjara oleh perasaan dan kerumitan. Kadang kau lihat dia begitu bisu dan di detik berikutnya dia kembali riang. Dia hanya perlu diyakinkan, bukan sekali – tapi berulang-ulang. Bukan sering, hanya sesekali.

Titik

Ya, akan ada suatu titik dimana kau tidak akan menganggap kisah-kisah romansa di novel-novel fiksi itu hanya sekedar letupan kacang goreng, kelap-kelip lampu malam pun tak bisa lagi mencandaimu, dan lagu-lagu nina bobo patah hati dan berdarah itu pun menjadi makanan lezat untuk telingamu.

Dan, kau pun mendadak menyukai pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tanpa bosan kau utarakan berulang-ulang di saat yang tepat ataupun di jam-jam tak masuk akal. “Sudah makan?” “Sudah tidur?” Bukan lagi menjadi tuntutan, tapi kebiasaan, harus, ingin sekali terus menanyakan itu. Selalu penasaran ingin tahu kabar dan keadaanmu.

Lalu, sesekali kau mencoba hilang. Marah. Cemburu. Tapi, kau menyerah, dan keluar lagi dari ruang persembunyianmu, melukis jejakmu sendiri. Yang ingin dicari malah mencari-cari.


Anehnya, kau menjadi tergila-gila pada hujan. Suka sekaligus benci. Karena hujan melekatkanmu pada kerinduan dan kenangan. Dan hujan menganalogikan pada sesuatu yang kau punya dan tak ingin kau tunjukkan: air mata.

Pada akhirnya, kau seperti memiliki toples dalam pikiranmu untuk mengumpulkan sekeping demi sekeping ingatan yang kau punya untuk kau buka di saat kau butuh hangat, merah, dan baunya. Lalu mendadak kau pun baik-baik saja.

Titik.