April 29, 2011

Writer's Block

Bonjouuuur!

Sudah seminggu saya tidak posting di blog, dan pada akhirnya – tadaaa– saya kena writer’s block. Huhuhu. Writer’s block – dalam definisi pribadi – adalah kondisi dimana seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk mengembangkan ide menjadi tulisan atau malah tidak punya ide sama sekali, stuck, padahal kalimat-kalimat sudah bergentayangan di dalam pikiran selama mengerjakan tugas di kantor, merem-melek di angkot, atau leyeh-leyeh dengan William sebelum tidur, dan tangan rasanya gateeel banget pingin nulis, tapiiii… Whuuuuzzz!


ALAKAZAM! Dengan sekejap ide itu lenyap, yap, alasannya adalah ide yang muncul tidak langsung ditulis saudara-saudaraaa, sehingga yang sudah melekat di dalam memori dan di dalam hati (halah) langsung lenyap. Dan kalaupun besok dan besoknya ingin ditulis lagi, feel dan soul dari tulisan itu sudah hilang – analoginya gini, kalau hari ini kita sedang patah hati yang pastinya kita pingin nulis hal-hal yang berbau air mata dan psikopat (wekeke) nggak akan nyambung lagi kalau ditulis tiga hari kemudian, misalnya – yakni saat kita sedang berbunga-bunga.

Jadi inti dari tulisan curhat ini adalah:
kalau ada ide bagus, sebaiknya langsung ditulis, atau boomyou’re gonna lose it, beibih! Karena sesuatu memang baru terasa berharga di kala dia hilang (jiaaah, daleeem) :P

Dan, berdasarkan hasil introspeksi diri selama seminggu ini, berikut adalah beberapa alasan mengapa saya terinfeksi writer’s block, yakni:

a. Long weekend – yang biasanya saya habiskan dengan William di dunia maya membuat saya tersadar bahwa dunia nyata jauuuh lebih indah saudara-saudaraaa *blushing-blushing*

b. Saya ketagihan nonton serial How I Met Your Mother! Oh, I’m in love with Ted – and I’m curious who the mother is – unfortunately, maybe she can’t be Robin. Huhu. I can watch these series hundreds of time like I have never got them. Dan setelah nonton, saya langsung terlelap dengan pulas. Yaaah.


c. Saya sangat menikmati hari-hari dan pekerjaan di kantor – yang membuat saya lupa nulis (halah) – apalagi setelah kembalinya partner ruangan yang luar biasa ekspert dengan pengalaman hidup dan patah-hati-tumbuh-lagi :D *high-five*

d. Dan alasan yang paling ironis (dan dibuat-buat) adalah pernikahan Kate-William yang membuat saya frustasi, fufufu. I’m not the only one girl living in the dream land :P

Yah, alasan-alasan di atas hanyalah pembenaran dari pengingkaran janji saya untuk menulis dengan rutin – dan sekarang, saya berusaha melawan writer’s block ini dengan menuliiis apa saja yang ingin saya tulis termasuk curhatan random ini, hehe (mohon dimaafkan, yaa cah bagus dan cah ayu, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat yang sedang punya problem yang sama :D). Selain itu blogwalking, blogcycling, ataupun bloghiking (jiaaaah) – juga sangat membantu untuk memotivasi kita aktif menulis dan memperluas ruang pandang kita terhadap hidup dan warna-warninya.

Dan juga rasanya luaaaar biasa saat ada yang menanyakan begini: “kapan posting lagi?” atau jarang-jarang kan disapa di kantor dengan cara yang begini: “Mbak, yang punya blog ya?”

*pingsan*

Being a blogger is awesome! Mungkin ada yang memanfaatkannya menjadi peluang bisnis, berbagi ilmu, berbagi pengalaman atau popularitas, tapi buat saya adalah kenikmatan tersendiri saat kamu bisa membagi kisah-kisah hidupmu dengan orang lain, memperluas networking, ataupun menemukan ‘sesuatu’ saat mengoogling namamu sendiri. Hihi.

Sudah hampir 2 tahun blog ini tumbuh, tepatnya tanggal 15 Juli 2011 mendatang (masih lama, neng) – dan saya beneran ingin merayakannya – dengan hanya makan es krim sendirian misalnya. Yah, karena blog ini telah menemani proses pendewasaan diri saya, secara mental dan emosional, tumbuh dan tumbuh.

Jadi, mari kita menulis lagi – writer’s block, out of my way! :D

April 20, 2011

Musim Semi

"Just because it didn't last forever doesn't mean it wasn't worth it".


Ini musim semi. Sekali lagi, dia datang tepat waktu. Mungkin baru kemarin, atau minggu lalu, tapi tak mengapa – tak pernah terlalu cepat untukku – karena menunggu rasanya lebih menyiksa dari itu.

Baiklah, mari kita berjalan-jalan. Karena ini musim semi, maka izinkanlah aku untuk bertingkah lima atau sepuluh tahun lebih muda dari yang sekarang. Akan kukenakan rok merah muda terbaikku yang bergoyang-goyang mengiringi angin senja dan lompatan-lompatanku di sepanjang jalan setapak yang penuh dengan bayi-bayi bunga. Lalu kau membelikanku sebatang lolipop berwarna kuning cemerlang – aku tak mau, tapi kau memaksa. Ini musim semi, jangan khawatir, harganya jadi tak terlalu mahal. Dan jangan lupa menyikat gigimu, katamu. Tentu, jawabku.

Semua makhluk merindukan musim semi. Dirindukan – karena tak bisa dinikmati setiap hari. Ini akibat dari revolusi, kata Bumi. Tapi Bumi, musim semiku bukan karena matahari, tanggapku saat itu. Jadi janganlah cemburu. Dia pun tersenyum malu-malu, tak sadar disaksikan oleh Venus dan Mars, juga bulan yang membiru.

Kuceritakan pada Bumi bahwa aku dan kau punya sumbu rotasi yang berbeda – bergerak di poros yang tetap dan mengikat tak memaksa – dengan sudut putaran yang tak pernah sama. Kadang satu hari terasa sesingkat mengunyah permen karet, atau selama perjalanan dari utara ke selatan. Tapi ini musim semi, dan waktu sering berkhianat. Aku tak suka.

Aku dan kau punya revolusinya sendiri. Kita saling mengikuti – kadang kau tak tampak, dan aku surut. Kemudian aku menyendiri, dan malah kau yang pasang. Lalu kita saling mencari, tarik-menarik sambil memproduksi medan magnet dengan gaya yang tak dapat dihitung secara teori. Dan aku pun menangis, tak apa katamu. Karena ini musim semi, tanah sering basah oleh hujan – maka pipiku pun boleh basah.

Demi bulan jingga di langit violet yang masih setia di ufuk timur saat matahari merangkak malu-malu, ini musim semi. Tapi tak setiap hari. Esoknya mungkin kau temui musim panas hebat yang membuatku tak ingin bertemu, atau musim dingin yang memaksaku menyukai jaket berbulu – bukan dekapanmu.


Hey, nikmati saja hari ini. Masih ada beberapa menit sebelum gelap. Ini musim semi, dan esok tak pasti – entah kau yang meninggalkan atau aku yang pergi, juga tak pasti. Karena ini musim semi, maka aku tak ingin merasa kehilangan – seperti pada musim gugur.

Jadi, boleh kita berjalan-jalan lagi?

April 19, 2011

Sepercik Kisah dari Jalanan #3

Curhatan ini terinspirasi dari kisah pulang kantor tadi malam.

Hujan selalu membuat jalanan Jakarta jadi liar. Lalu sang hujan pun memanggil rekan seperjuangannya bernama macet. Banjir. Panik. Dan mereka.


Mereka –para penghuni jalanan yang memadati ibukota– mulai dari pengamen cilik, pengemis, ojek payung, pemberi jasa bersih-bersih kaca mobil dadakan, dan semuanya tumpah ruah mencari rezeki turun ke jalan.

Seperti biasa, pemandangan menuju terminal Kampung Melayu tidak pernah menyenangkan – terutama di saat hujan – sampah-sampah menumpuk menggenangi bahu jalan. Lalu para pengamen masuk nyelonong ke angkot; ada yang memang niat ngamen dan layak diberi, ada pula yang menyanyikan lagu karangan sendiri yang liriknya hanya satu baris lalu diulang-ulang sekedar jual rasa kasihan, dan ada juga yang berorasi memaksa para penumpang untuk minta ‘dihargai ancaman dan teriakannya’ agar diberi sekeping uang logam atau selembar ribuan. Jujur saja, untuk yang terakhir ini sangat menyebalkan karena membuat takut semua penumpang termasuk saya yang berada tepat di sebelah bocah itu! Huff.

Sesampai di terminal, angkot saya sudah diserbu oleh segerombolan anak tanpa alas kaki yang menawarkan jasa ojek payung hingga para penumpang kesulitan untuk turun dari angkot.

Oh, dear, that’s life! :(

Sesegera mungkin saya berjalan keluar dari terminal hingga mendekati jembatan penyeberangan dengan harap-harap cemas kalau sepatu saya rusak (lagi) diterpa genangan-genangan air. Yah begitulah, saya memang selalu bermasalah dengan sepatu dan juga belum ada rapelan yang bisa dialokasikan untuk mendanai sepatu baru (jiaaah, daleeem, curhat!). Sebenarnya tempat itu bukan tempat yang biasa untuk menunggu metro mini, tapi karena metro mini ini jadi favorit dan datangnya jarang-jarang, saya pun ikut nimbrung berlari-lari mengejar metro mini di jalur busway dan mulai terampil serobot sana-serobot sini.

Living in Jakarta is like growing to be an egoist or antipathy, right? :(

Dan di balik kesemrawutan itu, berbondong-bondong bocah-bocah cilik langsung ambil posisi dan menyanyikan lagu Bukan Bang Toyyib yang membuat saya pusiiing sekali. Oooh, tapi syukurlah sekarang bisa duduk tenang menuju rumah dan memandang hujan dengan nyaman.

Life is hard, but we have to be harder, dear.

April 18, 2011

Buta Arah

Ternyata saya mengalami ‘buta arah’ yang cukup paraaah.


Buta arah adalah kondisi dimana seseorang kesulitan menghapal jalan, menentukan arah, dengan gejala kronis sering nyasar, dan walaupun sudah pernah ke tempat itu sekali atau berkali-kali, tetap saja nyasaaar.

Berdasarkan buku Why Men Don’t Listen and Women Can't Read Maps, disebutkan bahwa:
Pada umumnya wanita memiliki kemampuan ruang yang terbatas.

Dan saya salah satunya
.

Kemampuan ruang saya lemah sekali, oleh karena itu saya tidak pernah bisa menjadi penunjuk arah yang baik (*sigh). Dan, mungkin, itu alasannya saya sering kemana-mana sendirian karena saya tidak perlu melibatkan orang lain menjadi korban ‘kenyasaran’ saya, sekalian saya bisa berlatih untuk memahami arah dan jalan tanpa bantuan orang lain. Walaupun konsekuensinya harus tanya sana-sini, muter-muter di jalan yang sama, atau sesekali pingin teriak “aaaaaah, ini dimanaaa?”

Wanita tidak memiliki kemampuan ruang yang baik karena mereka mengembangkan keterampilan berburu sedikit saja dibandingkan pria.

Ya, memang benar, ada hubungannya dengan nenek moyang kita di masa lalu. Kalau dianalogikan dengan masa kecil saya, sejak kecil saya adalah anak rumahan sejati, yang kemana-mana diantar jemput dan tidak diizinkan pergi ke luar rumah sendirian. Jadi, jalan yang saya tahu adalah jalan menuju rumah-sekolah, atau rumah-mall dan masjid dekat rumah yang hanya beberapa meter. Bahkan, saya tidak tahu bagaimana cara menyeberang, dan angkot ini jurusan apa, atau jurusan X dan Y itu dimanaaaa???

Parahnya, efek buruk dari menjadi gadis rumahan tersebut menempel erat sampai sekarang. Kalau saya pulang ke Medan, mohon maaf sekaliiii, saya nggak tahu jalan kemana-mana. Jadi tetap masih dianter jemput Abah, atau gampangnya naik becak motor, langsung sampai ke tempat tujuan *sigh* *memalukan*

Syukurlah, sejak di Jakarta, buta arah saya semakin membaik. Saya sudah berani berkelana ke tempat-tempat yang jauh, tahu ini dimana dan itu dimana, bisa baca jurusan di angkot, walaupun masih sering nyasar. Dan, saya selalu merasa bersalah karena tidak bisa menjadi penunjuk arah yang baik. Jadi, buat yang saya sering bikin nyasar dan sebel (sebut saja pacar saya) karena saya hanya bisa ngomong ‘emmm’, ‘ehhh’, ‘kayaknya lewat situ deh’, dan situasi kebingungan ini sangat menyiksaaa, huhuhu.

Nah, yang saya lakukan untuk mengobati buta arah saya ini adalah:

1. Bereksperimen. Artinya, berani nyasar atau berani mencoba tempat-tempat baru, dan setelah mencoba sekali atau dua kali, pasti sudah paham arah yang benar dan paling dekat itu lewat mana.


2. Karena saya orangnya visual, maka saya harus menetapkan hint tertentu untuk mempermudah saya mengingat jalan. Misalnya, kalau mau ke rumah si A, saya harus belok jalan ini yang di sebelah kirinya ada pohon besar, atau ada rumah warna merah, atau ada bengkel. Masalahnya, kalau pohonnya sudah ditebang, warna catnya sudah ganti, atau bengkelnya sudah pindah, baru deh bingung lagi. Hahaha.

3. Dan kalau saya sedang di angkot, naik ojek, atau naik taksi, biasanya saya harus melihat kiri-kanan dan lagi-lagi memberi tanda agar dapat mengingat. Jadi seandainya saya nyasar atau mau ke tempat yang sama, saya nggak ragu lagi karena saya ingat saya pernah lewat sini dan saya bisa tepuk-tepuk dada, “Beneeer, ini arahnya!”

Karena saya sudah tahu kelemahan saya ini, saya bersyukur kalau saya dulu tidak masuk dan meneruskan jurusan teknik. Ya, itu alasannya, kemampuan ruang saya sangat tidak bisa diandalkan *hukshuks*

Tapi percayalah, di setiap kelemahan pasti ada kelebihan, saudara-saudara :) :)

Dan, pastinya, saya akan terus berusaha meringankan ‘kebutaarahan’ saya ini. Lalu berkomitmen untuk belajar naik sepeda atau naik motor (efek buruk anak rumahan yang lain) lalu belajar mengemudi (mimpi, hehe) karena tidak seumur hidup saya bisa dibonceng atau naik kendaraan umum teruuuus.

Kan mau jadi wanita super yang mandiri, hehe :D :D

April 14, 2011

Let's Write :)

“Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)


Dan untukku, menulis adalah salah satu makanan jiwa. Kau bisa menyimpan air mata, tawa, cinta, dan kekecewaanmu lewat jejak-jejak tinta dan loncatan-loncatan sepuluh jari di meja kerjamu. Setelah itu, kau bisa menghela napas dan merasa jauh lebih baik.

Menulis itu layaknya cermin – kau belajar berproses dan berbincang dengan dirimu sendiri. Dan bayangannya, bisa kau bagi dengan orang lain setelah kau kemas dengan cantik.

Jadi, mari menulis – sebelum menulis dianggap ilegal :P

Out of On :)

Hilang dari peredaran itu terkadang menyenangkan.


Dua minggu diklat dengan handphone rusak – memaksa saya tidak bisa online untuk terhubung dengan jejaring sosial atau sesekali mengintip tentang apa yang terjadi di dunia beberapa menit sekali – rasanya aneh pada awalnya, seperti hilang dari peradaban (halah), tapi ternyata saya baik-baik saja dan saya menikmatinya :D

Jejaring sosial memang membuat kita mudah berhubungan dengan teman atau kerabat – yang dekat bisa menjauh, yang jauh bisa mendekat. Efisien memang, tapi kita tetap membutuhkan interaksi langsung – dan ini sebuah keterampilan. Kadang, orang-orang yang terlihat sangat akrab di dunia maya tampak sangat kaku dan bahkan tak saling menyapa di dunia nyata.

Saya juga mulai membatasi update status – bahkan sudah jarang sekali, alasannya status membuat orang lebih mudah mengeluh, sombong, berbangga diri, ataupun menimbulkan konflik. Lagipula nggak seru juga kan kalau orang tahu terlalu banyak tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita?

Tapi, saya tetap jatuh cinta sama twitter karena sudah bisa jadi pengganti televisi – yang akhir-akhir ini sangat lame – dan membuat kita sangat update terhadap dinamika dunia hanya lewat satu layar berukuran beberapa sentimeter :D tapi penggunaan twitter juga harus paham etika – ya pencitraan itu kadang penting – karena dunia 140 karakter itu digenggam oleh berjuta-juta kepala dengan pemikiran yang berbeda.

Yap, hilang dari peredaran juga jangan lama-lama, karena saya tetap harus berkunjung ke taman ini, melihat perkembangan visitors, mengunjungi rumah seribu kisah teman-teman yang lain, atau menambah benih baru di blog ini. Dan buat saya, blogging ataupun blogwalking adalah salah satu media pemulihan jiwa.

Dan, efek paling luar biasa untuk hilang dari peredaran adalah membiasakan diri untuk tidak bolak-balik ngecheck handphone sekedar lihat mention, notification, ataupun memberitahukan apa yang saya makan, saya inginkan, atau saya lakukan saat ini berulang-ulang.

Lalu, kamu akan tahu siapa yang benar-benar merindukanmu atau peduli terhadap kabarmu karena tidak melihat namamu berkeliaran di jejaring-jejaring sosial itu :)

Saya tetap tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup berpuluh-puluh tahun yang lalu yakni saat telpon masih sangat mahal, sms belum ada, internet belum dikenal, dan yang bisa dilakukan hanyalah menulis surat. Wow, tabungan rindunya pasti sudah penuh sekali, hihi.

*okay, inti dari tulisan ini adalah: cepatlah turun rapeeel supaya bisa beli handphone baru :s *

April 12, 2011

You are Beautiful

Woman: The situation never makes me confident. I’m not beautiful :(

Man: Yes, you are.

Woman: I’m sorry I can’t be like them.

Man: You don’t have to be that way. Dear, you just have to open your mind, and see everything clearly – that you are beautiful as you really are – your heart, your brain, your words, and your attitude are amazing and I do love you.


Because – note this – the power of true beauty doesn’t come out from makeup, luxury, or how many people staring at you but when you are…

Woman: loved especially by yourself.


And it explains everything :)

La Tahzan

Kondisi ini laksana huruf M – kita berada di tengah-tengah deretan alphabet yang ditopang dengan dua garis vertikal sejajar dan saling bertolak belakang.

Aku sadar,diam terjebak di dasar, dihantam oleh kedua tiang pancang yang sama-sama melangkah ke arah diagonal. Lagi, tepat di tengah-tengah.


Berada di tengah-tengah itu tidak menyenangkan.

Aku berusaha berjinjit untuk mencari jawaban, kiri, kanan, dan aku – semua hanya bisa geleng-geleng.

Aku ingin keluar dari zona yang membuatku terhimpit, menjerit, sakit dan aku seperti balita yang renta di antara orang dewasa yang membuatku bertanya-tanya.

Kenapa?

Tak tahu, tak tahu, tak ada yang mau memberi tahu.

Karena memang tak butuh alasan, layaknya untuk dicintai – demikian pula untuk dibenci.

Tetaplah tegak, karena aku adalah huruf F – berdiri menopang dua beban yang tak seimbang dengan satu kaki. Tak boleh goyah, tak boleh.


La tahzan, innallaha ma’ana.


*didedikasikan untuk jiwa yang lemah dan kalut - itu aku*

April 11, 2011

To Be Together

Some people are meant to fall in love with each other, but not meant to be together.


Boleh jika aku tak sepenuhnya setuju?

Karena sungguh tak mengapa, jika makna bersamamu itu hanya berkisah beberapa menit – saat kita menikmati sekerat roti gandum dengan selai strawberry, mengunyah pelan-pelan, sengaja agar kamu atau aku lebih betah berlama-lama, bercerita tentang hari yang biasa-biasa saja atau tentang aku juga tentang kamu dan mungkin tentang impian masa depan yang hanya bisa kita goreskan dalam diam.


Barangkali, makna bersamamu itu hanya seukuran beberapa jengkal – saat kita menghirup teh di udara terbuka sambil menatap langit atau bongkahan awan. Dan kita sadar bahwa matahari tak kemana-mana, dia hanya suka ngumpet di balik mendung, pura-pura tenggelam ke samudera, atau berbagi tugas dengan rembulan, karena dia tetap di tempatnya dalam putaran yang konsisten di sumbunya. Begitu juga denganku – yang mungkin tak pernah bisa bersamamu lebih dari setengah rotasi bumi – tapi aku tetap diam di tempatku, hanya suka ngumpet agar kamu mencariku, pura-pura tak mampu di balik kemandirianku, atau berbagi senyum denganmu, karena sebenarnya aku tak pernah kemana-mana, tetap tidur dengan nyenyak di balik selimut hatimu.


Kita berdua tahu bahwa bersamamu adalah sesuatu yang sudah diatur – tetapi bahagia adalah pilihan. Dan bahagia karena jatuh cinta padamu juga sebuah pilihan entah pada akhirnya kita akan bisa melompat menuju titik yang sama itu. Mungkin, dari sekian banyak lompatan, aku pernah jatuh, atau kamu yang lunglai, hingga kita terpisah karena persimpangan yang membuat kita berbeda arah atau hujan deras yang memaksaku untuk berteduh tetapi kamu tetap jalan terus. Sekali lagi, itu sudah diatur.

Tapi, untuk detik-detik bersamamu yang berulang-ulang ini – aku sudah cukup bahagia. Mari, biar kupilin satu-satu, karena tak ada yang tahu akhir dari setiap hidup, bahkan pertengahannya, bahkan apa yang terjadi esok hari, atau satu detik kemudian.


Mari, biar kupilin satu-satu agar selimut hatimu menjadi tebal. Dan, agar aku siap. Ya, siap pada ketentuan yang bercabang: bersamamu atau bersamanya – yang entah siapa.

Kue Lapis

Ini seni merindu.


Kau harus mahir – layaknya memanggang kue lapis.

***

Satu lapis.

Dua lapis.

Tiga lapis.

Sesendok demi sesendok. Kau tambah selapis lagi dengan hikmat – tepat setelah lapis yang di bawahnya menjadi padat. Ada coklat, juga putih saling bergantian dengan aroma kayu manis mengepul dari balik pemanggang. Harap-harap cemas, semoga kuemu akan tampil rupawan.

Ini sudah lapis entah kesekian.

Cetakan kue lapismu sudah sejajar dengan lapisan yang teratas, dan sungguh tak sepadan dengan adonan di dalam baskom yang masih melimpah karena kau siapkan berlebihan. "Tapi ini sudah sesuai takaran!" jeritmu mengelak kenyataan.

Ini adalah lapisan terakhir – harusnya. Dan kau langsung bisa menyantapnya dalam hangat atau menghiasnya dengan taburan kismis, keju, dan potongan kacang. Tapi, kau tumpahkan lagi, selapis. Selapis. Selapis. Kau tak mau tahu. Padahal adonan itu telah berceceran keluar dari cetakanmu, membanjiri pemanggangmu, dan mengotori dapurmu.

Dan, kue lapismu rusak, sayang sekali. Lapisannya tak lagi berarti. Kini kau jadi benci.

***

Hey, sudah berapa kali aku bicara rindu?

Entahlah. Bagiku, rindu itu ibarat membuat kue lapis. Kau harus tahu takarannya. Selapis dan selapis hingga sampai di titik dimana kau hanya harus menahan. Karena komposisi sabar dan rindu itu – tak perlu kau ragu – selalu berujung keindahan.


Bahkan, tangismu dalam ketenangan itu juga keindahan.

April 3, 2011

Tabungan Rindu

Aku mengguncang tabungan rinduku perlahan hanya untuk mencari tahu apakah masih ada ruang yang tersisa untukku memasukkan lagi beberapa. Tabunganku berbentuk silinder dengan warna hitam pekat – agar tak ada yang dapat mengintip dan melihat. Dan kulingkari dengan pita merah muda juga potongan kertas kuning emas; agar aku dapat menyadari dalam sendu ada keriangan, bahwa selain rindu, aku pun menabung harapan.

Ini bukan pertama kalinya aku menabung rindu. Tapi baru sekarang terasa menyesakkan. Aku menjadi kelebihan air mata, maka kuselipkan setetes-setetes dalam tabunganku. Akhir-akhir ini aku mulai menyisipkan senyum – aku khawatir akan kehabisan – karena menurut prediksiku, nilainya akan menjadi sangat mahal beberapa waktu ke depan.

Tabungan rinduku baru terisi setengah, sedikit kuhemat agar masih dapat kugunakan dalam waktu lama. Aku tak lagi menyimpan cerita – beberapa kubuang saja sebelum membangkai ; sebelum lapuk, mengendap, dan berbau nanah mengotori tabunganku yang satu-satunya.

Aku hanya butuh cara untuk menyembunyikan tabunganku agar isinya tak membuat sesak. Lalu membuat ronggaku meledak.


Sudah kubilang, tak ada yang menyenangkan dari menabung rindu...