May 27, 2011

Mint Chocolate Chip

Hey, ini terdengar norak dan kampungan! Tapi buat saya yang terjadi kemarin adalah sepercik keindahan dari pertemanan yakni bisa menikmati berkah alokasi traktiran dari mereka yang sudah duluan rapelan, jalan-jalan dengan teman sebaya yang sudah sangat lama tak saya rasakan, mencoba-coba high heels di penjuru pertokoan (dan, okay, terngiang-ngiang sampai sekarang), dan ini yang paling penting, saya bisa merasakan pengalaman pertama menikmati es krim Baskin Robbins yang saya idam-idamkan sejak dulu kalaaaaa. I almost cried. Hahaha.


Thanks Guys. The Mint Chocolate Chip is awesome :)

I love it. I love it. I love it!


*dedicated to Deasy, Darul, Fendi, Pakdhe, Aris dan rombongannya :)

Turbulensi

Pernahkan kamu mendengar teori turbulensi?
Bahwa kepak sayap kupu-kupu di Kirgistan dapat menyebabkan badai di Pantura?
Artinya, semesta ini semuanya saling berhubungan, berkaitan satu sama lain - Mencari Tepian Langit

Ini tanyaku di suatu kala, “Apakah butuh alasan untuk merindukan?”

“Tidak”

“Kalau begitu. Aku kangen. Kamu”

“Kenapa?”

“Kangen saja”



Karena kita sudah saling berikatan, maka tak lagi butuh alasan. Dan ini seperti teori turbulensi. Kau dan aku layaknya demikian.

Jangan bergerak terlalu jauh atau berbelok ke arah segi yang tak tentu, nanti aku lumpuh – terguncang dalam sadar atau lelap. Dalam diam atau paham. Lalu benang ini putus dan kita butuh waktu untuk memilinnya ulang hingga akhirnya lelah dan menyerah.

Dan karena ini seperti teori turbulensi – sungguh tak bisa kuredam – biarkan aku merindumu sebelum aku tenggelam dalam pusaran yang tak beraturan, juga tarik-menarik dalam helaan napas dan doa yang bersahut-sahutan. Aku rindu, kau pun begitu. Kau ingat aku, aku pun menangis dalam sujudku – memohon temu dan kamu baik-baik selalu. Kenapa begitu, tanyamu. Kontak batin, jawabku.

“Jadi masih butuh alasan?”

“Tidak. Karena aku juga demikian. Kangen. Kamu”

“Kenapa?”

“Kangen saja"

“…”

“Sangat kangen, tepatnya”

Sekejap, rasanya kepak sayap kupu-kupu di Kirgiztan menyebabkan badai di perutku.

May 25, 2011

#1 Self Note

"Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila kita tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka cintailah suasana dan gedung kantor kita. Bila kita juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dan ke tempat kerja kita. Namun, bila kita tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apapun yang bisa kita cintai dari kerja kita: tanaman penghias meja, cicak diatas dinding atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja" - Kutipan Bijak


And of course it really boosts up!


Dan untukku (tanpa mencoba sok bijak dan tidak galau :P), menciptakan kebahagiaan saat bekerja adalah dengan menemukan apa yang kau sukai - salah satunya, you can have style! Kau bisa mengenakan pakaian-pakaian kerja yang lucu, heels dan blush on yang dulu tak pernah kau sentuh (errr, time changes), parfum isi ulang dengan aroma ini itu, pita yang menggantung di pinggang atau bahu (I love ribbons!) dan hal-hal lain yang bisa membangkitkan moodmu (yeaaah, bangun telat, macet parah, dan jilbab kusut di bagian lipatan yang harus disetrika ulang adalah 3 hal yang selalu sukses mengerutkan mood di pagi hari dan harus dihindari). Mood positif dan penampilan yang membuatmu riang ini bisa meningkatkan performa pada pekerjaan. And it does work!

Sebenarnya, semua itu masalah waktu.

Seperti yang pernah saya tulis di Curhat Anak Magang, saya adalah orang yang butuh proses untuk belajar nrimo, tapi setelah 7 bulan bekerja – fase adaptasi telah usai, dan semuanya jadi lebih mudah. Ingat saja berapa banyak orang di luar sana yang menganggur dan memperebutkan kursi yang sedang kau tempati, hal-hal yang bisa kau beli dengan penghasilanmu sendiri, pengalaman yang bisa kau peroleh, karier yang bisa kau bangun dan menjadi titik loncatan, kebanggaan orang tua yang terharu saat mengingat anaknya dan mendoakanmu di setiap sujudnya, bagian dari APBN yang dipercayakan penduduk Indonesia untuk mengalir ke rekeningmu setiap bulan, dan signifikansimu terhadap perubahan, nama baik instansi, dan kualitas pelayanan untuk Negara (sekecil apapun tugas itu) ternyata berefek luar biasa – layaknya efek domino yang saling beruntun dan saling berpengaruh!

Tidak ada alasan untuk tidak mencintai pekerjaanmu.

Terdengar klise, tapi memang demikian. Dan, kini ada begitu banyak hal yang membuat saya jatuh cinta pada tempat ini; seperti roti cokelat dalam kotak bekal, kegiatan menebar senyum dan menyapa ‘selamat pagi’, pegawai-pegawai yang lucu dan menginspirasi, teman-teman seperjuangan yang saling menguatkan, tertawa, dan memotivasi, buku-buku di perpustakaan, tausiyah di pengajian pagi, waktu yang kau curi untuk sesekali blogging, browsing, atau blogwalking, para office boy yang baik hati (terkhusus Mas Priyo dan Mang Jaja), kerupuk renyah di ruangan, langit violet dari kaca jendela, buah-buahan yang dijajakan di Kampung Melayu, sms di setiap sore yang mengabarkan ke orang-orang yang saya cinta bahwa hari ini saya bahagia dan melakukan hal-hal yang berharga, dan kebahagiaan melimpah di awal bulan dan di akhir pekan – yang mana semua ini meyakinkan saya bahwa pekerjaan ini adalah nikmat yang luar biasa indahnya – dan harus dijaga.

Karena, pada intinya, bekerja adalah ibadah. Mencintai pekerjaan berarti mencintai Allah dan tidak menyia-nyiakan nikmatNya :)

Dan saya selalu ingat doa ini:

“Ya Rabb, tetapkanlah hatiku, berkahilah pekerjaanku, dan jauhkanlah hamba dari hal-hal dan orang-orang yang menjauhkanku dariMu”

Amin.

Smoga sharing iseng-iseng ini bermanfaat! :)

Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu,seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak - Kahlil Gibran


*self note; beberapa hari menuju Juni 2011 – menunggu penempatan definitif*

May 23, 2011

Stock

Stock senyumnya masih banyak?”


Meraba-raba saku - lalu menghitung satu demi satu, “Tidak banyak. Tapi cukup – mungkin untuk seminggu”

“Sepertinya kau butuh lebih banyak dari itu”

Ada kurva terbuka ke bawah di wajah yang menggumam pelan-pelan, “Aku tak suka ini. Tapi, baiklah, mungkin bisa kuhemat”

“Boleh kutambahkan satu?”


“Tak perlu”

“…”

“Yang aku perlukan adalah kamu tak kemana-mana, sebentar saja – dan kau bisa menambahkan lebih dari satu, bahkan mengisi penuh stock senyumku”

Di sini. Sebentar saja.

May 21, 2011

Diary

Jadi begini. Daripada berbasa-basi, singkatnya aku ingin bicara tentang diary.


Aku memperoleh diary pertamaku di usia 7 tahun, bergambar Donald Duck dengan kancing di sampul depannya – hadiah dari Mama karena aku sibuk bercerita tentang euphoria teman-teman memamerkan buku harian mereka – dengan syarat aku tak boleh membawanya ke sekolah dan menyimpannya baik-baik di laci meja belajar yang penuh stiker dan majalah Donald Duck juga.

Diary itu bertahan lama karena isinya cukup tebal. Aku mulai suka menulis, bercerita tentang pengalamanku dengan huruf tegak bersambung dan kata-kata formal layaknya tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia, dan setelah selesai maka Mama akan membacanya, tertawa, dan memberi saran tentang apa lagi yang bisa kutulis – baiklah ini tidak seperti diary, mungkin lebih tepatnya buku latihan menulis. Sehingga aku menulis hal yang biasa-biasa saja. Lagipula apa yang bisa disembunyikan oleh anak usia 7 tahun saat itu? Yah banyak sih, walaupun pada akhirnya aku mulai menulis hal-hal yang bersifat rahasia seperti keinginanku untuk punya Sega, mendapat nilai jelek yang pertama, ataupun kesedihan yang tiba-tiba begitu saja mencekat di tenggorokan – dan pada fase ini tak ada lagi yang boleh membaca diaryku.

Usiaku beranjak belasan, dan aku mulai beralih dari diary berkancing ke diary dengan gembok yang kuncinya selalu aku sembunyikan. Pada fase ini aku mulai berani bercerita tentang jerawat, tentang senior yang membuatku menangis, tentang sahabat yang mengabaikanku, tentang perasaan berbunga-bunga, dan hal-hal yang tak mungkin bisa diterima oleh sosok-sosok terdekatku saat itu. Dan karena ini diary, maka aku bebas mengugkapkan kata-kataku dengan spontanitas dan blak-blakan, toh setelah itu, aku lega. Sangat lega.

Rok biru sudah berganti menjadi abu-abu, tetapi aku masih percaya dengan diary, hanya saja aku tak lagi suka bercerita di buku itu. Diary baruku tak lagi berkancing, berkunci, atau berpita – standar sekali, seperti agenda biasa – dan sebagian besar berisi tentang perasaanku yang bertanya-tanya pada melodi merah jambu atau kekecewaanku pada sesuatu. Dan buku agenda itu tak pernah terisi penuh hingga sekarang. Aku bosan.

Seluruh diaryku masih tersimpan rapi di lemari buku di rumah. Dan selanjutnya, aku lebih mengalihkan emosiku pada prosa dan metafora – karena dua hal: aku tak perlu terang-terangan mengungkapkan, dan aku lega, lega karena blogku bertambah postingannya dan lega karena aku bisa memilih sesuatu sebagai analogi. Walaupun pada akhirnya, hal ini berbahaya karena jika aku berulang-ulang membaca prosaku (entah itu realita atau imajinasi belaka), emosi dan moodku ikut babak belur, terwarnai oleh metafora itu.

Dan untuk kamu – diary hidup yang pasti sangat bosan karena memory handphone yang penuh dengan sms-smsku yang bertubi-tubi di saat-saat terburukku hanya untuk bercerita apa yang terjadi hari ini – aku berterima kasih sepenuhnya. Ini karena aku percaya, dan aku lega. Walaupun, menurutku, sms itu tak perlu dibaca ataupun seharusnya langsung didelete saja dari folder inbox sesuai permintaanku semula.

Tapi, sungguh, aku lega.

Ignore

“Tombol ignore di telinganya sudah diaktifkan?”

“Sudah”

“Baguslah. Kasian, nanti hatimu sakit-sakitan”


Karena untuk beberapa hal, mendengar tidak sama dengan mendengarkan.

Aku Berandai-andai Saja

Bagaimana rasanya menempati hati yang pernah ditempati oleh orang lain?


Aku berandai-andai saja.

Rasanya mungkin seperti baru pindah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya – entah dengan baik-baik atau tidak, dan entah dengan alasan sudah menemukan yang lebih nyaman atau memang terpaksa dan dipaksa meninggalkan karena kau lalai atau tak mampu memenuhi kewajiban.

Kau akan masuk dengan perasaan berbunga-bunga, mengamati segala sesuatu dengan pupil yang membesar karena takjub dan bahagia. Di sana masih banyak tergantung kenangan, yang pelan-pelan harus kau cabut satu demi satu – dan ada beberapa yang tak bisa kau lepas karena terpaku terlalu erat dan palu yang kau punya tak cukup kuat, atau memang disembunyikan pemiliknya karena memang tak mungkin terlupa.

Atau kau akan melangkah dengan perasaan takut – teringat hal-hal tidak menyenangkan dari rumahmu yang sebelumnya atau tetangga-tetangga yang mengamatimu dengan rasa curiga. Di dalam, kau temui dinding-dinding lembab yang harus kau cat ulang karena tak terurus, atau taman gersang yang dipenuhi semak. Tapi karena ini rumahmu, maka kau harus dengan senang hati mendekorasi ulang ruang tamunya dan menanam bunga yang bisa membuat semerbak saat menyambut sang pemilik pulang.

Lalu bagaimana rasanya?

Tergantung - siapa pemiliknya dan bagaimana engkau menempatinya.

No matter what, no matter where, it's always home, if love is there.

Karena setiap orang punya hak untuk moving on: menemukan dan ditemukan, atau bertahan.

Sekali lagi, aku berandai-andai saja.

Surat #5: Untuk yang Berhati Kuat

Some friends come and go like a season – if it’s so, I think it’s the autumn – the leaves are falling, and we walk side by side missing sunshine – and it’s you.

Hai kamu, hari ini aku membuka celenganku. Sebenarnya sudah lama sekali aku mengguncang-guncang isinya lalu diam-diam mengintip untuk sekedar mencari tahu apa yang telah kujejali di sana, walau sejujurnya aku tak benar-benar lupa.


Tabungan rinduku riuh, mungkin ada serangga yang nyelip di sana. Tapi ya sudahlah, dia pun tak punya dosa – mungkin hanya ingin mencari tempat berlindung di selipan memori kita yang hangat.

Lalu seketika aku ingat.

Aku ingat saat kita jalan pagi rutin yang terlambat di akhir pekan mengitari kampus dan kos-kosan – memandang pelangi yang tiba-tiba muncul atau sekedar duduk di depan kolam antara gedung I dan gedung J untuk curhat, menyulam kenangan, dan melihat teman berlalu lalang.

Aku ingat saat kita saling inap, belajar bersama untuk ujian Aplikasi Komputer Anggaran dan berusaha tetap waras saat sinyal-sinyal error mulai berkumandang.

Aku ingat saat kita merayakan kebahagiaan uang saku setelah PKL usai, lalu bergegas membeli ini dan itu untuk ayah, ibu, adik, juga kau dan aku – dan kita menikmati roti impian yang akhirnya bisa direalisasikan setelah lama diidamkan.

Aku ingat saat kita tak pernah bisa pulang saat yang lain liburan ke kampung halaman, dan kampus seperti kota tak bertuan – lalu kau segera datang membawakanku es krim dan sepasang telingamu yang selalu siap untuk menghiburku yang kelelahan, sakit, sepi, atau sedang tak punya uang.

Aku ingat detik-detik kita berada di kelas, menghadapi tanya, ujian, dan presentasi dengan tawa; hingga aku bisa belajar menjadi manusia, menjadi berani, dan menjadi diriku sendiri. Dan detik-detik lain – dibenci, ditertawakan, diabaikan, juga detik-detik pertemanan kita dengan yang lain, detik-detik mencoba berbagai diet yang tak pernah usai, tersedu-sedu membaca novel Rectoverso, juga donat lezat istimewamu yang hangat-hangat kau antarkan untukku berbuka puasa saat itu.

Aku ingat saat kau selalu kabur ke lantai tiga DJPU, lalu kita mengadakan sesi curhat di satu meja dengan yang lain, dan karena ini hidup – yang tak pernah bisa diprediksi antara fase satu dan setelahnya, maka semua yang terjadi saat ini jauh luar biasa dari ekspektasi yang pernah aku ceritakan dan kalian dengarkan.

Aku ingat saat kita berlari-lari menyeberang di Bintaro Plaza – dan aku hanya bisa pasrah, lalu kita jalan-jalan dengan dress-dress kesukaan, dan membeli oleh-oleh roti unyil di seberang sambil tertawa terpingkal-pingkal layaknya tak ada beban.

Aku ingat saat kau telah punya pacar – ditemukan, istilah kita; aku bimbang, takut, dan merasa kehilangan, lalu kau pun bilang, “Tak ada yang salah darimu atau pria-pria menyebalkan itu, dia hanya belum dipertemukan olehmu karena Tuhan masih percaya bahwa engkau bisa menjalani semuanya sendirian, dan itu yang lebih baik sekarang”. Ya, kau benar! Dan saat ini, lagu “Sudah jangan ke Jatinangor” tak akan pernah lagi kita lantunkan.

Aku ingat saat kau bertahan dengan rasa sakit dan air mata – dan hingga saat ini kau bisa menghadapinya, karena hatimu yang mulia, lapang, dan penuh keteguhan bahwa hidup adalah memberi kebahagiaan dan kita selalu baik-baik saja – bahkan lebih baik.

Dan, ini yang paling kuingat, saat aku kecewa dengan sesuatu yang bukan pilihan, dan kau mengirimkan kata-kata ini “Tidak boleh begitu, kamu adalah duta, satu-satunya di sana. Ayo tunjukkan bahwa kau bisa, bahwa kita luar biasa”. Dan, fase itu adalah titik balik. Aku mencintai apa yang kupunya saat ini.

Hai kamu, terima kasih. Walau kita tak bisa lagi jalan-jalan bersama, tapi selalu ada ruang yang terselip di pojok yang paling nyaman dalam hati kita masing-masing – kau memang tak tampak, tak selalu ada, tapi kau pernah ada, masih ada, dan akan selalu ada. Semoga kau selalu baik-baik saja, juga keluargamu, dan orang-orang yang kau sayang selalu demikian.

Dan untuk memori saat ini, aku celupkan lagi ke dalam tabunganku. Ditutup rapat. Dibuka lagi nanti – di waktu yang tepat.


Didekasikan untuk Oselva Anestesia Sidauruk – sahabat yang berhati kuat.

May 18, 2011

Ini Tentang Fase

Saya sedang sangat suka membicarakan fase. Dan pada titik yang menjembatani antara ababil dan dewasa ini, saya percaya bahwa setiap orang punya fase hidupnya masing-masing.



Usia saya sudah dua puluh satu – dan di balik wajah sok serius mengurus uang negara dari balik kubikel – saya masih suka membayangkan punya mainan dan hal-hal yang belum bisa saya peroleh di masa kecil. Usia kepala dua, usia yang membuat saya mulai merasa tua alias mulai menyembunyikan tahun lahir di jejaring-jejaring sosial, lalu mulai memikirkan urusan-urusan yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa, bergaul dengan orang dewasa, ataupun sudah ada tuntutan untuk bersikap dengan dewasa, dan memikirkan rencana-rencana jangka panjang – ingin kuliah lagi, ingin menikah di usia berapa, ingin beli mobil apa (ngek) – yang mana pencapaian-pencapaian itu jarang sesuai dengan life map yang didesain indah layaknya fairy tale dan pernah dipajang di dinding sebagai tugas saat mata kuliah Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian belaka.

Usia saya sudah dua puluh satu – tapi saya (atau mungkin Anda) merasa mengalami puber yang terlambat, masih sangat suka eskrim, rok warna-warni, pita bikinan sendiri yang menempel di jilbab, atau berjalan kaki menyusuri taman – bebas dari semua unek-unek kejenuhan.

Dan karena setiap orang punya fase hidupnya sendiri, menurut saya kunci utama dari semua ini adalah mau menghargai – bukan hanya oleh yang lebih muda atau yang kurang berpengalaman – tetapi juga oleh yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman. Pada titik ini, saya selalu paham bahwa orang-orang yang lebih dewasa khususnya dalam lingkup keluarga terbiasa menuntut agar saya atau Anda bisa berlaku lebih dengan indikator yang diukur dari sudut pandang usia mereka sendiri tanpa mau bercermin dengan mereka di usia saya atau Anda saat itu – apakah memang jauh lebih baik? Dan jika iya atau malah tidak, mungkin ada baiknya saya atau Anda untuk berpikir positif, yakni karena mereka menyayangi saya dan Anda, atau karena mereka telah melihat dunia dengan lebih matang – dan tidak ingin saya atau Anda mengulangi kesalahan yang sama.

I know it's a mistake, but there are certain things in life where you know it's a mistake but you don't really know it's a mistake because the only way to really know it's a mistake is to make the mistake and look back and say 'yep, that was a mistake (Ted - How I meet your mother).

Jadi, biarkan saya berada di fase ini dengan penuh tanggung jawab dan kebebasan dari rasa takut yang tak semestinya – karena kita semua pernah sebahagia ini kan? Pernah merasakan jatuh cinta, patah hati, punya cita-cita, mendaki gunung, nyasar, mendapat pengakuan, memberontak, lalu sadar bahwa ini atau itu yang benar.

Jika saya atau Anda berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat, cukup berikan lampu hijau atau lampu merah, bukan lemparan batu yang membuat luka atau sirine yang membuat kita bingung dan patah arah.

Karena kita semua ingin tumbuh dewasa, tak sekedar menjadi tua.

Dan karena mereka boleh bahagia di fase mereka, kenapa saya tidak boleh bahagia di fase saya? :)


I want to live my life to the absolute fullest. To open my eyes to be all I can be. To travel roads not taken, to meet faces unknown. To feel the wind, to touch the stars. I promise to discover myself. To stand tall with greatness. To chase down and catch every dream. Life is an adventure.

Kadaluwarsa

Mungkin, tak perlu hitungan detik untuk buru-buru mengakui bahwa kita saling merindukan. Atau mengingat dalam diam dan saling mengendap wujud di pikiran.


Rindu adalah kata tabu untuk dilontarkan. Lalu dibiarkan membumi lewat air mata pelan-pelan.

Ini titik saat fase loncatan yang kita hindarkan adalah kekosongan. Dan rasa asing yang menggeliat tak tertahan mendekati kerasukan.

Karena ruang yang terbangun terlalu jauh membuat kita kelelahan. Lelah hingga terengah dan tak lagi siuman untuk mengingat bahwa ini sudah detik kesekian.

Di sela-sela koma yang membuat kita disibukkan banyak urusan, ini sudah tak lagi detik. Tetapi menit, bahkan jam, beranjak hari dan bulan, dan kita tak lagi mengingat dalam diam, namun sebatas melupakan dengan terang-terangan. Dan ini sebuah kebiasaan bahwa kita tak lagi peka dengan kesedihan.

Karena tanggal kadaluwarsa tak bisa dielakkan. Mungkin, memang tak perlu hitungan detik untuk buru-buru mengakui, bahwa pada akhirnya kita sama-sama terlambat menyadari sebuah kesalahan.

Kita tak lagi saling merindukan.