September 23, 2011

Patahan #15

“Salah satu yang paling kutakutkan dari bertambahnya usia adalah aku belum melakukan sesuatu yang seharusnya sudah dapat kulakukan di usia sebelumku” - being old. Patahan kelimabelas.

(Masih) Tentang Rindu

Percayalah bahwa kita pun tak kurang dari mereka. Percaya pada rinduku saja, yang memang terlalu hingga jadi bisu.

Ini bukan rindu yang sederhana sehingga tak bisa kuungkap setiap waktu, dan membuatmu terlalu biasa mendengar itu.

Janganlah menggerutu, jauh di dalam hatiku – aku selalu mendoakanmu, menitipkanmu pada Tuhan yang membuat kita terjaga agar tetap merindu.

Percayalah bahwa kita pun tak kurang dari mereka. Jika kau kesepian, ingatlah bahwa aku pun di sini berjuang mengatasi kesedihanku dengan kesibukan dan ingatan tentang kamu yang ingin kubahagiakan.

Rinduku memang tak terkata-kata dan tak berair mata. Cukuplah kau yang bicara dan aku membalasnya dengan senyum setiap pagi. Karena mengetahui bahwa kau pun tak pernah bosan merindukanku adalah harapan hidup di setiap hela napasku sepanjang hari.

Aku merindukanmu dalam air mata sujud rindu kepada Tuhanku – semoga kau pun merasakannya dalam sujud rindumu bahwa ada saatnya kita tak perlu menanti dan bersabar menyimpan rindu dalam diam selama ini lagi.

#4 Self Note: Allahu Rahim

Hidup itu laksana kelas – disana kau akan belajar banyak hal tentang bertahan dan tentang pencarian – baik pencarian terhadap diri sendiri, kebahagiaan, impian, kebaikan, dan ridho Tuhan. Setiap hari ada kelas baru, yang levelnya dan mata ajarnya berganti-ganti menyesuaikan dengan taraf iman dan kemampuan – tak sembarang pula yang bisa lulus, harus benar-benar isitiqomah dan paham juga rela. Mungkin suatu hari kau harus belajar sabar, lalu ikhlas, juga syukur, dan demikian seterusnya tanpa henti dan lelah.

Tak jarang kelas-kelas itu membuatmu marah, bersedih, gundah, lalu mempertanyakan kenapa dan bagaimana. Tapi tak apa, perasaan itu manusiawi – kau begitu karena kau manusia. Dan sebagai manusia dewasa, kau pasti bisa memulihkan perasaan-perasaan negatifmu sendiri hingga kau sadar bahwa kau tak sendiri, selalu ada Tuhan yang tak kemana-mana, sangat dekat bahkan dari urat lehermu sendiri namun sering tak disadari.

Percayalah, bahwa Allah akan mengangkat sedihmu perlahan-lahan.

Karena salah satu hal yang bisa membuat kita bertahan adalah percaya – bahwa Allah Maha Adil dan setiap manusia akan mendapat sesuai yang diusahakannya. Mungkin tak sekarang, tapi besok, atau setahun lagi, atau di saat yang tak dapat ditentukan yang menyadarkan bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjuangan, niat tulus, dan usaha. Bahwa Dia ingin menebalkan mental dan melapangkan hatimu terlebih dahulu sebelum diberi hadiah dengan nikmat yang lebih besar adanya.

Percayalah bahwa semua memang terjadi karena suatu alasan.

Untuk memahami hal itu, mungkin aku bisa berbagi sedikit dari kisahku ini. Salah satu moment terburuk yang aku harus syukuri adalah moment tiga tahun yang lalu – saat semester satu dan indeks prestasiku termasuk salah satu dari tiga yang terendah. Terpuruk hingga muncul perasaan tak ada gunanya belajar jika memang hasilnya demikian. Beranjak ke semester dua, saat indeks prestasi kumulatif diumumkan, hasil akhirku malah meroket menjadi yang terbaik di spesialisasi. Konspirasi pun bermunculan – mulai dari tertukarnya nama, kesalahan perhitungan, hingga aku dikejar-kejar oleh redaksi kampus dan dibicarakan oleh teman-teman, karena jika dipikir-pikir ini sangat tak mungkin sebab jika nilai ini benar maka indeks prestasi di semester dua-ku lebih dari empat koma nol.

Kondisi itu membuat aku hampir menangis setiap hari dan berat badan turun drastis - karena malu dan diragukan, juga lagi-lagi berpikir tak adil – tak ada gunanya belajar jika tetap demikian. Hey, aku hanya sebagai korban! Aku menerima sesuai yang aku perjuangkan – batinku waktu itu memperjuangkan nama baikku sendiri. Hingga aku bertekad, buat siapapun yang pernah mentertawakanku atau membuatku terluka saat itu – aku akan membuktikan bahwa aku benar dan bahwa nilai itu adalah hakku. Seterusnya, atas izin Allah, nilaiku stabil tak jauh-jauh dari semester dua hingga lulus. Dan, aku bisa tersenyum lega – bahwa kebenaran itu terungkap setelah tiga tahun – setelah aku melihat transkrip nilaiku sendiri, bahwa terjadi kesalahan pada perhitungan nilaiku di semester satu. Tapi mulai saat itu, aku belajar memaafkan diriku sendiri, mengabaikan mendengar hal-hal yang bisa melemahkan hatiku, dan berterima kasih pada masa lalu karena tanpa moment itu mungkin aku tak sekuat dan segiat setelah fase itu terjadi. Lihatlah, Allah Maha Penyayang, sangat menyayangi hambaNya walau dengan cara yang tak mungkin kita mengerti.

Percayalah, bahwa badai pasti berlalu. Bahwa seburuk-buruknya ketentuan, selalu ada kebaikan yang bisa diambil – itulah hikmah.

Dan salah satu hikmat itu adalah bisa dimudahkan dan disayang oleh Pencipta. Dan perasaan itu luar biasa damainya ^^

September 21, 2011

Patahan #14

Romantis adalah misi rahasia.

Saat mereka bilang tidak, dan aku tetap bisa mencari-cari alasan untuk bilang iya. Dan semesta ikut bermain-main dengan konspirasinya yang sederhana namun gempita – melalui hujan di Minggu senja, roti bakar pinggir jalan, dan doa-doa yang mewujud nyata. Melalui putaran-putaran kecil di jalur tak berbahaya dan pelukan yang menghangatkan kita berdua.

Itu saja.

September 5, 2011

Patahan #13

Janganlah banyak menangis. Apakah jatuh sesakit itu? Sudah kubilang untuk tak berpegangan pada tali yang setipis benang karena selain tak mampu menyangga beban juga jemarimu akan terluka karena menahan.

Kenapa harus menangis? Tak semua jatuh itu salahmu. Masih ada aku yang akan merangkulmu saat kau tak mampu berjalan sendirian bukan? Kau bisa pinjam bahu dan lenganku kapanpun kau mau – asal tidak untuk menghapus air matamu berkali-kali. Bukankah cinta harusnya menguatkanmu? Jangan jadikan aku beban yang terlalu berat untuk kau pikul. Sebenarnya itu tergantung sudut pandangmu, yang terlampau serius ingin membahagiakanku hingga lupa pada kebahagiaanmu.

Hey, masih menangiskah? Sudahlah, jangan sesali pada apa yang membuatmu jatuh, tapi bangkitlah agar bisa kubantu memungut kerikil-kerikil itu. Karena bukan batu besar yang akan melalaikanmu, tetapi batu kecil – yang sering sekali terabaikan hingga berserakan memenuhi jalan. Harusnya jalan ini kita lalui sama-sama bukan? Sini ajak aku untuk bergandengan, jangan berjalan sendirian padahal hakikatnya kita sedang bergerak searah dan tidak perlu berlari-larian. Kita tidak sedang ikut lomba. Jika kau tetap ingin berlari, berkejar-kejaran sajalah. Kalau itu aku senang. Masa kau tidak senang?

Ayolah, masa kalah pada buah kelapa yang jatuh berperang dengan gravitasi lalu dihujam tanah? Jatuhmu tidak sakit kan? Kau jatuh di padang rumput, bahkan kalau kau sadar, kau telah jatuh di pangkuanku yang begitu empuk. Bukan maksudku membandingkanmu dengan kelapa - sungguh tak sepadan! Aku hanya ingin kau tahu bahwa tidak semua harus sesuai dengan harapan. Tapi tidak semua yang tak sesuai itu menyedihkan. Harapan yang jadi nyata – dengan cacat disana sini itu baru namanya sempurna!

Nah, begitu anak manis – air matamu sudah habis bukan? Tersia-sia hanya karena jatuh – juga tersia-sia karena air matamu tak akan membuatku semakin tampan, eh. Bukannya aku tak perhatian, tapi kau tak kunjung bilang apa yang kau inginkan. Aku bukan pembaca pikiran layaknya perempuan.

Kemudian hening.

Dan di sela-sela isak kau berucap, “Bagaimana aku tak sakit? Kau malah hilang saat aku baru jatuh padamu. Jatuh cinta yang berkali-kali. Dan kau tak rindu saat aku merindukanmu!”

Aku tahu bahwa kau memang begitu. Jika tak jatuh cinta padaku mana mungkin kau tahan bersama makhluk sepertiku. Aku tak pernah hilang hanya saja kadang dicuri waktu – kau tinggal bilang saja kalau kau butuh aku. Jangan sendirian kemana-mana, nanti kau malah hilang diculik orang, kau ini kan aset semesta. Satu-satunya di dunia. Dan aku selalu merindukanmu, hanya saja tak perlu kubilang selalu – aku kan pemalu!

:)

Nah begitu dong tersenyum. Itu baru gadisku!

Tentang Pulang

Pulang itu seperti menuai doa ibu yang dihantarkan saat kau keluar pintu.

Pulang di kala lebaran juga senikmat itu – dan bisa mengecap tiga hari terakhir Ramadhan di rumah pun semacam mengunci waktu yang akhir-akhir ini berlari tanpa basa-basi.

Lebaran kali ini lengkap.

Ada abah, mama, adik, aku, dan kucing-kucing nakal yang tak pernah kehabisan energi – dengan cinta yang merekat juga melekat. Lalu kita bisa duduk semeja. Memasak lontong dan kue kering malam-malam buta, sambil tertawa diiringi takbir yang menggelora.

Lebaran kali ini lengkap.

Pelukannya nyata. Sentuhannya nyata. Air matanya nyata. Tak perlu meraba-raba lewat gelombang dan jarak yang tak kau suka – aku sudah di rumah. Aman. Bersama malaikat-malaikat bumi Tuhan.

Rasanya baru kemarin keluar pintu.

Hey, aku sudah rindu.