October 17, 2011

Nyanyian Hujan

Maaf saja, aku belum bisa mengikhlaskanmu sendirian terlalu lama. Tak pernah habis pikir bagaimana kau bisa begitu bahagia tanpa aku yang bisa menemanimu secara nyata.

And I wonder if I ever crossed your mind.


Mari kita bertemu selama masih bisa.

Kenapa harus kau tunda-tunda hingga aku tersiksa dengan lari-lari tak tentu arah dengan pikiran yang bercabang menuju kamu – hanya kamu.

For me it happens all the time.

Aku merindukanmu seperti tanah yang retak-retak merindukan hujan. Diam – bisu – sakit – sampai berbau karena kehausan saat satu atau dua tetes menyapa dari langit merekah merah.

Lalu, bagaimana kau merindukanku?

Seperti angin dingin yang membuatku menangiskah? Rindu yang tak terlihat – tapi ada. Terasa.

Mungkin demikian.

Patahan #18

“Okay, your ‘I miss you’ is killing me” - sudden suffer. Patahan kedelapanbelas.

#5 Self Note: Muda dan Bahagia

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan belajar. Belajar membuat system memori semakin kuat dengan stimulus yang bersahut-sahutan saat mengingat dan mencicip pengetahuan – juga melunakkan hati karena menjadikan semakin mawas diri dan memahami. Dan hidup adalah sekolah abadi – belajar setiap hari tentang bagaimana bertahan dan menjadi manusia sejati bukan hanya tentang hidup hari ini.

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan bercita-cita – layaknya bocah. Hidup memang tidak selalu menyediakan hidangan yang kita minta, layaknya cita-cita di masa kecil yang dengan lantang kita utarakan seakan hal itu langit-langit ruangan yang mudah dicapai hanya dengan menarik tangga lalu naik pelan-pelan. Tidak. Semakin dewasa, manusia semakin jarang bercita-cita – entah karena sudah puas dengan pencapaian atau sudah lelah dengan kekecewaan. Ingatlah bahwa keinginanmu untuk hari esok juga sebuah cita-cita. Karena cita-cita orang dewasa adalah memperindah apa yang ada – apa yang sudah dipunya – lalu jadi lebih baik lagi dan lagi. Bercita-citalah: ingin kuliah dimana selanjutnya, bisnis apa yang ingin dikelola, bagaimana membahagiakan yang kau cinta, apa saja, bercita-citalah dan jadilah muda.

Menurutku, menjadi tetap muda salah satunya adalah dengan bersikap spontan – lakukan apa yang diinginkan sesekali dan lawan rutinitas. Jalan-jalan di akhir pekan, tertawa, merajut syal, menggambar dengan krayon, mencipta boneka dari kain flannel, atau tiba-tiba kabur ke Trans Studio Bandung tanpa rencana lalu menyantap permainan yang meregang adrenalin dan berteriaklah – makan yang enak-enak tanpa takut jarum timbangan bergerak ke kanan, berteman, bergerak, dan bersyukurlah –

Lalu berbahagialah.

*Because life is too short to deal with the same things everyday*

Patahan #17

Jika mereka bilang bahwa hal itu sulit, berusahalah.

Jika mereka bilang bahwa hal itu tidak penting, abaikanlah.

Tentu saja mereka bilang demikian. Karena itu mimpimu, bukan mimpi mereka.


- *Sukses adalah hak, maka perjuangkanlah hakmu* - patahan ketujuhbelas.

Tak Terhingga

Kita seraut kisah di garis bilangan yang berjalan dari titik minus. Dua bilangan yang saling mendahului walau aku yang lebih sering berada di depanmu beberapa langkah – menoleh ke belakang dan tertegun menyadari bahwa kau tetap diam di tempat – tak mengejarku yang sudah berjalan perlahan-lahan.

Kita masih berada di titik minus dan itu membuatku frustasi sekali dua kali lalu berlindung di bawah tanda akar yang memulihkanku dalam status tak terdefinisi – hingga kau sadar bahwa aku hilang dan aku berarti.

Ada saatnya aku tak sanggup lagi – ingin melompat tak bilang-bilang atau berlari kencang saja – meninggalkan atau ditemukan pada titik yang memperlakukanku sebagai ada. Lelah, tapi kau tak juga bisa membaca arah. Hingga di setiap bilangan prima aku berhenti dan tersadar bahwa hanya engkau yang bisa jadi pembagi.

Kadang kita memang harus mundur ke belakang lalu merekonsiliasi, berpegangan, saling menggenggam bukan membawa kabur keegoisan lalu lari sendiri-sendiri. Kita ini sepasang – tak ada yang sempurna memang – bahkan angka nol itu sendiri. Dan akhirnya kita berdiri di sini, di titik ini. Mulai membangun dari awal lagi.

Aku memberimu kesempatan – lalu kau menambah kecepatan dengan pangkat yang berlipat – berjalan satu satu di garis bilangan positif. Mesyukurimu yang secara ganjil dan genap memupuk cinta dan perhatian setiap hari hingga aku tak perlu mengemis lagi.

Kita memang melangkah dari awal sekali – dari ketiadaan hingga menjadi sebuah keadaan yang kusyukuri. Aku mencintaimu hari ini, dan esok, akan kukatakan hal yang sama lagi. Tak usah kita lihat hal-hal yang terjadi di belakang – anggap saja sebuah pembelajaran, toh garis bilangan negatif sudah terlalu jauh dari jarak pandang.

Aku masih ingin bersamamu – hingga di titik tak terhingga.

Patahan #16

“Woman doesn’t know what they want. Man doesn’t know what they have” - heard it often. It sucks. Patahan keenambelas.

October 13, 2011

Prajab Dua: Kami Bangga! :D

Prajab itu seperti mengobati kerinduan pada masa-masa kuliah dan persahabatan dengan teman-teman yang luar biasa :)


Hey, aku sudah kangen kalian!


Dua belas hari ditempa di tempat yang sama, belajar bersama, makan bersama, apel bersama, push-up dan jalan jongkok setiap hari, tawa, tangis, dan semangat – semua hal-hal yang cukup lekat untuk membangun kenangan yang merekat erat tentang kita semua.

Prajab dua, kami bangga! Howa heyooo, sukses dan keep in touch selalu teman! :’)

*jika tua nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini*