April 30, 2012

Sebungkus Salak

Sekitar tahun 1980-an.

Hari itu mendung, tapi keluarga kecil tersebut dilanda bahagia luar biasa.

"Aku akan ikut bekerja selama sebulan ke Bogor. Akan ada acara besar - dan banyak hal yang harus kuperbaiki. Mohon doanya ya"

"Pulang nanti bawa uang yang banyak?" sang istri berujar.

"Iya" ujar sang suami mantap sambil memangku gadis kecilnya yang menyandarkan kepala di dadanya.

***

Sudah dua minggu berlalu.

Telpon masih menjadi barang langka. Komunikasi mahal. Tak ada kabar. Tak ada uang tersisa.

"Aku butuh beli susu. Juga beras" kata sang istri. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Coba kau sampaikan kepada yang meminta suamimu pergi. Rumahnya tidak jauh dari sini bukan? Bilang padanya, kita butuh uang. Tidak punya apa-apa yang ditinggalkan" sahut sang nenek lirih.

Lalu berangkatlah sang istri dengan gadis kecilnya. Mengusir gengsi dan rasa malu.

"Sayang sekali, kami pun belum punya uang. Sebentar lagi kan suamimu pulang, membawa upah yang sudah dibayar. Pulanglah..."

Wanita yang ditemui itu buru-buru masuk ke rumah setelah menyelipkan selembar uang yang hanya cukup untuk ongkos perjalanan. Mereka pun pulang naik becak. Sepanjang jalan sang istri menangis. Pedih.

Dia mampir ke pasar lalu menjual cincin pernikahannya.

***

Tepat sebulan.

Sang suami muncul di halaman rumah dengan kaus kumal dan peluh di wajah.

"Bagaimana disana?"

"Aku menyesal. Dan keringatku tidak dibayar"

Sang istri meneguk ludah.

"Mereka jahat"

"Dan jaketku pun hilang. Aku kecopetan"

"Yang penting kamu sudah pulang. Sehat-sehat..."

"Aku naik bus 3 hari 3 malam. Aku tidak membawa apa-apa. Hanya sebungkus salak ini. Manis sekali. Tadi busnya mampir di Padang Sidempuan. Jadi..."

"Sudahlah..."

Sang istri tersenyum dan langsung memeluk suaminya.

.

.

.

"Terima kasih. Terima kasih telah berjuang. Terima kasih"

2 comments:

Tanaya said...

mengharukan icha...;') u have a great way with words *envy*

@chabadres said...

based on true story hehe :)

thank you dear :)