January 3, 2014

#14 Maret dan Mei: Ini Mimpi Buruk

Pukul satu dini hari.

Mei mendadak menelpon Maret yang sedang bertugas di luar kota. Ini masih hari kelima dari total dua puluh hari yang harus dijalani.

Maret mengangkat handphone yang tergeletak di samping bantalnya dengan gegabah. Khawatir Mei sedang sakit atau dalam bahaya.

"Mei, kamu kenapa?"

"Aku sudah berwudhu dan berdoa sebelum tidur. Tapi aku masih saja bermimpi buruk"

Maret menghela napas lega menyadari Mei baik-baik saja. Dia tidak baik-baik saja tepatnya, dia sedang diporak-porandakan rindu.

"Mimpi apa itu, Mei?"

"Ini mimpi yang sama dalam lima hari berturut-turut. Aku bermimpi dipeluk olehmu Maret. Erat sekali. Terasa nyata. Sangat nyata. Sampai aku berpikir bahwa yang terjadi itu benar adanya"

"Kenapa kau sebut mimpi buruk. Bukankah itu indah?"

"Karena saat aku membuka mataku, pelukan itu masih terasa nyata. Tapi ternyata itu hanya fana. Aku terbangun dan menyadari kau tak di sisiku. Dan itu membuatku tersedu-sedu"


"Berbaik sangkalah. Itu berarti Tuhan menitipkan rinduku melalui mimpi-mimpimu. Juga doamu"

"Maaf yaa selalu kacau begini"

"Tak apa nanti saat aku pulang, kau akan kupeluk sampai puas"

Setelah perbincangan itu, Mei kembali tidur dengan nyenyak. Tangan yang mendekapnya di mimpi itu masih terasa sangat nyata. Menjaganya di sepanjang lelap hingga terjaga.


*i borrow the picture from here. Thank you :)

No comments: