June 30, 2015

Weekend Getaway!

Perjalanan yang impulsif memang selalu membawa kejutan. Jalan-jalan mendadak kali ini diprakarsai oleh suami yang tiba-tiba ingin melepas penat dari rutinitas di tengah-tengah bulan Ramadhan. Dan pilihannya adalah Bandung! Bandung tanpa wisata kuliner memang bagaikan sayur tanpa garam, tapi perjalanan di bulan Ramadhan ini ternyata membawa keseruan yang lain :)

Minggu, 28 Juni 2015. Kami menuju shuttle Cititrans Bintaro sebelum subuh dan menunaikan sholat di masjid An-Nashr. Sekitar jam 5.45 kami sudah bersiap-siap berangkat. Perjalanan menuju Bandung terasa sangat cepat karena rasa kantuk membuat kami langsung tertidur dan bangun dalam keadaan masuk angin :p

Kami berhenti di shuttle Dipati Ukur, Bandung dengan masih tanpa tujuan. Akhirnya kami berjalan kaki melewati jalan-jalan Bandung yang sepi dan asri, masuk dan keluar sejumlah FO (terpaksa belanja karena udah numpang ke toilet :p), sambil membayangkan nanti buka puasa mau makan apa ya hihi (salah banget) padahal saat itu masih pukul 10 pagi.

Susah banget diajak selfie :p

Tak disangka kami terus berjalan sampai tiba di Dago. Panas terik membuat letih dan merasa nggak kuat jalan lagi akhirnya kami naik taksi sampai Gedung Sate. Walaupun udah sering ke Bandung tapi belum pernah sekalipun foto di depan Gedung Sate hehe. Jadi foto dulu deh. Kami melepaskan penat sejenak di taman Lansia sambil melihat pasar dan beberapa dagangan di sekeliling taman. Setelah itu, kami mampir meluruskan kaki sambil menanti sholat zuhur di mesjid Museum Geologi. Dan, kami ketiduran lagi di mesjid... :p

Akhirnya pernah foto di depan Gedung Sate :D

Nyenyaaak banget Masya Allah haha. Setelah ketiduran, kami baru sadar kalau Museum Geologi di sebelah mesjid tetap buka di hari Minggu sampai pukul 13.30 WIB. Pantas saja disana ramai. Menyadari bahwa waktu buka museum tinggal 1 jam lagi, kami pun langsung membeli karcis dengan harga Rp 3.000,- per orang saja.

Seneeeng banget bisa masuk museum lagi. Museum ini bagus, lengkap, dengan berbagai fasilitas multimedia yang sangat menarik minat anak-anak mulai dari tata surya, mengenal jenis-jenis batu, sejarah manusia, dan fosil. Tapi sayang, kami hanya sempat mengeksplorasi lantai satu dari museum itu, karena museum sudah harus ditutup. Suatu saat, harus kesini lagi!



Di dekat Museum Geologi juga ada Museum Pos, tapi tidak buka di hari Minggu. Akhirnya kami berjalan-jalan lagi sampai menanti sholat ashar dan janjian untuk menemui seorang teman di kampus Unpad. Setelah sholat, kami naik taksi lagi, belanja oleh-oleh cemilan, dan menanti berbuka puasa di sekitar Monumen Bandung Lautan Api. Kaki udah kram banget seharian jalan hehe. Kami memutuskan ngabuburit di monumen itu sambil menonton latihan atraksi motor. Serem sih liatnya, tapi lumayan buat menanti buka puasa. Berasa anak gaul banget saat itu haha.

Alhamdulillah, tak lama adzan berkumandang. Saya pingin bangeeet makan batagor Bandung, tapi hampir semua warung tenda di sekitar Unpad penuh. Karena suami udah laper banget (saya juga sih hehe), kami pun memilih tempat yang masih ada kursi kosongnya saja, yaitu... sate padang. Hiks ke Bandung makannya sate padang :(

Subhanallah, nikmat bangeeet rasanya berbuka setelah seharian berpetualang di kota surga kuliner haha. Setelah ketemuan dengan teman lama suami di kampusnya, kami pun menyempatkan sholat tarawih dulu di mesjid Unpad. Godaan banget mata kriyip-kriyip waktu sholat huhu. Dan, setelah makan malam lagi, kami segera bergegas pulang. Yang tersedia untuk malam itu hanya travel Baraya.

Kami pulang jam 9 malam dan sampai di Bintaro pukul 12 malam. Tiba di rumah, kami langsung sahur saja dengan lauk yang ada dan tidur dengan kesadaran penuh bahwa keseruan telah berlalu dan ini sudah hari Senin... lagi :"|

June 19, 2015

The Laws of Productivity

Our rational minds know that we have to finish our assignments, house chores, or any activity that needs commitment, but the monkey minds ask the rational minds to play in the comfort zones, such as - checking Facebook, watching TV series, having depressing naps, or any guilty pleasure that seems so good to do except those assignments. Welcome, procrastination! And that's what I learn during this semester - that moment when looking back to your thesis is just too difficult. AND EVERYTHING OH MY GOD IS MUCH EXTRAORDINARY FUN!

Procrastination is human nature. Sometimes you just have intuition not to do it today, and follow the mood, do it tomorrow. Tomorrow becomes the day after, and so on. And, later becomes never - until the deadline hunts!

That behavior can be linked to popular physics principle: Newton's laws.

First Law of Motion: An object either remains at rest or continues to move at a constant velocity, unless acted upon by an external force. 

It means objects in motion tend to stay in motion, and objects at rest tend to stay at rest. So, it relates to procrastination. If we keep moving and get started to keep going, congratulation! We're gonna have productive day. But, if we start the day with laziness, we will just be trapped in lazy day, body seems going to sleep all day. And it's true!

So, besides get started, what do I do to help myself from procrastinating?

June 18, 2015

Ramadhan yang Berbeda

Alhamdulillah. Marhaban ya Ramadhan.

Ramadhan kali ini berbeda karena ini Ramadhan pertama saya sebagai seorang istri. Setelah tahun lalu saya selalu diliputi oleh rasa galau, rasa itu kini telah berganti menjadi haru dan syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Mungkin tidak terlalu berbeda dengan hari biasanya, saya punya tanggung jawab untuk merencanakan dan menyiapkan menu makanan yang selalu saya tulis di kertas kecil sebelum saya berbelanja. Karena ini Ramadhan, maka tantangannya adalah saya harus merencanakan menu sahur dan berbuka selama sebulan, bangun lebih awal dan membangunkan suami sahur (yang dulu hanya bisa saya lakukan lewat telpon), dan tidak boleh malas-malasan sepanjang hari hihi. Insya Allah bernilai ibadah. Waktu jadi anak kos, saya sering nggak peduli mau makan apa sahur dan buka. Dan seperti anak kecil yang baru belajar jalan atau naik sepeda, saya juga seperti itu. Lagi senang-senangnya buat kolak untuk pertama kali, bikin es dawet sendiri, atau masak apapun. Pujian dari suami, badan sehat, rasa lezat - adalah priceless :)

Ramadhan juga menjadi menyenangkan saat saya punya tetangga-tetangga yang umurnya sebaya untuk teman bertukar cerita dan makanan berbuka. Tapi, sayangnya, mereka pun sebentar lagi akan pindah karena mutasi dan keadaan. Selain itu, semester ini hanya saya habiskan untuk mengerjakan skripsi sehingga saya punya waktu banyak untuk di rumah. Karena saya dan suami masih berdua saja maka kami masih komitmen untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Aktivitas dan tugas rumah tangga kami lakukan berdua, misalnya dia jadi Menteri Luar Negeri dan saya Menteri Dalam Negeri, bersih-bersih bagian halaman adalah tugas suami dan saya bersih-bersih bagian dalam. Rasanya puas aja bisa mengerjakan semuanya sendiri, saya merasa tangguh dan bermanfaat. Perasaan ini yang selalu harus saya jaga :)

Pernikahan juga membuat saya belajar untuk punya target Ramadhan, sesuatu yang dulu sering saya abaikan. Saya punya imam yang bisa memimpin saya beribadah. Mungkin hal itu jauh lebih berharga daripada khayalan saya yang selalu merasa kehilangan banyak moment dan meninggalkan kegiatan-kegiatan yang tidak lagi saya ikuti secara nyata. Karena pada dasarnya, pernikahan tidak mencuri kebebasan saya sedikit pun, pada batas-batas yang diatur karena ridho Allah terletak pada suami saya. Suami saya memberikan kebebasan yang banyak untuk saya terus belajar dan mencapai apa yang saya mau, menjadi pengajar, ikut komunitas, dan menikmati waktu dengan diri sendiri. Suami saya selalu menanyakan apakah saya bosan, apa yang saya mau. Dan, itu membuat saya mengharu biru karena saya merasa sangat sangat sangat disayang :)

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi pribadi yang sangat tertutup (selain di blog, hehe). Saya lebih banyak menjadi silent reader dan lebih sering mengabaikan media sosial. Tentu saja saya sering iri dengan teman-teman yang punya banyak kegiatan, tapi entahlah saya pun tidak punya langkah yang kuat untuk merealisasikannya. Pragmatis. Semoga fase ini tidak berlangsung lama. Dan, saya lagi senang-senangnya jalan-jalan. Oh ya, saya juga banyak menelpon mama dan abah. Lebaran kali ini saya tidak akan bertemu mereka, karena harus ke kampung suami dan berlebaran dengan orang tua kedua saya :)

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Syukur yang lebih baik. Doa-doa diijabah. Air mata tidak sia-sia. Dan, tidak selalu merasa sedih atau sendiri. Karena Allah ada. Selamat datang saya yang baru :)

June 14, 2015

Patahan #85

Keep moving. Don't complain others because you can't. Just complain to yourself because you stop. Nobody really cares about you except yourself.

I have free will. Nothing really changes until I make changes. Allah loves you because you have tried. Allah cares to you because you care to your own life.

Do the best, and Allah do the rests.

June 7, 2015

Terampil Mendengar

"Don't judge" 
Sepertinya kita semua sedang sama-sama berjuang untuk keluar dari tekanan sosial dan meneriakkan tindakan untuk  tidak menghakimi dan tidak dihakimi. Tapi, menurut saya, perspektif setiap orang adalah satu hal yang paling berbeda di dunia ini, demikian pula dengan perspektif terhadap orang lain. Mengubah orang lain adalah hal mustahil, maka saya akan mengubah diri sendiri dengan memilih apa yang perlu saya dengarkan.
***

Mendengar versus mendengarkan.

Setiap hari, kita dibebani dengan peran baru dalam hidup secara sosial, entah menjadi murid, menjadi pengajar, menjadi karyawan, menjadi pengusaha, menjadi pelayan, menjadi pedagang, menjadi pemimpin, menjadi istri, menjadi ibu, dan seterusnya. Sudah cukup banyak energi yang kita keluarkan untuk tampil dengan baik pada peran-peran tersebut. Jadi, jangan sampai kebahagiaan dan syukur kita terkuras karena komentar orang lain selama hal itu juga tidak merugikan orang lain.

June 3, 2015

Menjadi Pendiam

"Kalian kalau pacaran gimana ngobrolnya, soalnya sama-sama pendiam"

Jadi itu pernyataan pertama yang muncul dari keluarga waktu kami memperkenalkan diri dan berniat untuk menikah. Dalam hati saya, belum tahu aja kali ya, kalau ketemu kami berdua sama-sama error. Artinya, sisi dari diri saya yang tidak pernah saya perlihatkan ke orang lain, begitu juga dengan dia, cuma kami berdua yang tahu.

"Mereka kalau ngomong pasti bisik-bisik"

LOL. Pernyataan yang keluar beda lagi setelah menikah, masa iya ngomong mau teriak-teriak, dalam hati saya.

"Biasa, ngomongin bisnis"

Saya cuma bisa nge-les misterius begitu. Mau tau aja atau mau tau banget, hihi. Itu cuma satu sisi kisah seseorang yang secara historis dikenal pendiam lho. Nggak bisa disalahkan juga sih, karena masa kecil saya memang seperti itu.

***