February 24, 2016

Life Lately

Usia kehamilan saya sudah beranjak 36 minggu.

Subhanallah, rasanya waktu berjalan cepat ya. Saya juga sudah mengambil cuti hamil. Kalau kata orang kantor cutinya kecepetan, tapi kata suami saya malah harusnya seminggu sebelumnya aja hahaha. Lagipula sayang juga sih hak cuti sebulan nggak dimanfaatkan, karena kalaupun cutinya mepet dan lahirannya maju atau mundur juga nggak bisa dirapel buat setelah melahirkan, tetep 2 bulan dari tanggal kelahiran :p

Di hari pertama cuti rasanya boseeen banget. Biasanya seharian di kantor dan kemarin itu lagi seneng-senengnya kerja (uhuk), ikut workshop, dan ketemu banyak orang. Dan, sekarang harus sendiri di rumah, cuma nungguin suami yang pastinya lembur hahaha. Aduh, mewek seharian deh. Suasananya beda pas saya banyak di rumah waktu D4 dulu, karena ada yang dikerjain kali ya, atau ada yang dipikirin, skripsi misalnya haha.

Selama cuti saya memanfaatkan waktu buat memaksimalkan waktu istirahat (sebelum masa begadang datang hehe), jalan sore, dan ikutan senam hamil lagi. Ini kedua kalinya saya ikut senam hamil di RS Premier Bintaro. Karena sudah 36 minggu jadi saya bisa ikut berlatih mengejan, smoga bisa persalinan normal dan lancar. Aamiiin :')

February 20, 2016

Mama Kenapa?

"Mama kenapa suaranya serak ma?"

"Iya biasa, mama batuk. Cuaca sedang tidak bagus"

***

Beberapa hari kemudian, di menit-menit yang saya manfaatkan untuk menelpon orang tua di rumah dalam dua jam perjalanan pulang dari kantor yang melelahkan, Mama mengaku, "Kemarin suara Mama serak, bukan karena batuk, tapi karena menangis".

Mama menangis karena merindukan saya, karena tidak bisa merawat saya di sela-sela kehamilan saya. Juga karena beliau kesepian, karena adik pun semakin dewasa dan sudah punya kesibukan.

Diam-diam, air mata saya ikut menetes. Saya buru-buru mengambil tissue agar tidak terlihat oleh penumpang bis yang duduk di sebelah saya. Saya pun merindukan orang tua saya. Saya pun merindukan pelukan mereka, merindukan bubur kacang hijau buatan tangan Mama, atau menyentuh mereka dari dekat.

Saat sedang mengandung, rasa sayang dan kagum saya kepada Mama semakin besar. Jadi beginilah yang Mama rasakan waktu saya ada di rahim beliau, sakit, susah, sedih, bahkan mungkin lebih berat dari itu...

Tak beberapa lama, setelah telpon berakhir, adik mengirimkan saya sebuah foto. Foto mereka sedang makan malam bertiga di meja makan dengan lauk sederhana yang istimewa.

"Banyak sekali lauknya. Kangen. Jadi sedih", komentar saya.

"Kak Icha masih di jalan?"

"Iya"

Mata saya berkaca-kaca lagi.

***

Dalam setiap doa, saya menitipkan permintaan yang sama agar Allah menjaga mereka selalu dengan baik, bisa bertemu lagi dalam waktu yang paling baik.

Mereka adalah semangat saya, malaikat bumi saya.