April 14, 2016

Motherhood #2: Ternyata Saya Bisa

"I lose and find myself in the same time. I realize that I have to leave some good old things in the past, but new job is waiting. It is the best and hardest job in the world - as a mother. It gives me a bunch of new perspective why I wake up everyday. Life brings me to the new level. And I'm just amazed myself that I can do this. Yes, I'm doing it!"

***

Tepat 3 minggu menjalani peran baru sebagai seorang ibu, dan sudah seminggu pula saya belajar untuk mengurus bayi sendiri setelah Mama dan mertua pulang. Berbekal pengalaman mereka, baca buku, baca artikel, sharing dari teman-teman, I'm so happy because I can nurse my baby on my own way, hehe.

April 9, 2016

Motherhood #1: Belajar Meng-ASI-hi

Tentu saja, saya juga bercita-cita untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI sangat bermanfaat untuk kesehatan, tumbuh kembang bayi, dan menciptakan ikatan emosional yang erat antar ibu dan anak. Dan, ternyata untuk jadi pejuang ASI tidak cukup bersandar pada komitmen saja, tapi juga butuh pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi :)

Hari-hari pertama merupakan fase yang berat untuk saya dan Biya (panggilan bayi saya). Kami baru saja 'kenalan' (dan langsung jatuh cinta berkali-kali). Saya memang tidak sempat mengalami IMD tapi hal itu terhapuskan dengan indahnya debar-debar saat sang bayi diletakkan dan bergerak di dada saya 4 jam pasca operasi. Our skin met and it was priceless.

Di hari kedua, kolostrum baru keluar karena stimulus isapan bayi yang dilakukan di hari sebelumnya. Bayi saya baru belajar menghisap dan saya juga baru belajar menyusui. Sebagai sesama newbie, saya tidak tahu jika cara yang saya lakukan dalam dua hari ini salah. Saya memang belum pernah ikut kelas laktasi saat hamil dan dengan hanya kenyang teori dari artikel-artikel yang selama ini disantap, it was not enough. I made mistake.

April 7, 2016

Finally, We Met You Baby Girl

"Seorang ibu tetaplah akan menjadi seorang ibu, tanpa terikat bagaimana proses persalinannya..."

Debat yang tiada habisnya antar sesama perempuan terkait proses persalinan, pilihan untuk memberi ASI, dan pilihan karier membuat persepsi tersendiri bahwa saya pun harus bisa memenuhi kriteria yang dianggap sebagian besar orang menjadi kategori sebagai ibu sejati. Dari awal kehamilan, saya sangat percaya diri untuk bisa melahirkan normal - tidak ada pilihan lain. Tapi ternyata Allah menakdirkan saya bertemu sang putri melalui operasi caesar sebagai ketentuan yang paling baik untuk saya dan putri kecil yang sangat saya cintai.

***

Memasuki usia kehamilan 40 minggu, saya dilanda kegalauan hebat. Mungkin hampir sama dengan kegalauan saat ditanya, "Kapan menikah?" atau "Kok nggak hamil-hamil?", yaitu saat saya terus dikejar oleh pertanyaan, "Kapan lahiran?" dan "Kok belum melahirkan juga?". Sejak saat itu, saya mulai kabur dari social media dan sedih jika orang-orang terus bertanya-tanya, menelpon, atau mengirim pesan tentang kapan saya bersalin, setiap hari.

Syukurlah saya ditemani Mama yang rela datang di awal untuk mengurusi saya karena suami mendadak harus ikut pelatihan dan menginap di asrama sampai akhir Maret. Mama memberi saya kekuatan yang luar biasa dan dukungan ekstra untuk terus melakukan hal-hal yang dapat merangsang persalinan normal - jalan kaki di pagi dan sore hari, muter-muter mall hanya untuk jalan kaki, makan makanan yang bisa menstimulus kontraksi, ngepel jongkok, senam hamil, induksi alami, pokoknya dibikin capek. Terlebih saya baru saja pindahan baru-baru ini dan membereskan semua sendiri, dorong lemari sana sini, angkat ini itu, dan saya optimis hal tersebut dapat mempercepat bayi saya turun ke jalan lahir.

Kenangan safari mall sama Mama. How I miss the bump ♡

Saya terus berdoa semoga bayi saya segera memberikan tanda cintanya kepada saya melalui beberapa tanda persalinan normal, seperti kontraksi yang teratur, flek, atau pecahnya ketuban. Tapi semakin menjauhi dari HPL saya belum juga merasakan yang namanya mules atau bagaimana rasanya kontraksi. Yang terjadi hanyalah kontraksi palsu ataupun perih karena gerakan bayi saya yang semakin aktif di dalam rahim. Saya terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada saya.