June 11, 2013

Tentang Rintik yang Menguap di Sebuah Juni

Seperti biasa, pria itu selalu tergesa-gesa mengantarkanku menuju keberangkatan agar tidak terlambat. Dia sudah tak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri, bergegas mengambil topi dan jaket, tanpa mengganti kemeja kotak-kotak dan celana pendek selutut yang dikenakannya sejak tadi siang. Dengan sepeda motor tuanya, dia berpacu mengejar petang yang baru saja berpulang.

Seperti biasa, pria itu mengucap doa dan kata-kata perpisahan. Mencoba untuk terlihat tegar walau aku bisa melihat ada embun mengumpul di bola matanya. Berjalan beriringan, dia berdiri sampai batas pengantar. Dan tetap berdiri di situ walau tak ada lagi yang perlu dilihat. Dia tetap berdiri di situ. Dia tetap berdiri di situ.

Seharusnya hujan bulan Juni tak perlu sederas malam itu. Sebagian besar pesawat harus menunggu agar selamat. Bahkan sang rintik masih tak puas, pria itu kehujanan - dan satu dua tetes mendarat di pipi. Lalu menguap dalam hitungan menit. Aku tak pernah menyangka, bahwa kedewasaan tak membuatku pandai mengendalikan kesedihan. Terlebih yang dibuahi perpisahan.

Dan tentang wanita di belakangnya, aku tak pernah punya cukup kata untuk bercerita, selain... Tuhan, wanita itu melakukan pekerjaan yang paling mulia di dunia. Masih terasa betapa hangatnya dia memelukku sepanjang tidur.

mom :)

Seperti biasa, doa adalah jalan - saat tak ada lagi cara untuk mengobati rindu. Satu dua tetes mendarat di pipi. Lalu menguap dalam hitungan menit.

.
.
.

*a tribute for mom and dad. I love you for whole of my life.