August 1, 2012

#6 Maret untuk Mei: Sesuatu di Balik Pelangi

Gerimis baru saja reda. Sebuah rona tujuh warna muncul di angkasa menemani mereka yang berjalan pelan-pelan di setapak yang basah akibat hujan.

Mei menerawang lantas melontarkan tanya, "Apa kau tahu yang sebenarnya tersembunyi di balik pelangi?"

Maret menggeleng dan diam sejenak. "Aku menyebutnya harapan", jawabnya.

"Kenapa?"

"Karena apa yang kau tak tahu tapi kau meyakininya - tempat itu adalah harapan"

Seketika awan jingga muncul beriringan.

"Semoga kau masih punya tempat seperti itu, Mei"

Mei mengangguk. "Salah satu tempat itu adalah kamu"


"Karena aku tak tahu apa yang terjadi pada akhirnya nanti - tapi aku meyakininya. Kamulah harapanku - untuk menjadi imamku kelak"

Maret tertegun. Raut wajahnya seperti menahan malu. Ah Mei, kamu itu.  Tentu saja, Mei. Tentu!

"Pelanginya sudah pudar"

"Mungkin aku merusak bentuknya karena terbang ketinggian setelah mendengar pintamu" ujar Maret diikuti tawa bahagia yang sempurna.

"Apa ini tanda langit mendengar doaku?"

"Bukan langit yang mendengar, tapi sang penguasa langit yang Maha Mendengar"

"Aku takut, Maret. Jika pada akhirnya aku tak akan bersama kamu"

"Jangan mendahului ketetapan-Nya dengan prasangkamu. Berdoa dan percayalah. Jika dua anak manusia memang berjodoh, maka Dia akan menggerakkan hati keduanya, memudahkan segala sesuatunya. Apapun yang terjadi. Apapun, melebihi ketakutanmu"

Mei pun berseri-seri. Ada lengkungan kecil syukur di bibirnya, membentuk pelangi.

Image taken from here

No comments: