February 19, 2014

Karena Satu Sama Dengan Tujuh


Matahari bangun pagi-pagi sekali. 

Dia segera menggelitik dedaunan yang masih tertidur pulas dengan sinarnya yang lembut dan menyelinap hingga ke celah-celah ranting terdalam. Sepasang burung pipit terbangun, mengepakkan sayap berulang-ulang, dan mempersembahkan senandungnya yang riang. 

“Selamat pagi, matahari”, ujar mereka. Matahari tersenyum dan kembali menjentikkan sinarnya yang genit pada para daun. 

“Ayo bangun. Bukankah kalian harus memasak? Mangga-mangga ranum siap untuk dipanen”. Para bayi daun menguap lebar dan berusaha membuka matanya yang terkatup erat. Para ayah daun dan para ibu daun menghirup udara banyak-banyak dan menyaring sinar matahari untuk diolah menjadi makanan satu keluarga besar pohon mangga setiap harinya dan disimpan sebagian untuk diramu sebagai calon buah mangga yang lezat dan istimewa.

Para kakek dan nenek daun beristirahat menikmati semilir angin sambil sesekali bercakap-cakap dengan para bayi daun. Tubuh mereka sangat rapuh, dan tidak ada yang pernah menduga pada detik ke berapa angin akan menghempaskan mereka dari ranting ke bumi. Tapi mereka tak pernah khawatir. Karena apa yang jatuh ke bumi, akan abadi. Mereka akan mati dan hancur menjadi material penyubur bumi, diserap oleh sang akar yang sakti, dimasak oleh para koki daun yang ahli, dan terlahir kembali sebagai daun baru yang suci – semacam reinkarnasi.

“Lihatlah, makanan sudah tiba!”, kata selembar daun remaja yang bersiaga di pucuk. Sepasang kakek nenek yang hidup berdua mendiami rumah itu sejak pernikahan tahun pertama mereka rutin menebar pupuk, ampas teh, dan air beras yang kaya gizi di tanah tempat sang pohon tegak berdiri. Pohon itu tepat ditanam di pekarangan pada bulan kedua kehamilan pertama sang nenek, sekitar tiga puluh dua tahun yang lalu. Sang anak dan cucu mengunjungi rumah ini di setiap libur panjang dan menjadikan mangga yang terkenal kenikmatannya turun temurun dan para tetangga ini menjadi oleh-oleh yang utama.

“Baiklah, aku akan bersiap! Siapkan kekuatan!”, kata sang akar menyiapkan tenaganya untuk menghisap makanan dengan suka cita.

“Selamat memasak! Mari kita persembahkan buah yang banyak dan manis untuk kakek nenek dan para cucu yang baik hatinya”, sahut para ibu daun bernyanyi mempersiapkan amunisi untuk memberi makan alam dan kehidupan.

Seperti biasa, pekarangan selalu riuh dengan kebahagiaan dan giatnya pagi. Sayangnya, manusia tak mampu mendengar ini. Jika bisa, pasti kita akan malu sendiri.

***

“Apa ini perasaanku saja atau memang buah mangga yang kita hasilkan jumlah dan kualitasnya selalu menurun sepanjang tahun?” tanya sang kakek daun sambil menatap ke calon buah yang muncul terlambat dari masa yang seharusnya
“Kami sudah berusaha keras. Sedih sekali jika kami gagal mencipta panen yang berlimpah”, ujar para ibu daun gundah.

“Mungkin karena sudah banyak bangunan tinggi di samping dan seberang hingga kita tidak memperoleh cahaya yang berkecukupan”, sang remaja daun berasumsi. Matahari menyipitkan matanya menyadari dirinya ikut tersangkut paut.

“Aku sudah menghisap makanan sekuat yang aku bisa! Lihatlah akar yang mencengkram tanah ini sudah tumbuh dengan perkasa. Ini bukan salahku!”, tandas sang akar tegas tak ingin disalahkan. Dia terus memompa air ke batang dan daun agar mereka tak kehausan.

“Hai bunga, apa ada masalah?” tanya sang kakek daun lagi.

Mereka diam saja. Hanya berbisik malu-malu.

“Baiklah kami harus jujur. Tapi tolong jangan marahi kami”. Semuanya mengangguk.

“Kalian harus tahu bahwa tidak banyak kupu-kupu yang hadir untuk berkunjung lalu menukarkan serbuk sari ke putik yang kami punya. Apa mungkin kami memang tidak menarik?”, ujar sang bunga betina sedih.

“Bukan, kalian bukan tidak menarik. Tapi populasi kupu-kupu terutama di perkotaan memang sudah kian menipis. Seandainya ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan”, jawab sang bunga jantan menghentikan tangis para bunga betina.

Dalam kebimbangan, terdengar suara remahan dari kejauhan. Tepatnya dari pucuk pohon tempat para bayi daun berkembang.

“Krok krok krok.....”

“Hihihihihihi” para bayi daun tertawa kegelian.

“Lihat ada seekor ulat tidak tahu diri!” kata kakek daun.

“Jangan biarkan dia memakan bayiku. Awan dan angin berbuatlah sesuatu!”, sang ibu daun merintih melihat tubuh bayinya berlubang dimakan oleh sang ulat daun yang entah datang darimana.

“Permisi ibu, adik, kakek, dan nenek. Saya butuh makan... Jika tidak makan, maka saya akan mati...”, kata sang ulat memohon iba untuk tubuhnya yang kurus dan kelaparan.

“Jika kamu memakan anak-anakku. Mereka yang akan mati!”, jerit para ayah dan ibu daun.

“Kamu mempersulit masalah saja, kami sedang dalam kesusahan. Kau malah datang membawa masalah baru!”, lanjut para bunga sambil bersungut-sungut.

“Aku tidak akan membunuh anak-anak kalian. Aku berjanji. Aku hanya butuh makan sedikit saja, agar aku dapat menjadi kepompong... sakit sekali. Jika tidak aku akan mati...”

“Aku tidak rela jika kerja kerasku harus dinikmati oleh tamu tak diundang itu!”, sang akar menggoncangkan tubuh sang pohon dari bawah. Dia sangat marah hingga para daun tua yang menunggu maut jatuh pelan-pelan dari kediamannya dan memejamkan mata dengan damai.

“Tidak apa-apa Ibu, kasihan sekali teman kami ini. Tak apa wajahku tidak mulus begini. Asalkan dia bisa tertolong, Ibu...”, kata sang bayi daun sambil kegelian digerogoti oleh sang ulat.

“Kami tidak rela!”, jawab seluruh ibu daun. “Nak....”

“Ibu... percayalah. Dia tidak jahat, ibu. Hanya geli sedikit. Luka yang ada di tubuh kami ini tidaklah berbanding apa-apa ibu dibandingkan dengan penderitaannya akibat menahan lapar itu Ibu...”

Matahari memandang dari balik awan. Keheningan menyeruak bersama desir angin yang berhembus menggetarkan ranting yang meneguhkan angguk mereka dan menyatakan setuju pada apa yang disebutkan para bayi daun.

“Bukankah satu kebaikan akan berbuah tujuh kebaikan yang lain Ibu? Bukankah Ibu yang mengajarkan itu?”

“Nak...”

“Aku akan berterima kasih suatu hari nanti pada kalian karena telah menyelamatkan hidupku” janji sang ulat menunduk sendu. Semua mata kini tertuju padanya.

“Bukankah makhluk alam harus saling mencintai, Ibu? Sekali lagi, bukankah Ibu yang mengajarkan itu?”

Seketika hujan turun. Mereka tak bicara apa-apa lagi.

***

Sudah beberapa hari para bayi daun digerogoti oleh sang ulat yang tak bisa pergi. Dia mendadak mencintai pohon ini dan tak lagi dipungkiri bayi daun memang sangat nikmat dan bergizi. Para bayi daun pelan-pelan mati dengan tubuh yang keropos dan luka di sana sini. Namun wajah mereka bahagia berseri. Tak ada tanda penyesalan di senyum yang terukir sebagaimana kata-kata mereka yang terakhir, “Satu kebaikan akan berbuah tujuh kebaikan yang lain Ibu. Jangan bersedih. Aku sudah berbuat baik. Dia temanku. Dia teman kita...”

Para bayi daun jatuh ke bumi.

Sang pohon berduka. 

Dan sang ulat pun sedang mati suri di dalam kepompongnya. 

***

       Para bunga merenung. Sebentar lagi tiba waktunya musim berbuah. Tapi tak satupun kupu-kupu yang mampir mencumbu mahkota mereka. 

       “Jika para anak dan cucu sudah datang, dan kita tak mampu menyajikan buah sebagaimana yang diinginkan, mungkin kita akan ditebang”, ujar sang batang menerawang memandang ribuan daun rimbun yang menghinggapinya.

       “Jangan pesimis begitu! Kau tidak menghargai aku!”, kata sang akar sebal.

       “Jika kalian ditebang, kami akan tinggal dimana? Kalian adalah pohon ternyaman yang pernah kami temui...”, kata sang burung pipit memohon keajaiban.

       “Aku masih percaya dengan pesan bayi-bayiku bahwa... satu kebaikan akan berbuah tujuh kebaikan yang lain. Kebaikan dan cinta itu tak akan gagal. Aku masih percaya”, sahut sang ibu daun sambil menjaring cahaya untuk mempersiapkan makan siang.

       “Aku percaya!”, ujar sang bunga betina. 

       “Hei, ada apa?”

       “Lihat! Ramai sekali kupu-kupu yang hadir menemui kami! Lihat!”

       “Benarkah?” para daun menatap kumpulan kupu-kupu yang memenuhi bunga jantan dan betina. Pemandangan yang sangat cantik. Merah jingga ungu dan hitam mengepak menjadi satu harmoni. Tak pernah sebanyak ini.

       “Hei, ada apa? Dari dalam sini aku tak bisa lihaaaat!”, jerit sang akar iri. Dia mengutus beberapa ekor semut untuk mengintip dan bercerita kembali.

       “Masih ingat aku? Aku adalah ulat yang dulu pernah kalian selamatkan... Para bayi daun itu menyelamatkan aku yang tersesat dan kelaparan. Terima kasih...”

       “Ulat daun, kaukah itu?”

       Sang ulat yang dulu dibenci telah berubah menjadi kupu-kupu jelita bersayap cokelat kuning dan hitam yang sehat dan gemulai.

       “Ya ini aku. Aku sudah berubah menjadi  seperti ini. Aku diam-diam selalu mencuri dengar yang kalian perbincangkan, tentang apa yang kalian permasalahkan. Tapi saat itu, saat masih menjadi ulat aku tak bisa menolong... Di dalam kepompong, aku menangis sejadi-jadinya saat bayi daun itu mati karena ulahku”

       “Kau cantik sekali. Aku pikir kau tak akan ingat kami lagi”

       “Aku mengundang serta teman-temanku untuk mampir kesini. Para bunga sedang bekerja keras. Ayo para daun kalian bersemangat! Mari kita bersatu padu. Musim berbuah sebentar lagi tiba!”

       “Terima kasih sudah hadir kembali. Terima kasih telah membawa harapan kepada kami”, ujar para daun terharu.

       “Waktu hidupku sebagai kupu-kupu hanya sebentar. Dan di sisa waktuku ini aku ingin berbuat baik. Satu kebaikan akan berbuah tujuh kebaikan yang lain. Kebaikan dan cinta itu tak akan gagal. Tak akan...” 

       Ibu daun mengangguk mantap. Dia mengenang bayinya yang telah menjadi pahlawan. “Kau betul sekali anakku. Terima kasih, Nak. Ibu menyayangimu”

       “Hei, jika aku mati. Dongengkan pada langit tentang buah-buah ranum yang menggoda dan senyum keluarga kecil pemilik kalian ini ya”

       Mereka mengangguk serentak. Sang akar menahan tangisnya yang tersedu. Dia berpura-pura menghisap air tanah untuk menyembunyikan rambut akarnya yang basah karena haru. “Jangan khawatir. Karena apa yang jatuh ke bumi, akan abadi!”

       “Tapi tak ada yang lebih abadi daripada kebaikan”

       “Dan, cinta sesama”

       Matahari bersinar lebih hangat. Dia mengusir awan pekat yang tak sabar untuk melepas serdadu rintiknya, dan memilih mengundang pelangi.

       “Hari ini terlalu indah buat hujan”, batinnya.

***

2 comments:

To Magguru said...

sukak sekaliiiii icha sama cerpen (dongeng?mu ini). bikin yang lain lagi ica trus jadiin buku. bagus buat dongeng anak-anak menjelang tidur. seriuss chaa

@chabadres said...

masih terus belajar. lagi seneeeng bikin dongeng hehe.

makasih yaa mbak udah mampir baca *terharu*