February 5, 2014

Raungan Sebuah Deru


Aku meringkuk beku di bawah dedaunan mawar yang berembun karena diserang hujan yang tidak kelelahan berpesta sepanjang fajar. Petir bersahut-sahutan tak mau kalah memaksa langit untuk terlihat megah. Hai langit, apakah engkau tak lelah menangisi bumi sepanjang waktu? Jangan kau ikut tangisi aku wahai langit, karena kepergian Ibuku beberapa jam yang lalu diterkam oleh sebuah deru dan bercahaya seperti petir yang kilaunya baru saja menjentik mataku. Beberapa jam yang lalu, Ibu tak pernah membiarkanku merasa dingin sedikitpun, tubuhnya yang hangat membuatku merasa menjadi makhluk paling bahagia yang pernah ada. Beberapa jam yang lalu, Ibu tak pernah meninggalkanku atau membiarkan aku kekurangan susu yang tak pernah habis dari empat pasang putingnya yang hanya untukku. Aku bahkan tak pernah ingat dimana saudara-saudaraku yang pernah berada di pelukan ini bersamaku.

Beberapa jam yang lalu, Ibu terkujur kaku tanpa air mata dan ronta. Hanya ada darah dan bau Ibu. Aku menjilati tubuh itu sambil meminta janji Tuhan atas sekian nyawa yang masih Dia sisakan buat Ibu. Tapi tak ada, aku tak lagi punya Ibu.  Pada titik ini, aku seperti gila. Pada titik ini, aku tidak mengerti antara aku dan Ibu, siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan. Dalam raunganku yang tak henti, aku melihat senyum Ibu yang memintaku pergi. Dan dalam hitungan detik, tubuh Ibu tercabik terlindas sebuah deru lagi. Hingga wajahnya tak lagi kukenali.

Rasa sakit seperti mengoyak perutku. Aku menderita lapar yang hebat. Aku bersenandung untuk menyembunyikan rasa sakit dan luka. Mungkin seperti ini rasanya akan mati, batinku. Dalam senandungku, sehelai daun mawar menyapa ujung hidungku.

“Bersenandunglah lebih keras!”, katanya.

“Tuan Daun, apa kau juga kedinginan? Aku tak mengerti maksudmu. Aku ingin mati saja”

“Tidak, karena hujan adalah cara alam membelaiku. Dan rasa dingin ini adalah wujud Tuhan memelukku. Bersenandunglah! Lebih keras! Percayalah padaku, kau akan menemukan keajaiban”

Aku melakukan apa yang Tuan Daun minta, tak lebih untuk menyenangkan dia yang sepertinya terhibur dengan suaraku yang penuh duka. Keras sekali, sangat keras. Aku terus bersenandung, menantang petir, mengenang Ibu hingga aku parau dan tergeletak lemah.

Sepasang tangan mengangkatku. Tangan itu sangat hangat. Dan baunya seperti bau kami, seperti bau Ibu. Siapa itu? Apakah itu malaikat yang akan menjemput nyawaku?

Aku terbangun dengan selimut membungkus, tubuhku yang hitam sudah bersih dari lumpur, dan dua pasang mata menatapku bahagia.
***

Sudah 7 tahun aku tinggal di rumah ini. Wanita penyelamatku itu tak terlihat menua, dan bocah laki-laki yang dulu selalu berada di sampingnya sudah beranjak remaja. Kata wanita itu, dia mulai kesepian. Sang anak sudah punya banyak teman dan kehidupan. Ini berita bagus. Aku punya lebih banyak waktu untuk dimanja dan dipangku. Baunya masih sama, bau kami. Bau Ibu. Tak banyak orang yang punya bau khas seperti ini. Bau yang ramah, yang membuat kami tak keberatan untuk menjilat dan mendekat.

“Mama...” aku meraung.

“Apa sayang?”

Aku suka sekali saat dia bilang begitu. Lalu dia menggelitik kepalaku hingga aku mendengkur. Tak beberapa lama mangkuk makananku sudah terisi baru. Ah, aku sangat menyayangi wanita itu. Setelah makan, aku boleh bermain dan tidur semauku tak ingat waktu.

“Boleh aku bercerita sedikit?”, tanyaku pada beberapa helai daun mawar yang mengangguk menahan kantuk. Rerumputan empuk yang berlindung di bawah ranting-ranting mawar ini adalah tempat favoritku untuk berjemur.

“Aku menyesal karena pernah tidak mematuhinya. Saat aku beranjak dewasa, aku mulai suka berkeliaran untuk memenuhi naluriku. Saat itu hujan, dan sebuah deru melaju kencang ke arahku. Deru yang sama yang membekas sangat tajam di ingatanku. Deru itu pernah merenggut Ibuku. Sampai saat ini aku tak pernah tahu kenapa benda kejam dan berderu itu diciptakan. Sepertinya memang hanya untuk menabrak kami”

Raunganku semakin parau. Para daun mendengar dengan seksama.

“Tubuhku yang didominasi corak hitam membuatku tak terlihat dalam gelap. Terlebih saat itu listrik sedang padam. Aku terpelanting jauh hingga ke seberang jalan. Sakit sekali. Punya tujuh nyawa pun tak ada gunanya jika sesakit ini. Leherku tak bisa digerakkan, sebagian wajahku rusak, mata kananku tak bisa berfungsi, dan kakiku terluka hebat. Tapi saat itu aku teringat wanita itu. Mama pasti mencari-cari aku. Mama akan menolongku. Aku harus pulang”

Sehelai daun muda berayun bersama angin menyentuh hidungnya. Para mawar menundukkan mahkotanya ke arahku.

“Instingku yang kuat membawaku kembali menemukan jalan pulang. Aku berteduh di bawah pohon mangga yang sangat rimbun tertanam di halaman belakang sambil menjilati kakiku. Ah, sakit sekali. Aku meringis, meraung-raung. Mama, tolong aku. Mama”

“Mama mendengarmu? Dia pasti mendengarmu. Sama seperti mendengar kami yang butuh air saat kehausan. Dia selalu datang dengan selang di tangannya lalu menyirami kami dengan kebahagiaan”, sahut sehelai daun yang kegelian digerogoti ulat hingga berlubang.

“Ya, Mama mendengarku. Dia tergopoh-gopoh membawa senter lalu mengangkatku dengan hati-hati ke dalam rumah. Aku menangis terus, sakit sekali, Mama. Mama kebingungan, dia mengambil kain lalu mengelap tubuhku yang basah kuyup. Dia menyeka lukaku dan memaksaku menelan cairan yang luar biasa pahitnya. Sepertinya dia menangis. Aku meraung-raung lagi. Mama, jangan menangis. Aku takut, Mama. Ini sakit sekali”

Aku melanjutkan ceritaku dengan suaraku yang semakin tak terdengar. Memori itu terpahat sangat erat. Aku ingat berdiam diri di dapur selama tiga hari berturut-turut. Aku tidak enak makan. Kata Mama, aku sudah bau bangkai. Dia menangis terus seperti berusaha merelakan aku. Dia terus menyeka lukaku dan menyuapi susu. Aku pun tetap terus berusaha hidup dan mengobati diriku sendiri dengan air liurku yang dianugerahi Tuhan ini.

Berangsur-angsur aku sembuh. Aku ingin bilang pada Mama bahwa aku sudah sembuh. Aku meraung-raung memanggil-manggil dia, Mama mana Mama? Saat itu aku tak sadar bahwa bola mataku telah menggelinding jatuh ke luar. Mama hampir terpeleset menginjak organ yang tidak menjadi milikku lagi itu. Dia terkejut lalu memelukku, menggendongku. Dia merayakan kesembuhanku. Aku sembuh walau dengan leher yang masih miring dan mata yang tak berfungsi sempurna. Mama tetap menyayangiku walau kini aku menjadi buta.

“Aku kian menjadi tua, kadang aku suka berbuat semaunya, tapi dia tetap bersabar dengan keberadaanku”, lanjutku penuh syukur. “Mama adalah penyelamatku. Melalui tangannya, Tuhan telah menyelamatkan beberapa nyawaku. Dan kasih sayangnya cukuplah menjadi pengganti Ibu dan pengganti mata kananku yang kini telah tiada dan buta”

         Para daun ikut hening bersama mendung.
***
         Sore itu, aku duduk di depan rumah menanti kepulangan Mama bersama mentari yang matang bersama petang. Dia berjanji akan membawakanku ikan segar dari pedagang langganan. Aku melihat bayangannya yang khas membawa keranjang berisi sayur dan beras. Punggungnya sudah mulai membungkuk dan rambutnya sudah beruban, tapi kasih sayangnya tak pernah berubah. Tak pernah.

         Aku meraung menyambut Mama dengan bangga. Dia berlari menuju ke arahku, tampak penuh rindu walau hanya beberapa jam tak bertemu. Namun, langkah Mama tertelan oleh sebuah deru. Deru yang sama yang membekas sangat tajam di ingatanku. Deru itu pernah merenggut Ibuku. Sampai saat ini aku tak pernah tahu kenapa benda kejam dan berderu itu diciptakan. Sepertinya memang hanya untuk menabrak kami.

         Deru itu berhenti. Sejenak. Lalu kabur secara tak tahu diri.

         Setelah Ibu, kini Mama... tubuh kedua yang kulihat tergeletak penuh darah tepat di depan hidungku. Dalam raunganku yang tak henti aku melihat senyum Ibu yang memintaku pergi. Kali ini aku tak mau pergi. Tak mau pergi seperti dulu.

         Aku menjilatinya hingga orang-orang ramai berdatangan mengangkat jasadnya.

***


P.S.: Eliminasi ketiga dengan tema kesedihan. Terinspirasi dari kucing kesayangan yang tewas setahun yang lalu.

No comments: