February 6, 2014

Restu Langit


Lima jam yang lalu kami bertengkar hebat.

Ibu bersepakat tidak akan mengantarkan kepulanganku. Ayah pun demikian, beliau hanya mencarikan aku taksi lalu kembali masuk ke ruang tamu. Bagiku, ini perjalanan yang terlalu menyedihkan. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada berada di kampung halaman namun jiwamu tetap merasa sendirian. Tak ada pelukan, tak ada lambaian tangan, dan tak ada kata-kata perpisahan yang memancing tangis kami bersahut-sahutan. Yang tersisa adalah wajah yang basah dijejaki hujan dan adik kecilku yang bisu meringis dari kejauhan. Dia terus memberi isyarat dengan jari-jari mungilnya, “I love you. I love you, kakak” hingga taksi berangkat, menerobos banjir yang tak surut sejak langit pekat, dan mencipta jarak yang membuat kerongkongan tercekat.

Aku tiba di bandara sembilan puluh tiga menit menjelang penerbangan, bergegas melakukan prosedur check-in, menyerahkan bagasi, dan melangkah ke ruang tunggu dengan emosi yang tak terdefinisi. Pintu masuk yang memisahkan para perantau dengan pengantarnya, ayah dengan anak perempuannya, istri dengan suaminya – telah menjadikan setiap kata yang terdengar menjadi sangat berharga seakan kau ingin menghentikan waktu agar tak berkerja tergesa-gesa dan menghamba dalam dada agar lebih lama dapat melihat wajah orang yang kau cinta. Menurutku, pintu masuk menuju ruang tunggu ini adalah tempat yang suci, dimana gravitasi menjadikan air mata setiap orang jatuh di titik yang sama, dimana doa dan kecup bersenyawa, dan... harusnya ayah dan ibu ada disana. Selama empat tahun berturut-turut dan pulang dua kali dalam setahun, mereka selalu di sana.

Kali ini aku hanya menjadi penonton, bukan pelaku sebagaimana biasanya. Entah sudah berapa kali aku menyesali kejadian lima jam yang lalu yang membuatku tak mampu menahan diri. Tak ada tangan Ibu yang permukaannya kasar tergerus air cucian baju dan pembersih lantai, tak ada tangan ayah yang ruas jarinya terpahat kuat seperti kulit kayu yang termakan usia, dan tak ada senyum adik di wajah polosnya yang menyimbolkan surga.

Kali ini aku hanya menjadi penonton, bukan pelaku sebagaimana biasanya. Kecuali untuk satu hal yang ini, yang selalu sama. Ruang tunggu bandara dan dada yang sesak seakan jantung bergantian memproduksi air mata lalu tumpah sejadi-jadinya.

“Perhatian-perhatian. Pesawat dengan nomor penerbangan JT 208 tujuan Jakarta ditunda keberangkatannya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut”

Apakah ini karena banjir yang semena-mena? Atau kemarahan ayah dan ibu yang dijawab Tuhan melalui langit perkasa?
                                                                                                ***
         
Aku tidak pernah suka berkemas. Hari terakhir sebelum keberangkatan bagaikan mimpi buruk. Berat bagasi yang akan kubawa bertambah dua kali lipat. Ibu terlihat sangat kerepotan membeli berbagai kebutuhan dan amunisi untuk anak kos-kosan. Beliau mengemas rendang, abon, kerupuk, dan oleh-oleh untuk para kerabat. Kemuliaan hati ibu sudah terdistraksi oleh pikiranku yang sudah kewalahan memikirkan bagaimana aku membawa semua ini sendirian.

“Ibu, cemilan-cemilan itu tidak usah aku bawa. Di Jakarta juga banyak”

“Ibu hanya bisa membawakanmu ini. Tak maukah kau menerima pemberian Ibu, Nak?”

Lalu aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Ini beberapa kebaya saat Ibu muda, kau bawa saja ya Nak. Bisa kau gunakan untuk menghadiri pernikahan teman”

Aku menerima tumpukan kebaya itu dari lemarinya dan membentangkannya satu persatu. Masih berbau kamper. Tua sekali modelnya, batinku. Otak dan hati sibuk menggerutu hingga tak mampu melihat keindahan dan pengorbanan Ibu di setiap helai kebaya itu.

“Ini kebaya Ibu waktu lamaran. Baru Ibu pakai sekali dan Ibu sayang-sayang begini. Ini hadiah dari eyangmu. Beliau menghabiskan satu-satunya tabungan yang beliau punya hanya untuk menghadiahkan ibu ini, untuk memeriahkan pernikahan kami yang sangat sederhana”

Ibu memang suka menyimpan kenangan. Tapi sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk bernostalgia. Dahiku berkerut melihat nasib koper yang sepertinya tak mampu menampung titipan Ibu dan kebaya-kebaya masa lalu yang sebenarnya enggan kukenakan atau tepatnya membuatku seperti gadis lampau yang datang dengan mesin waktu.

“Semoga pernikahanmu nanti tidak begitu ya. Cukup Ibu saja”

Seharusnya aku mengaminkan doa ini. Bukankah doa Ibu adalah doa yang diantarkan oleh malaikat langsung ke cakrawala? Tapi seharian ini aku hanya merespon Ibu dengan satu topik yang menghabiskan energi berpikirku. Koper! Dan bagaimana aku membawa ini sendirian!

“Ibu, lihat koperku tidak cukup! Bagaimana sih, Ibu mengharapkan aku membawa semua ini! Titipan oleh-oleh, kebaya, bahkan wajan mini... Astagaaa, seperti disana tidak ada saja! Ibu tidak kasihan denganku? Membawa ini semua seorang diri? Bagaimana jika terjadi kelebihan bagasi? Bagaimana?”

Emosi yang tertahan sejak pagi meledak-ledak. Ibu kaget mendengar nada suaraku yang tinggi hingga kebaya biru yang baru saja dikenangnya itu terjatuh dari tangannya.

“Kau tidak berubah, Nak. Mudah sekali bingung. Tidak ada niat Ibu membuatmu menderita, Nak. Jangan kau marah begitu pada Ibu. Ibu hanya dapat bertemu dengan anak gadisnya sekali-sekali, tak bolehkah membahagiakanmu dalam waktu yang terbatas itu? Sini, Ibu bantu berkemas. Pasti cukup”, jawab Ibu sabar sambil menyusun ulang barang-barangku di koper.

“Nah, cukup bukan?”

Ya, cukup. Tapi koper itu menggelembung di permukaan karena menahan muatan yang berlebihan. Dan, bagian sampingnya yang robek memperburuk keadaan. Aku tahu bahwa sayatan di koper itu sudah ada sebelum aku pulang. Tapi kemarahan ini seakan membutakan mata.

“Lihat Ibu, jadi robek!”

“Ya sudah, kalau kau tidak mau membawa kebaya Ibu. Ya sudah, tak usah. Biar ayahmu yang menjahitnya”, sahut Ibu dengan sendu lalu memanggil ayah.

Ayah punya tangan emas yang membuat beliau mampu merakit banyak hal dengan baik, bahkan menjahit. Kami langsung diam dan tidak memperpanjang masalah ketika ayah masuk ke kamar. Beliau menjahit koper itu dengan teliti dan aku hanya terpaku memperhatikan beliau dari sudut kamar.

 “Ayo makan dulu. Makan yang banyak yaa, nanti lapar lho di pesawat”, panggil Ibu dari ruang makan sambil tergopoh-gopoh menyiapkan hidangan.

“Ibu... sejak pulang aku sudah naik beberapa kilo. Ibu selalu menyuruhku makan yang banyak!”

Ada sayur asem, ikan asin, tempe goreng, dan sambal terasi. Ini makanan favoritku, seharusnya. Tapi kemarahan benar-benar mengusikku. Aku mengusap-usap perut yang sebenarnya tidak membuncit. Ini gara-gara Ibu, batinku.

“Kalau sudah kembali kesana, jangan malas makan ya. Jika sakit siapa yang mengurusmu? Ayo makan yang banyak, kapan lagi bisa makan masakan Ibu. Nanti kau rindu”

Aku bersungut-sungut melihat Ibu menambahkan sesendok sayur asem lagi ke piringku.

“Lihat wajahnya. Sepertinya dia tidak senang bersama kita”, sindir ayah yang baru selesai menjahit sambil mengangkat piringnya dan memilih makan di ruang tamu.

“Kau itu... apa yang mengganggu pikiranmu? Bukankah ini jam-jam terakhir kita bersama? Tidak ada maksud Ibu untuk membuatmu gemuk atau tersiksa. Ibu hanya menyayangimu. Ibu terlalu menyayangimu”

Aku diam saja, sibuk mengunyah nasi di mulutku pelan-pelan. Adik duduk di sebelahku. Dia terlihat sangat bahagia bisa makan bersama seperti ini.

“Maa... am. Maa... am”, gumamnya sambil menyerahkan potongan tempe goreng miliknya ke bibirku.

“Kau bisa diam tidak?!”, jawabku geram.

Adik mematung dan menarik kembali tempenya. Dia menatap Ibu lalu aku. Ayah datang dan memecahkan piring yang ada di tangannya seakan serpihan-serpihan kaca itu adalah remah-remah hati mereka yang kucabik-cabik sendiri.

“Nak, bukankah dia sudah diam seumur hidupnya?”

***

Sudah satu jam dari jadwal keberangkatan yang seharusnya, namun belum ada tanda-tanda pesawat tiba. Para penumpang meneriakkan protes pada penjaga gerbang yang sepertinya sudah kehilangan muka dan telinga agar dapat tetap tahan bekerja. Beberapa mulai tertidur dengan buku dan gadget di tangannya. Sementara itu, hujan masih saja betah bersenang-senang dengan senja.

Aku merogoh tas ransel dan membuka bekal yang dibuatkan Ibu. Dalam kesedihannya, beliau masih sempat membuatkan bekal nasi putih hangat dengan daging goreng. Aku makan dengan lahap tanpa dikunyah hingga lumat. Aku makan seperti orang kelaparan dan menyesali kalimat-kalimat yang tadi pernah aku lontarkan. Aku menyesali diri sendiri yang mengizinkan setan menggesekkan medan magnet kemarahan. Kemarahan yang tidak pantas. Kemarahan yang berbau bangkai. Bau sekali. Aku merasakan tangan Ibu di setiap butiran nasi yang kutelan. Aku merasakan keringat ayah di setiap serat daging yang kucerna. Aku merasakan jemari adik yang menempelkan makanannya di bibirku. Aku menghabiskan bekal dengan air mata yang berceceran di setiap suapan.

“Ibu...”

“Sudah dimana, Nak?”

Aku menelpon Ibu. Bahkan setelah kejadian tadi, Ibu masih mengkhawatirkan aku. Sombong sekali aku, Ibu. Aku berutang banyak sekali padamu, Ibu. Ampuni aku, Ibu.

“Ibu, maaf...”

“Tidak apa-apa sayang. Maafkan Ibu juga”

“Ibu, aku rindu”

“Ibu juga. Rindu sekali”

“Pesawatnya ditunda, Bu”

“Seharusnya Ibu mengantar jadi kita bisa bercengkerama sambil menunggu”

Aku sesenggukan hingga menelan air mataku sendiri.

“Ibu, aku rindu”

“Iya, sayang. Nanti kita bertemu lagi. Jaga dirimu ya”

“Tidak Ibu, aku ingin bertemu sekarang. Aku akan memperpanjang cutiku Ibu”
“Nak... kamu kenapa? Bagaimana dengan tiket pesawatnya. Mahal, Nak...”

“Tidak semahal waktu yang aku sia-siakan saat bersama kalian, Bu”

“Nak...”

“Ibu, nanti peluk aku ya”

Dari jauh, hanya terdengar suara yang terisak.

Aku keluar dari ruang tunggu, memproses pembatalan keberangkatan dan bagasi, memanggil taksi dan kembali pulang. Hujan sepertinya cemburu, air mataku lebih deras dari tetesnya yang melaju.

***
BREAKING NEWS: Telah terjadi kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan JT 208 tujuan Medan-Jakarta. Kecelakaan diduga karena kondisi cuaca. Para penumpang saat ini sedang dalam proses evakuasi dan jumlah korban yang tewas masih dalam tahap identifikasi.


Deg. Restu Ibu menyelamatkan aku.

***



P.S: Eliminasi terakhir dengan tema ruang tunggu dan alur maju mundur.

3 comments:

eL^^ said...

*lap air mata

Subhanalloh... keren cerpennya icha :)

Ibu, aku rindu.

@chabadres said...

makasiiih ^^

agi said...

Kecelakaan pesawat sangat menyedihkan. Dapat kita himpun dari website iyaa.com kalau Pemerintah Malaysia meminta bantuan pemerintah Indonesia untuk mencari pesawat Malaysia Airlines MH 370 yang hilang pada Sabtu pagi kemarin. Hal ini diungkapkan oleh Menko Polhukam Djoko Suyanto dalam pers rilisnya kepada wartawan, Jakarta, Minggu, (9/3).